Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Thursday, August 11, 2016


Baru beberapa hari tiba di Chiang Rai, salah satu kota bersuhu dingin yang terletak di daerah pegunungan di sebelah Utara Thailand yang berbatasan dengan Laos dan Myanmar, salah seorang teman di Muslim Club kampus Mae Fah Luang mengajak kami untuk ikut pergi ke Walking Street bersama rombongan teman-teman Muslim Thailand lainnya. Awalnya saya bingung apa itu walking street, namun setelah tiba di tujuan, saya baru tahu bahwa walking street ini adalah istilah lain untuk ‘Saturday Market’, pasar yang dibuka dari sejak jam 5 sore sampai 11 malam setiap hari Sabtu. Walking street di Chiang Rai ini terletak di pusat kota, tidak jauh dari bus station dan pasar permanennya.

Suasana Wednesday Market di halaman Sport Center MFU
Ada beberapa pasar dadakan atau harian di Chiang Rai Thailand selain Saturday Market, antara lain Monday Market yang berlokasi di luar area kampus Mae Fah Luang, Wednesday Market yang diadakan di dalam area Sport Center kampus Mae Fah Luang, dan Night Bazar yang dibuka setiap harinya dari pukul 6 sore sampai 11 malam di pusat kota Chiang Rai. Di antara beberapa pasar dadakan itu, Saturday Market yang paling besar, murah, dan lengkap plus bervariasi barang dagangannya. Selain itu juga di Saturday Market ini, para pengunjung tidak hanya bisa berbelanja namun juga bisa menikmati pertunjukan seni oleh musisi lokal di sini. Mungkin karena letaknya yang di pusat kota hingga hampir semua masyarakat Chiang Rai mampu menjangkaunya, beragam profesi dan usia masyarakat ikut berkunjung ke sana tak peduli sampai di sana mereka akan berdesak-desakan karena ramainya pengunjung.

Berbeda dengan Wednesday Market misalnya, karena diadakan di dalam area kampus, maka pembeli yang datang berkunjung ke sana hampir 90% adalah mahasiswa. Begitu juga dengan Monday Market, pasar ini yang paling kecil ukurannya jika dibandingkan dengan Wednesday dan Saturday Market. Walaupun terletak di luar area kampus, namun yang datang ke pasar ini pun kebanyakan mahasiswa. Produk yang dijajakan di berbagai pasar dadakan di Thailand ini pun bervariasi. Mulai dari segala jajanan makanan khas Thailand yang enak tapi murah meriah, jajanan Jepang, souvenir, aksesoris, tas, sepatu (baru dan second), pakaian (baru dan second), sampai pernak-pernik Handphone. Sangat bervariasi. Harga yang ditawarkan di pasar-pasar ini pun tentunya sangat terjangkau, kaos kaki misalnya, ada yang dijual hanya dengan harga 10 baht atau sekitar 4000 rupiah saja. Baju-baju second dijual dengan harga 50 baht setara dengan 20000 rupiah, dan sebagainya. Tidak heran jika banyak mahasiswa yang datang ke sana walaupun pasar ini rutin diadakan setiap minggunya.

Pakaian yang dijual hanya dengan harga 50 baht

Pasar-pasar harian di Thailand ini tidak pernah sepi pengunjung. Para pedagangnya tampak tidak pernah menyerah sekalipun berjualan di sana terlihat melelahkan, karena hanya dibuka beberapa jam saja. Lelah, karena mereka harus membongkar pasang tenda atau meja, dan mengatur plus membereskan kembali barang dagangan untuk dibawa pulang setiap minggunya. Sekilas, sangat tidak senyaman berjualan di dalam toko sendiri. Mungkin ini dikarenakan antusias pengunjung atau warga Thailand yang tidak pernah pudar untuk ke sana.
Pasar-pasar di Thailand ini salah satu cara pemerintah untuk menunjang sisi pariwisata di sana. Bagaimana tidak? Dengan harga murah yang ditawarkan, tentu saja tidak hanya warga Thailand asli yang mau berkunjung ke sana, para wisatawan pun akan tertarik, minimal untuk melihat salah satu keunikan ataupun berbelanja oleh-oleh khas Thailand untuk dibawa pulang. Dari segi perekonomian, jelas saja pasar-pasar dadakan ini sangat menunjang pendapatan dan ekonomi warga Thailand. Semuanya bisa berjualan di sana, baik itu mereka yang aslinya punya toko ataupun tidak. Bermodal bisa memasak misalnya, maka dengan mudah mereka bisa membuka lapak di sana. Saya dan teman-teman Indonesia pun pernah berniat ingin ikut mencoba berjualan di sana, jualan makanan atau jajanan khas Indonesia, tapi salah satu teman yang bisa berbahasa Thailand agak ragu dengan ‘izin berjualan’ karena kami bukan warga Thailand. Saya belum tahu apakah hanya warga Thailand asli yang boleh berjualan atau yang bukan warga Thailand pun boleh. Atau apakah jika kita bukan warga Thailand tapi bisa berbahasa Thailand maka bisa ikut membuka lapak di pasar itu. 

