![]() |
| Sedang berjuang untuk mereka |
Saturday, March 7, 2015
![]() |
| Sedang berjuang untuk mereka |
Monday, June 3, 2013
Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*
Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.
Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone).
Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?
Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe
Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu.
Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.
Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.
Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam.
Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.
Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.
Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'
Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*
Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.
Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone).
Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?
Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe
Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu.
Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.
Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.
Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam.
Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.
Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.
Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'
Tuesday, December 4, 2012
Hamba di dunia….. Yaa Rabbana
Hamba banyak dosa… Yaa Rabbana
Hamba mohon ampun
banyak tergiur oleh fantasi dunia
ada yang jadi artis yang jadi pejabat
tapi kenapa kita suka lupa
terhadap kewajiban kita semua
yang jadi artis banyak yang tidak hafal hadist
yang jadi pejabat banyak yang ninggalain sholat
padahal itu semua hanyalah tipu muslihat
banyak ninggalin sholat, puasa apalagi dzikir cuma sekelebat
berusaha mencukupi kebutuhan menafkahi keluarga
dan Rasulullah bergerak dibidang niaga
jangan lupa zakat
jangan lupa dzikir
apa kekurangan kita di dunia
kita perbaiki
Hamba di dunia….. Yaa Rabbana
Hamba banyak dosa… Yaa Rabbana
Hamba mohon ampun
banyak tergiur oleh fantasi dunia
ada yang jadi artis yang jadi pejabat
tapi kenapa kita suka lupa
terhadap kewajiban kita semua
yang jadi artis banyak yang tidak hafal hadist
yang jadi pejabat banyak yang ninggalain sholat
padahal itu semua hanyalah tipu muslihat
banyak ninggalin sholat, puasa apalagi dzikir cuma sekelebat
berusaha mencukupi kebutuhan menafkahi keluarga
dan Rasulullah bergerak dibidang niaga
jangan lupa zakat
jangan lupa dzikir
apa kekurangan kita di dunia
kita perbaiki
Wednesday, September 19, 2012
Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar
Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae?
![]() |
| sumber: https://indonesiamengajar.org/ |
![]() |
| sumber: https://indonesiamengajar.org/ |
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.
Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar
Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae?
![]() |
| sumber: https://indonesiamengajar.org/ |
![]() |
| sumber: https://indonesiamengajar.org/ |
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.
Sunday, July 15, 2012
Saat menekan huruf-huruf di keyboard laptop kesayangan ini, aku sedang berada di dalam sebuah Mushala yang jika dilihat dari ukurannya, lebih pantas disebut sebagai masjid daripada mushala. Mushala ini letaknya di lantai tiga bangunan gedung pasar Petisah, Medan (oops, ketahuan deh lagi belanja :p). Mushala ini cukup bersih, bagus, dan baik untuk ukuran sebuah mushala di tempat umum seperti pasar. Tempat wudhu dan kamar kecilnya terpisah, luas, dan tertutup, jadi cukup aman bagi para muslimah. Cukup melegakan pokoknya.
Awalnya saat diajak Bunda untuk shalat Zuhur, aku ragu, karena biasanya mushala di tempat umum seperti ini adalah mushala-mushala 'darurat'. Kalau tidak cukup kecil, yaa tidak cukup bersih dan tertutup. Namun, saat tiba di mushala ini, ada rasa kagum yang luar biasa yang mengetuk hati (eaaa), terlebih lagi melihat ramainya orang-orang yang berada di dalamnya (shalat plus beristirahat di sudut-sudut mushala). Jujur lho, aku pribadi jarang melihat keramaian seperti ini di mushala umum di Aceh. Kenapa ya kira-kira? Karena fasilitas yang nggak memadai di sana atau karena... baiklah, kita husnudzan aja *peace* :D
Hmm, yaaa, walaupun tidak semuanya di kota ini sebaik pemandangan hari ini. Di Sun Plaza misalnya, mall itu termasuk mall terbesar di kota Medan, tapi, bagaimana keadaan mushala nya? Mushala di sana letaknya di lantai dasar, super dasar: Lower Ground (LG), tepat di samping parkiran mobil. Keadaannya? Pengap (ya iyalah, di lantai dasar gitu loh), sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran gedung mall nya yang seluas itu, tampak tidak terurus dan yang paling nggak enak adalah tempat wudhu'nya bergabung untuk pria dan wanita (buseeeett, ini nih yang paling males). Oke, untuk Sun Plaza, aku kecewa. Ting!
Satu lagi tempat yang aku kunjungi dan melaksanakan salah satu shalat di sana, yaitu Hotel Asean yang letaknya di Jalan Adam Malik. Ngapain aku di sana? Ah, itulah tujuan awalku ke Medan kali ini, yaitu untuk mengikuti tes tahap 2 perekrutan karyawan salah satu perusahaan jasa di Indonesia (eaaa, gaya!). Kebetulan yang lolos tes tahap 1 dari Aceh hanya 8 orang, makanya kami-kami ini dilempar ke Medan untuk mengikuti tes selanjutnya. Dan sayangnya, perjuanganku harus berhenti kemarin. Aku belum beruntung. Aku nggak termasuk dalam 20 orang yang lulus dari 73 orang yang ikut tes kemarin, hehe. Nggak apa, namanya juga usaha #eh. Oke, kembali ke topik.
Selesai tes psikologi dan diskusi kelompok, aku yang ditinggal sendiri tanpa kenal siapa-siapa di hotel ini pun mencari-cari dimana letaknya mushala di hotel yang cukup mewah ini. Setelah bertanya pada salah satu pegawai, ternyata eh ternyata mushala nya terletak di lantai dasar (lagi!). Huft! Hati pun mulai nggak enak. Dan saat melihat bagaimana mushala nya, hati memang benar-benar jadi tak enak (apa sih ini). Mushala di hotel ini letaknya di lantai dasar, tepat di sekitaran parkiran juga. Bedanya dengan mushala yang di Sun Plaza adalah.. tempat wudhu di mushala ini Alhamdulillah terpisah dan tertutup. Syukurlah. Namun, tetap aja, kondisi mushala yang apa adanya tetap bikin hati miris-miris tak manis. Apalagi jika kita harus bandingkan dengan besar dan luasnya bangunan si hotel ini. Untuk Hotel Asean, aku juga kecewa. Ting kuadrat!
Intinya adalah.. tempat ibadah kok di-anak tirikan sih? Malu dong dengan pasar Petisah :p
Saat menekan huruf-huruf di keyboard laptop kesayangan ini, aku sedang berada di dalam sebuah Mushala yang jika dilihat dari ukurannya, lebih pantas disebut sebagai masjid daripada mushala. Mushala ini letaknya di lantai tiga bangunan gedung pasar Petisah, Medan (oops, ketahuan deh lagi belanja :p). Mushala ini cukup bersih, bagus, dan baik untuk ukuran sebuah mushala di tempat umum seperti pasar. Tempat wudhu dan kamar kecilnya terpisah, luas, dan tertutup, jadi cukup aman bagi para muslimah. Cukup melegakan pokoknya.
Awalnya saat diajak Bunda untuk shalat Zuhur, aku ragu, karena biasanya mushala di tempat umum seperti ini adalah mushala-mushala 'darurat'. Kalau tidak cukup kecil, yaa tidak cukup bersih dan tertutup. Namun, saat tiba di mushala ini, ada rasa kagum yang luar biasa yang mengetuk hati (eaaa), terlebih lagi melihat ramainya orang-orang yang berada di dalamnya (shalat plus beristirahat di sudut-sudut mushala). Jujur lho, aku pribadi jarang melihat keramaian seperti ini di mushala umum di Aceh. Kenapa ya kira-kira? Karena fasilitas yang nggak memadai di sana atau karena... baiklah, kita husnudzan aja *peace* :D
Hmm, yaaa, walaupun tidak semuanya di kota ini sebaik pemandangan hari ini. Di Sun Plaza misalnya, mall itu termasuk mall terbesar di kota Medan, tapi, bagaimana keadaan mushala nya? Mushala di sana letaknya di lantai dasar, super dasar: Lower Ground (LG), tepat di samping parkiran mobil. Keadaannya? Pengap (ya iyalah, di lantai dasar gitu loh), sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran gedung mall nya yang seluas itu, tampak tidak terurus dan yang paling nggak enak adalah tempat wudhu'nya bergabung untuk pria dan wanita (buseeeett, ini nih yang paling males). Oke, untuk Sun Plaza, aku kecewa. Ting!
