Thursday, January 5, 2012

Ada yang tahu atau udah pernah ikutan ‘PR’ ini belum?

Baiklah. #resolusi12 merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh kak Liza di situsnya (http://liza-fathia.com). Kalian bisa baca di sana mengenai rincian lengkap tugas ini. Yah, walaupun blog saya tidak tertulis di sana, tapi saya melakukannya karena ada pernyataan ‘Anda. Siapa pun anda yang mungkin link blognya tidak ada di deretan blog yang sudah saya tuliskan di atas’ di sana. Positif thinking! Bukankah itu termasuk saya? Well, langsung saja, mari kita jawab semua pertanyaan yang tercakup dalam #resolusi12 by kak Liza berikut:

Adapun pertanyaan wajib untuk #resolusi12 ini adalah :
1. Deskripsikan diri Anda dalam 12 kata?
2. Sebutkan 12 hal yang ingin anda hindari di tahun 2012 ?
3. Sebutkan 12 hal yang ingin anda lakukan di tahun 2012 ?
4. Pilih 12 blog lain yang belum mendapatkan #resolusi12!
5. Buat 12 pertanyaan lain untuk 12 blog pilihan Anda!
Deskripsi seorang Desi Yuliana dalam 12 kata:
Anak bawangnya Ayah-Bunda; seorang pemimpi, pencinta dunia literasi, fotografi, dan traveling.
12 hal yang ingin saya hindari di tahun 2012:
Hmm. Jujur, untuk pertanyaan ini saya bingung harus menjawab apa. Saya tidak ingin mendaftarkan sesuatu yang tidak saya inginkan. Tapi yang pasti, saya menghindari menjadi pribadi yang tidak membaik dan lebih buruk dari sebelumnya di tahun 2012 ini, karena jelas, saya ingin terus memperbaiki diri. Semoga. Insha Allah.
12 hal yang ingin saya lakukan di tahun 2012:
  1. Menabung
  2. Lancar berbahasa Inggris dan Jepang
  3. Mendapatkan nilai TOEFL minimal 550 dan IELTS minimal 6
  4. Melanjutkan S2 ke Jepang (Amin!)
  5. Jalan-jalan ke Jepang (jika belum dapat beasiswa)
  6. Jalan-jalan, berkunjung, melihat kembali tempat-tempat kenangan beberapa tahun silam dan silaturahmi pada kawan-kawan di Tanah Minang (I miss them so much!)
  7. Mendapat pekerjaan (baik itu sebagai pegawai kantoran maupun sebagai guru)
  8. Mempunyai usaha/bisnis sendiri yang sukses
  9. Menyelesaikan proyek menulis ‘Bajaj dan Bintang’ bersama seorang kawan dan menerbitkannya menjadi sebuah novel
  10. Punya kamera SLR, gitar dan hape Android yang lebih canggih dari hape yang lama (hehehe)
  11. Menikah (ting!), dan
  12. Menjadi pribadi yang lebih baik; lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih dermawan, lebih meningkat ibadahnya, dan lebih dekat pada Tuhan-Nya. Amin.
Selanjutnya 12 pertanyaan tambahan #resolusi12:

1. Apa arti dari nama Anda?
Desi Yuliana. Saya tidak tahu harus mengartikan nama ini darimana. Namun, jika ditanya latar belakang nama tersebut, berikut penjelasannya: Desi. Diambil dari bulan Desember. Berdasarkan cerita Ayah-Bunda, beberapa saudara menyarankan memberi nama Desi pada bayi—anak kedua--yang lahir pada tanggal 2 Desember itu. Yuliana, kata Yu pada nama ini diadaptasi dari nama Ibu saya (begitu juga dengan Yu pada nama kakak saya). Jadi, Desi Yuliana bisa saya artikan sebagai seorang anak dari seorang ibu berinisial Yu yang lahir pada bulan Desember (ini sungguh maksa!).
2. Apa maksud judul/tagline blog anda, dan kenapa anda memilih kalimat tersebut?
Pondok Cerita si Anak Muda? Ah, memilih judul tersebut hanya karena saya—anak muda--menganggap blog ini sebagai kawan, dan sebagai tempat mencurahkan isi hati ataupun cerita-cerita layaknya peranan ‘rumah’ dalam kehidupan yang sebenarnya. Namun, berhubung kata-kata ‘rumah’ sudah cukup banyak yang memakai, akhirnya saya memilih ‘pondok’ yang tak kalah indahnya.
3. Apakah anda pecinta binatang? Jika iya, binatang apa yang anda sukai?
Sangat! Kecuali (maaf) saya phobia serangga. Dari kecil sampai sekarang, saya masih setia menjadi pencinta kucing, kucing dan kucing!
4. Apa yang paling Anda takuti di dunia ini?
Allah SWT. Bukankah Dia Penguasa seluruh alam semesta?
5. Apa yang paling tidak Anda sukai?
Menunggu, barang-barang yang berserakan, pelanggaran di jalan raya dan dikekang.
6. Apa yang anda lakukan untuk menjaga lingkungan?
Membuang sampah pada tempatnya.
7. Sebutkan 1 orang yang paling anda cintai!
Bunda!
8. Apa yang anda lakukan untuk menjaga kesehatan anda?
Olahraga (lebih tepatnya ‘ngedance’ setiap hari, hehehe).
9. Apa yang anda ketahui tentang Palestina?
Tanah suci, tanah pilihan. Negara ‘terusir’ yang menghasilkan orang-orang kuat, pejuang, dan para syuhada yang luar biasa hebatnya.
10. Apa hobi Anda?
Nari, literasi (baca-tulis), fotografi, jalan-jalan, makan-makan, nonton, dengar musik plus nyanyi-nyanyi, ngandroid dan … mencoba hal-hal baru (hobi sejuta umat!)
11. Apa motto hidup anda?
Aku bisa, karena berpikir aku bisa!
12. Tahukah anda tentang disabilitas? Apa pendapat anda tentang penyandang disabilitas?
Disabilitas? Semacam ketidakmampuan melakukan sesuatu, gitu? Ah, maaf! Saya tidak tahu.
*Tugas saya selesai, selanjutnya tugas Anda!*

Adapun pertanyaan wajib untuk #resolusi12 kali ini adalah :
  1. Deskripsikan diri Anda dalam 12 kata?
  2. Sebutkan 12 hal yang ingin anda miliki di tahun 2012 ?
  3. Sebutkan 12 hal yang ingin anda lakukan di tahun 2012 ?
  4. Pilih 12 blog lain yang belum mendapatkan #resolusi12!
  5. Buat 12 pertanyaan lain untuk 12 blog pilihan Anda!

Berikut ini adalah 12 pertanyaan tambahan untuk blog pilihan #resolusi12

  1. Apa arti dari nama anda?
  2. Apa maksud judul/tagline blog anda, dan kenapa anda memilih kalimat tersebut?
  3. Apakah anda pecinta binatang? Jika iya, binatang apa yang anda sukai?
  4. Apa arti persahabatan bagi anda?
  5. Apa impian terbesar anda yang belum terwujud sampai sekarang?
  6. Apa kesuksesan terbesar yang pernah anda raih selama hidup anda?
  7. Jika disuruh memilih satu dari dua pilihan, anda lebih memilih Ayah atau Ibu anda? Kenapa?
  8. Apa buku/novel favorit anda? Jelaskan sedikit tentangnya!
  9. Apa yang anda ketahui tentang Palestina?
  10. Apakah anda seorang penikmat musik? Jika iya, jenis musik yang bagaimana yang anda suka?
  11. Apa lagu yang paling menginspirasi anda?
  12. Apa quote favorit anda?
  13. Bagaimana pendapat anda tentang mereka yang suka 'curhat' masalah pribadinya di sosial media (seperti facebook, twitter, ataupun blog)?
Lantas, siapakah 12 blogger pilihan yang mendapatkan #resolusi12 dari saya? Here we go:
  1. http://noorreal90.multiply.com/
  2. http://sword203.multiply.com/
  3. http://risnaray.blogspot.com/
  4. http://phiyonkchubby.blogspot.com/
  5. http://gadogadosinyak.blogspot.com/
  6. http://isnimeutuah.blogspot.com/
  7. http://graliaazza.blogspot.com/
  8. http://ibnuflp.wordpress.com/
  9. http://kanemochi-yotsuba.blogspot.com/
  10. http://fidaarfah.blogspot.com/
  11. http://lelakirindu.multiply.com/
  12. Anda.
*Selamat mencoba :)

1/05/2012 05:12:00 PM Desi YuLiana
Ada yang tahu atau udah pernah ikutan ‘PR’ ini belum?

Baiklah. #resolusi12 merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh kak Liza di situsnya (http://liza-fathia.com). Kalian bisa baca di sana mengenai rincian lengkap tugas ini. Yah, walaupun blog saya tidak tertulis di sana, tapi saya melakukannya karena ada pernyataan ‘Anda. Siapa pun anda yang mungkin link blognya tidak ada di deretan blog yang sudah saya tuliskan di atas’ di sana. Positif thinking! Bukankah itu termasuk saya? Well, langsung saja, mari kita jawab semua pertanyaan yang tercakup dalam #resolusi12 by kak Liza berikut:

Adapun pertanyaan wajib untuk #resolusi12 ini adalah :
1. Deskripsikan diri Anda dalam 12 kata?
2. Sebutkan 12 hal yang ingin anda hindari di tahun 2012 ?
3. Sebutkan 12 hal yang ingin anda lakukan di tahun 2012 ?
4. Pilih 12 blog lain yang belum mendapatkan #resolusi12!
5. Buat 12 pertanyaan lain untuk 12 blog pilihan Anda!
Deskripsi seorang Desi Yuliana dalam 12 kata:
Anak bawangnya Ayah-Bunda; seorang pemimpi, pencinta dunia literasi, fotografi, dan traveling.
12 hal yang ingin saya hindari di tahun 2012:
Hmm. Jujur, untuk pertanyaan ini saya bingung harus menjawab apa. Saya tidak ingin mendaftarkan sesuatu yang tidak saya inginkan. Tapi yang pasti, saya menghindari menjadi pribadi yang tidak membaik dan lebih buruk dari sebelumnya di tahun 2012 ini, karena jelas, saya ingin terus memperbaiki diri. Semoga. Insha Allah.
12 hal yang ingin saya lakukan di tahun 2012:
  1. Menabung
  2. Lancar berbahasa Inggris dan Jepang
  3. Mendapatkan nilai TOEFL minimal 550 dan IELTS minimal 6
  4. Melanjutkan S2 ke Jepang (Amin!)
  5. Jalan-jalan ke Jepang (jika belum dapat beasiswa)
  6. Jalan-jalan, berkunjung, melihat kembali tempat-tempat kenangan beberapa tahun silam dan silaturahmi pada kawan-kawan di Tanah Minang (I miss them so much!)
  7. Mendapat pekerjaan (baik itu sebagai pegawai kantoran maupun sebagai guru)
  8. Mempunyai usaha/bisnis sendiri yang sukses
  9. Menyelesaikan proyek menulis ‘Bajaj dan Bintang’ bersama seorang kawan dan menerbitkannya menjadi sebuah novel
  10. Punya kamera SLR, gitar dan hape Android yang lebih canggih dari hape yang lama (hehehe)
  11. Menikah (ting!), dan
  12. Menjadi pribadi yang lebih baik; lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih dermawan, lebih meningkat ibadahnya, dan lebih dekat pada Tuhan-Nya. Amin.
Selanjutnya 12 pertanyaan tambahan #resolusi12:

1. Apa arti dari nama Anda?
Desi Yuliana. Saya tidak tahu harus mengartikan nama ini darimana. Namun, jika ditanya latar belakang nama tersebut, berikut penjelasannya: Desi. Diambil dari bulan Desember. Berdasarkan cerita Ayah-Bunda, beberapa saudara menyarankan memberi nama Desi pada bayi—anak kedua--yang lahir pada tanggal 2 Desember itu. Yuliana, kata Yu pada nama ini diadaptasi dari nama Ibu saya (begitu juga dengan Yu pada nama kakak saya). Jadi, Desi Yuliana bisa saya artikan sebagai seorang anak dari seorang ibu berinisial Yu yang lahir pada bulan Desember (ini sungguh maksa!).
2. Apa maksud judul/tagline blog anda, dan kenapa anda memilih kalimat tersebut?
Pondok Cerita si Anak Muda? Ah, memilih judul tersebut hanya karena saya—anak muda--menganggap blog ini sebagai kawan, dan sebagai tempat mencurahkan isi hati ataupun cerita-cerita layaknya peranan ‘rumah’ dalam kehidupan yang sebenarnya. Namun, berhubung kata-kata ‘rumah’ sudah cukup banyak yang memakai, akhirnya saya memilih ‘pondok’ yang tak kalah indahnya.
3. Apakah anda pecinta binatang? Jika iya, binatang apa yang anda sukai?
Sangat! Kecuali (maaf) saya phobia serangga. Dari kecil sampai sekarang, saya masih setia menjadi pencinta kucing, kucing dan kucing!
4. Apa yang paling Anda takuti di dunia ini?
Allah SWT. Bukankah Dia Penguasa seluruh alam semesta?
5. Apa yang paling tidak Anda sukai?
Menunggu, barang-barang yang berserakan, pelanggaran di jalan raya dan dikekang.
6. Apa yang anda lakukan untuk menjaga lingkungan?
Membuang sampah pada tempatnya.
7. Sebutkan 1 orang yang paling anda cintai!
Bunda!
8. Apa yang anda lakukan untuk menjaga kesehatan anda?
Olahraga (lebih tepatnya ‘ngedance’ setiap hari, hehehe).
9. Apa yang anda ketahui tentang Palestina?
Tanah suci, tanah pilihan. Negara ‘terusir’ yang menghasilkan orang-orang kuat, pejuang, dan para syuhada yang luar biasa hebatnya.
10. Apa hobi Anda?
Nari, literasi (baca-tulis), fotografi, jalan-jalan, makan-makan, nonton, dengar musik plus nyanyi-nyanyi, ngandroid dan … mencoba hal-hal baru (hobi sejuta umat!)
11. Apa motto hidup anda?
Aku bisa, karena berpikir aku bisa!
12. Tahukah anda tentang disabilitas? Apa pendapat anda tentang penyandang disabilitas?
Disabilitas? Semacam ketidakmampuan melakukan sesuatu, gitu? Ah, maaf! Saya tidak tahu.
*Tugas saya selesai, selanjutnya tugas Anda!*

Adapun pertanyaan wajib untuk #resolusi12 kali ini adalah :
  1. Deskripsikan diri Anda dalam 12 kata?
  2. Sebutkan 12 hal yang ingin anda miliki di tahun 2012 ?
  3. Sebutkan 12 hal yang ingin anda lakukan di tahun 2012 ?
  4. Pilih 12 blog lain yang belum mendapatkan #resolusi12!
  5. Buat 12 pertanyaan lain untuk 12 blog pilihan Anda!

