Showing posts with label Nostalgia. Show all posts
Showing posts with label Nostalgia. Show all posts

Saturday, August 4, 2012

Konbanwa, Minna-san! (^^)/
Ceritanya begini, tadi pagi saat iseng bongkar-bongkar lemari buku, secara tak sengaja aku dipertemukan dengan buku ini: 



Buku apa itu? 
Bisa dikatakan itu sebuah #DreamBook. 
Nah lho? #DreamBook itu apa?
Oke, #DreamBook ini kalau aku nggak salah pertama kali dipopulerkan oleh Om Rangga Umara, penulis buku The Magic of Dream Book. Lalu #DreamBook ini semakin populer setelah dipromosikan oleh si burung zuper: Motty. 

Nggak tahu siapa itu Motty? Hari gini? #oops!

Bagi mereka yang aktif di dunia twitter, pastilah mengenal sosok si burung zuper Motty, sang motivator dan penulis buku Kicauan si Burung Zuper yang fenomenal. Kenapa dia bisa begitu fenomenal? Teman-teman bisa dapatkan jawabannya dengan mengecek langsung di timeline twitter nya --> MotivaTweet. Yang pasti, nggak akan pernah menyesal mengenal dan menjadi followernya. Ting!

Nah, buku di atas merupakan salah satu #DreamBook yang aku miliki di awal masa perkuliahan dulu. Isinya penuh dengan daftar target (target jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang), cita, keinginan, dan mimpi-mimpi ku saat itu. Selain itu, di buku itu juga banyak tertulis motivasi dan quote seputar dunia Literasi (dunia baca-tulis) dari penulis-penulis ternama. Hmm, betapa besarnya semangat menulisku waktu itu. Cukup berbeda dengan yang sekarang. *kemudian hening*.

Baiklah, postingan kali ini bersumber dari kicauan mengenai #DreamBook di akun twitter tadi pagi. Kicauan ini diniatkan untuk memancing kembali semangat juang tempo dulu plus mengingatkan diri akan betapa pentingnya memiliki sebuah #DreamBook demi melawan serangan lupa. Apa aja kicauannya? Here we go:
Bener kata si @MotivaTweet, otak kita merupakan anugrah yang sangat berharga. Tapi kadang kita menggunakannya untuk hal-hal sepele, seperti untuk mengingat-ingat. #DreamBook

Manusia itu rentan lupa. Otak kita harusnya dimanfaatkan untuk mengolah informasi, bukan menyimpan data. Maka itu kita perlu yang namanya #DreamBook.

Membuat #DreamBook itu sebagai salah satu cara untuk melawan lupa. Dia juga bisa berperan sebagai motivator untuk setiap impian dan target hidup kita.

#DreamBook itu ditulis tangan, bukan diketik. Karena tulisan tangan bisa membuat kita lebih lama mengingat dan menjiwai apa yang kita tuliskan.

Apa aja yang harus ditulis di #DreamBook? Yang paling utama ya daftarkan semua hal yang kita inginkan. Mimpi, keinginan, tujuan. Motivasi-motivasi juga :)

Jadi, jika suatu saat nanti kita down, depresi, tidak bersemangat, tidak tahu melalukan apa, atau merasa gagal, buka kembali #DreamBook nya.

Dan.. rasakan semangat juang dalam diri kita yang dulu pernah ada saat menulis #DreamBook. Pancing kembali, laksanakan dan berjuanglah (ง`▽´)ง!

Merdeka! Kita punya hak untuk bermimpi. Dan tiap kita  berkewajiban untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Kita bisa lho! Pasti bisa! (˘-˘)ง #DreamBook

Nah, di bawah ini salah satu kalimat-kalimat motivasi yang ku tulis di dalam #DreamBook di atas. Tolong jangan tanyakan sumbernya ya, aku lupa! Hehehe.
Perjuangan adalah salah satu yang kita butuhkan dalam hidup. Jika Tuhan memperbolehkan kita hidup tanpa cobaan, maka itu akan membuat kita lemah.

Kita meminta kekuatan..
Tuhan memberikan kesulitan untuk kita hadapi, dan menjadikan kita kuat.

Kita meminta kebijaksanaan..
Tuhan memberikan kita masalah yang harus kita pecahkan

Kita meminta kemakmuran..
Tuhan memberikan kita otak dan kekuatan untuk bekerja.

Kita meminta keberanian..
Tuhan memberikan rintangan untuk kita hadapi

Kita meminta cinta..
Tuhan memberikan orang-orang yang sedang dalam kesulitan untuk kita bantu

Kita meminta pertolongan..
Tuhan memberikan kita kesempatan.

Kita tidak menerima apa yang kita inginkan. Tapi, kita menerima apa yang kita butuhkan.. 

Jalanilah hidup ini tanpa ketakutan. Hadapi semua masalah dan yakinlah kita dapat mengatasi semua itu. Semangka! (ง`▽´)ง 

#DreamBook, daftar impian, dan motivasi-motivasi ini cukup banyak membantu diri saat si empunya hati ini sedang ingin sendiri dan tak ingin berbagi. Alhamdulillah, setelah dibuka kembali #DreamBook itu, sedikit banyak ada target yang telah tercapai sekarang ini. Thanks to Allah :)
 
Ayo temans, ciptakan #DreamBook mu! Tulis setiap mimpi, keinginan, dan tujuan hidup mu! Pasang target waktu yang pasti kapan kau ingin semuanya terwujud, kemudian laksanakan! Setelahnya.. selamat merasakan manfaat dari keberadaannya dan.. selamat menemukan dirimu yang baru. \(^^)/

By the way, ini #DreamBook ku (dari masa ke masa), mana #DreamBook mu? :D




8/04/2012 07:32:00 AM Desi YuLiana
Konbanwa, Minna-san! (^^)/
Ceritanya begini, tadi pagi saat iseng bongkar-bongkar lemari buku, secara tak sengaja aku dipertemukan dengan buku ini: 



Buku apa itu? 
Bisa dikatakan itu sebuah #DreamBook. 
Nah lho? #DreamBook itu apa?
Oke, #DreamBook ini kalau aku nggak salah pertama kali dipopulerkan oleh Om Rangga Umara, penulis buku The Magic of Dream Book. Lalu #DreamBook ini semakin populer setelah dipromosikan oleh si burung zuper: Motty. 

Nggak tahu siapa itu Motty? Hari gini? #oops!

Bagi mereka yang aktif di dunia twitter, pastilah mengenal sosok si burung zuper Motty, sang motivator dan penulis buku Kicauan si Burung Zuper yang fenomenal. Kenapa dia bisa begitu fenomenal? Teman-teman bisa dapatkan jawabannya dengan mengecek langsung di timeline twitter nya --> MotivaTweet. Yang pasti, nggak akan pernah menyesal mengenal dan menjadi followernya. Ting!

Nah, buku di atas merupakan salah satu #DreamBook yang aku miliki di awal masa perkuliahan dulu. Isinya penuh dengan daftar target (target jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang), cita, keinginan, dan mimpi-mimpi ku saat itu. Selain itu, di buku itu juga banyak tertulis motivasi dan quote seputar dunia Literasi (dunia baca-tulis) dari penulis-penulis ternama. Hmm, betapa besarnya semangat menulisku waktu itu. Cukup berbeda dengan yang sekarang. *kemudian hening*.

Baiklah, postingan kali ini bersumber dari kicauan mengenai #DreamBook di akun twitter tadi pagi. Kicauan ini diniatkan untuk memancing kembali semangat juang tempo dulu plus mengingatkan diri akan betapa pentingnya memiliki sebuah #DreamBook demi melawan serangan lupa. Apa aja kicauannya? Here we go:
Bener kata si @MotivaTweet, otak kita merupakan anugrah yang sangat berharga. Tapi kadang kita menggunakannya untuk hal-hal sepele, seperti untuk mengingat-ingat. #DreamBook

Manusia itu rentan lupa. Otak kita harusnya dimanfaatkan untuk mengolah informasi, bukan menyimpan data. Maka itu kita perlu yang namanya #DreamBook.

