Saturday, November 26, 2011

“Hah? Aceh Coffee Festival? Apa itu?”

Begitulah, setelah dipromosikan beberapa minggu lalu, ternyata masih banyak warga Aceh khususnya Banda Aceh yang tidak tahu adanya acara ‘unik’ yang sedang berlangsung di Taman Sari sejak tanggal 25 sampai 27 November 2011 nantinya.

Apa itu Aceh Coffee Festival?

Ada yang bisa menjelaskan?

Acara ini merupakan salah satu dari serentetan acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang dilaksanakan dalam rangka menyukseskan Visit Banda Aceh Year 2011.

Kenapa festival kopi?

Nah, bukan rahasia umum lagi kalau kopi Aceh itu cukup terkenal di Indonesia bahkan (katanya) di dunia, wow! Kopi Aceh merupakan salah satu dari sekian banyaknya keunikan yang patut dibanggakan di Aceh kita ini (walaupun saya pribadi bukan penikmat kopi, hehehe).

Tema yang diangkat dalam festival kopi Aceh ini adalah “Kopi Aceh untuk Dunia”. Festival ini diharapkan dapat menjadi ajang perkenalan cita rasa dan aroma khas dari kopi Aceh bagi masyarakat dunia.

Ada beberapa rangkaian acara dalam festival kopi Aceh ini. Satu yang paling menarik perhatian saya adalah acara “ngopi bareng beberapa komunitas di Aceh”. Wow! Kesannya gimana gitu. Pasti seru. Beberapa komunitas yang akan ikut ambil bagian dalam acara ini diantaranya komunitas blogger Aceh, Acehdroid, Kutaradja Fixie, Aceh Fotografi, Aceh Modelling Community, dan sebagainya.

Baiklah, tanpa memperpanjang ‘pembukaan’, mari kita langsung ke intinya.

Sabtu (26 November 2011) sore, demi memenuhi ajakan seorang kawan plus niat mengambil hadiah dari kuis yang diadakan di twitter oleh akun @AcehCoffeeFest dan @iloveaceh , saya berkunjung ke festival ini. Tiba di sana, saya langsung disambut oleh aroma-aroma kopi yang sedikit menusuk hidung (maaf, karena saya bukan penggemar kopi).

Secara keseluruhan, saya suka konsep dan dekorasi festival yang diadakan di Taman Sari ini. Unik. Klasik. Dengan nuansa etnik. Warung-warung (mungkin lebih tepatnya kafe) kopi yang cukup ternama di Banda Aceh berkumpul di sini. Sebagian dari kafe yang aslinya bergaya modern, di festival ini dipermak menjadi warung kopi khas pedesaan. Tidak kampungan, tapi menarik. Warung-warung kopi peserta festival kopi tersebut dibangun dari kayu-kayu yang cukup indah di mata *eh?.

Ah, sedikit naïf. Tapi, itulah saya, yang suka pada hal-hal berbau klasik.

Taman Sari sedikit banyak tampak berbeda dari biasanya. Nuansa kecoklatan, dengan aroma kopi yang bertebaran. Hmm. Nice. Saat di sana terasa seperti bukan di Banda Aceh, tapi dimana gitu (ah, itu hanya perasaanmu saja).

Well, selesai jalan-jalan di beberapa stand yang tersedia, akhirnya aku dan kawan mengambil hadiah kuis twitter yang tempat pengambilannya berada tepat di tengah-tengah dan di depan panggung (bikin risih aja ah -_-' ). Berikut penampakannya:

Tampak belakangnya:

Hmm. Anda penasaran bagaimana suasana di sana? Langsung saja berkunjung ke Taman Sari, karena hari ini merupakan hari penutupan festival kopi Aceh 2011. Ayo, jangan sampai

ketinggalan! :D

11/26/2011 07:21:00 PM Desi YuLiana
“Hah? Aceh Coffee Festival? Apa itu?”

Begitulah, setelah dipromosikan beberapa minggu lalu, ternyata masih banyak warga Aceh khususnya Banda Aceh yang tidak tahu adanya acara ‘unik’ yang sedang berlangsung di Taman Sari sejak tanggal 25 sampai 27 November 2011 nantinya.

Apa itu Aceh Coffee Festival?

Ada yang bisa menjelaskan?

Acara ini merupakan salah satu dari serentetan acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang dilaksanakan dalam rangka menyukseskan Visit Banda Aceh Year 2011.

Kenapa festival kopi?

Nah, bukan rahasia umum lagi kalau kopi Aceh itu cukup terkenal di Indonesia bahkan (katanya) di dunia, wow! Kopi Aceh merupakan salah satu dari sekian banyaknya keunikan yang patut dibanggakan di Aceh kita ini (walaupun saya pribadi bukan penikmat kopi, hehehe).

Tema yang diangkat dalam festival kopi Aceh ini adalah “Kopi Aceh untuk Dunia”. Festival ini diharapkan dapat menjadi ajang perkenalan cita rasa dan aroma khas dari kopi Aceh bagi masyarakat dunia.

Ada beberapa rangkaian acara dalam festival kopi Aceh ini. Satu yang paling menarik perhatian saya adalah acara “ngopi bareng beberapa komunitas di Aceh”. Wow! Kesannya gimana gitu. Pasti seru. Beberapa komunitas yang akan ikut ambil bagian dalam acara ini diantaranya komunitas blogger Aceh, Acehdroid, Kutaradja Fixie, Aceh Fotografi, Aceh Modelling Community, dan sebagainya.

Baiklah, tanpa memperpanjang ‘pembukaan’, mari kita langsung ke intinya.

Sabtu (26 November 2011) sore, demi memenuhi ajakan seorang kawan plus niat mengambil hadiah dari kuis yang diadakan di twitter oleh akun @AcehCoffeeFest dan @iloveaceh , saya berkunjung ke festival ini. Tiba di sana, saya langsung disambut oleh aroma-aroma kopi yang sedikit menusuk hidung (maaf, karena saya bukan penggemar kopi).

Secara keseluruhan, saya suka konsep dan dekorasi festival yang diadakan di Taman Sari ini. Unik. Klasik. Dengan nuansa etnik. Warung-warung (mungkin lebih tepatnya kafe) kopi yang cukup ternama di Banda Aceh berkumpul di sini. Sebagian dari kafe yang aslinya bergaya modern, di festival ini dipermak menjadi warung kopi khas pedesaan. Tidak kampungan, tapi menarik. Warung-warung kopi peserta festival kopi tersebut dibangun dari kayu-kayu yang cukup indah di mata *eh?.

Ah, sedikit naïf. Tapi, itulah saya, yang suka pada hal-hal berbau klasik.

Taman Sari sedikit banyak tampak berbeda dari biasanya. Nuansa kecoklatan, dengan aroma kopi yang bertebaran. Hmm. Nice. Saat di sana terasa seperti bukan di Banda Aceh, tapi dimana gitu (ah, itu hanya perasaanmu saja).

Well, selesai jalan-jalan di beberapa stand yang tersedia, akhirnya aku dan kawan mengambil hadiah kuis twitter yang tempat pengambilannya berada tepat di tengah-tengah dan di depan panggung (bikin risih aja ah -_-' ). Berikut penampakannya:

Tampak belakangnya:

Hmm. Anda penasaran bagaimana suasana di sana? Langsung saja berkunjung ke Taman Sari, karena hari ini merupakan hari penutupan festival kopi Aceh 2011. Ayo, jangan sampai

ketinggalan! :D

Tuesday, November 22, 2011

“Kiban?” begitulah sapaan khasnya saat menyapa para mahasiswa bimbingan yang ditemuinya. Dialah Dosen Wali, yang sekarang merangkap menjadi Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsiku. Beliau merupakan pribadi yang baik, walaupun jika hanya dilihat dari penampakan luarnya, akan banyak orang yang tidak percaya bahwa beliau adalah orang yang baik. Ah, “Don’t Judge a Book by Its Cover”! Pepatah ini cocok jika disandingkan dengan perbincangan kita di atas barusan.



Sejak awal kuliah 2007 silam, beliau cukup ‘’welcome’’ saat ada mahasiswanya yang meminta bimbingan atau sekedar tanda tangan (KRS, KHS, dan sebagainya). Dengan senang hati dan (sedikit tampak) tulus, terkadang beliau cukup perhatian dengan bertanya pada mahasiswanya akan pengetahuan si mahasiswa terhadap mata kuliah yang akan diambilnya. Jika menurut beliau masih ada yang kurang, maka beliau akan dengan tegas menyarankan si mahasiswa untuk membatalkan/menunda dulu mata kuliah tersebut, sampai persyaratan yang harus dipenuhi mata kuliah itu selesai dipelajari.

