Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Saturday, July 28, 2012

Hampir ±12 tahun lamanya pembangunan Masjid yang pada awalnya dibangun sebagai pusat pengkajian dan pengembangan Islam di Kota Lhokseumawe ini berjalan. Sayangnya, sampai tahun 2012 ini, pembangunannya masih belum rampung sepenuhnya lantaran terbentur masalah dana. Dialah Masjid Agung Islamic Center, bangunan Masjid calon 'ikon' keislaman baru di tanah Aceh. Dari desain dan beberapa bagian bangunannya yang telah jadi, Masjid ini tampaknya akan sangat indah (bahkan akan lebih indah dari Masjid kebanggaan warga Aceh--Masjid Raya Baiturrahman--IMHO) jika telah rampung 100% pembangunannnya. 

Sumber: acehfotografer
Sumber: acehtraffic

Di tahun 2002 lalu, saat baru kembali ke kota Lhokseumawe dari kota Padang, pembangunan Islamic Center ini (tampaknya) berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan. Namun, asupan dana pembangunan Islamic Center ini terhenti seiring pemekaran daerah kota Lhokseumawe dari kabupaten Aceh Utara (info lengkapnya bisa dibaca di Latar Belakang Pembangunan Islamic Center Kota Lhokseumawe). Sampai akhirnya, bangunan yang awalnya dibangun untuk dijadikan pusat studi Islam itu diubah haluannya menjadi sebuah Masjid. 

Sebagai warga Lhokseumawe yang sekarang menetap di Banda Aceh, saya tidak tahu kapan persisnya Masjid yang belum rampung sepenuhnya ini mulai dibuka dan dapat dipergunakan oleh masyarakat luas. Yang saya tahu melalui perjalanan pulang ke Lhokseumawe empat hari yang lalu, Masjid ini sudah mulai difungsikan sebagai mana Masjid-masjid lainnya. Selain pelaksanaan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, di sana juga sudah mulai dilaksanakan kegiatan pengajian untuk anak-anak setiap hari, kegiatan pesantren kilat Ramadhan, dan sebagainya. 

Penampakan Islamic Center dilihat dari waduk keliling kota Lhokseumawe. Sumber: ndicut.blogspot.com
Sumber: azhariblogger

Excited! Ya, saya cukup excited saat teman masa kecil saya memberi jawaban bahwa kami akan melaksanakan shalat Isya plus tarawih di Masjid Islamic Center, di malam pertama saya tiba di Lhokseumawe hari selasa lalu. Saya saat itu berasa seperti 'wong ndeso' yang tidak pernah pergi ke Masjid-masjid besar *halah!*. Yang pasti, itulah kali pertama saya menginjakkan kaki di bangunan yang sejak sepuluh tahun lalu membuat saya penasaran itu. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga merasakan shalat berjamaah di sana. 

Walaupun belum rampung sepenuhnya, kegiatan-kegiatan peribadatan di Masjid ini mulai berjalan normal. Tidak ada yang mempermasalahkan bagian atap, teras, dan parkiran Masjid yang masih bersemen kasar, ataupun dinding luar Masjid yang masih polos dengan semennya tanpa cat warna-warni. Hanya kubah, lantai di dalam Masjid, beberapa ruangan pengurus, tempat wudhu, dan beberapa bagian tangga saja yang sudah bagus dengan keramik penyusunnya. Taman dan halaman depan Masjid termasuk yang sudah selesai pembangunannya, meskipun masih belum banyak bunga-bunga ataupun pohon-pohon yang tertanam di sana. Selebihnya, yang akan kita lihat di lingkungan Masjid Islamic Center ini hanya hamparan semen-semen kasar yang tampak ditinggalkan oleh petugasnya. 

Sumber: skyscrapercity
Penampakan Masjid Islamic Center di malam hari. Sumber: skyscrapercity

Satu hal yang sedikit disayangkan, jamaah Isya plus tarawih di Masjid ini beberapa malam terakhir masih belum bisa dikatakan 'ramai'. Yah, kalau kita berhusnudzhan, mungkin banyak masyarakat yang masih lebih nyaman melaksanakan ibadah di Masjid terdekat dengan rumahnya. Tapi berhubung ini Masjid baru difungsikan, dan akan menjadi ikon baru di kota Lhokseumawe, maka enggak ada salahnya kan kita ikut meramaikan jamaah di dalamnya? Yuk, warga Lhokseumawe, jangan malu-malu datang ke sana #eh.