Membuat #DreamBook itu sebagai salah satu cara untuk melawan lupa. Dia juga bisa berperan sebagai motivator untuk setiap impian dan target hidup kita.

#DreamBook itu ditulis tangan, bukan diketik. Karena tulisan tangan bisa membuat kita lebih lama mengingat dan menjiwai apa yang kita tuliskan.

Apa aja yang harus ditulis di #DreamBook? Yang paling utama ya daftarkan semua hal yang kita inginkan. Mimpi, keinginan, tujuan. Motivasi-motivasi juga :)

Jadi, jika suatu saat nanti kita down, depresi, tidak bersemangat, tidak tahu melalukan apa, atau merasa gagal, buka kembali #DreamBook nya.

Dan.. rasakan semangat juang dalam diri kita yang dulu pernah ada saat menulis #DreamBook. Pancing kembali, laksanakan dan berjuanglah (ง`▽´)ง!

Merdeka! Kita punya hak untuk bermimpi. Dan tiap kita  berkewajiban untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Kita bisa lho! Pasti bisa! (˘-˘)ง #DreamBook

Nah, di bawah ini salah satu kalimat-kalimat motivasi yang ku tulis di dalam #DreamBook di atas. Tolong jangan tanyakan sumbernya ya, aku lupa! Hehehe.
Perjuangan adalah salah satu yang kita butuhkan dalam hidup. Jika Tuhan memperbolehkan kita hidup tanpa cobaan, maka itu akan membuat kita lemah.

Kita meminta kekuatan..
Tuhan memberikan kesulitan untuk kita hadapi, dan menjadikan kita kuat.

Kita meminta kebijaksanaan..
Tuhan memberikan kita masalah yang harus kita pecahkan

Kita meminta kemakmuran..
Tuhan memberikan kita otak dan kekuatan untuk bekerja.

Kita meminta keberanian..
Tuhan memberikan rintangan untuk kita hadapi

Kita meminta cinta..
Tuhan memberikan orang-orang yang sedang dalam kesulitan untuk kita bantu

Kita meminta pertolongan..
Tuhan memberikan kita kesempatan.

Kita tidak menerima apa yang kita inginkan. Tapi, kita menerima apa yang kita butuhkan.. 

Jalanilah hidup ini tanpa ketakutan. Hadapi semua masalah dan yakinlah kita dapat mengatasi semua itu. Semangka! (ง`▽´)ง 

#DreamBook, daftar impian, dan motivasi-motivasi ini cukup banyak membantu diri saat si empunya hati ini sedang ingin sendiri dan tak ingin berbagi. Alhamdulillah, setelah dibuka kembali #DreamBook itu, sedikit banyak ada target yang telah tercapai sekarang ini. Thanks to Allah :)
 
Ayo temans, ciptakan #DreamBook mu! Tulis setiap mimpi, keinginan, dan tujuan hidup mu! Pasang target waktu yang pasti kapan kau ingin semuanya terwujud, kemudian laksanakan! Setelahnya.. selamat merasakan manfaat dari keberadaannya dan.. selamat menemukan dirimu yang baru. \(^^)/

By the way, ini #DreamBook ku (dari masa ke masa), mana #DreamBook mu? :D




Sunday, April 22, 2012

Bertambah lagi daftar hal-hal yang harus aku syukuri tahun ini. Kali ini, tentang pulang. Pulang ke tanah kelahiran yang sudah sangat ku rindukan #eaaaa. Dimanakah itu? Yah, kemana lagi kalau bukan Lhokseumawe. Kota kecil, sederhana yang sepertinya sedang mulai menampakkan perkembangannya (ah, semoga perkembangan itu ke arah kebaikan ya, bukan sebaliknya).

Kalau tidak salah hitung-menghitung, sudah setahun beberapa bulan aku tak pulang ke kota itu. Terakhir bersilaturahmi dengan saudara dan kawan-kawan di sana adalah saat Hari Raya Idul Fitri tahun 2010. Rindu? Iyalah! Jangan ditanya sudah berapa kali aku merayu-rayu Ayah untuk memberikan izin pulang ke sana, dan jangan diragukan lagi sudah beberapa kali pulalah permintaanku ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Dan jangan tanyakan alasannya, karena aku juga nggak tahu kenapa, kenapa Ayah sangat susah membiarkan aku pulang ke sana, padahal Lhokseumawe itu dekat dan di sana jelas; banyak saudara dan orang-orang yang ku kenal. So, apa yang harus Ayah khawatirkan?

Baiklah, setidaknya, segala kegalauan dan kerinduan pada Lhokseumawe telah terbayar minggu ini. Alhamdulillah, melalui pernikahan si kakak, akhirnya aku bisa pulang. Horee! Tidak bisa dipungkiri, tujuan pulangku ke sana bukan hanya untuk ikut serta mengantar dara baro, tapi juga bernostalgia dengan semuanya. Kapan lagi kan? Aih, bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali? *evil smile*.

Awalnya, ragu. Jelas ragunya. Apalagi saat mengetahui bahwa Ayah, Bunda, dan rombongan lain dari Banda Aceh akan pulang ke Banda di hari itu juga, setelah selesai acara. Aku? Aku gimana? Rasanya rugi luar biasa jika harus pulang di hari yang sama. Aku bimbang. Aku mumang. Aku mendadak garang #eh *berlebihan*. Tidak ingin membuang kesempatan, dengan perkataan yang super baik, sopan, dan ramah aku bertanya pada Ayah: 
"Yah, dek boleh gak ikut pulang sekalian ma Ayah Bunda? Dek boleh main-main dulu di Lhok? Entar dek pulang sendiri, beberapa hariiiiiiii aja. Ya Yah ya? *wink-wink". 

Singkat cerita, ada keajaiban yang terjadi. Akhirnya aku bisa menetap (hanya) beberapa hari di Lhokseumawe. Sebenarnya ingin lebih lama, tapi apa daya, ujian TOEFL ITP menantiku di Banda Aceh (kalau saja bukan ITP, sudah ku tinggalkan dia!). Aku pun harus segera pulang (lho? Belum cerita kok udah mau pulang?). 

Berkunjung ke Lhokseumawe berarti ngumpul-ngumpul dengan kawan lama. Itu wajib hukumnya! Haha, sadis. Dan syukur, agenda itu bisa terlaksana. Walaupun yang hadir (karena memang ada di Lhokseumawe) hari itu hanya tiga dari sembilan anggota 'geng' lainnya. Ingin rasanya punya kesempatan berkumpul dengan semuanya. Ingin rasanya melihat dan bersama-bersama dengan ke-sembilan kawan-kawan terdekat (SMA) di waktu dan tempat yang sama pula. Aih, kapan? Tapi, tak mengapalah, bisa bertatap muka dengan yang tiga ini juga udah senang luar biasa, yang lain bisa ditemui di Banda. Gampang! *mulai ngawur kaya'nya*. 

Well, cerita pulang ke sana beberapa hari yang lalu tidak luput dari yang namanya 'makan-makan'. Ah, gak perlu heran. Jangankan di sana, di Banda saja aku memang doyan makan. Jadi, saat di kota kelahiran pun sudah pasti aku harus banyak makan. Karena hidup itu untuk makan. *Merdeka!* #plak!. 

Bersyukur ada keluarga tetangga yang sangat bisa diandalkan. Kedekatan dengan mereka rasanya bukan lagi kedekatan sebagai tetangga, namun sudah memasuki area "saudara". Bisa dibilang, aku jauh lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan keluarga saudara lainnya. Jangan tanya kenapa! Empat malam di sana, maka tiga malam aku habiskan dengan acara makan-makan bersama mereka (kenapa tidak empat malam? karena satu malam ku habiskan di rumah saudara. Oke!). Tidak tanggung-tanggung, mereka mau berjauh-jauh ke Batuphat demi semangkok 'empek-empek' kesukaan si anak tetangga dari Banda ini.

