Thursday, October 27, 2011

Posted by Desi YuLiana on 10/27/2011 06:31:00 PM No comments

September 2007

“Ee, perkenalkan, kami anak kembar!” masih teringat pertama kali dia menyapa, tepat di depan gedung Fakultas Hukum Unsyiah, dia dan kawannya—yang juga kawanku—dengan sumringah memberitahukan bahwa mereka kembar.

“Hah? Serius kalian? Tapi, nggak mirip kok” seorang kawan yang sedari tadi berjalan di sisi kiriku menjawab spontan tak percaya.

“Nama kami sama lho, hehehe” dia kembali menjawab, masih dengan senyum sumringahnya.

“Oh, iya?” akhirnya aku pun ikut berkomentar, walaupun hanya dengan dua patah kata yang super singkat namun ditemani senyum—yang tak kalah sumringahnya dengan pembuka pembicaraan--.

Ya. Akhirnya aku mengerti apa maksud ‘kembar’ yang dikatakannya tadi. Dia dan kawan ‘kembarannya’ memang kembar. Mereka punya nama yang sama. Walaupun setelah ditelaah, ada perbedaan dalam penulisannya, spasi dan tambahan huruf lainnya pada kawan yang hanya senyum-senyum saat si dia mengumumkan kesamaan mereka.



* * *


Desember 2010

Sepertinya tidak ada yang pernah menyangka, bahwa faktor hingga kedua kawan sekelasku di FKIP Matematika Unsyiah itu dikatakan kembar, terkadang juga menjadi masalah bagi keduanya. Mulai dari para dosen yang bingung hingga sering tertukar nama dan wajah mereka (untung saja hal itu tidak terjadi pada nilai, karena mahasiswa punya satu identitas utama yang tidak akan sama dengan mahasiswa lain, NIM), sampai pada kawan-kawan satu jurusan, fakultas, bahkan universitas yang ‘salah orang’ saat kabar duka itu tersebar melalui pesan singkat melalui handphone di pagi hari Selasa, 14 Desember 2010.


* * *

Jujur, ingin rasanya aku sebut namanya di sini. Tak sedikit kenangan yang bisa tertuang dalam bentuk cerita tercipta saat mengenalnya dan berinteraksi dengannya. Bukan hanya aku saja, tapi hampir setiap mereka yang mengenalnya juga akan spontan mengucap tiap butir kebaikan yang dilakukannya.

Aku masih ingat, pertama kali melihatnya pada saat masa orientasi mahasiswa di jurusan kami. Dia—dengan jilbab merah muda panjangnya—terduduk manis di kursi panjang tepat di depan pintu jurusan. Sekali-kali dia tersenyum jika ada yang lewat dan membalas sapaan dengan ikhlas jika ada yang menyapanya. Aku tertarik memperhatikannya karena wajahnya serupa nian dengan salah satu kawan di sekolah menengahku dulu (ah, klise!). Sebulan, dua bulan berlalu. Aku bersyukur diberikan kawan sepertinya. Dan tambah bersyukur saat diberikan kesempatan untuk lebih akrab dengannya.


* * *

Penghujung 2008

“Eci, kalau ada waktu ke rumah ya, ada perlu ni” lebih kurang begitulah isi pesan singkat yang dikirimkannya.

Tidak lama, aku pun membalas, memberitahukannya bahwa iya, aku akan ke sana sepulang dari satu agenda. Penasaran. Ada apa kali ini? Biasanya akan dia katakan langsung jika memang ada suatu keperluan. Tapi, kali ini beda, seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

Sorenya, aku tiba. Kalian tahu kawan? Apa maksud dari kata ‘perlu’ yang dituliskannya dalam sebait pesan singkat tadi? ‘Ada perlu’ secara kasat mata dua kata ini akan berarti bahwa seseorang yang mengatakannya sedang butuh bantuan bukan? Tapi, sayangnya bukan. Dalam kasus ini tidak demikian maknanya.

Tiba di sana, dia telah menunggu di depan pintu rumah—tepatnya kos-kosan sederhananya—dengan sebuah plastik yang di dalamnya terdapat rantang, tiga tingkat. Baiklah, aku paham sekarang. Inilah keperluannya hari ini, membagi sedikit kelebihan yang Tuhan berikan padanya, pada aku, bahkan keluargaku. Ah, aku terharu!