By the way, buat seluruh warga Aceh, rekan-rekan blogger atau siapapun kamu yang membaca postingan ini dan merasa peduli plus tergerak untuk membantu pembangunan Masjid ini, kalian bisa menyalurkan sedekah, infak, atau bantuan dalam bentuk dana untuk pembangunan Masjid Agung Islamic Center ini ke rekening Panitia Pembangunan Masjid Islamic Center Kota Lhokseumawe:

Bank Mandiri Cabang Lhokseumawe: 158-00-0066-213-0
Bank BPD Cabang Lhokseumawe: 01.07.590025-2

Brosur yang tertempel di salah satu tiang di dalam Masjid. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jom! Kita bantu! Kalau bukan kita yang peduli pada Masjid kita ini, siapa lagi? :D

Info lengkap mengenai Masjid Agung Islamic Center, sila kunjungi: Website Islamic Centre Lhokseumawe

*By the way, kesalahan terbesar saya kali ini adalah.. sempat-sempatnya lupa memotret sendiri Masjid ini. -____-''*

7/28/2012 01:57:00 AM Desi YuLiana
Hampir ±12 tahun lamanya pembangunan Masjid yang pada awalnya dibangun sebagai pusat pengkajian dan pengembangan Islam di Kota Lhokseumawe ini berjalan. Sayangnya, sampai tahun 2012 ini, pembangunannya masih belum rampung sepenuhnya lantaran terbentur masalah dana. Dialah Masjid Agung Islamic Center, bangunan Masjid calon 'ikon' keislaman baru di tanah Aceh. Dari desain dan beberapa bagian bangunannya yang telah jadi, Masjid ini tampaknya akan sangat indah (bahkan akan lebih indah dari Masjid kebanggaan warga Aceh--Masjid Raya Baiturrahman--IMHO) jika telah rampung 100% pembangunannnya. 

Sumber: acehfotografer
Sumber: acehtraffic

Di tahun 2002 lalu, saat baru kembali ke kota Lhokseumawe dari kota Padang, pembangunan Islamic Center ini (tampaknya) berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan. Namun, asupan dana pembangunan Islamic Center ini terhenti seiring pemekaran daerah kota Lhokseumawe dari kabupaten Aceh Utara (info lengkapnya bisa dibaca di Latar Belakang Pembangunan Islamic Center Kota Lhokseumawe). Sampai akhirnya, bangunan yang awalnya dibangun untuk dijadikan pusat studi Islam itu diubah haluannya menjadi sebuah Masjid. 

Sebagai warga Lhokseumawe yang sekarang menetap di Banda Aceh, saya tidak tahu kapan persisnya Masjid yang belum rampung sepenuhnya ini mulai dibuka dan dapat dipergunakan oleh masyarakat luas. Yang saya tahu melalui perjalanan pulang ke Lhokseumawe empat hari yang lalu, Masjid ini sudah mulai difungsikan sebagai mana Masjid-masjid lainnya. Selain pelaksanaan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, di sana juga sudah mulai dilaksanakan kegiatan pengajian untuk anak-anak setiap hari, kegiatan pesantren kilat Ramadhan, dan sebagainya. 

Penampakan Islamic Center dilihat dari waduk keliling kota Lhokseumawe. Sumber: ndicut.blogspot.com
Sumber: azhariblogger

Excited! Ya, saya cukup excited saat teman masa kecil saya memberi jawaban bahwa kami akan melaksanakan shalat Isya plus tarawih di Masjid Islamic Center, di malam pertama saya tiba di Lhokseumawe hari selasa lalu. Saya saat itu berasa seperti 'wong ndeso' yang tidak pernah pergi ke Masjid-masjid besar *halah!*. Yang pasti, itulah kali pertama saya menginjakkan kaki di bangunan yang sejak sepuluh tahun lalu membuat saya penasaran itu. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga merasakan shalat berjamaah di sana. 

Walaupun belum rampung sepenuhnya, kegiatan-kegiatan peribadatan di Masjid ini mulai berjalan normal. Tidak ada yang mempermasalahkan bagian atap, teras, dan parkiran Masjid yang masih bersemen kasar, ataupun dinding luar Masjid yang masih polos dengan semennya tanpa cat warna-warni. Hanya kubah, lantai di dalam Masjid, beberapa ruangan pengurus, tempat wudhu, dan beberapa bagian tangga saja yang sudah bagus dengan keramik penyusunnya. Taman dan halaman depan Masjid termasuk yang sudah selesai pembangunannya, meskipun masih belum banyak bunga-bunga ataupun pohon-pohon yang tertanam di sana. Selebihnya, yang akan kita lihat di lingkungan Masjid Islamic Center ini hanya hamparan semen-semen kasar yang tampak ditinggalkan oleh petugasnya. 