Lebih kurang empat hari aku di sana. Banyak tempat baru yang aku jelajahi, salah satunya Komplek Perumahan Exxon Mobil yang sekarang disulap menjadi kampus Universitas Malikussaleh. Unik! Komplek perumahan yang telah lama ditinggalkan penghuninya itu sekarang berubah suasana menjadi lahan belajar para mahasiswa. Rumah-rumah warga disulap menjadi ruang kuliah, perpustakaan, lab, dan sebagainya. Oke, ide yang bagus! Setidaknya komplek yang dibangun dengan dana yang tak murah itu tidak terbuang percuma.

Berikut beberapa foto kenangan yang sempat diabadikan selama di sana: 
 
"Little Crazy Girls" Ini geng (masa kecil) paling terkenal di seantero Lr. H. Hasan - Uteun Bayi
Urineun.. (Rock Band) Oeyo? Hahaha
Dua orang di sini penyusup. Satu (paling depan) si anak tetangga, satu lagi (cowok, paling belakang) si adek ganteng yg muncul (kembali) dengan tiba-tiba
The Girls ~
The Boys ~
Demikianlah kisah yang tak seberapamana ini. Niatnya cukup banyak yang hendak ditulis dan diceritakan ke kawan-kawan semua. Tapi sepertinya inspirasi sedang tidak bersamaku malam ini. Entah kemana dia terbang. Semua yang hendak dituang pun begitu saja menghilang. Sayang. Daripada bertambah bimbang, lebih baik ku akhiri saja cerita aneh ini dengan pesan seseorang:

"Menarik dipandang, potret! Menarik dipikirkan, tulis!"

*merupakan postingan seorang kawan di akun twitter miliknya. Ini jelas membangkitkan semangat fotografi dan menulisku saat membacanya. Dan mungkin cerita aneh di atas lah hasilnya. Tak apa, yang penting: "Tulislah, walau satu ayat! #eh*

 Terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya. Salam Namaste!



4/22/2012 06:44:00 AM Desi YuLiana
Bertambah lagi daftar hal-hal yang harus aku syukuri tahun ini. Kali ini, tentang pulang. Pulang ke tanah kelahiran yang sudah sangat ku rindukan #eaaaa. Dimanakah itu? Yah, kemana lagi kalau bukan Lhokseumawe. Kota kecil, sederhana yang sepertinya sedang mulai menampakkan perkembangannya (ah, semoga perkembangan itu ke arah kebaikan ya, bukan sebaliknya).

Kalau tidak salah hitung-menghitung, sudah setahun beberapa bulan aku tak pulang ke kota itu. Terakhir bersilaturahmi dengan saudara dan kawan-kawan di sana adalah saat Hari Raya Idul Fitri tahun 2010. Rindu? Iyalah! Jangan ditanya sudah berapa kali aku merayu-rayu Ayah untuk memberikan izin pulang ke sana, dan jangan diragukan lagi sudah beberapa kali pulalah permintaanku ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Dan jangan tanyakan alasannya, karena aku juga nggak tahu kenapa, kenapa Ayah sangat susah membiarkan aku pulang ke sana, padahal Lhokseumawe itu dekat dan di sana jelas; banyak saudara dan orang-orang yang ku kenal. So, apa yang harus Ayah khawatirkan?

Baiklah, setidaknya, segala kegalauan dan kerinduan pada Lhokseumawe telah terbayar minggu ini. Alhamdulillah, melalui pernikahan si kakak, akhirnya aku bisa pulang. Horee! Tidak bisa dipungkiri, tujuan pulangku ke sana bukan hanya untuk ikut serta mengantar dara baro, tapi juga bernostalgia dengan semuanya. Kapan lagi kan? Aih, bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali? *evil smile*.

Awalnya, ragu. Jelas ragunya. Apalagi saat mengetahui bahwa Ayah, Bunda, dan rombongan lain dari Banda Aceh akan pulang ke Banda di hari itu juga, setelah selesai acara. Aku? Aku gimana? Rasanya rugi luar biasa jika harus pulang di hari yang sama. Aku bimbang. Aku mumang. Aku mendadak garang #eh *berlebihan*. Tidak ingin membuang kesempatan, dengan perkataan yang super baik, sopan, dan ramah aku bertanya pada Ayah: 
"Yah, dek boleh gak ikut pulang sekalian ma Ayah Bunda? Dek boleh main-main dulu di Lhok? Entar dek pulang sendiri, beberapa hariiiiiiii aja. Ya Yah ya? *wink-wink". 

Singkat cerita, ada keajaiban yang terjadi. Akhirnya aku bisa menetap (hanya) beberapa hari di Lhokseumawe. Sebenarnya ingin lebih lama, tapi apa daya, ujian TOEFL ITP menantiku di Banda Aceh (kalau saja bukan ITP, sudah ku tinggalkan dia!). Aku pun harus segera pulang (lho? Belum cerita kok udah mau pulang?). 

Berkunjung ke Lhokseumawe berarti ngumpul-ngumpul dengan kawan lama. Itu wajib hukumnya! Haha, sadis. Dan syukur, agenda itu bisa terlaksana. Walaupun yang hadir (karena memang ada di Lhokseumawe) hari itu hanya tiga dari sembilan anggota 'geng' lainnya. Ingin rasanya punya kesempatan berkumpul dengan semuanya. Ingin rasanya melihat dan bersama-bersama dengan ke-sembilan kawan-kawan terdekat (SMA) di waktu dan tempat yang sama pula. Aih, kapan? Tapi, tak mengapalah, bisa bertatap muka dengan yang tiga ini juga udah senang luar biasa, yang lain bisa ditemui di Banda. Gampang! *mulai ngawur kaya'nya*. 

Well, cerita pulang ke sana beberapa hari yang lalu tidak luput dari yang namanya 'makan-makan'. Ah, gak perlu heran. Jangankan di sana, di Banda saja aku memang doyan makan. Jadi, saat di kota kelahiran pun sudah pasti aku harus banyak makan. Karena hidup itu untuk makan. *Merdeka!* #plak!. 

Bersyukur ada keluarga tetangga yang sangat bisa diandalkan. Kedekatan dengan mereka rasanya bukan lagi kedekatan sebagai tetangga, namun sudah memasuki area "saudara". Bisa dibilang, aku jauh lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan keluarga saudara lainnya. Jangan tanya kenapa! Empat malam di sana, maka tiga malam aku habiskan dengan acara makan-makan bersama mereka (kenapa tidak empat malam? karena satu malam ku habiskan di rumah saudara. Oke!). Tidak tanggung-tanggung, mereka mau berjauh-jauh ke Batuphat demi semangkok 'empek-empek' kesukaan si anak tetangga dari Banda ini.

Lebih kurang empat hari aku di sana. Banyak tempat baru yang aku jelajahi, salah satunya Komplek Perumahan Exxon Mobil yang sekarang disulap menjadi kampus Universitas Malikussaleh. Unik! Komplek perumahan yang telah lama ditinggalkan penghuninya itu sekarang berubah suasana menjadi lahan belajar para mahasiswa. Rumah-rumah warga disulap menjadi ruang kuliah, perpustakaan, lab, dan sebagainya. Oke, ide yang bagus! Setidaknya komplek yang dibangun dengan dana yang tak murah itu tidak terbuang percuma.

Berikut beberapa foto kenangan yang sempat diabadikan selama di sana: 
 
"Little Crazy Girls" Ini geng (masa kecil) paling terkenal di seantero Lr. H. Hasan - Uteun Bayi
Urineun.. (Rock Band) Oeyo? Hahaha
Dua orang di sini penyusup. Satu (paling depan) si anak tetangga, satu lagi (cowok, paling belakang) si adek ganteng yg muncul (kembali) dengan tiba-tiba
The Girls ~
The Boys ~
Demikianlah kisah yang tak seberapamana ini. Niatnya cukup banyak yang hendak ditulis dan diceritakan ke kawan-kawan semua. Tapi sepertinya inspirasi sedang tidak bersamaku malam ini. Entah kemana dia terbang. Semua yang hendak dituang pun begitu saja menghilang. Sayang. Daripada bertambah bimbang, lebih baik ku akhiri saja cerita aneh ini dengan pesan seseorang:

"Menarik dipandang, potret! Menarik dipikirkan, tulis!"

