Showing posts with label Kala meriang. Show all posts
Showing posts with label Kala meriang. Show all posts

Monday, June 3, 2013

Beberapa minggu terakhir, ada seseorang yang mengatakan saya termasuk pribadi yang punya gaya hidup hedonis (JLEB!), dan pernyataan itu semakin sering saya dengar beberapa hari terakhir ini. Ah, hedonis? Saya dikatakan hedonis? Saya tidak tahu haruskah atau layakkah jika saya tersinggung atau sakit hati dengan pernyataan seseorang tersebut. 


Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Dan saya juga tiba pada halaman Yahoo Answer, kebetulan ada yang bertanya di sana apa itu hedonis, dan kesimpulan jawabannya:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Astaghfirullah.. mengerikan.

Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*

Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.

Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone). 

Alasan saya dan sahabat senang berkaraoke cukup banyak; karena memang senang nyanyi (walaupun suara dan kemampuan pas-pasan) namun tidak bisa bernyanyi di depan umum atau sekedar karaokean di rumah karena akan mengganggu tetangga dengan suara yang tak seberapa mana, karena karaokean juga terkadang menjadi satu alternatif saat down atau saat hidup terasa membosankan atau saat sedang 'mumang' dengan berbagai masalah yang ada dan sebagainya (mungkin alasan ini memang yang kurang baik, karena harusnya.. ah, kalian tahulah apa), dan karena karaokean juga menjadi satu cara untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama sahabat; melakukan hobi/hal yang sama-sama disenangi bersama-sama, bukankah itu menyenangkan? Atau salah? Tolong jelaskan pada saya..

Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?

Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe


Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu. 

Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.

Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.




Alasan seseorang berkata demikian itu simpel; karena keluarganya dulu tidak ada memakai dan menggunakan perlengkapan-perlengkapan demikian, dan anak-anaknya sampai sekarang sehat-sehat atau baik-baik saja. *masuk kulkas*. Bukankah kebutuhan manusia tiap zaman itu berbeda-beda? Jangankan tiap zaman, di zaman yang sama pun, kebutuhan manusia berbeda-beda; tergantung kondisi masing-masingnya bukan? Tolonglah jangan disamakan --"

Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam. 

Bukankah tiap keluarga itu berbeda? Kebiasaan, gaya hidup, perlengkapan, perabotan, bahkan cara mengasuh anak, berbeda-beda kan? Tugas kita sebagai individu yang merdeka ya menerima setiap perbedaan. Jika ada hal baik; ambil, amati, tiru, modifikasi. Jika ada hal yang tidak baik dari sana, jadikan itu pelajaran dan pengingat agar tidak melakukan hal yang sama. 

Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.

Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.

Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'


6/03/2013 07:59:00 AM Desi YuLiana
Beberapa minggu terakhir, ada seseorang yang mengatakan saya termasuk pribadi yang punya gaya hidup hedonis (JLEB!), dan pernyataan itu semakin sering saya dengar beberapa hari terakhir ini. Ah, hedonis? Saya dikatakan hedonis? Saya tidak tahu haruskah atau layakkah jika saya tersinggung atau sakit hati dengan pernyataan seseorang tersebut. 


Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Dan saya juga tiba pada halaman Yahoo Answer, kebetulan ada yang bertanya di sana apa itu hedonis, dan kesimpulan jawabannya:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Astaghfirullah.. mengerikan.

Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*

Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.

Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone). 

Alasan saya dan sahabat senang berkaraoke cukup banyak; karena memang senang nyanyi (walaupun suara dan kemampuan pas-pasan) namun tidak bisa bernyanyi di depan umum atau sekedar karaokean di rumah karena akan mengganggu tetangga dengan suara yang tak seberapa mana, karena karaokean juga terkadang menjadi satu alternatif saat down atau saat hidup terasa membosankan atau saat sedang 'mumang' dengan berbagai masalah yang ada dan sebagainya (mungkin alasan ini memang yang kurang baik, karena harusnya.. ah, kalian tahulah apa), dan karena karaokean juga menjadi satu cara untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama sahabat; melakukan hobi/hal yang sama-sama disenangi bersama-sama, bukankah itu menyenangkan? Atau salah? Tolong jelaskan pada saya..

Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?

Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe


Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu. 

Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.

Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.




Alasan seseorang berkata demikian itu simpel; karena keluarganya dulu tidak ada memakai dan menggunakan perlengkapan-perlengkapan demikian, dan anak-anaknya sampai sekarang sehat-sehat atau baik-baik saja. *masuk kulkas*. Bukankah kebutuhan manusia tiap zaman itu berbeda-beda? Jangankan tiap zaman, di zaman yang sama pun, kebutuhan manusia berbeda-beda; tergantung kondisi masing-masingnya bukan? Tolonglah jangan disamakan --"

Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam. 

Bukankah tiap keluarga itu berbeda? Kebiasaan, gaya hidup, perlengkapan, perabotan, bahkan cara mengasuh anak, berbeda-beda kan? Tugas kita sebagai individu yang merdeka ya menerima setiap perbedaan. Jika ada hal baik; ambil, amati, tiru, modifikasi. Jika ada hal yang tidak baik dari sana, jadikan itu pelajaran dan pengingat agar tidak melakukan hal yang sama. 

Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.

Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.

Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'


Thursday, September 27, 2012



Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



9/27/2012 06:45:00 PM Desi YuLiana


Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



Sunday, April 22, 2012

Bertambah lagi daftar hal-hal yang harus aku syukuri tahun ini. Kali ini, tentang pulang. Pulang ke tanah kelahiran yang sudah sangat ku rindukan #eaaaa. Dimanakah itu? Yah, kemana lagi kalau bukan Lhokseumawe. Kota kecil, sederhana yang sepertinya sedang mulai menampakkan perkembangannya (ah, semoga perkembangan itu ke arah kebaikan ya, bukan sebaliknya).

Kalau tidak salah hitung-menghitung, sudah setahun beberapa bulan aku tak pulang ke kota itu. Terakhir bersilaturahmi dengan saudara dan kawan-kawan di sana adalah saat Hari Raya Idul Fitri tahun 2010. Rindu? Iyalah! Jangan ditanya sudah berapa kali aku merayu-rayu Ayah untuk memberikan izin pulang ke sana, dan jangan diragukan lagi sudah beberapa kali pulalah permintaanku ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Dan jangan tanyakan alasannya, karena aku juga nggak tahu kenapa, kenapa Ayah sangat susah membiarkan aku pulang ke sana, padahal Lhokseumawe itu dekat dan di sana jelas; banyak saudara dan orang-orang yang ku kenal. So, apa yang harus Ayah khawatirkan?

Baiklah, setidaknya, segala kegalauan dan kerinduan pada Lhokseumawe telah terbayar minggu ini. Alhamdulillah, melalui pernikahan si kakak, akhirnya aku bisa pulang. Horee! Tidak bisa dipungkiri, tujuan pulangku ke sana bukan hanya untuk ikut serta mengantar dara baro, tapi juga bernostalgia dengan semuanya. Kapan lagi kan? Aih, bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali? *evil smile*.

Awalnya, ragu. Jelas ragunya. Apalagi saat mengetahui bahwa Ayah, Bunda, dan rombongan lain dari Banda Aceh akan pulang ke Banda di hari itu juga, setelah selesai acara. Aku? Aku gimana? Rasanya rugi luar biasa jika harus pulang di hari yang sama. Aku bimbang. Aku mumang. Aku mendadak garang #eh *berlebihan*. Tidak ingin membuang kesempatan, dengan perkataan yang super baik, sopan, dan ramah aku bertanya pada Ayah: 
"Yah, dek boleh gak ikut pulang sekalian ma Ayah Bunda? Dek boleh main-main dulu di Lhok? Entar dek pulang sendiri, beberapa hariiiiiiii aja. Ya Yah ya? *wink-wink". 

Singkat cerita, ada keajaiban yang terjadi. Akhirnya aku bisa menetap (hanya) beberapa hari di Lhokseumawe. Sebenarnya ingin lebih lama, tapi apa daya, ujian TOEFL ITP menantiku di Banda Aceh (kalau saja bukan ITP, sudah ku tinggalkan dia!). Aku pun harus segera pulang (lho? Belum cerita kok udah mau pulang?). 