Sumber: skyscrapercity
Penampakan Masjid Islamic Center di malam hari. Sumber: skyscrapercity

Satu hal yang sedikit disayangkan, jamaah Isya plus tarawih di Masjid ini beberapa malam terakhir masih belum bisa dikatakan 'ramai'. Yah, kalau kita berhusnudzhan, mungkin banyak masyarakat yang masih lebih nyaman melaksanakan ibadah di Masjid terdekat dengan rumahnya. Tapi berhubung ini Masjid baru difungsikan, dan akan menjadi ikon baru di kota Lhokseumawe, maka enggak ada salahnya kan kita ikut meramaikan jamaah di dalamnya? Yuk, warga Lhokseumawe, jangan malu-malu datang ke sana #eh.

By the way, buat seluruh warga Aceh, rekan-rekan blogger atau siapapun kamu yang membaca postingan ini dan merasa peduli plus tergerak untuk membantu pembangunan Masjid ini, kalian bisa menyalurkan sedekah, infak, atau bantuan dalam bentuk dana untuk pembangunan Masjid Agung Islamic Center ini ke rekening Panitia Pembangunan Masjid Islamic Center Kota Lhokseumawe:

Bank Mandiri Cabang Lhokseumawe: 158-00-0066-213-0
Bank BPD Cabang Lhokseumawe: 01.07.590025-2

Brosur yang tertempel di salah satu tiang di dalam Masjid. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jom! Kita bantu! Kalau bukan kita yang peduli pada Masjid kita ini, siapa lagi? :D

Info lengkap mengenai Masjid Agung Islamic Center, sila kunjungi: Website Islamic Centre Lhokseumawe

*By the way, kesalahan terbesar saya kali ini adalah.. sempat-sempatnya lupa memotret sendiri Masjid ini. -____-''*

Sunday, June 10, 2012

"Cewek pintar, gak akan percaya!"

Oke, itu sepenggal kalimat yang saya kicaukan di akun twitter saya pagi tadi. Apa maksudnya? Adakah yang bertanya-tanya? Ada? Tidak? Ah, ada ataupun tidak ada, saya tetap akan menjelaskannya. *pasang wajah tegas*.

Begini kawan. Bukankah bukan rahasia umum lagi jika sebenarnya, faktanya, sayangnya, banyak wanita di negara kita yang merupakan korban iklan? Iklan yang bagaimana? Hampir semua jenis iklan. Baik itu iklan fashion, iklan gadget, iklan makanan dan tentu saja yang paling parah adalah iklan produk kecantikan. Hari ini (Minggu, 10 Juni 2012), saat sedang melaksanakan ritual pagi seperti biasanya (baca: nonton TV (baca lagi: nonton kartun)), saya seperti 'dihentak' saat melihat sebuah iklan salah satu produk kecantikan wanita. Bukan. Bukan kali pertama saya melihat iklan itu. Saya sudah pernah melihatnya beberapa kali sebelumnya. Tapi, yaaa.. mungkin inilah saya: si anak bawang Ayah - Bunda yang (cukup) sering terlambat dalam mencerna dan menyadari se-su-a-tu. *malu*

Lantas apa yang bermasalah dengan iklan tersebut? Ah, sebenarnya tidak ada masalah yang bagaimana-bagaimana. Hanya saja.. saya rasanya sudah sangat muak dengan semua kalimat-kalimat kampanye (sesat) yang dipromosikan pada setiap iklan produk kecantikan. Mereka selalu berkata yang intinya begini:

"Cantik itu putih. Cantik itu merona. Cantik itu bersinar"
Dan iklan--yang membuat saya ilfil--tadi pagi mengatakan:
"Cantik itu kulit mulus bebas bulu"
Masya Allah. Ini pembohongan publik dan pembodohan masal terbesar yang ada di sekitar kita. Dan tak bisa dipungkiri, sudah banyak korban yang berjatuhan karenanya. (Hampir) semua wanita percaya dengan semboyan maha sesat demikian. Semua mendadak berlomba-lomba mendapatkan 'pengakuan' cantik yang berdasarkan semboyan-semboyan tak beralasan itu. Segala macam produk kecantikan dicoba, gonta-ganti sampai bertemu dengan yang benar-benar sesuai hati, perawatan rutinan di sana-sini, lembar-demi-lembar uang dikeluarkan begitu saja--bagai membuang daun--tak ada beban sama sekali jika uang yang dikeluarkan itu demi sebuah pengakuan akan sebuah kecantikan. Yang lebih parah bahkan ada yang 'tega' merubah apa yang Tuhannya berikan dengan cara yang sedikit ekstrim --> Operasi Plastik. 