*merupakan postingan seorang kawan di akun twitter miliknya. Ini jelas membangkitkan semangat fotografi dan menulisku saat membacanya. Dan mungkin cerita aneh di atas lah hasilnya. Tak apa, yang penting: "Tulislah, walau satu ayat! #eh*

 Terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya. Salam Namaste!



Thursday, April 12, 2012

Panggilan pada penumpang bus k*rnia jurusan Lhokseumawe telah terdengar dari pengeras suara di seantero terminal. Beberapa remaja yang sedari tadi asyik bercerita tampak mulai berubah ekspresi wajahnya. Satu orang di antara mereka akan pergi. Pergi ke kota yang jauh dari tempat mereka saat ini. Pergi yang masih belum diketahui apa akan kembali lagi atau tidak ke sini. Pergi yang mengartikan mereka akan berpisah, tak berjumpa, entah hanya untuk beberapa masa atau selamanya.

Seorang remaja tinggi, kurus, berkacamata yang mengenakan jilbab biru dan baju berbahan jins kesayangannya tampak masih memegang erat tangan temannya. Wajahnya mendung. Ia tampak sangat berat meninggalkan semuanya. Awalnya ia hanya senyum biasa, mencoba menahan apa yang memaksa keluar dari matanya saat berbincang-bincang tadi. Namun, jabatan tangan dan pelukan hangat perpisahan dari teman-temannya akhirnya merobohkan pertahanannya. Hujan mulai turun di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah ke dalam bus yang akan membawanya jauh dari teman-temannya itu.

Tapi, the show must go on. Setiap pertemuan pasti ditutup dengan perpisahan. Selamat tinggal, teman!

Dari dalam bus, tak henti-hentinya ia melambaikan tangan pada teman-teman yang masih setia mengantar keberangkatannya. Bukan hanya ia, teman-temannya di luar bus sana pun juga bermandikan air mata. Wajah remaja-remaja itu basah. Karena di sinilah mereka harus berpisah.

Bus mulai melaju pelan dari parkiran terminal. Wajah teman-teman kesayangan pun sedikit demi sedikit mulai hilang ditelan jalan. Bus akhirnya meluncur ke jalan raya, bersiap menantang maut di jalan perbukitan kelok 99 dan di sepanjang jalan selama menempuh perjalanan 30 jam. Padang - Lhokseumawe.

Remaja berkacamata tadi tampak masih muram, butuh waktu hampir satu jam untuk meredakan hujan deras di wajahnya. Ibu di sampingnya hanya bisa menahan haru melihat beban yang anak bungsunya rasakan saat itu. Ah, sekali lagi. Selamat tinggal teman! Selamat tinggal Padang!

***

13 April 2002 - 13 April 2012.

Tepat 10 tahun remaja berkacamata tadi meninggalkan tanah Minang. Ah, sekalipun dianggap berlebihan, ia tetap kekeuh mengatakan Padang; kota dengan sentero kenangan.

Betapa ia masih mengingat bagaimana cerita-cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya; Komplek Anggaran Surau Gadang, di sekolah pertamanya di sana; MIN Gunung Pangilun, di sekolah terakhirnya: MTsN Model Gunung Pangilun Padang, di rumah teman-temannya; Siteba, Tunggul Hitam, dan sebagainya, di lokasi-lokasi wisata; Cagar Alam Malibo Anai, Lembah Anai, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Kelok 44, Danau Maninjau, Danau Singkarang, Pantai Painan, dan sebagainya.. Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang ia dapatkan selama hampir 3 tahun menetap di tanah dengan aliran materialisme itu.

Ia hanya tidak bisa lupa, karena di sana ia rasakan apa yang namanya kenyamanan. Baik itu di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan tempat ia meraih pendidikan. Kenyamanan yang sedikit berbeda dengan yang dirasakan di tanah kelahirannya. Itu bisa dibuktikan dengan bagaimana ia bisa lancar berbahasa Minang daripada bahasa daerah asalnya sendiri. Aneh memang, 3 tahun di tanah Minang vs seluruh tahun yang dihabiskan di tanah rencong.

Remaja berkacamata yang sekarang ini semakin dewasa namun masih berkacamata itu rindu kota Padang. Ia ingin pulang, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, mengunjungi kembali bangunan sekolah dan tempat-tempat kenangan lainnya, dan melanjutkan petualangan di sana. Itu targetnya tahun ini. Semoga!

Published with Blogger-droid v2.0.4
4/12/2012 06:25:00 PM Desi YuLiana

Panggilan pada penumpang bus k*rnia jurusan Lhokseumawe telah terdengar dari pengeras suara di seantero terminal. Beberapa remaja yang sedari tadi asyik bercerita tampak mulai berubah ekspresi wajahnya. Satu orang di antara mereka akan pergi. Pergi ke kota yang jauh dari tempat mereka saat ini. Pergi yang masih belum diketahui apa akan kembali lagi atau tidak ke sini. Pergi yang mengartikan mereka akan berpisah, tak berjumpa, entah hanya untuk beberapa masa atau selamanya.

Seorang remaja tinggi, kurus, berkacamata yang mengenakan jilbab biru dan baju berbahan jins kesayangannya tampak masih memegang erat tangan temannya. Wajahnya mendung. Ia tampak sangat berat meninggalkan semuanya. Awalnya ia hanya senyum biasa, mencoba menahan apa yang memaksa keluar dari matanya saat berbincang-bincang tadi. Namun, jabatan tangan dan pelukan hangat perpisahan dari teman-temannya akhirnya merobohkan pertahanannya. Hujan mulai turun di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah ke dalam bus yang akan membawanya jauh dari teman-temannya itu.

Tapi, the show must go on. Setiap pertemuan pasti ditutup dengan perpisahan. Selamat tinggal, teman!

Dari dalam bus, tak henti-hentinya ia melambaikan tangan pada teman-teman yang masih setia mengantar keberangkatannya. Bukan hanya ia, teman-temannya di luar bus sana pun juga bermandikan air mata. Wajah remaja-remaja itu basah. Karena di sinilah mereka harus berpisah.

Bus mulai melaju pelan dari parkiran terminal. Wajah teman-teman kesayangan pun sedikit demi sedikit mulai hilang ditelan jalan. Bus akhirnya meluncur ke jalan raya, bersiap menantang maut di jalan perbukitan kelok 99 dan di sepanjang jalan selama menempuh perjalanan 30 jam. Padang - Lhokseumawe.

Remaja berkacamata tadi tampak masih muram, butuh waktu hampir satu jam untuk meredakan hujan deras di wajahnya. Ibu di sampingnya hanya bisa menahan haru melihat beban yang anak bungsunya rasakan saat itu. Ah, sekali lagi. Selamat tinggal teman! Selamat tinggal Padang!

***

13 April 2002 - 13 April 2012.

Tepat 10 tahun remaja berkacamata tadi meninggalkan tanah Minang. Ah, sekalipun dianggap berlebihan, ia tetap kekeuh mengatakan Padang; kota dengan sentero kenangan.

Betapa ia masih mengingat bagaimana cerita-cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya; Komplek Anggaran Surau Gadang, di sekolah pertamanya di sana; MIN Gunung Pangilun, di sekolah terakhirnya: MTsN Model Gunung Pangilun Padang, di rumah teman-temannya; Siteba, Tunggul Hitam, dan sebagainya, di lokasi-lokasi wisata; Cagar Alam Malibo Anai, Lembah Anai, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Kelok 44, Danau Maninjau, Danau Singkarang, Pantai Painan, dan sebagainya.. Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang ia dapatkan selama hampir 3 tahun menetap di tanah dengan aliran materialisme itu.