Satu lagi tempat yang aku kunjungi dan melaksanakan salah satu shalat di sana, yaitu Hotel Asean yang letaknya di Jalan Adam Malik. Ngapain aku di sana? Ah, itulah tujuan awalku ke Medan kali ini, yaitu untuk mengikuti tes tahap 2 perekrutan karyawan salah satu perusahaan jasa di Indonesia (eaaa, gaya!). Kebetulan yang lolos tes tahap 1 dari Aceh hanya 8 orang, makanya kami-kami ini dilempar ke Medan untuk mengikuti tes selanjutnya. Dan sayangnya, perjuanganku harus berhenti kemarin. Aku belum beruntung. Aku nggak termasuk dalam 20 orang yang lulus dari 73 orang yang ikut tes kemarin, hehe. Nggak apa, namanya juga usaha #eh. Oke, kembali ke topik.
Selesai tes psikologi dan diskusi kelompok, aku yang ditinggal sendiri tanpa kenal siapa-siapa di hotel ini pun mencari-cari dimana letaknya mushala di hotel yang cukup mewah ini. Setelah bertanya pada salah satu pegawai, ternyata eh ternyata mushala nya terletak di lantai dasar (lagi!). Huft! Hati pun mulai nggak enak. Dan saat melihat bagaimana mushala nya, hati memang benar-benar jadi tak enak (apa sih ini). Mushala di hotel ini letaknya di lantai dasar, tepat di sekitaran parkiran juga. Bedanya dengan mushala yang di Sun Plaza adalah.. tempat wudhu di mushala ini Alhamdulillah terpisah dan tertutup. Syukurlah. Namun, tetap aja, kondisi mushala yang apa adanya tetap bikin hati miris-miris tak manis. Apalagi jika kita harus bandingkan dengan besar dan luasnya bangunan si hotel ini. Untuk Hotel Asean, aku juga kecewa. Ting kuadrat!
Intinya adalah.. tempat ibadah kok di-anak tirikan sih? Malu dong dengan pasar Petisah :p
Sunday, April 29, 2012
Saya selalu berharap ketergantungan
terhadap musik stadium empat ini tidak membawa dampak buruk apapun bagi saya.
Saya juga berharap, bagaimana pun beratnya, saya harus tetap hidup dalam
keseimbangan. Misalnya: jika kita rutin membaca buku, koran,
postingan-postingan di internet, artikel, dan sebagainya, maka kita juga harus
rutin membaca Al-Quran, dan buku-buku pengetahuan agama. Sering mendengarkan
musik, tentu harus dibarengi juga dengan sering mendengarkan Murottal Al-Quran
dan sejenisnya. Seimbang! Semoga bisa ya. Harus bisa! Ting!Instrumental, kontras dengan lagu, adalah suatu komposisi atau rekaman musik tanpa lirik atau musik vokal dalam bentuk apapun; semua musik dihasilkan melalui alat musik. Secara spesifik, istilah ini digunakan jika merujuk pada musik populer; beberapa genre musik menggunakan sedikit unsur suara manusia, seperti jazz, musik elektronika, dan sejumlah besar musik klasik Eropa (walaupun pada musik elektronika, suara dapat dicuplik seperti jenis-jenis bunyi lainnya). Pada musik komersial, beberapa lagu pada suatu album mungkin berupa instrumental yang merupakan salinan sama persis dari lagu lain pada album tersebut, tanpa adanya unsur vokal.
- Ichi Ritoru no Namida - One Liter of Tears OST
- The Fire of Love - City Hunter OST
- Prelude - Taisetsu na Koto wa Subete Kimi ga Oshiete Kureta OST
- Heartbreak - Kal Ho Na Ho OST
- Dancing Jodi - Rab Ne Bana Di Jodi OST
- Rhythms of Mohabbatein - Mohabbatein OST
- Tears of Necklace - 49 Days OST
- Devil's Tears - 49 Days OST
- Destiny - Shining Inheritance OST
- Are We a Family - Shining Inheritance OST
Saya selalu berharap ketergantungan
terhadap musik stadium empat ini tidak membawa dampak buruk apapun bagi saya.
Saya juga berharap, bagaimana pun beratnya, saya harus tetap hidup dalam
keseimbangan. Misalnya: jika kita rutin membaca buku, koran,
postingan-postingan di internet, artikel, dan sebagainya, maka kita juga harus
rutin membaca Al-Quran, dan buku-buku pengetahuan agama. Sering mendengarkan
musik, tentu harus dibarengi juga dengan sering mendengarkan Murottal Al-Quran
dan sejenisnya. Seimbang! Semoga bisa ya. Harus bisa! Ting!Instrumental, kontras dengan lagu, adalah suatu komposisi atau rekaman musik tanpa lirik atau musik vokal dalam bentuk apapun; semua musik dihasilkan melalui alat musik. Secara spesifik, istilah ini digunakan jika merujuk pada musik populer; beberapa genre musik menggunakan sedikit unsur suara manusia, seperti jazz, musik elektronika, dan sejumlah besar musik klasik Eropa (walaupun pada musik elektronika, suara dapat dicuplik seperti jenis-jenis bunyi lainnya). Pada musik komersial, beberapa lagu pada suatu album mungkin berupa instrumental yang merupakan salinan sama persis dari lagu lain pada album tersebut, tanpa adanya unsur vokal.
- Ichi Ritoru no Namida - One Liter of Tears OST
- The Fire of Love - City Hunter OST
- Prelude - Taisetsu na Koto wa Subete Kimi ga Oshiete Kureta OST
- Heartbreak - Kal Ho Na Ho OST
- Dancing Jodi - Rab Ne Bana Di Jodi OST
- Rhythms of Mohabbatein - Mohabbatein OST
- Tears of Necklace - 49 Days OST
- Devil's Tears - 49 Days OST
- Destiny - Shining Inheritance OST
- Are We a Family - Shining Inheritance OST
Tuesday, January 3, 2012
Ah, sekolah itu. Tak terhitung betapa banyaknya yang bisa dikenang dan tak terlupa di sana. Kejadian dan pengalaman menyenangkan, ataupun sebaliknya. Semuanya ada. Guru-guru, kawan-kawan, adik-adik angkatan, bangunan sekolah yang sederhana, senam pagi, praktek shalat jenazah setiap jumat pagi (dengan baju seragam berwarna hijau), kantin sekolah, kegiatan pesantren kilat, rebana, lomba bidang studi (Aku, Winda, Yudi dan Alm. Renchi), lomba masak di kelas, acara perpisahan, sampai banjir yang terkadang melanda, aku masih mengingatnya. Ah, aku rindu! Sangat rindu!
Masih terbayang betapa hebohnya teman-teman di kelas VA saat kedatangan seorang siswa baru tak berkerudung* (*di sekolah itu siswa perempuan kelas V-VI sudah diwajibkan berseragam panjang lengkap dengan jilbabnya) dari Aceh--yang sedang konflik hingga terjadi perang. Sambutan hangat dan bersahabat aku dapatkan dari sekitar 25 orang siswa di kelas tersebut, hingga tak perlu waktu lama untukku merasa nyaman di sana karenanya.
Aku senang! Sangat senang!
Inilah kawan-kawan baruku, di kota yang masih asing bagi aku dan tentu saja keluargaku--saat itu.