Oke. Tak bisa dipungkiri memang. Wanita mana yang tak ingin tampil cantik? Wanita mana yang tak senang jika dibilang cantik? Sepertinya tidak ada. Itu fitrah. Semua wanita pastilah ingin cantik, dan tentu saja akan dibuktikannya dengan melakukan berbagai cara yang berbeda dari masing-masingnya. Tapi, sayangnya definisi cantik yang telah beredar luas sekarang itu adalah definisi yang maha sesat. Cantik itu bukan sekedar tampak 'bagus' dari tampilan fisik belaka, namun banyak makna lain yang tersimpan di dalamnya.

Miss World 2011, Ivian Sarcos, mengungkapkan bahwa definisi cantik bukan hanya di wajah saja melainkan harus ditekankan pada kecantikan di dalam. See? Saya setuju. Karena cantik itu sangat luas maknanya.

Saya pribadi percaya, bahwa cantik itu bersih (bersih penampilannya, bersih niatnya dan bersih hatinya), cantik itu pintar (pintar menjaga diri, pintar memperbaiki diri, dan pintar memposisikan diri), cantik itu pandai bersyukur (tidak pernah merasa berkekurangan atas segala yang telah Tuhan berikan padanya), cantik itu peduli (tidak hanya melulu memikirkan diri sendiri, tapi juga orang lain). Karena manusia tidak hidup sendiri, maka mereka yang cantik itu ialah mereka yang selalu bisa menjaga diri, mampu beradaptasi dengan segala kondisi kehidupan dengan baik, serta paham akan posisi dan perannya di lingkungan sekitarnya. 

Kawan-kawan pasti pernah dengar lagu 'Beautiful' nya Cherry Belle kan ya? Hmm. Bukan! Saya bukan penggemar mereka. Saya juga buka penikmat musik mereka. Saya hanya suka pada satu lagu saja. Hanya lagu ini. Ya, lagu Beautiful ini saja. Karena liriknya yang--ah, memang begitulah seharusnya. 

Dont cry, dont be shy, kamu cantik apa adanya.
Sadari, syukuri, dirimu sempurna. 
Jangan dengarkan, kata mereka.
Dirimu indah, pancarkan sinarmu.

You are beautiful, beautiful, beautiful.
Kamu cantik, cantik, dari hatimu ...
Intinya adalah.. tiap kita itu cantik lho. Kita cantik karena kebersihan kita, karena kebaikan kita, karena kepedulian kita, dan hal-hal baik lainnya. Dan tiap kita juga punya kecantikan masing-masing. Jadilah diri kita sendiri, karena 'We are beautiful just the way we are' #eaaa. Jadi kawan, jangan mau tergoda dan diperdaya iklan kecantikan. Karena cewek pintar, tidak akan pernah percaya dengan hal-hal demikian. Sekian.



*dalam keheningan Kp. Ateuk, 10 Juni 2012*


6/10/2012 09:11:00 AM Desi YuLiana
"Cewek pintar, gak akan percaya!"

Oke, itu sepenggal kalimat yang saya kicaukan di akun twitter saya pagi tadi. Apa maksudnya? Adakah yang bertanya-tanya? Ada? Tidak? Ah, ada ataupun tidak ada, saya tetap akan menjelaskannya. *pasang wajah tegas*.

Begini kawan. Bukankah bukan rahasia umum lagi jika sebenarnya, faktanya, sayangnya, banyak wanita di negara kita yang merupakan korban iklan? Iklan yang bagaimana? Hampir semua jenis iklan. Baik itu iklan fashion, iklan gadget, iklan makanan dan tentu saja yang paling parah adalah iklan produk kecantikan. Hari ini (Minggu, 10 Juni 2012), saat sedang melaksanakan ritual pagi seperti biasanya (baca: nonton TV (baca lagi: nonton kartun)), saya seperti 'dihentak' saat melihat sebuah iklan salah satu produk kecantikan wanita. Bukan. Bukan kali pertama saya melihat iklan itu. Saya sudah pernah melihatnya beberapa kali sebelumnya. Tapi, yaaa.. mungkin inilah saya: si anak bawang Ayah - Bunda yang (cukup) sering terlambat dalam mencerna dan menyadari se-su-a-tu. *malu*

Lantas apa yang bermasalah dengan iklan tersebut? Ah, sebenarnya tidak ada masalah yang bagaimana-bagaimana. Hanya saja.. saya rasanya sudah sangat muak dengan semua kalimat-kalimat kampanye (sesat) yang dipromosikan pada setiap iklan produk kecantikan. Mereka selalu berkata yang intinya begini:

"Cantik itu putih. Cantik itu merona. Cantik itu bersinar"
Dan iklan--yang membuat saya ilfil--tadi pagi mengatakan:
"Cantik itu kulit mulus bebas bulu"
Masya Allah. Ini pembohongan publik dan pembodohan masal terbesar yang ada di sekitar kita. Dan tak bisa dipungkiri, sudah banyak korban yang berjatuhan karenanya. (Hampir) semua wanita percaya dengan semboyan maha sesat demikian. Semua mendadak berlomba-lomba mendapatkan 'pengakuan' cantik yang berdasarkan semboyan-semboyan tak beralasan itu. Segala macam produk kecantikan dicoba, gonta-ganti sampai bertemu dengan yang benar-benar sesuai hati, perawatan rutinan di sana-sini, lembar-demi-lembar uang dikeluarkan begitu saja--bagai membuang daun--tak ada beban sama sekali jika uang yang dikeluarkan itu demi sebuah pengakuan akan sebuah kecantikan. Yang lebih parah bahkan ada yang 'tega' merubah apa yang Tuhannya berikan dengan cara yang sedikit ekstrim --> Operasi Plastik. 

Oke. Tak bisa dipungkiri memang. Wanita mana yang tak ingin tampil cantik? Wanita mana yang tak senang jika dibilang cantik? Sepertinya tidak ada. Itu fitrah. Semua wanita pastilah ingin cantik, dan tentu saja akan dibuktikannya dengan melakukan berbagai cara yang berbeda dari masing-masingnya. Tapi, sayangnya definisi cantik yang telah beredar luas sekarang itu adalah definisi yang maha sesat. Cantik itu bukan sekedar tampak 'bagus' dari tampilan fisik belaka, namun banyak makna lain yang tersimpan di dalamnya.

Miss World 2011, Ivian Sarcos, mengungkapkan bahwa definisi cantik bukan hanya di wajah saja melainkan harus ditekankan pada kecantikan di dalam. See? Saya setuju. Karena cantik itu sangat luas maknanya.

Saya pribadi percaya, bahwa cantik itu bersih (bersih penampilannya, bersih niatnya dan bersih hatinya), cantik itu pintar (pintar menjaga diri, pintar memperbaiki diri, dan pintar memposisikan diri), cantik itu pandai bersyukur (tidak pernah merasa berkekurangan atas segala yang telah Tuhan berikan padanya), cantik itu peduli (tidak hanya melulu memikirkan diri sendiri, tapi juga orang lain). Karena manusia tidak hidup sendiri, maka mereka yang cantik itu ialah mereka yang selalu bisa menjaga diri, mampu beradaptasi dengan segala kondisi kehidupan dengan baik, serta paham akan posisi dan perannya di lingkungan sekitarnya. 

Kawan-kawan pasti pernah dengar lagu 'Beautiful' nya Cherry Belle kan ya? Hmm. Bukan! Saya bukan penggemar mereka. Saya juga buka penikmat musik mereka. Saya hanya suka pada satu lagu saja. Hanya lagu ini. Ya, lagu Beautiful ini saja. Karena liriknya yang--ah, memang begitulah seharusnya. 

Dont cry, dont be shy, kamu cantik apa adanya.
Sadari, syukuri, dirimu sempurna. 
Jangan dengarkan, kata mereka.
Dirimu indah, pancarkan sinarmu.

You are beautiful, beautiful, beautiful.
Kamu cantik, cantik, dari hatimu ...
Intinya adalah.. tiap kita itu cantik lho. Kita cantik karena kebersihan kita, karena kebaikan kita, karena kepedulian kita, dan hal-hal baik lainnya. Dan tiap kita juga punya kecantikan masing-masing. Jadilah diri kita sendiri, karena 'We are beautiful just the way we are' #eaaa. Jadi kawan, jangan mau tergoda dan diperdaya iklan kecantikan. Karena cewek pintar, tidak akan pernah percaya dengan hal-hal demikian. Sekian.



*dalam keheningan Kp. Ateuk, 10 Juni 2012*


Thursday, December 15, 2011

#jleb. Sore ini saya sedikit tertohok setelah membaca sebuah cerpen yang katanya terinspirasi oleh kisah nyata dan diberi bumbu-bumbu tambahan melankonis oleh yang menuliskannya.

Apa isi ceritanya? Yah, mungkin kawan-kawan bisa membacanya sendiri nanti (akan saya sertakan link cerpennya setelah selesai berkicau di tulisan ini). 

It's all about ngaji, prosedur dan jalur yang sesuai organisasi, nikah, eM-eR, orang tua, pilihan hati, istikharah serta Al-Quran dan Hadits.
 
Sebagian kawan kampus atau organisasi di Banda Aceh (atau para pembaca di sini) mungkin sudah sangat familiar dengan istilah 'ngaji'. Ya, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'Liqa' atau 'Halaqah'. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, di sini saya selaku penulis berperan sebagai seorang yang (cukup) mengerti, setidaknya memahami sedikit tentang 'ngaji' dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, karena dulunya pernah mengikuti, namun sekarang tidak aktif lagi akibat eM-eR yang mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.