Ia hanya tidak bisa lupa, karena di sana ia rasakan apa yang namanya kenyamanan. Baik itu di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan tempat ia meraih pendidikan. Kenyamanan yang sedikit berbeda dengan yang dirasakan di tanah kelahirannya. Itu bisa dibuktikan dengan bagaimana ia bisa lancar berbahasa Minang daripada bahasa daerah asalnya sendiri. Aneh memang, 3 tahun di tanah Minang vs seluruh tahun yang dihabiskan di tanah rencong.

Remaja berkacamata yang sekarang ini semakin dewasa namun masih berkacamata itu rindu kota Padang. Ia ingin pulang, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, mengunjungi kembali bangunan sekolah dan tempat-tempat kenangan lainnya, dan melanjutkan petualangan di sana. Itu targetnya tahun ini. Semoga!

Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, January 5, 2012

Baiklah. Walaupun seharusnya dan sebaiknya setiap kejadian di tahun terdahulu dan resolusi ataupun impian di tahun depannya dirangkum pada tahun Hijriah (tahun umat Muslim yang sebenarnya), tidak ada salahnya melakukan itu untuk tahun Masehi, toh, kehidupan normal memanglah berpaku padanya.

Serentetan kenangan, moment, ataupun itu ada baiknya dituliskan, agar kita bisa tetap mengingat, lantas dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Tahun 2011, ini tahun yang awalnya biasa saja, tapi setelah menjalani ke-360-an harinya, aku sadar, begitu banyak kejadian-kejadian tak terduga, kejadian-kejadian penting dan kejadian-kejadian yang cukup pantas untuk selalu dikenang. Apa saja? Here we go:


  1. Math Geler on Vacation

Math Geler itu singkatan untuk kelas kami, yaitu Matematika Genap Reguler (2007). Jalan-jalan di 2011 ini merupakan kisah jalan-jalan yang ketiga kalinya (dan sepertinya yang terakhir) untuk kelas kami, tapi, bagiku suasana jalan-jalan ke Wisata Irigasi Brayeung kali ini merupakan yang paling seru dan menyenangkan jika dibandingkan dengan suasana jalan-jalan sebelumnya. Eaaa. (6 Februari 2011)
  1. Ngandroid

Penting? Haha, iya! Bisa membeli sebuah hape android dari hasil usaha dan tabungan sendiri itu se-su-a-tu. Dan kalian tahu kawan? Memasuki dunia 'ngandroid' itu artinya memasuki kehidupan baru dengan ilmu pengetahuan dan teman-teman yang baru pula. Banyak ilmu baru yang aku dapatkan sejak ngandroid. Sengaja maupun tidak sengaja. Dan tentu saja, ngandroid membuatku semakin mencintai, mengerti dan terus penasaran (mencari tahu lebih dalam dan lebih banyak lagi) akan yang namanya IT (ah, jadi nyesal dulu nggak ambil jurusan IT #eh). Seperti kata pepatah:

"Rajin ngandroid pangkal pandai". (entah kata siapa). (Februari 2011).

  1. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
Yup, bagi yang kuliah di bidang pendidikan pastilah tidak asing dengan 3 huruf itu. PPL. Ini salah satu mata kuliah--selain skripsi--yang paling aku takuti dan hindari. Kenapa? Karena sejauh kuliah, aku belum pernah mendengar ada kakak/abang angkatan yang menyatakan bahwa PPL itu menyenangkan. Semuanya mengeluh, tidak suka. Dan aku pun ikut tersabotase karenanya.

But the show must go on. Semester 8 pun tiba, mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, PPL harus kupilih ke dalam salah satu mata kuliah di semester itu. Fiuh. Tak terungkapkan lagi bagaimana takut dan khawatirnya aku akan perjalanan PPL itu. Apalagi ketika tahu bahwa sekolah tempat aku mengajar adalah termasuk salah satu sekolah dengan siswa terparah (berdasarkan cerita kawan-kawan).

Tapi, kalian tahu saudara-saudara? Setelah menjalaninya, dapat kusimpulkan, PPL itu menyenangkan! Yah, rasa lelah karena mengajar 24 jam seminggu, kesal terhadap perilaku siswa yang kadang kelewatan nakalnya, ataupun konslet dengan kawan sekelompok itu pastilah ada, tapi setidaknya, hal-hal menyenangkan di sekolah jauh lebih banyak daripada hal-hal tak enak yang tak seberapa mana itu.

PPL is fun! Dan kenangan perjuangan bersama 12 kawan-kawan senasib serta senyuman tulus dari siswa-siswa kesayangan tidak akan terlupa begitu saja. (18 Februari - 18 Juni 2011).
  1. Seminar proposal skripsi
Nah, ini juga menjadi salah satu kejadian yang paling berharga di tahun 2011 silam. Kenapa? Karena seminar proposal merupakan salah satu langkah awal terpenting menuju pembuatan tugas akhir, skripsi. Dan tentu saja, seminar proposal itu sakral walaupun banyak orang yang melecehkan kemudahannya. (15 Juli 2011).
  1. Buku Antologi perdana akhirnya diterbitkan!
Senangnya luar biasa. Ini buku antologi Flash Fiction perdana (dan semoga ada yang selanjutnya). Sebelumnya ada yang mengadakan lomba menulis FF, dan Alhamdulillah naskah sederhanaku lolos. Tapi sayangnya saudara-saudara, di cetakan perdana buku ini, naskah dan nama yang sangat aku harapkan di buku ini tidak ada! Naskahku tidak dimuat karena kesalahan dan ketidaktelitian pihak penyelenggara lomba dan penerbit. Namun, mereka menjanjikan akan memperbaikinya di cetakan kedua nanti. Semoga ya. Karena aku masih berharap namaku hadir di sebuah buku. Amin. (Agustus 2011).
  1. Penelitian (Back to SMP Negeri 10 Banda Aceh)
Setelah lebih dari sebulan seminar proposal skripsi selesai terlaksana, sekarang giliran langkah selanjutnya, yaitu penelitian. Tentu saja, sesuai judul skripsi--penerapan model pembelajaran--penelitian ini dilaksanakan di sekolah dengan cara menerapkan model pembelajaran (NHT dan STAD) pada kedua kelas yang terpilih menjadi sampel. Well, yang paling bikin deg-degan dari penelitian ini adalah mengajar. Sudah hampir 4 bulan aku tidak pernah mengajar lagi setelah PPL selesai, dan saat penelitian aku harus kembali mengajar, di kelas dengan siswa-siswa yang berbeda dengan siswaku sebelumnya. Alhamdulillah, secara keseluruhan penelitian skripsi ini berjalan cukup lancar walaupun tidak dapat dipungkiri, banyak kendala-kendala tertentu yang muncul selama penelitian tersebut, but so far, semuanya bisa teratasi dan akhirnya penelitian tersebut pun selesai dilaksanakan. (September 2011).
  1. Ayah Bunda berangkat Haji
Akhirnya, setelah menunggu antrian berangkat beberapa tahun, tiba juga kesempatan Ayah dan Bunda berangkat ke Tanah Suci Mekkah, melaksanakan panggilan Allah, rukun Islam kelima. Alhamdulillah. (Oktober - November 2011).
  1. Penulisan skripsi
Ah, tak dapat dilukiskan dengan kuas atau digambarkan dengan kata-kata lah gimana proses penulisan skripsi seteleh penelitian. Terkadang jalannya mulus, namun sering juga tersendat-sendat di tengah perjalanannya. Faktor-faktor penentu sukses tidaknya penulisan skripsi sebenarnya ada banyak sekali, namun beberapa yang saya rasakan di antaranya: Diri sendiri (malas, terlalu mengikuti mood, kurang teliti, dan sebagainya), Dosen Pembimbing (yah, kalian pasti tahu lah, mood dan kesibukan beliau juga sangat berpengaruh kan?), Referensi (nah, yang ini nih yang sering bikin bad mood. Susah amat dicarinya!), dan apa lagi ya? Ah, aku lupa! Hahaha. (Oktober - Desember 2011).
  1. Ujian TOEFL dan Ujian Komprehensif
Berhubung di jurusan kami nilai kelulusan TOEFL tidak dibatasi (alias tidak mengikuti standar yang berlaku di Unsyiah, yaitu 450) dan nilai yang aku dapatkan sedikit di bawah standar tersebut (artinya sebenarnya belum lulus), aku merasa tidak perlu terlalu memikirkan ujian yang satu ini, alias aman. Lewat. Namun, yang paling meresahkan itu adalah ujian komprehensif (ujian tes kemampuan dasar). Nah, di jurusan kami, inilah salah satu syarat sidang tersusah, karena nilai standar kelulusan ujian ini yaitu 75, sedikit lebih tinggi daripada jurusan lainnya (yang rata-rata hanya 60). Banyak yang tertunda sidang karena belum lulus ujian komprehensif ini. Aku juga. Eits, tapi saat belum lulus ujian itu skripsiku belum di-ACC sih, hehehe. Tapi Alhamdulillah, setelah ikut satu kali bimbingan, di ujian kedua aku lulus. Dan jalan menuju sidang skripsi rasanya semakin terbuka lebar. (Oktober dan November 2011).