Berikut ini adalah 12 pertanyaan tambahan untuk blog pilihan #resolusi12

  1. Apa arti dari nama anda?
  2. Apa maksud judul/tagline blog anda, dan kenapa anda memilih kalimat tersebut?
  3. Apakah anda pecinta binatang? Jika iya, binatang apa yang anda sukai?
  4. Apa arti persahabatan bagi anda?
  5. Apa impian terbesar anda yang belum terwujud sampai sekarang?
  6. Apa kesuksesan terbesar yang pernah anda raih selama hidup anda?
  7. Jika disuruh memilih satu dari dua pilihan, anda lebih memilih Ayah atau Ibu anda? Kenapa?
  8. Apa buku/novel favorit anda? Jelaskan sedikit tentangnya!
  9. Apa yang anda ketahui tentang Palestina?
  10. Apakah anda seorang penikmat musik? Jika iya, jenis musik yang bagaimana yang anda suka?
  11. Apa lagu yang paling menginspirasi anda?
  12. Apa quote favorit anda?
  13. Bagaimana pendapat anda tentang mereka yang suka 'curhat' masalah pribadinya di sosial media (seperti facebook, twitter, ataupun blog)?
Lantas, siapakah 12 blogger pilihan yang mendapatkan #resolusi12 dari saya? Here we go:
  1. http://noorreal90.multiply.com/
  2. http://sword203.multiply.com/
  3. http://risnaray.blogspot.com/
  4. http://phiyonkchubby.blogspot.com/
  5. http://gadogadosinyak.blogspot.com/
  6. http://isnimeutuah.blogspot.com/
  7. http://graliaazza.blogspot.com/
  8. http://ibnuflp.wordpress.com/
  9. http://kanemochi-yotsuba.blogspot.com/
  10. http://fidaarfah.blogspot.com/
  11. http://lelakirindu.multiply.com/
  12. Anda.
*Selamat mencoba :)

Baiklah. Walaupun seharusnya dan sebaiknya setiap kejadian di tahun terdahulu dan resolusi ataupun impian di tahun depannya dirangkum pada tahun Hijriah (tahun umat Muslim yang sebenarnya), tidak ada salahnya melakukan itu untuk tahun Masehi, toh, kehidupan normal memanglah berpaku padanya.

Serentetan kenangan, moment, ataupun itu ada baiknya dituliskan, agar kita bisa tetap mengingat, lantas dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Tahun 2011, ini tahun yang awalnya biasa saja, tapi setelah menjalani ke-360-an harinya, aku sadar, begitu banyak kejadian-kejadian tak terduga, kejadian-kejadian penting dan kejadian-kejadian yang cukup pantas untuk selalu dikenang. Apa saja? Here we go:


  1. Math Geler on Vacation

Math Geler itu singkatan untuk kelas kami, yaitu Matematika Genap Reguler (2007). Jalan-jalan di 2011 ini merupakan kisah jalan-jalan yang ketiga kalinya (dan sepertinya yang terakhir) untuk kelas kami, tapi, bagiku suasana jalan-jalan ke Wisata Irigasi Brayeung kali ini merupakan yang paling seru dan menyenangkan jika dibandingkan dengan suasana jalan-jalan sebelumnya. Eaaa. (6 Februari 2011)
  1. Ngandroid

Penting? Haha, iya! Bisa membeli sebuah hape android dari hasil usaha dan tabungan sendiri itu se-su-a-tu. Dan kalian tahu kawan? Memasuki dunia 'ngandroid' itu artinya memasuki kehidupan baru dengan ilmu pengetahuan dan teman-teman yang baru pula. Banyak ilmu baru yang aku dapatkan sejak ngandroid. Sengaja maupun tidak sengaja. Dan tentu saja, ngandroid membuatku semakin mencintai, mengerti dan terus penasaran (mencari tahu lebih dalam dan lebih banyak lagi) akan yang namanya IT (ah, jadi nyesal dulu nggak ambil jurusan IT #eh). Seperti kata pepatah:

"Rajin ngandroid pangkal pandai". (entah kata siapa). (Februari 2011).

  1. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
Yup, bagi yang kuliah di bidang pendidikan pastilah tidak asing dengan 3 huruf itu. PPL. Ini salah satu mata kuliah--selain skripsi--yang paling aku takuti dan hindari. Kenapa? Karena sejauh kuliah, aku belum pernah mendengar ada kakak/abang angkatan yang menyatakan bahwa PPL itu menyenangkan. Semuanya mengeluh, tidak suka. Dan aku pun ikut tersabotase karenanya.

But the show must go on. Semester 8 pun tiba, mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, PPL harus kupilih ke dalam salah satu mata kuliah di semester itu. Fiuh. Tak terungkapkan lagi bagaimana takut dan khawatirnya aku akan perjalanan PPL itu. Apalagi ketika tahu bahwa sekolah tempat aku mengajar adalah termasuk salah satu sekolah dengan siswa terparah (berdasarkan cerita kawan-kawan).

Tapi, kalian tahu saudara-saudara? Setelah menjalaninya, dapat kusimpulkan, PPL itu menyenangkan! Yah, rasa lelah karena mengajar 24 jam seminggu, kesal terhadap perilaku siswa yang kadang kelewatan nakalnya, ataupun konslet dengan kawan sekelompok itu pastilah ada, tapi setidaknya, hal-hal menyenangkan di sekolah jauh lebih banyak daripada hal-hal tak enak yang tak seberapa mana itu.

PPL is fun! Dan kenangan perjuangan bersama 12 kawan-kawan senasib serta senyuman tulus dari siswa-siswa kesayangan tidak akan terlupa begitu saja. (18 Februari - 18 Juni 2011).
  1. Seminar proposal skripsi
Nah, ini juga menjadi salah satu kejadian yang paling berharga di tahun 2011 silam. Kenapa? Karena seminar proposal merupakan salah satu langkah awal terpenting menuju pembuatan tugas akhir, skripsi. Dan tentu saja, seminar proposal itu sakral walaupun banyak orang yang melecehkan kemudahannya. (15 Juli 2011).
  1. Buku Antologi perdana akhirnya diterbitkan!
Senangnya luar biasa. Ini buku antologi Flash Fiction perdana (dan semoga ada yang selanjutnya). Sebelumnya ada yang mengadakan lomba menulis FF, dan Alhamdulillah naskah sederhanaku lolos. Tapi sayangnya saudara-saudara, di cetakan perdana buku ini, naskah dan nama yang sangat aku harapkan di buku ini tidak ada! Naskahku tidak dimuat karena kesalahan dan ketidaktelitian pihak penyelenggara lomba dan penerbit. Namun, mereka menjanjikan akan memperbaikinya di cetakan kedua nanti. Semoga ya. Karena aku masih berharap namaku hadir di sebuah buku. Amin. (Agustus 2011).
  1. Penelitian (Back to SMP Negeri 10 Banda Aceh)
Setelah lebih dari sebulan seminar proposal skripsi selesai terlaksana, sekarang giliran langkah selanjutnya, yaitu penelitian. Tentu saja, sesuai judul skripsi--penerapan model pembelajaran--penelitian ini dilaksanakan di sekolah dengan cara menerapkan model pembelajaran (NHT dan STAD) pada kedua kelas yang terpilih menjadi sampel. Well, yang paling bikin deg-degan dari penelitian ini adalah mengajar. Sudah hampir 4 bulan aku tidak pernah mengajar lagi setelah PPL selesai, dan saat penelitian aku harus kembali mengajar, di kelas dengan siswa-siswa yang berbeda dengan siswaku sebelumnya. Alhamdulillah, secara keseluruhan penelitian skripsi ini berjalan cukup lancar walaupun tidak dapat dipungkiri, banyak kendala-kendala tertentu yang muncul selama penelitian tersebut, but so far, semuanya bisa teratasi dan akhirnya penelitian tersebut pun selesai dilaksanakan. (September 2011).
  1. Ayah Bunda berangkat Haji
Akhirnya, setelah menunggu antrian berangkat beberapa tahun, tiba juga kesempatan Ayah dan Bunda berangkat ke Tanah Suci Mekkah, melaksanakan panggilan Allah, rukun Islam kelima. Alhamdulillah. (Oktober - November 2011).
  1. Penulisan skripsi
Ah, tak dapat dilukiskan dengan kuas atau digambarkan dengan kata-kata lah gimana proses penulisan skripsi seteleh penelitian. Terkadang jalannya mulus, namun sering juga tersendat-sendat di tengah perjalanannya. Faktor-faktor penentu sukses tidaknya penulisan skripsi sebenarnya ada banyak sekali, namun beberapa yang saya rasakan di antaranya: Diri sendiri (malas, terlalu mengikuti mood, kurang teliti, dan sebagainya), Dosen Pembimbing (yah, kalian pasti tahu lah, mood dan kesibukan beliau juga sangat berpengaruh kan?), Referensi (nah, yang ini nih yang sering bikin bad mood. Susah amat dicarinya!), dan apa lagi ya? Ah, aku lupa! Hahaha. (Oktober - Desember 2011).
  1. Ujian TOEFL dan Ujian Komprehensif
Berhubung di jurusan kami nilai kelulusan TOEFL tidak dibatasi (alias tidak mengikuti standar yang berlaku di Unsyiah, yaitu 450) dan nilai yang aku dapatkan sedikit di bawah standar tersebut (artinya sebenarnya belum lulus), aku merasa tidak perlu terlalu memikirkan ujian yang satu ini, alias aman. Lewat. Namun, yang paling meresahkan itu adalah ujian komprehensif (ujian tes kemampuan dasar). Nah, di jurusan kami, inilah salah satu syarat sidang tersusah, karena nilai standar kelulusan ujian ini yaitu 75, sedikit lebih tinggi daripada jurusan lainnya (yang rata-rata hanya 60). Banyak yang tertunda sidang karena belum lulus ujian komprehensif ini. Aku juga. Eits, tapi saat belum lulus ujian itu skripsiku belum di-ACC sih, hehehe. Tapi Alhamdulillah, setelah ikut satu kali bimbingan, di ujian kedua aku lulus. Dan jalan menuju sidang skripsi rasanya semakin terbuka lebar. (Oktober dan November 2011).

  1. Ujian Sidang Sarjana (SIDANG SKRIPSI!)

Inilah yang paling ditunggu-tunggu saudara-saudara. Akhirnya. Ya! Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana sensasionalnya ujian akhir yang satu ini. Thanks God, padahal di awal bulan Desember lalu sempat pesimis tidak bisa sidang dalam waktu dekat dan terdaftar menjadi salah satu mahasiswa yang akan mengikuti Yudisium/Wisuda periode November-Januari. Tapi Allah tahu yang terbaik. Jalan penulisan skripsi ini rasanya selalu dimudahkan oleh-Nya. Alhamdulillah. Dan Alhamdulillah lagi, proses sidang pun berjalan lancar, tidak ada hambatan atau kesulitan yang berarti. Lagi-lagi dimudahkan! Dan akhirnya, Selasa, 27 Desember 2011 aku resmi bukan berstatus sebagai mahasiswa lagi dan mendapat gelar S.Pd (secara tidak resmi). Lega. Merdeka! Tapi, tetap ingat akan pesan dari Ketua Jurusan saat pengumuman lulus tidaknya sidang:
Kelulusan ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari segalanya. Ini awal menuju kehidupan dan persaingan kalian yang sebenarnya.
*Terima Kasih Pak, akan saya ingat selalu :)

Demikianlah, yang di atas itu beberapa dari begitu banyaknya pengalaman berharga yang terjadi selama tahun 2011 ada. Terima kasih 2011 atas semua kenangan indahnya.