Baiklah, apa itu 'ngaji'? 

Ngaji, Liqa, Halaqah dan apapun itu sebutannya sebenarnya merupakan suatu kegiatan 'pembinaan' dari seorang pembina yang tidak sembarangan pada beberapa orang binaannya. Tidak jauh berbeda dengan pengajian yang waktu kecil dulu pernah kita ikuti, bedanya dalam 'level' materi yang diajarkan dan rutinitas yang ditetapkan. Kalau pengajian masa kecil kita diajarkan mengaji (membaca Al-Quran), di halaqah ini kita akan mendapatkan materi-materi baru tentang tauhid, iman, keislaman & sebagainya.

Oke, siapa pula itu eM-eR? eM-eR itu singkatan dari Murabby, dan beliau adalah guru atau pembina dalam suatu halaqah tersebut.

Nikah? Apa hubungannya dengan eM-eR itu? 

Nah, bagian ini saya sebenarnya masih kurang paham. Saya hanya paham (atas cerita kawan-kawan) pada bagian eM-eR memberikan biodata 'calon', kemudian memfasilitasi ataupun membantu proses perkenalan syar'i--yang lebih dikenal dengan taaruf--dan jika kedua pihak setuju lantas eM-eR akan menyerahkan masalah tersebut pada pihak keluarga yang bersangkutan.

Dari penjelasan dan cerita kawan-kawan, yang saya tangkap adalah peran eM-eR pada sebuah pernikahan itu lebih sebagai fasilitator; membantu mencarikan calon yang baik, membantu meberikan pendapat dan solusi jika ada keragu-raguan, membantu proses 'persiapan' pernikahan hingga dilaksanakan pernikahannya tersebut.

Nah sekarang, apa itu orang tua, pilihan hati, istikharah, serta Al-Quran dan Hadits? Yang ini tidak perlu saya jelaskan bukan? Saya anggap (dan saya yakin) kalian semuanya mengerti. Lanjut ya? 

Pernah suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kejadian--yang menurut saya--cukup tragis. Sebut saja namanya A, saya mengenal dia sejak lama, dan juga cukup tahu tentang keluarganya. Suatu ketika, saat usia si A melewati 22, orang tuanya mulai khawatir dan bertanya-tanya tentang pernikahnnya. Usianya sudah cukup matang, kuliah sudah selesai, apa lagi yang ditunggunya? 

(Sebelumnya, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan keluarga si A pernah melamar si A untuk anak laki-lakinya, seorang Ustadz yang sudah cukup mapan. Namun ditolak dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal: si A tidak suka, karena pernah melihat Ustadz tersebut memakai celana jeans *oke*. Dan itu cukup mengecewakan kedua orang tuanya). 

Beberapa kali orang tua si A mencoba membicarakan secara baik-baik dan memberikan beberapa pilihan (pemuda yang dikenal baik oleh orang tuanya) pada si A, namun yang didapatkan orang tuanya malah jawaban ketus:

"Ayah-Ibu nggak usah capek-capek mikirin calon untuk A, biar Murabby A aja yang nyari dan A lebih percaya pada Murabby untuk hal ini" (lebih kurang begitu jawabannya *maaf, lupa!*).

Deg. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mendengar pernyataan anaknya barusan? Saya—yang bukan siapa-siapa--saja sedikit ‘perih’ saat mendengarkankannya, apalagi orang tuanya? Anaknya ternyata lebih mengutamakan Murabby—yang baru dikenalnya 3-4 tahun terkahir--daripada orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya dari kecil hingga dewasa. Klasik.

Mencoba berprasangka baik, mungkin niat si A benar, untuk hal-hal demikian Murabby nya mungkin memang lebih mengerti daripada orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan 'tarbiyah' yang demikian. Tapi.. Aaaah, saya benar-benar geram mendengarnya.

Sejauh yang saya tahu, A memang terlalu patuh dan percaya pada Murabbinya dibandingkan pada orang tuanya. Dan lagi-lagi saya sangat tidak setuju akan hal itu.

Murabby ya Murabby. Beliau guru, pembina, dan bagi sebagian orang menjadi tempat pencarian solusi atas masalah-masalah hidupnya, tapi tentu saja, hal itu tidak menjadikannya segala-galanya. Tetap saja, tidak bisa menjadikannya yang utama.

Kita masih punya hati untuk memilih dan menetapkan pilihan terkait masa depan kita, kita masih punya 'istikharah' sebagai sarana bertanya pendapat-Nya akan keragu-raguan pada hati kita, kita masih punya orang tua yang lebih mengerti kita daripada siapapun di dunia (walaupun kadang tak ditunjukkannya), kita masih punya Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan untuk mencari jawaban atas tiap pertanyaan kita, dan yang paling pasti kita masih punya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita. 