Baru satu hari sekolah, keesokan harinya liburan panjang bulan Ramadhan. Sejenis aneh rasanya, tapi tak apa. Aku menikmati masa-masa liburan untuk mempersiapkan diri belajar di sekolah dengan lingkungan baru, serta yang paling penting: Seragam merah putih panjang dan jilbabnya.
Satu bulan berlalu. Liburan selesai dan itu artinya tiba waktuku untuk kembali ke sekolah. Dan kau tahu, kawan? Hari itu kelas VA kembali kedatangan seorang siswa baru dari Aceh. Kalau aku datang dari Lhokseumawe, kawan baruku itu dari Takengon. Namanya Putri. Dan dialah yang akhirnya ku rasa jadi sahabat terdekatku di antara sahabat-sahabat dekat lainnya.
Tapi pastinya, mereka semua istimewa.
Selepas menamatkan MIN, kami memang tidak semuanya melanjutkan di sekolah yang sama, yaitu MTsN Model Gunung Pangilun. Namun, dari beberapa yang melanjutkan ke sana, hampir semuanya berkumpul di kelas yang sama; I-6. Dan di MTsN inilah aku rasakan persahabatan kami semakin erat. Hari-hari ku jalani dengan ceria, penuh tawa dan canda. Aku bahagia! Sangat bahagia! Aku semakin bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik seperti mereka.
Sampai akhirnya perpisahan itu tiba.
Ayahku kembali ditugaskan di kota Lhokseumawe. Dan itu artinya aku akan segera meninggalkan mereka dan kota Padang lengkap dengan semua pengalaman yang akan tercatat sebagai sebuah kenangan.
Ah, aku benci perpisahan!
Walaupun ku tahu, setiap pertemuan itu pastilah berujung pada perpisahan dan ini merupakan perpisahan sekolah ketiga yang aku alami selama 5 tahun terakhir (Meulaboh, Lhokseumawe, dan Padang).
12 April 2002. Aku pulang.
Namun persahabatan, silaturahmi dan komunikasi kami masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku masih sering dikabarkan jika ada kegiatan (reuni dan sebagainya) dan keadaan mereka di sana, baik itu sahabat di MIN maupun MTsN.
Dan secara tak terduga, hari minggu lalu sebuah pesan singkat berisi kabar duka ku terima dari mereka. Seorang sahabat akhirnya pergi duluan ke hadapan-Nya. Dialah Renchi, siswa kelas B yang ku kenal saat mengikuti lomba bidang studi bersama dua orang sahabat lainnya. Walaupun, tak begitu dekat, tapi aku cukup ingat karena namanya yang unik dan berbeda dari yang lainnya.
Para sahabat mengabarkan mereka berkunjung ke rumah duka, dan aku cukup merasakan bagaimana sedihnya keadaan di sana. Ah, aku ingin ke sana..
(Selamat jalan Renchi, semoga setiap amalan setia menemanimu di alam sana. Kami yang masih bertahan di sini akan selalu merindukanmu ~ )
*Karena berita inilah, aku kembali teringat Padang. Serentetan kenangan di sekolah sederhana itu diputar ulang. Dan aku ingin segera terbang, berharap bisa menapakkan kaki untuk yang kedua kali di tanah Minang, lantas mencoba mengunjungi lagi tempat-tempat terkenang agar semua terasa berulang.
Aku rindu! Sangat rindu!
Ah, Padang! Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mereka, semua yang pernah hadir dan masih melekat erat dalam pikiran. *semoga*
Ah, sekolah itu. Tak terhitung betapa banyaknya yang bisa dikenang dan tak terlupa di sana. Kejadian dan pengalaman menyenangkan, ataupun sebaliknya. Semuanya ada. Guru-guru, kawan-kawan, adik-adik angkatan, bangunan sekolah yang sederhana, senam pagi, praktek shalat jenazah setiap jumat pagi (dengan baju seragam berwarna hijau), kantin sekolah, kegiatan pesantren kilat, rebana, lomba bidang studi (Aku, Winda, Yudi dan Alm. Renchi), lomba masak di kelas, acara perpisahan, sampai banjir yang terkadang melanda, aku masih mengingatnya. Ah, aku rindu! Sangat rindu!
Masih terbayang betapa hebohnya teman-teman di kelas VA saat kedatangan seorang siswa baru tak berkerudung* (*di sekolah itu siswa perempuan kelas V-VI sudah diwajibkan berseragam panjang lengkap dengan jilbabnya) dari Aceh--yang sedang konflik hingga terjadi perang. Sambutan hangat dan bersahabat aku dapatkan dari sekitar 25 orang siswa di kelas tersebut, hingga tak perlu waktu lama untukku merasa nyaman di sana karenanya.
Aku senang! Sangat senang!
Inilah kawan-kawan baruku, di kota yang masih asing bagi aku dan tentu saja keluargaku--saat itu.
Baru satu hari sekolah, keesokan harinya liburan panjang bulan Ramadhan. Sejenis aneh rasanya, tapi tak apa. Aku menikmati masa-masa liburan untuk mempersiapkan diri belajar di sekolah dengan lingkungan baru, serta yang paling penting: Seragam merah putih panjang dan jilbabnya.
Satu bulan berlalu. Liburan selesai dan itu artinya tiba waktuku untuk kembali ke sekolah. Dan kau tahu, kawan? Hari itu kelas VA kembali kedatangan seorang siswa baru dari Aceh. Kalau aku datang dari Lhokseumawe, kawan baruku itu dari Takengon. Namanya Putri. Dan dialah yang akhirnya ku rasa jadi sahabat terdekatku di antara sahabat-sahabat dekat lainnya.
Tapi pastinya, mereka semua istimewa.
Selepas menamatkan MIN, kami memang tidak semuanya melanjutkan di sekolah yang sama, yaitu MTsN Model Gunung Pangilun. Namun, dari beberapa yang melanjutkan ke sana, hampir semuanya berkumpul di kelas yang sama; I-6. Dan di MTsN inilah aku rasakan persahabatan kami semakin erat. Hari-hari ku jalani dengan ceria, penuh tawa dan canda. Aku bahagia! Sangat bahagia! Aku semakin bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik seperti mereka.
Sampai akhirnya perpisahan itu tiba.
Ayahku kembali ditugaskan di kota Lhokseumawe. Dan itu artinya aku akan segera meninggalkan mereka dan kota Padang lengkap dengan semua pengalaman yang akan tercatat sebagai sebuah kenangan.
Ah, aku benci perpisahan!
Walaupun ku tahu, setiap pertemuan itu pastilah berujung pada perpisahan dan ini merupakan perpisahan sekolah ketiga yang aku alami selama 5 tahun terakhir (Meulaboh, Lhokseumawe, dan Padang).
12 April 2002. Aku pulang.
Namun persahabatan, silaturahmi dan komunikasi kami masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku masih sering dikabarkan jika ada kegiatan (reuni dan sebagainya) dan keadaan mereka di sana, baik itu sahabat di MIN maupun MTsN.
Dan secara tak terduga, hari minggu lalu sebuah pesan singkat berisi kabar duka ku terima dari mereka. Seorang sahabat akhirnya pergi duluan ke hadapan-Nya. Dialah Renchi, siswa kelas B yang ku kenal saat mengikuti lomba bidang studi bersama dua orang sahabat lainnya. Walaupun, tak begitu dekat, tapi aku cukup ingat karena namanya yang unik dan berbeda dari yang lainnya.
Para sahabat mengabarkan mereka berkunjung ke rumah duka, dan aku cukup merasakan bagaimana sedihnya keadaan di sana. Ah, aku ingin ke sana..
(Selamat jalan Renchi, semoga setiap amalan setia menemanimu di alam sana. Kami yang masih bertahan di sini akan selalu merindukanmu ~ )
*Karena berita inilah, aku kembali teringat Padang. Serentetan kenangan di sekolah sederhana itu diputar ulang. Dan aku ingin segera terbang, berharap bisa menapakkan kaki untuk yang kedua kali di tanah Minang, lantas mencoba mengunjungi lagi tempat-tempat terkenang agar semua terasa berulang.