Yah, begitulah. Terkadang sikap tegas, blak-blakan dan to the point yang khas dari beliau itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa men’judge’ beliau sebagai salah satu dosen kejam yang cukup ditakuti dan harus dihindari. Aku? Sedikit banyak terkadang juga merasakan hal yang sama. Di satu sisi beliau memang punya karakter yang sedikit menakutkan dan membingungkan para pembaca eh, para mahasiswa. Beliau termasuk pribadi yang sedikit plin-plan (berbeda-beda apa yang dikatakannya), agak pelupa (saking banyaknya mahasiswa yang dibimbingnya) dan juga mood-mood-an (apa ini maksudnya?), saat moodnya baik, beliau sangat baik, dan sebaliknya. Begitu juga jika marah, beliau benar-benar marah dan jika bercanda, beliau benar-benar bercanda sampai kadang tertawa terbahak-bahak.

Beliau pribadi yang baik. Kenapa? Dibalik segala ketegasan dan (mungkin) sisi negatif nya menurut orang-orang, beliau termasuk dari beberapa dosen di jurusan kami yang tidak ingin menunda shalat. Hal itu terbukti saat sedang membimbing mahasiswa, jika masuk waktu shalat, beliau akan dengan tegas mengatakan pada mahasiswa bahwa bimbingan akan dilanjutkan setelah beliau shalat. Nice!

Cukup banyak kebaikannya yang lain. Hanya saja, segala keunikan dan karakter yang tidak disukai banyak orang kadang lebih tampak dominan daripada kebaikan tulus yang ada pada diri beliau.

Memasuki semester akhir dan hal yang paling sakral bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi.

Niat plus target mengajukan judul skripsi sudah ada sejak Desember 2010 silam. Namun tertunda lantaran satu hal, yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Yah, semua sudah tahu, beliau merupakan salah satu dosen plus sekretaris jurusan yang cukup disiplin. Aturan-aturannya kuat dan sedikit menyusahkan mahasiswa (begitu kata dan keluhan para mahasiswa). Saat hendak mengajukan judul skripsi, aku langsung ditodong dengan pertanyaan: “Apa kamu sudah selesai PPL?” Deg. Terang saja belum, saat itu sedang liburan semester ganjil dan aku berencana mengambil PPL di semester depannya. Mendengar jawaban ‘belum’ beliau langsung memotong “Nah, kamu PPL dulu, saat di sekolah nanti coba kamu perhatikan dan pikirkan dengan seksama apa masalah murid-murid di sana. Setelah dapat, ceritak masalahnya, deskripsikan dan tunjukkan ke saya”.

Begitulah, hingga akhirnya judul skripsi aku ajukan 3 bulan kemudian. Judul pertama ditolak. Beliau malah memintaku menceritakan setiap kejadian selama aku mengajar di kelas yang berbeda dengan materi yang sama. Lagi. Cerita dan deskripsi. Walaupun cukup malas, mau tak mau harus kukerjakan juga tugas mengarang itu, tak jauh berbeda dengan tugas wajib PPL, refleksi harian dan case study. Ah, seperti menulis buku harian. Begitulah yang aku tanamkan dalam hati saat hendak menuliskannya.

Dua minggu kemudian, berbekal 6 lembar kertas yang berisi cerita pengalaman mengajar dan dua judul skripsi plus latar belakangnya, ku temui lagi beliau di meja kerjanya.

“Kiban?” begitulah aku disambutnya.

Tanpa basa-basi langsung kuserahkan saja kertas-kertas yang tak seberapa mana itu. Sekilas. Beliau melihat cerita mengajar itu hanya sekilas. Bergumam sedikit—dan aku tak sempat menangkap apa yang dikatakannya—lalu memilih-milih kertas lainnya. Perhatian beliau ternyata lebih tercurah pada salah satu judul skripsi yang aku ajukan. Tanpa babibu panjang kali lebar sama dengan luas, beliau langsung berkomentar tentang judul skripsi tersebut, dan tak lama setelah itu terciptalah satu judul skripsi yang komplit. Ting!

“Kamu bahas ini aja” katanya sambil melingkari judul skripsi yang barusan ditulisnya.

Aku diam. Judul yang diajukannya merupakan judul skripsi yang paling aku hindari. Penerapan model pembelajaran, yang artinya aku akan mengajar untuk penelitiannya.

“Itu judul skripsi saya pak?”

Eh, sempat-sempatnya pula aku bertanya demikian. Untung saja saat itu mood beliau sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, bisa berabe anak muda.

Akhirnya, dengan setengah senang (karena akhirnya punya judul skripsi) dan setengah sedih (karena tidak tertarik pada judulnya) aku keluar dari ruangan beliau dan ‘mengadu’ pada teman-teman. Ucapan selamat, dukungan dan wajah riang pun ku dapat dari mereka. Hmm, sedikit membantu semangat.

Singkat cerita, proposal skripsi ku selesai hampir dua bulan kemudian. Dan hanya dua kali bimbingan (baca: sekedar coret-coretan) sebelum akhirnya aku disarankannya untuk segera mendaftar seminar proposal. Selesai seminar, bimbingan instrument penelitian pun ku dapatkan hanya sebanyak dua kali. Beliau tampak seperti mempercepat pembuatan tugas akhirku itu. Dan perlakuan beliau terhadapku dan seorang teman—yang dosen walinya juga beliau—sedikit berbeda dibandingkan dengan perlakuannya pada mahasiswa bimbingannya yang lain. Hal itu membuat beberapa orang teman yang ada sangkut pautnya dengan beliau membicarakan kami berdua. Mereka jelas cemburu dan merasa bapak tidak adil atas perlakuan ‘anak kandung’ yang beliau berikan pada kami. Pembicaraan-pembicaraan mereka itu sedikit banyak menguras emosi, pikiran dan hati.

Well, lupakan cemoohan teman! The show must go on (cieeeee). Penelitian aku laksanakan dua bulan setelah seminar, revisi proposal dan bimbingan instrument. Sedangkan skripsi yang hanya BAB I – BAB V aku berikan pada beliau sebulan kemudian setelah penelitian. Malas! Malas! Dan malas! Tentu saja, akibat malas itu, target wisuda bulan November 2011 pun terlewati dengan indahnya.

Galau tingkat mahasiswa yang belum sarjana.

Lebih kurang tiga hari skripsi selesai diperiksa dan penuh dengan coretan hampir di setiap paragrafnya. Lagi-lagi malas melanda. Revisi skripsi terbengkalai dan aku seringnya lalai dengan segala hiburan yang ada di laptopku ini.

Sampai akhirnya, hari itu tiba. Saat Ayah menanyakan perihal skripsi dan akhirnya berkata “Alamat kelewatan wisuda bulan Februari Dedek ni”. Deg. Galau. Takut. Khawatir dan akhirnya aku sadar, skirpsi harus segera direvisi. Waktunya tak lama lagi saudara-saudara!

Dan akhirnya, hari ini kuserahkan juga skripsi yang telah direvisi perdana itu. Lega.

Selesai meletakkan skripsi di meja dosen pembimbing (sesuai pesan beliau sebelumnya), dan sudah beranjak dari kampus, aku dikejutkan dengan sms yang telah lama masuk di hape tapi baru terbaca, yang bunyinya “Tolong jumpai bapak di prodi, sekarang!” .

Panik tingkat lantai dua FKIP Gedung Baru.

Saat itu aku baru saja login di sebuah warnet yang Alhamdulillah tak begitu jauh dari kampus. Dengan segala kepanikan yang melanda (karena sms penting itu baru ku baca) aku langsung menuju kampus (dengan tidak melupakan ritual logout dan restart komputer). Tiba di sana, ternyata seminar proposal teman sudah dimulai, dan beliau salah satu dosen yang terlibat di dalamnya. Terpaksa menunggu. Perasaan nggak karuan, panik, takut dan penasaran atas apa yang akan disampaikan oleh beliau nantinya. Apa ada yang salah dengan revisi skripsiku itu? Apa ini, apa itu dan sebagainya.

Tidak begitu lama, seminar selesai, aku memberanikan diri masuk ke ruangan dan menemui beliau. Di situlah semua hal itu lagi-lagi terjadi kawan. Hah???

“Nah Desi, coba nanti kamu ceritakan setiap urutan mengajar kamu, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran sampai semua kegiatan yang kamu laksanakan di kelas, sesuai dengan RPP yang kamu buat. Coba dideskripsikan detailnya”.

Hee? “Hmm, nanti itu di skripsinya dibuat di bagian mana pak?”

“Oh, lepas aja. Kamu buat di kertas terpisah. Jabarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kamu laksanakan di kelas. Per-RPP dan model pembelajarannya. Jadi nanti kamu buat deskripsi RPP 1, RPP 2 dan RPP 3 untuk tiap model pembelajaran. Ingat-ingat lagi suasana penelitian kamu kemarin itu. Deskripsikan”.

