Showing posts with label Cerita Kita. Show all posts
Showing posts with label Cerita Kita. Show all posts

Saturday, March 7, 2015

Enggak pernah kebayang dalam pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani profesi ini.

But.. here I am. Being a fulltime housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya (kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!

Setelah dijalani selama dua bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener! Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci piring aja gak bisa! Nah lho!

Saat kesabaran menghadapi Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:

“Ngapain kamu di sini, hanya di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”

“Pulang aja gih ke Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”

“Kawan-kawanmu di sana udah pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”

Lebih kurang demikianlah bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.

Ah, rasanya lemah sekali jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan. Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah. Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya berbeda.

Sedang berjuang untuk mereka
Dan sebenarnya jadi ibu rumah tangga itu keren lho. Ibu rumah tangga itu pemimpin atas rumahnya. Pemimpin atas anak-anaknya. Pemimpin atas kebutuhan suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga itu yang paling diperlukan dalam sebuah keluarga. Dan menjadi ibu rumah tangga yang professional itu sungguh gak mudah. Seorang istri harus punya pendidikan yang baik, sikap dan karakter yang baik, kesabaran, kedisiplinan, ketelitian, dan jiwa yang kuat untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Gak gampang! Serius!

Hanya berdiam di rumah sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah! Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi, menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi, menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa seluruh penghuni rumah pun bersih.

Seorang Ibu juga punya kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya, menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung halaman dulu.

Sekarang berbeda. Satu tahun yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan. 

This is my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!

*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu, dan kesabaranmu itu luar biasa! 

3/07/2015 01:14:00 AM Desi YuLiana
Enggak pernah kebayang dalam pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani profesi ini.

But.. here I am. Being a fulltime housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya (kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!

Setelah dijalani selama dua bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener! Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci piring aja gak bisa! Nah lho!

Saat kesabaran menghadapi Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:

“Ngapain kamu di sini, hanya di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”

“Pulang aja gih ke Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”

“Kawan-kawanmu di sana udah pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”

Lebih kurang demikianlah bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.

Ah, rasanya lemah sekali jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan. Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah. Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya berbeda.

Sedang berjuang untuk mereka
Dan sebenarnya jadi ibu rumah tangga itu keren lho. Ibu rumah tangga itu pemimpin atas rumahnya. Pemimpin atas anak-anaknya. Pemimpin atas kebutuhan suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga itu yang paling diperlukan dalam sebuah keluarga. Dan menjadi ibu rumah tangga yang professional itu sungguh gak mudah. Seorang istri harus punya pendidikan yang baik, sikap dan karakter yang baik, kesabaran, kedisiplinan, ketelitian, dan jiwa yang kuat untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Gak gampang! Serius!

Hanya berdiam di rumah sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah! Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi, menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi, menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa seluruh penghuni rumah pun bersih.

Seorang Ibu juga punya kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya, menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung halaman dulu.

Sekarang berbeda. Satu tahun yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan. 

This is my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!

*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu, dan kesabaranmu itu luar biasa! 

Thursday, June 6, 2013

Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..


6/06/2013 08:40:00 AM Desi YuLiana
Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..


Wednesday, January 16, 2013

...
Lega, senang, bahagia, haru, syukur yang tak berhingga, sedikit khawatir, dan beragam macam perasaan lainnya bercampur menjadi satu. Lega, karena akhirnya target utama di tahun 2012 lalu tercapai dan jawaban atas doaku selama ini diperlihatkannya. Ya. Akhirnyaaaa.. AKU MENYEMPURNAKAN SETENGAH AGAMA! \(^^)/ *teriak pake toa*

Rasanya masih gak percaya. Aku udah nikah? Aku udah jadi seorang Istri? Aku udah punya Suami? Aaaaa.. Alhamdulillah. Allah telah mempertemukanku dengan Imamku, Pangeranku, pemilik tulang rusuk yang ada dalam diriku #eaaa (berlebihan ya? GPP lah ya, namanya juga masih pengantin baru :p).

Masih sangat teringat bagaimana pertemuan pertama dan proses perkenalan (taaruf) yang aku dan suami jalani 3 bulan yang lalu. Ya, dari awal jumpa sampai menikah kami hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 bulan. Tidak lama kan? Setidaknya ini membuktikan bahwa nikah itu tidak harus diawali dengan perkenalan via pacaran yang bertahun-tahun dulu. 

Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi salah satu dari sekian banyaknya mereka yang menikah tanpa pacaran, mereka yang menikah dengan orang yang masih asing; yang baru dikenal dan belum banyak tahu tentang si calon luar dalamnya, mereka yang menikah tanpa ada rasa cinta sebelumnya. Serius lho saudara-saudara, tidak harus cinta dulu baru nikah, tapi nikah dulu, baru cinta!

Dan.. berhubung postingan kali ini sebagai ajang pamer acara nikah sekaligus buat kampanye nikah muda, maka yang paling penting yang harus aku sampaikan pada para bujangers sekalian adalah.. Jangan takut menikah, yakinlah, Allah akan memudahkan rezeki mereka yang berani menikah di usia muda. Cemungudh!

Well, ini dia beberapa 'pengabadian' acara sakral dan momen terindah dalam hidupku yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh; Minggu, 23 Desember 2012 lalu..

 

Calon Linto dan Dara baroe.


DagDigDug~~
Penyerahan mahar dari suami ke istri, plus salam (sentuhan) perdana :)
hihihi~~
Doa.
Foto keluarga gak boleh lupa :D

Dan.. inilah kami, yang sekarang sedang bersama-sama berjuang membangun sebuah keluarga. Semoga berkah, semoga bahagia, semoga terus bersama hingga akhir hayat. Amin Ya Rabbal Alamin..


 


Terima kasih semuanya; untuk doa, restu, kehadiran, dan sebagainya. Segera nyusul ya! #eh :)
Salam kami,
Desi Yuliana, S.Pd & Irfandi Djailani, S.Pd.I

1/16/2013 09:26:00 PM Desi YuLiana
...
Lega, senang, bahagia, haru, syukur yang tak berhingga, sedikit khawatir, dan beragam macam perasaan lainnya bercampur menjadi satu. Lega, karena akhirnya target utama di tahun 2012 lalu tercapai dan jawaban atas doaku selama ini diperlihatkannya. Ya. Akhirnyaaaa.. AKU MENYEMPURNAKAN SETENGAH AGAMA! \(^^)/ *teriak pake toa*

Rasanya masih gak percaya. Aku udah nikah? Aku udah jadi seorang Istri? Aku udah punya Suami? Aaaaa.. Alhamdulillah. Allah telah mempertemukanku dengan Imamku, Pangeranku, pemilik tulang rusuk yang ada dalam diriku #eaaa (berlebihan ya? GPP lah ya, namanya juga masih pengantin baru :p).

Masih sangat teringat bagaimana pertemuan pertama dan proses perkenalan (taaruf) yang aku dan suami jalani 3 bulan yang lalu. Ya, dari awal jumpa sampai menikah kami hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 bulan. Tidak lama kan? Setidaknya ini membuktikan bahwa nikah itu tidak harus diawali dengan perkenalan via pacaran yang bertahun-tahun dulu. 

Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi salah satu dari sekian banyaknya mereka yang menikah tanpa pacaran, mereka yang menikah dengan orang yang masih asing; yang baru dikenal dan belum banyak tahu tentang si calon luar dalamnya, mereka yang menikah tanpa ada rasa cinta sebelumnya. Serius lho saudara-saudara, tidak harus cinta dulu baru nikah, tapi nikah dulu, baru cinta!

Dan.. berhubung postingan kali ini sebagai ajang pamer acara nikah sekaligus buat kampanye nikah muda, maka yang paling penting yang harus aku sampaikan pada para bujangers sekalian adalah.. Jangan takut menikah, yakinlah, Allah akan memudahkan rezeki mereka yang berani menikah di usia muda. Cemungudh!

Well, ini dia beberapa 'pengabadian' acara sakral dan momen terindah dalam hidupku yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh; Minggu, 23 Desember 2012 lalu..

 

Calon Linto dan Dara baroe.


DagDigDug~~
Penyerahan mahar dari suami ke istri, plus salam (sentuhan) perdana :)
hihihi~~
Doa.
Foto keluarga gak boleh lupa :D

Dan.. inilah kami, yang sekarang sedang bersama-sama berjuang membangun sebuah keluarga. Semoga berkah, semoga bahagia, semoga terus bersama hingga akhir hayat. Amin Ya Rabbal Alamin..


 


Terima kasih semuanya; untuk doa, restu, kehadiran, dan sebagainya. Segera nyusul ya! #eh :)
Salam kami,
Desi Yuliana, S.Pd & Irfandi Djailani, S.Pd.I

Wednesday, September 19, 2012

Senin (17 September 2012) lalu termasuk hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari itu, dengan segala perang di pikiran melawan keinginan dan kenyataan, dengan berat hati saya langkahkan kaki menuju gedung FKIP Unsyiah, tepatnya ke ruang sekretariat SM3T. Tujuan saya hari itu hanya satu: mengundurkan diri aka mencabut nama saya dari mereka--para pejuang pendidikan--yang dinyatakan lulus menjadi guru kontrak SM3T.

Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 
Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tujuannya dan intinya satu: penyamarataan pendidikan!
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar 
Sebagai seseorang yang telah dan pernah mendapatkan pendidikan yang layak, Sarjana Pendidikan mana yang tidak tergerak hatinya untuk bisa ikut ambil bagian dari program SM3T ini? Apalagi didukung dengan adanya janji beasiswa penuh PPG setelah setahun pengabdian. Ini kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Maka itu, saya mau! Sangat mau! 

Setelah beberapa kali membaca dan mencari info sebanyak-banyaknya terkait penerimaan peserta SM3T dan meyakinkan diri bahwa niat di hati sejalan dengan tujuan dari program ini, langkah selanjutnya yang saya rasa agak berat adalah menyampaikan niat ini kepada orang tua. Perkiraan saya benar, Ayah tidak mengizinkan. Alasannya karena ayah tahu betul bahwa saya tidak akan sanggup hidup di daerah terpencil dan jauh dari orang tua. #JLEB! Padahal.. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya kan? Bukankah selama masih aktif di kegiatan PRAMUKA di SMA dulu saya 'lolos' dan baik-baik saja saat ikut kegiatan perkemahan, penjelajahan, dan sebagainya? Saat SMA juga, saya pernah ikut kegiatan PKM organisasi PII di desa terpencil selama satu minggu, dan semuanya baik-baik saja. PRAMUKA atau kegiatan organisasi itu memang berbeda dengan SM3T ini, tapi begitulah saya meyakinkan ayah bahwa setidaknya saya yakin saya bisa, dan saya sanggup untuk keluar dari zona aman ini. Dan izin itu tetap tidak saya dapatkan.

*galau tingkat nggak bisa makan ayam goreng selama tujuh bulan* #eh

Satu bulan sejak gagal mendaftar menjadi salah satu peserta SM3T, bantuan Allah datang secara tiba-tiba. Bunda, dengan begitu semangatnya mengabarkan dan memperlihatkan salah satu berita di koran Serambi yang berjudul 'FKIP Unsyiah kembali membuka pendaftaran peserta SM3T tahap II'. Entah kenapa, Bunda yang saat saya meminta izin sebulan lalu itu hanya diam saja kali ini kelihatan begitu bersemangat menyarankan saya untuk ikut serta. Ayah? Secara tiba-tiba menanyakan keterangan lebih lanjut tentang SM3T (setelah membaca berita itu) terkait daerah tujuan penempatan--yang saat itu masih tertera di Aceh--dan akhirnya menganggukkan kepalanya--mengizinkan saya mendaftar--saat saya meminta izinnya kembali. Alhamdulillah. Ini salah satu keajaiban.

Singkat cerita, akhirnya nama saya resmi terdaftar sebagai salah satu calon peserta program SM3T. Ujian online secara serentak se-Indonesia dilaksanakan dan Alhamdulillah, saya termasuk dari 46% peserta dari Aceh yang lulus. Satu jalan sudah terbuka dan terasa semakin dekat dengan perjuangan itu. Namun, berhubung saat itu saya sudah mulai aktif kuliah di pasca sarjana, ada sedikit rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Bagaimana saya akan menjalaninya? Bisakah nantinya saya mengabdi di daerah 3T sambil kuliah? Maka itu, saya sangat berharap mendapat 'tugas' di daerah Aceh yang terjangkau untuk bisa pulang pergi ke Banda Aceh setiap minggunya. 

Hidup ini pilihan. Kadang kita dipilih, kadang kita memilih. Terkadang kita dihadapkan pada dua hal, dua hal yang benar-benar kita inginkan, tapi tentu saja kita tidak bisa memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan, kita harus memilih salah satunya saja. Dari situ saya mulai terpikir bahwa nantinya akan ada satu yang saya korbankan. SM3T atau kuliah S2 ini. Walaupun rasanya berat dan seperti tidak mungkin meninggalkan kuliah yang baru saja akan dimulai, seluruh berkas/dokumen kelengkapan seleksi wawancara tetap saya persiapkan. Lumayan banyak. Butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semua berkasnya. Yang paling menggelisahkan dan membuat diri curiga adalah adanya surat pernyataan bersedia di tempatkan di seluruh daerah NKRI yang harus ditanda-tangani oleh orang tua plus dibubuhkan materai, nah lho? *khawatir tingkat mahasiswa mau sidang akhir*. Tapi.. masih tetap berharap, Aceh termasuk daerah 'pelemparan' kami nantinya.

Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae? 