Berkunjung ke Lhokseumawe berarti ngumpul-ngumpul dengan kawan lama. Itu wajib hukumnya! Haha, sadis. Dan syukur, agenda itu bisa terlaksana. Walaupun yang hadir (karena memang ada di Lhokseumawe) hari itu hanya tiga dari sembilan anggota 'geng' lainnya. Ingin rasanya punya kesempatan berkumpul dengan semuanya. Ingin rasanya melihat dan bersama-bersama dengan ke-sembilan kawan-kawan terdekat (SMA) di waktu dan tempat yang sama pula. Aih, kapan? Tapi, tak mengapalah, bisa bertatap muka dengan yang tiga ini juga udah senang luar biasa, yang lain bisa ditemui di Banda. Gampang! *mulai ngawur kaya'nya*. 

Well, cerita pulang ke sana beberapa hari yang lalu tidak luput dari yang namanya 'makan-makan'. Ah, gak perlu heran. Jangankan di sana, di Banda saja aku memang doyan makan. Jadi, saat di kota kelahiran pun sudah pasti aku harus banyak makan. Karena hidup itu untuk makan. *Merdeka!* #plak!. 

Bersyukur ada keluarga tetangga yang sangat bisa diandalkan. Kedekatan dengan mereka rasanya bukan lagi kedekatan sebagai tetangga, namun sudah memasuki area "saudara". Bisa dibilang, aku jauh lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan keluarga saudara lainnya. Jangan tanya kenapa! Empat malam di sana, maka tiga malam aku habiskan dengan acara makan-makan bersama mereka (kenapa tidak empat malam? karena satu malam ku habiskan di rumah saudara. Oke!). Tidak tanggung-tanggung, mereka mau berjauh-jauh ke Batuphat demi semangkok 'empek-empek' kesukaan si anak tetangga dari Banda ini.

Lebih kurang empat hari aku di sana. Banyak tempat baru yang aku jelajahi, salah satunya Komplek Perumahan Exxon Mobil yang sekarang disulap menjadi kampus Universitas Malikussaleh. Unik! Komplek perumahan yang telah lama ditinggalkan penghuninya itu sekarang berubah suasana menjadi lahan belajar para mahasiswa. Rumah-rumah warga disulap menjadi ruang kuliah, perpustakaan, lab, dan sebagainya. Oke, ide yang bagus! Setidaknya komplek yang dibangun dengan dana yang tak murah itu tidak terbuang percuma.

Berikut beberapa foto kenangan yang sempat diabadikan selama di sana: 
 
"Little Crazy Girls" Ini geng (masa kecil) paling terkenal di seantero Lr. H. Hasan - Uteun Bayi
Urineun.. (Rock Band) Oeyo? Hahaha
Dua orang di sini penyusup. Satu (paling depan) si anak tetangga, satu lagi (cowok, paling belakang) si adek ganteng yg muncul (kembali) dengan tiba-tiba
The Girls ~
The Boys ~
Demikianlah kisah yang tak seberapamana ini. Niatnya cukup banyak yang hendak ditulis dan diceritakan ke kawan-kawan semua. Tapi sepertinya inspirasi sedang tidak bersamaku malam ini. Entah kemana dia terbang. Semua yang hendak dituang pun begitu saja menghilang. Sayang. Daripada bertambah bimbang, lebih baik ku akhiri saja cerita aneh ini dengan pesan seseorang:

"Menarik dipandang, potret! Menarik dipikirkan, tulis!"

*merupakan postingan seorang kawan di akun twitter miliknya. Ini jelas membangkitkan semangat fotografi dan menulisku saat membacanya. Dan mungkin cerita aneh di atas lah hasilnya. Tak apa, yang penting: "Tulislah, walau satu ayat! #eh*

 Terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya. Salam Namaste!