“Oh, iya pak”(melemaslisasi).

“Ini saya kasih waktu 2 minggu, malam ini dikerjakan terus. Udah, itu saja yang mau saya sampaikan”.

Baiklah. Aku keluar ruangan dengan wajah bingung dan sedikit geli. Teman-teman yang penasaran pada bertanya ada apa.

“Eci disuruh mengarang lagi waak! Bapak minta deskripsi kegiatan selama mengajar kemarin itu!”

Tawa teman-teman tumpah! Asli. Sejauh ini belum pernah ada kejadian mahasiswa bimbingan beliau yang diminta mengarang demikian. Hanya aku. Dan itu sudah terjadi sejak awal pengajuan skripsi beberapa bulan silam. Teman-teman masih saja tertawa, dan aku bingung harus bagaimana.

Hahahahahahahahaha…

(Hmm, jangan-jangan beliau tahu kalau aku anggota FLP Aceh. Eh? Trus???).


Ruangan kesayangan.

22 November 2011, 7:08 PM


Published with Blogger-droid v2.0.1
11/22/2011 04:21:00 AM Desi YuLiana

“Kiban?” begitulah sapaan khasnya saat menyapa para mahasiswa bimbingan yang ditemuinya. Dialah Dosen Wali, yang sekarang merangkap menjadi Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsiku. Beliau merupakan pribadi yang baik, walaupun jika hanya dilihat dari penampakan luarnya, akan banyak orang yang tidak percaya bahwa beliau adalah orang yang baik. Ah, “Don’t Judge a Book by Its Cover”! Pepatah ini cocok jika disandingkan dengan perbincangan kita di atas barusan.



Sejak awal kuliah 2007 silam, beliau cukup ‘’welcome’’ saat ada mahasiswanya yang meminta bimbingan atau sekedar tanda tangan (KRS, KHS, dan sebagainya). Dengan senang hati dan (sedikit tampak) tulus, terkadang beliau cukup perhatian dengan bertanya pada mahasiswanya akan pengetahuan si mahasiswa terhadap mata kuliah yang akan diambilnya. Jika menurut beliau masih ada yang kurang, maka beliau akan dengan tegas menyarankan si mahasiswa untuk membatalkan/menunda dulu mata kuliah tersebut, sampai persyaratan yang harus dipenuhi mata kuliah itu selesai dipelajari.

Yah, begitulah. Terkadang sikap tegas, blak-blakan dan to the point yang khas dari beliau itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa men’judge’ beliau sebagai salah satu dosen kejam yang cukup ditakuti dan harus dihindari. Aku? Sedikit banyak terkadang juga merasakan hal yang sama. Di satu sisi beliau memang punya karakter yang sedikit menakutkan dan membingungkan para pembaca eh, para mahasiswa. Beliau termasuk pribadi yang sedikit plin-plan (berbeda-beda apa yang dikatakannya), agak pelupa (saking banyaknya mahasiswa yang dibimbingnya) dan juga mood-mood-an (apa ini maksudnya?), saat moodnya baik, beliau sangat baik, dan sebaliknya. Begitu juga jika marah, beliau benar-benar marah dan jika bercanda, beliau benar-benar bercanda sampai kadang tertawa terbahak-bahak.

Beliau pribadi yang baik. Kenapa? Dibalik segala ketegasan dan (mungkin) sisi negatif nya menurut orang-orang, beliau termasuk dari beberapa dosen di jurusan kami yang tidak ingin menunda shalat. Hal itu terbukti saat sedang membimbing mahasiswa, jika masuk waktu shalat, beliau akan dengan tegas mengatakan pada mahasiswa bahwa bimbingan akan dilanjutkan setelah beliau shalat. Nice!

Cukup banyak kebaikannya yang lain. Hanya saja, segala keunikan dan karakter yang tidak disukai banyak orang kadang lebih tampak dominan daripada kebaikan tulus yang ada pada diri beliau.

Memasuki semester akhir dan hal yang paling sakral bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi.

Niat plus target mengajukan judul skripsi sudah ada sejak Desember 2010 silam. Namun tertunda lantaran satu hal, yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Yah, semua sudah tahu, beliau merupakan salah satu dosen plus sekretaris jurusan yang cukup disiplin. Aturan-aturannya kuat dan sedikit menyusahkan mahasiswa (begitu kata dan keluhan para mahasiswa). Saat hendak mengajukan judul skripsi, aku langsung ditodong dengan pertanyaan: “Apa kamu sudah selesai PPL?” Deg. Terang saja belum, saat itu sedang liburan semester ganjil dan aku berencana mengambil PPL di semester depannya. Mendengar jawaban ‘belum’ beliau langsung memotong “Nah, kamu PPL dulu, saat di sekolah nanti coba kamu perhatikan dan pikirkan dengan seksama apa masalah murid-murid di sana. Setelah dapat, ceritak masalahnya, deskripsikan dan tunjukkan ke saya”.

Begitulah, hingga akhirnya judul skripsi aku ajukan 3 bulan kemudian. Judul pertama ditolak. Beliau malah memintaku menceritakan setiap kejadian selama aku mengajar di kelas yang berbeda dengan materi yang sama. Lagi. Cerita dan deskripsi. Walaupun cukup malas, mau tak mau harus kukerjakan juga tugas mengarang itu, tak jauh berbeda dengan tugas wajib PPL, refleksi harian dan case study. Ah, seperti menulis buku harian. Begitulah yang aku tanamkan dalam hati saat hendak menuliskannya.

Dua minggu kemudian, berbekal 6 lembar kertas yang berisi cerita pengalaman mengajar dan dua judul skripsi plus latar belakangnya, ku temui lagi beliau di meja kerjanya.

“Kiban?” begitulah aku disambutnya.

Tanpa basa-basi langsung kuserahkan saja kertas-kertas yang tak seberapa mana itu. Sekilas. Beliau melihat cerita mengajar itu hanya sekilas. Bergumam sedikit—dan aku tak sempat menangkap apa yang dikatakannya—lalu memilih-milih kertas lainnya. Perhatian beliau ternyata lebih tercurah pada salah satu judul skripsi yang aku ajukan. Tanpa babibu panjang kali lebar sama dengan luas, beliau langsung berkomentar tentang judul skripsi tersebut, dan tak lama setelah itu terciptalah satu judul skripsi yang komplit. Ting!

“Kamu bahas ini aja” katanya sambil melingkari judul skripsi yang barusan ditulisnya.

Aku diam. Judul yang diajukannya merupakan judul skripsi yang paling aku hindari. Penerapan model pembelajaran, yang artinya aku akan mengajar untuk penelitiannya.

“Itu judul skripsi saya pak?”

Eh, sempat-sempatnya pula aku bertanya demikian. Untung saja saat itu mood beliau sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, bisa berabe anak muda.

Akhirnya, dengan setengah senang (karena akhirnya punya judul skripsi) dan setengah sedih (karena tidak tertarik pada judulnya) aku keluar dari ruangan beliau dan ‘mengadu’ pada teman-teman. Ucapan selamat, dukungan dan wajah riang pun ku dapat dari mereka. Hmm, sedikit membantu semangat.

Singkat cerita, proposal skripsi ku selesai hampir dua bulan kemudian. Dan hanya dua kali bimbingan (baca: sekedar coret-coretan) sebelum akhirnya aku disarankannya untuk segera mendaftar seminar proposal. Selesai seminar, bimbingan instrument penelitian pun ku dapatkan hanya sebanyak dua kali. Beliau tampak seperti mempercepat pembuatan tugas akhirku itu. Dan perlakuan beliau terhadapku dan seorang teman—yang dosen walinya juga beliau—sedikit berbeda dibandingkan dengan perlakuannya pada mahasiswa bimbingannya yang lain. Hal itu membuat beberapa orang teman yang ada sangkut pautnya dengan beliau membicarakan kami berdua. Mereka jelas cemburu dan merasa bapak tidak adil atas perlakuan ‘anak kandung’ yang beliau berikan pada kami. Pembicaraan-pembicaraan mereka itu sedikit banyak menguras emosi, pikiran dan hati.

Well, lupakan cemoohan teman! The show must go on (cieeeee). Penelitian aku laksanakan dua bulan setelah seminar, revisi proposal dan bimbingan instrument. Sedangkan skripsi yang hanya BAB I – BAB V aku berikan pada beliau sebulan kemudian setelah penelitian. Malas! Malas! Dan malas! Tentu saja, akibat malas itu, target wisuda bulan November 2011 pun terlewati dengan indahnya.

Galau tingkat mahasiswa yang belum sarjana.

Lebih kurang tiga hari skripsi selesai diperiksa dan penuh dengan coretan hampir di setiap paragrafnya. Lagi-lagi malas melanda. Revisi skripsi terbengkalai dan aku seringnya lalai dengan segala hiburan yang ada di laptopku ini.

