Sunday, October 30, 2011

Ada yang tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pedagang kaki lima? Secara langsung, mungkin nggak ada. Tapi, secara tak langsung baik itu tampak atau tidak tampak, ianya ada hubungannya.

Hari ini, tepatnya pukul 12 siang tadi, Banda Aceh dihampiri oleh hujan. Cukup deras. Dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit hitam sana. Aku dan seorang kawan terpaksa sedikit berlama-lama menghabiskan semangkuk bakso di warung langganan, sekitaran Darussalam.


Nah, singkat cerita, dalam perjalanan pulang tadi, aku (seperti biasa) melihat para pedagang kaki lima dengan dagangan sederhananya di trotoar jalan depan markas PEMA-Unsyiah, bersebrangan dengan kampus Ekonomi yang cukup terkenal itu *hmm*.

Bagi sebagian mahasiswa Unsyiah, atau IAIN yang kampus tempat menuntut ilmunya berada di darussalam, pasti tidak asing lagi dengan para Bapak-bapak, Ibu-ibu, bahkan anak-anak yang berjualan di sepanjang trotoar mulai dari daerah lapangan tugu sampai ke gerbang simpang galon.

Sedih? Miris? Kasihan? Atau berbagai perasaan simpati dan empati pasti ada bagi sebagian kita saat melihat mereka. Setiap hari. Duduk manis di hadapan meja kecil yang di atasnya terpajang dagangan yang cukup sederhana. Buah jamblang misalnya. Jarak satu pedagang dengan pedagang lainnya hanya sekitaran 2-3 meter. Dan itu cukup membuat para pembeli kebingungan memilih, pedagang mana yang harus dihampiri. Rasanya ingin bisa menghampiri mereka semua, tapi tentu saja, manusia banyak tapinya.

Kadang terbesit pikiran, apa mereka tidak bosan, tidak capek, tidak lelah seharian dan berhari-hari duduk diam di pinggir jalan dengan dagangan yg sama setiap harinya? Bagaimana bisa seorang Ibu bertahan berjualan demikian, dengan membawa bayinya yang masih cukup rentan pada asap kendaraan yang tak henti-hentinya bertebaran di sana? Bagaimana bisa seorang anak setiap harinya harus duduk termenung memandangi meja kecil di hadapannya sambil sesekali melemparkan pandangan--yang seakan memanggil untuk dibantu--pada orang-orang di sekitarnya, sementara kawan-kawan seusianya, di waktu yang sama sedang duduk tenang mendapatkan pendidikan di bangku sekolah?

Bagaimana bisa?

Dan di perjalanan pulang tadi aku sedikit tersadar. Saat hujan deras, dimana mereka berteduh? Seorang Ibu dengan bayi di gendongannya tadi sibuk mengatur kembali lapak dan meja kecilnya yang basah. Ada juga seorang Bapak dan anak kecilnya--yang cukup ditanda oleh mahasiswa karena matanya yang tak dapat melihat--yang sibuk memperbaiki payung kecil untuk meja dagangan mereka yang telah rusak. Dimana? Dimana mereka berlindung saat rahmat Allah itu turun menggebu-gebu?

Ah, pedagang kaki lima. Mereka selalu ada di sekitar kita, wahai para mahasiswa. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita tetap bersenang-senang, sementara banyak yang kurang beruntung di lingkungan kita? Berjuanglah mahasiswa, cepat selesaikan hak dan laksanakan kewajiban, karena banyak mereka yang butuh uluran tangan kita..
Published with Blogger-droid v1.7.4
10/30/2011 12:33:00 AM Desi YuLiana
Ada yang tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pedagang kaki lima? Secara langsung, mungkin nggak ada. Tapi, secara tak langsung baik itu tampak atau tidak tampak, ianya ada hubungannya.

Hari ini, tepatnya pukul 12 siang tadi, Banda Aceh dihampiri oleh hujan. Cukup deras. Dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit hitam sana. Aku dan seorang kawan terpaksa sedikit berlama-lama menghabiskan semangkuk bakso di warung langganan, sekitaran Darussalam.


Nah, singkat cerita, dalam perjalanan pulang tadi, aku (seperti biasa) melihat para pedagang kaki lima dengan dagangan sederhananya di trotoar jalan depan markas PEMA-Unsyiah, bersebrangan dengan kampus Ekonomi yang cukup terkenal itu *hmm*.

Bagi sebagian mahasiswa Unsyiah, atau IAIN yang kampus tempat menuntut ilmunya berada di darussalam, pasti tidak asing lagi dengan para Bapak-bapak, Ibu-ibu, bahkan anak-anak yang berjualan di sepanjang trotoar mulai dari daerah lapangan tugu sampai ke gerbang simpang galon.

Sedih? Miris? Kasihan? Atau berbagai perasaan simpati dan empati pasti ada bagi sebagian kita saat melihat mereka. Setiap hari. Duduk manis di hadapan meja kecil yang di atasnya terpajang dagangan yang cukup sederhana. Buah jamblang misalnya. Jarak satu pedagang dengan pedagang lainnya hanya sekitaran 2-3 meter. Dan itu cukup membuat para pembeli kebingungan memilih, pedagang mana yang harus dihampiri. Rasanya ingin bisa menghampiri mereka semua, tapi tentu saja, manusia banyak tapinya.

Kadang terbesit pikiran, apa mereka tidak bosan, tidak capek, tidak lelah seharian dan berhari-hari duduk diam di pinggir jalan dengan dagangan yg sama setiap harinya? Bagaimana bisa seorang Ibu bertahan berjualan demikian, dengan membawa bayinya yang masih cukup rentan pada asap kendaraan yang tak henti-hentinya bertebaran di sana? Bagaimana bisa seorang anak setiap harinya harus duduk termenung memandangi meja kecil di hadapannya sambil sesekali melemparkan pandangan--yang seakan memanggil untuk dibantu--pada orang-orang di sekitarnya, sementara kawan-kawan seusianya, di waktu yang sama sedang duduk tenang mendapatkan pendidikan di bangku sekolah?

Bagaimana bisa?

Dan di perjalanan pulang tadi aku sedikit tersadar. Saat hujan deras, dimana mereka berteduh? Seorang Ibu dengan bayi di gendongannya tadi sibuk mengatur kembali lapak dan meja kecilnya yang basah. Ada juga seorang Bapak dan anak kecilnya--yang cukup ditanda oleh mahasiswa karena matanya yang tak dapat melihat--yang sibuk memperbaiki payung kecil untuk meja dagangan mereka yang telah rusak. Dimana? Dimana mereka berlindung saat rahmat Allah itu turun menggebu-gebu?

Ah, pedagang kaki lima. Mereka selalu ada di sekitar kita, wahai para mahasiswa. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kita tetap bersenang-senang, sementara banyak yang kurang beruntung di lingkungan kita? Berjuanglah mahasiswa, cepat selesaikan hak dan laksanakan kewajiban, karena banyak mereka yang butuh uluran tangan kita..
Published with Blogger-droid v1.7.4

Thursday, October 27, 2011

Lanjutan dari Ada Cerita di Kereta

Foto oleh Nuril Annissa.

"Ah! Kakiku goyah! Energiku menurun, aku ingin pulang!"
Lama aku memberontak di dalam hati sampai akhirnya si kereta ekonomi itu menampakkan wujudnya.
Berebutan! Aigoo.. Tidakkah kalian tahu, bahwa sekarang aku sedang kehilangan tenaga?
Dalam sekejap, setelah sedikit bertabrakan dengan penumpang lain, aku dapatkan tujuanku -- kursi kosong!
Ah, syukurlah! Dengan begini aku bisa sedikit merenggangkan otot-otot kaki yang hampir hilang.

