Monday, June 3, 2013

Posted by Desi YuLiana on 6/03/2013 07:59:00 AM 5 comments
Beberapa minggu terakhir, ada seseorang yang mengatakan saya termasuk pribadi yang punya gaya hidup hedonis (JLEB!), dan pernyataan itu semakin sering saya dengar beberapa hari terakhir ini. Ah, hedonis? Saya dikatakan hedonis? Saya tidak tahu haruskah atau layakkah jika saya tersinggung atau sakit hati dengan pernyataan seseorang tersebut. 


Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Dan saya juga tiba pada halaman Yahoo Answer, kebetulan ada yang bertanya di sana apa itu hedonis, dan kesimpulan jawabannya:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Astaghfirullah.. mengerikan.

Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*

Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.

Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone). 

Alasan saya dan sahabat senang berkaraoke cukup banyak; karena memang senang nyanyi (walaupun suara dan kemampuan pas-pasan) namun tidak bisa bernyanyi di depan umum atau sekedar karaokean di rumah karena akan mengganggu tetangga dengan suara yang tak seberapa mana, karena karaokean juga terkadang menjadi satu alternatif saat down atau saat hidup terasa membosankan atau saat sedang 'mumang' dengan berbagai masalah yang ada dan sebagainya (mungkin alasan ini memang yang kurang baik, karena harusnya.. ah, kalian tahulah apa), dan karena karaokean juga menjadi satu cara untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama sahabat; melakukan hobi/hal yang sama-sama disenangi bersama-sama, bukankah itu menyenangkan? Atau salah? Tolong jelaskan pada saya..

Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?

Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe


Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu. 

Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.

Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.




Alasan seseorang berkata demikian itu simpel; karena keluarganya dulu tidak ada memakai dan menggunakan perlengkapan-perlengkapan demikian, dan anak-anaknya sampai sekarang sehat-sehat atau baik-baik saja. *masuk kulkas*. Bukankah kebutuhan manusia tiap zaman itu berbeda-beda? Jangankan tiap zaman, di zaman yang sama pun, kebutuhan manusia berbeda-beda; tergantung kondisi masing-masingnya bukan? Tolonglah jangan disamakan --"

Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam. 

Bukankah tiap keluarga itu berbeda? Kebiasaan, gaya hidup, perlengkapan, perabotan, bahkan cara mengasuh anak, berbeda-beda kan? Tugas kita sebagai individu yang merdeka ya menerima setiap perbedaan. Jika ada hal baik; ambil, amati, tiru, modifikasi. Jika ada hal yang tidak baik dari sana, jadikan itu pelajaran dan pengingat agar tidak melakukan hal yang sama. 

Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.

Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.

Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'


5 Komentar:

  1. stay cool kak :)
    "donya nyan.. " hehhe...

    ReplyDelete
  2. nikmati saja, kadang seseorang yang menvonis kita seperti ini dan itu belum tentu sepenuhnya paham tentang kita dan paham apa yang sedang dia bicarakan. yang kita lakukan memang dunia karena kita masih hidup di dunia. yang harus kita ingat adalah keseimbangan dalam hidup, yaitu dunia dan akhirat. jangan sampai argumen orang membunuh kenikmatan kita dalam menjalani hidup, setuju untuk stay coolnya. :)

    ReplyDelete
  3. kalo' menurut q itu bukan hedonis lah
    karaoke dalam taraf seperti itu wajar bgt lah, kita kan g merugikan orang lain dan g berbuat aneh.
    orang yg bilang beli cooler bag itu hedonis, aneh banget sich
    kebutuhan orang tu beda2, dan yg tau kbutuhan masing2 ya cuma orang itu sendiri
    toh juga pake uang masing2
    udah.....lakukan yg menurut kamu baik, selama itu benar,why not!

    ReplyDelete
  4. waaawww. . . sekian lama gak bertandang ke blognya si "tatak" ternyata banyak hal ya yang terjadi. . . dan waktu baca ini, jadi ngebayangin klo si "tatak" yang satu ini lagi nyerocos, lagi cerita langsung. Ahhhhhhh, miss u ecieeeeeeeeee ;')

    ReplyDelete
  5. Inilah hidup tuhan yang tentukan, kita yang jalankan dan orang lain yang komentari.... just be our self

    ReplyDelete