4/22/2012 06:44:00 AM Desi YuLiana
Bertambah lagi daftar hal-hal yang harus aku syukuri tahun ini. Kali ini, tentang pulang. Pulang ke tanah kelahiran yang sudah sangat ku rindukan #eaaaa. Dimanakah itu? Yah, kemana lagi kalau bukan Lhokseumawe. Kota kecil, sederhana yang sepertinya sedang mulai menampakkan perkembangannya (ah, semoga perkembangan itu ke arah kebaikan ya, bukan sebaliknya).

Kalau tidak salah hitung-menghitung, sudah setahun beberapa bulan aku tak pulang ke kota itu. Terakhir bersilaturahmi dengan saudara dan kawan-kawan di sana adalah saat Hari Raya Idul Fitri tahun 2010. Rindu? Iyalah! Jangan ditanya sudah berapa kali aku merayu-rayu Ayah untuk memberikan izin pulang ke sana, dan jangan diragukan lagi sudah beberapa kali pulalah permintaanku ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Dan jangan tanyakan alasannya, karena aku juga nggak tahu kenapa, kenapa Ayah sangat susah membiarkan aku pulang ke sana, padahal Lhokseumawe itu dekat dan di sana jelas; banyak saudara dan orang-orang yang ku kenal. So, apa yang harus Ayah khawatirkan?

Baiklah, setidaknya, segala kegalauan dan kerinduan pada Lhokseumawe telah terbayar minggu ini. Alhamdulillah, melalui pernikahan si kakak, akhirnya aku bisa pulang. Horee! Tidak bisa dipungkiri, tujuan pulangku ke sana bukan hanya untuk ikut serta mengantar dara baro, tapi juga bernostalgia dengan semuanya. Kapan lagi kan? Aih, bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali? *evil smile*.

Awalnya, ragu. Jelas ragunya. Apalagi saat mengetahui bahwa Ayah, Bunda, dan rombongan lain dari Banda Aceh akan pulang ke Banda di hari itu juga, setelah selesai acara. Aku? Aku gimana? Rasanya rugi luar biasa jika harus pulang di hari yang sama. Aku bimbang. Aku mumang. Aku mendadak garang #eh *berlebihan*. Tidak ingin membuang kesempatan, dengan perkataan yang super baik, sopan, dan ramah aku bertanya pada Ayah: 
"Yah, dek boleh gak ikut pulang sekalian ma Ayah Bunda? Dek boleh main-main dulu di Lhok? Entar dek pulang sendiri, beberapa hariiiiiiii aja. Ya Yah ya? *wink-wink". 

Singkat cerita, ada keajaiban yang terjadi. Akhirnya aku bisa menetap (hanya) beberapa hari di Lhokseumawe. Sebenarnya ingin lebih lama, tapi apa daya, ujian TOEFL ITP menantiku di Banda Aceh (kalau saja bukan ITP, sudah ku tinggalkan dia!). Aku pun harus segera pulang (lho? Belum cerita kok udah mau pulang?). 

Berkunjung ke Lhokseumawe berarti ngumpul-ngumpul dengan kawan lama. Itu wajib hukumnya! Haha, sadis. Dan syukur, agenda itu bisa terlaksana. Walaupun yang hadir (karena memang ada di Lhokseumawe) hari itu hanya tiga dari sembilan anggota 'geng' lainnya. Ingin rasanya punya kesempatan berkumpul dengan semuanya. Ingin rasanya melihat dan bersama-bersama dengan ke-sembilan kawan-kawan terdekat (SMA) di waktu dan tempat yang sama pula. Aih, kapan? Tapi, tak mengapalah, bisa bertatap muka dengan yang tiga ini juga udah senang luar biasa, yang lain bisa ditemui di Banda. Gampang! *mulai ngawur kaya'nya*. 

Well, cerita pulang ke sana beberapa hari yang lalu tidak luput dari yang namanya 'makan-makan'. Ah, gak perlu heran. Jangankan di sana, di Banda saja aku memang doyan makan. Jadi, saat di kota kelahiran pun sudah pasti aku harus banyak makan. Karena hidup itu untuk makan. *Merdeka!* #plak!. 