Berisik..

Di dalam sini tidak nyaman! Kotor, penuh, dan sangat tidak teratur. Oh, maaf! Aku tidak suka.
Hati 'kiri'ku terus saja mengomel tak menentu, sementara hati 'kanan' masih berusaha menenangkan diri.
Diam.
Baiklah, akhirnya si kiri terdiam. Tidak! Aku ragu dia diam. Mungkin, dia tertidur. Ya! Aku yakin dia terlelap dalam mimpinya.

"Buah naga, buah naga, 5 rebo aja!"
"Buku mewarnai untuk anak, 10 rebo dapat tiga!"
"Alquran mini untuk persiapan Ramadhan hanya 10 ribu"
"Air minum, aq*a gelas, miz*ne, bla bla bla. Air minum untuk yang haus!"
"Lem tikus, lem isi ulang, lem ...."

Tuhan! Mataku mulai lelah. Ingin rasanya aku tidur pulas, tapi hati kanan terus saja memaksa untuk tetap terjaga.

Katanya "Sayang jika drama seperti ini tidak kau saksikan. Lihatlah! Dan terus lihat aktivitas mereka!"
Baiklah, aku bertahan. Dengan posisi duduk yang cukup kaku, dan kaki yang semakin bergetar karena harus menahan beban barang-barang belanjaan, mataku terus bekerja ke kanan dan kiri.
Aneh! Aku tak bosan! Meskipun dari tadi yang mondar-mandir di hadapanku hanya orang yang itu-itu saja.

"Aksesoris-aksesoris cantik. Silahkan dilihat. Jika tertarik, silahkan dibeli"
Jreng! Papan yang sama dengan dia yang tergantung berbeda lagi-lagi berhenti tepat di depan mataku.
Papan ini menggangguku!
Aku jadi tak leluasa memainkan pandanganku karenanya. Padahal, ceritanya masih ada. Ah! Ayo, pindahlah papan!

Lama..

Aku menundukkan kepala dan menatap kosong pada plastik besar di pangkuanku.
Ting..
Akhirnya duniaku meluas seketika, papan itu mengerti dan dia pergi. Namun, dunia yang tadi masih tetap dengan para pemain yang sama..

Satu stasiun. Dua stasiun. Tiga stasiun. Empat.. Lima..
Sama! Tapi, anehnya mataku tetap bertahan! Malah semakin waspada.

Di antara mereka akhirnya datang yang berbeda.
Dangdut! Ah! Aku pernah dengar lagu ini. Ku pusatkan pandangan ke sebelah kiri pada seorang Ibu tuna-netra. Ternyata beliau artisnya!
Tidak lama! Sosoknya hilang diambil gerbong tetangga.

"Kerupuk, kerupuk, kerupuk!"
"Air minum, air minum!"
"Buah naga, buah naga!"

Lagi. Mereka terus saja memainkan kaki dan nyanyiannya. Tidak lelahkah?

Yang berdangdut pun tiba lagi tapi dengan pemeran yang berbeda. Bahkan, di belakangnya tepat di bawah kakinya, ada seorang pemuda--wajahnya hitam, kaos, celana, kaki dan tangannya kotor. Dan itu.. Apa yang sedang dia lakukan?
"Oh, mungkin dia petugas cleaning service di kereta ini."
Hah!
Apa ada?
Tapi.. Dia sedang menyapu! Kau lihat itu, dia menyapu lantai kereta, dan mengumpulkan tiap sampah di dekatnya. Tapi, dia melakukannya sambil duduk. Ah! Aku tak paham!
Ting tong..
Tunggu! Dia.. Ah! Ternyata, dia bukan cleaning service!
Aku tak akan pernah sadar andai saja dia tak mengulurkan tangannya di depanku.

Baiklah, apalagi sekarang..

Dari sisi kanan, ternyata ada yang sedang bermesra-mesraan. Aku harus apa? Tetap diam, sementara ada yang terang-terangan bermaksiat di depan mata?

Aku diam dalam bingung. Hati kiri masih terlelap dan si kanan membisu.
Di sekitar ribut, tapi di telingaku dia tercipta--hening.
Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

"Ingat lima perkara, sebelum lima perkara.
Sehat sebelum sakit.
Muda sebelum tua.
Kaya sebelum miskin.
Lapang sebelum sempit.
Hidup sebelum mati.."

Jess!
Berdesis.
Aku tersentak.
Ya! Aku terenyuh oleh nyanyian dua orang yang tak sempurna--barusan.
Dan beritahu aku, apa yang harus ku perbuat sekarang. Ah! Bukan! Kau harus bantu aku kawan..
Bangunkan aku, gerakkan kaki, tangan dan mataku yang membeku.
Aku kaku..

10/27/2011 07:11:00 PM Desi YuLiana
Lanjutan dari Ada Cerita di Kereta

Foto oleh Nuril Annissa.

"Ah! Kakiku goyah! Energiku menurun, aku ingin pulang!"
Lama aku memberontak di dalam hati sampai akhirnya si kereta ekonomi itu menampakkan wujudnya.
Berebutan! Aigoo.. Tidakkah kalian tahu, bahwa sekarang aku sedang kehilangan tenaga?
Dalam sekejap, setelah sedikit bertabrakan dengan penumpang lain, aku dapatkan tujuanku -- kursi kosong!
Ah, syukurlah! Dengan begini aku bisa sedikit merenggangkan otot-otot kaki yang hampir hilang.

Berisik..

Di dalam sini tidak nyaman! Kotor, penuh, dan sangat tidak teratur. Oh, maaf! Aku tidak suka.
Hati 'kiri'ku terus saja mengomel tak menentu, sementara hati 'kanan' masih berusaha menenangkan diri.
Diam.
Baiklah, akhirnya si kiri terdiam. Tidak! Aku ragu dia diam. Mungkin, dia tertidur. Ya! Aku yakin dia terlelap dalam mimpinya.

"Buah naga, buah naga, 5 rebo aja!"
"Buku mewarnai untuk anak, 10 rebo dapat tiga!"
"Alquran mini untuk persiapan Ramadhan hanya 10 ribu"
"Air minum, aq*a gelas, miz*ne, bla bla bla. Air minum untuk yang haus!"
"Lem tikus, lem isi ulang, lem ...."

Tuhan! Mataku mulai lelah. Ingin rasanya aku tidur pulas, tapi hati kanan terus saja memaksa untuk tetap terjaga.

Katanya "Sayang jika drama seperti ini tidak kau saksikan. Lihatlah! Dan terus lihat aktivitas mereka!"
Baiklah, aku bertahan. Dengan posisi duduk yang cukup kaku, dan kaki yang semakin bergetar karena harus menahan beban barang-barang belanjaan, mataku terus bekerja ke kanan dan kiri.
Aneh! Aku tak bosan! Meskipun dari tadi yang mondar-mandir di hadapanku hanya orang yang itu-itu saja.

"Aksesoris-aksesoris cantik. Silahkan dilihat. Jika tertarik, silahkan dibeli"
Jreng! Papan yang sama dengan dia yang tergantung berbeda lagi-lagi berhenti tepat di depan mataku.
Papan ini menggangguku!
Aku jadi tak leluasa memainkan pandanganku karenanya. Padahal, ceritanya masih ada. Ah! Ayo, pindahlah papan!

Lama..