Aku rindu! Sangat rindu!
Ah, Padang! Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mereka, semua yang pernah hadir dan masih melekat erat dalam pikiran. *semoga*
Sunday, December 18, 2011
Baiklah, sepertinya kata yang tepat untuk memulai kicauan kali ini adalah:
"Akhirnya, pergi juga ke Aceh Book Fair 2011!" (penting lho!).
Aceh Book Fair 2011, acara ini bisa dibilang pameran dan obral buku besar-besaran yang diadakan di halaman kantor Pustaka Wilayah Banda Aceh, dari tanggal 12 Desember 2011 sampai 18 Desember 2011 (hari ini). Awalnya, saat menuju kampus dan melewati gedung pustaka wilayah senin tanggal 12 lalu, saya tidak tahu bahwa acara yang sedang diadakan di halaman pustaka itu merupakan pameran buku. Saya tahu dan langsung mendadak galau tingkat belum sidang skripsi di malam harinya, saat seorang kawan memasang status 'kalap beli buku di pameran' di akun twitter miliknya. Di sanalah saya bertanya apa sedang ada pameran di Banda Aceh, kalau ada dimana? Dan kawan saya itu dengan sangat antusias menginformasikan tentang Aceh Book Fair 2011 itu.
Ah, kawan! Seandainya boleh curhat, saya hendak bercerita betapa banyaknya pengeluaran di bulan ini, baik itu terkait skripsi, sidang dan pengeluaran tak terduga dan tak terencana lainnya. Singkat kata, saya sedang bokek! Tidak ada dana untuk membeli buku bulan ini, sekalipun itu buku diskonan. Alamaaaak..
Hari-hari berlalu dengan galau dan keinginan yang masih menggebu-gebu, bagaimana tidak? Perjalanan ke kampus selalu melewati gedung--tempat para jendela dunia dengan harga bersahabat sedang dipamerkan dengan indahnya--itu. Seorang kawan penggemar buku pun berulang kali mengajak berkunjung ke sana dan berulang kali pula saya tolak. Takut. Lebih baik galau karena tidak bisa ke sana daripada galau karena menemukan buku bagus tapi tidak bisa membelinya *nah lho*.Dan sayangnya, rasa penasaran itu tidak bisa lagi terbendung saat secara tidak sengaja saya menemukan dan membaca blog seorang blogger Aceh yang isinya menceritakan pengalaman dia berkunjung ke Aceh Book Fair 2011 itu lengkap dengan foto-fotonya. Banyak buku bagus dan diskon! Aiiiiih..
Aku ingin. Aku harus ke sana!Dan hari ini obsesi itu terwujud, ada waktu (karena agenda rihlah FLP Aceh dibatalkan) dan saya menemukan sedikit dana yang cukup pas-pasan di dalam dompet *entah darimana datangnya*.
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.Stand pertama yang kami kunjungi adalah stand di sebelah kanan gedung pustaka, dan di situlah ternyata gudangnya buku yang didiskon besar-besaran. Bayangkan, novel-novel bagus setebal lebih dari 300 halaman dijual hanya dengan harga 20.000 rupiah! Bayangkan kawan, bayangkan! (berlebihan). Ada juga buku-buku mungil yang diobral dengan harga 10.000 rupiah.
Ah, berasa surga dunia, saat berada diantara kumpulan buku-buku itu. Tapi sayang, saya harus benar-benar memilah dan memilih buku-buku bagus, berguna, dan yang memang sedang dicari plus dibutuhkan, karena keterbatasan dana (bulan Desember masih ada 12 hari lagi kan? Mau jajan apa saya jika semua anggaran habis dibelanja buku diskonan?). Dan pilihan jatuh di buku Deception Point yang harganya luar biasa, kurang dari setengah harga aslinya! Syukurlah, akhirnya bisa punya bukunya Dan Brown juga *haha, kasian!*.
Merasa sudah cukup puas hunting di stand murah itu, kami melanjutkan petualangan memburu buku ke stand sebelah kiri gedung pustaka. Di sana ada stand toko Gramedia (yang sayangnya harga di sana hampir sama dengan harga asli di tokonya), toko buku Aufa, dan sebagainya. Rasa lelah karena membawa ransel yang berisi laptop dan skripsi setebal gaban mulai menghampiri. Saya mulai tidak konsentrasi. Semangat dan rasa penasaran mencari buku pun sedikit demi sedikit memudar. Dan singkat cerita, di stand sebelah sini saya akhirnya membawa pulang bukunya seorang Motivator Indonesia, Pak Ippho Santosa. Kalap. Harga bukunya didiskon hingga setengah harga. Hard cover pula! Alhamdulillah :)Dan.. Cerita pun berakhir tidak lama setelah saya membeli buku kedua. Cukup puaslah, walaupun hanya membeli dua buku dan tidak menemukan buku-buku yang sebenarnya dicari. Harga buku yang cukup bersahabat dengan isi dompet itu setidaknya bisa menambah senyuman untuk hari ini. Sekali lagi, Alhamdulillah. Semoga akan ada pameran-pameran buku lainnya, dan semoga saat diadakan pameran buku selanjutnya itu penghuni dompet sedang setia. Amin..
Minggu, 18 Desember 2011.Kasur, saat lampu telah dipadamkan dan kekuatan mata tinggal 5 watt.
Arigatou Gozaimasu, Minna-san. Oyasumi! :DBaiklah, sepertinya kata yang tepat untuk memulai kicauan kali ini adalah:
"Akhirnya, pergi juga ke Aceh Book Fair 2011!" (penting lho!).
Aceh Book Fair 2011, acara ini bisa dibilang pameran dan obral buku besar-besaran yang diadakan di halaman kantor Pustaka Wilayah Banda Aceh, dari tanggal 12 Desember 2011 sampai 18 Desember 2011 (hari ini). Awalnya, saat menuju kampus dan melewati gedung pustaka wilayah senin tanggal 12 lalu, saya tidak tahu bahwa acara yang sedang diadakan di halaman pustaka itu merupakan pameran buku. Saya tahu dan langsung mendadak galau tingkat belum sidang skripsi di malam harinya, saat seorang kawan memasang status 'kalap beli buku di pameran' di akun twitter miliknya. Di sanalah saya bertanya apa sedang ada pameran di Banda Aceh, kalau ada dimana? Dan kawan saya itu dengan sangat antusias menginformasikan tentang Aceh Book Fair 2011 itu.
Ah, kawan! Seandainya boleh curhat, saya hendak bercerita betapa banyaknya pengeluaran di bulan ini, baik itu terkait skripsi, sidang dan pengeluaran tak terduga dan tak terencana lainnya. Singkat kata, saya sedang bokek! Tidak ada dana untuk membeli buku bulan ini, sekalipun itu buku diskonan. Alamaaaak..
Hari-hari berlalu dengan galau dan keinginan yang masih menggebu-gebu, bagaimana tidak? Perjalanan ke kampus selalu melewati gedung--tempat para jendela dunia dengan harga bersahabat sedang dipamerkan dengan indahnya--itu. Seorang kawan penggemar buku pun berulang kali mengajak berkunjung ke sana dan berulang kali pula saya tolak. Takut. Lebih baik galau karena tidak bisa ke sana daripada galau karena menemukan buku bagus tapi tidak bisa membelinya *nah lho*.Dan sayangnya, rasa penasaran itu tidak bisa lagi terbendung saat secara tidak sengaja saya menemukan dan membaca blog seorang blogger Aceh yang isinya menceritakan pengalaman dia berkunjung ke Aceh Book Fair 2011 itu lengkap dengan foto-fotonya. Banyak buku bagus dan diskon! Aiiiiih..
