Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, November 17, 2012

Oleh: Taufik Ismail



Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu,
serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku,
meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan,
lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria,
serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua,
serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam,
di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu
cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit
serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka,
penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta,
jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi
‘Allahu Akbar!’
dan
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara,
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila,
mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:
doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap
pejuang yang menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa bi-Llah!’ 

Palestina,
bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.



***

Published with Blogger-droid v2.0.6
11/17/2012 03:36:00 PM Desi YuLiana
Oleh: Taufik Ismail



Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu,
serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku,
meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan,
lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria,
serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua,
serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam,
di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu
cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit
serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka,
penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta,
jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi
‘Allahu Akbar!’
dan
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara,
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila,
mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:
doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap
pejuang yang menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa bi-Llah!’ 

Palestina,
bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.



***

Published with Blogger-droid v2.0.6

Thursday, September 27, 2012



Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



9/27/2012 06:45:00 PM Desi YuLiana


Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



Tuesday, September 11, 2012

Duhai mata..
Kau itu jendela utama aku menatap dunia.
Tetaplah bernyawa, hingga jantungku mengakhiri nadanya...

Duhai telinga..
Kau itu jalan utama aku menerima suara.
Tetaplah berirama, hingga paru-paruku tak lagi menampung udara...

Duhai mulut yang dibagi dua..
Kau itu pintu utama aku menyampaikan rasa.
Tetaplah terjaga, hingga otakku tak sanggup lagi mengatur raga...

Duhai jiwa..
Kau itu taman sementara manusia.
Tetaplah menghamba, hingga yang Kuasa mengajakmu pulang pada-Nya...

Duhai kita..
Siapkah jika harus meninggalkan dunia? ...


9/11/2012 07:42:00 PM Desi YuLiana
Duhai mata..
Kau itu jendela utama aku menatap dunia.
Tetaplah bernyawa, hingga jantungku mengakhiri nadanya...

Duhai telinga..
Kau itu jalan utama aku menerima suara.
Tetaplah berirama, hingga paru-paruku tak lagi menampung udara...

Duhai mulut yang dibagi dua..
Kau itu pintu utama aku menyampaikan rasa.
Tetaplah terjaga, hingga otakku tak sanggup lagi mengatur raga...

Duhai jiwa..
Kau itu taman sementara manusia.
Tetaplah menghamba, hingga yang Kuasa mengajakmu pulang pada-Nya...

Duhai kita..
Siapkah jika harus meninggalkan dunia? ...


Monday, June 11, 2012


Aku di sini
Kadang berdiam, kadang berdialog sendiri
dengan hati..

... dibiarkan berasumsi
Entah benar harus menanti
sampai waktu yang tak kunjung henti
Entah salah harus mencari
apa itu yang mereka sebut abadi..

Tiba pagi, saat sinar matahari sibuk menari
ada yang datang menghampiri, lantas membisikkan nadi
satu nama yang maknanya murni
Katanya dia setia mengiringi
sekalipun aku terus menjauh, berlari..

Jika setia, jabat tangannya maka hilang sepi.

Agaknya aku sering mengantisipasi
atau bahkan terlalu atensi
Berambai-ambai, bukan melambai
Sebab ini aksi demi mengabdi
Sehidup, semati, sejati..








*Kp. Ateuk, 12 Juni 2012; 05:30 am* 








Published with Blogger-droid v2.0.4

6/11/2012 05:00:00 PM Desi YuLiana

Aku di sini
Kadang berdiam, kadang berdialog sendiri
dengan hati..

... dibiarkan berasumsi
Entah benar harus menanti
sampai waktu yang tak kunjung henti
Entah salah harus mencari
apa itu yang mereka sebut abadi..

Tiba pagi, saat sinar matahari sibuk menari
ada yang datang menghampiri, lantas membisikkan nadi
satu nama yang maknanya murni
Katanya dia setia mengiringi
sekalipun aku terus menjauh, berlari..

Jika setia, jabat tangannya maka hilang sepi.

Agaknya aku sering mengantisipasi
atau bahkan terlalu atensi
Berambai-ambai, bukan melambai
Sebab ini aksi demi mengabdi
Sehidup, semati, sejati..








*Kp. Ateuk, 12 Juni 2012; 05:30 am* 








Published with Blogger-droid v2.0.4