Nama asli saya Desi Yuliana. Dan nama singkat itu bertambah S, Pd di belakangnya sejak tahun 2012 lalu. Semoga di tahun 2014 nanti ada tambahan lagi; M.Si (Aamiin). Sebagian ada yang bertanya, 'Wan', yang saya sertakan di nama pada akun facebook saya itu sebenarnya apa. Wan itu merupakan nama keturunan keluarga kerajaan di Aceh Tamiang. Ibaratnya di Aceh, Wan itu seperti Teuku atau Cut. Nah, kebetulan, saya lahir dari rahim salah seorang cucu kerajaan Tamiang, tepatnya kerajaan Seruway. Sesuai dengan nama anggota keluarga kerajaan, Bunda (Ibu) saya mempunyai nama Tengku di depan namanya (ini berbeda dengan Teuku nya Aceh). Dan setiap anak Tengku, akan diberi nama Wan di depan nama aslinya. Maka itu, sebenarnya nama saya Wan Desi Yuliana, sama seperti nama sepupu-sepupu saya dari pihak Bunda yang lain. Tapi mungkin dihilangkan karena Ayah saya orang Aceh tulen, dan mungkin nama Wan harus dihilangkan karena ikut garis keturunan Ayah? Wallahualam. Begitulah kira-kira saudara-saudara.


Desi, si anak bawang pecinta warna ungu ini lahir sebagai anak kedua dari dua bersaudara di kota kecil yang sekarang katanya metropolitan; Lhokseumawe, di akhir tahun 1988. Percaya gak percaya, dari sejak lahir saya selalu 'berurusan' dengan angka 2 (dua), contoh nyatanya ya yang di atas; anak kedua dari dua bersaudara (maksa), maka itu saya jadi tertarik dan memfavoritkan angka 2. Sampai akhirnya, semua nomor hp yang saya punya ujungnya 22. Penting! 

Sejak umur dua tahun, saya sudah terbiasa hidup nomaden (berpindah-pindah). Ayah yang seorang PNS di Departemen Keuangan membuat keluarga kami harus senang tinggal di beberapa kota berbeda. Dimulai dari Lhokseumawe, saya yang masih belajar mengenal dunia (tahun 1990) selanjutnya dibawa ke Meulaboh. Menetap di sana selama 7 tahun dan akhirnya kembali ke kota Lhokseumawe (tahun 1997). Kelas 3 SD, itu kali pertama saya merasakan bagaimana sedihnya berpisah dengan sahabat-sahabat. Saya masih ingat, saat diberitahu bahwa keluarga kami akan meninggalkan kota Meulaboh, saya bersikeras tidak mau ikut, saya mau tetap di Meulaboh! Tapi apa daya, orang tua mana yang mau meninggalkan anaknya yang masih kelas 3 SD di sebuah kota sendirian? 

Tahun 1999, perpisahan dengan sahabat-sahabat itu mau tak mau harus saya rasakan kembali. SK mutasi Ayah keluar, dan mengabarkan bahwa keluarga kami akan pindah ke Padang. Ini kali perdana kami ke luar Aceh. Pindahnya keluarga kami ke Padang saat itu sering disalah-artikan oleh orang-orang sekitar; keluarga kami 'kabur' ke Padang. Kebetulan, tahun 1999 itu Aceh tengah bergejolak. Suara dentuman bom dan tembakan saban hari terdengar. Cukup merusak masa bermain dan belajar anak-anak Aceh saat itu. Padahal jelas, kami bukan kabur, tapi memang harus pindah karena tugas kerja Ayah. 

Menetap di Padang hampir selama tiga tahun (1999 - 2002). Entah kenapa, di tanah Minang itu saya merasakan kenyamanan yang senyaman-nyamannya. Teman-teman sekolah dan teman-teman di komplek tempat tinggal yang kompak, tetangga-tetangga di komplek dan sekitarnya yang juga kompak, rekan-rekan kantor Ayah - Bunda yang juga tak kalah kompak, melimpahnya keindahan alam dan tujuan wisata, dan sebagainya. Aduhai, sungguh pengalaman plus kenangan hidup yang tak pernah bisa dilupakan! Sumatera Barat, aku ingin kembali padamu! (eaaaa). 