  1. Ujian Sidang Sarjana (SIDANG SKRIPSI!)

Inilah yang paling ditunggu-tunggu saudara-saudara. Akhirnya. Ya! Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana sensasionalnya ujian akhir yang satu ini. Thanks God, padahal di awal bulan Desember lalu sempat pesimis tidak bisa sidang dalam waktu dekat dan terdaftar menjadi salah satu mahasiswa yang akan mengikuti Yudisium/Wisuda periode November-Januari. Tapi Allah tahu yang terbaik. Jalan penulisan skripsi ini rasanya selalu dimudahkan oleh-Nya. Alhamdulillah. Dan Alhamdulillah lagi, proses sidang pun berjalan lancar, tidak ada hambatan atau kesulitan yang berarti. Lagi-lagi dimudahkan! Dan akhirnya, Selasa, 27 Desember 2011 aku resmi bukan berstatus sebagai mahasiswa lagi dan mendapat gelar S.Pd (secara tidak resmi). Lega. Merdeka! Tapi, tetap ingat akan pesan dari Ketua Jurusan saat pengumuman lulus tidaknya sidang:
Kelulusan ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari segalanya. Ini awal menuju kehidupan dan persaingan kalian yang sebenarnya.
*Terima Kasih Pak, akan saya ingat selalu :)

Demikianlah, yang di atas itu beberapa dari begitu banyaknya pengalaman berharga yang terjadi selama tahun 2011 ada. Terima kasih 2011 atas semua kenangan indahnya.

1/05/2012 01:51:00 AM Desi YuLiana

Baiklah. Walaupun seharusnya dan sebaiknya setiap kejadian di tahun terdahulu dan resolusi ataupun impian di tahun depannya dirangkum pada tahun Hijriah (tahun umat Muslim yang sebenarnya), tidak ada salahnya melakukan itu untuk tahun Masehi, toh, kehidupan normal memanglah berpaku padanya.

Serentetan kenangan, moment, ataupun itu ada baiknya dituliskan, agar kita bisa tetap mengingat, lantas dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Tahun 2011, ini tahun yang awalnya biasa saja, tapi setelah menjalani ke-360-an harinya, aku sadar, begitu banyak kejadian-kejadian tak terduga, kejadian-kejadian penting dan kejadian-kejadian yang cukup pantas untuk selalu dikenang. Apa saja? Here we go:


  1. Math Geler on Vacation

Math Geler itu singkatan untuk kelas kami, yaitu Matematika Genap Reguler (2007). Jalan-jalan di 2011 ini merupakan kisah jalan-jalan yang ketiga kalinya (dan sepertinya yang terakhir) untuk kelas kami, tapi, bagiku suasana jalan-jalan ke Wisata Irigasi Brayeung kali ini merupakan yang paling seru dan menyenangkan jika dibandingkan dengan suasana jalan-jalan sebelumnya. Eaaa. (6 Februari 2011)
  1. Ngandroid

Penting? Haha, iya! Bisa membeli sebuah hape android dari hasil usaha dan tabungan sendiri itu se-su-a-tu. Dan kalian tahu kawan? Memasuki dunia 'ngandroid' itu artinya memasuki kehidupan baru dengan ilmu pengetahuan dan teman-teman yang baru pula. Banyak ilmu baru yang aku dapatkan sejak ngandroid. Sengaja maupun tidak sengaja. Dan tentu saja, ngandroid membuatku semakin mencintai, mengerti dan terus penasaran (mencari tahu lebih dalam dan lebih banyak lagi) akan yang namanya IT (ah, jadi nyesal dulu nggak ambil jurusan IT #eh). Seperti kata pepatah:

"Rajin ngandroid pangkal pandai". (entah kata siapa). (Februari 2011).

  1. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
Yup, bagi yang kuliah di bidang pendidikan pastilah tidak asing dengan 3 huruf itu. PPL. Ini salah satu mata kuliah--selain skripsi--yang paling aku takuti dan hindari. Kenapa? Karena sejauh kuliah, aku belum pernah mendengar ada kakak/abang angkatan yang menyatakan bahwa PPL itu menyenangkan. Semuanya mengeluh, tidak suka. Dan aku pun ikut tersabotase karenanya.

But the show must go on. Semester 8 pun tiba, mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, PPL harus kupilih ke dalam salah satu mata kuliah di semester itu. Fiuh. Tak terungkapkan lagi bagaimana takut dan khawatirnya aku akan perjalanan PPL itu. Apalagi ketika tahu bahwa sekolah tempat aku mengajar adalah termasuk salah satu sekolah dengan siswa terparah (berdasarkan cerita kawan-kawan).

Tapi, kalian tahu saudara-saudara? Setelah menjalaninya, dapat kusimpulkan, PPL itu menyenangkan! Yah, rasa lelah karena mengajar 24 jam seminggu, kesal terhadap perilaku siswa yang kadang kelewatan nakalnya, ataupun konslet dengan kawan sekelompok itu pastilah ada, tapi setidaknya, hal-hal menyenangkan di sekolah jauh lebih banyak daripada hal-hal tak enak yang tak seberapa mana itu.