Aku menundukkan kepala dan menatap kosong pada plastik besar di pangkuanku.
Ting..
Akhirnya duniaku meluas seketika, papan itu mengerti dan dia pergi. Namun, dunia yang tadi masih tetap dengan para pemain yang sama..

Satu stasiun. Dua stasiun. Tiga stasiun. Empat.. Lima..
Sama! Tapi, anehnya mataku tetap bertahan! Malah semakin waspada.

Di antara mereka akhirnya datang yang berbeda.
Dangdut! Ah! Aku pernah dengar lagu ini. Ku pusatkan pandangan ke sebelah kiri pada seorang Ibu tuna-netra. Ternyata beliau artisnya!
Tidak lama! Sosoknya hilang diambil gerbong tetangga.

"Kerupuk, kerupuk, kerupuk!"
"Air minum, air minum!"
"Buah naga, buah naga!"

Lagi. Mereka terus saja memainkan kaki dan nyanyiannya. Tidak lelahkah?

Yang berdangdut pun tiba lagi tapi dengan pemeran yang berbeda. Bahkan, di belakangnya tepat di bawah kakinya, ada seorang pemuda--wajahnya hitam, kaos, celana, kaki dan tangannya kotor. Dan itu.. Apa yang sedang dia lakukan?
"Oh, mungkin dia petugas cleaning service di kereta ini."
Hah!
Apa ada?
Tapi.. Dia sedang menyapu! Kau lihat itu, dia menyapu lantai kereta, dan mengumpulkan tiap sampah di dekatnya. Tapi, dia melakukannya sambil duduk. Ah! Aku tak paham!
Ting tong..
Tunggu! Dia.. Ah! Ternyata, dia bukan cleaning service!
Aku tak akan pernah sadar andai saja dia tak mengulurkan tangannya di depanku.

Baiklah, apalagi sekarang..

Dari sisi kanan, ternyata ada yang sedang bermesra-mesraan. Aku harus apa? Tetap diam, sementara ada yang terang-terangan bermaksiat di depan mata?

Aku diam dalam bingung. Hati kiri masih terlelap dan si kanan membisu.
Di sekitar ribut, tapi di telingaku dia tercipta--hening.
Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

"Ingat lima perkara, sebelum lima perkara.
Sehat sebelum sakit.
Muda sebelum tua.
Kaya sebelum miskin.
Lapang sebelum sempit.
Hidup sebelum mati.."

Jess!
Berdesis.
Aku tersentak.
Ya! Aku terenyuh oleh nyanyian dua orang yang tak sempurna--barusan.
Dan beritahu aku, apa yang harus ku perbuat sekarang. Ah! Bukan! Kau harus bantu aku kawan..
Bangunkan aku, gerakkan kaki, tangan dan mataku yang membeku.
Aku kaku..

Aku siap.
"Oke, Bunda! Jadi kita kemana sekarang? Ancol ya?"

"Lha? Ancol? Gak jadi ke tanah Abang?"

"Jadi sie, tapi gimana kalo kita ke Ancol dulu, abis itu baru ke Tanah abang?"

"Waduh, gak bakalan sempat sayang! Waktunya mepet banget lho! Pilih salah satu deh"

"Ancol! Soalnya kalo besok Ita udah masuk sekolah" si mungil Ita tiba-tiba bersuara.

"Baiklah, terserah Bunda aja"

09.00 WIB
Kami tiba di stasiun Bekasi.

Ah! Sudah lama aku tidak naik kereta dan hari ini aku akan berada lagi di dalamnya. Senang tentunya. Kami menunggu beberapa lama. Dari Bunda 1, aku tahu bahwa kami akan menaiki kereta AC menuju Jakarta kota.

Menunggu. Ah! Aku benci yang satu ini. Tapi, beda! Yup, beda! Aku, kawanku, sepupuku dan Bunda 1 duduk di sebuah kursi panjang menunggu kereta datang. Tapi, aku masih ragu, kenapa menunggu kali ini menghadirkan suasana berbeda?

Kau tahu kawan, aku seperti sedang menonton Sinetron langsung di lokasinya. Dengan tangan yang terus menjaga tas--di mana menurut Bunda 1, pencopetan sangat sering terjadi di sini--aku terus 'melihat' kejadian demi kejadian yang mendramalisasi.

Dari sudut kanan dan kiri penjual penjual yang menjajakan berbagai macam barang dagangan berdatangan. Ada yang jual koran atau majalah, ada yang jual makanan minuman, ada yang jual tissue dan lain-lain. Biasa!

Hampir setengah jam menunggu, dari pengeras suara dikatakan bahwa kereta yang akan kami tumpangi telah masuk stasiun. Bunda 1 mengajak kami berdiri untuk segera masuk ke dalam kereta. Beliau juga berpesan agar kami segera duduk jika ada kursi yang kosong dan tetap waspada dengan barang-barang bawaan. Tuhan! Apa harus berebutan di dalam kereta? Oh, aku tak suka!

Kami telah siap dengan posisi kami. Tiba-tiba dari atas rel kereta di hadapan kami, melintas seorang Bapak tua yang sedang menyapu membersihkan bagian samping rel kereta.
Deg! Apa yang bapak ini lakukan? Kereta akan segera tiba. Mengerikan!

Ibu-ibu di dekatku mulai panik, mereka terus-terusan mengingatkan si Bapak agar segera menjauh dari situ. Tapi kalian tahu saudara-saudara? Bapak tersebut tetap tampak tenang, bahkan beliau tersenyum dengan santainya.

Kereta tiba, aku lihat si Bapak berpindah ke tengah. Aman! Alhamdulillah. Sekarang, giliran kami. Kami harus berebutan menaiki kereta. Ah! Penuh! Bunda 1 seakan meyakinkan diriku bahwa kami harus berdiri. Dengan ragu aku bertanya, berapa lama kereta ini sampai ke Jakarta kota?

"1 Jam"

Oh! Baiklah..

"Alquran Hanya 10 ribu untuk Menyambut Ramadhan, daripada baca komik, buku, majalah, mending baca Alquran! 10 ribu saja"

Unik! Ada penjual yang menjajakan Alquran mini dengan iming-iming menyambut ramadhan.

Tiba-tiba Bunda 1 menyuruh kami berjalan ke gerbong selanjutnya. Tapi, sama saja. Semua penuh dan kami harus tetap berdiri.

Di salah satu gerbong, aku sempat berpapasan dengan penjual yang menjajakan
baterai Hp Nok*a dengan harga 10 ribu dan langsung pasang.

*Ada-ada saja!

Kami berhenti di gerbong 2. Masih tetap berdiri dengan berpegangan pada alat yang memang telah disediakan.

"Masker-masker lucu, hanya 5 ribu untuk menyambut ramadhan"

*Baiklah! Menyambut ramadhan!

Kereta berhenti. Di stasiun cakung, seorang nenek masuk dan berdiri berpegangan pada tiang penyangga, lalu seorang mbak di depan Bunda 1 berdiri dan memberikan kursinya pada Nenek tersebut. Syukurlah!

Ah! Akhirnya! Aku mendapat kursi di stasiun ke-8. Dalam posisi duduk, pikiranku terus berkerja.

Bunyi-bunyi di bawah kereta yang memekakkan telinga, kipas angin yang berada tepat di atas kepala, sampai pada
tulisan dengan perpaduan huruf kanji dan Hiragana yang menandakan bahwa ini merupakan kereta buatan Jepang.

Dari dalam gerbong 2, aku menatap serius pada perbatasan gerbong yang bergoyang-goyang seakan memberontak ingin melepaskan diri dari gerbong satunya..

