Saturday, March 7, 2015

Posted by Desi YuLiana on 3/07/2015 01:14:00 AM 2 comments
Enggak pernah kebayang dalam pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani profesi ini.

But.. here I am. Being a fulltime housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya (kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!

Setelah dijalani selama dua bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener! Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci piring aja gak bisa! Nah lho!

Saat kesabaran menghadapi Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:

“Ngapain kamu di sini, hanya di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”

“Pulang aja gih ke Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”

“Kawan-kawanmu di sana udah pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”

Lebih kurang demikianlah bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.

Ah, rasanya lemah sekali jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan. Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah. Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya berbeda.

Sedang berjuang untuk mereka
Dan sebenarnya jadi ibu rumah tangga itu keren lho. Ibu rumah tangga itu pemimpin atas rumahnya. Pemimpin atas anak-anaknya. Pemimpin atas kebutuhan suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga itu yang paling diperlukan dalam sebuah keluarga. Dan menjadi ibu rumah tangga yang professional itu sungguh gak mudah. Seorang istri harus punya pendidikan yang baik, sikap dan karakter yang baik, kesabaran, kedisiplinan, ketelitian, dan jiwa yang kuat untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Gak gampang! Serius!

Hanya berdiam di rumah sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah! Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi, menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi, menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa seluruh penghuni rumah pun bersih.

Seorang Ibu juga punya kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya, menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung halaman dulu.

Sekarang berbeda. Satu tahun yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan. 

This is my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!

*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu, dan kesabaranmu itu luar biasa! 

2 Komentar:

  1. Waaah, sangat menginspirasi kak.
    Harus banyak2 belajar lagi juza kayaknya, huhuhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah :)
      Iya Juzaaaa.. harus kuat kita. harus banyak persiapan, banyak ilmu, kuat iman, kalau gak.. setan bisa selalu menang :(

      Delete