PPL is fun! Dan kenangan perjuangan bersama 12 kawan-kawan senasib serta senyuman tulus dari siswa-siswa kesayangan tidak akan terlupa begitu saja. (18 Februari - 18 Juni 2011).
  1. Seminar proposal skripsi
Nah, ini juga menjadi salah satu kejadian yang paling berharga di tahun 2011 silam. Kenapa? Karena seminar proposal merupakan salah satu langkah awal terpenting menuju pembuatan tugas akhir, skripsi. Dan tentu saja, seminar proposal itu sakral walaupun banyak orang yang melecehkan kemudahannya. (15 Juli 2011).
  1. Buku Antologi perdana akhirnya diterbitkan!
Senangnya luar biasa. Ini buku antologi Flash Fiction perdana (dan semoga ada yang selanjutnya). Sebelumnya ada yang mengadakan lomba menulis FF, dan Alhamdulillah naskah sederhanaku lolos. Tapi sayangnya saudara-saudara, di cetakan perdana buku ini, naskah dan nama yang sangat aku harapkan di buku ini tidak ada! Naskahku tidak dimuat karena kesalahan dan ketidaktelitian pihak penyelenggara lomba dan penerbit. Namun, mereka menjanjikan akan memperbaikinya di cetakan kedua nanti. Semoga ya. Karena aku masih berharap namaku hadir di sebuah buku. Amin. (Agustus 2011).
  1. Penelitian (Back to SMP Negeri 10 Banda Aceh)
Setelah lebih dari sebulan seminar proposal skripsi selesai terlaksana, sekarang giliran langkah selanjutnya, yaitu penelitian. Tentu saja, sesuai judul skripsi--penerapan model pembelajaran--penelitian ini dilaksanakan di sekolah dengan cara menerapkan model pembelajaran (NHT dan STAD) pada kedua kelas yang terpilih menjadi sampel. Well, yang paling bikin deg-degan dari penelitian ini adalah mengajar. Sudah hampir 4 bulan aku tidak pernah mengajar lagi setelah PPL selesai, dan saat penelitian aku harus kembali mengajar, di kelas dengan siswa-siswa yang berbeda dengan siswaku sebelumnya. Alhamdulillah, secara keseluruhan penelitian skripsi ini berjalan cukup lancar walaupun tidak dapat dipungkiri, banyak kendala-kendala tertentu yang muncul selama penelitian tersebut, but so far, semuanya bisa teratasi dan akhirnya penelitian tersebut pun selesai dilaksanakan. (September 2011).
  1. Ayah Bunda berangkat Haji
Akhirnya, setelah menunggu antrian berangkat beberapa tahun, tiba juga kesempatan Ayah dan Bunda berangkat ke Tanah Suci Mekkah, melaksanakan panggilan Allah, rukun Islam kelima. Alhamdulillah. (Oktober - November 2011).
  1. Penulisan skripsi
Ah, tak dapat dilukiskan dengan kuas atau digambarkan dengan kata-kata lah gimana proses penulisan skripsi seteleh penelitian. Terkadang jalannya mulus, namun sering juga tersendat-sendat di tengah perjalanannya. Faktor-faktor penentu sukses tidaknya penulisan skripsi sebenarnya ada banyak sekali, namun beberapa yang saya rasakan di antaranya: Diri sendiri (malas, terlalu mengikuti mood, kurang teliti, dan sebagainya), Dosen Pembimbing (yah, kalian pasti tahu lah, mood dan kesibukan beliau juga sangat berpengaruh kan?), Referensi (nah, yang ini nih yang sering bikin bad mood. Susah amat dicarinya!), dan apa lagi ya? Ah, aku lupa! Hahaha. (Oktober - Desember 2011).
  1. Ujian TOEFL dan Ujian Komprehensif
Berhubung di jurusan kami nilai kelulusan TOEFL tidak dibatasi (alias tidak mengikuti standar yang berlaku di Unsyiah, yaitu 450) dan nilai yang aku dapatkan sedikit di bawah standar tersebut (artinya sebenarnya belum lulus), aku merasa tidak perlu terlalu memikirkan ujian yang satu ini, alias aman. Lewat. Namun, yang paling meresahkan itu adalah ujian komprehensif (ujian tes kemampuan dasar). Nah, di jurusan kami, inilah salah satu syarat sidang tersusah, karena nilai standar kelulusan ujian ini yaitu 75, sedikit lebih tinggi daripada jurusan lainnya (yang rata-rata hanya 60). Banyak yang tertunda sidang karena belum lulus ujian komprehensif ini. Aku juga. Eits, tapi saat belum lulus ujian itu skripsiku belum di-ACC sih, hehehe. Tapi Alhamdulillah, setelah ikut satu kali bimbingan, di ujian kedua aku lulus. Dan jalan menuju sidang skripsi rasanya semakin terbuka lebar. (Oktober dan November 2011).

  1. Ujian Sidang Sarjana (SIDANG SKRIPSI!)

Inilah yang paling ditunggu-tunggu saudara-saudara. Akhirnya. Ya! Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana sensasionalnya ujian akhir yang satu ini. Thanks God, padahal di awal bulan Desember lalu sempat pesimis tidak bisa sidang dalam waktu dekat dan terdaftar menjadi salah satu mahasiswa yang akan mengikuti Yudisium/Wisuda periode November-Januari. Tapi Allah tahu yang terbaik. Jalan penulisan skripsi ini rasanya selalu dimudahkan oleh-Nya. Alhamdulillah. Dan Alhamdulillah lagi, proses sidang pun berjalan lancar, tidak ada hambatan atau kesulitan yang berarti. Lagi-lagi dimudahkan! Dan akhirnya, Selasa, 27 Desember 2011 aku resmi bukan berstatus sebagai mahasiswa lagi dan mendapat gelar S.Pd (secara tidak resmi). Lega. Merdeka! Tapi, tetap ingat akan pesan dari Ketua Jurusan saat pengumuman lulus tidaknya sidang:
Kelulusan ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari segalanya. Ini awal menuju kehidupan dan persaingan kalian yang sebenarnya.
*Terima Kasih Pak, akan saya ingat selalu :)

Demikianlah, yang di atas itu beberapa dari begitu banyaknya pengalaman berharga yang terjadi selama tahun 2011 ada. Terima kasih 2011 atas semua kenangan indahnya.

Tuesday, January 3, 2012

4 Desember 1999, itu hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah Minang. Kota ini cukup unik. Hampir setiap gedung/bangunan-bangunan pentingnya beratap khas dengan ujung runcingnya, ciri khas Rumah Minang-Sumatera Barat. Dan sepertinya, aku punya ikatan dan ketertarikan yang cukup kuat akan kota serta setiap kenangan bersama para sahabat di kota ini. Hal itu terbukti malam ini, air mata tumpah saat mengenang kepergian--selamanya--seorang sahabat dan mendadak merindukan para sahabat lainnya di sana, khususnya sahabat seperjuangan di MIN Gunung Pangilun tamatan 2001.

Ah, sekolah itu. Tak terhitung betapa banyaknya yang bisa dikenang dan tak terlupa di sana. Kejadian dan pengalaman menyenangkan, ataupun sebaliknya. Semuanya ada. Guru-guru, kawan-kawan, adik-adik angkatan, bangunan sekolah yang sederhana, senam pagi, praktek shalat jenazah setiap jumat pagi (dengan baju seragam berwarna hijau), kantin sekolah, kegiatan pesantren kilat, rebana, lomba bidang studi (Aku, Winda, Yudi dan Alm. Renchi), lomba masak di kelas, acara perpisahan, sampai banjir yang terkadang melanda, aku masih mengingatnya. Ah, aku rindu! Sangat rindu!

Masih terbayang betapa hebohnya teman-teman di kelas VA saat kedatangan seorang siswa baru tak berkerudung* (*di sekolah itu siswa perempuan kelas V-VI sudah diwajibkan berseragam panjang lengkap dengan jilbabnya) dari Aceh--yang sedang konflik hingga terjadi perang. Sambutan hangat dan bersahabat aku dapatkan dari sekitar 25 orang siswa di kelas tersebut, hingga tak perlu waktu lama untukku merasa nyaman di sana karenanya.

Aku senang! Sangat senang!
Inilah kawan-kawan baruku, di kota yang masih asing bagi aku dan tentu saja keluargaku--saat itu.

Baru satu hari sekolah, keesokan harinya liburan panjang bulan Ramadhan. Sejenis aneh rasanya, tapi tak apa. Aku menikmati masa-masa liburan untuk mempersiapkan diri belajar di sekolah dengan lingkungan baru, serta yang paling penting: Seragam merah putih panjang dan jilbabnya.

Satu bulan berlalu. Liburan selesai dan itu artinya tiba waktuku untuk kembali ke sekolah. Dan kau tahu, kawan? Hari itu kelas VA kembali kedatangan seorang siswa baru dari Aceh. Kalau aku datang dari Lhokseumawe, kawan baruku itu dari Takengon. Namanya Putri. Dan dialah yang akhirnya ku rasa jadi sahabat terdekatku di antara sahabat-sahabat dekat lainnya.

Tapi pastinya, mereka semua istimewa.

Selepas menamatkan MIN, kami memang tidak semuanya melanjutkan di sekolah yang sama, yaitu MTsN Model Gunung Pangilun. Namun, dari beberapa yang melanjutkan ke sana, hampir semuanya berkumpul di kelas yang sama; I-6. Dan di MTsN inilah aku rasakan persahabatan kami semakin erat. Hari-hari ku jalani dengan ceria, penuh tawa dan canda. Aku bahagia! Sangat bahagia! Aku semakin bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik seperti mereka.