Takoyaki, salah satu jajanan paling laris di sini.
Pasar-pasar harian ini tentunya sangat menunjang sisi pariwisata dan perekonomian warga Thailand. Semuanya bisa berdagang. Semuanya bisa memperbaiki kehidupan dengan tambahan penghasilan. Semuanya bisa berkreasi membuat makanan atau barang-barang unik lalu dijajakan. Indonesia harus mulai serius memikirkan cara ini, memberi kebebasan dan membuka lapangan bisnis yang mudah dan terjangkau untuk tiap rakyatnya. Agar semua rakyat bisa hidup sejahtera. Walaupun mungkin di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Aceh sudah ada yang mengadakan weekend market seperti ini, misalnya saja pameran/pasar/pekan yang diadakan di hari Jumat di daerah Seruway di Aceh Tamiang, konsep pasar yang sama, dengan kios-kios atau lapak-lapak kecil, hanya saja, setahu saya pekan di sana belum sangat rutin diadakan seminggu sekali. Dan mungkin ada daerah lainnya juga yang punya pasar dadakan dengan konsep yang sama seperti di Thailand. Rakyat Indonesia saya rasa harus mulai serius berdagang, tidak hanya untuk menambah penghasilan keluarga namun bisa juga menjadi salah satu penunjang pariwisata yang bisa memancing wisatawan untuk berkunjung ke sana. Bukankah kata Rasulullah, 9 dari 10 pintu rezeki itu ada di perdagangan? 


*Alhamdulillah. Tulisan ini dimuat di Majalah Warta Unsyiah, Desember 2015
8/11/2016 01:01:00 AM Desi YuLiana

Baru beberapa hari tiba di Chiang Rai, salah satu kota bersuhu dingin yang terletak di daerah pegunungan di sebelah Utara Thailand yang berbatasan dengan Laos dan Myanmar, salah seorang teman di Muslim Club kampus Mae Fah Luang mengajak kami untuk ikut pergi ke Walking Street bersama rombongan teman-teman Muslim Thailand lainnya. Awalnya saya bingung apa itu walking street, namun setelah tiba di tujuan, saya baru tahu bahwa walking street ini adalah istilah lain untuk ‘Saturday Market’, pasar yang dibuka dari sejak jam 5 sore sampai 11 malam setiap hari Sabtu. Walking street di Chiang Rai ini terletak di pusat kota, tidak jauh dari bus station dan pasar permanennya.

Suasana Wednesday Market di halaman Sport Center MFU
Ada beberapa pasar dadakan atau harian di Chiang Rai Thailand selain Saturday Market, antara lain Monday Market yang berlokasi di luar area kampus Mae Fah Luang, Wednesday Market yang diadakan di dalam area Sport Center kampus Mae Fah Luang, dan Night Bazar yang dibuka setiap harinya dari pukul 6 sore sampai 11 malam di pusat kota Chiang Rai. Di antara beberapa pasar dadakan itu, Saturday Market yang paling besar, murah, dan lengkap plus bervariasi barang dagangannya. Selain itu juga di Saturday Market ini, para pengunjung tidak hanya bisa berbelanja namun juga bisa menikmati pertunjukan seni oleh musisi lokal di sini. Mungkin karena letaknya yang di pusat kota hingga hampir semua masyarakat Chiang Rai mampu menjangkaunya, beragam profesi dan usia masyarakat ikut berkunjung ke sana tak peduli sampai di sana mereka akan berdesak-desakan karena ramainya pengunjung.