Ada juga seorang anak kecil di sudut kanan yang memakai sandal berwarna kuning, warna menantang yang sampai sekarang belum berani aku kenakan..

Di stasiun ke-12, dua orang pengamen masuk dengan membawa gitar dan langsung bernyanyi tepat di depan pintu di samping kananku, dengan pembagian suara 1 dan 2 yang balanced, mereka membuat orang-orang di dalam kereta terpana!

Mereka menyanyikan lagu Kerispatih - Kesalahan yang sama. Cukup menarik! Aku seakan sedang menonton pertunjukan musik LIVE!

Tak lama, mereka menjauh dari tempat dudukku, mereka berjalan ke gerbong 1 dengan terus bernyanyi, dan kembali lagi ke gerbong 2.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai penonton, banyak dari penumpang yang meminta mereka menyanyikan lagu lain. Tapi sayang, kereta berhenti dan kami pun harus pergi dari dalam sini.

Perjalanan dari Bekasi ke tanah Abang memakan waktu 3 jam. Kami berhenti di stasiun ke-13 dari stasiun Bekasi dan ini merupakan stasiun terakhir.

Jakarta kota. Akhirnya kami tiba. Dan petualangan ke Tanah Abang baru saja akan bermula..

*Tiap drama yang terlihat di kereta punya makna tersendiri di penglihatanku. Dan aku tak menyadari bahwa drama ini belum berakhir. Ini hanya pembuka dan beberapa jam kemudian aku masuk pada bagian klimaksnya..


*Bekasi, 8 Agustus 2010
10/27/2011 07:07:00 PM Desi YuLiana
Aku siap.
"Oke, Bunda! Jadi kita kemana sekarang? Ancol ya?"

"Lha? Ancol? Gak jadi ke tanah Abang?"

"Jadi sie, tapi gimana kalo kita ke Ancol dulu, abis itu baru ke Tanah abang?"

"Waduh, gak bakalan sempat sayang! Waktunya mepet banget lho! Pilih salah satu deh"

"Ancol! Soalnya kalo besok Ita udah masuk sekolah" si mungil Ita tiba-tiba bersuara.

"Baiklah, terserah Bunda aja"

09.00 WIB
Kami tiba di stasiun Bekasi.

Ah! Sudah lama aku tidak naik kereta dan hari ini aku akan berada lagi di dalamnya. Senang tentunya. Kami menunggu beberapa lama. Dari Bunda 1, aku tahu bahwa kami akan menaiki kereta AC menuju Jakarta kota.

Menunggu. Ah! Aku benci yang satu ini. Tapi, beda! Yup, beda! Aku, kawanku, sepupuku dan Bunda 1 duduk di sebuah kursi panjang menunggu kereta datang. Tapi, aku masih ragu, kenapa menunggu kali ini menghadirkan suasana berbeda?

Kau tahu kawan, aku seperti sedang menonton Sinetron langsung di lokasinya. Dengan tangan yang terus menjaga tas--di mana menurut Bunda 1, pencopetan sangat sering terjadi di sini--aku terus 'melihat' kejadian demi kejadian yang mendramalisasi.

Dari sudut kanan dan kiri penjual penjual yang menjajakan berbagai macam barang dagangan berdatangan. Ada yang jual koran atau majalah, ada yang jual makanan minuman, ada yang jual tissue dan lain-lain. Biasa!

Hampir setengah jam menunggu, dari pengeras suara dikatakan bahwa kereta yang akan kami tumpangi telah masuk stasiun. Bunda 1 mengajak kami berdiri untuk segera masuk ke dalam kereta. Beliau juga berpesan agar kami segera duduk jika ada kursi yang kosong dan tetap waspada dengan barang-barang bawaan. Tuhan! Apa harus berebutan di dalam kereta? Oh, aku tak suka!

Kami telah siap dengan posisi kami. Tiba-tiba dari atas rel kereta di hadapan kami, melintas seorang Bapak tua yang sedang menyapu membersihkan bagian samping rel kereta.
Deg! Apa yang bapak ini lakukan? Kereta akan segera tiba. Mengerikan!

Ibu-ibu di dekatku mulai panik, mereka terus-terusan mengingatkan si Bapak agar segera menjauh dari situ. Tapi kalian tahu saudara-saudara? Bapak tersebut tetap tampak tenang, bahkan beliau tersenyum dengan santainya.

Kereta tiba, aku lihat si Bapak berpindah ke tengah. Aman! Alhamdulillah. Sekarang, giliran kami. Kami harus berebutan menaiki kereta. Ah! Penuh! Bunda 1 seakan meyakinkan diriku bahwa kami harus berdiri. Dengan ragu aku bertanya, berapa lama kereta ini sampai ke Jakarta kota?

"1 Jam"

Oh! Baiklah..

"Alquran Hanya 10 ribu untuk Menyambut Ramadhan, daripada baca komik, buku, majalah, mending baca Alquran! 10 ribu saja"

Unik! Ada penjual yang menjajakan Alquran mini dengan iming-iming menyambut ramadhan.

Tiba-tiba Bunda 1 menyuruh kami berjalan ke gerbong selanjutnya. Tapi, sama saja. Semua penuh dan kami harus tetap berdiri.

Di salah satu gerbong, aku sempat berpapasan dengan penjual yang menjajakan
baterai Hp Nok*a dengan harga 10 ribu dan langsung pasang.

*Ada-ada saja!

Kami berhenti di gerbong 2. Masih tetap berdiri dengan berpegangan pada alat yang memang telah disediakan.

"Masker-masker lucu, hanya 5 ribu untuk menyambut ramadhan"

*Baiklah! Menyambut ramadhan!

Kereta berhenti. Di stasiun cakung, seorang nenek masuk dan berdiri berpegangan pada tiang penyangga, lalu seorang mbak di depan Bunda 1 berdiri dan memberikan kursinya pada Nenek tersebut. Syukurlah!

Ah! Akhirnya! Aku mendapat kursi di stasiun ke-8. Dalam posisi duduk, pikiranku terus berkerja.

Bunyi-bunyi di bawah kereta yang memekakkan telinga, kipas angin yang berada tepat di atas kepala, sampai pada
tulisan dengan perpaduan huruf kanji dan Hiragana yang menandakan bahwa ini merupakan kereta buatan Jepang.

Dari dalam gerbong 2, aku menatap serius pada perbatasan gerbong yang bergoyang-goyang seakan memberontak ingin melepaskan diri dari gerbong satunya..

Ada juga seorang anak kecil di sudut kanan yang memakai sandal berwarna kuning, warna menantang yang sampai sekarang belum berani aku kenakan..

Di stasiun ke-12, dua orang pengamen masuk dengan membawa gitar dan langsung bernyanyi tepat di depan pintu di samping kananku, dengan pembagian suara 1 dan 2 yang balanced, mereka membuat orang-orang di dalam kereta terpana!

Mereka menyanyikan lagu Kerispatih - Kesalahan yang sama. Cukup menarik! Aku seakan sedang menonton pertunjukan musik LIVE!

Tak lama, mereka menjauh dari tempat dudukku, mereka berjalan ke gerbong 1 dengan terus bernyanyi, dan kembali lagi ke gerbong 2.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai penonton, banyak dari penumpang yang meminta mereka menyanyikan lagu lain. Tapi sayang, kereta berhenti dan kami pun harus pergi dari dalam sini.

Perjalanan dari Bekasi ke tanah Abang memakan waktu 3 jam. Kami berhenti di stasiun ke-13 dari stasiun Bekasi dan ini merupakan stasiun terakhir.