Aku ingin. Aku harus ke sana!Dan hari ini obsesi itu terwujud, ada waktu (karena agenda rihlah FLP Aceh dibatalkan) dan saya menemukan sedikit dana yang cukup pas-pasan di dalam dompet *entah darimana datangnya*.
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.Stand pertama yang kami kunjungi adalah stand di sebelah kanan gedung pustaka, dan di situlah ternyata gudangnya buku yang didiskon besar-besaran. Bayangkan, novel-novel bagus setebal lebih dari 300 halaman dijual hanya dengan harga 20.000 rupiah! Bayangkan kawan, bayangkan! (berlebihan). Ada juga buku-buku mungil yang diobral dengan harga 10.000 rupiah.
Ah, berasa surga dunia, saat berada diantara kumpulan buku-buku itu. Tapi sayang, saya harus benar-benar memilah dan memilih buku-buku bagus, berguna, dan yang memang sedang dicari plus dibutuhkan, karena keterbatasan dana (bulan Desember masih ada 12 hari lagi kan? Mau jajan apa saya jika semua anggaran habis dibelanja buku diskonan?). Dan pilihan jatuh di buku Deception Point yang harganya luar biasa, kurang dari setengah harga aslinya! Syukurlah, akhirnya bisa punya bukunya Dan Brown juga *haha, kasian!*.
Merasa sudah cukup puas hunting di stand murah itu, kami melanjutkan petualangan memburu buku ke stand sebelah kiri gedung pustaka. Di sana ada stand toko Gramedia (yang sayangnya harga di sana hampir sama dengan harga asli di tokonya), toko buku Aufa, dan sebagainya. Rasa lelah karena membawa ransel yang berisi laptop dan skripsi setebal gaban mulai menghampiri. Saya mulai tidak konsentrasi. Semangat dan rasa penasaran mencari buku pun sedikit demi sedikit memudar. Dan singkat cerita, di stand sebelah sini saya akhirnya membawa pulang bukunya seorang Motivator Indonesia, Pak Ippho Santosa. Kalap. Harga bukunya didiskon hingga setengah harga. Hard cover pula! Alhamdulillah :)Dan.. Cerita pun berakhir tidak lama setelah saya membeli buku kedua. Cukup puaslah, walaupun hanya membeli dua buku dan tidak menemukan buku-buku yang sebenarnya dicari. Harga buku yang cukup bersahabat dengan isi dompet itu setidaknya bisa menambah senyuman untuk hari ini. Sekali lagi, Alhamdulillah. Semoga akan ada pameran-pameran buku lainnya, dan semoga saat diadakan pameran buku selanjutnya itu penghuni dompet sedang setia. Amin..
Minggu, 18 Desember 2011.Kasur, saat lampu telah dipadamkan dan kekuatan mata tinggal 5 watt.
Arigatou Gozaimasu, Minna-san. Oyasumi! :DTuesday, November 22, 2011
“Kiban?” begitulah sapaan khasnya saat menyapa para mahasiswa bimbingan yang ditemuinya. Dialah Dosen Wali, yang sekarang merangkap menjadi Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsiku. Beliau merupakan pribadi yang baik, walaupun jika hanya dilihat dari penampakan luarnya, akan banyak orang yang tidak percaya bahwa beliau adalah orang yang baik. Ah, “Don’t Judge a Book by Its Cover”! Pepatah ini cocok jika disandingkan dengan perbincangan kita di atas barusan.
Sejak awal kuliah 2007 silam, beliau cukup ‘’welcome’’ saat ada mahasiswanya yang meminta bimbingan atau sekedar tanda tangan (KRS, KHS, dan sebagainya). Dengan senang hati dan (sedikit tampak) tulus, terkadang beliau cukup perhatian dengan bertanya pada mahasiswanya akan pengetahuan si mahasiswa terhadap mata kuliah yang akan diambilnya. Jika menurut beliau masih ada yang kurang, maka beliau akan dengan tegas menyarankan si mahasiswa untuk membatalkan/menunda dulu mata kuliah tersebut, sampai persyaratan yang harus dipenuhi mata kuliah itu selesai dipelajari.
Yah, begitulah. Terkadang sikap tegas, blak-blakan dan to the point yang khas dari beliau itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa men’judge’ beliau sebagai salah satu dosen kejam yang cukup ditakuti dan harus dihindari. Aku? Sedikit banyak terkadang juga merasakan hal yang sama. Di satu sisi beliau memang punya karakter yang sedikit menakutkan dan membingungkan para pembaca eh, para mahasiswa. Beliau termasuk pribadi yang sedikit plin-plan (berbeda-beda apa yang dikatakannya), agak pelupa (saking banyaknya mahasiswa yang dibimbingnya) dan juga mood-mood-an (apa ini maksudnya?), saat moodnya baik, beliau sangat baik, dan sebaliknya. Begitu juga jika marah, beliau benar-benar marah dan jika bercanda, beliau benar-benar bercanda sampai kadang tertawa terbahak-bahak.
Beliau pribadi yang baik. Kenapa? Dibalik segala ketegasan dan (mungkin) sisi negatif nya menurut orang-orang, beliau termasuk dari beberapa dosen di jurusan kami yang tidak ingin menunda shalat. Hal itu terbukti saat sedang membimbing mahasiswa, jika masuk waktu shalat, beliau akan dengan tegas mengatakan pada mahasiswa bahwa bimbingan akan dilanjutkan setelah beliau shalat. Nice!
Cukup banyak kebaikannya yang lain. Hanya saja, segala keunikan dan karakter yang tidak disukai banyak orang kadang lebih tampak dominan daripada kebaikan tulus yang ada pada diri beliau.
Memasuki semester akhir dan hal yang paling sakral bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi.
Niat plus target mengajukan judul skripsi sudah ada sejak Desember 2010 silam. Namun tertunda lantaran satu hal, yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Yah, semua sudah tahu, beliau merupakan salah satu dosen plus sekretaris jurusan yang cukup disiplin. Aturan-aturannya kuat dan sedikit menyusahkan mahasiswa (begitu kata dan keluhan para mahasiswa). Saat hendak mengajukan judul skripsi, aku langsung ditodong dengan pertanyaan: “Apa kamu sudah selesai PPL?” Deg. Terang saja belum, saat itu sedang liburan semester ganjil dan aku berencana mengambil PPL di semester depannya. Mendengar jawaban ‘belum’ beliau langsung memotong “Nah, kamu PPL dulu, saat di sekolah nanti coba kamu perhatikan dan pikirkan dengan seksama apa masalah murid-murid di sana. Setelah dapat, ceritak masalahnya, deskripsikan dan tunjukkan ke saya”.
Begitulah, hingga akhirnya judul skripsi aku ajukan 3 bulan kemudian. Judul pertama ditolak. Beliau malah memintaku menceritakan setiap kejadian selama aku mengajar di kelas yang berbeda dengan materi yang sama. Lagi. Cerita dan deskripsi. Walaupun cukup malas, mau tak mau harus kukerjakan juga tugas mengarang itu, tak jauh berbeda dengan tugas wajib PPL, refleksi harian dan case study. Ah, seperti menulis buku harian. Begitulah yang aku tanamkan dalam hati saat hendak menuliskannya.
Dua minggu kemudian, berbekal 6 lembar kertas yang berisi cerita pengalaman mengajar dan dua judul skripsi plus latar belakangnya, ku temui lagi beliau di meja kerjanya.
“Kiban?” begitulah aku disambutnya.
Tanpa basa-basi langsung kuserahkan saja kertas-kertas yang tak seberapa mana itu. Sekilas. Beliau melihat cerita mengajar itu hanya sekilas. Bergumam sedikit—dan aku tak sempat menangkap apa yang dikatakannya—lalu memilih-milih kertas lainnya. Perhatian beliau ternyata lebih tercurah pada salah satu judul skripsi yang aku ajukan. Tanpa babibu panjang kali lebar sama dengan luas, beliau langsung berkomentar tentang judul skripsi tersebut, dan tak lama setelah itu terciptalah satu judul skripsi yang komplit. Ting!