Berbeda dengan Wednesday Market misalnya, karena diadakan di dalam area kampus, maka pembeli yang datang berkunjung ke sana hampir 90% adalah mahasiswa. Begitu juga dengan Monday Market, pasar ini yang paling kecil ukurannya jika dibandingkan dengan Wednesday dan Saturday Market. Walaupun terletak di luar area kampus, namun yang datang ke pasar ini pun kebanyakan mahasiswa. Produk yang dijajakan di berbagai pasar dadakan di Thailand ini pun bervariasi. Mulai dari segala jajanan makanan khas Thailand yang enak tapi murah meriah, jajanan Jepang, souvenir, aksesoris, tas, sepatu (baru dan second), pakaian (baru dan second), sampai pernak-pernik Handphone. Sangat bervariasi. Harga yang ditawarkan di pasar-pasar ini pun tentunya sangat terjangkau, kaos kaki misalnya, ada yang dijual hanya dengan harga 10 baht atau sekitar 4000 rupiah saja. Baju-baju second dijual dengan harga 50 baht setara dengan 20000 rupiah, dan sebagainya. Tidak heran jika banyak mahasiswa yang datang ke sana walaupun pasar ini rutin diadakan setiap minggunya.

Pakaian yang dijual hanya dengan harga 50 baht

Pasar-pasar harian di Thailand ini tidak pernah sepi pengunjung. Para pedagangnya tampak tidak pernah menyerah sekalipun berjualan di sana terlihat melelahkan, karena hanya dibuka beberapa jam saja. Lelah, karena mereka harus membongkar pasang tenda atau meja, dan mengatur plus membereskan kembali barang dagangan untuk dibawa pulang setiap minggunya. Sekilas, sangat tidak senyaman berjualan di dalam toko sendiri. Mungkin ini dikarenakan antusias pengunjung atau warga Thailand yang tidak pernah pudar untuk ke sana.
Pasar-pasar di Thailand ini salah satu cara pemerintah untuk menunjang sisi pariwisata di sana. Bagaimana tidak? Dengan harga murah yang ditawarkan, tentu saja tidak hanya warga Thailand asli yang mau berkunjung ke sana, para wisatawan pun akan tertarik, minimal untuk melihat salah satu keunikan ataupun berbelanja oleh-oleh khas Thailand untuk dibawa pulang. Dari segi perekonomian, jelas saja pasar-pasar dadakan ini sangat menunjang pendapatan dan ekonomi warga Thailand. Semuanya bisa berjualan di sana, baik itu mereka yang aslinya punya toko ataupun tidak. Bermodal bisa memasak misalnya, maka dengan mudah mereka bisa membuka lapak di sana. Saya dan teman-teman Indonesia pun pernah berniat ingin ikut mencoba berjualan di sana, jualan makanan atau jajanan khas Indonesia, tapi salah satu teman yang bisa berbahasa Thailand agak ragu dengan ‘izin berjualan’ karena kami bukan warga Thailand. Saya belum tahu apakah hanya warga Thailand asli yang boleh berjualan atau yang bukan warga Thailand pun boleh. Atau apakah jika kita bukan warga Thailand tapi bisa berbahasa Thailand maka bisa ikut membuka lapak di pasar itu. 

Takoyaki, salah satu jajanan paling laris di sini.
Pasar-pasar harian ini tentunya sangat menunjang sisi pariwisata dan perekonomian warga Thailand. Semuanya bisa berdagang. Semuanya bisa memperbaiki kehidupan dengan tambahan penghasilan. Semuanya bisa berkreasi membuat makanan atau barang-barang unik lalu dijajakan. Indonesia harus mulai serius memikirkan cara ini, memberi kebebasan dan membuka lapangan bisnis yang mudah dan terjangkau untuk tiap rakyatnya. Agar semua rakyat bisa hidup sejahtera. Walaupun mungkin di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Aceh sudah ada yang mengadakan weekend market seperti ini, misalnya saja pameran/pasar/pekan yang diadakan di hari Jumat di daerah Seruway di Aceh Tamiang, konsep pasar yang sama, dengan kios-kios atau lapak-lapak kecil, hanya saja, setahu saya pekan di sana belum sangat rutin diadakan seminggu sekali. Dan mungkin ada daerah lainnya juga yang punya pasar dadakan dengan konsep yang sama seperti di Thailand. Rakyat Indonesia saya rasa harus mulai serius berdagang, tidak hanya untuk menambah penghasilan keluarga namun bisa juga menjadi salah satu penunjang pariwisata yang bisa memancing wisatawan untuk berkunjung ke sana. Bukankah kata Rasulullah, 9 dari 10 pintu rezeki itu ada di perdagangan? 