Sampai akhirnya, hari itu tiba. Saat Ayah menanyakan perihal skripsi dan akhirnya berkata “Alamat kelewatan wisuda bulan Februari Dedek ni”. Deg. Galau. Takut. Khawatir dan akhirnya aku sadar, skirpsi harus segera direvisi. Waktunya tak lama lagi saudara-saudara!

Dan akhirnya, hari ini kuserahkan juga skripsi yang telah direvisi perdana itu. Lega.

Selesai meletakkan skripsi di meja dosen pembimbing (sesuai pesan beliau sebelumnya), dan sudah beranjak dari kampus, aku dikejutkan dengan sms yang telah lama masuk di hape tapi baru terbaca, yang bunyinya “Tolong jumpai bapak di prodi, sekarang!” .

Panik tingkat lantai dua FKIP Gedung Baru.

Saat itu aku baru saja login di sebuah warnet yang Alhamdulillah tak begitu jauh dari kampus. Dengan segala kepanikan yang melanda (karena sms penting itu baru ku baca) aku langsung menuju kampus (dengan tidak melupakan ritual logout dan restart komputer). Tiba di sana, ternyata seminar proposal teman sudah dimulai, dan beliau salah satu dosen yang terlibat di dalamnya. Terpaksa menunggu. Perasaan nggak karuan, panik, takut dan penasaran atas apa yang akan disampaikan oleh beliau nantinya. Apa ada yang salah dengan revisi skripsiku itu? Apa ini, apa itu dan sebagainya.

Tidak begitu lama, seminar selesai, aku memberanikan diri masuk ke ruangan dan menemui beliau. Di situlah semua hal itu lagi-lagi terjadi kawan. Hah???

“Nah Desi, coba nanti kamu ceritakan setiap urutan mengajar kamu, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran sampai semua kegiatan yang kamu laksanakan di kelas, sesuai dengan RPP yang kamu buat. Coba dideskripsikan detailnya”.

Hee? “Hmm, nanti itu di skripsinya dibuat di bagian mana pak?”

“Oh, lepas aja. Kamu buat di kertas terpisah. Jabarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kamu laksanakan di kelas. Per-RPP dan model pembelajarannya. Jadi nanti kamu buat deskripsi RPP 1, RPP 2 dan RPP 3 untuk tiap model pembelajaran. Ingat-ingat lagi suasana penelitian kamu kemarin itu. Deskripsikan”.

“Oh, iya pak”(melemaslisasi).

“Ini saya kasih waktu 2 minggu, malam ini dikerjakan terus. Udah, itu saja yang mau saya sampaikan”.

Baiklah. Aku keluar ruangan dengan wajah bingung dan sedikit geli. Teman-teman yang penasaran pada bertanya ada apa.

“Eci disuruh mengarang lagi waak! Bapak minta deskripsi kegiatan selama mengajar kemarin itu!”

Tawa teman-teman tumpah! Asli. Sejauh ini belum pernah ada kejadian mahasiswa bimbingan beliau yang diminta mengarang demikian. Hanya aku. Dan itu sudah terjadi sejak awal pengajuan skripsi beberapa bulan silam. Teman-teman masih saja tertawa, dan aku bingung harus bagaimana.

Hahahahahahahahaha…

(Hmm, jangan-jangan beliau tahu kalau aku anggota FLP Aceh. Eh? Trus???).


Ruangan kesayangan.

22 November 2011, 7:08 PM


Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, October 30, 2011

Ada yang tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pedagang kaki lima? Secara langsung, mungkin nggak ada. Tapi, secara tak langsung baik itu tampak atau tidak tampak, ianya ada hubungannya.

Hari ini, tepatnya pukul 12 siang tadi, Banda Aceh dihampiri oleh hujan. Cukup deras. Dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit hitam sana. Aku dan seorang kawan terpaksa sedikit berlama-lama menghabiskan semangkuk bakso di warung langganan, sekitaran Darussalam.


Nah, singkat cerita, dalam perjalanan pulang tadi, aku (seperti biasa) melihat para pedagang kaki lima dengan dagangan sederhananya di trotoar jalan depan markas PEMA-Unsyiah, bersebrangan dengan kampus Ekonomi yang cukup terkenal itu *hmm*.

Bagi sebagian mahasiswa Unsyiah, atau IAIN yang kampus tempat menuntut ilmunya berada di darussalam, pasti tidak asing lagi dengan para Bapak-bapak, Ibu-ibu, bahkan anak-anak yang berjualan di sepanjang trotoar mulai dari daerah lapangan tugu sampai ke gerbang simpang galon.

Sedih? Miris? Kasihan? Atau berbagai perasaan simpati dan empati pasti ada bagi sebagian kita saat melihat mereka. Setiap hari. Duduk manis di hadapan meja kecil yang di atasnya terpajang dagangan yang cukup sederhana. Buah jamblang misalnya. Jarak satu pedagang dengan pedagang lainnya hanya sekitaran 2-3 meter. Dan itu cukup membuat para pembeli kebingungan memilih, pedagang mana yang harus dihampiri. Rasanya ingin bisa menghampiri mereka semua, tapi tentu saja, manusia banyak tapinya.

Kadang terbesit pikiran, apa mereka tidak bosan, tidak capek, tidak lelah seharian dan berhari-hari duduk diam di pinggir jalan dengan dagangan yg sama setiap harinya? Bagaimana bisa seorang Ibu bertahan berjualan demikian, dengan membawa bayinya yang masih cukup rentan pada asap kendaraan yang tak henti-hentinya bertebaran di sana? Bagaimana bisa seorang anak setiap harinya harus duduk termenung memandangi meja kecil di hadapannya sambil sesekali melemparkan pandangan--yang seakan memanggil untuk dibantu--pada orang-orang di sekitarnya, sementara kawan-kawan seusianya, di waktu yang sama sedang duduk tenang mendapatkan pendidikan di bangku sekolah?

Bagaimana bisa?

Dan di perjalanan pulang tadi aku sedikit tersadar. Saat hujan deras, dimana mereka berteduh? Seorang Ibu dengan bayi di gendongannya tadi sibuk mengatur kembali lapak dan meja kecilnya yang basah. Ada juga seorang Bapak dan anak kecilnya--yang cukup ditanda oleh mahasiswa karena matanya yang tak dapat melihat--yang sibuk memperbaiki payung kecil untuk meja dagangan mereka yang telah rusak. Dimana? Dimana mereka berlindung saat rahmat Allah itu turun menggebu-gebu?

Ah, pedagang kaki lima. Mereka selalu ada di sekitar kita, wahai para mahasiswa. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita tetap bersenang-senang, sementara banyak yang kurang beruntung di lingkungan kita? Berjuanglah mahasiswa, cepat selesaikan hak dan laksanakan kewajiban, karena banyak mereka yang butuh uluran tangan kita..
Published with Blogger-droid v1.7.4
10/30/2011 12:33:00 AM Desi YuLiana
Ada yang tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pedagang kaki lima? Secara langsung, mungkin nggak ada. Tapi, secara tak langsung baik itu tampak atau tidak tampak, ianya ada hubungannya.

Hari ini, tepatnya pukul 12 siang tadi, Banda Aceh dihampiri oleh hujan. Cukup deras. Dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit hitam sana. Aku dan seorang kawan terpaksa sedikit berlama-lama menghabiskan semangkuk bakso di warung langganan, sekitaran Darussalam.


Nah, singkat cerita, dalam perjalanan pulang tadi, aku (seperti biasa) melihat para pedagang kaki lima dengan dagangan sederhananya di trotoar jalan depan markas PEMA-Unsyiah, bersebrangan dengan kampus Ekonomi yang cukup terkenal itu *hmm*.

Bagi sebagian mahasiswa Unsyiah, atau IAIN yang kampus tempat menuntut ilmunya berada di darussalam, pasti tidak asing lagi dengan para Bapak-bapak, Ibu-ibu, bahkan anak-anak yang berjualan di sepanjang trotoar mulai dari daerah lapangan tugu sampai ke gerbang simpang galon.

Sedih? Miris? Kasihan? Atau berbagai perasaan simpati dan empati pasti ada bagi sebagian kita saat melihat mereka. Setiap hari. Duduk manis di hadapan meja kecil yang di atasnya terpajang dagangan yang cukup sederhana. Buah jamblang misalnya. Jarak satu pedagang dengan pedagang lainnya hanya sekitaran 2-3 meter. Dan itu cukup membuat para pembeli kebingungan memilih, pedagang mana yang harus dihampiri. Rasanya ingin bisa menghampiri mereka semua, tapi tentu saja, manusia banyak tapinya.