Jakarta kota. Akhirnya kami tiba. Dan petualangan ke Tanah Abang baru saja akan bermula..

*Tiap drama yang terlihat di kereta punya makna tersendiri di penglihatanku. Dan aku tak menyadari bahwa drama ini belum berakhir. Ini hanya pembuka dan beberapa jam kemudian aku masuk pada bagian klimaksnya..


*Bekasi, 8 Agustus 2010
Molla..
Kau mengejutkanku dengan kabar pasti tak bertuan..
Ku tanya, apa masih ada hak bagiku untuk berteman?
Kemudian ku ingin menyingkirkan semua kekakuan,
Hingga datangnya kebersamaan..

Eopseo..
Kau menghilang. Ya! Kau pergi tanpa bilang-bilang..
Dan aku takut jika benar kau hendak ke jurang..
Karena pada mulanya, aku lah yang membuatmu tertantang..


Chingu..
Dua dari kalian, aku curiga..
Tapi, itulah aku yang selalu memaksa,
Dan aku akan menunggu ceritanya, bagaimana awal dan akhirnya..

Semoga cinta itu tercipta..


*Lama tak mengusik si cinta, sayangnya, subuh ini tak sengaja aku teringat ia..

19 Agustus 2010
10/27/2011 06:52:00 PM Desi YuLiana
Molla..
Kau mengejutkanku dengan kabar pasti tak bertuan..
Ku tanya, apa masih ada hak bagiku untuk berteman?
Kemudian ku ingin menyingkirkan semua kekakuan,
Hingga datangnya kebersamaan..

Eopseo..
Kau menghilang. Ya! Kau pergi tanpa bilang-bilang..
Dan aku takut jika benar kau hendak ke jurang..
Karena pada mulanya, aku lah yang membuatmu tertantang..


Chingu..
Dua dari kalian, aku curiga..
Tapi, itulah aku yang selalu memaksa,
Dan aku akan menunggu ceritanya, bagaimana awal dan akhirnya..

Semoga cinta itu tercipta..


*Lama tak mengusik si cinta, sayangnya, subuh ini tak sengaja aku teringat ia..

19 Agustus 2010
Maka tinggalkan aku, kawan -- tinggalkan aku dan pergilah dengan langkah sunyi,
Seperti kesunyian berjalan dalam lembah sepi

Tinggalkan aku pada Tuhan dan menyebarlah kalian pelan-pelan,
Seperti bunga apel dan almond menyebar karena getaran angin

Nisan.

Kembalilah kepada kegembiraan rumah kalian
Dan di sana kalian akan menemukan apa yang tidak dapat dihilangkan kematian darimu dan dariku

Tinggalkan dengan tempat, karena apa yang kau lihat di sini jauh sekali dalam arti
Dari jagat duniawi. Tinggalkan aku.



*Kahlil Gibran, Jiwa-jiwa Pemberontak.
10/27/2011 06:51:00 PM Desi YuLiana
Maka tinggalkan aku, kawan -- tinggalkan aku dan pergilah dengan langkah sunyi,
Seperti kesunyian berjalan dalam lembah sepi

Tinggalkan aku pada Tuhan dan menyebarlah kalian pelan-pelan,
Seperti bunga apel dan almond menyebar karena getaran angin

Nisan.

Kembalilah kepada kegembiraan rumah kalian
Dan di sana kalian akan menemukan apa yang tidak dapat dihilangkan kematian darimu dan dariku

Tinggalkan dengan tempat, karena apa yang kau lihat di sini jauh sekali dalam arti
Dari jagat duniawi. Tinggalkan aku.



*Kahlil Gibran, Jiwa-jiwa Pemberontak.
Aku tahu kapan aku sadar bahwa Kau ada. Tapi aku tak tahu kapan Kau sadar bahwa aku juga ada.

Aku sadar kapan Kau mulai melihat Dia. Tapi Kau tak sadar jika aku juga melihat Dia.


Aku cukup riang saat Kau perhatian. Tapi Kau tidak cukup riang saat Dia perhatian.


Aku tahu Kau berlinang air mata dalam diam. Tapi Dia tak tahu bahwa aku juga demikian.


Ingin lihat, tapi tak terlihat. Tak ingin lihat, tapi terlihat.

Aku ingin jawaban, tapi Aku tak pernah tanyakan.

Aku ingin menjawab, tapi Dia tak punya pertanyaan.


Kau jauh, aku mendekat. Aku jauh, Kau mendekat.

Akhirnya Dia yang akan tersengat.
10/27/2011 06:41:00 PM Desi YuLiana
Aku tahu kapan aku sadar bahwa Kau ada. Tapi aku tak tahu kapan Kau sadar bahwa aku juga ada.

Aku sadar kapan Kau mulai melihat Dia. Tapi Kau tak sadar jika aku juga melihat Dia.


Aku cukup riang saat Kau perhatian. Tapi Kau tidak cukup riang saat Dia perhatian.


Aku tahu Kau berlinang air mata dalam diam. Tapi Dia tak tahu bahwa aku juga demikian.


Ingin lihat, tapi tak terlihat. Tak ingin lihat, tapi terlihat.

Aku ingin jawaban, tapi Aku tak pernah tanyakan.

Aku ingin menjawab, tapi Dia tak punya pertanyaan.


Kau jauh, aku mendekat. Aku jauh, Kau mendekat.

Akhirnya Dia yang akan tersengat.
[September 2010]

Happy Chuesok Day!

Dy, di luar sana daun-daun mulai berguguran, sama seperti semangatku yang mulai ditangkas satu persatu. Aku rindu keluarga Dy. Sangat rindu.

***

Hari ini merupakan hari raya bagi rakyat Korea. Sama dengan umat muslim di berbagai Negara, orang Korea punya tiga hari libur yang disebut hari raya Chuesok atau biasa disebut sebagai “Hari Festival menyambut Musim Gugur”. Hari ini banyak orang yang pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga.

Seperti tahun-tahun belakangan, aku merayakannya berdua dengan Haramoni. Sepi. Tidak ada ayah, ibu, abang ataupun adik. Sesak! Aku iri pada keluarga tetangga yang lengkap. Dan di saat begini, aku mulai berandai-andai. No! Aku nggak boleh berandai-andai. Tuhan tidak suka. Kehidupanku sekarang adalah keputusanku sendiri. Dan aku harus menanggung resikonya.

***

[Maret 2007]

Aku terlahir sebagai seorang gadis berkulit putih dan bermata sipit. Anehnya. Orang tua, abang dan adik perempuanku punya kulit sawo matang dan mata bulat yang sama sekali tidak sipit seperti aku. Lalu, darimana datangnya aku?

***

[Agustus 2007]

Plak! Telapak tangan dinginnya mendarat sempurna di pipiku.

“Silahkan kau pergi dari sini, jika itu yang kau inginkan. Tapi, harus kau ingat, sekali kau pergi, kau tidak bisa kembali”.

***

[Agustus 2007]

WELCOME TO KOREA!

Dy, mulai hari ini kita harus katakan selamat tinggal pada Indonesia. Aku benci negara itu. Sangat benci! Mulai dari rakyatnya yang pemalas sampai pada para pejabatnya yang suka memeras. Aku Cukup lega Dy, saat mereka menceritakan bahwa aku adalah warga negara Korea. Dan sekarang, aku berada di tanah airku. Tidakkah kau tahu bagaimana rasanya?

***

[Oktober 2007]

“Appa Omma mu sudah lama meninggal nak. Tepat satu tahun setelah mereka kembali dari Indonesia. Mereka meninggalkanmu di sana karena ingin kamu tumbuh menjadi seorang muslim yang taat. Dan orang tuamu sangat yakin telah menitipkanmu pada keluarga yang benar.

