…
Jika orange itu Bajaj, maka sinar itu Bintang..Jika kecil itu Bajaj, maka besar itu Bintang..Jika sempit itu Bajaj, maka luas itu Bintang..Jika apapun itu Bajaj, maka yang lebih dari Bajaj itulah Bintang..
Bajaj, pada dasarnya kau hanya sebuah benda (mati namun bergerak) sederhana yang sering dilecehkan dan disepelekan orang-orang. Kata orang kau itu kotor & biang kerusakan udara di kota besar sana. Tapi aku, dalam empat tahun terakhir selalu menentang mereka-mereka. Aku mengagumi, makhluk kecil, sempit dan kadang lusuh namun bersuara nyaring itu. Entah kenapa, aku hanya kagum. Dia dihina, dikucilkan, dijelek-jelekkan, tapi tidaklah itu membuatnya harus meringkuk ke sudut ruangan hampa, dia tetap saja melaju dengan gagah dan percaya dirinya.
Bajaj, bermula dari perkenalan yang memang seharusnya, aku tahu bahwa kau memang ada. Tidak lama. Tidak lama aku sadar bahwa kau itu ada, dan kau memang ada.
Aku harus bilang apa? Semuanya terjadi begitu saja. Lewat mata dan kerja sama.
Sayangnya tidak lama. Tidak lama juga aku sadar bahwa kita telah tiada. Kau melaju ke jalanmu di arah sana, dan aku pun berbalik ke jalanku di sebelah sini. Lantas kita—kau dan aku—pun mulai menjauh teratur satu persatu. Tapi aku rindu.. Cukup rindu pada bunyi semangatmu yang kadang melengking hingga ke langit senja sana. Ah, di situlah aku berharap, kau tetap akan jadi Bajajku, walaupun Bintang yang kau hampiri jauh lebih indah dari dirimu yang tak sebenarnya..
…
*sebuah prolog, semoga berhasil menjadi satu tulisan utuh*
Categories: Berpikir lebih dalam, cerpen


0 Komentar:
Post a Comment