Sampai akhirnya perpisahan itu tiba.

Ayahku kembali ditugaskan di kota Lhokseumawe. Dan itu artinya aku akan segera meninggalkan mereka dan kota Padang lengkap dengan semua pengalaman yang akan tercatat sebagai sebuah kenangan.

Ah, aku benci perpisahan!

Walaupun ku tahu, setiap pertemuan itu pastilah berujung pada perpisahan dan ini merupakan perpisahan sekolah ketiga yang aku alami selama 5 tahun terakhir (Meulaboh, Lhokseumawe, dan Padang).

12 April 2002. Aku pulang.

Namun persahabatan, silaturahmi dan komunikasi kami masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku masih sering dikabarkan jika ada kegiatan (reuni dan sebagainya) dan keadaan mereka di sana, baik itu sahabat di MIN maupun MTsN.

Dan secara tak terduga, hari minggu lalu sebuah pesan singkat berisi kabar duka ku terima dari mereka. Seorang sahabat akhirnya pergi duluan ke hadapan-Nya. Dialah Renchi, siswa kelas B yang ku kenal saat mengikuti lomba bidang studi bersama dua orang sahabat lainnya. Walaupun, tak begitu dekat, tapi aku cukup ingat karena namanya yang unik dan berbeda dari yang lainnya.

Para sahabat mengabarkan mereka berkunjung ke rumah duka, dan aku cukup merasakan bagaimana sedihnya keadaan di sana. Ah, aku ingin ke sana..

(Selamat jalan Renchi, semoga setiap amalan setia menemanimu di alam sana. Kami yang masih bertahan di sini akan selalu merindukanmu ~ )

*Karena berita inilah, aku kembali teringat Padang. Serentetan kenangan di sekolah sederhana itu diputar ulang. Dan aku ingin segera terbang, berharap bisa menapakkan kaki untuk yang kedua kali di tanah Minang, lantas mencoba mengunjungi lagi tempat-tempat terkenang agar semua terasa berulang.

Aku rindu! Sangat rindu!

Ah, Padang! Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mereka, semua yang pernah hadir dan masih melekat erat dalam pikiran. *semoga*

Published with Blogger-droid v2.0.2
1/03/2012 03:37:00 PM Desi YuLiana
4 Desember 1999, itu hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah Minang. Kota ini cukup unik. Hampir setiap gedung/bangunan-bangunan pentingnya beratap khas dengan ujung runcingnya, ciri khas Rumah Minang-Sumatera Barat. Dan sepertinya, aku punya ikatan dan ketertarikan yang cukup kuat akan kota serta setiap kenangan bersama para sahabat di kota ini. Hal itu terbukti malam ini, air mata tumpah saat mengenang kepergian--selamanya--seorang sahabat dan mendadak merindukan para sahabat lainnya di sana, khususnya sahabat seperjuangan di MIN Gunung Pangilun tamatan 2001.

Ah, sekolah itu. Tak terhitung betapa banyaknya yang bisa dikenang dan tak terlupa di sana. Kejadian dan pengalaman menyenangkan, ataupun sebaliknya. Semuanya ada. Guru-guru, kawan-kawan, adik-adik angkatan, bangunan sekolah yang sederhana, senam pagi, praktek shalat jenazah setiap jumat pagi (dengan baju seragam berwarna hijau), kantin sekolah, kegiatan pesantren kilat, rebana, lomba bidang studi (Aku, Winda, Yudi dan Alm. Renchi), lomba masak di kelas, acara perpisahan, sampai banjir yang terkadang melanda, aku masih mengingatnya. Ah, aku rindu! Sangat rindu!

Masih terbayang betapa hebohnya teman-teman di kelas VA saat kedatangan seorang siswa baru tak berkerudung* (*di sekolah itu siswa perempuan kelas V-VI sudah diwajibkan berseragam panjang lengkap dengan jilbabnya) dari Aceh--yang sedang konflik hingga terjadi perang. Sambutan hangat dan bersahabat aku dapatkan dari sekitar 25 orang siswa di kelas tersebut, hingga tak perlu waktu lama untukku merasa nyaman di sana karenanya.

Aku senang! Sangat senang!
Inilah kawan-kawan baruku, di kota yang masih asing bagi aku dan tentu saja keluargaku--saat itu.

Baru satu hari sekolah, keesokan harinya liburan panjang bulan Ramadhan. Sejenis aneh rasanya, tapi tak apa. Aku menikmati masa-masa liburan untuk mempersiapkan diri belajar di sekolah dengan lingkungan baru, serta yang paling penting: Seragam merah putih panjang dan jilbabnya.

Satu bulan berlalu. Liburan selesai dan itu artinya tiba waktuku untuk kembali ke sekolah. Dan kau tahu, kawan? Hari itu kelas VA kembali kedatangan seorang siswa baru dari Aceh. Kalau aku datang dari Lhokseumawe, kawan baruku itu dari Takengon. Namanya Putri. Dan dialah yang akhirnya ku rasa jadi sahabat terdekatku di antara sahabat-sahabat dekat lainnya.

Tapi pastinya, mereka semua istimewa.

Selepas menamatkan MIN, kami memang tidak semuanya melanjutkan di sekolah yang sama, yaitu MTsN Model Gunung Pangilun. Namun, dari beberapa yang melanjutkan ke sana, hampir semuanya berkumpul di kelas yang sama; I-6. Dan di MTsN inilah aku rasakan persahabatan kami semakin erat. Hari-hari ku jalani dengan ceria, penuh tawa dan canda. Aku bahagia! Sangat bahagia! Aku semakin bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik seperti mereka.

Sampai akhirnya perpisahan itu tiba.

Ayahku kembali ditugaskan di kota Lhokseumawe. Dan itu artinya aku akan segera meninggalkan mereka dan kota Padang lengkap dengan semua pengalaman yang akan tercatat sebagai sebuah kenangan.

Ah, aku benci perpisahan!

Walaupun ku tahu, setiap pertemuan itu pastilah berujung pada perpisahan dan ini merupakan perpisahan sekolah ketiga yang aku alami selama 5 tahun terakhir (Meulaboh, Lhokseumawe, dan Padang).

12 April 2002. Aku pulang.

Namun persahabatan, silaturahmi dan komunikasi kami masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku masih sering dikabarkan jika ada kegiatan (reuni dan sebagainya) dan keadaan mereka di sana, baik itu sahabat di MIN maupun MTsN.

Dan secara tak terduga, hari minggu lalu sebuah pesan singkat berisi kabar duka ku terima dari mereka. Seorang sahabat akhirnya pergi duluan ke hadapan-Nya. Dialah Renchi, siswa kelas B yang ku kenal saat mengikuti lomba bidang studi bersama dua orang sahabat lainnya. Walaupun, tak begitu dekat, tapi aku cukup ingat karena namanya yang unik dan berbeda dari yang lainnya.

Para sahabat mengabarkan mereka berkunjung ke rumah duka, dan aku cukup merasakan bagaimana sedihnya keadaan di sana. Ah, aku ingin ke sana..

(Selamat jalan Renchi, semoga setiap amalan setia menemanimu di alam sana. Kami yang masih bertahan di sini akan selalu merindukanmu ~ )

*Karena berita inilah, aku kembali teringat Padang. Serentetan kenangan di sekolah sederhana itu diputar ulang. Dan aku ingin segera terbang, berharap bisa menapakkan kaki untuk yang kedua kali di tanah Minang, lantas mencoba mengunjungi lagi tempat-tempat terkenang agar semua terasa berulang.

Aku rindu! Sangat rindu!

Ah, Padang! Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mereka, semua yang pernah hadir dan masih melekat erat dalam pikiran. *semoga*

Published with Blogger-droid v2.0.2