***

Keterangan:

Dy : Sapaan untuk buku harian

Haramoni : Nenek

Appa : Ayah

Omma : Ibu



*Saat-saat dikejar deadline,

22 September 2010, 16:30 WIB

10/27/2011 06:33:00 PM Desi YuLiana
[September 2010]

Happy Chuesok Day!

Dy, di luar sana daun-daun mulai berguguran, sama seperti semangatku yang mulai ditangkas satu persatu. Aku rindu keluarga Dy. Sangat rindu.

***

Hari ini merupakan hari raya bagi rakyat Korea. Sama dengan umat muslim di berbagai Negara, orang Korea punya tiga hari libur yang disebut hari raya Chuesok atau biasa disebut sebagai “Hari Festival menyambut Musim Gugur”. Hari ini banyak orang yang pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga.

Seperti tahun-tahun belakangan, aku merayakannya berdua dengan Haramoni. Sepi. Tidak ada ayah, ibu, abang ataupun adik. Sesak! Aku iri pada keluarga tetangga yang lengkap. Dan di saat begini, aku mulai berandai-andai. No! Aku nggak boleh berandai-andai. Tuhan tidak suka. Kehidupanku sekarang adalah keputusanku sendiri. Dan aku harus menanggung resikonya.

***

[Maret 2007]

Aku terlahir sebagai seorang gadis berkulit putih dan bermata sipit. Anehnya. Orang tua, abang dan adik perempuanku punya kulit sawo matang dan mata bulat yang sama sekali tidak sipit seperti aku. Lalu, darimana datangnya aku?

***

[Agustus 2007]

Plak! Telapak tangan dinginnya mendarat sempurna di pipiku.

“Silahkan kau pergi dari sini, jika itu yang kau inginkan. Tapi, harus kau ingat, sekali kau pergi, kau tidak bisa kembali”.

***

[Agustus 2007]

WELCOME TO KOREA!

Dy, mulai hari ini kita harus katakan selamat tinggal pada Indonesia. Aku benci negara itu. Sangat benci! Mulai dari rakyatnya yang pemalas sampai pada para pejabatnya yang suka memeras. Aku Cukup lega Dy, saat mereka menceritakan bahwa aku adalah warga negara Korea. Dan sekarang, aku berada di tanah airku. Tidakkah kau tahu bagaimana rasanya?

***

[Oktober 2007]

“Appa Omma mu sudah lama meninggal nak. Tepat satu tahun setelah mereka kembali dari Indonesia. Mereka meninggalkanmu di sana karena ingin kamu tumbuh menjadi seorang muslim yang taat. Dan orang tuamu sangat yakin telah menitipkanmu pada keluarga yang benar.

***

Keterangan:

Dy : Sapaan untuk buku harian

Haramoni : Nenek

Appa : Ayah

Omma : Ibu



*Saat-saat dikejar deadline,

22 September 2010, 16:30 WIB

September 2007

“Ee, perkenalkan, kami anak kembar!” masih teringat pertama kali dia menyapa, tepat di depan gedung Fakultas Hukum Unsyiah, dia dan kawannya—yang juga kawanku—dengan sumringah memberitahukan bahwa mereka kembar.

“Hah? Serius kalian? Tapi, nggak mirip kok” seorang kawan yang sedari tadi berjalan di sisi kiriku menjawab spontan tak percaya.

“Nama kami sama lho, hehehe” dia kembali menjawab, masih dengan senyum sumringahnya.

“Oh, iya?” akhirnya aku pun ikut berkomentar, walaupun hanya dengan dua patah kata yang super singkat namun ditemani senyum—yang tak kalah sumringahnya dengan pembuka pembicaraan--.

Ya. Akhirnya aku mengerti apa maksud ‘kembar’ yang dikatakannya tadi. Dia dan kawan ‘kembarannya’ memang kembar. Mereka punya nama yang sama. Walaupun setelah ditelaah, ada perbedaan dalam penulisannya, spasi dan tambahan huruf lainnya pada kawan yang hanya senyum-senyum saat si dia mengumumkan kesamaan mereka.



* * *


Desember 2010

Sepertinya tidak ada yang pernah menyangka, bahwa faktor hingga kedua kawan sekelasku di FKIP Matematika Unsyiah itu dikatakan kembar, terkadang juga menjadi masalah bagi keduanya. Mulai dari para dosen yang bingung hingga sering tertukar nama dan wajah mereka (untung saja hal itu tidak terjadi pada nilai, karena mahasiswa punya satu identitas utama yang tidak akan sama dengan mahasiswa lain, NIM), sampai pada kawan-kawan satu jurusan, fakultas, bahkan universitas yang ‘salah orang’ saat kabar duka itu tersebar melalui pesan singkat melalui handphone di pagi hari Selasa, 14 Desember 2010.


* * *

Jujur, ingin rasanya aku sebut namanya di sini. Tak sedikit kenangan yang bisa tertuang dalam bentuk cerita tercipta saat mengenalnya dan berinteraksi dengannya. Bukan hanya aku saja, tapi hampir setiap mereka yang mengenalnya juga akan spontan mengucap tiap butir kebaikan yang dilakukannya.

Aku masih ingat, pertama kali melihatnya pada saat masa orientasi mahasiswa di jurusan kami. Dia—dengan jilbab merah muda panjangnya—terduduk manis di kursi panjang tepat di depan pintu jurusan. Sekali-kali dia tersenyum jika ada yang lewat dan membalas sapaan dengan ikhlas jika ada yang menyapanya. Aku tertarik memperhatikannya karena wajahnya serupa nian dengan salah satu kawan di sekolah menengahku dulu (ah, klise!). Sebulan, dua bulan berlalu. Aku bersyukur diberikan kawan sepertinya. Dan tambah bersyukur saat diberikan kesempatan untuk lebih akrab dengannya.


* * *

Penghujung 2008

“Eci, kalau ada waktu ke rumah ya, ada perlu ni” lebih kurang begitulah isi pesan singkat yang dikirimkannya.

Tidak lama, aku pun membalas, memberitahukannya bahwa iya, aku akan ke sana sepulang dari satu agenda. Penasaran. Ada apa kali ini? Biasanya akan dia katakan langsung jika memang ada suatu keperluan. Tapi, kali ini beda, seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

Sorenya, aku tiba. Kalian tahu kawan? Apa maksud dari kata ‘perlu’ yang dituliskannya dalam sebait pesan singkat tadi? ‘Ada perlu’ secara kasat mata dua kata ini akan berarti bahwa seseorang yang mengatakannya sedang butuh bantuan bukan? Tapi, sayangnya bukan. Dalam kasus ini tidak demikian maknanya.

Tiba di sana, dia telah menunggu di depan pintu rumah—tepatnya kos-kosan sederhananya—dengan sebuah plastik yang di dalamnya terdapat rantang, tiga tingkat. Baiklah, aku paham sekarang. Inilah keperluannya hari ini, membagi sedikit kelebihan yang Tuhan berikan padanya, pada aku, bahkan keluargaku. Ah, aku terharu!

Aku ingat sebelumnya, dia tahu. Saat itu, Bunda—Ibu kandungku—baru saja menjalani operasi tumor di daerah kaki, hingga selama beberapa bulan tak diizinkan dan ada kesusahan untuk bergerak ke sana-sini.