1/05/2012 01:51:00 AM Desi YuLiana

Baiklah. Walaupun seharusnya dan sebaiknya setiap kejadian di tahun terdahulu dan resolusi ataupun impian di tahun depannya dirangkum pada tahun Hijriah (tahun umat Muslim yang sebenarnya), tidak ada salahnya melakukan itu untuk tahun Masehi, toh, kehidupan normal memanglah berpaku padanya.

Serentetan kenangan, moment, ataupun itu ada baiknya dituliskan, agar kita bisa tetap mengingat, lantas dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Tahun 2011, ini tahun yang awalnya biasa saja, tapi setelah menjalani ke-360-an harinya, aku sadar, begitu banyak kejadian-kejadian tak terduga, kejadian-kejadian penting dan kejadian-kejadian yang cukup pantas untuk selalu dikenang. Apa saja? Here we go:


  1. Math Geler on Vacation

Math Geler itu singkatan untuk kelas kami, yaitu Matematika Genap Reguler (2007). Jalan-jalan di 2011 ini merupakan kisah jalan-jalan yang ketiga kalinya (dan sepertinya yang terakhir) untuk kelas kami, tapi, bagiku suasana jalan-jalan ke Wisata Irigasi Brayeung kali ini merupakan yang paling seru dan menyenangkan jika dibandingkan dengan suasana jalan-jalan sebelumnya. Eaaa. (6 Februari 2011)
  1. Ngandroid

Penting? Haha, iya! Bisa membeli sebuah hape android dari hasil usaha dan tabungan sendiri itu se-su-a-tu. Dan kalian tahu kawan? Memasuki dunia 'ngandroid' itu artinya memasuki kehidupan baru dengan ilmu pengetahuan dan teman-teman yang baru pula. Banyak ilmu baru yang aku dapatkan sejak ngandroid. Sengaja maupun tidak sengaja. Dan tentu saja, ngandroid membuatku semakin mencintai, mengerti dan terus penasaran (mencari tahu lebih dalam dan lebih banyak lagi) akan yang namanya IT (ah, jadi nyesal dulu nggak ambil jurusan IT #eh). Seperti kata pepatah:

"Rajin ngandroid pangkal pandai". (entah kata siapa). (Februari 2011).

  1. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
Yup, bagi yang kuliah di bidang pendidikan pastilah tidak asing dengan 3 huruf itu. PPL. Ini salah satu mata kuliah--selain skripsi--yang paling aku takuti dan hindari. Kenapa? Karena sejauh kuliah, aku belum pernah mendengar ada kakak/abang angkatan yang menyatakan bahwa PPL itu menyenangkan. Semuanya mengeluh, tidak suka. Dan aku pun ikut tersabotase karenanya.

But the show must go on. Semester 8 pun tiba, mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, PPL harus kupilih ke dalam salah satu mata kuliah di semester itu. Fiuh. Tak terungkapkan lagi bagaimana takut dan khawatirnya aku akan perjalanan PPL itu. Apalagi ketika tahu bahwa sekolah tempat aku mengajar adalah termasuk salah satu sekolah dengan siswa terparah (berdasarkan cerita kawan-kawan).

Tapi, kalian tahu saudara-saudara? Setelah menjalaninya, dapat kusimpulkan, PPL itu menyenangkan! Yah, rasa lelah karena mengajar 24 jam seminggu, kesal terhadap perilaku siswa yang kadang kelewatan nakalnya, ataupun konslet dengan kawan sekelompok itu pastilah ada, tapi setidaknya, hal-hal menyenangkan di sekolah jauh lebih banyak daripada hal-hal tak enak yang tak seberapa mana itu.

PPL is fun! Dan kenangan perjuangan bersama 12 kawan-kawan senasib serta senyuman tulus dari siswa-siswa kesayangan tidak akan terlupa begitu saja. (18 Februari - 18 Juni 2011).
  1. Seminar proposal skripsi
Nah, ini juga menjadi salah satu kejadian yang paling berharga di tahun 2011 silam. Kenapa? Karena seminar proposal merupakan salah satu langkah awal terpenting menuju pembuatan tugas akhir, skripsi. Dan tentu saja, seminar proposal itu sakral walaupun banyak orang yang melecehkan kemudahannya. (15 Juli 2011).
  1. Buku Antologi perdana akhirnya diterbitkan!
Senangnya luar biasa. Ini buku antologi Flash Fiction perdana (dan semoga ada yang selanjutnya). Sebelumnya ada yang mengadakan lomba menulis FF, dan Alhamdulillah naskah sederhanaku lolos. Tapi sayangnya saudara-saudara, di cetakan perdana buku ini, naskah dan nama yang sangat aku harapkan di buku ini tidak ada! Naskahku tidak dimuat karena kesalahan dan ketidaktelitian pihak penyelenggara lomba dan penerbit. Namun, mereka menjanjikan akan memperbaikinya di cetakan kedua nanti. Semoga ya. Karena aku masih berharap namaku hadir di sebuah buku. Amin. (Agustus 2011).
  1. Penelitian (Back to SMP Negeri 10 Banda Aceh)
Setelah lebih dari sebulan seminar proposal skripsi selesai terlaksana, sekarang giliran langkah selanjutnya, yaitu penelitian. Tentu saja, sesuai judul skripsi--penerapan model pembelajaran--penelitian ini dilaksanakan di sekolah dengan cara menerapkan model pembelajaran (NHT dan STAD) pada kedua kelas yang terpilih menjadi sampel. Well, yang paling bikin deg-degan dari penelitian ini adalah mengajar. Sudah hampir 4 bulan aku tidak pernah mengajar lagi setelah PPL selesai, dan saat penelitian aku harus kembali mengajar, di kelas dengan siswa-siswa yang berbeda dengan siswaku sebelumnya. Alhamdulillah, secara keseluruhan penelitian skripsi ini berjalan cukup lancar walaupun tidak dapat dipungkiri, banyak kendala-kendala tertentu yang muncul selama penelitian tersebut, but so far, semuanya bisa teratasi dan akhirnya penelitian tersebut pun selesai dilaksanakan. (September 2011).
  1. Ayah Bunda berangkat Haji
Akhirnya, setelah menunggu antrian berangkat beberapa tahun, tiba juga kesempatan Ayah dan Bunda berangkat ke Tanah Suci Mekkah, melaksanakan panggilan Allah, rukun Islam kelima. Alhamdulillah. (Oktober - November 2011).
  1. Penulisan skripsi
Ah, tak dapat dilukiskan dengan kuas atau digambarkan dengan kata-kata lah gimana proses penulisan skripsi seteleh penelitian. Terkadang jalannya mulus, namun sering juga tersendat-sendat di tengah perjalanannya. Faktor-faktor penentu sukses tidaknya penulisan skripsi sebenarnya ada banyak sekali, namun beberapa yang saya rasakan di antaranya: Diri sendiri (malas, terlalu mengikuti mood, kurang teliti, dan sebagainya), Dosen Pembimbing (yah, kalian pasti tahu lah, mood dan kesibukan beliau juga sangat berpengaruh kan?), Referensi (nah, yang ini nih yang sering bikin bad mood. Susah amat dicarinya!), dan apa lagi ya? Ah, aku lupa! Hahaha. (Oktober - Desember 2011).
  1. Ujian TOEFL dan Ujian Komprehensif
Berhubung di jurusan kami nilai kelulusan TOEFL tidak dibatasi (alias tidak mengikuti standar yang berlaku di Unsyiah, yaitu 450) dan nilai yang aku dapatkan sedikit di bawah standar tersebut (artinya sebenarnya belum lulus), aku merasa tidak perlu terlalu memikirkan ujian yang satu ini, alias aman. Lewat. Namun, yang paling meresahkan itu adalah ujian komprehensif (ujian tes kemampuan dasar). Nah, di jurusan kami, inilah salah satu syarat sidang tersusah, karena nilai standar kelulusan ujian ini yaitu 75, sedikit lebih tinggi daripada jurusan lainnya (yang rata-rata hanya 60). Banyak yang tertunda sidang karena belum lulus ujian komprehensif ini. Aku juga. Eits, tapi saat belum lulus ujian itu skripsiku belum di-ACC sih, hehehe. Tapi Alhamdulillah, setelah ikut satu kali bimbingan, di ujian kedua aku lulus. Dan jalan menuju sidang skripsi rasanya semakin terbuka lebar. (Oktober dan November 2011).

  1. Ujian Sidang Sarjana (SIDANG SKRIPSI!)

Inilah yang paling ditunggu-tunggu saudara-saudara. Akhirnya. Ya! Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana sensasionalnya ujian akhir yang satu ini. Thanks God, padahal di awal bulan Desember lalu sempat pesimis tidak bisa sidang dalam waktu dekat dan terdaftar menjadi salah satu mahasiswa yang akan mengikuti Yudisium/Wisuda periode November-Januari. Tapi Allah tahu yang terbaik. Jalan penulisan skripsi ini rasanya selalu dimudahkan oleh-Nya. Alhamdulillah. Dan Alhamdulillah lagi, proses sidang pun berjalan lancar, tidak ada hambatan atau kesulitan yang berarti. Lagi-lagi dimudahkan! Dan akhirnya, Selasa, 27 Desember 2011 aku resmi bukan berstatus sebagai mahasiswa lagi dan mendapat gelar S.Pd (secara tidak resmi). Lega. Merdeka! Tapi, tetap ingat akan pesan dari Ketua Jurusan saat pengumuman lulus tidaknya sidang:
Kelulusan ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari segalanya. Ini awal menuju kehidupan dan persaingan kalian yang sebenarnya.
*Terima Kasih Pak, akan saya ingat selalu :)

Demikianlah, yang di atas itu beberapa dari begitu banyaknya pengalaman berharga yang terjadi selama tahun 2011 ada. Terima kasih 2011 atas semua kenangan indahnya.

Tuesday, January 3, 2012

4 Desember 1999, itu hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah Minang. Kota ini cukup unik. Hampir setiap gedung/bangunan-bangunan pentingnya beratap khas dengan ujung runcingnya, ciri khas Rumah Minang-Sumatera Barat. Dan sepertinya, aku punya ikatan dan ketertarikan yang cukup kuat akan kota serta setiap kenangan bersama para sahabat di kota ini. Hal itu terbukti malam ini, air mata tumpah saat mengenang kepergian--selamanya--seorang sahabat dan mendadak merindukan para sahabat lainnya di sana, khususnya sahabat seperjuangan di MIN Gunung Pangilun tamatan 2001.

Ah, sekolah itu. Tak terhitung betapa banyaknya yang bisa dikenang dan tak terlupa di sana. Kejadian dan pengalaman menyenangkan, ataupun sebaliknya. Semuanya ada. Guru-guru, kawan-kawan, adik-adik angkatan, bangunan sekolah yang sederhana, senam pagi, praktek shalat jenazah setiap jumat pagi (dengan baju seragam berwarna hijau), kantin sekolah, kegiatan pesantren kilat, rebana, lomba bidang studi (Aku, Winda, Yudi dan Alm. Renchi), lomba masak di kelas, acara perpisahan, sampai banjir yang terkadang melanda, aku masih mengingatnya. Ah, aku rindu! Sangat rindu!

Masih terbayang betapa hebohnya teman-teman di kelas VA saat kedatangan seorang siswa baru tak berkerudung* (*di sekolah itu siswa perempuan kelas V-VI sudah diwajibkan berseragam panjang lengkap dengan jilbabnya) dari Aceh--yang sedang konflik hingga terjadi perang. Sambutan hangat dan bersahabat aku dapatkan dari sekitar 25 orang siswa di kelas tersebut, hingga tak perlu waktu lama untukku merasa nyaman di sana karenanya.

Aku senang! Sangat senang!
Inilah kawan-kawan baruku, di kota yang masih asing bagi aku dan tentu saja keluargaku--saat itu.

Baru satu hari sekolah, keesokan harinya liburan panjang bulan Ramadhan. Sejenis aneh rasanya, tapi tak apa. Aku menikmati masa-masa liburan untuk mempersiapkan diri belajar di sekolah dengan lingkungan baru, serta yang paling penting: Seragam merah putih panjang dan jilbabnya.

Satu bulan berlalu. Liburan selesai dan itu artinya tiba waktuku untuk kembali ke sekolah. Dan kau tahu, kawan? Hari itu kelas VA kembali kedatangan seorang siswa baru dari Aceh. Kalau aku datang dari Lhokseumawe, kawan baruku itu dari Takengon. Namanya Putri. Dan dialah yang akhirnya ku rasa jadi sahabat terdekatku di antara sahabat-sahabat dekat lainnya.

Tapi pastinya, mereka semua istimewa.

Selepas menamatkan MIN, kami memang tidak semuanya melanjutkan di sekolah yang sama, yaitu MTsN Model Gunung Pangilun. Namun, dari beberapa yang melanjutkan ke sana, hampir semuanya berkumpul di kelas yang sama; I-6. Dan di MTsN inilah aku rasakan persahabatan kami semakin erat. Hari-hari ku jalani dengan ceria, penuh tawa dan canda. Aku bahagia! Sangat bahagia! Aku semakin bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik seperti mereka.

Sampai akhirnya perpisahan itu tiba.

Ayahku kembali ditugaskan di kota Lhokseumawe. Dan itu artinya aku akan segera meninggalkan mereka dan kota Padang lengkap dengan semua pengalaman yang akan tercatat sebagai sebuah kenangan.

Ah, aku benci perpisahan!