Cerpen berikut jika dibaca mungkin akan menimbulkan pemahaman dan citra yang berbeda bagi masing-masing pribadi kita. Mungkin nantinya akan ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju. Akan ada yang mendapat pesannya dalam bentuk A, dan ada juga yang mendapat pesannya dalam bentuk B. Ada yang menangkap begitu, dan pasti juga ada yang menangkap begini. Berbeda, itulah manusia. 

Terkait cerita, saya hanya sedikit tidak setuju pada pendapat si tokoh akhwat yang seperti ‘memandang sebelah mata’ pada pernikahan dengan cara ‘swasta’. Ah, tidak ada yang salah dengan itu. Menikah tidak harus lewat Murabby, lagi-lagi kita masih punya beberapa hal penentu di atas, dan bukan Murabby yang berhak menentukannya. 

Satu hal lagi; tidak semua yang ter-tarbiyah adalah orang baik-baik dan tidak semua yang tidak ter-tarbiyah adalah bukan orang baik-baik (murni pendapat pribadi). 

Dan saya pribadi sangat tidak setuju pada apa yang dilakukan si Akhwat dan agak kesal dengan tokoh eM-eR dalam cerita tersebut. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para binaan dan Pembina lainnya. Semoga para Pembina bisa lebih ‘dewasa dan bijaksana’ dalam menyampaikan pendapat dan membantu binaannya, dan semoga para binaan tidak selalu terpaku pada apa yang dikatakan pembinanya. Semua kembali pada diri kita masing-masing.


Here We Go -->> 'Mana Ikhwan Untukku?'

Selamat membaca, selamat berspekulasi, selamat berpendapat dan berimajinasi.
Semoga bermanfaat kawan :)

12/15/2011 05:20:00 AM Desi YuLiana
#jleb. Sore ini saya sedikit tertohok setelah membaca sebuah cerpen yang katanya terinspirasi oleh kisah nyata dan diberi bumbu-bumbu tambahan melankonis oleh yang menuliskannya.

Apa isi ceritanya? Yah, mungkin kawan-kawan bisa membacanya sendiri nanti (akan saya sertakan link cerpennya setelah selesai berkicau di tulisan ini). 

It's all about ngaji, prosedur dan jalur yang sesuai organisasi, nikah, eM-eR, orang tua, pilihan hati, istikharah serta Al-Quran dan Hadits.
 
Sebagian kawan kampus atau organisasi di Banda Aceh (atau para pembaca di sini) mungkin sudah sangat familiar dengan istilah 'ngaji'. Ya, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'Liqa' atau 'Halaqah'. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, di sini saya selaku penulis berperan sebagai seorang yang (cukup) mengerti, setidaknya memahami sedikit tentang 'ngaji' dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, karena dulunya pernah mengikuti, namun sekarang tidak aktif lagi akibat eM-eR yang mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.


Baiklah, apa itu 'ngaji'? 

Ngaji, Liqa, Halaqah dan apapun itu sebutannya sebenarnya merupakan suatu kegiatan 'pembinaan' dari seorang pembina yang tidak sembarangan pada beberapa orang binaannya. Tidak jauh berbeda dengan pengajian yang waktu kecil dulu pernah kita ikuti, bedanya dalam 'level' materi yang diajarkan dan rutinitas yang ditetapkan. Kalau pengajian masa kecil kita diajarkan mengaji (membaca Al-Quran), di halaqah ini kita akan mendapatkan materi-materi baru tentang tauhid, iman, keislaman & sebagainya.

Oke, siapa pula itu eM-eR? eM-eR itu singkatan dari Murabby, dan beliau adalah guru atau pembina dalam suatu halaqah tersebut.

Nikah? Apa hubungannya dengan eM-eR itu? 

Nah, bagian ini saya sebenarnya masih kurang paham. Saya hanya paham (atas cerita kawan-kawan) pada bagian eM-eR memberikan biodata 'calon', kemudian memfasilitasi ataupun membantu proses perkenalan syar'i--yang lebih dikenal dengan taaruf--dan jika kedua pihak setuju lantas eM-eR akan menyerahkan masalah tersebut pada pihak keluarga yang bersangkutan.

Dari penjelasan dan cerita kawan-kawan, yang saya tangkap adalah peran eM-eR pada sebuah pernikahan itu lebih sebagai fasilitator; membantu mencarikan calon yang baik, membantu meberikan pendapat dan solusi jika ada keragu-raguan, membantu proses 'persiapan' pernikahan hingga dilaksanakan pernikahannya tersebut.