Kalian pasti mengerti kawan, saat seorang utama di rumah tangga sedang ‘pasif’ dengan kegiatan rumah tangganya, dan dua anggota lain yang nantinya akan berprofesi sama tapi tidak punya ‘kemampuan’ untuk melakukan hal yang seharusnya, maka ‘warung nasi’ akan jadi tujuan utama.

Kebetulan, aku yang saat itu sering berkunjung ke rumahnya--dalam rangka menunggu waktu untuk beranjak kuliah kali kedua di hari yang sama--pun sering ketiban ‘sialnya’. Makan gratis plus enak, dan sayangnya, aku suka. Aku suka, terutama sambal teri buatan tangannya. Aku—yang piring bekas makannya sering bersisa—tiap kali menyantap hasil tangannya selalu berbeda, habis, tak ada sisa.

Karena itulah, kali ini dia berniat membantu. Dia, dibalik kesusahannya, secara suka rela memberikan tiga jenis ‘karya tangannya’ dalam tiga tingkat rantang yang sudah beralih jatuh ke tanganku. Padahal, dulu ‘perjanjiannya’ bukan begitu.


* * *


14 Desember 2010

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, sahabat kita, saudari Novi Yanti … “ Deg. Nama ini? Tak percaya dengan apa yang barusan aku baca dari layar nok*ia 3110 classic ku, aku ulangi baca sekali lagi pesan singkat tersebut. Kali ini dengan fokus dan konsentrasi yang setinggi-tingginya. Benar. Aku tak salah lihat. Yang tertulis di sana adalah nama itu. Dia. Yang beberapa hari sebelumnya diberitakan sedang dirawat di kampung halamannya, akibat DBD.

Aku diam. Jilbab yang sedang aku kenakan terbiar tak berdaya. Bingung. Linglung. Aku harus menghubungi seseorang, tapi entah kemana nama kawan-kawan. Semua hilang. Sampai aku benar-benar sadar, itu sudah terjadi.

Bergegas aku merapikan jilbab, merampas tas ransel, kunci motor dan semua kelengkapan kuliah yang sedang tenang di tempatnya. Jadwal kuliah sekarang adanya. Tapi, niatku bukan ke sana, melainkan untuk bertanya berita.

Tiba di sana. Iya. Benar adanya berita yang ku baca beberapa menit barusan. Panik. Aku sibuk menghubungi kawan yang hendak berangkat ke rumahnya di kota sana. Syukur saja, Pak Dosen yang sedari tadi asyik menulis materi di papan putih, beranjak keluar dari ruangan.

Aku pulang, meminta izin orang tua dan ikut bersama rombongan mereka—para sahabat seorang kawan yang telah duluan pulang—menuju rumah yang katanya rumah duka.


* * *

28 Maret 2011

Malam ini, kembali terngiang di kepalaku, cerita indah yang mewarnai kepergiannya pagi itu. Dari bibir Ibunya terungkap satu cerita bahwa sahabat baik kami, pergi dengan bahagia.

Malam sebelum masa kritisnya, ia sempat meminta cermin dan difoto. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia bermimpi (aku percaya ia ‘diperlihatkan’ oleh-Nya) mengenakan pakaian pengantin putih bersih lengkap dengan perhiasan dan wajahnya yang dipoles cantik. Dia, merupakan yang terpilih dari dua orang lainnya, dan kemudian dibawa oleh pangeran dengan menggunakan kuda putih*.

Tidak lama setelah ceritanya, ia koma.


~ Sahabat, kami lepas engkau dengan doa. Insya Allah, Kau menjadi Bidadari di alam sana ~


*Maaf, percakapan aslinya tidak dituliskan, karena takut ‘salah cerita’. Apa yang dituliskan di atas tentang mimpinya adalah apa yang penulis ‘tangkap’ dari cerita Ibunya dan telah dipersingkat.


10/27/2011 06:31:00 PM Desi YuLiana

September 2007

“Ee, perkenalkan, kami anak kembar!” masih teringat pertama kali dia menyapa, tepat di depan gedung Fakultas Hukum Unsyiah, dia dan kawannya—yang juga kawanku—dengan sumringah memberitahukan bahwa mereka kembar.

“Hah? Serius kalian? Tapi, nggak mirip kok” seorang kawan yang sedari tadi berjalan di sisi kiriku menjawab spontan tak percaya.

“Nama kami sama lho, hehehe” dia kembali menjawab, masih dengan senyum sumringahnya.

“Oh, iya?” akhirnya aku pun ikut berkomentar, walaupun hanya dengan dua patah kata yang super singkat namun ditemani senyum—yang tak kalah sumringahnya dengan pembuka pembicaraan--.

Ya. Akhirnya aku mengerti apa maksud ‘kembar’ yang dikatakannya tadi. Dia dan kawan ‘kembarannya’ memang kembar. Mereka punya nama yang sama. Walaupun setelah ditelaah, ada perbedaan dalam penulisannya, spasi dan tambahan huruf lainnya pada kawan yang hanya senyum-senyum saat si dia mengumumkan kesamaan mereka.



* * *


Desember 2010

Sepertinya tidak ada yang pernah menyangka, bahwa faktor hingga kedua kawan sekelasku di FKIP Matematika Unsyiah itu dikatakan kembar, terkadang juga menjadi masalah bagi keduanya. Mulai dari para dosen yang bingung hingga sering tertukar nama dan wajah mereka (untung saja hal itu tidak terjadi pada nilai, karena mahasiswa punya satu identitas utama yang tidak akan sama dengan mahasiswa lain, NIM), sampai pada kawan-kawan satu jurusan, fakultas, bahkan universitas yang ‘salah orang’ saat kabar duka itu tersebar melalui pesan singkat melalui handphone di pagi hari Selasa, 14 Desember 2010.


* * *

Jujur, ingin rasanya aku sebut namanya di sini. Tak sedikit kenangan yang bisa tertuang dalam bentuk cerita tercipta saat mengenalnya dan berinteraksi dengannya. Bukan hanya aku saja, tapi hampir setiap mereka yang mengenalnya juga akan spontan mengucap tiap butir kebaikan yang dilakukannya.

Aku masih ingat, pertama kali melihatnya pada saat masa orientasi mahasiswa di jurusan kami. Dia—dengan jilbab merah muda panjangnya—terduduk manis di kursi panjang tepat di depan pintu jurusan. Sekali-kali dia tersenyum jika ada yang lewat dan membalas sapaan dengan ikhlas jika ada yang menyapanya. Aku tertarik memperhatikannya karena wajahnya serupa nian dengan salah satu kawan di sekolah menengahku dulu (ah, klise!). Sebulan, dua bulan berlalu. Aku bersyukur diberikan kawan sepertinya. Dan tambah bersyukur saat diberikan kesempatan untuk lebih akrab dengannya.


* * *

Penghujung 2008

“Eci, kalau ada waktu ke rumah ya, ada perlu ni” lebih kurang begitulah isi pesan singkat yang dikirimkannya.

Tidak lama, aku pun membalas, memberitahukannya bahwa iya, aku akan ke sana sepulang dari satu agenda. Penasaran. Ada apa kali ini? Biasanya akan dia katakan langsung jika memang ada suatu keperluan. Tapi, kali ini beda, seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

Sorenya, aku tiba. Kalian tahu kawan? Apa maksud dari kata ‘perlu’ yang dituliskannya dalam sebait pesan singkat tadi? ‘Ada perlu’ secara kasat mata dua kata ini akan berarti bahwa seseorang yang mengatakannya sedang butuh bantuan bukan? Tapi, sayangnya bukan. Dalam kasus ini tidak demikian maknanya.