*Alhamdulillah. Tulisan ini dimuat di Majalah Warta Unsyiah, Desember 2015

Friday, July 26, 2013

Berawal dari perbincangan dan postingan seorang teman di akun twitter miliknya yang membagikan gambar 'another cocktail in Tunisia' yaitu strawberry and banana flavour--cocktail yang cukup simpel menurut saya--niat untuk membuat dessert itu pun muncul dan menggebu-gebu (maklum, udah jadi istri rumah tangga sekarang, keinginan masak-memasak meningkat drastis :p).

Nah, berbekal info dan resep sederhana dari orang yang sama pula ekseskusi pembuatan cocktail strawberry dan pisang akan segera dilaksanakan. Awalnya masih bingung dan ragu, dimana saya bisa mendapatkan buah strawberry di Banda Aceh ini. Karena strawberry masih termasuk buah yang langka di sini, tidak di semua tempat dan jika pun ada, hanya pada waktu-waktu tertentu ada yang menjualnya (atau saya yang kurang informasi? Entahlah). 

Well, beberapa hari yang lalu pertanyaan saya terjawab, saat sedang membeli buah segar demi nutrisi si buah hati di toko buah yang tidak jauh dari tempat tinggal, saya melihat ada strawberry yang terpajang manis di kulkas di sana. Cocktail tunisia itu pun tiba-tiba merasuk pikiran. Namun masih ragu, apa orang rumah (Ayah dan Bunda-red) bakalan suka jika cocktail yang notabenenya bukan makanan khas Indonesia apalagi Aceh disajikan untuk berbuka? Jadi impian membuat cocktail pun tertahan lagi.

Sampai akhirnya siang tadi Bunda tiba-tiba bertanya, "Buat apa kita nanti sore dek?" Ting ! Lampu menyala. Langsung saja saya utarakan, "Buat cocktail yok nda, dek ada resep cocktail sederhana ala Tunisia", nyambi memperlihatkan foto cocktail yang dibagikan teman dari sana. Awalnya Bunda ragu karena tidak tahu dimana bisa mendapatkan strawberry, tapi setelah saya beritahukan bahwa di toko buah langganan kami ada, Alhamdulillah Bunda langsung setuju. 

Singkat cerita, misi untuk membuat cocktail hari ini sukses saudara-saudara. Sebenarnya biasa aja, wong banyak yang udah sering dan berpengalaman buat desert yang begituan di rumahnya. Tapi bagi saya ini pengalaman perdana lho, dan melihat senyuman di wajah Ayah, Bunda, dan Misua saat cocktail itu saya sajikan sebelum berbuka itu rasanya sesuatu sekali, hehehe. 

Bagi yang penasaran, sinih, cek langsung bahan dan cara membuatnya yang sangaaat sederhana (tapi maaf ya jika cara penyampaiannya kurang greget, harap maklum, baru kali ini berbagi resep masakan --").

Bahan:
- Strawberry
- Pisang
- Es krim vanilla
- Susu kental manis rasa coklat
*strawberry dan pisang secukupnya ya, sesuaikan dengan porsi yang ingin dibuat aja*

Cara membuat:
Blender strawberry dan pisang secara terpisah, saya sarankan tambahkan gula saat diblender supaya lebih manis. Tuangkan satu persatu jus tersebut ke dalam gelas, strawberry terlebih dahulu, baru tuangkan pisang di atasnya. Tambahkan es krim vanila (kebetulan yang saya buat hari ini pakai es krim strawberry + vanila, karena sesuatu dan lain hal, human error pokoknya XD) sesuai selera. Langkah terakhir; tambah dan kreasikan susu kental manis coklat di atasnya. 

Daaaaan.. tarraaaaa.. Strawberry Banana Mocktail kita pun jadiii °\(^▿^)/°°\(^▿^)/° 

Ini hasil kerja saya :)

*saya menyebutnya mocktail karena mocktail itu adalah cocktail tanpa alkohol. Penjelasan selanjutnya, sila tanyakan pada Prof. Gugel yang terhormat, hehehe* 

Selamat berksperimen ! 