“Kamu bahas ini aja” katanya sambil melingkari judul skripsi yang barusan ditulisnya.
Aku diam. Judul yang diajukannya merupakan judul skripsi yang paling aku hindari. Penerapan model pembelajaran, yang artinya aku akan mengajar untuk penelitiannya.
“Itu judul skripsi saya pak?”
Eh, sempat-sempatnya pula aku bertanya demikian. Untung saja saat itu mood beliau sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, bisa berabe anak muda.
Akhirnya, dengan setengah senang (karena akhirnya punya judul skripsi) dan setengah sedih (karena tidak tertarik pada judulnya) aku keluar dari ruangan beliau dan ‘mengadu’ pada teman-teman. Ucapan selamat, dukungan dan wajah riang pun ku dapat dari mereka. Hmm, sedikit membantu semangat.
Singkat cerita, proposal skripsi ku selesai hampir dua bulan kemudian. Dan hanya dua kali bimbingan (baca: sekedar coret-coretan) sebelum akhirnya aku disarankannya untuk segera mendaftar seminar proposal. Selesai seminar, bimbingan instrument penelitian pun ku dapatkan hanya sebanyak dua kali. Beliau tampak seperti mempercepat pembuatan tugas akhirku itu. Dan perlakuan beliau terhadapku dan seorang teman—yang dosen walinya juga beliau—sedikit berbeda dibandingkan dengan perlakuannya pada mahasiswa bimbingannya yang lain. Hal itu membuat beberapa orang teman yang ada sangkut pautnya dengan beliau membicarakan kami berdua. Mereka jelas cemburu dan merasa bapak tidak adil atas perlakuan ‘anak kandung’ yang beliau berikan pada kami. Pembicaraan-pembicaraan mereka itu sedikit banyak menguras emosi, pikiran dan hati.
Well, lupakan cemoohan teman! The show must go on (cieeeee). Penelitian aku laksanakan dua bulan setelah seminar, revisi proposal dan bimbingan instrument. Sedangkan skripsi yang hanya BAB I – BAB V aku berikan pada beliau sebulan kemudian setelah penelitian. Malas! Malas! Dan malas! Tentu saja, akibat malas itu, target wisuda bulan November 2011 pun terlewati dengan indahnya.
Galau tingkat mahasiswa yang belum sarjana.
Lebih kurang tiga hari skripsi selesai diperiksa dan penuh dengan coretan hampir di setiap paragrafnya. Lagi-lagi malas melanda. Revisi skripsi terbengkalai dan aku seringnya lalai dengan segala hiburan yang ada di laptopku ini.
Sampai akhirnya, hari itu tiba. Saat Ayah menanyakan perihal skripsi dan akhirnya berkata “Alamat kelewatan wisuda bulan Februari Dedek ni”. Deg. Galau. Takut. Khawatir dan akhirnya aku sadar, skirpsi harus segera direvisi. Waktunya tak lama lagi saudara-saudara!
Dan akhirnya, hari ini kuserahkan juga skripsi yang telah direvisi perdana itu. Lega.
Selesai meletakkan skripsi di meja dosen pembimbing (sesuai pesan beliau sebelumnya), dan sudah beranjak dari kampus, aku dikejutkan dengan sms yang telah lama masuk di hape tapi baru terbaca, yang bunyinya “Tolong jumpai bapak di prodi, sekarang!” .
Panik tingkat lantai dua FKIP Gedung Baru.
Saat itu aku baru saja login di sebuah warnet yang Alhamdulillah tak begitu jauh dari kampus. Dengan segala kepanikan yang melanda (karena sms penting itu baru ku baca) aku langsung menuju kampus (dengan tidak melupakan ritual logout dan restart komputer). Tiba di sana, ternyata seminar proposal teman sudah dimulai, dan beliau salah satu dosen yang terlibat di dalamnya. Terpaksa menunggu. Perasaan nggak karuan, panik, takut dan penasaran atas apa yang akan disampaikan oleh beliau nantinya. Apa ada yang salah dengan revisi skripsiku itu? Apa ini, apa itu dan sebagainya.
Tidak begitu lama, seminar selesai, aku memberanikan diri masuk ke ruangan dan menemui beliau. Di situlah semua hal itu lagi-lagi terjadi kawan. Hah???
“Nah Desi, coba nanti kamu ceritakan setiap urutan mengajar kamu, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran sampai semua kegiatan yang kamu laksanakan di kelas, sesuai dengan RPP yang kamu buat. Coba dideskripsikan detailnya”.
Hee? “Hmm, nanti itu di skripsinya dibuat di bagian mana pak?”
“Oh, lepas aja. Kamu buat di kertas terpisah. Jabarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kamu laksanakan di kelas. Per-RPP dan model pembelajarannya. Jadi nanti kamu buat deskripsi RPP 1, RPP 2 dan RPP 3 untuk tiap model pembelajaran. Ingat-ingat lagi suasana penelitian kamu kemarin itu. Deskripsikan”.
“Oh, iya pak”(melemaslisasi).
“Ini saya kasih waktu 2 minggu, malam ini dikerjakan terus. Udah, itu saja yang mau saya sampaikan”.
Baiklah. Aku keluar ruangan dengan wajah bingung dan sedikit geli. Teman-teman yang penasaran pada bertanya ada apa.
“Eci disuruh mengarang lagi waak! Bapak minta deskripsi kegiatan selama mengajar kemarin itu!”
Tawa teman-teman tumpah! Asli. Sejauh ini belum pernah ada kejadian mahasiswa bimbingan beliau yang diminta mengarang demikian. Hanya aku. Dan itu sudah terjadi sejak awal pengajuan skripsi beberapa bulan silam. Teman-teman masih saja tertawa, dan aku bingung harus bagaimana.
Hahahahahahahahaha…
(Hmm, jangan-jangan beliau tahu kalau aku anggota FLP Aceh. Eh? Trus???).
Ruangan kesayangan.
22 November 2011, 7:08 PM
“Kiban?” begitulah sapaan khasnya saat menyapa para mahasiswa bimbingan yang ditemuinya. Dialah Dosen Wali, yang sekarang merangkap menjadi Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsiku. Beliau merupakan pribadi yang baik, walaupun jika hanya dilihat dari penampakan luarnya, akan banyak orang yang tidak percaya bahwa beliau adalah orang yang baik. Ah, “Don’t Judge a Book by Its Cover”! Pepatah ini cocok jika disandingkan dengan perbincangan kita di atas barusan.
Sejak awal kuliah 2007 silam, beliau cukup ‘’welcome’’ saat ada mahasiswanya yang meminta bimbingan atau sekedar tanda tangan (KRS, KHS, dan sebagainya). Dengan senang hati dan (sedikit tampak) tulus, terkadang beliau cukup perhatian dengan bertanya pada mahasiswanya akan pengetahuan si mahasiswa terhadap mata kuliah yang akan diambilnya. Jika menurut beliau masih ada yang kurang, maka beliau akan dengan tegas menyarankan si mahasiswa untuk membatalkan/menunda dulu mata kuliah tersebut, sampai persyaratan yang harus dipenuhi mata kuliah itu selesai dipelajari.
Yah, begitulah. Terkadang sikap tegas, blak-blakan dan to the point yang khas dari beliau itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa men’judge’ beliau sebagai salah satu dosen kejam yang cukup ditakuti dan harus dihindari. Aku? Sedikit banyak terkadang juga merasakan hal yang sama. Di satu sisi beliau memang punya karakter yang sedikit menakutkan dan membingungkan para pembaca eh, para mahasiswa. Beliau termasuk pribadi yang sedikit plin-plan (berbeda-beda apa yang dikatakannya), agak pelupa (saking banyaknya mahasiswa yang dibimbingnya) dan juga mood-mood-an (apa ini maksudnya?), saat moodnya baik, beliau sangat baik, dan sebaliknya. Begitu juga jika marah, beliau benar-benar marah dan jika bercanda, beliau benar-benar bercanda sampai kadang tertawa terbahak-bahak.
Beliau pribadi yang baik. Kenapa? Dibalik segala ketegasan dan (mungkin) sisi negatif nya menurut orang-orang, beliau termasuk dari beberapa dosen di jurusan kami yang tidak ingin menunda shalat. Hal itu terbukti saat sedang membimbing mahasiswa, jika masuk waktu shalat, beliau akan dengan tegas mengatakan pada mahasiswa bahwa bimbingan akan dilanjutkan setelah beliau shalat. Nice!
Cukup banyak kebaikannya yang lain. Hanya saja, segala keunikan dan karakter yang tidak disukai banyak orang kadang lebih tampak dominan daripada kebaikan tulus yang ada pada diri beliau.
Memasuki semester akhir dan hal yang paling sakral bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi.
Niat plus target mengajukan judul skripsi sudah ada sejak Desember 2010 silam. Namun tertunda lantaran satu hal, yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Yah, semua sudah tahu, beliau merupakan salah satu dosen plus sekretaris jurusan yang cukup disiplin. Aturan-aturannya kuat dan sedikit menyusahkan mahasiswa (begitu kata dan keluhan para mahasiswa). Saat hendak mengajukan judul skripsi, aku langsung ditodong dengan pertanyaan: “Apa kamu sudah selesai PPL?” Deg. Terang saja belum, saat itu sedang liburan semester ganjil dan aku berencana mengambil PPL di semester depannya. Mendengar jawaban ‘belum’ beliau langsung memotong “Nah, kamu PPL dulu, saat di sekolah nanti coba kamu perhatikan dan pikirkan dengan seksama apa masalah murid-murid di sana. Setelah dapat, ceritak masalahnya, deskripsikan dan tunjukkan ke saya”.
Begitulah, hingga akhirnya judul skripsi aku ajukan 3 bulan kemudian. Judul pertama ditolak. Beliau malah memintaku menceritakan setiap kejadian selama aku mengajar di kelas yang berbeda dengan materi yang sama. Lagi. Cerita dan deskripsi. Walaupun cukup malas, mau tak mau harus kukerjakan juga tugas mengarang itu, tak jauh berbeda dengan tugas wajib PPL, refleksi harian dan case study. Ah, seperti menulis buku harian. Begitulah yang aku tanamkan dalam hati saat hendak menuliskannya.
Dua minggu kemudian, berbekal 6 lembar kertas yang berisi cerita pengalaman mengajar dan dua judul skripsi plus latar belakangnya, ku temui lagi beliau di meja kerjanya.
“Kiban?” begitulah aku disambutnya.
Tanpa basa-basi langsung kuserahkan saja kertas-kertas yang tak seberapa mana itu. Sekilas. Beliau melihat cerita mengajar itu hanya sekilas. Bergumam sedikit—dan aku tak sempat menangkap apa yang dikatakannya—lalu memilih-milih kertas lainnya. Perhatian beliau ternyata lebih tercurah pada salah satu judul skripsi yang aku ajukan. Tanpa babibu panjang kali lebar sama dengan luas, beliau langsung berkomentar tentang judul skripsi tersebut, dan tak lama setelah itu terciptalah satu judul skripsi yang komplit. Ting!
“Kamu bahas ini aja” katanya sambil melingkari judul skripsi yang barusan ditulisnya.
Aku diam. Judul yang diajukannya merupakan judul skripsi yang paling aku hindari. Penerapan model pembelajaran, yang artinya aku akan mengajar untuk penelitiannya.
“Itu judul skripsi saya pak?”
Eh, sempat-sempatnya pula aku bertanya demikian. Untung saja saat itu mood beliau sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, bisa berabe anak muda.
Akhirnya, dengan setengah senang (karena akhirnya punya judul skripsi) dan setengah sedih (karena tidak tertarik pada judulnya) aku keluar dari ruangan beliau dan ‘mengadu’ pada teman-teman. Ucapan selamat, dukungan dan wajah riang pun ku dapat dari mereka. Hmm, sedikit membantu semangat.
Singkat cerita, proposal skripsi ku selesai hampir dua bulan kemudian. Dan hanya dua kali bimbingan (baca: sekedar coret-coretan) sebelum akhirnya aku disarankannya untuk segera mendaftar seminar proposal. Selesai seminar, bimbingan instrument penelitian pun ku dapatkan hanya sebanyak dua kali. Beliau tampak seperti mempercepat pembuatan tugas akhirku itu. Dan perlakuan beliau terhadapku dan seorang teman—yang dosen walinya juga beliau—sedikit berbeda dibandingkan dengan perlakuannya pada mahasiswa bimbingannya yang lain. Hal itu membuat beberapa orang teman yang ada sangkut pautnya dengan beliau membicarakan kami berdua. Mereka jelas cemburu dan merasa bapak tidak adil atas perlakuan ‘anak kandung’ yang beliau berikan pada kami. Pembicaraan-pembicaraan mereka itu sedikit banyak menguras emosi, pikiran dan hati.
Well, lupakan cemoohan teman! The show must go on (cieeeee). Penelitian aku laksanakan dua bulan setelah seminar, revisi proposal dan bimbingan instrument. Sedangkan skripsi yang hanya BAB I – BAB V aku berikan pada beliau sebulan kemudian setelah penelitian. Malas! Malas! Dan malas! Tentu saja, akibat malas itu, target wisuda bulan November 2011 pun terlewati dengan indahnya.
Galau tingkat mahasiswa yang belum sarjana.
Lebih kurang tiga hari skripsi selesai diperiksa dan penuh dengan coretan hampir di setiap paragrafnya. Lagi-lagi malas melanda. Revisi skripsi terbengkalai dan aku seringnya lalai dengan segala hiburan yang ada di laptopku ini.
Sampai akhirnya, hari itu tiba. Saat Ayah menanyakan perihal skripsi dan akhirnya berkata “Alamat kelewatan wisuda bulan Februari Dedek ni”. Deg. Galau. Takut. Khawatir dan akhirnya aku sadar, skirpsi harus segera direvisi. Waktunya tak lama lagi saudara-saudara!
Dan akhirnya, hari ini kuserahkan juga skripsi yang telah direvisi perdana itu. Lega.
Selesai meletakkan skripsi di meja dosen pembimbing (sesuai pesan beliau sebelumnya), dan sudah beranjak dari kampus, aku dikejutkan dengan sms yang telah lama masuk di hape tapi baru terbaca, yang bunyinya “Tolong jumpai bapak di prodi, sekarang!” .
Panik tingkat lantai dua FKIP Gedung Baru.
Saat itu aku baru saja login di sebuah warnet yang Alhamdulillah tak begitu jauh dari kampus. Dengan segala kepanikan yang melanda (karena sms penting itu baru ku baca) aku langsung menuju kampus (dengan tidak melupakan ritual logout dan restart komputer). Tiba di sana, ternyata seminar proposal teman sudah dimulai, dan beliau salah satu dosen yang terlibat di dalamnya. Terpaksa menunggu. Perasaan nggak karuan, panik, takut dan penasaran atas apa yang akan disampaikan oleh beliau nantinya. Apa ada yang salah dengan revisi skripsiku itu? Apa ini, apa itu dan sebagainya.
Tidak begitu lama, seminar selesai, aku memberanikan diri masuk ke ruangan dan menemui beliau. Di situlah semua hal itu lagi-lagi terjadi kawan. Hah???
“Nah Desi, coba nanti kamu ceritakan setiap urutan mengajar kamu, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran sampai semua kegiatan yang kamu laksanakan di kelas, sesuai dengan RPP yang kamu buat. Coba dideskripsikan detailnya”.
Hee? “Hmm, nanti itu di skripsinya dibuat di bagian mana pak?”