Kadang terbesit pikiran, apa mereka tidak bosan, tidak capek, tidak lelah seharian dan berhari-hari duduk diam di pinggir jalan dengan dagangan yg sama setiap harinya? Bagaimana bisa seorang Ibu bertahan berjualan demikian, dengan membawa bayinya yang masih cukup rentan pada asap kendaraan yang tak henti-hentinya bertebaran di sana? Bagaimana bisa seorang anak setiap harinya harus duduk termenung memandangi meja kecil di hadapannya sambil sesekali melemparkan pandangan--yang seakan memanggil untuk dibantu--pada orang-orang di sekitarnya, sementara kawan-kawan seusianya, di waktu yang sama sedang duduk tenang mendapatkan pendidikan di bangku sekolah?

Bagaimana bisa?

Dan di perjalanan pulang tadi aku sedikit tersadar. Saat hujan deras, dimana mereka berteduh? Seorang Ibu dengan bayi di gendongannya tadi sibuk mengatur kembali lapak dan meja kecilnya yang basah. Ada juga seorang Bapak dan anak kecilnya--yang cukup ditanda oleh mahasiswa karena matanya yang tak dapat melihat--yang sibuk memperbaiki payung kecil untuk meja dagangan mereka yang telah rusak. Dimana? Dimana mereka berlindung saat rahmat Allah itu turun menggebu-gebu?

Ah, pedagang kaki lima. Mereka selalu ada di sekitar kita, wahai para mahasiswa. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita tetap bersenang-senang, sementara banyak yang kurang beruntung di lingkungan kita? Berjuanglah mahasiswa, cepat selesaikan hak dan laksanakan kewajiban, karena banyak mereka yang butuh uluran tangan kita..
Published with Blogger-droid v1.7.4

Thursday, October 27, 2011

Lanjutan dari Ada Cerita di Kereta

Foto oleh Nuril Annissa.

"Ah! Kakiku goyah! Energiku menurun, aku ingin pulang!"
Lama aku memberontak di dalam hati sampai akhirnya si kereta ekonomi itu menampakkan wujudnya.
Berebutan! Aigoo.. Tidakkah kalian tahu, bahwa sekarang aku sedang kehilangan tenaga?
Dalam sekejap, setelah sedikit bertabrakan dengan penumpang lain, aku dapatkan tujuanku -- kursi kosong!
Ah, syukurlah! Dengan begini aku bisa sedikit merenggangkan otot-otot kaki yang hampir hilang.

Berisik..

Di dalam sini tidak nyaman! Kotor, penuh, dan sangat tidak teratur. Oh, maaf! Aku tidak suka.
Hati 'kiri'ku terus saja mengomel tak menentu, sementara hati 'kanan' masih berusaha menenangkan diri.
Diam.
Baiklah, akhirnya si kiri terdiam. Tidak! Aku ragu dia diam. Mungkin, dia tertidur. Ya! Aku yakin dia terlelap dalam mimpinya.

"Buah naga, buah naga, 5 rebo aja!"
"Buku mewarnai untuk anak, 10 rebo dapat tiga!"
"Alquran mini untuk persiapan Ramadhan hanya 10 ribu"
"Air minum, aq*a gelas, miz*ne, bla bla bla. Air minum untuk yang haus!"
"Lem tikus, lem isi ulang, lem ...."

Tuhan! Mataku mulai lelah. Ingin rasanya aku tidur pulas, tapi hati kanan terus saja memaksa untuk tetap terjaga.

Katanya "Sayang jika drama seperti ini tidak kau saksikan. Lihatlah! Dan terus lihat aktivitas mereka!"
Baiklah, aku bertahan. Dengan posisi duduk yang cukup kaku, dan kaki yang semakin bergetar karena harus menahan beban barang-barang belanjaan, mataku terus bekerja ke kanan dan kiri.
Aneh! Aku tak bosan! Meskipun dari tadi yang mondar-mandir di hadapanku hanya orang yang itu-itu saja.

"Aksesoris-aksesoris cantik. Silahkan dilihat. Jika tertarik, silahkan dibeli"
Jreng! Papan yang sama dengan dia yang tergantung berbeda lagi-lagi berhenti tepat di depan mataku.
Papan ini menggangguku!
Aku jadi tak leluasa memainkan pandanganku karenanya. Padahal, ceritanya masih ada. Ah! Ayo, pindahlah papan!

Lama..

Aku menundukkan kepala dan menatap kosong pada plastik besar di pangkuanku.
Ting..
Akhirnya duniaku meluas seketika, papan itu mengerti dan dia pergi. Namun, dunia yang tadi masih tetap dengan para pemain yang sama..

Satu stasiun. Dua stasiun. Tiga stasiun. Empat.. Lima..
Sama! Tapi, anehnya mataku tetap bertahan! Malah semakin waspada.

Di antara mereka akhirnya datang yang berbeda.
Dangdut! Ah! Aku pernah dengar lagu ini. Ku pusatkan pandangan ke sebelah kiri pada seorang Ibu tuna-netra. Ternyata beliau artisnya!
Tidak lama! Sosoknya hilang diambil gerbong tetangga.

"Kerupuk, kerupuk, kerupuk!"
"Air minum, air minum!"
"Buah naga, buah naga!"

Lagi. Mereka terus saja memainkan kaki dan nyanyiannya. Tidak lelahkah?

Yang berdangdut pun tiba lagi tapi dengan pemeran yang berbeda. Bahkan, di belakangnya tepat di bawah kakinya, ada seorang pemuda--wajahnya hitam, kaos, celana, kaki dan tangannya kotor. Dan itu.. Apa yang sedang dia lakukan?
"Oh, mungkin dia petugas cleaning service di kereta ini."
Hah!
Apa ada?
Tapi.. Dia sedang menyapu! Kau lihat itu, dia menyapu lantai kereta, dan mengumpulkan tiap sampah di dekatnya. Tapi, dia melakukannya sambil duduk. Ah! Aku tak paham!
Ting tong..
Tunggu! Dia.. Ah! Ternyata, dia bukan cleaning service!
Aku tak akan pernah sadar andai saja dia tak mengulurkan tangannya di depanku.

Baiklah, apalagi sekarang..

Dari sisi kanan, ternyata ada yang sedang bermesra-mesraan. Aku harus apa? Tetap diam, sementara ada yang terang-terangan bermaksiat di depan mata?

Aku diam dalam bingung. Hati kiri masih terlelap dan si kanan membisu.
Di sekitar ribut, tapi di telingaku dia tercipta--hening.
Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

"Ingat lima perkara, sebelum lima perkara.
Sehat sebelum sakit.
Muda sebelum tua.
Kaya sebelum miskin.
Lapang sebelum sempit.
Hidup sebelum mati.."

Jess!
Berdesis.
Aku tersentak.
Ya! Aku terenyuh oleh nyanyian dua orang yang tak sempurna--barusan.
Dan beritahu aku, apa yang harus ku perbuat sekarang. Ah! Bukan! Kau harus bantu aku kawan..
Bangunkan aku, gerakkan kaki, tangan dan mataku yang membeku.
Aku kaku..

10/27/2011 07:11:00 PM Desi YuLiana
Lanjutan dari Ada Cerita di Kereta

Foto oleh Nuril Annissa.

"Ah! Kakiku goyah! Energiku menurun, aku ingin pulang!"
Lama aku memberontak di dalam hati sampai akhirnya si kereta ekonomi itu menampakkan wujudnya.
Berebutan! Aigoo.. Tidakkah kalian tahu, bahwa sekarang aku sedang kehilangan tenaga?
Dalam sekejap, setelah sedikit bertabrakan dengan penumpang lain, aku dapatkan tujuanku -- kursi kosong!
Ah, syukurlah! Dengan begini aku bisa sedikit merenggangkan otot-otot kaki yang hampir hilang.

Berisik..

Di dalam sini tidak nyaman! Kotor, penuh, dan sangat tidak teratur. Oh, maaf! Aku tidak suka.
Hati 'kiri'ku terus saja mengomel tak menentu, sementara hati 'kanan' masih berusaha menenangkan diri.
Diam.
Baiklah, akhirnya si kiri terdiam. Tidak! Aku ragu dia diam. Mungkin, dia tertidur. Ya! Aku yakin dia terlelap dalam mimpinya.

"Buah naga, buah naga, 5 rebo aja!"
"Buku mewarnai untuk anak, 10 rebo dapat tiga!"
"Alquran mini untuk persiapan Ramadhan hanya 10 ribu"
"Air minum, aq*a gelas, miz*ne, bla bla bla. Air minum untuk yang haus!"
"Lem tikus, lem isi ulang, lem ...."

Tuhan! Mataku mulai lelah. Ingin rasanya aku tidur pulas, tapi hati kanan terus saja memaksa untuk tetap terjaga.