7/26/2013 08:48:00 AM Desi YuLiana
Berawal dari perbincangan dan postingan seorang teman di akun twitter miliknya yang membagikan gambar 'another cocktail in Tunisia' yaitu strawberry and banana flavour--cocktail yang cukup simpel menurut saya--niat untuk membuat dessert itu pun muncul dan menggebu-gebu (maklum, udah jadi istri rumah tangga sekarang, keinginan masak-memasak meningkat drastis :p).

Nah, berbekal info dan resep sederhana dari orang yang sama pula ekseskusi pembuatan cocktail strawberry dan pisang akan segera dilaksanakan. Awalnya masih bingung dan ragu, dimana saya bisa mendapatkan buah strawberry di Banda Aceh ini. Karena strawberry masih termasuk buah yang langka di sini, tidak di semua tempat dan jika pun ada, hanya pada waktu-waktu tertentu ada yang menjualnya (atau saya yang kurang informasi? Entahlah). 

Well, beberapa hari yang lalu pertanyaan saya terjawab, saat sedang membeli buah segar demi nutrisi si buah hati di toko buah yang tidak jauh dari tempat tinggal, saya melihat ada strawberry yang terpajang manis di kulkas di sana. Cocktail tunisia itu pun tiba-tiba merasuk pikiran. Namun masih ragu, apa orang rumah (Ayah dan Bunda-red) bakalan suka jika cocktail yang notabenenya bukan makanan khas Indonesia apalagi Aceh disajikan untuk berbuka? Jadi impian membuat cocktail pun tertahan lagi.

Sampai akhirnya siang tadi Bunda tiba-tiba bertanya, "Buat apa kita nanti sore dek?" Ting ! Lampu menyala. Langsung saja saya utarakan, "Buat cocktail yok nda, dek ada resep cocktail sederhana ala Tunisia", nyambi memperlihatkan foto cocktail yang dibagikan teman dari sana. Awalnya Bunda ragu karena tidak tahu dimana bisa mendapatkan strawberry, tapi setelah saya beritahukan bahwa di toko buah langganan kami ada, Alhamdulillah Bunda langsung setuju. 

Singkat cerita, misi untuk membuat cocktail hari ini sukses saudara-saudara. Sebenarnya biasa aja, wong banyak yang udah sering dan berpengalaman buat desert yang begituan di rumahnya. Tapi bagi saya ini pengalaman perdana lho, dan melihat senyuman di wajah Ayah, Bunda, dan Misua saat cocktail itu saya sajikan sebelum berbuka itu rasanya sesuatu sekali, hehehe. 

Bagi yang penasaran, sinih, cek langsung bahan dan cara membuatnya yang sangaaat sederhana (tapi maaf ya jika cara penyampaiannya kurang greget, harap maklum, baru kali ini berbagi resep masakan --").

Bahan:
- Strawberry
- Pisang
- Es krim vanilla
- Susu kental manis rasa coklat
*strawberry dan pisang secukupnya ya, sesuaikan dengan porsi yang ingin dibuat aja*

Cara membuat:
Blender strawberry dan pisang secara terpisah, saya sarankan tambahkan gula saat diblender supaya lebih manis. Tuangkan satu persatu jus tersebut ke dalam gelas, strawberry terlebih dahulu, baru tuangkan pisang di atasnya. Tambahkan es krim vanila (kebetulan yang saya buat hari ini pakai es krim strawberry + vanila, karena sesuatu dan lain hal, human error pokoknya XD) sesuai selera. Langkah terakhir; tambah dan kreasikan susu kental manis coklat di atasnya. 

Daaaaan.. tarraaaaa.. Strawberry Banana Mocktail kita pun jadiii °\(^▿^)/°°\(^▿^)/° 

Ini hasil kerja saya :)

*saya menyebutnya mocktail karena mocktail itu adalah cocktail tanpa alkohol. Penjelasan selanjutnya, sila tanyakan pada Prof. Gugel yang terhormat, hehehe* 

Selamat berksperimen ! 



Thursday, June 6, 2013

Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..


6/06/2013 08:40:00 AM Desi YuLiana
Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..