Bersyukur ada keluarga tetangga yang sangat bisa diandalkan. Kedekatan dengan mereka rasanya bukan lagi kedekatan sebagai tetangga, namun sudah memasuki area "saudara". Bisa dibilang, aku jauh lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan keluarga saudara lainnya. Jangan tanya kenapa! Empat malam di sana, maka tiga malam aku habiskan dengan acara makan-makan bersama mereka (kenapa tidak empat malam? karena satu malam ku habiskan di rumah saudara. Oke!). Tidak tanggung-tanggung, mereka mau berjauh-jauh ke Batuphat demi semangkok 'empek-empek' kesukaan si anak tetangga dari Banda ini.

Lebih kurang empat hari aku di sana. Banyak tempat baru yang aku jelajahi, salah satunya Komplek Perumahan Exxon Mobil yang sekarang disulap menjadi kampus Universitas Malikussaleh. Unik! Komplek perumahan yang telah lama ditinggalkan penghuninya itu sekarang berubah suasana menjadi lahan belajar para mahasiswa. Rumah-rumah warga disulap menjadi ruang kuliah, perpustakaan, lab, dan sebagainya. Oke, ide yang bagus! Setidaknya komplek yang dibangun dengan dana yang tak murah itu tidak terbuang percuma.

Berikut beberapa foto kenangan yang sempat diabadikan selama di sana: 
 
"Little Crazy Girls" Ini geng (masa kecil) paling terkenal di seantero Lr. H. Hasan - Uteun Bayi
Urineun.. (Rock Band) Oeyo? Hahaha
Dua orang di sini penyusup. Satu (paling depan) si anak tetangga, satu lagi (cowok, paling belakang) si adek ganteng yg muncul (kembali) dengan tiba-tiba
The Girls ~
The Boys ~
Demikianlah kisah yang tak seberapamana ini. Niatnya cukup banyak yang hendak ditulis dan diceritakan ke kawan-kawan semua. Tapi sepertinya inspirasi sedang tidak bersamaku malam ini. Entah kemana dia terbang. Semua yang hendak dituang pun begitu saja menghilang. Sayang. Daripada bertambah bimbang, lebih baik ku akhiri saja cerita aneh ini dengan pesan seseorang:

"Menarik dipandang, potret! Menarik dipikirkan, tulis!"

*merupakan postingan seorang kawan di akun twitter miliknya. Ini jelas membangkitkan semangat fotografi dan menulisku saat membacanya. Dan mungkin cerita aneh di atas lah hasilnya. Tak apa, yang penting: "Tulislah, walau satu ayat! #eh*

 Terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya. Salam Namaste!



Thursday, April 19, 2012

Aku tertipu..
Ada tanda tanya yang dalam sebelumnya.
Bagaimana?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tertipu?

Dirinya yang menggalau ku anggap sebagai petunjuk semua.
Aku terima.
Tapi ternyata tertipu dia.

Jera?
Jelas. Sangatlah iya.

Setelah lama, ini kali pertama dibuka.
Karena tipuannya, pintu itu harus ditutup semula.
Dan kunci manis dikembalikan lagi pada tempatnya.

Apa masih ada tanda tanya?
Saat aku temukan fakta antara dia dan dirinya?

Mungkin sedikit bodoh aku merasa.
Sedikit mudah aku dipikirnya.
Dan sedikit acuan untuk jawaban tanda tanyanya.

Tapi begitu.
Aku memang tertipu.
Saat dia membatu.
Di sela dirinya yang mengharu.
Dan segala tanya itu membisu.

Jera! 

*Untuk seorang kawan, akhirnya kau temukan jawabannya! Karena fakta itu ada dan tidak selamanya indah* :)
"Truth is like the sun. You can shut it out for a time, but it ain't goin' away." - Elvis Presley

Published with Blogger-droid v2.0.4

4/19/2012 09:54:00 PM Desi YuLiana
Aku tertipu..
Ada tanda tanya yang dalam sebelumnya.
Bagaimana?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tertipu?

Dirinya yang menggalau ku anggap sebagai petunjuk semua.
Aku terima.
Tapi ternyata tertipu dia.