Walaupun ku tahu, setiap pertemuan itu pastilah berujung pada perpisahan dan ini merupakan perpisahan sekolah ketiga yang aku alami selama 5 tahun terakhir (Meulaboh, Lhokseumawe, dan Padang).

12 April 2002. Aku pulang.

Namun persahabatan, silaturahmi dan komunikasi kami masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku masih sering dikabarkan jika ada kegiatan (reuni dan sebagainya) dan keadaan mereka di sana, baik itu sahabat di MIN maupun MTsN.

Dan secara tak terduga, hari minggu lalu sebuah pesan singkat berisi kabar duka ku terima dari mereka. Seorang sahabat akhirnya pergi duluan ke hadapan-Nya. Dialah Renchi, siswa kelas B yang ku kenal saat mengikuti lomba bidang studi bersama dua orang sahabat lainnya. Walaupun, tak begitu dekat, tapi aku cukup ingat karena namanya yang unik dan berbeda dari yang lainnya.

Para sahabat mengabarkan mereka berkunjung ke rumah duka, dan aku cukup merasakan bagaimana sedihnya keadaan di sana. Ah, aku ingin ke sana..

(Selamat jalan Renchi, semoga setiap amalan setia menemanimu di alam sana. Kami yang masih bertahan di sini akan selalu merindukanmu ~ )

*Karena berita inilah, aku kembali teringat Padang. Serentetan kenangan di sekolah sederhana itu diputar ulang. Dan aku ingin segera terbang, berharap bisa menapakkan kaki untuk yang kedua kali di tanah Minang, lantas mencoba mengunjungi lagi tempat-tempat terkenang agar semua terasa berulang.

Aku rindu! Sangat rindu!

Ah, Padang! Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mereka, semua yang pernah hadir dan masih melekat erat dalam pikiran. *semoga*

Published with Blogger-droid v2.0.2
1/03/2012 03:37:00 PM Desi YuLiana
4 Desember 1999, itu hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah Minang. Kota ini cukup unik. Hampir setiap gedung/bangunan-bangunan pentingnya beratap khas dengan ujung runcingnya, ciri khas Rumah Minang-Sumatera Barat. Dan sepertinya, aku punya ikatan dan ketertarikan yang cukup kuat akan kota serta setiap kenangan bersama para sahabat di kota ini. Hal itu terbukti malam ini, air mata tumpah saat mengenang kepergian--selamanya--seorang sahabat dan mendadak merindukan para sahabat lainnya di sana, khususnya sahabat seperjuangan di MIN Gunung Pangilun tamatan 2001.

Ah, sekolah itu. Tak terhitung betapa banyaknya yang bisa dikenang dan tak terlupa di sana. Kejadian dan pengalaman menyenangkan, ataupun sebaliknya. Semuanya ada. Guru-guru, kawan-kawan, adik-adik angkatan, bangunan sekolah yang sederhana, senam pagi, praktek shalat jenazah setiap jumat pagi (dengan baju seragam berwarna hijau), kantin sekolah, kegiatan pesantren kilat, rebana, lomba bidang studi (Aku, Winda, Yudi dan Alm. Renchi), lomba masak di kelas, acara perpisahan, sampai banjir yang terkadang melanda, aku masih mengingatnya. Ah, aku rindu! Sangat rindu!

Masih terbayang betapa hebohnya teman-teman di kelas VA saat kedatangan seorang siswa baru tak berkerudung* (*di sekolah itu siswa perempuan kelas V-VI sudah diwajibkan berseragam panjang lengkap dengan jilbabnya) dari Aceh--yang sedang konflik hingga terjadi perang. Sambutan hangat dan bersahabat aku dapatkan dari sekitar 25 orang siswa di kelas tersebut, hingga tak perlu waktu lama untukku merasa nyaman di sana karenanya.

Aku senang! Sangat senang!
Inilah kawan-kawan baruku, di kota yang masih asing bagi aku dan tentu saja keluargaku--saat itu.

Baru satu hari sekolah, keesokan harinya liburan panjang bulan Ramadhan. Sejenis aneh rasanya, tapi tak apa. Aku menikmati masa-masa liburan untuk mempersiapkan diri belajar di sekolah dengan lingkungan baru, serta yang paling penting: Seragam merah putih panjang dan jilbabnya.

Satu bulan berlalu. Liburan selesai dan itu artinya tiba waktuku untuk kembali ke sekolah. Dan kau tahu, kawan? Hari itu kelas VA kembali kedatangan seorang siswa baru dari Aceh. Kalau aku datang dari Lhokseumawe, kawan baruku itu dari Takengon. Namanya Putri. Dan dialah yang akhirnya ku rasa jadi sahabat terdekatku di antara sahabat-sahabat dekat lainnya.

Tapi pastinya, mereka semua istimewa.

Selepas menamatkan MIN, kami memang tidak semuanya melanjutkan di sekolah yang sama, yaitu MTsN Model Gunung Pangilun. Namun, dari beberapa yang melanjutkan ke sana, hampir semuanya berkumpul di kelas yang sama; I-6. Dan di MTsN inilah aku rasakan persahabatan kami semakin erat. Hari-hari ku jalani dengan ceria, penuh tawa dan canda. Aku bahagia! Sangat bahagia! Aku semakin bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik seperti mereka.

Sampai akhirnya perpisahan itu tiba.

Ayahku kembali ditugaskan di kota Lhokseumawe. Dan itu artinya aku akan segera meninggalkan mereka dan kota Padang lengkap dengan semua pengalaman yang akan tercatat sebagai sebuah kenangan.

Ah, aku benci perpisahan!

Walaupun ku tahu, setiap pertemuan itu pastilah berujung pada perpisahan dan ini merupakan perpisahan sekolah ketiga yang aku alami selama 5 tahun terakhir (Meulaboh, Lhokseumawe, dan Padang).

12 April 2002. Aku pulang.

Namun persahabatan, silaturahmi dan komunikasi kami masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku masih sering dikabarkan jika ada kegiatan (reuni dan sebagainya) dan keadaan mereka di sana, baik itu sahabat di MIN maupun MTsN.

Dan secara tak terduga, hari minggu lalu sebuah pesan singkat berisi kabar duka ku terima dari mereka. Seorang sahabat akhirnya pergi duluan ke hadapan-Nya. Dialah Renchi, siswa kelas B yang ku kenal saat mengikuti lomba bidang studi bersama dua orang sahabat lainnya. Walaupun, tak begitu dekat, tapi aku cukup ingat karena namanya yang unik dan berbeda dari yang lainnya.

Para sahabat mengabarkan mereka berkunjung ke rumah duka, dan aku cukup merasakan bagaimana sedihnya keadaan di sana. Ah, aku ingin ke sana..

(Selamat jalan Renchi, semoga setiap amalan setia menemanimu di alam sana. Kami yang masih bertahan di sini akan selalu merindukanmu ~ )

*Karena berita inilah, aku kembali teringat Padang. Serentetan kenangan di sekolah sederhana itu diputar ulang. Dan aku ingin segera terbang, berharap bisa menapakkan kaki untuk yang kedua kali di tanah Minang, lantas mencoba mengunjungi lagi tempat-tempat terkenang agar semua terasa berulang.

Aku rindu! Sangat rindu!

Ah, Padang! Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mereka, semua yang pernah hadir dan masih melekat erat dalam pikiran. *semoga*

Published with Blogger-droid v2.0.2

Sunday, December 18, 2011

Baiklah, sepertinya kata yang tepat untuk memulai kicauan kali ini adalah:

"Akhirnya, pergi juga ke Aceh Book Fair 2011!" (penting lho!).

Aceh Book Fair 2011, acara ini bisa dibilang pameran dan obral buku besar-besaran yang diadakan di halaman kantor Pustaka Wilayah Banda Aceh, dari tanggal 12 Desember 2011 sampai 18 Desember 2011 (hari ini). Awalnya, saat menuju kampus dan melewati gedung pustaka wilayah senin tanggal 12 lalu, saya tidak tahu bahwa acara yang sedang diadakan di halaman pustaka itu merupakan pameran buku. Saya tahu dan langsung mendadak galau tingkat belum sidang skripsi di malam harinya, saat seorang kawan memasang status 'kalap beli buku di pameran' di akun twitter miliknya. Di sanalah saya bertanya apa sedang ada pameran di Banda Aceh, kalau ada dimana? Dan kawan saya itu dengan sangat antusias menginformasikan tentang Aceh Book Fair 2011 itu.

Well, saya galau. Dan galau yang saya rasakan saat itu adalah galau yang sangat tidak elit dan tidak berkelas (lah, emang ada gitu galau yang elit dan berkelas?). Kenapa? Karena ini bulan Desember! *lho?*

Ah, kawan! Seandainya boleh curhat, saya hendak bercerita betapa banyaknya pengeluaran di bulan ini, baik itu terkait skripsi, sidang dan pengeluaran tak terduga dan tak terencana lainnya. Singkat kata, saya sedang bokek! Tidak ada dana untuk membeli buku bulan ini, sekalipun itu buku diskonan. Alamaaaak..

Hari-hari berlalu dengan galau dan keinginan yang masih menggebu-gebu, bagaimana tidak? Perjalanan ke kampus selalu melewati gedung--tempat para jendela dunia dengan harga bersahabat sedang dipamerkan dengan indahnya--itu. Seorang kawan penggemar buku pun berulang kali mengajak berkunjung ke sana dan berulang kali pula saya tolak. Takut. Lebih baik galau karena tidak bisa ke sana daripada galau karena menemukan buku bagus tapi tidak bisa membelinya *nah lho*.

Dan sayangnya, rasa penasaran itu tidak bisa lagi terbendung saat secara tidak sengaja saya menemukan dan membaca blog seorang blogger Aceh yang isinya menceritakan pengalaman dia berkunjung ke Aceh Book Fair 2011 itu lengkap dengan foto-fotonya. Banyak buku bagus dan diskon! Aiiiiih..

Aku ingin. Aku harus ke sana!

Dan hari ini obsesi itu terwujud, ada waktu (karena agenda rihlah FLP Aceh dibatalkan) dan saya menemukan sedikit dana yang cukup pas-pasan di dalam dompet *entah darimana datangnya*.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.

Stand pertama yang kami kunjungi adalah stand di sebelah kanan gedung pustaka, dan di situlah ternyata gudangnya buku yang didiskon besar-besaran. Bayangkan, novel-novel bagus setebal lebih dari 300 halaman dijual hanya dengan harga 20.000 rupiah! Bayangkan kawan, bayangkan! (berlebihan). Ada juga buku-buku mungil yang diobral dengan harga 10.000 rupiah.

Ah, berasa surga dunia, saat berada diantara kumpulan buku-buku itu. Tapi sayang, saya harus benar-benar memilah dan memilih buku-buku bagus, berguna, dan yang memang sedang dicari plus dibutuhkan, karena keterbatasan dana (bulan Desember masih ada 12 hari lagi kan? Mau jajan apa saya jika semua anggaran habis dibelanja buku diskonan?). Dan pilihan jatuh di buku Deception Point yang harganya luar biasa, kurang dari setengah harga aslinya! Syukurlah, akhirnya bisa punya bukunya Dan Brown juga *haha, kasian!*.

Merasa sudah cukup puas hunting di stand murah itu, kami melanjutkan petualangan memburu buku ke stand sebelah kiri gedung pustaka. Di sana ada stand toko Gramedia (yang sayangnya harga di sana hampir sama dengan harga asli di tokonya), toko buku Aufa, dan sebagainya. Rasa lelah karena membawa ransel yang berisi laptop dan skripsi setebal gaban mulai menghampiri. Saya mulai tidak konsentrasi. Semangat dan rasa penasaran mencari buku pun sedikit demi sedikit memudar. Dan singkat cerita, di stand sebelah sini saya akhirnya membawa pulang bukunya seorang Motivator Indonesia, Pak Ippho Santosa. Kalap. Harga bukunya didiskon hingga setengah harga. Hard cover pula! Alhamdulillah :)

Dan.. Cerita pun berakhir tidak lama setelah saya membeli buku kedua. Cukup puaslah, walaupun hanya membeli dua buku dan tidak menemukan buku-buku yang sebenarnya dicari. Harga buku yang cukup bersahabat dengan isi dompet itu setidaknya bisa menambah senyuman untuk hari ini. Sekali lagi, Alhamdulillah. Semoga akan ada pameran-pameran buku lainnya, dan semoga saat diadakan pameran buku selanjutnya itu penghuni dompet sedang setia. Amin..

Minggu, 18 Desember 2011.

Kasur, saat lampu telah dipadamkan dan kekuatan mata tinggal 5 watt.

Arigatou Gozaimasu, Minna-san. Oyasumi! :D

Published with Blogger-droid v2.0.1
12/18/2011 07:57:00 AM Desi YuLiana

Baiklah, sepertinya kata yang tepat untuk memulai kicauan kali ini adalah:

"Akhirnya, pergi juga ke Aceh Book Fair 2011!" (penting lho!).

Aceh Book Fair 2011, acara ini bisa dibilang pameran dan obral buku besar-besaran yang diadakan di halaman kantor Pustaka Wilayah Banda Aceh, dari tanggal 12 Desember 2011 sampai 18 Desember 2011 (hari ini). Awalnya, saat menuju kampus dan melewati gedung pustaka wilayah senin tanggal 12 lalu, saya tidak tahu bahwa acara yang sedang diadakan di halaman pustaka itu merupakan pameran buku. Saya tahu dan langsung mendadak galau tingkat belum sidang skripsi di malam harinya, saat seorang kawan memasang status 'kalap beli buku di pameran' di akun twitter miliknya. Di sanalah saya bertanya apa sedang ada pameran di Banda Aceh, kalau ada dimana? Dan kawan saya itu dengan sangat antusias menginformasikan tentang Aceh Book Fair 2011 itu.