Saya mulai linglung, ragu. Di sudut hati yang paling dalam (eaaaa) saya memilih maju, dan berharap ayah akan tetap mengizinkan walaupun nantinya saya harus mengabdi di luar Aceh. Yang saya khawatirkan saat itu hanya bagaimana nasib kuliah S2 saya? Bagaimana? Tidak ada jawaban! Yang ada hanya bisikan untuk terus maju dan tidak menyatakan mundur saat pewawancara menanyai kami satu-persatu. Saya benar-benar ingin ikut program SM3T ini. Saya benar-benar ingin keluar dari zona aman dan bisa ikut berjuang mengajar plus mengabdi di daerah-daerah tertinggal itu. Sekalipun itu harus keluar Aceh. Ya! Bukankah itu tantangan yang sebenarnya? Bukankah itu arti dari keluar dari zona aman yang sebenarnya? Maka saya semakin yakin untuk maju, lantas memilih Kepulauan Natuna sebagai pilihan pertama dan Kepulauan Anambas sebagai pilihan kedua. Toh, semua anak-anak di luar Aceh sana juga berhak mendapatkan pendidikan!

sumber: https://indonesiamengajar.org/
sumber: https://indonesiamengajar.org/

Selesai wawancara, sebab bertemu dengan teman-teman yang mengeluhkan daerah penempatan yang tidak ada Acehnya itu, penggalauan itu muncul lagi. Ah, betapa tidak konsistennya hati saya. Jika mereka mengeluhkan dan ragu maju karena daerah penempatan, saya ragu karena kuliah S2, izin orang tua sama sekali tidak terpikirkan saat itu. Hanya ada dua pilihan untuk masa depan saya: SM3T atau lanjut S2? SM3T atau S2? SM3T atau S2? Masya Allah.. Galau-segalau-galaunya.

Sampai akhirnya, titik terang itu muncul. Ayah jelas menyatakan keberatannya atas daerah penempatan yang di luar Aceh itu, dan itu juga berkaitan dengan sudah mulai masuknya perkuliahan S2 saya yang sayang jika harus ditinggalkan. Singkat cerita, keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat mengabdi dan merasakan pengalaman baru itu akhirnya harus saya kubur dalam-dalam. Bukankah izin dan ridha orang tua adalah yang utama? Baiklah. Saya memilih berhenti dan mengundurkan diri. Mungkin memang belum waktunya saya melewati jalan itu. Allah Maha Tahu, Allah tahu jalan terbaik untuk hamba-Nya, dan saya yakin Allah merencanakan jalan lain, perjuangan lain yang tidak kalah baiknya untuk saya, Insha Allah. Harus ikhlas.Ya, harus ikhlas!
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Oleh karena itu, dengan segala rasa iri dan cemburu tak menentu pada para calon pejuang SM3T yang telah dinyatakan lulus, saya ucapkan, selamat berjuang teman-teman. Kalian adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang punya kesempatan menyalakan lilin dan menyebarkan sinarnya pada pendidikan di Indonesia. Ingat, tidak semua orang beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Jangan pernah sia-siakan, oke! Mengajar, mendidik, dan mengabdilah di daerah tugas kalian masing-masing dengan sebaik-baiknya. Merdeka! Mabruk! Semangaaaaaatttt!!!

Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.

9/19/2012 10:26:00 PM Desi YuLiana
Senin (17 September 2012) lalu termasuk hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari itu, dengan segala perang di pikiran melawan keinginan dan kenyataan, dengan berat hati saya langkahkan kaki menuju gedung FKIP Unsyiah, tepatnya ke ruang sekretariat SM3T. Tujuan saya hari itu hanya satu: mengundurkan diri aka mencabut nama saya dari mereka--para pejuang pendidikan--yang dinyatakan lulus menjadi guru kontrak SM3T.

Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 
Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tujuannya dan intinya satu: penyamarataan pendidikan!
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar 
Sebagai seseorang yang telah dan pernah mendapatkan pendidikan yang layak, Sarjana Pendidikan mana yang tidak tergerak hatinya untuk bisa ikut ambil bagian dari program SM3T ini? Apalagi didukung dengan adanya janji beasiswa penuh PPG setelah setahun pengabdian. Ini kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Maka itu, saya mau! Sangat mau! 

Setelah beberapa kali membaca dan mencari info sebanyak-banyaknya terkait penerimaan peserta SM3T dan meyakinkan diri bahwa niat di hati sejalan dengan tujuan dari program ini, langkah selanjutnya yang saya rasa agak berat adalah menyampaikan niat ini kepada orang tua. Perkiraan saya benar, Ayah tidak mengizinkan. Alasannya karena ayah tahu betul bahwa saya tidak akan sanggup hidup di daerah terpencil dan jauh dari orang tua. #JLEB! Padahal.. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya kan? Bukankah selama masih aktif di kegiatan PRAMUKA di SMA dulu saya 'lolos' dan baik-baik saja saat ikut kegiatan perkemahan, penjelajahan, dan sebagainya? Saat SMA juga, saya pernah ikut kegiatan PKM organisasi PII di desa terpencil selama satu minggu, dan semuanya baik-baik saja. PRAMUKA atau kegiatan organisasi itu memang berbeda dengan SM3T ini, tapi begitulah saya meyakinkan ayah bahwa setidaknya saya yakin saya bisa, dan saya sanggup untuk keluar dari zona aman ini. Dan izin itu tetap tidak saya dapatkan.

*galau tingkat nggak bisa makan ayam goreng selama tujuh bulan* #eh

Satu bulan sejak gagal mendaftar menjadi salah satu peserta SM3T, bantuan Allah datang secara tiba-tiba. Bunda, dengan begitu semangatnya mengabarkan dan memperlihatkan salah satu berita di koran Serambi yang berjudul 'FKIP Unsyiah kembali membuka pendaftaran peserta SM3T tahap II'. Entah kenapa, Bunda yang saat saya meminta izin sebulan lalu itu hanya diam saja kali ini kelihatan begitu bersemangat menyarankan saya untuk ikut serta. Ayah? Secara tiba-tiba menanyakan keterangan lebih lanjut tentang SM3T (setelah membaca berita itu) terkait daerah tujuan penempatan--yang saat itu masih tertera di Aceh--dan akhirnya menganggukkan kepalanya--mengizinkan saya mendaftar--saat saya meminta izinnya kembali. Alhamdulillah. Ini salah satu keajaiban.

Singkat cerita, akhirnya nama saya resmi terdaftar sebagai salah satu calon peserta program SM3T. Ujian online secara serentak se-Indonesia dilaksanakan dan Alhamdulillah, saya termasuk dari 46% peserta dari Aceh yang lulus. Satu jalan sudah terbuka dan terasa semakin dekat dengan perjuangan itu. Namun, berhubung saat itu saya sudah mulai aktif kuliah di pasca sarjana, ada sedikit rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Bagaimana saya akan menjalaninya? Bisakah nantinya saya mengabdi di daerah 3T sambil kuliah? Maka itu, saya sangat berharap mendapat 'tugas' di daerah Aceh yang terjangkau untuk bisa pulang pergi ke Banda Aceh setiap minggunya. 

Hidup ini pilihan. Kadang kita dipilih, kadang kita memilih. Terkadang kita dihadapkan pada dua hal, dua hal yang benar-benar kita inginkan, tapi tentu saja kita tidak bisa memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan, kita harus memilih salah satunya saja. Dari situ saya mulai terpikir bahwa nantinya akan ada satu yang saya korbankan. SM3T atau kuliah S2 ini. Walaupun rasanya berat dan seperti tidak mungkin meninggalkan kuliah yang baru saja akan dimulai, seluruh berkas/dokumen kelengkapan seleksi wawancara tetap saya persiapkan. Lumayan banyak. Butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semua berkasnya. Yang paling menggelisahkan dan membuat diri curiga adalah adanya surat pernyataan bersedia di tempatkan di seluruh daerah NKRI yang harus ditanda-tangani oleh orang tua plus dibubuhkan materai, nah lho? *khawatir tingkat mahasiswa mau sidang akhir*. Tapi.. masih tetap berharap, Aceh termasuk daerah 'pelemparan' kami nantinya.

Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae? 

Saya mulai linglung, ragu. Di sudut hati yang paling dalam (eaaaa) saya memilih maju, dan berharap ayah akan tetap mengizinkan walaupun nantinya saya harus mengabdi di luar Aceh. Yang saya khawatirkan saat itu hanya bagaimana nasib kuliah S2 saya? Bagaimana? Tidak ada jawaban! Yang ada hanya bisikan untuk terus maju dan tidak menyatakan mundur saat pewawancara menanyai kami satu-persatu. Saya benar-benar ingin ikut program SM3T ini. Saya benar-benar ingin keluar dari zona aman dan bisa ikut berjuang mengajar plus mengabdi di daerah-daerah tertinggal itu. Sekalipun itu harus keluar Aceh. Ya! Bukankah itu tantangan yang sebenarnya? Bukankah itu arti dari keluar dari zona aman yang sebenarnya? Maka saya semakin yakin untuk maju, lantas memilih Kepulauan Natuna sebagai pilihan pertama dan Kepulauan Anambas sebagai pilihan kedua. Toh, semua anak-anak di luar Aceh sana juga berhak mendapatkan pendidikan!

sumber: https://indonesiamengajar.org/
sumber: https://indonesiamengajar.org/

Selesai wawancara, sebab bertemu dengan teman-teman yang mengeluhkan daerah penempatan yang tidak ada Acehnya itu, penggalauan itu muncul lagi. Ah, betapa tidak konsistennya hati saya. Jika mereka mengeluhkan dan ragu maju karena daerah penempatan, saya ragu karena kuliah S2, izin orang tua sama sekali tidak terpikirkan saat itu. Hanya ada dua pilihan untuk masa depan saya: SM3T atau lanjut S2? SM3T atau S2? SM3T atau S2? Masya Allah.. Galau-segalau-galaunya.

Sampai akhirnya, titik terang itu muncul. Ayah jelas menyatakan keberatannya atas daerah penempatan yang di luar Aceh itu, dan itu juga berkaitan dengan sudah mulai masuknya perkuliahan S2 saya yang sayang jika harus ditinggalkan. Singkat cerita, keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat mengabdi dan merasakan pengalaman baru itu akhirnya harus saya kubur dalam-dalam. Bukankah izin dan ridha orang tua adalah yang utama? Baiklah. Saya memilih berhenti dan mengundurkan diri. Mungkin memang belum waktunya saya melewati jalan itu. Allah Maha Tahu, Allah tahu jalan terbaik untuk hamba-Nya, dan saya yakin Allah merencanakan jalan lain, perjuangan lain yang tidak kalah baiknya untuk saya, Insha Allah. Harus ikhlas.Ya, harus ikhlas!
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Oleh karena itu, dengan segala rasa iri dan cemburu tak menentu pada para calon pejuang SM3T yang telah dinyatakan lulus, saya ucapkan, selamat berjuang teman-teman. Kalian adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang punya kesempatan menyalakan lilin dan menyebarkan sinarnya pada pendidikan di Indonesia. Ingat, tidak semua orang beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Jangan pernah sia-siakan, oke! Mengajar, mendidik, dan mengabdilah di daerah tugas kalian masing-masing dengan sebaik-baiknya. Merdeka! Mabruk! Semangaaaaaatttt!!!

Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.

Tuesday, September 11, 2012

Setelah berkutat selama 2 minggu menghadapi matrikulasi belajar Matematika full dari pagi sampai sore, Alhamdulillah akhirnya Bunda takluk juga dengan rayuan 'refreshing' ke laut hari Minggu lalu. Pilihan jatuh pada si eksotik pantai Lhoknga. Rindu yang luar biasa pada keindahan pantainya memanggil saya ke sana. Dan here we are.. Lhokngaaaaa!

Penampakan Lhoknga dari atas bukit Desa Mamplan
 
Anak Gahul Banda
 
Uri Omma :D

 ~ \(^^) /~

9/11/2012 08:48:00 PM Desi YuLiana
Setelah berkutat selama 2 minggu menghadapi matrikulasi belajar Matematika full dari pagi sampai sore, Alhamdulillah akhirnya Bunda takluk juga dengan rayuan 'refreshing' ke laut hari Minggu lalu. Pilihan jatuh pada si eksotik pantai Lhoknga. Rindu yang luar biasa pada keindahan pantainya memanggil saya ke sana. Dan here we are.. Lhokngaaaaa!

Penampakan Lhoknga dari atas bukit Desa Mamplan
 
Anak Gahul Banda
 
Uri Omma :D

 ~ \(^^) /~

Wednesday, August 1, 2012


Subhanallah. Klepek-klepek aku saat memandang suasana (bukan modelnya ya, catet!) yang muncul dari gambar di atas. Satu hal yang langsung terlintas saat melihat gambar itu adalah … GUE BANGET! Ya! Warna, cerita, dan suasana dari gambar itu benar-benar GUE BANGET dah! 

“Emangnya apanya yang ‘GUE BANGET’ dari gambar itu?” pembaca bertanya.

Aih, teman. Tidakkah kalian lihat kegiatan si model di sana? Bercengkerama dengan notebook ditemani alunan musik melalui headphone plus secangkir minuman manis? (Aih, GUE BANGET!) Selain itu, tidakkah kalian bisa merasakan nuansa ungu yang ada di sana? Baik itu dari segi kemeja si model, garis-garis di notebooknya, ataupun tulisan 'Because It's Me' nya. 

"Oke, memang ungu. Terus, kenapa?" pembaca masih tak mengerti pikiran si Eci.

Hmm.. Haruskah aku jelaskan betapa aku mencintai (oops, dalem!) warna elegan yang satu itu? Keluarga dan teman-teman dekat pasti udah pada tahu gimana excited dan hebohnya aku saat melihat warna dengan empat huruf penyusun namanya itu. 

Ungu. Entah sejak kapan aku mulai tertarik pada warna kalem yang satu ini. Yang jelas, masih sangat aku ingat di masa SD - SMP dulu, terutama saat masih demen-demennya ngisi biodata di diary kawan-kawan, aku selalu menuliskan kata ungu pada baris pertanyaan warna favorit. Hanya satu warna, ungu!

Ungu. Warna ini merupakan perpaduan antara warna merah dan biru. Di mataku, warna ini punya keunikan, aura, dan jiwanya tersendiri. Warna ini terkesan mewah, anggun, tenang, dan terjaga. Namun, dibalik kemegahannya, tidak ada unsur 'kekangan' sama sekali di sana. Warna ini menggambarkan ketenangan, kebebasan dan kekreatifan, dimana inspirasi dan imajinasi sering terpancing muncul saat melihat warna ini.


