Showing posts with label Merantau. Show all posts
Showing posts with label Merantau. Show all posts

Saturday, March 7, 2015

Enggak pernah kebayang dalam pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani profesi ini.

But.. here I am. Being a fulltime housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya (kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!

Setelah dijalani selama dua bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener! Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci piring aja gak bisa! Nah lho!

Saat kesabaran menghadapi Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:

“Ngapain kamu di sini, hanya di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”

“Pulang aja gih ke Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”

“Kawan-kawanmu di sana udah pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”

Lebih kurang demikianlah bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.

Ah, rasanya lemah sekali jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan. Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah. Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya berbeda.

Sedang berjuang untuk mereka
Dan sebenarnya jadi ibu rumah tangga itu keren lho. Ibu rumah tangga itu pemimpin atas rumahnya. Pemimpin atas anak-anaknya. Pemimpin atas kebutuhan suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga itu yang paling diperlukan dalam sebuah keluarga. Dan menjadi ibu rumah tangga yang professional itu sungguh gak mudah. Seorang istri harus punya pendidikan yang baik, sikap dan karakter yang baik, kesabaran, kedisiplinan, ketelitian, dan jiwa yang kuat untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Gak gampang! Serius!

Hanya berdiam di rumah sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah! Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi, menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi, menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa seluruh penghuni rumah pun bersih.

Seorang Ibu juga punya kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya, menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung halaman dulu.

Sekarang berbeda. Satu tahun yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan. 

This is my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!

*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu, dan kesabaranmu itu luar biasa! ❤

3/07/2015 01:14:00 AM Desi YuLiana
Enggak pernah kebayang dalam pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani profesi ini.

But.. here I am. Being a fulltime housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya (kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!

Setelah dijalani selama dua bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener! Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci piring aja gak bisa! Nah lho!

Saat kesabaran menghadapi Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:

“Ngapain kamu di sini, hanya di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”

“Pulang aja gih ke Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”

“Kawan-kawanmu di sana udah pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”

Lebih kurang demikianlah bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.

Ah, rasanya lemah sekali jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan. Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah. Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya berbeda.

Sedang berjuang untuk mereka
Dan sebenarnya jadi ibu rumah tangga itu keren lho. Ibu rumah tangga itu pemimpin atas rumahnya. Pemimpin atas anak-anaknya. Pemimpin atas kebutuhan suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga itu yang paling diperlukan dalam sebuah keluarga. Dan menjadi ibu rumah tangga yang professional itu sungguh gak mudah. Seorang istri harus punya pendidikan yang baik, sikap dan karakter yang baik, kesabaran, kedisiplinan, ketelitian, dan jiwa yang kuat untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Gak gampang! Serius!

Hanya berdiam di rumah sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah! Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi, menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi, menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa seluruh penghuni rumah pun bersih.

Seorang Ibu juga punya kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya, menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung halaman dulu.

Sekarang berbeda. Satu tahun yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan. 

This is my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!

*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu, dan kesabaranmu itu luar biasa! ❤

Monday, February 2, 2015


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


- Imam Syafi'i -


Kalau tiap anak manusia ditanyakan tentang mimpinya satu persatu, jawabannya pasti tiap-tiap kita punya satu impian sederhana yang serupa; ke luar negeri. Alasannya beranekaragam. Ada yang memang doyan jalan-jalan, ada yang ingin melanjutkan pendidikan, ada yang ingin memupuk karir kerja, ada yang ingin mempelajari budaya, ada juga yang kadang menjadikan pendidikan sebagai modus untuk bisa jalan-jalan ke negeri tujuan #oops! , atau bahkan ada yang bener-bener serius pengen menjelajah dunia dengan satu alasan super duper klasik tapi tak bias; ingin menjelajahi ciptaan Allah, untuk kemudian direnungi begitu besar dan indahnya ciptaan-Nya itu (semoga yang ini menjadi salah satu alasan kita memutuskan ingin keluar negeri ya!).

Well, tak muluk-muluk, saya juga bermimpi untuk bisa meninggalkan jejak kaki saya di negeri luar, di negeri yang bahasanya bukan bahasa Indonesia, di negeri yang Islam bukan agama utama, di negeri yang adat-budaya-kebiasannya sangat berbeda dengan tanah air beta.

Pertanyaannya, ke negara mana impianmu itu?