Well, saya galau. Dan galau yang saya rasakan saat itu adalah galau yang sangat tidak elit dan tidak berkelas (lah, emang ada gitu galau yang elit dan berkelas?). Kenapa? Karena ini bulan Desember! *lho?*

Ah, kawan! Seandainya boleh curhat, saya hendak bercerita betapa banyaknya pengeluaran di bulan ini, baik itu terkait skripsi, sidang dan pengeluaran tak terduga dan tak terencana lainnya. Singkat kata, saya sedang bokek! Tidak ada dana untuk membeli buku bulan ini, sekalipun itu buku diskonan. Alamaaaak..

Hari-hari berlalu dengan galau dan keinginan yang masih menggebu-gebu, bagaimana tidak? Perjalanan ke kampus selalu melewati gedung--tempat para jendela dunia dengan harga bersahabat sedang dipamerkan dengan indahnya--itu. Seorang kawan penggemar buku pun berulang kali mengajak berkunjung ke sana dan berulang kali pula saya tolak. Takut. Lebih baik galau karena tidak bisa ke sana daripada galau karena menemukan buku bagus tapi tidak bisa membelinya *nah lho*.

Dan sayangnya, rasa penasaran itu tidak bisa lagi terbendung saat secara tidak sengaja saya menemukan dan membaca blog seorang blogger Aceh yang isinya menceritakan pengalaman dia berkunjung ke Aceh Book Fair 2011 itu lengkap dengan foto-fotonya. Banyak buku bagus dan diskon! Aiiiiih..

Aku ingin. Aku harus ke sana!

Dan hari ini obsesi itu terwujud, ada waktu (karena agenda rihlah FLP Aceh dibatalkan) dan saya menemukan sedikit dana yang cukup pas-pasan di dalam dompet *entah darimana datangnya*.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.

Stand pertama yang kami kunjungi adalah stand di sebelah kanan gedung pustaka, dan di situlah ternyata gudangnya buku yang didiskon besar-besaran. Bayangkan, novel-novel bagus setebal lebih dari 300 halaman dijual hanya dengan harga 20.000 rupiah! Bayangkan kawan, bayangkan! (berlebihan). Ada juga buku-buku mungil yang diobral dengan harga 10.000 rupiah.

Ah, berasa surga dunia, saat berada diantara kumpulan buku-buku itu. Tapi sayang, saya harus benar-benar memilah dan memilih buku-buku bagus, berguna, dan yang memang sedang dicari plus dibutuhkan, karena keterbatasan dana (bulan Desember masih ada 12 hari lagi kan? Mau jajan apa saya jika semua anggaran habis dibelanja buku diskonan?). Dan pilihan jatuh di buku Deception Point yang harganya luar biasa, kurang dari setengah harga aslinya! Syukurlah, akhirnya bisa punya bukunya Dan Brown juga *haha, kasian!*.

Merasa sudah cukup puas hunting di stand murah itu, kami melanjutkan petualangan memburu buku ke stand sebelah kiri gedung pustaka. Di sana ada stand toko Gramedia (yang sayangnya harga di sana hampir sama dengan harga asli di tokonya), toko buku Aufa, dan sebagainya. Rasa lelah karena membawa ransel yang berisi laptop dan skripsi setebal gaban mulai menghampiri. Saya mulai tidak konsentrasi. Semangat dan rasa penasaran mencari buku pun sedikit demi sedikit memudar. Dan singkat cerita, di stand sebelah sini saya akhirnya membawa pulang bukunya seorang Motivator Indonesia, Pak Ippho Santosa. Kalap. Harga bukunya didiskon hingga setengah harga. Hard cover pula! Alhamdulillah :)

Dan.. Cerita pun berakhir tidak lama setelah saya membeli buku kedua. Cukup puaslah, walaupun hanya membeli dua buku dan tidak menemukan buku-buku yang sebenarnya dicari. Harga buku yang cukup bersahabat dengan isi dompet itu setidaknya bisa menambah senyuman untuk hari ini. Sekali lagi, Alhamdulillah. Semoga akan ada pameran-pameran buku lainnya, dan semoga saat diadakan pameran buku selanjutnya itu penghuni dompet sedang setia. Amin..

Minggu, 18 Desember 2011.

Kasur, saat lampu telah dipadamkan dan kekuatan mata tinggal 5 watt.

Arigatou Gozaimasu, Minna-san. Oyasumi! :D

Published with Blogger-droid v2.0.1

Thursday, December 15, 2011

#jleb. Sore ini saya sedikit tertohok setelah membaca sebuah cerpen yang katanya terinspirasi oleh kisah nyata dan diberi bumbu-bumbu tambahan melankonis oleh yang menuliskannya.

Apa isi ceritanya? Yah, mungkin kawan-kawan bisa membacanya sendiri nanti (akan saya sertakan link cerpennya setelah selesai berkicau di tulisan ini). 

It's all about ngaji, prosedur dan jalur yang sesuai organisasi, nikah, eM-eR, orang tua, pilihan hati, istikharah serta Al-Quran dan Hadits.
 
Sebagian kawan kampus atau organisasi di Banda Aceh (atau para pembaca di sini) mungkin sudah sangat familiar dengan istilah 'ngaji'. Ya, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'Liqa' atau 'Halaqah'. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, di sini saya selaku penulis berperan sebagai seorang yang (cukup) mengerti, setidaknya memahami sedikit tentang 'ngaji' dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, karena dulunya pernah mengikuti, namun sekarang tidak aktif lagi akibat eM-eR yang mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.


Baiklah, apa itu 'ngaji'? 

Ngaji, Liqa, Halaqah dan apapun itu sebutannya sebenarnya merupakan suatu kegiatan 'pembinaan' dari seorang pembina yang tidak sembarangan pada beberapa orang binaannya. Tidak jauh berbeda dengan pengajian yang waktu kecil dulu pernah kita ikuti, bedanya dalam 'level' materi yang diajarkan dan rutinitas yang ditetapkan. Kalau pengajian masa kecil kita diajarkan mengaji (membaca Al-Quran), di halaqah ini kita akan mendapatkan materi-materi baru tentang tauhid, iman, keislaman & sebagainya.

Oke, siapa pula itu eM-eR? eM-eR itu singkatan dari Murabby, dan beliau adalah guru atau pembina dalam suatu halaqah tersebut.

Nikah? Apa hubungannya dengan eM-eR itu? 

Nah, bagian ini saya sebenarnya masih kurang paham. Saya hanya paham (atas cerita kawan-kawan) pada bagian eM-eR memberikan biodata 'calon', kemudian memfasilitasi ataupun membantu proses perkenalan syar'i--yang lebih dikenal dengan taaruf--dan jika kedua pihak setuju lantas eM-eR akan menyerahkan masalah tersebut pada pihak keluarga yang bersangkutan.

Dari penjelasan dan cerita kawan-kawan, yang saya tangkap adalah peran eM-eR pada sebuah pernikahan itu lebih sebagai fasilitator; membantu mencarikan calon yang baik, membantu meberikan pendapat dan solusi jika ada keragu-raguan, membantu proses 'persiapan' pernikahan hingga dilaksanakan pernikahannya tersebut.

Nah sekarang, apa itu orang tua, pilihan hati, istikharah, serta Al-Quran dan Hadits? Yang ini tidak perlu saya jelaskan bukan? Saya anggap (dan saya yakin) kalian semuanya mengerti. Lanjut ya? 

Pernah suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kejadian--yang menurut saya--cukup tragis. Sebut saja namanya A, saya mengenal dia sejak lama, dan juga cukup tahu tentang keluarganya. Suatu ketika, saat usia si A melewati 22, orang tuanya mulai khawatir dan bertanya-tanya tentang pernikahnnya. Usianya sudah cukup matang, kuliah sudah selesai, apa lagi yang ditunggunya? 

(Sebelumnya, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan keluarga si A pernah melamar si A untuk anak laki-lakinya, seorang Ustadz yang sudah cukup mapan. Namun ditolak dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal: si A tidak suka, karena pernah melihat Ustadz tersebut memakai celana jeans *oke*. Dan itu cukup mengecewakan kedua orang tuanya). 

Beberapa kali orang tua si A mencoba membicarakan secara baik-baik dan memberikan beberapa pilihan (pemuda yang dikenal baik oleh orang tuanya) pada si A, namun yang didapatkan orang tuanya malah jawaban ketus:

"Ayah-Ibu nggak usah capek-capek mikirin calon untuk A, biar Murabby A aja yang nyari dan A lebih percaya pada Murabby untuk hal ini" (lebih kurang begitu jawabannya *maaf, lupa!*).

Deg. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mendengar pernyataan anaknya barusan? Saya—yang bukan siapa-siapa--saja sedikit ‘perih’ saat mendengarkankannya, apalagi orang tuanya? Anaknya ternyata lebih mengutamakan Murabby—yang baru dikenalnya 3-4 tahun terkahir--daripada orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya dari kecil hingga dewasa. Klasik.

Mencoba berprasangka baik, mungkin niat si A benar, untuk hal-hal demikian Murabby nya mungkin memang lebih mengerti daripada orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan 'tarbiyah' yang demikian. Tapi.. Aaaah, saya benar-benar geram mendengarnya.

Sejauh yang saya tahu, A memang terlalu patuh dan percaya pada Murabbinya dibandingkan pada orang tuanya. Dan lagi-lagi saya sangat tidak setuju akan hal itu.

Murabby ya Murabby. Beliau guru, pembina, dan bagi sebagian orang menjadi tempat pencarian solusi atas masalah-masalah hidupnya, tapi tentu saja, hal itu tidak menjadikannya segala-galanya. Tetap saja, tidak bisa menjadikannya yang utama.

Kita masih punya hati untuk memilih dan menetapkan pilihan terkait masa depan kita, kita masih punya 'istikharah' sebagai sarana bertanya pendapat-Nya akan keragu-raguan pada hati kita, kita masih punya orang tua yang lebih mengerti kita daripada siapapun di dunia (walaupun kadang tak ditunjukkannya), kita masih punya Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan untuk mencari jawaban atas tiap pertanyaan kita, dan yang paling pasti kita masih punya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita. 

Cerpen berikut jika dibaca mungkin akan menimbulkan pemahaman dan citra yang berbeda bagi masing-masing pribadi kita. Mungkin nantinya akan ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju. Akan ada yang mendapat pesannya dalam bentuk A, dan ada juga yang mendapat pesannya dalam bentuk B. Ada yang menangkap begitu, dan pasti juga ada yang menangkap begini. Berbeda, itulah manusia. 

Terkait cerita, saya hanya sedikit tidak setuju pada pendapat si tokoh akhwat yang seperti ‘memandang sebelah mata’ pada pernikahan dengan cara ‘swasta’. Ah, tidak ada yang salah dengan itu. Menikah tidak harus lewat Murabby, lagi-lagi kita masih punya beberapa hal penentu di atas, dan bukan Murabby yang berhak menentukannya. 

Satu hal lagi; tidak semua yang ter-tarbiyah adalah orang baik-baik dan tidak semua yang tidak ter-tarbiyah adalah bukan orang baik-baik (murni pendapat pribadi). 

Dan saya pribadi sangat tidak setuju pada apa yang dilakukan si Akhwat dan agak kesal dengan tokoh eM-eR dalam cerita tersebut. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para binaan dan Pembina lainnya. Semoga para Pembina bisa lebih ‘dewasa dan bijaksana’ dalam menyampaikan pendapat dan membantu binaannya, dan semoga para binaan tidak selalu terpaku pada apa yang dikatakan pembinanya. Semua kembali pada diri kita masing-masing.


Here We Go -->> 'Mana Ikhwan Untukku?'

Selamat membaca, selamat berspekulasi, selamat berpendapat dan berimajinasi.
Semoga bermanfaat kawan :)

12/15/2011 05:20:00 AM Desi YuLiana
#jleb. Sore ini saya sedikit tertohok setelah membaca sebuah cerpen yang katanya terinspirasi oleh kisah nyata dan diberi bumbu-bumbu tambahan melankonis oleh yang menuliskannya.

Apa isi ceritanya? Yah, mungkin kawan-kawan bisa membacanya sendiri nanti (akan saya sertakan link cerpennya setelah selesai berkicau di tulisan ini). 

It's all about ngaji, prosedur dan jalur yang sesuai organisasi, nikah, eM-eR, orang tua, pilihan hati, istikharah serta Al-Quran dan Hadits.
 
Sebagian kawan kampus atau organisasi di Banda Aceh (atau para pembaca di sini) mungkin sudah sangat familiar dengan istilah 'ngaji'. Ya, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'Liqa' atau 'Halaqah'. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, di sini saya selaku penulis berperan sebagai seorang yang (cukup) mengerti, setidaknya memahami sedikit tentang 'ngaji' dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, karena dulunya pernah mengikuti, namun sekarang tidak aktif lagi akibat eM-eR yang mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.


Baiklah, apa itu 'ngaji'? 

