Showing posts with label Sajak singkat. Show all posts
Showing posts with label Sajak singkat. Show all posts

Thursday, July 5, 2012


Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap pencapaian dan prestasi jika kau sendiri tak pernah beri dukungan dan selalu menjatuhkan diri..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap sayang dan hati jika kau sendiri tak niat berikan ruang dan selalu menatap benci..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap perbaikan dan potensi jika kau sendiri tak beri perhatian dan selalu menawar harga mati..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap kepatuhan dan budi pekerti jika kau sendiri tak beri panutan dan selalu hilang peduli..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap kematangan dan jati diri jika kau sendiri tak bisa paham perbedaan dan selalu mengintimidasi..



7/05/2012 10:28:00 PM Desi YuLiana

Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap pencapaian dan prestasi jika kau sendiri tak pernah beri dukungan dan selalu menjatuhkan diri..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap sayang dan hati jika kau sendiri tak niat berikan ruang dan selalu menatap benci..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap perbaikan dan potensi jika kau sendiri tak beri perhatian dan selalu menawar harga mati..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap kepatuhan dan budi pekerti jika kau sendiri tak beri panutan dan selalu hilang peduli..
Duhai yang dituakan dan dihormati,
jangan kau harap kematangan dan jati diri jika kau sendiri tak bisa paham perbedaan dan selalu mengintimidasi..



Wednesday, January 25, 2012

Aku bimbang.
Saat pengalaman tak bisa dijadikan pelajaran.
Dan kau kembali melakukan kesalahan berulang.
Dengan cukup gampang.
Lantas gamang karenanya.

Perhatiannya memudar.
Dan kau pun merasakan padamnya ceria mata yang kau doa selalu berpijar.

Kau kelewatan.
Aku berlebihan dalam berprasangka.
Yang benar ku rasa salah dan yang salah ku rasa benar.
Imbasnya sederetan luapan itu pun menumbuhkan penyesalan.
Sebab perpisahan.

Iya dan tidak.
Harapanku iya.
Bahkan kenyataan tidak pernah melukiskan iya.
Ia suka berlawanan dari apa yang dikatakan harapan.
Dan harapan itu hilang dimakan rautan wajah yang berbeda dari biasanya.

Kemana?
Mana candaan yang mematikan itu?
Dimana aku memadamkannya?
Kau terus saja tanyakan tapi tak kunjung ada jawaban.
Hilang.

Maaf.
Memang ini sudah berlebihan.
Aku berdoa itu (bukan) aku.
Namun sayang dianya ambigu, itu jelas (bukan) aku.

Diam?
Biarlah ia muram.
Hanya janganlah mendendam.
Sesungguhnya yang suram pun benar, pulangnya kadang melalui malam tak cukup dalam..

Pulanglah, karena ada jalan yang dijaga oleh (bukan) jiwa yang suram..

Published with Blogger-droid v2.0.2
1/25/2012 05:00:00 AM Desi YuLiana
Aku bimbang.
Saat pengalaman tak bisa dijadikan pelajaran.
Dan kau kembali melakukan kesalahan berulang.
Dengan cukup gampang.
Lantas gamang karenanya.

Perhatiannya memudar.
Dan kau pun merasakan padamnya ceria mata yang kau doa selalu berpijar.

Kau kelewatan.
Aku berlebihan dalam berprasangka.
Yang benar ku rasa salah dan yang salah ku rasa benar.
Imbasnya sederetan luapan itu pun menumbuhkan penyesalan.
Sebab perpisahan.

Iya dan tidak.
Harapanku iya.
Bahkan kenyataan tidak pernah melukiskan iya.
Ia suka berlawanan dari apa yang dikatakan harapan.
Dan harapan itu hilang dimakan rautan wajah yang berbeda dari biasanya.

Kemana?
Mana candaan yang mematikan itu?
Dimana aku memadamkannya?
Kau terus saja tanyakan tapi tak kunjung ada jawaban.
Hilang.

Maaf.
Memang ini sudah berlebihan.
Aku berdoa itu (bukan) aku.
Namun sayang dianya ambigu, itu jelas (bukan) aku.

Diam?
Biarlah ia muram.
Hanya janganlah mendendam.
Sesungguhnya yang suram pun benar, pulangnya kadang melalui malam tak cukup dalam..

Pulanglah, karena ada jalan yang dijaga oleh (bukan) jiwa yang suram..

Published with Blogger-droid v2.0.2