Mekkah?
Ya, muslim mana sih yang gak mau ke tanah suci itu? Pasti. Tapi rasanya ke Mekkah itu bukan impian, melainkan sesuatu yang memang harus kita usahakan agar menjadi kenyataan. Bukan sekedar mimpi. Karena kita punya satu kewajiban yang harus kita laksanakan di negeri itu; ibadah haji. Jadi, mampu gak mampu, minimal kita udah berusaha nabung pelan-pelan untuk bisa berangkat haji ke tanah suci. Kita ada usaha pasti. Walaupun jalannya mungkin akan selambat si imut siput. Atau bahkan tidak jalan sama sekali. Bener kan?

So, I think, Mekkah, Madinah, Palestina, adalah negeri-negeri yang tidak perlu kita tuliskan di daftar negeri impian kita. Karena tiga tanah suci ini udah melekat erat di hati, lebih dari sekedar mimpi, tanpa perlu kita beri tahukan pada dunia bahwa kita benar-benar ingin ke sana. TIga tanah suci ini seringnya pun ‘hadir’ dalam doa kita, doa yang bunyi dan tujuannya berbeda jika dibandingkan dengan negeri-negeri lainnya.

Turki?
Ya. Negara ini juga menjadi salah satu negara yang saya ingin juga bisa menapakkan kaki di atas tanahnya, menghirup udara segarnya, menikmati bangunan-bangunan kuno klasik-indah bersejarahnya.

Gak berpanjang-panjang cerita, kawan-kawan dekat pasti udah tahu jawaban terakhir ini:
Jepang!
Bisa dibilang saya salah satu dari sekian banyaknya Indonesian yang Japan holics! Jatuh cinta pada negeri yang di atasnya berdiri Gunung Fuji ini. Kenapa Jepang? Ceritanya panjang. Yang jelas, salah satu alasan ‘bodoh’ kenapa pengen banget ke Jepang, karena ada bunga sakura #eaaaa. Gak juga ding! Tapi.. bener-bener kagum sama negara ini karena.. walaupun termasuk negara maju, dengan perkembangan teknologinya yang luar biasa, adat-budaya dan hal-hal tradisional masih dijaga di sana. Well, untuk hal ini jangan berkiblat berat ke kota Tokyo ya :p

Ya, Jepang punya sisi negatif, pasti itu. There are always two sides in everything. Bad side and good side. Tak usah ragu. Tapi negara yang bunga sakura masih setia bersemi di pohon-pohonnya ini kaya’nya banyak sisi positifnya deh. Pokoknya.. mau belajar di sana! Mau jalan-jalan di sana! Mau merenung di sana! Kabulkan ya Allah.. Aamiin.. #ngarep

Dan ternyata.. hari itu tiba. 

06 Januari 2015, untuk yang pertama kalinya dalam sejarah hidup Desi Yuliana (lebay), ia mendarat sempurna di luar Indonesia. Alhamdulillah. Walaupun itu bukan mendarat di negeri impian, the story of merantau has began. Namun, alasan keberangkatan ke negara luar kali ini tidak pernah tertulis dalam buku-buku harian; ikut suami! Hahaha. Biasanya kan tertulis.. lanjut master di Jepang atau yang paling ABG; jalan-jalan ke Korea. Nah, kali ini akhirnya bisa ke luar negeri, tapi bukan untuk sekolah dan jalan-jalan, melainkan untuk mengikuti suami yang sedang sekolah, di negeri gajah putih, negeri yang kata orang Aceh ‘meu khap khap’. Senang gak senang sih. Senang, akhirnya bisa merantau. Sedikit kurang senang, karena merantaunya bukan karena usaha sendiri, alias bukan dengan perjuangan sendiri, melainkan dengan perjuangan si suami. Walaupun pada akhirnya saat di sini betul-betul berjuang. Berjuang menjadi full time mother + housewife dengan modal peralatan dan pengalaman yang masih ala kadarnya #alahmaaaak.

Keputusan yang berat. Really a tough decision!
Memutuskan ikut suami tinggal di negeri orang dalam kondisi saya yang sedang berjuang menyelesaikan tesis saat itu means: makin telat selesai S2, kudu belajar masak (karena salah satu alasan suami ajak saya ke sini ya itu, biar bisa hemat di urusan konsumsi selama sekolah, LOL), dan juga kudu betah hanya tinggal di sepetak kamar setiap hari. Ini berat lho, saya yang notabenenya selama di kota asal sering jalan ke sana kemari, dengan rumah yang peralatannya Alhamdulillah serba lengkap, pengen ini ada, pengen itu ada, pengen makan udah ada yang masakin, kafe-kafe dengan berbagai makanan kesukaan berlimpah, stress jaga anak ada alternatif yang bisa bantuin (pengasuh atau ke daycare, oops), stress karena tesis ada kawan yang bisa diajak menggila dan sebagainya.