Ngaji, Liqa, Halaqah dan apapun itu sebutannya sebenarnya merupakan suatu kegiatan 'pembinaan' dari seorang pembina yang tidak sembarangan pada beberapa orang binaannya. Tidak jauh berbeda dengan pengajian yang waktu kecil dulu pernah kita ikuti, bedanya dalam 'level' materi yang diajarkan dan rutinitas yang ditetapkan. Kalau pengajian masa kecil kita diajarkan mengaji (membaca Al-Quran), di halaqah ini kita akan mendapatkan materi-materi baru tentang tauhid, iman, keislaman & sebagainya.

Oke, siapa pula itu eM-eR? eM-eR itu singkatan dari Murabby, dan beliau adalah guru atau pembina dalam suatu halaqah tersebut.

Nikah? Apa hubungannya dengan eM-eR itu? 

Nah, bagian ini saya sebenarnya masih kurang paham. Saya hanya paham (atas cerita kawan-kawan) pada bagian eM-eR memberikan biodata 'calon', kemudian memfasilitasi ataupun membantu proses perkenalan syar'i--yang lebih dikenal dengan taaruf--dan jika kedua pihak setuju lantas eM-eR akan menyerahkan masalah tersebut pada pihak keluarga yang bersangkutan.

Dari penjelasan dan cerita kawan-kawan, yang saya tangkap adalah peran eM-eR pada sebuah pernikahan itu lebih sebagai fasilitator; membantu mencarikan calon yang baik, membantu meberikan pendapat dan solusi jika ada keragu-raguan, membantu proses 'persiapan' pernikahan hingga dilaksanakan pernikahannya tersebut.

Nah sekarang, apa itu orang tua, pilihan hati, istikharah, serta Al-Quran dan Hadits? Yang ini tidak perlu saya jelaskan bukan? Saya anggap (dan saya yakin) kalian semuanya mengerti. Lanjut ya? 

Pernah suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kejadian--yang menurut saya--cukup tragis. Sebut saja namanya A, saya mengenal dia sejak lama, dan juga cukup tahu tentang keluarganya. Suatu ketika, saat usia si A melewati 22, orang tuanya mulai khawatir dan bertanya-tanya tentang pernikahnnya. Usianya sudah cukup matang, kuliah sudah selesai, apa lagi yang ditunggunya? 

(Sebelumnya, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan keluarga si A pernah melamar si A untuk anak laki-lakinya, seorang Ustadz yang sudah cukup mapan. Namun ditolak dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal: si A tidak suka, karena pernah melihat Ustadz tersebut memakai celana jeans *oke*. Dan itu cukup mengecewakan kedua orang tuanya). 

Beberapa kali orang tua si A mencoba membicarakan secara baik-baik dan memberikan beberapa pilihan (pemuda yang dikenal baik oleh orang tuanya) pada si A, namun yang didapatkan orang tuanya malah jawaban ketus:

"Ayah-Ibu nggak usah capek-capek mikirin calon untuk A, biar Murabby A aja yang nyari dan A lebih percaya pada Murabby untuk hal ini" (lebih kurang begitu jawabannya *maaf, lupa!*).

Deg. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mendengar pernyataan anaknya barusan? Saya—yang bukan siapa-siapa--saja sedikit ‘perih’ saat mendengarkankannya, apalagi orang tuanya? Anaknya ternyata lebih mengutamakan Murabby—yang baru dikenalnya 3-4 tahun terkahir--daripada orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya dari kecil hingga dewasa. Klasik.

Mencoba berprasangka baik, mungkin niat si A benar, untuk hal-hal demikian Murabby nya mungkin memang lebih mengerti daripada orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan 'tarbiyah' yang demikian. Tapi.. Aaaah, saya benar-benar geram mendengarnya.

Sejauh yang saya tahu, A memang terlalu patuh dan percaya pada Murabbinya dibandingkan pada orang tuanya. Dan lagi-lagi saya sangat tidak setuju akan hal itu.

Murabby ya Murabby. Beliau guru, pembina, dan bagi sebagian orang menjadi tempat pencarian solusi atas masalah-masalah hidupnya, tapi tentu saja, hal itu tidak menjadikannya segala-galanya. Tetap saja, tidak bisa menjadikannya yang utama.

Kita masih punya hati untuk memilih dan menetapkan pilihan terkait masa depan kita, kita masih punya 'istikharah' sebagai sarana bertanya pendapat-Nya akan keragu-raguan pada hati kita, kita masih punya orang tua yang lebih mengerti kita daripada siapapun di dunia (walaupun kadang tak ditunjukkannya), kita masih punya Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan untuk mencari jawaban atas tiap pertanyaan kita, dan yang paling pasti kita masih punya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita. 

Cerpen berikut jika dibaca mungkin akan menimbulkan pemahaman dan citra yang berbeda bagi masing-masing pribadi kita. Mungkin nantinya akan ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju. Akan ada yang mendapat pesannya dalam bentuk A, dan ada juga yang mendapat pesannya dalam bentuk B. Ada yang menangkap begitu, dan pasti juga ada yang menangkap begini. Berbeda, itulah manusia. 

Terkait cerita, saya hanya sedikit tidak setuju pada pendapat si tokoh akhwat yang seperti ‘memandang sebelah mata’ pada pernikahan dengan cara ‘swasta’. Ah, tidak ada yang salah dengan itu. Menikah tidak harus lewat Murabby, lagi-lagi kita masih punya beberapa hal penentu di atas, dan bukan Murabby yang berhak menentukannya. 

Satu hal lagi; tidak semua yang ter-tarbiyah adalah orang baik-baik dan tidak semua yang tidak ter-tarbiyah adalah bukan orang baik-baik (murni pendapat pribadi). 

Dan saya pribadi sangat tidak setuju pada apa yang dilakukan si Akhwat dan agak kesal dengan tokoh eM-eR dalam cerita tersebut. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para binaan dan Pembina lainnya. Semoga para Pembina bisa lebih ‘dewasa dan bijaksana’ dalam menyampaikan pendapat dan membantu binaannya, dan semoga para binaan tidak selalu terpaku pada apa yang dikatakan pembinanya. Semua kembali pada diri kita masing-masing.


Here We Go -->> 'Mana Ikhwan Untukku?'

Selamat membaca, selamat berspekulasi, selamat berpendapat dan berimajinasi.
Semoga bermanfaat kawan :)

Wednesday, December 14, 2011

(Sebuah pancingan, agar tercipta benar sebuah tulisan)
Jika orange itu Bajaj, maka sinar itu Bintang..
Jika kecil itu Bajaj, maka besar itu Bintang..
Jika sempit itu Bajaj, maka luas itu Bintang..
Jika apapun itu Bajaj, maka yang lebih dari Bajaj itulah Bintang..
Bajaj, pada dasarnya kau hanya sebuah benda (mati namun bergerak) sederhana yang sering dilecehkan dan disepelekan orang-orang. Kata orang kau itu kotor & biang kerusakan udara di kota besar sana. Tapi aku, dalam empat tahun terakhir selalu menentang mereka-mereka. Aku mengagumi, makhluk kecil, sempit dan kadang lusuh namun bersuara nyaring itu. Entah kenapa, aku hanya kagum. Dia dihina, dikucilkan, dijelek-jelekkan, tapi tidaklah itu membuatnya harus meringkuk ke sudut ruangan hampa, dia tetap saja melaju dengan gagah dan percaya dirinya.

Bajaj, bermula dari perkenalan yang memang seharusnya, aku tahu bahwa kau memang ada. Tidak lama. Tidak lama aku sadar bahwa kau itu ada, dan kau memang ada.
Aku harus bilang apa? Semuanya terjadi begitu saja. Lewat mata dan kerja sama.
Sayangnya tidak lama. Tidak lama juga aku sadar bahwa kita telah tiada. Kau melaju ke jalanmu di arah sana, dan aku pun berbalik ke jalanku di sebelah sini. Lantas kita—kau dan aku—pun mulai menjauh teratur satu persatu. Tapi aku rindu.. Cukup rindu pada bunyi semangatmu yang kadang melengking hingga ke langit senja sana. Ah, di situlah aku berharap, kau tetap akan jadi Bajajku, walaupun Bintang yang kau hampiri jauh lebih indah dari dirimu yang tak sebenarnya..
*sebuah prolog, semoga berhasil menjadi satu tulisan utuh*



12/14/2011 05:29:00 AM Desi YuLiana
(Sebuah pancingan, agar tercipta benar sebuah tulisan)
Jika orange itu Bajaj, maka sinar itu Bintang..
Jika kecil itu Bajaj, maka besar itu Bintang..
Jika sempit itu Bajaj, maka luas itu Bintang..
Jika apapun itu Bajaj, maka yang lebih dari Bajaj itulah Bintang..
Bajaj, pada dasarnya kau hanya sebuah benda (mati namun bergerak) sederhana yang sering dilecehkan dan disepelekan orang-orang. Kata orang kau itu kotor & biang kerusakan udara di kota besar sana. Tapi aku, dalam empat tahun terakhir selalu menentang mereka-mereka. Aku mengagumi, makhluk kecil, sempit dan kadang lusuh namun bersuara nyaring itu. Entah kenapa, aku hanya kagum. Dia dihina, dikucilkan, dijelek-jelekkan, tapi tidaklah itu membuatnya harus meringkuk ke sudut ruangan hampa, dia tetap saja melaju dengan gagah dan percaya dirinya.

Bajaj, bermula dari perkenalan yang memang seharusnya, aku tahu bahwa kau memang ada. Tidak lama. Tidak lama aku sadar bahwa kau itu ada, dan kau memang ada.
Aku harus bilang apa? Semuanya terjadi begitu saja. Lewat mata dan kerja sama.
Sayangnya tidak lama. Tidak lama juga aku sadar bahwa kita telah tiada. Kau melaju ke jalanmu di arah sana, dan aku pun berbalik ke jalanku di sebelah sini. Lantas kita—kau dan aku—pun mulai menjauh teratur satu persatu. Tapi aku rindu.. Cukup rindu pada bunyi semangatmu yang kadang melengking hingga ke langit senja sana. Ah, di situlah aku berharap, kau tetap akan jadi Bajajku, walaupun Bintang yang kau hampiri jauh lebih indah dari dirimu yang tak sebenarnya..
*sebuah prolog, semoga berhasil menjadi satu tulisan utuh*



Saturday, December 10, 2011

Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah.
Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar.
Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih & menyakitkan.

*Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin*
12/10/2011 10:05:00 PM Desi YuLiana
Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah.
Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar.
Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih & menyakitkan.

*Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin*

Saturday, November 26, 2011

“Hah? Aceh Coffee Festival? Apa itu?”

Begitulah, setelah dipromosikan beberapa minggu lalu, ternyata masih banyak warga Aceh khususnya Banda Aceh yang tidak tahu adanya acara ‘unik’ yang sedang berlangsung di Taman Sari sejak tanggal 25 sampai 27 November 2011 nantinya.

Apa itu Aceh Coffee Festival?

Ada yang bisa menjelaskan?

Acara ini merupakan salah satu dari serentetan acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang dilaksanakan dalam rangka menyukseskan Visit Banda Aceh Year 2011.

Kenapa festival kopi?

Nah, bukan rahasia umum lagi kalau kopi Aceh itu cukup terkenal di Indonesia bahkan (katanya) di dunia, wow! Kopi Aceh merupakan salah satu dari sekian banyaknya keunikan yang patut dibanggakan di Aceh kita ini (walaupun saya pribadi bukan penikmat kopi, hehehe).

Tema yang diangkat dalam festival kopi Aceh ini adalah “Kopi Aceh untuk Dunia”. Festival ini diharapkan dapat menjadi ajang perkenalan cita rasa dan aroma khas dari kopi Aceh bagi masyarakat dunia.

Ada beberapa rangkaian acara dalam festival kopi Aceh ini. Satu yang paling menarik perhatian saya adalah acara “ngopi bareng beberapa komunitas di Aceh”. Wow! Kesannya gimana gitu. Pasti seru. Beberapa komunitas yang akan ikut ambil bagian dalam acara ini diantaranya komunitas blogger Aceh, Acehdroid, Kutaradja Fixie, Aceh Fotografi, Aceh Modelling Community, dan sebagainya.

Baiklah, tanpa memperpanjang ‘pembukaan’, mari kita langsung ke intinya.

Sabtu (26 November 2011) sore, demi memenuhi ajakan seorang kawan plus niat mengambil hadiah dari kuis yang diadakan di twitter oleh akun @AcehCoffeeFest dan @iloveaceh , saya berkunjung ke festival ini. Tiba di sana, saya langsung disambut oleh aroma-aroma kopi yang sedikit menusuk hidung (maaf, karena saya bukan penggemar kopi).

Secara keseluruhan, saya suka konsep dan dekorasi festival yang diadakan di Taman Sari ini. Unik. Klasik. Dengan nuansa etnik. Warung-warung (mungkin lebih tepatnya kafe) kopi yang cukup ternama di Banda Aceh berkumpul di sini. Sebagian dari kafe yang aslinya bergaya modern, di festival ini dipermak menjadi warung kopi khas pedesaan. Tidak kampungan, tapi menarik. Warung-warung kopi peserta festival kopi tersebut dibangun dari kayu-kayu yang cukup indah di mata *eh?.

Ah, sedikit naïf. Tapi, itulah saya, yang suka pada hal-hal berbau klasik.