Aku ingat sebelumnya, dia tahu. Saat itu, Bunda—Ibu kandungku—baru saja menjalani operasi tumor di daerah kaki, hingga selama beberapa bulan tak diizinkan dan ada kesusahan untuk bergerak ke sana-sini.

Kalian pasti mengerti kawan, saat seorang utama di rumah tangga sedang ‘pasif’ dengan kegiatan rumah tangganya, dan dua anggota lain yang nantinya akan berprofesi sama tapi tidak punya ‘kemampuan’ untuk melakukan hal yang seharusnya, maka ‘warung nasi’ akan jadi tujuan utama.

Kebetulan, aku yang saat itu sering berkunjung ke rumahnya--dalam rangka menunggu waktu untuk beranjak kuliah kali kedua di hari yang sama--pun sering ketiban ‘sialnya’. Makan gratis plus enak, dan sayangnya, aku suka. Aku suka, terutama sambal teri buatan tangannya. Aku—yang piring bekas makannya sering bersisa—tiap kali menyantap hasil tangannya selalu berbeda, habis, tak ada sisa.

Karena itulah, kali ini dia berniat membantu. Dia, dibalik kesusahannya, secara suka rela memberikan tiga jenis ‘karya tangannya’ dalam tiga tingkat rantang yang sudah beralih jatuh ke tanganku. Padahal, dulu ‘perjanjiannya’ bukan begitu.


* * *


14 Desember 2010

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, sahabat kita, saudari Novi Yanti … “ Deg. Nama ini? Tak percaya dengan apa yang barusan aku baca dari layar nok*ia 3110 classic ku, aku ulangi baca sekali lagi pesan singkat tersebut. Kali ini dengan fokus dan konsentrasi yang setinggi-tingginya. Benar. Aku tak salah lihat. Yang tertulis di sana adalah nama itu. Dia. Yang beberapa hari sebelumnya diberitakan sedang dirawat di kampung halamannya, akibat DBD.

Aku diam. Jilbab yang sedang aku kenakan terbiar tak berdaya. Bingung. Linglung. Aku harus menghubungi seseorang, tapi entah kemana nama kawan-kawan. Semua hilang. Sampai aku benar-benar sadar, itu sudah terjadi.

Bergegas aku merapikan jilbab, merampas tas ransel, kunci motor dan semua kelengkapan kuliah yang sedang tenang di tempatnya. Jadwal kuliah sekarang adanya. Tapi, niatku bukan ke sana, melainkan untuk bertanya berita.

Tiba di sana. Iya. Benar adanya berita yang ku baca beberapa menit barusan. Panik. Aku sibuk menghubungi kawan yang hendak berangkat ke rumahnya di kota sana. Syukur saja, Pak Dosen yang sedari tadi asyik menulis materi di papan putih, beranjak keluar dari ruangan.

Aku pulang, meminta izin orang tua dan ikut bersama rombongan mereka—para sahabat seorang kawan yang telah duluan pulang—menuju rumah yang katanya rumah duka.


* * *

28 Maret 2011

Malam ini, kembali terngiang di kepalaku, cerita indah yang mewarnai kepergiannya pagi itu. Dari bibir Ibunya terungkap satu cerita bahwa sahabat baik kami, pergi dengan bahagia.

Malam sebelum masa kritisnya, ia sempat meminta cermin dan difoto. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia bermimpi (aku percaya ia ‘diperlihatkan’ oleh-Nya) mengenakan pakaian pengantin putih bersih lengkap dengan perhiasan dan wajahnya yang dipoles cantik. Dia, merupakan yang terpilih dari dua orang lainnya, dan kemudian dibawa oleh pangeran dengan menggunakan kuda putih*.

Tidak lama setelah ceritanya, ia koma.


~ Sahabat, kami lepas engkau dengan doa. Insya Allah, Kau menjadi Bidadari di alam sana ~


*Maaf, percakapan aslinya tidak dituliskan, karena takut ‘salah cerita’. Apa yang dituliskan di atas tentang mimpinya adalah apa yang penulis ‘tangkap’ dari cerita Ibunya dan telah dipersingkat.


0 Komentar:

Post a Comment