Katanya "Sayang jika drama seperti ini tidak kau saksikan. Lihatlah! Dan terus lihat aktivitas mereka!"
Baiklah, aku bertahan. Dengan posisi duduk yang cukup kaku, dan kaki yang semakin bergetar karena harus menahan beban barang-barang belanjaan, mataku terus bekerja ke kanan dan kiri.
Aneh! Aku tak bosan! Meskipun dari tadi yang mondar-mandir di hadapanku hanya orang yang itu-itu saja.

"Aksesoris-aksesoris cantik. Silahkan dilihat. Jika tertarik, silahkan dibeli"
Jreng! Papan yang sama dengan dia yang tergantung berbeda lagi-lagi berhenti tepat di depan mataku.
Papan ini menggangguku!
Aku jadi tak leluasa memainkan pandanganku karenanya. Padahal, ceritanya masih ada. Ah! Ayo, pindahlah papan!

Lama..

Aku menundukkan kepala dan menatap kosong pada plastik besar di pangkuanku.
Ting..
Akhirnya duniaku meluas seketika, papan itu mengerti dan dia pergi. Namun, dunia yang tadi masih tetap dengan para pemain yang sama..

Satu stasiun. Dua stasiun. Tiga stasiun. Empat.. Lima..
Sama! Tapi, anehnya mataku tetap bertahan! Malah semakin waspada.

Di antara mereka akhirnya datang yang berbeda.
Dangdut! Ah! Aku pernah dengar lagu ini. Ku pusatkan pandangan ke sebelah kiri pada seorang Ibu tuna-netra. Ternyata beliau artisnya!
Tidak lama! Sosoknya hilang diambil gerbong tetangga.

"Kerupuk, kerupuk, kerupuk!"
"Air minum, air minum!"
"Buah naga, buah naga!"

Lagi. Mereka terus saja memainkan kaki dan nyanyiannya. Tidak lelahkah?

Yang berdangdut pun tiba lagi tapi dengan pemeran yang berbeda. Bahkan, di belakangnya tepat di bawah kakinya, ada seorang pemuda--wajahnya hitam, kaos, celana, kaki dan tangannya kotor. Dan itu.. Apa yang sedang dia lakukan?
"Oh, mungkin dia petugas cleaning service di kereta ini."
Hah!
Apa ada?
Tapi.. Dia sedang menyapu! Kau lihat itu, dia menyapu lantai kereta, dan mengumpulkan tiap sampah di dekatnya. Tapi, dia melakukannya sambil duduk. Ah! Aku tak paham!
Ting tong..
Tunggu! Dia.. Ah! Ternyata, dia bukan cleaning service!
Aku tak akan pernah sadar andai saja dia tak mengulurkan tangannya di depanku.

Baiklah, apalagi sekarang..

Dari sisi kanan, ternyata ada yang sedang bermesra-mesraan. Aku harus apa? Tetap diam, sementara ada yang terang-terangan bermaksiat di depan mata?

Aku diam dalam bingung. Hati kiri masih terlelap dan si kanan membisu.
Di sekitar ribut, tapi di telingaku dia tercipta--hening.
Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

"Ingat lima perkara, sebelum lima perkara.
Sehat sebelum sakit.
Muda sebelum tua.
Kaya sebelum miskin.
Lapang sebelum sempit.
Hidup sebelum mati.."

Jess!
Berdesis.
Aku tersentak.
Ya! Aku terenyuh oleh nyanyian dua orang yang tak sempurna--barusan.
Dan beritahu aku, apa yang harus ku perbuat sekarang. Ah! Bukan! Kau harus bantu aku kawan..
Bangunkan aku, gerakkan kaki, tangan dan mataku yang membeku.
Aku kaku..

Aku siap.
"Oke, Bunda! Jadi kita kemana sekarang? Ancol ya?"

"Lha? Ancol? Gak jadi ke tanah Abang?"

"Jadi sie, tapi gimana kalo kita ke Ancol dulu, abis itu baru ke Tanah abang?"

"Waduh, gak bakalan sempat sayang! Waktunya mepet banget lho! Pilih salah satu deh"

"Ancol! Soalnya kalo besok Ita udah masuk sekolah" si mungil Ita tiba-tiba bersuara.

"Baiklah, terserah Bunda aja"

09.00 WIB
Kami tiba di stasiun Bekasi.

Ah! Sudah lama aku tidak naik kereta dan hari ini aku akan berada lagi di dalamnya. Senang tentunya. Kami menunggu beberapa lama. Dari Bunda 1, aku tahu bahwa kami akan menaiki kereta AC menuju Jakarta kota.

Menunggu. Ah! Aku benci yang satu ini. Tapi, beda! Yup, beda! Aku, kawanku, sepupuku dan Bunda 1 duduk di sebuah kursi panjang menunggu kereta datang. Tapi, aku masih ragu, kenapa menunggu kali ini menghadirkan suasana berbeda?

Kau tahu kawan, aku seperti sedang menonton Sinetron langsung di lokasinya. Dengan tangan yang terus menjaga tas--di mana menurut Bunda 1, pencopetan sangat sering terjadi di sini--aku terus 'melihat' kejadian demi kejadian yang mendramalisasi.

Dari sudut kanan dan kiri penjual penjual yang menjajakan berbagai macam barang dagangan berdatangan. Ada yang jual koran atau majalah, ada yang jual makanan minuman, ada yang jual tissue dan lain-lain. Biasa!

Hampir setengah jam menunggu, dari pengeras suara dikatakan bahwa kereta yang akan kami tumpangi telah masuk stasiun. Bunda 1 mengajak kami berdiri untuk segera masuk ke dalam kereta. Beliau juga berpesan agar kami segera duduk jika ada kursi yang kosong dan tetap waspada dengan barang-barang bawaan. Tuhan! Apa harus berebutan di dalam kereta? Oh, aku tak suka!

Kami telah siap dengan posisi kami. Tiba-tiba dari atas rel kereta di hadapan kami, melintas seorang Bapak tua yang sedang menyapu membersihkan bagian samping rel kereta.
Deg! Apa yang bapak ini lakukan? Kereta akan segera tiba. Mengerikan!

Ibu-ibu di dekatku mulai panik, mereka terus-terusan mengingatkan si Bapak agar segera menjauh dari situ. Tapi kalian tahu saudara-saudara? Bapak tersebut tetap tampak tenang, bahkan beliau tersenyum dengan santainya.

Kereta tiba, aku lihat si Bapak berpindah ke tengah. Aman! Alhamdulillah. Sekarang, giliran kami. Kami harus berebutan menaiki kereta. Ah! Penuh! Bunda 1 seakan meyakinkan diriku bahwa kami harus berdiri. Dengan ragu aku bertanya, berapa lama kereta ini sampai ke Jakarta kota?

"1 Jam"

Oh! Baiklah..

"Alquran Hanya 10 ribu untuk Menyambut Ramadhan, daripada baca komik, buku, majalah, mending baca Alquran! 10 ribu saja"

Unik! Ada penjual yang menjajakan Alquran mini dengan iming-iming menyambut ramadhan.

Tiba-tiba Bunda 1 menyuruh kami berjalan ke gerbong selanjutnya. Tapi, sama saja. Semua penuh dan kami harus tetap berdiri.

Di salah satu gerbong, aku sempat berpapasan dengan penjual yang menjajakan
baterai Hp Nok*a dengan harga 10 ribu dan langsung pasang.

*Ada-ada saja!

Kami berhenti di gerbong 2. Masih tetap berdiri dengan berpegangan pada alat yang memang telah disediakan.

"Masker-masker lucu, hanya 5 ribu untuk menyambut ramadhan"

*Baiklah! Menyambut ramadhan!

Kereta berhenti. Di stasiun cakung, seorang nenek masuk dan berdiri berpegangan pada tiang penyangga, lalu seorang mbak di depan Bunda 1 berdiri dan memberikan kursinya pada Nenek tersebut. Syukurlah!

Ah! Akhirnya! Aku mendapat kursi di stasiun ke-8. Dalam posisi duduk, pikiranku terus berkerja.

Bunyi-bunyi di bawah kereta yang memekakkan telinga, kipas angin yang berada tepat di atas kepala, sampai pada
tulisan dengan perpaduan huruf kanji dan Hiragana yang menandakan bahwa ini merupakan kereta buatan Jepang.

Dari dalam gerbong 2, aku menatap serius pada perbatasan gerbong yang bergoyang-goyang seakan memberontak ingin melepaskan diri dari gerbong satunya..

Ada juga seorang anak kecil di sudut kanan yang memakai sandal berwarna kuning, warna menantang yang sampai sekarang belum berani aku kenakan..

Di stasiun ke-12, dua orang pengamen masuk dengan membawa gitar dan langsung bernyanyi tepat di depan pintu di samping kananku, dengan pembagian suara 1 dan 2 yang balanced, mereka membuat orang-orang di dalam kereta terpana!