Memutuskan hidup bersama suami di negeri orang means meninggalkan semua kelengkapan hidup dan kenyamanan yang ada, kehilangan kehangatan keluarga dan kehebohan kawan-kawan tercinta, melupakan sejenak makanan-makanan yang buat sangat berselera, melepas segala corak titel ‘bisa hidup santai’ yang penuh dengan bantuan di ujung Sumatera sana dan memulai hampir semuanya dari awal lagi.

New life has began. Untuk yang pertama kalinya saya hidup jauh dari orang tua dan keluarga. Yup. Ini kehidupan baru. Suasana baru. Lingkungan baru. Cerita baru. Perjuangan baru. Merantau!

7 Januari 2015 malam, tiba di Chiang Rai. Kota yang terletak di sebelah utara Thailand. Daerah pegunungan. Sangat jauh dari hiruk pikuk kota panas Bangkok, sekitar 12 jam ke sana jika ditempuh dengan perjalanan darat. Kota yang adem ayem dan masih terasa kesan tradisionalnya. Chiang Rai menyambut saya dengan musim dingin yang brrrr.. dingin lah pastinya, walaupun tidak sampai ada salju. Kata kawan sih suhunya pernah sampai 4 derajat celcius kalau malam. Huwaaah, gak kuat mak! Sejenis weather shock di awal perjuangan. Sejak di sini saya jadi tidak penasaran lagi dengan si cantik salju, kaya’nya gak bakalan kuat deh nahan dinginnya.. brrrr.

Di Chiang Rai, karena tidak disediakan asrama untuk student yang membawa serta keluarga, kami akhirnya menyewa apartement (1 kamar,  1 kamar mandi, 1 dapur) yang bayarnya per-bulan. Nama apartmentnya Fathai, letaknya di luar kampus (kalau di dekat kampus harganya muahaaal), dan apartment atau kalau di Indo kita sebutnya kos-kosan ini dekat dengan pasar, jadi si istri yang baru belajar masak ini gampang kalau mau belanja, hehehe.

Kampus suami di sini namanya Mae Fah Luang University, salah satu kampus intenational di Thailand. Letaknya di perbukitan. Kesan pertama masuk ke kampus ini, suasananya serupa dengan komplek perumahan Arun di Lhokseumawe, but this is much better. Indah banget! Nyaman senyaman-nyamannya kalau lagi di kampus MFU ini. Design bangunannya, pohon-pohonnya, danaunya, segala suasananya bikin mudah jatuh cinta #eh. Mendadak pengen daftar jadi mahasiswanya, hush! Ingat tesis yang sedang kamu tinggalkan! Hahaha.

View depan dari Mae Fah Luang University

Well, cerita merantau di negeri meu khap khap sudah berjalan hampir sebulan lamanya. Naik turun stabilnya jiwa mulai terasa. Homesick sudah menyapa. Perasaan ingin pulang pun ada. Perasaan rindu dan gejolak ingin buat tesis anehnya datang tiba-tiba. Tapi Insya Allah semangat untuk belajar berjuang mandiri masih menyala kok. Tenang saudara-saudara.  Doakan saya kuat ya! Doakan masakan saya enak ya! Doakan saya dan suami bisa mulai bisnis di sini ya! Doakan rezeki kami lancar ya! Doakan.. Doakan yang terbaik untuk keluarga kami dan kita semua.


Fathai 8 Apartment, Nang Lae, Chiang Rai.
3 February 2015, 12:25 AM (when the boys are sleeping).



2/02/2015 10:26:00 AM Desi YuLiana

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


- Imam Syafi'i -


Kalau tiap anak manusia ditanyakan tentang mimpinya satu persatu, jawabannya pasti tiap-tiap kita punya satu impian sederhana yang serupa; ke luar negeri. Alasannya beranekaragam. Ada yang memang doyan jalan-jalan, ada yang ingin melanjutkan pendidikan, ada yang ingin memupuk karir kerja, ada yang ingin mempelajari budaya, ada juga yang kadang menjadikan pendidikan sebagai modus untuk bisa jalan-jalan ke negeri tujuan #oops! , atau bahkan ada yang bener-bener serius pengen menjelajah dunia dengan satu alasan super duper klasik tapi tak bias; ingin menjelajahi ciptaan Allah, untuk kemudian direnungi begitu besar dan indahnya ciptaan-Nya itu (semoga yang ini menjadi salah satu alasan kita memutuskan ingin keluar negeri ya!).

