Thursday, October 27, 2011

Posted by Desi YuLiana on 10/27/2011 07:07:00 PM No comments
Aku siap.
"Oke, Bunda! Jadi kita kemana sekarang? Ancol ya?"

"Lha? Ancol? Gak jadi ke tanah Abang?"

"Jadi sie, tapi gimana kalo kita ke Ancol dulu, abis itu baru ke Tanah abang?"

"Waduh, gak bakalan sempat sayang! Waktunya mepet banget lho! Pilih salah satu deh"

"Ancol! Soalnya kalo besok Ita udah masuk sekolah" si mungil Ita tiba-tiba bersuara.

"Baiklah, terserah Bunda aja"

09.00 WIB
Kami tiba di stasiun Bekasi.

Ah! Sudah lama aku tidak naik kereta dan hari ini aku akan berada lagi di dalamnya. Senang tentunya. Kami menunggu beberapa lama. Dari Bunda 1, aku tahu bahwa kami akan menaiki kereta AC menuju Jakarta kota.

Menunggu. Ah! Aku benci yang satu ini. Tapi, beda! Yup, beda! Aku, kawanku, sepupuku dan Bunda 1 duduk di sebuah kursi panjang menunggu kereta datang. Tapi, aku masih ragu, kenapa menunggu kali ini menghadirkan suasana berbeda?

Kau tahu kawan, aku seperti sedang menonton Sinetron langsung di lokasinya. Dengan tangan yang terus menjaga tas--di mana menurut Bunda 1, pencopetan sangat sering terjadi di sini--aku terus 'melihat' kejadian demi kejadian yang mendramalisasi.

Dari sudut kanan dan kiri penjual penjual yang menjajakan berbagai macam barang dagangan berdatangan. Ada yang jual koran atau majalah, ada yang jual makanan minuman, ada yang jual tissue dan lain-lain. Biasa!

Hampir setengah jam menunggu, dari pengeras suara dikatakan bahwa kereta yang akan kami tumpangi telah masuk stasiun. Bunda 1 mengajak kami berdiri untuk segera masuk ke dalam kereta. Beliau juga berpesan agar kami segera duduk jika ada kursi yang kosong dan tetap waspada dengan barang-barang bawaan. Tuhan! Apa harus berebutan di dalam kereta? Oh, aku tak suka!

Kami telah siap dengan posisi kami. Tiba-tiba dari atas rel kereta di hadapan kami, melintas seorang Bapak tua yang sedang menyapu membersihkan bagian samping rel kereta.
Deg! Apa yang bapak ini lakukan? Kereta akan segera tiba. Mengerikan!

Ibu-ibu di dekatku mulai panik, mereka terus-terusan mengingatkan si Bapak agar segera menjauh dari situ. Tapi kalian tahu saudara-saudara? Bapak tersebut tetap tampak tenang, bahkan beliau tersenyum dengan santainya.

Kereta tiba, aku lihat si Bapak berpindah ke tengah. Aman! Alhamdulillah. Sekarang, giliran kami. Kami harus berebutan menaiki kereta. Ah! Penuh! Bunda 1 seakan meyakinkan diriku bahwa kami harus berdiri. Dengan ragu aku bertanya, berapa lama kereta ini sampai ke Jakarta kota?

"1 Jam"

Oh! Baiklah..

"Alquran Hanya 10 ribu untuk Menyambut Ramadhan, daripada baca komik, buku, majalah, mending baca Alquran! 10 ribu saja"

Unik! Ada penjual yang menjajakan Alquran mini dengan iming-iming menyambut ramadhan.

Tiba-tiba Bunda 1 menyuruh kami berjalan ke gerbong selanjutnya. Tapi, sama saja. Semua penuh dan kami harus tetap berdiri.

Di salah satu gerbong, aku sempat berpapasan dengan penjual yang menjajakan
baterai Hp Nok*a dengan harga 10 ribu dan langsung pasang.

*Ada-ada saja!

Kami berhenti di gerbong 2. Masih tetap berdiri dengan berpegangan pada alat yang memang telah disediakan.

"Masker-masker lucu, hanya 5 ribu untuk menyambut ramadhan"

*Baiklah! Menyambut ramadhan!

Kereta berhenti. Di stasiun cakung, seorang nenek masuk dan berdiri berpegangan pada tiang penyangga, lalu seorang mbak di depan Bunda 1 berdiri dan memberikan kursinya pada Nenek tersebut. Syukurlah!

Ah! Akhirnya! Aku mendapat kursi di stasiun ke-8. Dalam posisi duduk, pikiranku terus berkerja.

Bunyi-bunyi di bawah kereta yang memekakkan telinga, kipas angin yang berada tepat di atas kepala, sampai pada
tulisan dengan perpaduan huruf kanji dan Hiragana yang menandakan bahwa ini merupakan kereta buatan Jepang.

Dari dalam gerbong 2, aku menatap serius pada perbatasan gerbong yang bergoyang-goyang seakan memberontak ingin melepaskan diri dari gerbong satunya..

Ada juga seorang anak kecil di sudut kanan yang memakai sandal berwarna kuning, warna menantang yang sampai sekarang belum berani aku kenakan..

Di stasiun ke-12, dua orang pengamen masuk dengan membawa gitar dan langsung bernyanyi tepat di depan pintu di samping kananku, dengan pembagian suara 1 dan 2 yang balanced, mereka membuat orang-orang di dalam kereta terpana!

Mereka menyanyikan lagu Kerispatih - Kesalahan yang sama. Cukup menarik! Aku seakan sedang menonton pertunjukan musik LIVE!

Tak lama, mereka menjauh dari tempat dudukku, mereka berjalan ke gerbong 1 dengan terus bernyanyi, dan kembali lagi ke gerbong 2.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai penonton, banyak dari penumpang yang meminta mereka menyanyikan lagu lain. Tapi sayang, kereta berhenti dan kami pun harus pergi dari dalam sini.

Perjalanan dari Bekasi ke tanah Abang memakan waktu 3 jam. Kami berhenti di stasiun ke-13 dari stasiun Bekasi dan ini merupakan stasiun terakhir.

Jakarta kota. Akhirnya kami tiba. Dan petualangan ke Tanah Abang baru saja akan bermula..

*Tiap drama yang terlihat di kereta punya makna tersendiri di penglihatanku. Dan aku tak menyadari bahwa drama ini belum berakhir. Ini hanya pembuka dan beberapa jam kemudian aku masuk pada bagian klimaksnya..


*Bekasi, 8 Agustus 2010

0 Komentar:

Post a Comment