Dari Padang kami kembali ke Lhokseumawe. Di tahun 2005 seharusnya kami sudah menetap di Banda Aceh. Namun, dengan kondisi kota Banda yang masih dalam perbaikan karena bencana Tsunami dan penatnya Bunda dengan segala pernak-pernik pindah ke luar kota, kami memutuskan hanya Ayah dan kakak (kakak mulai kuliah tahun 2005) yang akan tinggal di Banda, sementara saya dan Bunda akan tetap setia di rumah kesayangan di Lhokseumawe, paling tidak sampai saya kuliah nanti . Dan di tahun 2007, saya dan Bunda akhirnya mengikuti jejak Ayah dan kakak; menetap di Banda. Tahun 2009, Ayah pindah untuk yang terakhir kalinya ke Meulaboh. Namun, karena kuliah dan sebagainya, Bunda, kakak, dan saya memilih tetap di Banda. Sampai akhirnya, tahun 2011 Ayah pensiun, dan kami sekeluarga resmi menjadi warga kota Banda Aceh. Hmm.. I miss my Lhokseumawe city :'(

Si anak bawang yang tertarik dengan kebudayaan Jepang ini punya penampakan fisik dan kebiasaan yang berbeda dari anggota keluarganya yang lain. Dalam keluarga, saya sendiri yang berkacamata minus, saya sendiri yang berbadan kurus, saya sendiri yang senang berbisnis, saya sendiri yang punya minat pada dunia literasi (baca - tulis), fotografi, musik, tarian, nyanyian, bahasa, dan sebagainya. Entah bakat siapa yang turun kepada saya. Wallahualam. 

Nah, karena hidup yang berpindah-pindah itu, saya jadi punya banyak pengalaman bersekolah di beberapa sekolah berbeda, yaitu:

1. TK Pertiwi Meulaboh (1993 - 1995)
2. MIN Drien Rampak Meulaboh (1995 - 1997)
3. MIN Kutablang Lhokseumawe (1997 - 1999)
4. MIN Gunung Pangilun Padang (1999 - 2001)
5. MTsN Model Gunung Pangilun Padang (2001 - 2002)
6. MTsN Lhokseumawe (2002 - 2004)
7. SMAN 1 Lhokseumawe (2004 - 2007)
8. IAIN Ar-Raniry, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Bahasa Inggris (2007)
9. Universitas Syiah Kuala, Fakultas KIP, Jurusan Pendidikan Matematika (2007 - 2011)
10. Porgram Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala, Prodi Magister Matematika (2012 - 2014) Insha Allah :)

*adakah rekan-rekan blogger atau pembaca yang pernah menjadi bagian dari beberapa institusi pendidikan di atas? Kalau ada, mari berkenalan dan bersilaturahmi! :D

Desi, si anak bawang yang Alhamdulillah telah menikah ini sekarang sedang menjalani dan menikmati hari-harinya sebagai seorang istri rumah tangga (belum menjadi Ibu, Insha Allah akhir tahun ini, doakan ya temans). Kegiatan utama adalah sebagai mahasiswi pasca sarjana (walaupun kuliah hanya di hari Jumat dan Sabtu --") dan sedang mencoba bisnis IT kecil-kecilan (sangat kecil bahkan). Terkadang, juga sering menghabiskan waktu luang dengan mengasah ilmu fotografi, membaca, browsing, narsising di media sosial, menonton, tiduran nyambi dengar musik, dan kegiatan-kegiatan sejuta umat lainnya. Well, sangat berharap waktu-waktu luang yang sebenarnya sangat banyak ini bisa dimanfaatkan dan digunakan untuk hal-hal berguna. Jika tidak untuk orang lain, setidaknya untuk pengembangan diri sendiri. I'm trying. 

belongs to http://komikmuslimah.blogspot.com
Karena saya pemuda, maka saya harus berguna dan berkarya! 
Semoga.





1 Komentar:

  1. Halo Mbak. Salam kenal. Saya lagi browsing2 tentang TK Pertiwi Meulaboh, terus ketemu blog Mba. Saya dulu juga pernah TK di sana, dan SD di Meulaboh juga (SD 14) sebelum akhirnya pindah. Hehehe. Kangen banget dengan kota Meulaboh. Hehe... ga nyambung juga ya malah curhat di sini

    ReplyDelete