Well, tak muluk-muluk, saya juga bermimpi untuk bisa meninggalkan jejak kaki saya di negeri luar, di negeri yang bahasanya bukan bahasa Indonesia, di negeri yang Islam bukan agama utama, di negeri yang adat-budaya-kebiasannya sangat berbeda dengan tanah air beta.

Pertanyaannya, ke negara mana impianmu itu?

Mekkah?
Ya, muslim mana sih yang gak mau ke tanah suci itu? Pasti. Tapi rasanya ke Mekkah itu bukan impian, melainkan sesuatu yang memang harus kita usahakan agar menjadi kenyataan. Bukan sekedar mimpi. Karena kita punya satu kewajiban yang harus kita laksanakan di negeri itu; ibadah haji. Jadi, mampu gak mampu, minimal kita udah berusaha nabung pelan-pelan untuk bisa berangkat haji ke tanah suci. Kita ada usaha pasti. Walaupun jalannya mungkin akan selambat si imut siput. Atau bahkan tidak jalan sama sekali. Bener kan?

So, I think, Mekkah, Madinah, Palestina, adalah negeri-negeri yang tidak perlu kita tuliskan di daftar negeri impian kita. Karena tiga tanah suci ini udah melekat erat di hati, lebih dari sekedar mimpi, tanpa perlu kita beri tahukan pada dunia bahwa kita benar-benar ingin ke sana. TIga tanah suci ini seringnya pun ‘hadir’ dalam doa kita, doa yang bunyi dan tujuannya berbeda jika dibandingkan dengan negeri-negeri lainnya.

Turki?
Ya. Negara ini juga menjadi salah satu negara yang saya ingin juga bisa menapakkan kaki di atas tanahnya, menghirup udara segarnya, menikmati bangunan-bangunan kuno klasik-indah bersejarahnya.

Gak berpanjang-panjang cerita, kawan-kawan dekat pasti udah tahu jawaban terakhir ini:
Jepang!
Bisa dibilang saya salah satu dari sekian banyaknya Indonesian yang Japan holics! Jatuh cinta pada negeri yang di atasnya berdiri Gunung Fuji ini. Kenapa Jepang? Ceritanya panjang. Yang jelas, salah satu alasan ‘bodoh’ kenapa pengen banget ke Jepang, karena ada bunga sakura #eaaaa. Gak juga ding! Tapi.. bener-bener kagum sama negara ini karena.. walaupun termasuk negara maju, dengan perkembangan teknologinya yang luar biasa, adat-budaya dan hal-hal tradisional masih dijaga di sana. Well, untuk hal ini jangan berkiblat berat ke kota Tokyo ya :p

Ya, Jepang punya sisi negatif, pasti itu. There are always two sides in everything. Bad side and good side. Tak usah ragu. Tapi negara yang bunga sakura masih setia bersemi di pohon-pohonnya ini kaya’nya banyak sisi positifnya deh. Pokoknya.. mau belajar di sana! Mau jalan-jalan di sana! Mau merenung di sana! Kabulkan ya Allah.. Aamiin.. #ngarep

Dan ternyata.. hari itu tiba. 

06 Januari 2015, untuk yang pertama kalinya dalam sejarah hidup Desi Yuliana (lebay), ia mendarat sempurna di luar Indonesia. Alhamdulillah. Walaupun itu bukan mendarat di negeri impian, the story of merantau has began. Namun, alasan keberangkatan ke negara luar kali ini tidak pernah tertulis dalam buku-buku harian; ikut suami! Hahaha. Biasanya kan tertulis.. lanjut master di Jepang atau yang paling ABG; jalan-jalan ke Korea. Nah, kali ini akhirnya bisa ke luar negeri, tapi bukan untuk sekolah dan jalan-jalan, melainkan untuk mengikuti suami yang sedang sekolah, di negeri gajah putih, negeri yang kata orang Aceh ‘meu khap khap’. Senang gak senang sih. Senang, akhirnya bisa merantau. Sedikit kurang senang, karena merantaunya bukan karena usaha sendiri, alias bukan dengan perjuangan sendiri, melainkan dengan perjuangan si suami. Walaupun pada akhirnya saat di sini betul-betul berjuang. Berjuang menjadi full time mother + housewife dengan modal peralatan dan pengalaman yang masih ala kadarnya #alahmaaaak.