Nah sekarang, apa itu orang tua, pilihan hati, istikharah, serta Al-Quran dan Hadits? Yang ini tidak perlu saya jelaskan bukan? Saya anggap (dan saya yakin) kalian semuanya mengerti. Lanjut ya? 

Pernah suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kejadian--yang menurut saya--cukup tragis. Sebut saja namanya A, saya mengenal dia sejak lama, dan juga cukup tahu tentang keluarganya. Suatu ketika, saat usia si A melewati 22, orang tuanya mulai khawatir dan bertanya-tanya tentang pernikahnnya. Usianya sudah cukup matang, kuliah sudah selesai, apa lagi yang ditunggunya? 

(Sebelumnya, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan keluarga si A pernah melamar si A untuk anak laki-lakinya, seorang Ustadz yang sudah cukup mapan. Namun ditolak dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal: si A tidak suka, karena pernah melihat Ustadz tersebut memakai celana jeans *oke*. Dan itu cukup mengecewakan kedua orang tuanya). 

Beberapa kali orang tua si A mencoba membicarakan secara baik-baik dan memberikan beberapa pilihan (pemuda yang dikenal baik oleh orang tuanya) pada si A, namun yang didapatkan orang tuanya malah jawaban ketus:

"Ayah-Ibu nggak usah capek-capek mikirin calon untuk A, biar Murabby A aja yang nyari dan A lebih percaya pada Murabby untuk hal ini" (lebih kurang begitu jawabannya *maaf, lupa!*).

Deg. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mendengar pernyataan anaknya barusan? Saya—yang bukan siapa-siapa--saja sedikit ‘perih’ saat mendengarkankannya, apalagi orang tuanya? Anaknya ternyata lebih mengutamakan Murabby—yang baru dikenalnya 3-4 tahun terkahir--daripada orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya dari kecil hingga dewasa. Klasik.

Mencoba berprasangka baik, mungkin niat si A benar, untuk hal-hal demikian Murabby nya mungkin memang lebih mengerti daripada orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan 'tarbiyah' yang demikian. Tapi.. Aaaah, saya benar-benar geram mendengarnya.

Sejauh yang saya tahu, A memang terlalu patuh dan percaya pada Murabbinya dibandingkan pada orang tuanya. Dan lagi-lagi saya sangat tidak setuju akan hal itu.

Murabby ya Murabby. Beliau guru, pembina, dan bagi sebagian orang menjadi tempat pencarian solusi atas masalah-masalah hidupnya, tapi tentu saja, hal itu tidak menjadikannya segala-galanya. Tetap saja, tidak bisa menjadikannya yang utama.

Kita masih punya hati untuk memilih dan menetapkan pilihan terkait masa depan kita, kita masih punya 'istikharah' sebagai sarana bertanya pendapat-Nya akan keragu-raguan pada hati kita, kita masih punya orang tua yang lebih mengerti kita daripada siapapun di dunia (walaupun kadang tak ditunjukkannya), kita masih punya Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan untuk mencari jawaban atas tiap pertanyaan kita, dan yang paling pasti kita masih punya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita. 

Cerpen berikut jika dibaca mungkin akan menimbulkan pemahaman dan citra yang berbeda bagi masing-masing pribadi kita. Mungkin nantinya akan ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju. Akan ada yang mendapat pesannya dalam bentuk A, dan ada juga yang mendapat pesannya dalam bentuk B. Ada yang menangkap begitu, dan pasti juga ada yang menangkap begini. Berbeda, itulah manusia. 

Terkait cerita, saya hanya sedikit tidak setuju pada pendapat si tokoh akhwat yang seperti ‘memandang sebelah mata’ pada pernikahan dengan cara ‘swasta’. Ah, tidak ada yang salah dengan itu. Menikah tidak harus lewat Murabby, lagi-lagi kita masih punya beberapa hal penentu di atas, dan bukan Murabby yang berhak menentukannya. 

Satu hal lagi; tidak semua yang ter-tarbiyah adalah orang baik-baik dan tidak semua yang tidak ter-tarbiyah adalah bukan orang baik-baik (murni pendapat pribadi). 

Dan saya pribadi sangat tidak setuju pada apa yang dilakukan si Akhwat dan agak kesal dengan tokoh eM-eR dalam cerita tersebut. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para binaan dan Pembina lainnya. Semoga para Pembina bisa lebih ‘dewasa dan bijaksana’ dalam menyampaikan pendapat dan membantu binaannya, dan semoga para binaan tidak selalu terpaku pada apa yang dikatakan pembinanya. Semua kembali pada diri kita masing-masing.


Here We Go -->> 'Mana Ikhwan Untukku?'

Selamat membaca, selamat berspekulasi, selamat berpendapat dan berimajinasi.
Semoga bermanfaat kawan :)