Taman Sari sedikit banyak tampak berbeda dari biasanya. Nuansa kecoklatan, dengan aroma kopi yang bertebaran. Hmm. Nice. Saat di sana terasa seperti bukan di Banda Aceh, tapi dimana gitu (ah, itu hanya perasaanmu saja).

Well, selesai jalan-jalan di beberapa stand yang tersedia, akhirnya aku dan kawan mengambil hadiah kuis twitter yang tempat pengambilannya berada tepat di tengah-tengah dan di depan panggung (bikin risih aja ah -_-' ). Berikut penampakannya:

Tampak belakangnya:

Hmm. Anda penasaran bagaimana suasana di sana? Langsung saja berkunjung ke Taman Sari, karena hari ini merupakan hari penutupan festival kopi Aceh 2011. Ayo, jangan sampai

ketinggalan! :D

11/26/2011 07:21:00 PM Desi YuLiana
“Hah? Aceh Coffee Festival? Apa itu?”

Begitulah, setelah dipromosikan beberapa minggu lalu, ternyata masih banyak warga Aceh khususnya Banda Aceh yang tidak tahu adanya acara ‘unik’ yang sedang berlangsung di Taman Sari sejak tanggal 25 sampai 27 November 2011 nantinya.

Apa itu Aceh Coffee Festival?

Ada yang bisa menjelaskan?

Acara ini merupakan salah satu dari serentetan acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang dilaksanakan dalam rangka menyukseskan Visit Banda Aceh Year 2011.

Kenapa festival kopi?

Nah, bukan rahasia umum lagi kalau kopi Aceh itu cukup terkenal di Indonesia bahkan (katanya) di dunia, wow! Kopi Aceh merupakan salah satu dari sekian banyaknya keunikan yang patut dibanggakan di Aceh kita ini (walaupun saya pribadi bukan penikmat kopi, hehehe).

Tema yang diangkat dalam festival kopi Aceh ini adalah “Kopi Aceh untuk Dunia”. Festival ini diharapkan dapat menjadi ajang perkenalan cita rasa dan aroma khas dari kopi Aceh bagi masyarakat dunia.

Ada beberapa rangkaian acara dalam festival kopi Aceh ini. Satu yang paling menarik perhatian saya adalah acara “ngopi bareng beberapa komunitas di Aceh”. Wow! Kesannya gimana gitu. Pasti seru. Beberapa komunitas yang akan ikut ambil bagian dalam acara ini diantaranya komunitas blogger Aceh, Acehdroid, Kutaradja Fixie, Aceh Fotografi, Aceh Modelling Community, dan sebagainya.

Baiklah, tanpa memperpanjang ‘pembukaan’, mari kita langsung ke intinya.

Sabtu (26 November 2011) sore, demi memenuhi ajakan seorang kawan plus niat mengambil hadiah dari kuis yang diadakan di twitter oleh akun @AcehCoffeeFest dan @iloveaceh , saya berkunjung ke festival ini. Tiba di sana, saya langsung disambut oleh aroma-aroma kopi yang sedikit menusuk hidung (maaf, karena saya bukan penggemar kopi).

Secara keseluruhan, saya suka konsep dan dekorasi festival yang diadakan di Taman Sari ini. Unik. Klasik. Dengan nuansa etnik. Warung-warung (mungkin lebih tepatnya kafe) kopi yang cukup ternama di Banda Aceh berkumpul di sini. Sebagian dari kafe yang aslinya bergaya modern, di festival ini dipermak menjadi warung kopi khas pedesaan. Tidak kampungan, tapi menarik. Warung-warung kopi peserta festival kopi tersebut dibangun dari kayu-kayu yang cukup indah di mata *eh?.

Ah, sedikit naïf. Tapi, itulah saya, yang suka pada hal-hal berbau klasik.

Taman Sari sedikit banyak tampak berbeda dari biasanya. Nuansa kecoklatan, dengan aroma kopi yang bertebaran. Hmm. Nice. Saat di sana terasa seperti bukan di Banda Aceh, tapi dimana gitu (ah, itu hanya perasaanmu saja).

Well, selesai jalan-jalan di beberapa stand yang tersedia, akhirnya aku dan kawan mengambil hadiah kuis twitter yang tempat pengambilannya berada tepat di tengah-tengah dan di depan panggung (bikin risih aja ah -_-' ). Berikut penampakannya:

Tampak belakangnya:

Hmm. Anda penasaran bagaimana suasana di sana? Langsung saja berkunjung ke Taman Sari, karena hari ini merupakan hari penutupan festival kopi Aceh 2011. Ayo, jangan sampai

ketinggalan! :D

Tuesday, November 22, 2011

“Kiban?” begitulah sapaan khasnya saat menyapa para mahasiswa bimbingan yang ditemuinya. Dialah Dosen Wali, yang sekarang merangkap menjadi Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsiku. Beliau merupakan pribadi yang baik, walaupun jika hanya dilihat dari penampakan luarnya, akan banyak orang yang tidak percaya bahwa beliau adalah orang yang baik. Ah, “Don’t Judge a Book by Its Cover”! Pepatah ini cocok jika disandingkan dengan perbincangan kita di atas barusan.



Sejak awal kuliah 2007 silam, beliau cukup ‘’welcome’’ saat ada mahasiswanya yang meminta bimbingan atau sekedar tanda tangan (KRS, KHS, dan sebagainya). Dengan senang hati dan (sedikit tampak) tulus, terkadang beliau cukup perhatian dengan bertanya pada mahasiswanya akan pengetahuan si mahasiswa terhadap mata kuliah yang akan diambilnya. Jika menurut beliau masih ada yang kurang, maka beliau akan dengan tegas menyarankan si mahasiswa untuk membatalkan/menunda dulu mata kuliah tersebut, sampai persyaratan yang harus dipenuhi mata kuliah itu selesai dipelajari.

Yah, begitulah. Terkadang sikap tegas, blak-blakan dan to the point yang khas dari beliau itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa men’judge’ beliau sebagai salah satu dosen kejam yang cukup ditakuti dan harus dihindari. Aku? Sedikit banyak terkadang juga merasakan hal yang sama. Di satu sisi beliau memang punya karakter yang sedikit menakutkan dan membingungkan para pembaca eh, para mahasiswa. Beliau termasuk pribadi yang sedikit plin-plan (berbeda-beda apa yang dikatakannya), agak pelupa (saking banyaknya mahasiswa yang dibimbingnya) dan juga mood-mood-an (apa ini maksudnya?), saat moodnya baik, beliau sangat baik, dan sebaliknya. Begitu juga jika marah, beliau benar-benar marah dan jika bercanda, beliau benar-benar bercanda sampai kadang tertawa terbahak-bahak.

Beliau pribadi yang baik. Kenapa? Dibalik segala ketegasan dan (mungkin) sisi negatif nya menurut orang-orang, beliau termasuk dari beberapa dosen di jurusan kami yang tidak ingin menunda shalat. Hal itu terbukti saat sedang membimbing mahasiswa, jika masuk waktu shalat, beliau akan dengan tegas mengatakan pada mahasiswa bahwa bimbingan akan dilanjutkan setelah beliau shalat. Nice!

Cukup banyak kebaikannya yang lain. Hanya saja, segala keunikan dan karakter yang tidak disukai banyak orang kadang lebih tampak dominan daripada kebaikan tulus yang ada pada diri beliau.

Memasuki semester akhir dan hal yang paling sakral bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi.

Niat plus target mengajukan judul skripsi sudah ada sejak Desember 2010 silam. Namun tertunda lantaran satu hal, yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Yah, semua sudah tahu, beliau merupakan salah satu dosen plus sekretaris jurusan yang cukup disiplin. Aturan-aturannya kuat dan sedikit menyusahkan mahasiswa (begitu kata dan keluhan para mahasiswa). Saat hendak mengajukan judul skripsi, aku langsung ditodong dengan pertanyaan: “Apa kamu sudah selesai PPL?” Deg. Terang saja belum, saat itu sedang liburan semester ganjil dan aku berencana mengambil PPL di semester depannya. Mendengar jawaban ‘belum’ beliau langsung memotong “Nah, kamu PPL dulu, saat di sekolah nanti coba kamu perhatikan dan pikirkan dengan seksama apa masalah murid-murid di sana. Setelah dapat, ceritak masalahnya, deskripsikan dan tunjukkan ke saya”.

Begitulah, hingga akhirnya judul skripsi aku ajukan 3 bulan kemudian. Judul pertama ditolak. Beliau malah memintaku menceritakan setiap kejadian selama aku mengajar di kelas yang berbeda dengan materi yang sama. Lagi. Cerita dan deskripsi. Walaupun cukup malas, mau tak mau harus kukerjakan juga tugas mengarang itu, tak jauh berbeda dengan tugas wajib PPL, refleksi harian dan case study. Ah, seperti menulis buku harian. Begitulah yang aku tanamkan dalam hati saat hendak menuliskannya.

Dua minggu kemudian, berbekal 6 lembar kertas yang berisi cerita pengalaman mengajar dan dua judul skripsi plus latar belakangnya, ku temui lagi beliau di meja kerjanya.

“Kiban?” begitulah aku disambutnya.

Tanpa basa-basi langsung kuserahkan saja kertas-kertas yang tak seberapa mana itu. Sekilas. Beliau melihat cerita mengajar itu hanya sekilas. Bergumam sedikit—dan aku tak sempat menangkap apa yang dikatakannya—lalu memilih-milih kertas lainnya. Perhatian beliau ternyata lebih tercurah pada salah satu judul skripsi yang aku ajukan. Tanpa babibu panjang kali lebar sama dengan luas, beliau langsung berkomentar tentang judul skripsi tersebut, dan tak lama setelah itu terciptalah satu judul skripsi yang komplit. Ting!

“Kamu bahas ini aja” katanya sambil melingkari judul skripsi yang barusan ditulisnya.

Aku diam. Judul yang diajukannya merupakan judul skripsi yang paling aku hindari. Penerapan model pembelajaran, yang artinya aku akan mengajar untuk penelitiannya.

“Itu judul skripsi saya pak?”

Eh, sempat-sempatnya pula aku bertanya demikian. Untung saja saat itu mood beliau sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, bisa berabe anak muda.

Akhirnya, dengan setengah senang (karena akhirnya punya judul skripsi) dan setengah sedih (karena tidak tertarik pada judulnya) aku keluar dari ruangan beliau dan ‘mengadu’ pada teman-teman. Ucapan selamat, dukungan dan wajah riang pun ku dapat dari mereka. Hmm, sedikit membantu semangat.

Singkat cerita, proposal skripsi ku selesai hampir dua bulan kemudian. Dan hanya dua kali bimbingan (baca: sekedar coret-coretan) sebelum akhirnya aku disarankannya untuk segera mendaftar seminar proposal. Selesai seminar, bimbingan instrument penelitian pun ku dapatkan hanya sebanyak dua kali. Beliau tampak seperti mempercepat pembuatan tugas akhirku itu. Dan perlakuan beliau terhadapku dan seorang teman—yang dosen walinya juga beliau—sedikit berbeda dibandingkan dengan perlakuannya pada mahasiswa bimbingannya yang lain. Hal itu membuat beberapa orang teman yang ada sangkut pautnya dengan beliau membicarakan kami berdua. Mereka jelas cemburu dan merasa bapak tidak adil atas perlakuan ‘anak kandung’ yang beliau berikan pada kami. Pembicaraan-pembicaraan mereka itu sedikit banyak menguras emosi, pikiran dan hati.

Well, lupakan cemoohan teman! The show must go on (cieeeee). Penelitian aku laksanakan dua bulan setelah seminar, revisi proposal dan bimbingan instrument. Sedangkan skripsi yang hanya BAB I – BAB V aku berikan pada beliau sebulan kemudian setelah penelitian. Malas! Malas! Dan malas! Tentu saja, akibat malas itu, target wisuda bulan November 2011 pun terlewati dengan indahnya.

Galau tingkat mahasiswa yang belum sarjana.

Lebih kurang tiga hari skripsi selesai diperiksa dan penuh dengan coretan hampir di setiap paragrafnya. Lagi-lagi malas melanda. Revisi skripsi terbengkalai dan aku seringnya lalai dengan segala hiburan yang ada di laptopku ini.

Sampai akhirnya, hari itu tiba. Saat Ayah menanyakan perihal skripsi dan akhirnya berkata “Alamat kelewatan wisuda bulan Februari Dedek ni”. Deg. Galau. Takut. Khawatir dan akhirnya aku sadar, skirpsi harus segera direvisi. Waktunya tak lama lagi saudara-saudara!

Dan akhirnya, hari ini kuserahkan juga skripsi yang telah direvisi perdana itu. Lega.

Selesai meletakkan skripsi di meja dosen pembimbing (sesuai pesan beliau sebelumnya), dan sudah beranjak dari kampus, aku dikejutkan dengan sms yang telah lama masuk di hape tapi baru terbaca, yang bunyinya “Tolong jumpai bapak di prodi, sekarang!” .

Panik tingkat lantai dua FKIP Gedung Baru.

Saat itu aku baru saja login di sebuah warnet yang Alhamdulillah tak begitu jauh dari kampus. Dengan segala kepanikan yang melanda (karena sms penting itu baru ku baca) aku langsung menuju kampus (dengan tidak melupakan ritual logout dan restart komputer). Tiba di sana, ternyata seminar proposal teman sudah dimulai, dan beliau salah satu dosen yang terlibat di dalamnya. Terpaksa menunggu. Perasaan nggak karuan, panik, takut dan penasaran atas apa yang akan disampaikan oleh beliau nantinya. Apa ada yang salah dengan revisi skripsiku itu? Apa ini, apa itu dan sebagainya.

Tidak begitu lama, seminar selesai, aku memberanikan diri masuk ke ruangan dan menemui beliau. Di situlah semua hal itu lagi-lagi terjadi kawan. Hah???

“Nah Desi, coba nanti kamu ceritakan setiap urutan mengajar kamu, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran sampai semua kegiatan yang kamu laksanakan di kelas, sesuai dengan RPP yang kamu buat. Coba dideskripsikan detailnya”.

Hee? “Hmm, nanti itu di skripsinya dibuat di bagian mana pak?”

“Oh, lepas aja. Kamu buat di kertas terpisah. Jabarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kamu laksanakan di kelas. Per-RPP dan model pembelajarannya. Jadi nanti kamu buat deskripsi RPP 1, RPP 2 dan RPP 3 untuk tiap model pembelajaran. Ingat-ingat lagi suasana penelitian kamu kemarin itu. Deskripsikan”.

“Oh, iya pak”(melemaslisasi).

“Ini saya kasih waktu 2 minggu, malam ini dikerjakan terus. Udah, itu saja yang mau saya sampaikan”.

Baiklah. Aku keluar ruangan dengan wajah bingung dan sedikit geli. Teman-teman yang penasaran pada bertanya ada apa.

“Eci disuruh mengarang lagi waak! Bapak minta deskripsi kegiatan selama mengajar kemarin itu!”

Tawa teman-teman tumpah! Asli. Sejauh ini belum pernah ada kejadian mahasiswa bimbingan beliau yang diminta mengarang demikian. Hanya aku. Dan itu sudah terjadi sejak awal pengajuan skripsi beberapa bulan silam. Teman-teman masih saja tertawa, dan aku bingung harus bagaimana.

Hahahahahahahahaha…

(Hmm, jangan-jangan beliau tahu kalau aku anggota FLP Aceh. Eh? Trus???).


Ruangan kesayangan.

22 November 2011, 7:08 PM


Published with Blogger-droid v2.0.1
11/22/2011 04:21:00 AM Desi YuLiana

“Kiban?” begitulah sapaan khasnya saat menyapa para mahasiswa bimbingan yang ditemuinya. Dialah Dosen Wali, yang sekarang merangkap menjadi Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsiku. Beliau merupakan pribadi yang baik, walaupun jika hanya dilihat dari penampakan luarnya, akan banyak orang yang tidak percaya bahwa beliau adalah orang yang baik. Ah, “Don’t Judge a Book by Its Cover”! Pepatah ini cocok jika disandingkan dengan perbincangan kita di atas barusan.



Sejak awal kuliah 2007 silam, beliau cukup ‘’welcome’’ saat ada mahasiswanya yang meminta bimbingan atau sekedar tanda tangan (KRS, KHS, dan sebagainya). Dengan senang hati dan (sedikit tampak) tulus, terkadang beliau cukup perhatian dengan bertanya pada mahasiswanya akan pengetahuan si mahasiswa terhadap mata kuliah yang akan diambilnya. Jika menurut beliau masih ada yang kurang, maka beliau akan dengan tegas menyarankan si mahasiswa untuk membatalkan/menunda dulu mata kuliah tersebut, sampai persyaratan yang harus dipenuhi mata kuliah itu selesai dipelajari.

Yah, begitulah. Terkadang sikap tegas, blak-blakan dan to the point yang khas dari beliau itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa men’judge’ beliau sebagai salah satu dosen kejam yang cukup ditakuti dan harus dihindari. Aku? Sedikit banyak terkadang juga merasakan hal yang sama. Di satu sisi beliau memang punya karakter yang sedikit menakutkan dan membingungkan para pembaca eh, para mahasiswa. Beliau termasuk pribadi yang sedikit plin-plan (berbeda-beda apa yang dikatakannya), agak pelupa (saking banyaknya mahasiswa yang dibimbingnya) dan juga mood-mood-an (apa ini maksudnya?), saat moodnya baik, beliau sangat baik, dan sebaliknya. Begitu juga jika marah, beliau benar-benar marah dan jika bercanda, beliau benar-benar bercanda sampai kadang tertawa terbahak-bahak.

Beliau pribadi yang baik. Kenapa? Dibalik segala ketegasan dan (mungkin) sisi negatif nya menurut orang-orang, beliau termasuk dari beberapa dosen di jurusan kami yang tidak ingin menunda shalat. Hal itu terbukti saat sedang membimbing mahasiswa, jika masuk waktu shalat, beliau akan dengan tegas mengatakan pada mahasiswa bahwa bimbingan akan dilanjutkan setelah beliau shalat. Nice!

Cukup banyak kebaikannya yang lain. Hanya saja, segala keunikan dan karakter yang tidak disukai banyak orang kadang lebih tampak dominan daripada kebaikan tulus yang ada pada diri beliau.

Memasuki semester akhir dan hal yang paling sakral bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi.

Niat plus target mengajukan judul skripsi sudah ada sejak Desember 2010 silam. Namun tertunda lantaran satu hal, yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Yah, semua sudah tahu, beliau merupakan salah satu dosen plus sekretaris jurusan yang cukup disiplin. Aturan-aturannya kuat dan sedikit menyusahkan mahasiswa (begitu kata dan keluhan para mahasiswa). Saat hendak mengajukan judul skripsi, aku langsung ditodong dengan pertanyaan: “Apa kamu sudah selesai PPL?” Deg. Terang saja belum, saat itu sedang liburan semester ganjil dan aku berencana mengambil PPL di semester depannya. Mendengar jawaban ‘belum’ beliau langsung memotong “Nah, kamu PPL dulu, saat di sekolah nanti coba kamu perhatikan dan pikirkan dengan seksama apa masalah murid-murid di sana. Setelah dapat, ceritak masalahnya, deskripsikan dan tunjukkan ke saya”.

Begitulah, hingga akhirnya judul skripsi aku ajukan 3 bulan kemudian. Judul pertama ditolak. Beliau malah memintaku menceritakan setiap kejadian selama aku mengajar di kelas yang berbeda dengan materi yang sama. Lagi. Cerita dan deskripsi. Walaupun cukup malas, mau tak mau harus kukerjakan juga tugas mengarang itu, tak jauh berbeda dengan tugas wajib PPL, refleksi harian dan case study. Ah, seperti menulis buku harian. Begitulah yang aku tanamkan dalam hati saat hendak menuliskannya.

Dua minggu kemudian, berbekal 6 lembar kertas yang berisi cerita pengalaman mengajar dan dua judul skripsi plus latar belakangnya, ku temui lagi beliau di meja kerjanya.

“Kiban?” begitulah aku disambutnya.

Tanpa basa-basi langsung kuserahkan saja kertas-kertas yang tak seberapa mana itu. Sekilas. Beliau melihat cerita mengajar itu hanya sekilas. Bergumam sedikit—dan aku tak sempat menangkap apa yang dikatakannya—lalu memilih-milih kertas lainnya. Perhatian beliau ternyata lebih tercurah pada salah satu judul skripsi yang aku ajukan. Tanpa babibu panjang kali lebar sama dengan luas, beliau langsung berkomentar tentang judul skripsi tersebut, dan tak lama setelah itu terciptalah satu judul skripsi yang komplit. Ting!

“Kamu bahas ini aja” katanya sambil melingkari judul skripsi yang barusan ditulisnya.

Aku diam. Judul yang diajukannya merupakan judul skripsi yang paling aku hindari. Penerapan model pembelajaran, yang artinya aku akan mengajar untuk penelitiannya.

“Itu judul skripsi saya pak?”

Eh, sempat-sempatnya pula aku bertanya demikian. Untung saja saat itu mood beliau sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, bisa berabe anak muda.

Akhirnya, dengan setengah senang (karena akhirnya punya judul skripsi) dan setengah sedih (karena tidak tertarik pada judulnya) aku keluar dari ruangan beliau dan ‘mengadu’ pada teman-teman. Ucapan selamat, dukungan dan wajah riang pun ku dapat dari mereka. Hmm, sedikit membantu semangat.

Singkat cerita, proposal skripsi ku selesai hampir dua bulan kemudian. Dan hanya dua kali bimbingan (baca: sekedar coret-coretan) sebelum akhirnya aku disarankannya untuk segera mendaftar seminar proposal. Selesai seminar, bimbingan instrument penelitian pun ku dapatkan hanya sebanyak dua kali. Beliau tampak seperti mempercepat pembuatan tugas akhirku itu. Dan perlakuan beliau terhadapku dan seorang teman—yang dosen walinya juga beliau—sedikit berbeda dibandingkan dengan perlakuannya pada mahasiswa bimbingannya yang lain. Hal itu membuat beberapa orang teman yang ada sangkut pautnya dengan beliau membicarakan kami berdua. Mereka jelas cemburu dan merasa bapak tidak adil atas perlakuan ‘anak kandung’ yang beliau berikan pada kami. Pembicaraan-pembicaraan mereka itu sedikit banyak menguras emosi, pikiran dan hati.

Well, lupakan cemoohan teman! The show must go on (cieeeee). Penelitian aku laksanakan dua bulan setelah seminar, revisi proposal dan bimbingan instrument. Sedangkan skripsi yang hanya BAB I – BAB V aku berikan pada beliau sebulan kemudian setelah penelitian. Malas! Malas! Dan malas! Tentu saja, akibat malas itu, target wisuda bulan November 2011 pun terlewati dengan indahnya.

Galau tingkat mahasiswa yang belum sarjana.

Lebih kurang tiga hari skripsi selesai diperiksa dan penuh dengan coretan hampir di setiap paragrafnya. Lagi-lagi malas melanda. Revisi skripsi terbengkalai dan aku seringnya lalai dengan segala hiburan yang ada di laptopku ini.

Sampai akhirnya, hari itu tiba. Saat Ayah menanyakan perihal skripsi dan akhirnya berkata “Alamat kelewatan wisuda bulan Februari Dedek ni”. Deg. Galau. Takut. Khawatir dan akhirnya aku sadar, skirpsi harus segera direvisi. Waktunya tak lama lagi saudara-saudara!

Dan akhirnya, hari ini kuserahkan juga skripsi yang telah direvisi perdana itu. Lega.

Selesai meletakkan skripsi di meja dosen pembimbing (sesuai pesan beliau sebelumnya), dan sudah beranjak dari kampus, aku dikejutkan dengan sms yang telah lama masuk di hape tapi baru terbaca, yang bunyinya “Tolong jumpai bapak di prodi, sekarang!” .

Panik tingkat lantai dua FKIP Gedung Baru.

Saat itu aku baru saja login di sebuah warnet yang Alhamdulillah tak begitu jauh dari kampus. Dengan segala kepanikan yang melanda (karena sms penting itu baru ku baca) aku langsung menuju kampus (dengan tidak melupakan ritual logout dan restart komputer). Tiba di sana, ternyata seminar proposal teman sudah dimulai, dan beliau salah satu dosen yang terlibat di dalamnya. Terpaksa menunggu. Perasaan nggak karuan, panik, takut dan penasaran atas apa yang akan disampaikan oleh beliau nantinya. Apa ada yang salah dengan revisi skripsiku itu? Apa ini, apa itu dan sebagainya.

Tidak begitu lama, seminar selesai, aku memberanikan diri masuk ke ruangan dan menemui beliau. Di situlah semua hal itu lagi-lagi terjadi kawan. Hah???

“Nah Desi, coba nanti kamu ceritakan setiap urutan mengajar kamu, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran sampai semua kegiatan yang kamu laksanakan di kelas, sesuai dengan RPP yang kamu buat. Coba dideskripsikan detailnya”.

Hee? “Hmm, nanti itu di skripsinya dibuat di bagian mana pak?”

“Oh, lepas aja. Kamu buat di kertas terpisah. Jabarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kamu laksanakan di kelas. Per-RPP dan model pembelajarannya. Jadi nanti kamu buat deskripsi RPP 1, RPP 2 dan RPP 3 untuk tiap model pembelajaran. Ingat-ingat lagi suasana penelitian kamu kemarin itu. Deskripsikan”.

“Oh, iya pak”(melemaslisasi).

“Ini saya kasih waktu 2 minggu, malam ini dikerjakan terus. Udah, itu saja yang mau saya sampaikan”.

Baiklah. Aku keluar ruangan dengan wajah bingung dan sedikit geli. Teman-teman yang penasaran pada bertanya ada apa.

“Eci disuruh mengarang lagi waak! Bapak minta deskripsi kegiatan selama mengajar kemarin itu!”

Tawa teman-teman tumpah! Asli. Sejauh ini belum pernah ada kejadian mahasiswa bimbingan beliau yang diminta mengarang demikian. Hanya aku. Dan itu sudah terjadi sejak awal pengajuan skripsi beberapa bulan silam. Teman-teman masih saja tertawa, dan aku bingung harus bagaimana.

Hahahahahahahahaha…

(Hmm, jangan-jangan beliau tahu kalau aku anggota FLP Aceh. Eh? Trus???).


Ruangan kesayangan.

22 November 2011, 7:08 PM


Published with Blogger-droid v2.0.1