Keputusan yang berat. Really a tough decision!
Memutuskan ikut suami tinggal di negeri orang dalam kondisi saya yang sedang berjuang menyelesaikan tesis saat itu means: makin telat selesai S2, kudu belajar masak (karena salah satu alasan suami ajak saya ke sini ya itu, biar bisa hemat di urusan konsumsi selama sekolah, LOL), dan juga kudu betah hanya tinggal di sepetak kamar setiap hari. Ini berat lho, saya yang notabenenya selama di kota asal sering jalan ke sana kemari, dengan rumah yang peralatannya Alhamdulillah serba lengkap, pengen ini ada, pengen itu ada, pengen makan udah ada yang masakin, kafe-kafe dengan berbagai makanan kesukaan berlimpah, stress jaga anak ada alternatif yang bisa bantuin (pengasuh atau ke daycare, oops), stress karena tesis ada kawan yang bisa diajak menggila dan sebagainya.

Memutuskan hidup bersama suami di negeri orang means meninggalkan semua kelengkapan hidup dan kenyamanan yang ada, kehilangan kehangatan keluarga dan kehebohan kawan-kawan tercinta, melupakan sejenak makanan-makanan yang buat sangat berselera, melepas segala corak titel ‘bisa hidup santai’ yang penuh dengan bantuan di ujung Sumatera sana dan memulai hampir semuanya dari awal lagi.

New life has began. Untuk yang pertama kalinya saya hidup jauh dari orang tua dan keluarga. Yup. Ini kehidupan baru. Suasana baru. Lingkungan baru. Cerita baru. Perjuangan baru. Merantau!

7 Januari 2015 malam, tiba di Chiang Rai. Kota yang terletak di sebelah utara Thailand. Daerah pegunungan. Sangat jauh dari hiruk pikuk kota panas Bangkok, sekitar 12 jam ke sana jika ditempuh dengan perjalanan darat. Kota yang adem ayem dan masih terasa kesan tradisionalnya. Chiang Rai menyambut saya dengan musim dingin yang brrrr.. dingin lah pastinya, walaupun tidak sampai ada salju. Kata kawan sih suhunya pernah sampai 4 derajat celcius kalau malam. Huwaaah, gak kuat mak! Sejenis weather shock di awal perjuangan. Sejak di sini saya jadi tidak penasaran lagi dengan si cantik salju, kaya’nya gak bakalan kuat deh nahan dinginnya.. brrrr.

Di Chiang Rai, karena tidak disediakan asrama untuk student yang membawa serta keluarga, kami akhirnya menyewa apartement (1 kamar,  1 kamar mandi, 1 dapur) yang bayarnya per-bulan. Nama apartmentnya Fathai, letaknya di luar kampus (kalau di dekat kampus harganya muahaaal), dan apartment atau kalau di Indo kita sebutnya kos-kosan ini dekat dengan pasar, jadi si istri yang baru belajar masak ini gampang kalau mau belanja, hehehe.

Kampus suami di sini namanya Mae Fah Luang University, salah satu kampus intenational di Thailand. Letaknya di perbukitan. Kesan pertama masuk ke kampus ini, suasananya serupa dengan komplek perumahan Arun di Lhokseumawe, but this is much better. Indah banget! Nyaman senyaman-nyamannya kalau lagi di kampus MFU ini. Design bangunannya, pohon-pohonnya, danaunya, segala suasananya bikin mudah jatuh cinta #eh. Mendadak pengen daftar jadi mahasiswanya, hush! Ingat tesis yang sedang kamu tinggalkan! Hahaha.

View depan dari Mae Fah Luang University

Well, cerita merantau di negeri meu khap khap sudah berjalan hampir sebulan lamanya. Naik turun stabilnya jiwa mulai terasa. Homesick sudah menyapa. Perasaan ingin pulang pun ada. Perasaan rindu dan gejolak ingin buat tesis anehnya datang tiba-tiba. Tapi Insya Allah semangat untuk belajar berjuang mandiri masih menyala kok. Tenang saudara-saudara.  Doakan saya kuat ya! Doakan masakan saya enak ya! Doakan saya dan suami bisa mulai bisnis di sini ya! Doakan rezeki kami lancar ya! Doakan.. Doakan yang terbaik untuk keluarga kami dan kita semua.


Fathai 8 Apartment, Nang Lae, Chiang Rai.
3 February 2015, 12:25 AM (when the boys are sleeping).