Sunday, October 30, 2011

Posted by Desi YuLiana on 10/30/2011 12:33:00 AM No comments
Ada yang tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pedagang kaki lima? Secara langsung, mungkin nggak ada. Tapi, secara tak langsung baik itu tampak atau tidak tampak, ianya ada hubungannya.

Hari ini, tepatnya pukul 12 siang tadi, Banda Aceh dihampiri oleh hujan. Cukup deras. Dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit hitam sana. Aku dan seorang kawan terpaksa sedikit berlama-lama menghabiskan semangkuk bakso di warung langganan, sekitaran Darussalam.


Nah, singkat cerita, dalam perjalanan pulang tadi, aku (seperti biasa) melihat para pedagang kaki lima dengan dagangan sederhananya di trotoar jalan depan markas PEMA-Unsyiah, bersebrangan dengan kampus Ekonomi yang cukup terkenal itu *hmm*.

Bagi sebagian mahasiswa Unsyiah, atau IAIN yang kampus tempat menuntut ilmunya berada di darussalam, pasti tidak asing lagi dengan para Bapak-bapak, Ibu-ibu, bahkan anak-anak yang berjualan di sepanjang trotoar mulai dari daerah lapangan tugu sampai ke gerbang simpang galon.

Sedih? Miris? Kasihan? Atau berbagai perasaan simpati dan empati pasti ada bagi sebagian kita saat melihat mereka. Setiap hari. Duduk manis di hadapan meja kecil yang di atasnya terpajang dagangan yang cukup sederhana. Buah jamblang misalnya. Jarak satu pedagang dengan pedagang lainnya hanya sekitaran 2-3 meter. Dan itu cukup membuat para pembeli kebingungan memilih, pedagang mana yang harus dihampiri. Rasanya ingin bisa menghampiri mereka semua, tapi tentu saja, manusia banyak tapinya.

Kadang terbesit pikiran, apa mereka tidak bosan, tidak capek, tidak lelah seharian dan berhari-hari duduk diam di pinggir jalan dengan dagangan yg sama setiap harinya? Bagaimana bisa seorang Ibu bertahan berjualan demikian, dengan membawa bayinya yang masih cukup rentan pada asap kendaraan yang tak henti-hentinya bertebaran di sana? Bagaimana bisa seorang anak setiap harinya harus duduk termenung memandangi meja kecil di hadapannya sambil sesekali melemparkan pandangan--yang seakan memanggil untuk dibantu--pada orang-orang di sekitarnya, sementara kawan-kawan seusianya, di waktu yang sama sedang duduk tenang mendapatkan pendidikan di bangku sekolah?

Bagaimana bisa?

Dan di perjalanan pulang tadi aku sedikit tersadar. Saat hujan deras, dimana mereka berteduh? Seorang Ibu dengan bayi di gendongannya tadi sibuk mengatur kembali lapak dan meja kecilnya yang basah. Ada juga seorang Bapak dan anak kecilnya--yang cukup ditanda oleh mahasiswa karena matanya yang tak dapat melihat--yang sibuk memperbaiki payung kecil untuk meja dagangan mereka yang telah rusak. Dimana? Dimana mereka berlindung saat rahmat Allah itu turun menggebu-gebu?

Ah, pedagang kaki lima. Mereka selalu ada di sekitar kita, wahai para mahasiswa. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita tetap bersenang-senang, sementara banyak yang kurang beruntung di lingkungan kita? Berjuanglah mahasiswa, cepat selesaikan hak dan laksanakan kewajiban, karena banyak mereka yang butuh uluran tangan kita..
Published with Blogger-droid v1.7.4

0 Komentar:

Post a Comment