Salah satu hasil kreativitas pada fotografi, meng-ungu-kan pohon-pohon di Taman Putro Phang :D


Pernah baca tentang warna ungu di salah satu situs yang konsen di bidang panca indera. Katanya warna ungu itu berarti: menunjukkan pengaruh, pandangan ketiga, kekuatan spiritual, pengetahuan yang tersembunyi, aspirasi yang tinggi, kebangsawanan, upacara, misteri, pencerahan, telepati, empati, arogan, intuisi, kepercayaan yang dalam, ambisi, magic atau keajaiban, dan harga diri

Well, betul tidaknya itu relatif. Perasaan, suasana hati, karakter, dan pembelajaran tiap individu manusia itu berbeda-beda. Jadi, sudut pandangnya pun akhirnya berbeda juga. Betul? 

Nah, berdasarkan pendapat teman-teman dekat, pemikiran yang jauh lebih dalam plus penelitian kecil-kecilan terhadap diri sendiri, aku ini tipe orang pendiam yang kadang gak bisa diam (nah lho?), sensitif, gampang iba pada orang yang sedang ditimpa kesusahan, doyan makan (apalagi yang gratisan #eh), doyan mengoleksi ide-ide (baik itu ide-ide gila maupun yang biasa-biasa saja), ambisius, dan punya semangat luar biasa jika itu dikaitkan dengan perwujudan ide dan impian-impiannya. Oleh karena itu, dari beberapa hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa warna ungu itu ... GUE BANGET! 
“Creativity comes from trust. Trust your instincts. And never hope more than you work.” - Rita Mae Brown
Nah, demi mewujudkan setiap ide-ide dan kreativitas yang bermunculan begitu saja di kepala, aku butuh sosok sahabat yang bisa selalu setia membantu aku kapan dan dimana saja. Sejauh ini, aku punya satu: Miss Poo* (Thanks to Allah dan Ayah Bunda yang mengenalkannya padaku). Dia adalah sosok yang setia menemani, membantu, dan meringankan kegiatanku selama hampir dua tahun ini (peluk Miss Poo).

Namun, sangat memilukan, beberapa minggu terakhir Miss Poo mulai menunjukkan gejala-gejala tidak sehat. Secara tiba-tiba dia jadi sering mati mendadak saat aku sedang bermain-main dengannya. Alasannya: panas. Sepertinya Miss Poo ketularan penyakitnya laptop si kakak: gak akan bertahan hidup lama kalau gak ada kipas angin tepat di belakangnya -___-. Walah-walah, jangan sampai begitu ya Miss Poo. Tidakkah kau tahu, tidak lama lagi aku akan melanjutkan studi, dan itu di bidang pendidikan yang membutuhkan kinerja komputer? Ayo Miss Poo, sehatlah! Jangan sakit dulu.

Gara-gara gejala tak enak dari si Miss Poo ini, muncullah hasrat untuk mencari sahabat baru. Mampir ke rumah Mbah Gugel untuk bertanya ini itu padanya, akhirnya jawaban itu aku temukan. Sosok sahabat dengan merek idaman sejak dulu menjadi salah satu target dalam daftar impian. Dialah Sony Vaio. Poin plusnya, kali ini aku dipertemukan dengan salah satu variannya yang GUE BANGET gitu, yaitu Sony Vaio E14P! 



Notebook dengan layar 14 inchi dan memory 4 GB ini dilengkapi dengan generasi ketiga Intel Core i7 CPU dengan AMD Radeon HD 7670M GPU diskrit (VRAM 1GB). Untuk menunjang kinerjanya, notebook ini telah disematkan baterai dengan kemampuan hidup sampai 5 jam lebih, sehingga kita yang menggunakannya tidak perlu pusing dan khawatir jika jauh atau berada di tempat yang tidak tersedia colokan listriknya. Selain itu notebook cantik ini memang ditujukan untuk anak muda yang notabene sedang dalam masa kreatif-kreatifnya. Kegiatan browsing di luar rumah pun akan jadi lebih nyaman karena bisa berlama-lama tanpa harus khawatir notebook mati karena kehabisan baterai (ini mah GUE BANGET!).

Nah, untuk membuat nyaman saat mendengarkan musik atau menonton video, notebook ini telah ditanamkan device xloud speaker yang diyakini mampu menghasilkan suara dengan kualitas sangat bagus dan nyaman. So, gak perlu diragukan lagi, notebook ini sangat cocok bagi kita yang 'music addicted'! (sekali lagi, GUE BANGET!).

Sony Vaio E14P tersedia dalam beberapa varian warna, ada warna hitam dengan kombinasi garis merahnya yang melambangkan energi dan keberanian, ada warna perak metalik dengan kombinasi garis ungu yang inspiratif, ada warna pink yang melambangkan keindahan masa muda, ada warna putih dengan kombinasi garis birunya yang cocok bagi mereka yang mencintai kebebasan, dan ada juga warna smoky gun dan semburat garis emas yang elegan.





Jika disuruh memilih satu di antara kelima varian di atas, yang akan aku pilih tak lain dan tak bukan adalah si 'Cool dan Creative' perak metalik yang unik dengan garis ungu yang inspiratif. Semua alasan kenapa aku memilih warna ini sudah dijelaskan di atas. Because It's Me! Karena aku menyukai ungu dan kreativitas. Selain itu, perpaduan antara warna perak metalik dan garis ungu ini menurutku sangat cocok bagi anak muda yang cool dan creative, dan tentu saja aku akan memilihnya karena aku kan masih muda, hehehe. Sekali lagi, because it's me! Sony Vaio E14P ini GUE BANGET pokoke!



“Creativity is inventing, experimenting, growing, taking risks, breaking rules, making mistakes, and having fun.” - Mary Lou Cook
Well, berharap banget bisa bersahabat dengan notebook pintar plus cantik yang satu ini, apalagi jika bisa mendapatkannya secara cuma-cuma (ngarep tingkat kemacetan di Ibu Kota). Aih, semoga! Wahai, Sony Vaio E14P, please come to mama! 

*Miss Poo = nama notebook pribadi.



 Postingan ini diikutsertakan dalam kontes blog SONY VAIO



8/01/2012 09:14:00 PM Desi YuLiana

Subhanallah. Klepek-klepek aku saat memandang suasana (bukan modelnya ya, catet!) yang muncul dari gambar di atas. Satu hal yang langsung terlintas saat melihat gambar itu adalah … GUE BANGET! Ya! Warna, cerita, dan suasana dari gambar itu benar-benar GUE BANGET dah! 

“Emangnya apanya yang ‘GUE BANGET’ dari gambar itu?” pembaca bertanya.

Aih, teman. Tidakkah kalian lihat kegiatan si model di sana? Bercengkerama dengan notebook ditemani alunan musik melalui headphone plus secangkir minuman manis? (Aih, GUE BANGET!) Selain itu, tidakkah kalian bisa merasakan nuansa ungu yang ada di sana? Baik itu dari segi kemeja si model, garis-garis di notebooknya, ataupun tulisan 'Because It's Me' nya. 

"Oke, memang ungu. Terus, kenapa?" pembaca masih tak mengerti pikiran si Eci.

Hmm.. Haruskah aku jelaskan betapa aku mencintai (oops, dalem!) warna elegan yang satu itu? Keluarga dan teman-teman dekat pasti udah pada tahu gimana excited dan hebohnya aku saat melihat warna dengan empat huruf penyusun namanya itu. 