Tiba di sana, dia telah menunggu di depan pintu rumah—tepatnya kos-kosan sederhananya—dengan sebuah plastik yang di dalamnya terdapat rantang, tiga tingkat. Baiklah, aku paham sekarang. Inilah keperluannya hari ini, membagi sedikit kelebihan yang Tuhan berikan padanya, pada aku, bahkan keluargaku. Ah, aku terharu!

Aku ingat sebelumnya, dia tahu. Saat itu, Bunda—Ibu kandungku—baru saja menjalani operasi tumor di daerah kaki, hingga selama beberapa bulan tak diizinkan dan ada kesusahan untuk bergerak ke sana-sini.

Kalian pasti mengerti kawan, saat seorang utama di rumah tangga sedang ‘pasif’ dengan kegiatan rumah tangganya, dan dua anggota lain yang nantinya akan berprofesi sama tapi tidak punya ‘kemampuan’ untuk melakukan hal yang seharusnya, maka ‘warung nasi’ akan jadi tujuan utama.

Kebetulan, aku yang saat itu sering berkunjung ke rumahnya--dalam rangka menunggu waktu untuk beranjak kuliah kali kedua di hari yang sama--pun sering ketiban ‘sialnya’. Makan gratis plus enak, dan sayangnya, aku suka. Aku suka, terutama sambal teri buatan tangannya. Aku—yang piring bekas makannya sering bersisa—tiap kali menyantap hasil tangannya selalu berbeda, habis, tak ada sisa.

Karena itulah, kali ini dia berniat membantu. Dia, dibalik kesusahannya, secara suka rela memberikan tiga jenis ‘karya tangannya’ dalam tiga tingkat rantang yang sudah beralih jatuh ke tanganku. Padahal, dulu ‘perjanjiannya’ bukan begitu.


* * *


14 Desember 2010

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, sahabat kita, saudari Novi Yanti … “ Deg. Nama ini? Tak percaya dengan apa yang barusan aku baca dari layar nok*ia 3110 classic ku, aku ulangi baca sekali lagi pesan singkat tersebut. Kali ini dengan fokus dan konsentrasi yang setinggi-tingginya. Benar. Aku tak salah lihat. Yang tertulis di sana adalah nama itu. Dia. Yang beberapa hari sebelumnya diberitakan sedang dirawat di kampung halamannya, akibat DBD.

Aku diam. Jilbab yang sedang aku kenakan terbiar tak berdaya. Bingung. Linglung. Aku harus menghubungi seseorang, tapi entah kemana nama kawan-kawan. Semua hilang. Sampai aku benar-benar sadar, itu sudah terjadi.

Bergegas aku merapikan jilbab, merampas tas ransel, kunci motor dan semua kelengkapan kuliah yang sedang tenang di tempatnya. Jadwal kuliah sekarang adanya. Tapi, niatku bukan ke sana, melainkan untuk bertanya berita.

Tiba di sana. Iya. Benar adanya berita yang ku baca beberapa menit barusan. Panik. Aku sibuk menghubungi kawan yang hendak berangkat ke rumahnya di kota sana. Syukur saja, Pak Dosen yang sedari tadi asyik menulis materi di papan putih, beranjak keluar dari ruangan.

Aku pulang, meminta izin orang tua dan ikut bersama rombongan mereka—para sahabat seorang kawan yang telah duluan pulang—menuju rumah yang katanya rumah duka.


* * *

28 Maret 2011

Malam ini, kembali terngiang di kepalaku, cerita indah yang mewarnai kepergiannya pagi itu. Dari bibir Ibunya terungkap satu cerita bahwa sahabat baik kami, pergi dengan bahagia.

Malam sebelum masa kritisnya, ia sempat meminta cermin dan difoto. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia bermimpi (aku percaya ia ‘diperlihatkan’ oleh-Nya) mengenakan pakaian pengantin putih bersih lengkap dengan perhiasan dan wajahnya yang dipoles cantik. Dia, merupakan yang terpilih dari dua orang lainnya, dan kemudian dibawa oleh pangeran dengan menggunakan kuda putih*.

Tidak lama setelah ceritanya, ia koma.


~ Sahabat, kami lepas engkau dengan doa. Insya Allah, Kau menjadi Bidadari di alam sana ~


*Maaf, percakapan aslinya tidak dituliskan, karena takut ‘salah cerita’. Apa yang dituliskan di atas tentang mimpinya adalah apa yang penulis ‘tangkap’ dari cerita Ibunya dan telah dipersingkat.


Halo blogger! Halo blogspot! :D
Yah, mungkin kalimat yang tepat untuk postingan awal ini adalah... Eci, Welcome (back) to blogspot.com !

Hmm, kenapa back? Yah, karena sebelumnya saya sudah punya akun di sini, namun tidak terlalu dipedulikan karena masih sangat belum mengerti situs ini dan lebih mengutamakan blog perdana --> cedyza.multiply.com

Multiply, ya. Blog ini kelihatannya lebih 'merakyat', lebih ringan, lebih simpel, lebih 'mudah' dan lebih cepat dimengerti bagi pengguna barunya. Dan, menurut pendapat pribadi, tentu saja karena bekal ilmu yang tak seberapamana, blogspot ini jauh lebih susah dan cukup misterius.

Tapi.. Entah kenapa, setiap melihat blog orang lain yang cukup dijaga dan diperhatikan secara teratur, saya cukup iri. Rasanya, ingin juga punya satu blog yang cukup menarik untuk dikunjungi orang lain. Jujur, mulai bosan dengan multiply, karena kebanyakan blogger itu mainnnya di blogspot atau di wordpress, dan multiply sekarang sudah kepenuhan dengan segala online shop yang beragam macam. Jenuh. Multiply sekarang jadi tak jauh beda dengan facebook.

Aah, aku hanya butuh suasana baru.
Dan ingin mulai nge-blog dari awal lagi.

Kawan-kawan blogger, mau bantu aku kan? *wink-wink*

*Demikian curhatan awal saya, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih :)
10/27/2011 05:35:00 AM Desi YuLiana
Halo blogger! Halo blogspot! :D
Yah, mungkin kalimat yang tepat untuk postingan awal ini adalah... Eci, Welcome (back) to blogspot.com !

Hmm, kenapa back? Yah, karena sebelumnya saya sudah punya akun di sini, namun tidak terlalu dipedulikan karena masih sangat belum mengerti situs ini dan lebih mengutamakan blog perdana --> cedyza.multiply.com

Multiply, ya. Blog ini kelihatannya lebih 'merakyat', lebih ringan, lebih simpel, lebih 'mudah' dan lebih cepat dimengerti bagi pengguna barunya. Dan, menurut pendapat pribadi, tentu saja karena bekal ilmu yang tak seberapamana, blogspot ini jauh lebih susah dan cukup misterius.

Tapi.. Entah kenapa, setiap melihat blog orang lain yang cukup dijaga dan diperhatikan secara teratur, saya cukup iri. Rasanya, ingin juga punya satu blog yang cukup menarik untuk dikunjungi orang lain. Jujur, mulai bosan dengan multiply, karena kebanyakan blogger itu mainnnya di blogspot atau di wordpress, dan multiply sekarang sudah kepenuhan dengan segala online shop yang beragam macam. Jenuh. Multiply sekarang jadi tak jauh beda dengan facebook.

Aah, aku hanya butuh suasana baru.
Dan ingin mulai nge-blog dari awal lagi.

Kawan-kawan blogger, mau bantu aku kan? *wink-wink*

*Demikian curhatan awal saya, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih :)