Thursday, August 11, 2016

Posted by Desi YuLiana on 8/11/2016 01:01:00 AM No comments

Baru beberapa hari tiba di Chiang Rai, salah satu kota bersuhu dingin yang terletak di daerah pegunungan di sebelah Utara Thailand yang berbatasan dengan Laos dan Myanmar, salah seorang teman di Muslim Club kampus Mae Fah Luang mengajak kami untuk ikut pergi ke Walking Street bersama rombongan teman-teman Muslim Thailand lainnya. Awalnya saya bingung apa itu walking street, namun setelah tiba di tujuan, saya baru tahu bahwa walking street ini adalah istilah lain untuk ‘Saturday Market’, pasar yang dibuka dari sejak jam 5 sore sampai 11 malam setiap hari Sabtu. Walking street di Chiang Rai ini terletak di pusat kota, tidak jauh dari bus station dan pasar permanennya.

Suasana Wednesday Market di halaman Sport Center MFU
Ada beberapa pasar dadakan atau harian di Chiang Rai Thailand selain Saturday Market, antara lain Monday Market yang berlokasi di luar area kampus Mae Fah Luang, Wednesday Market yang diadakan di dalam area Sport Center kampus Mae Fah Luang, dan Night Bazar yang dibuka setiap harinya dari pukul 6 sore sampai 11 malam di pusat kota Chiang Rai. Di antara beberapa pasar dadakan itu, Saturday Market yang paling besar, murah, dan lengkap plus bervariasi barang dagangannya. Selain itu juga di Saturday Market ini, para pengunjung tidak hanya bisa berbelanja namun juga bisa menikmati pertunjukan seni oleh musisi lokal di sini. Mungkin karena letaknya yang di pusat kota hingga hampir semua masyarakat Chiang Rai mampu menjangkaunya, beragam profesi dan usia masyarakat ikut berkunjung ke sana tak peduli sampai di sana mereka akan berdesak-desakan karena ramainya pengunjung.

Berbeda dengan Wednesday Market misalnya, karena diadakan di dalam area kampus, maka pembeli yang datang berkunjung ke sana hampir 90% adalah mahasiswa. Begitu juga dengan Monday Market, pasar ini yang paling kecil ukurannya jika dibandingkan dengan Wednesday dan Saturday Market. Walaupun terletak di luar area kampus, namun yang datang ke pasar ini pun kebanyakan mahasiswa. Produk yang dijajakan di berbagai pasar dadakan di Thailand ini pun bervariasi. Mulai dari segala jajanan makanan khas Thailand yang enak tapi murah meriah, jajanan Jepang, souvenir, aksesoris, tas, sepatu (baru dan second), pakaian (baru dan second), sampai pernak-pernik Handphone. Sangat bervariasi. Harga yang ditawarkan di pasar-pasar ini pun tentunya sangat terjangkau, kaos kaki misalnya, ada yang dijual hanya dengan harga 10 baht atau sekitar 4000 rupiah saja. Baju-baju second dijual dengan harga 50 baht setara dengan 20000 rupiah, dan sebagainya. Tidak heran jika banyak mahasiswa yang datang ke sana walaupun pasar ini rutin diadakan setiap minggunya.

Pakaian yang dijual hanya dengan harga 50 baht

Pasar-pasar harian di Thailand ini tidak pernah sepi pengunjung. Para pedagangnya tampak tidak pernah menyerah sekalipun berjualan di sana terlihat melelahkan, karena hanya dibuka beberapa jam saja. Lelah, karena mereka harus membongkar pasang tenda atau meja, dan mengatur plus membereskan kembali barang dagangan untuk dibawa pulang setiap minggunya. Sekilas, sangat tidak senyaman berjualan di dalam toko sendiri. Mungkin ini dikarenakan antusias pengunjung atau warga Thailand yang tidak pernah pudar untuk ke sana.
Pasar-pasar di Thailand ini salah satu cara pemerintah untuk menunjang sisi pariwisata di sana. Bagaimana tidak? Dengan harga murah yang ditawarkan, tentu saja tidak hanya warga Thailand asli yang mau berkunjung ke sana, para wisatawan pun akan tertarik, minimal untuk melihat salah satu keunikan ataupun berbelanja oleh-oleh khas Thailand untuk dibawa pulang. Dari segi perekonomian, jelas saja pasar-pasar dadakan ini sangat menunjang pendapatan dan ekonomi warga Thailand. Semuanya bisa berjualan di sana, baik itu mereka yang aslinya punya toko ataupun tidak. Bermodal bisa memasak misalnya, maka dengan mudah mereka bisa membuka lapak di sana. Saya dan teman-teman Indonesia pun pernah berniat ingin ikut mencoba berjualan di sana, jualan makanan atau jajanan khas Indonesia, tapi salah satu teman yang bisa berbahasa Thailand agak ragu dengan ‘izin berjualan’ karena kami bukan warga Thailand. Saya belum tahu apakah hanya warga Thailand asli yang boleh berjualan atau yang bukan warga Thailand pun boleh. Atau apakah jika kita bukan warga Thailand tapi bisa berbahasa Thailand maka bisa ikut membuka lapak di pasar itu. 

Takoyaki, salah satu jajanan paling laris di sini.
Pasar-pasar harian ini tentunya sangat menunjang sisi pariwisata dan perekonomian warga Thailand. Semuanya bisa berdagang. Semuanya bisa memperbaiki kehidupan dengan tambahan penghasilan. Semuanya bisa berkreasi membuat makanan atau barang-barang unik lalu dijajakan. Indonesia harus mulai serius memikirkan cara ini, memberi kebebasan dan membuka lapangan bisnis yang mudah dan terjangkau untuk tiap rakyatnya. Agar semua rakyat bisa hidup sejahtera. Walaupun mungkin di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Aceh sudah ada yang mengadakan weekend market seperti ini, misalnya saja pameran/pasar/pekan yang diadakan di hari Jumat di daerah Seruway di Aceh Tamiang, konsep pasar yang sama, dengan kios-kios atau lapak-lapak kecil, hanya saja, setahu saya pekan di sana belum sangat rutin diadakan seminggu sekali. Dan mungkin ada daerah lainnya juga yang punya pasar dadakan dengan konsep yang sama seperti di Thailand. Rakyat Indonesia saya rasa harus mulai serius berdagang, tidak hanya untuk menambah penghasilan keluarga namun bisa juga menjadi salah satu penunjang pariwisata yang bisa memancing wisatawan untuk berkunjung ke sana. Bukankah kata Rasulullah, 9 dari 10 pintu rezeki itu ada di perdagangan? 


*Alhamdulillah. Tulisan ini dimuat di Majalah Warta Unsyiah, Desember 2015

0 Komentar:

Post a Comment