Ungu. Entah sejak kapan aku mulai tertarik pada warna kalem yang satu ini. Yang jelas, masih sangat aku ingat di masa SD - SMP dulu, terutama saat masih demen-demennya ngisi biodata di diary kawan-kawan, aku selalu menuliskan kata ungu pada baris pertanyaan warna favorit. Hanya satu warna, ungu!

Ungu. Warna ini merupakan perpaduan antara warna merah dan biru. Di mataku, warna ini punya keunikan, aura, dan jiwanya tersendiri. Warna ini terkesan mewah, anggun, tenang, dan terjaga. Namun, dibalik kemegahannya, tidak ada unsur 'kekangan' sama sekali di sana. Warna ini menggambarkan ketenangan, kebebasan dan kekreatifan, dimana inspirasi dan imajinasi sering terpancing muncul saat melihat warna ini.


Salah satu hasil kreativitas pada fotografi, meng-ungu-kan pohon-pohon di Taman Putro Phang :D


Pernah baca tentang warna ungu di salah satu situs yang konsen di bidang panca indera. Katanya warna ungu itu berarti: menunjukkan pengaruh, pandangan ketiga, kekuatan spiritual, pengetahuan yang tersembunyi, aspirasi yang tinggi, kebangsawanan, upacara, misteri, pencerahan, telepati, empati, arogan, intuisi, kepercayaan yang dalam, ambisi, magic atau keajaiban, dan harga diri

Well, betul tidaknya itu relatif. Perasaan, suasana hati, karakter, dan pembelajaran tiap individu manusia itu berbeda-beda. Jadi, sudut pandangnya pun akhirnya berbeda juga. Betul? 

Nah, berdasarkan pendapat teman-teman dekat, pemikiran yang jauh lebih dalam plus penelitian kecil-kecilan terhadap diri sendiri, aku ini tipe orang pendiam yang kadang gak bisa diam (nah lho?), sensitif, gampang iba pada orang yang sedang ditimpa kesusahan, doyan makan (apalagi yang gratisan #eh), doyan mengoleksi ide-ide (baik itu ide-ide gila maupun yang biasa-biasa saja), ambisius, dan punya semangat luar biasa jika itu dikaitkan dengan perwujudan ide dan impian-impiannya. Oleh karena itu, dari beberapa hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa warna ungu itu ... GUE BANGET! 
“Creativity comes from trust. Trust your instincts. And never hope more than you work.” - Rita Mae Brown
Nah, demi mewujudkan setiap ide-ide dan kreativitas yang bermunculan begitu saja di kepala, aku butuh sosok sahabat yang bisa selalu setia membantu aku kapan dan dimana saja. Sejauh ini, aku punya satu: Miss Poo* (Thanks to Allah dan Ayah Bunda yang mengenalkannya padaku). Dia adalah sosok yang setia menemani, membantu, dan meringankan kegiatanku selama hampir dua tahun ini (peluk Miss Poo).

Namun, sangat memilukan, beberapa minggu terakhir Miss Poo mulai menunjukkan gejala-gejala tidak sehat. Secara tiba-tiba dia jadi sering mati mendadak saat aku sedang bermain-main dengannya. Alasannya: panas. Sepertinya Miss Poo ketularan penyakitnya laptop si kakak: gak akan bertahan hidup lama kalau gak ada kipas angin tepat di belakangnya -___-. Walah-walah, jangan sampai begitu ya Miss Poo. Tidakkah kau tahu, tidak lama lagi aku akan melanjutkan studi, dan itu di bidang pendidikan yang membutuhkan kinerja komputer? Ayo Miss Poo, sehatlah! Jangan sakit dulu.

Gara-gara gejala tak enak dari si Miss Poo ini, muncullah hasrat untuk mencari sahabat baru. Mampir ke rumah Mbah Gugel untuk bertanya ini itu padanya, akhirnya jawaban itu aku temukan. Sosok sahabat dengan merek idaman sejak dulu menjadi salah satu target dalam daftar impian. Dialah Sony Vaio. Poin plusnya, kali ini aku dipertemukan dengan salah satu variannya yang GUE BANGET gitu, yaitu Sony Vaio E14P! 



Notebook dengan layar 14 inchi dan memory 4 GB ini dilengkapi dengan generasi ketiga Intel Core i7 CPU dengan AMD Radeon HD 7670M GPU diskrit (VRAM 1GB). Untuk menunjang kinerjanya, notebook ini telah disematkan baterai dengan kemampuan hidup sampai 5 jam lebih, sehingga kita yang menggunakannya tidak perlu pusing dan khawatir jika jauh atau berada di tempat yang tidak tersedia colokan listriknya. Selain itu notebook cantik ini memang ditujukan untuk anak muda yang notabene sedang dalam masa kreatif-kreatifnya. Kegiatan browsing di luar rumah pun akan jadi lebih nyaman karena bisa berlama-lama tanpa harus khawatir notebook mati karena kehabisan baterai (ini mah GUE BANGET!).

Nah, untuk membuat nyaman saat mendengarkan musik atau menonton video, notebook ini telah ditanamkan device xloud speaker yang diyakini mampu menghasilkan suara dengan kualitas sangat bagus dan nyaman. So, gak perlu diragukan lagi, notebook ini sangat cocok bagi kita yang 'music addicted'! (sekali lagi, GUE BANGET!).

Sony Vaio E14P tersedia dalam beberapa varian warna, ada warna hitam dengan kombinasi garis merahnya yang melambangkan energi dan keberanian, ada warna perak metalik dengan kombinasi garis ungu yang inspiratif, ada warna pink yang melambangkan keindahan masa muda, ada warna putih dengan kombinasi garis birunya yang cocok bagi mereka yang mencintai kebebasan, dan ada juga warna smoky gun dan semburat garis emas yang elegan.





Jika disuruh memilih satu di antara kelima varian di atas, yang akan aku pilih tak lain dan tak bukan adalah si 'Cool dan Creative' perak metalik yang unik dengan garis ungu yang inspiratif. Semua alasan kenapa aku memilih warna ini sudah dijelaskan di atas. Because It's Me! Karena aku menyukai ungu dan kreativitas. Selain itu, perpaduan antara warna perak metalik dan garis ungu ini menurutku sangat cocok bagi anak muda yang cool dan creative, dan tentu saja aku akan memilihnya karena aku kan masih muda, hehehe. Sekali lagi, because it's me! Sony Vaio E14P ini GUE BANGET pokoke!



“Creativity is inventing, experimenting, growing, taking risks, breaking rules, making mistakes, and having fun.” - Mary Lou Cook
Well, berharap banget bisa bersahabat dengan notebook pintar plus cantik yang satu ini, apalagi jika bisa mendapatkannya secara cuma-cuma (ngarep tingkat kemacetan di Ibu Kota). Aih, semoga! Wahai, Sony Vaio E14P, please come to mama! 

*Miss Poo = nama notebook pribadi.



 Postingan ini diikutsertakan dalam kontes blog SONY VAIO



Thursday, April 19, 2012

Aku tertipu..
Ada tanda tanya yang dalam sebelumnya.
Bagaimana?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tertipu?

Dirinya yang menggalau ku anggap sebagai petunjuk semua.
Aku terima.
Tapi ternyata tertipu dia.

Jera?
Jelas. Sangatlah iya.

Setelah lama, ini kali pertama dibuka.
Karena tipuannya, pintu itu harus ditutup semula.
Dan kunci manis dikembalikan lagi pada tempatnya.

Apa masih ada tanda tanya?
Saat aku temukan fakta antara dia dan dirinya?

Mungkin sedikit bodoh aku merasa.
Sedikit mudah aku dipikirnya.
Dan sedikit acuan untuk jawaban tanda tanyanya.

Tapi begitu.
Aku memang tertipu.
Saat dia membatu.
Di sela dirinya yang mengharu.
Dan segala tanya itu membisu.

Jera! 

*Untuk seorang kawan, akhirnya kau temukan jawabannya! Karena fakta itu ada dan tidak selamanya indah* :)
"Truth is like the sun. You can shut it out for a time, but it ain't goin' away." - Elvis Presley

Published with Blogger-droid v2.0.4

4/19/2012 09:54:00 PM Desi YuLiana
Aku tertipu..
Ada tanda tanya yang dalam sebelumnya.
Bagaimana?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tertipu?

Dirinya yang menggalau ku anggap sebagai petunjuk semua.
Aku terima.
Tapi ternyata tertipu dia.

Jera?
Jelas. Sangatlah iya.

Setelah lama, ini kali pertama dibuka.
Karena tipuannya, pintu itu harus ditutup semula.
Dan kunci manis dikembalikan lagi pada tempatnya.

Apa masih ada tanda tanya?
Saat aku temukan fakta antara dia dan dirinya?

Mungkin sedikit bodoh aku merasa.
Sedikit mudah aku dipikirnya.
Dan sedikit acuan untuk jawaban tanda tanyanya.

Tapi begitu.
Aku memang tertipu.
Saat dia membatu.
Di sela dirinya yang mengharu.
Dan segala tanya itu membisu.

Jera! 

*Untuk seorang kawan, akhirnya kau temukan jawabannya! Karena fakta itu ada dan tidak selamanya indah* :)
"Truth is like the sun. You can shut it out for a time, but it ain't goin' away." - Elvis Presley

Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, April 12, 2012

Panggilan pada penumpang bus k*rnia jurusan Lhokseumawe telah terdengar dari pengeras suara di seantero terminal. Beberapa remaja yang sedari tadi asyik bercerita tampak mulai berubah ekspresi wajahnya. Satu orang di antara mereka akan pergi. Pergi ke kota yang jauh dari tempat mereka saat ini. Pergi yang masih belum diketahui apa akan kembali lagi atau tidak ke sini. Pergi yang mengartikan mereka akan berpisah, tak berjumpa, entah hanya untuk beberapa masa atau selamanya.

Seorang remaja tinggi, kurus, berkacamata yang mengenakan jilbab biru dan baju berbahan jins kesayangannya tampak masih memegang erat tangan temannya. Wajahnya mendung. Ia tampak sangat berat meninggalkan semuanya. Awalnya ia hanya senyum biasa, mencoba menahan apa yang memaksa keluar dari matanya saat berbincang-bincang tadi. Namun, jabatan tangan dan pelukan hangat perpisahan dari teman-temannya akhirnya merobohkan pertahanannya. Hujan mulai turun di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah ke dalam bus yang akan membawanya jauh dari teman-temannya itu.

Tapi, the show must go on. Setiap pertemuan pasti ditutup dengan perpisahan. Selamat tinggal, teman!

Dari dalam bus, tak henti-hentinya ia melambaikan tangan pada teman-teman yang masih setia mengantar keberangkatannya. Bukan hanya ia, teman-temannya di luar bus sana pun juga bermandikan air mata. Wajah remaja-remaja itu basah. Karena di sinilah mereka harus berpisah.

Bus mulai melaju pelan dari parkiran terminal. Wajah teman-teman kesayangan pun sedikit demi sedikit mulai hilang ditelan jalan. Bus akhirnya meluncur ke jalan raya, bersiap menantang maut di jalan perbukitan kelok 99 dan di sepanjang jalan selama menempuh perjalanan 30 jam. Padang - Lhokseumawe.

Remaja berkacamata tadi tampak masih muram, butuh waktu hampir satu jam untuk meredakan hujan deras di wajahnya. Ibu di sampingnya hanya bisa menahan haru melihat beban yang anak bungsunya rasakan saat itu. Ah, sekali lagi. Selamat tinggal teman! Selamat tinggal Padang!

***

13 April 2002 - 13 April 2012.

Tepat 10 tahun remaja berkacamata tadi meninggalkan tanah Minang. Ah, sekalipun dianggap berlebihan, ia tetap kekeuh mengatakan Padang; kota dengan sentero kenangan.

Betapa ia masih mengingat bagaimana cerita-cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya; Komplek Anggaran Surau Gadang, di sekolah pertamanya di sana; MIN Gunung Pangilun, di sekolah terakhirnya: MTsN Model Gunung Pangilun Padang, di rumah teman-temannya; Siteba, Tunggul Hitam, dan sebagainya, di lokasi-lokasi wisata; Cagar Alam Malibo Anai, Lembah Anai, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Kelok 44, Danau Maninjau, Danau Singkarang, Pantai Painan, dan sebagainya.. Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang ia dapatkan selama hampir 3 tahun menetap di tanah dengan aliran materialisme itu.

Ia hanya tidak bisa lupa, karena di sana ia rasakan apa yang namanya kenyamanan. Baik itu di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan tempat ia meraih pendidikan. Kenyamanan yang sedikit berbeda dengan yang dirasakan di tanah kelahirannya. Itu bisa dibuktikan dengan bagaimana ia bisa lancar berbahasa Minang daripada bahasa daerah asalnya sendiri. Aneh memang, 3 tahun di tanah Minang vs seluruh tahun yang dihabiskan di tanah rencong.

Remaja berkacamata yang sekarang ini semakin dewasa namun masih berkacamata itu rindu kota Padang. Ia ingin pulang, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, mengunjungi kembali bangunan sekolah dan tempat-tempat kenangan lainnya, dan melanjutkan petualangan di sana. Itu targetnya tahun ini. Semoga!

Published with Blogger-droid v2.0.4
4/12/2012 06:25:00 PM Desi YuLiana

Panggilan pada penumpang bus k*rnia jurusan Lhokseumawe telah terdengar dari pengeras suara di seantero terminal. Beberapa remaja yang sedari tadi asyik bercerita tampak mulai berubah ekspresi wajahnya. Satu orang di antara mereka akan pergi. Pergi ke kota yang jauh dari tempat mereka saat ini. Pergi yang masih belum diketahui apa akan kembali lagi atau tidak ke sini. Pergi yang mengartikan mereka akan berpisah, tak berjumpa, entah hanya untuk beberapa masa atau selamanya.

Seorang remaja tinggi, kurus, berkacamata yang mengenakan jilbab biru dan baju berbahan jins kesayangannya tampak masih memegang erat tangan temannya. Wajahnya mendung. Ia tampak sangat berat meninggalkan semuanya. Awalnya ia hanya senyum biasa, mencoba menahan apa yang memaksa keluar dari matanya saat berbincang-bincang tadi. Namun, jabatan tangan dan pelukan hangat perpisahan dari teman-temannya akhirnya merobohkan pertahanannya. Hujan mulai turun di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah ke dalam bus yang akan membawanya jauh dari teman-temannya itu.