Mereka menyanyikan lagu Kerispatih - Kesalahan yang sama. Cukup menarik! Aku seakan sedang menonton pertunjukan musik LIVE!

Tak lama, mereka menjauh dari tempat dudukku, mereka berjalan ke gerbong 1 dengan terus bernyanyi, dan kembali lagi ke gerbong 2.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai penonton, banyak dari penumpang yang meminta mereka menyanyikan lagu lain. Tapi sayang, kereta berhenti dan kami pun harus pergi dari dalam sini.

Perjalanan dari Bekasi ke tanah Abang memakan waktu 3 jam. Kami berhenti di stasiun ke-13 dari stasiun Bekasi dan ini merupakan stasiun terakhir.

Jakarta kota. Akhirnya kami tiba. Dan petualangan ke Tanah Abang baru saja akan bermula..

*Tiap drama yang terlihat di kereta punya makna tersendiri di penglihatanku. Dan aku tak menyadari bahwa drama ini belum berakhir. Ini hanya pembuka dan beberapa jam kemudian aku masuk pada bagian klimaksnya..


*Bekasi, 8 Agustus 2010
10/27/2011 07:07:00 PM Desi YuLiana
Aku siap.
"Oke, Bunda! Jadi kita kemana sekarang? Ancol ya?"

"Lha? Ancol? Gak jadi ke tanah Abang?"

"Jadi sie, tapi gimana kalo kita ke Ancol dulu, abis itu baru ke Tanah abang?"

"Waduh, gak bakalan sempat sayang! Waktunya mepet banget lho! Pilih salah satu deh"

"Ancol! Soalnya kalo besok Ita udah masuk sekolah" si mungil Ita tiba-tiba bersuara.

"Baiklah, terserah Bunda aja"

09.00 WIB
Kami tiba di stasiun Bekasi.

Ah! Sudah lama aku tidak naik kereta dan hari ini aku akan berada lagi di dalamnya. Senang tentunya. Kami menunggu beberapa lama. Dari Bunda 1, aku tahu bahwa kami akan menaiki kereta AC menuju Jakarta kota.

Menunggu. Ah! Aku benci yang satu ini. Tapi, beda! Yup, beda! Aku, kawanku, sepupuku dan Bunda 1 duduk di sebuah kursi panjang menunggu kereta datang. Tapi, aku masih ragu, kenapa menunggu kali ini menghadirkan suasana berbeda?

Kau tahu kawan, aku seperti sedang menonton Sinetron langsung di lokasinya. Dengan tangan yang terus menjaga tas--di mana menurut Bunda 1, pencopetan sangat sering terjadi di sini--aku terus 'melihat' kejadian demi kejadian yang mendramalisasi.

Dari sudut kanan dan kiri penjual penjual yang menjajakan berbagai macam barang dagangan berdatangan. Ada yang jual koran atau majalah, ada yang jual makanan minuman, ada yang jual tissue dan lain-lain. Biasa!

Hampir setengah jam menunggu, dari pengeras suara dikatakan bahwa kereta yang akan kami tumpangi telah masuk stasiun. Bunda 1 mengajak kami berdiri untuk segera masuk ke dalam kereta. Beliau juga berpesan agar kami segera duduk jika ada kursi yang kosong dan tetap waspada dengan barang-barang bawaan. Tuhan! Apa harus berebutan di dalam kereta? Oh, aku tak suka!

Kami telah siap dengan posisi kami. Tiba-tiba dari atas rel kereta di hadapan kami, melintas seorang Bapak tua yang sedang menyapu membersihkan bagian samping rel kereta.
Deg! Apa yang bapak ini lakukan? Kereta akan segera tiba. Mengerikan!

Ibu-ibu di dekatku mulai panik, mereka terus-terusan mengingatkan si Bapak agar segera menjauh dari situ. Tapi kalian tahu saudara-saudara? Bapak tersebut tetap tampak tenang, bahkan beliau tersenyum dengan santainya.

Kereta tiba, aku lihat si Bapak berpindah ke tengah. Aman! Alhamdulillah. Sekarang, giliran kami. Kami harus berebutan menaiki kereta. Ah! Penuh! Bunda 1 seakan meyakinkan diriku bahwa kami harus berdiri. Dengan ragu aku bertanya, berapa lama kereta ini sampai ke Jakarta kota?

"1 Jam"

Oh! Baiklah..

"Alquran Hanya 10 ribu untuk Menyambut Ramadhan, daripada baca komik, buku, majalah, mending baca Alquran! 10 ribu saja"

Unik! Ada penjual yang menjajakan Alquran mini dengan iming-iming menyambut ramadhan.

Tiba-tiba Bunda 1 menyuruh kami berjalan ke gerbong selanjutnya. Tapi, sama saja. Semua penuh dan kami harus tetap berdiri.

Di salah satu gerbong, aku sempat berpapasan dengan penjual yang menjajakan
baterai Hp Nok*a dengan harga 10 ribu dan langsung pasang.

*Ada-ada saja!

Kami berhenti di gerbong 2. Masih tetap berdiri dengan berpegangan pada alat yang memang telah disediakan.

"Masker-masker lucu, hanya 5 ribu untuk menyambut ramadhan"

*Baiklah! Menyambut ramadhan!

Kereta berhenti. Di stasiun cakung, seorang nenek masuk dan berdiri berpegangan pada tiang penyangga, lalu seorang mbak di depan Bunda 1 berdiri dan memberikan kursinya pada Nenek tersebut. Syukurlah!

Ah! Akhirnya! Aku mendapat kursi di stasiun ke-8. Dalam posisi duduk, pikiranku terus berkerja.

Bunyi-bunyi di bawah kereta yang memekakkan telinga, kipas angin yang berada tepat di atas kepala, sampai pada
tulisan dengan perpaduan huruf kanji dan Hiragana yang menandakan bahwa ini merupakan kereta buatan Jepang.

Dari dalam gerbong 2, aku menatap serius pada perbatasan gerbong yang bergoyang-goyang seakan memberontak ingin melepaskan diri dari gerbong satunya..

Ada juga seorang anak kecil di sudut kanan yang memakai sandal berwarna kuning, warna menantang yang sampai sekarang belum berani aku kenakan..

Di stasiun ke-12, dua orang pengamen masuk dengan membawa gitar dan langsung bernyanyi tepat di depan pintu di samping kananku, dengan pembagian suara 1 dan 2 yang balanced, mereka membuat orang-orang di dalam kereta terpana!

Mereka menyanyikan lagu Kerispatih - Kesalahan yang sama. Cukup menarik! Aku seakan sedang menonton pertunjukan musik LIVE!

Tak lama, mereka menjauh dari tempat dudukku, mereka berjalan ke gerbong 1 dengan terus bernyanyi, dan kembali lagi ke gerbong 2.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai penonton, banyak dari penumpang yang meminta mereka menyanyikan lagu lain. Tapi sayang, kereta berhenti dan kami pun harus pergi dari dalam sini.

Perjalanan dari Bekasi ke tanah Abang memakan waktu 3 jam. Kami berhenti di stasiun ke-13 dari stasiun Bekasi dan ini merupakan stasiun terakhir.

Jakarta kota. Akhirnya kami tiba. Dan petualangan ke Tanah Abang baru saja akan bermula..

*Tiap drama yang terlihat di kereta punya makna tersendiri di penglihatanku. Dan aku tak menyadari bahwa drama ini belum berakhir. Ini hanya pembuka dan beberapa jam kemudian aku masuk pada bagian klimaksnya..


*Bekasi, 8 Agustus 2010
Molla..
Kau mengejutkanku dengan kabar pasti tak bertuan..
Ku tanya, apa masih ada hak bagiku untuk berteman?
Kemudian ku ingin menyingkirkan semua kekakuan,
Hingga datangnya kebersamaan..

Eopseo..
Kau menghilang. Ya! Kau pergi tanpa bilang-bilang..
Dan aku takut jika benar kau hendak ke jurang..
Karena pada mulanya, aku lah yang membuatmu tertantang..


Chingu..
Dua dari kalian, aku curiga..
Tapi, itulah aku yang selalu memaksa,
Dan aku akan menunggu ceritanya, bagaimana awal dan akhirnya..

Semoga cinta itu tercipta..


*Lama tak mengusik si cinta, sayangnya, subuh ini tak sengaja aku teringat ia..

19 Agustus 2010
10/27/2011 06:52:00 PM Desi YuLiana
Molla..
Kau mengejutkanku dengan kabar pasti tak bertuan..
Ku tanya, apa masih ada hak bagiku untuk berteman?
Kemudian ku ingin menyingkirkan semua kekakuan,
Hingga datangnya kebersamaan..

Eopseo..
Kau menghilang. Ya! Kau pergi tanpa bilang-bilang..
Dan aku takut jika benar kau hendak ke jurang..
Karena pada mulanya, aku lah yang membuatmu tertantang..