“Oh, lepas aja. Kamu buat di kertas terpisah. Jabarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kamu laksanakan di kelas. Per-RPP dan model pembelajarannya. Jadi nanti kamu buat deskripsi RPP 1, RPP 2 dan RPP 3 untuk tiap model pembelajaran. Ingat-ingat lagi suasana penelitian kamu kemarin itu. Deskripsikan”.
“Oh, iya pak”(melemaslisasi).
“Ini saya kasih waktu 2 minggu, malam ini dikerjakan terus. Udah, itu saja yang mau saya sampaikan”.
Baiklah. Aku keluar ruangan dengan wajah bingung dan sedikit geli. Teman-teman yang penasaran pada bertanya ada apa.
“Eci disuruh mengarang lagi waak! Bapak minta deskripsi kegiatan selama mengajar kemarin itu!”
Tawa teman-teman tumpah! Asli. Sejauh ini belum pernah ada kejadian mahasiswa bimbingan beliau yang diminta mengarang demikian. Hanya aku. Dan itu sudah terjadi sejak awal pengajuan skripsi beberapa bulan silam. Teman-teman masih saja tertawa, dan aku bingung harus bagaimana.
Hahahahahahahahaha…
(Hmm, jangan-jangan beliau tahu kalau aku anggota FLP Aceh. Eh? Trus???).
Ruangan kesayangan.
22 November 2011, 7:08 PM
Sunday, October 30, 2011
Hari ini, tepatnya pukul 12 siang tadi, Banda Aceh dihampiri oleh hujan. Cukup deras. Dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit hitam sana. Aku dan seorang kawan terpaksa sedikit berlama-lama menghabiskan semangkuk bakso di warung langganan, sekitaran Darussalam.
Nah, singkat cerita, dalam perjalanan pulang tadi, aku (seperti biasa) melihat para pedagang kaki lima dengan dagangan sederhananya di trotoar jalan depan markas PEMA-Unsyiah, bersebrangan dengan kampus Ekonomi yang cukup terkenal itu *hmm*.
Bagi sebagian mahasiswa Unsyiah, atau IAIN yang kampus tempat menuntut ilmunya berada di darussalam, pasti tidak asing lagi dengan para Bapak-bapak, Ibu-ibu, bahkan anak-anak yang berjualan di sepanjang trotoar mulai dari daerah lapangan tugu sampai ke gerbang simpang galon.
Sedih? Miris? Kasihan? Atau berbagai perasaan simpati dan empati pasti ada bagi sebagian kita saat melihat mereka. Setiap hari. Duduk manis di hadapan meja kecil yang di atasnya terpajang dagangan yang cukup sederhana. Buah jamblang misalnya. Jarak satu pedagang dengan pedagang lainnya hanya sekitaran 2-3 meter. Dan itu cukup membuat para pembeli kebingungan memilih, pedagang mana yang harus dihampiri. Rasanya ingin bisa menghampiri mereka semua, tapi tentu saja, manusia banyak tapinya.
Kadang terbesit pikiran, apa mereka tidak bosan, tidak capek, tidak lelah seharian dan berhari-hari duduk diam di pinggir jalan dengan dagangan yg sama setiap harinya? Bagaimana bisa seorang Ibu bertahan berjualan demikian, dengan membawa bayinya yang masih cukup rentan pada asap kendaraan yang tak henti-hentinya bertebaran di sana? Bagaimana bisa seorang anak setiap harinya harus duduk termenung memandangi meja kecil di hadapannya sambil sesekali melemparkan pandangan--yang seakan memanggil untuk dibantu--pada orang-orang di sekitarnya, sementara kawan-kawan seusianya, di waktu yang sama sedang duduk tenang mendapatkan pendidikan di bangku sekolah?
Bagaimana bisa?
Dan di perjalanan pulang tadi aku sedikit tersadar. Saat hujan deras, dimana mereka berteduh? Seorang Ibu dengan bayi di gendongannya tadi sibuk mengatur kembali lapak dan meja kecilnya yang basah. Ada juga seorang Bapak dan anak kecilnya--yang cukup ditanda oleh mahasiswa karena matanya yang tak dapat melihat--yang sibuk memperbaiki payung kecil untuk meja dagangan mereka yang telah rusak. Dimana? Dimana mereka berlindung saat rahmat Allah itu turun menggebu-gebu?
Ah, pedagang kaki lima. Mereka selalu ada di sekitar kita, wahai para mahasiswa. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita tetap bersenang-senang, sementara banyak yang kurang beruntung di lingkungan kita? Berjuanglah mahasiswa, cepat selesaikan hak dan laksanakan kewajiban, karena banyak mereka yang butuh uluran tangan kita..
Hari ini, tepatnya pukul 12 siang tadi, Banda Aceh dihampiri oleh hujan. Cukup deras. Dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit hitam sana. Aku dan seorang kawan terpaksa sedikit berlama-lama menghabiskan semangkuk bakso di warung langganan, sekitaran Darussalam.
Nah, singkat cerita, dalam perjalanan pulang tadi, aku (seperti biasa) melihat para pedagang kaki lima dengan dagangan sederhananya di trotoar jalan depan markas PEMA-Unsyiah, bersebrangan dengan kampus Ekonomi yang cukup terkenal itu *hmm*.
Bagi sebagian mahasiswa Unsyiah, atau IAIN yang kampus tempat menuntut ilmunya berada di darussalam, pasti tidak asing lagi dengan para Bapak-bapak, Ibu-ibu, bahkan anak-anak yang berjualan di sepanjang trotoar mulai dari daerah lapangan tugu sampai ke gerbang simpang galon.
Sedih? Miris? Kasihan? Atau berbagai perasaan simpati dan empati pasti ada bagi sebagian kita saat melihat mereka. Setiap hari. Duduk manis di hadapan meja kecil yang di atasnya terpajang dagangan yang cukup sederhana. Buah jamblang misalnya. Jarak satu pedagang dengan pedagang lainnya hanya sekitaran 2-3 meter. Dan itu cukup membuat para pembeli kebingungan memilih, pedagang mana yang harus dihampiri. Rasanya ingin bisa menghampiri mereka semua, tapi tentu saja, manusia banyak tapinya.
Kadang terbesit pikiran, apa mereka tidak bosan, tidak capek, tidak lelah seharian dan berhari-hari duduk diam di pinggir jalan dengan dagangan yg sama setiap harinya? Bagaimana bisa seorang Ibu bertahan berjualan demikian, dengan membawa bayinya yang masih cukup rentan pada asap kendaraan yang tak henti-hentinya bertebaran di sana? Bagaimana bisa seorang anak setiap harinya harus duduk termenung memandangi meja kecil di hadapannya sambil sesekali melemparkan pandangan--yang seakan memanggil untuk dibantu--pada orang-orang di sekitarnya, sementara kawan-kawan seusianya, di waktu yang sama sedang duduk tenang mendapatkan pendidikan di bangku sekolah?
Bagaimana bisa?
Dan di perjalanan pulang tadi aku sedikit tersadar. Saat hujan deras, dimana mereka berteduh? Seorang Ibu dengan bayi di gendongannya tadi sibuk mengatur kembali lapak dan meja kecilnya yang basah. Ada juga seorang Bapak dan anak kecilnya--yang cukup ditanda oleh mahasiswa karena matanya yang tak dapat melihat--yang sibuk memperbaiki payung kecil untuk meja dagangan mereka yang telah rusak. Dimana? Dimana mereka berlindung saat rahmat Allah itu turun menggebu-gebu?
Ah, pedagang kaki lima. Mereka selalu ada di sekitar kita, wahai para mahasiswa. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita tetap bersenang-senang, sementara banyak yang kurang beruntung di lingkungan kita? Berjuanglah mahasiswa, cepat selesaikan hak dan laksanakan kewajiban, karena banyak mereka yang butuh uluran tangan kita..