Tapi, the show must go on. Setiap pertemuan pasti ditutup dengan perpisahan. Selamat tinggal, teman!

Dari dalam bus, tak henti-hentinya ia melambaikan tangan pada teman-teman yang masih setia mengantar keberangkatannya. Bukan hanya ia, teman-temannya di luar bus sana pun juga bermandikan air mata. Wajah remaja-remaja itu basah. Karena di sinilah mereka harus berpisah.

Bus mulai melaju pelan dari parkiran terminal. Wajah teman-teman kesayangan pun sedikit demi sedikit mulai hilang ditelan jalan. Bus akhirnya meluncur ke jalan raya, bersiap menantang maut di jalan perbukitan kelok 99 dan di sepanjang jalan selama menempuh perjalanan 30 jam. Padang - Lhokseumawe.

Remaja berkacamata tadi tampak masih muram, butuh waktu hampir satu jam untuk meredakan hujan deras di wajahnya. Ibu di sampingnya hanya bisa menahan haru melihat beban yang anak bungsunya rasakan saat itu. Ah, sekali lagi. Selamat tinggal teman! Selamat tinggal Padang!

***

13 April 2002 - 13 April 2012.

Tepat 10 tahun remaja berkacamata tadi meninggalkan tanah Minang. Ah, sekalipun dianggap berlebihan, ia tetap kekeuh mengatakan Padang; kota dengan sentero kenangan.

Betapa ia masih mengingat bagaimana cerita-cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya; Komplek Anggaran Surau Gadang, di sekolah pertamanya di sana; MIN Gunung Pangilun, di sekolah terakhirnya: MTsN Model Gunung Pangilun Padang, di rumah teman-temannya; Siteba, Tunggul Hitam, dan sebagainya, di lokasi-lokasi wisata; Cagar Alam Malibo Anai, Lembah Anai, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Kelok 44, Danau Maninjau, Danau Singkarang, Pantai Painan, dan sebagainya.. Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang ia dapatkan selama hampir 3 tahun menetap di tanah dengan aliran materialisme itu.

Ia hanya tidak bisa lupa, karena di sana ia rasakan apa yang namanya kenyamanan. Baik itu di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan tempat ia meraih pendidikan. Kenyamanan yang sedikit berbeda dengan yang dirasakan di tanah kelahirannya. Itu bisa dibuktikan dengan bagaimana ia bisa lancar berbahasa Minang daripada bahasa daerah asalnya sendiri. Aneh memang, 3 tahun di tanah Minang vs seluruh tahun yang dihabiskan di tanah rencong.

Remaja berkacamata yang sekarang ini semakin dewasa namun masih berkacamata itu rindu kota Padang. Ia ingin pulang, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, mengunjungi kembali bangunan sekolah dan tempat-tempat kenangan lainnya, dan melanjutkan petualangan di sana. Itu targetnya tahun ini. Semoga!

Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, April 9, 2012

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Tangan kanannya menggenggam manja sebuah agenda berwarna sama.
Sementara di sebelah lainnya ada pena yang tak berbeda warna.
Sama..
Gadis cilik itu senada..

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik tersenyum riang dengan mimpinya.
Ia sendiri, tapi tak ada kegelisahan di matanya.
Ia sendiri, tapi nyata menunjukkan semangatnya.
Ia sendiri, berjuang, meraih mimpi demi sebuah cita.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik yang sama tapi wajahnya berbeda.
Ada seorang penjaga di sampingnya.
Walaupun kedua sahabatnya; agenda dan pena masih ada di genggamannya.
Auranya pudar, ada beban berat yang pasti sedang dipikulnya.
Aku bertanya, hanya bisa bertanya, ada apa, ada apa dengan si gadis cilik yang ceria?

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik berlinangan air mata.
Wajahnya basah mendamba mimpi yang telah tiada.
Sang penjaga rupanya, ia yang merampas mimpi itu darinya.
Si gadis cilik tampak masih berusaha, meyakinkan sang penjaga, meminta sebait izin untuk meraih cita.
Tapi apa, sang penjaga tetap memaksa.
Hanya ada satu jalan bagi si gadis cilik, mematuhi aturan dan menjalankan perintah sang penjaga.
Karena menurutnya itu yang terbaik bagi gadis ciliknya.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik.
Masih setia bersama gaun, agenda dan pena merah mudanya.
Wajahnya sedikit tertawa, tapi hampa.
Ia masih berharap mimpinya.
Ia masih meminta pada sang penguasa, yang tahtanya jauh di atas sang penjaga.
Matanya bicara, ia butuh bantuan mereka, yang mengerti dirinya dan bernasib sama.
Ia ingin dimudahkan segalanya dan dinyalakan kembali citanya.
Ia pun menguat agar tak putus asa.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Ia mengangkat tangannya, berdoa.
Semoga.
Semoga sang penjaga luluh hatinya.
Karena ia yakin, harapan itu selalu ada..

Published with Blogger-droid v2.0.4
4/09/2012 05:47:00 AM Desi YuLiana
Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Tangan kanannya menggenggam manja sebuah agenda berwarna sama.
Sementara di sebelah lainnya ada pena yang tak berbeda warna.
Sama..
Gadis cilik itu senada..

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik tersenyum riang dengan mimpinya.
Ia sendiri, tapi tak ada kegelisahan di matanya.
Ia sendiri, tapi nyata menunjukkan semangatnya.
Ia sendiri, berjuang, meraih mimpi demi sebuah cita.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik yang sama tapi wajahnya berbeda.
Ada seorang penjaga di sampingnya.
Walaupun kedua sahabatnya; agenda dan pena masih ada di genggamannya.
Auranya pudar, ada beban berat yang pasti sedang dipikulnya.
Aku bertanya, hanya bisa bertanya, ada apa, ada apa dengan si gadis cilik yang ceria?

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik berlinangan air mata.
Wajahnya basah mendamba mimpi yang telah tiada.
Sang penjaga rupanya, ia yang merampas mimpi itu darinya.
Si gadis cilik tampak masih berusaha, meyakinkan sang penjaga, meminta sebait izin untuk meraih cita.
Tapi apa, sang penjaga tetap memaksa.
Hanya ada satu jalan bagi si gadis cilik, mematuhi aturan dan menjalankan perintah sang penjaga.
Karena menurutnya itu yang terbaik bagi gadis ciliknya.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik.
Masih setia bersama gaun, agenda dan pena merah mudanya.
Wajahnya sedikit tertawa, tapi hampa.
Ia masih berharap mimpinya.
Ia masih meminta pada sang penguasa, yang tahtanya jauh di atas sang penjaga.
Matanya bicara, ia butuh bantuan mereka, yang mengerti dirinya dan bernasib sama.
Ia ingin dimudahkan segalanya dan dinyalakan kembali citanya.
Ia pun menguat agar tak putus asa.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Ia mengangkat tangannya, berdoa.
Semoga.
Semoga sang penjaga luluh hatinya.
Karena ia yakin, harapan itu selalu ada..

Published with Blogger-droid v2.0.4