Chingu..
Dua dari kalian, aku curiga..
Tapi, itulah aku yang selalu memaksa,
Dan aku akan menunggu ceritanya, bagaimana awal dan akhirnya..

Semoga cinta itu tercipta..


*Lama tak mengusik si cinta, sayangnya, subuh ini tak sengaja aku teringat ia..

19 Agustus 2010
Maka tinggalkan aku, kawan -- tinggalkan aku dan pergilah dengan langkah sunyi,
Seperti kesunyian berjalan dalam lembah sepi

Tinggalkan aku pada Tuhan dan menyebarlah kalian pelan-pelan,
Seperti bunga apel dan almond menyebar karena getaran angin

Nisan.

Kembalilah kepada kegembiraan rumah kalian
Dan di sana kalian akan menemukan apa yang tidak dapat dihilangkan kematian darimu dan dariku

Tinggalkan dengan tempat, karena apa yang kau lihat di sini jauh sekali dalam arti
Dari jagat duniawi. Tinggalkan aku.



*Kahlil Gibran, Jiwa-jiwa Pemberontak.
10/27/2011 06:51:00 PM Desi YuLiana
Maka tinggalkan aku, kawan -- tinggalkan aku dan pergilah dengan langkah sunyi,
Seperti kesunyian berjalan dalam lembah sepi

Tinggalkan aku pada Tuhan dan menyebarlah kalian pelan-pelan,
Seperti bunga apel dan almond menyebar karena getaran angin

Nisan.

Kembalilah kepada kegembiraan rumah kalian
Dan di sana kalian akan menemukan apa yang tidak dapat dihilangkan kematian darimu dan dariku

Tinggalkan dengan tempat, karena apa yang kau lihat di sini jauh sekali dalam arti
Dari jagat duniawi. Tinggalkan aku.



*Kahlil Gibran, Jiwa-jiwa Pemberontak.
Aku tahu kapan aku sadar bahwa Kau ada. Tapi aku tak tahu kapan Kau sadar bahwa aku juga ada.

Aku sadar kapan Kau mulai melihat Dia. Tapi Kau tak sadar jika aku juga melihat Dia.


Aku cukup riang saat Kau perhatian. Tapi Kau tidak cukup riang saat Dia perhatian.


Aku tahu Kau berlinang air mata dalam diam. Tapi Dia tak tahu bahwa aku juga demikian.


Ingin lihat, tapi tak terlihat. Tak ingin lihat, tapi terlihat.

Aku ingin jawaban, tapi Aku tak pernah tanyakan.

Aku ingin menjawab, tapi Dia tak punya pertanyaan.


Kau jauh, aku mendekat. Aku jauh, Kau mendekat.

Akhirnya Dia yang akan tersengat.
10/27/2011 06:41:00 PM Desi YuLiana
Aku tahu kapan aku sadar bahwa Kau ada. Tapi aku tak tahu kapan Kau sadar bahwa aku juga ada.

Aku sadar kapan Kau mulai melihat Dia. Tapi Kau tak sadar jika aku juga melihat Dia.


Aku cukup riang saat Kau perhatian. Tapi Kau tidak cukup riang saat Dia perhatian.


Aku tahu Kau berlinang air mata dalam diam. Tapi Dia tak tahu bahwa aku juga demikian.


Ingin lihat, tapi tak terlihat. Tak ingin lihat, tapi terlihat.

Aku ingin jawaban, tapi Aku tak pernah tanyakan.

Aku ingin menjawab, tapi Dia tak punya pertanyaan.


Kau jauh, aku mendekat. Aku jauh, Kau mendekat.

Akhirnya Dia yang akan tersengat.
[September 2010]

Happy Chuesok Day!

Dy, di luar sana daun-daun mulai berguguran, sama seperti semangatku yang mulai ditangkas satu persatu. Aku rindu keluarga Dy. Sangat rindu.

***

Hari ini merupakan hari raya bagi rakyat Korea. Sama dengan umat muslim di berbagai Negara, orang Korea punya tiga hari libur yang disebut hari raya Chuesok atau biasa disebut sebagai “Hari Festival menyambut Musim Gugur”. Hari ini banyak orang yang pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga.

Seperti tahun-tahun belakangan, aku merayakannya berdua dengan Haramoni. Sepi. Tidak ada ayah, ibu, abang ataupun adik. Sesak! Aku iri pada keluarga tetangga yang lengkap. Dan di saat begini, aku mulai berandai-andai. No! Aku nggak boleh berandai-andai. Tuhan tidak suka. Kehidupanku sekarang adalah keputusanku sendiri. Dan aku harus menanggung resikonya.

***

[Maret 2007]

Aku terlahir sebagai seorang gadis berkulit putih dan bermata sipit. Anehnya. Orang tua, abang dan adik perempuanku punya kulit sawo matang dan mata bulat yang sama sekali tidak sipit seperti aku. Lalu, darimana datangnya aku?

***

[Agustus 2007]

Plak! Telapak tangan dinginnya mendarat sempurna di pipiku.

“Silahkan kau pergi dari sini, jika itu yang kau inginkan. Tapi, harus kau ingat, sekali kau pergi, kau tidak bisa kembali”.

***

[Agustus 2007]

WELCOME TO KOREA!

Dy, mulai hari ini kita harus katakan selamat tinggal pada Indonesia. Aku benci negara itu. Sangat benci! Mulai dari rakyatnya yang pemalas sampai pada para pejabatnya yang suka memeras. Aku Cukup lega Dy, saat mereka menceritakan bahwa aku adalah warga negara Korea. Dan sekarang, aku berada di tanah airku. Tidakkah kau tahu bagaimana rasanya?

***

[Oktober 2007]

“Appa Omma mu sudah lama meninggal nak. Tepat satu tahun setelah mereka kembali dari Indonesia. Mereka meninggalkanmu di sana karena ingin kamu tumbuh menjadi seorang muslim yang taat. Dan orang tuamu sangat yakin telah menitipkanmu pada keluarga yang benar.

***

Keterangan:

Dy : Sapaan untuk buku harian

Haramoni : Nenek

Appa : Ayah

Omma : Ibu



*Saat-saat dikejar deadline,

22 September 2010, 16:30 WIB

10/27/2011 06:33:00 PM Desi YuLiana
[September 2010]

Happy Chuesok Day!

Dy, di luar sana daun-daun mulai berguguran, sama seperti semangatku yang mulai ditangkas satu persatu. Aku rindu keluarga Dy. Sangat rindu.

***

Hari ini merupakan hari raya bagi rakyat Korea. Sama dengan umat muslim di berbagai Negara, orang Korea punya tiga hari libur yang disebut hari raya Chuesok atau biasa disebut sebagai “Hari Festival menyambut Musim Gugur”. Hari ini banyak orang yang pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga.

Seperti tahun-tahun belakangan, aku merayakannya berdua dengan Haramoni. Sepi. Tidak ada ayah, ibu, abang ataupun adik. Sesak! Aku iri pada keluarga tetangga yang lengkap. Dan di saat begini, aku mulai berandai-andai. No! Aku nggak boleh berandai-andai. Tuhan tidak suka. Kehidupanku sekarang adalah keputusanku sendiri. Dan aku harus menanggung resikonya.

***

[Maret 2007]

Aku terlahir sebagai seorang gadis berkulit putih dan bermata sipit. Anehnya. Orang tua, abang dan adik perempuanku punya kulit sawo matang dan mata bulat yang sama sekali tidak sipit seperti aku. Lalu, darimana datangnya aku?

***

[Agustus 2007]

Plak! Telapak tangan dinginnya mendarat sempurna di pipiku.

“Silahkan kau pergi dari sini, jika itu yang kau inginkan. Tapi, harus kau ingat, sekali kau pergi, kau tidak bisa kembali”.

***

[Agustus 2007]

WELCOME TO KOREA!

Dy, mulai hari ini kita harus katakan selamat tinggal pada Indonesia. Aku benci negara itu. Sangat benci! Mulai dari rakyatnya yang pemalas sampai pada para pejabatnya yang suka memeras. Aku Cukup lega Dy, saat mereka menceritakan bahwa aku adalah warga negara Korea. Dan sekarang, aku berada di tanah airku. Tidakkah kau tahu bagaimana rasanya?

***

[Oktober 2007]

“Appa Omma mu sudah lama meninggal nak. Tepat satu tahun setelah mereka kembali dari Indonesia. Mereka meninggalkanmu di sana karena ingin kamu tumbuh menjadi seorang muslim yang taat. Dan orang tuamu sangat yakin telah menitipkanmu pada keluarga yang benar.

***

Keterangan:

Dy : Sapaan untuk buku harian

Haramoni : Nenek

Appa : Ayah

Omma : Ibu



*Saat-saat dikejar deadline,

22 September 2010, 16:30 WIB