Jera?
Jelas. Sangatlah iya.

Setelah lama, ini kali pertama dibuka.
Karena tipuannya, pintu itu harus ditutup semula.
Dan kunci manis dikembalikan lagi pada tempatnya.

Apa masih ada tanda tanya?
Saat aku temukan fakta antara dia dan dirinya?

Mungkin sedikit bodoh aku merasa.
Sedikit mudah aku dipikirnya.
Dan sedikit acuan untuk jawaban tanda tanyanya.

Tapi begitu.
Aku memang tertipu.
Saat dia membatu.
Di sela dirinya yang mengharu.
Dan segala tanya itu membisu.

Jera! 

*Untuk seorang kawan, akhirnya kau temukan jawabannya! Karena fakta itu ada dan tidak selamanya indah* :)
"Truth is like the sun. You can shut it out for a time, but it ain't goin' away." - Elvis Presley

Published with Blogger-droid v2.0.4

Wednesday, January 25, 2012

Aku bimbang.
Saat pengalaman tak bisa dijadikan pelajaran.
Dan kau kembali melakukan kesalahan berulang.
Dengan cukup gampang.
Lantas gamang karenanya.

Perhatiannya memudar.
Dan kau pun merasakan padamnya ceria mata yang kau doa selalu berpijar.

Kau kelewatan.
Aku berlebihan dalam berprasangka.
Yang benar ku rasa salah dan yang salah ku rasa benar.
Imbasnya sederetan luapan itu pun menumbuhkan penyesalan.
Sebab perpisahan.

Iya dan tidak.
Harapanku iya.
Bahkan kenyataan tidak pernah melukiskan iya.
Ia suka berlawanan dari apa yang dikatakan harapan.
Dan harapan itu hilang dimakan rautan wajah yang berbeda dari biasanya.

Kemana?
Mana candaan yang mematikan itu?
Dimana aku memadamkannya?
Kau terus saja tanyakan tapi tak kunjung ada jawaban.
Hilang.

Maaf.
Memang ini sudah berlebihan.
Aku berdoa itu (bukan) aku.
Namun sayang dianya ambigu, itu jelas (bukan) aku.

Diam?
Biarlah ia muram.
Hanya janganlah mendendam.
Sesungguhnya yang suram pun benar, pulangnya kadang melalui malam tak cukup dalam..

Pulanglah, karena ada jalan yang dijaga oleh (bukan) jiwa yang suram..

Published with Blogger-droid v2.0.2
1/25/2012 05:00:00 AM Desi YuLiana
Aku bimbang.
Saat pengalaman tak bisa dijadikan pelajaran.
Dan kau kembali melakukan kesalahan berulang.
Dengan cukup gampang.
Lantas gamang karenanya.

Perhatiannya memudar.
Dan kau pun merasakan padamnya ceria mata yang kau doa selalu berpijar.

Kau kelewatan.
Aku berlebihan dalam berprasangka.
Yang benar ku rasa salah dan yang salah ku rasa benar.
Imbasnya sederetan luapan itu pun menumbuhkan penyesalan.
Sebab perpisahan.

Iya dan tidak.
Harapanku iya.
Bahkan kenyataan tidak pernah melukiskan iya.
Ia suka berlawanan dari apa yang dikatakan harapan.
Dan harapan itu hilang dimakan rautan wajah yang berbeda dari biasanya.

Kemana?
Mana candaan yang mematikan itu?
Dimana aku memadamkannya?
Kau terus saja tanyakan tapi tak kunjung ada jawaban.
Hilang.

Maaf.
Memang ini sudah berlebihan.
Aku berdoa itu (bukan) aku.
Namun sayang dianya ambigu, itu jelas (bukan) aku.

Diam?
Biarlah ia muram.
Hanya janganlah mendendam.
Sesungguhnya yang suram pun benar, pulangnya kadang melalui malam tak cukup dalam..

Pulanglah, karena ada jalan yang dijaga oleh (bukan) jiwa yang suram..

Published with Blogger-droid v2.0.2