Sunday, March 8, 2015

Posted by Desi YuLiana on 3/08/2015 01:14:00 AM 3 comments
Saat masih di Indonesia, saya sering melihat buku ini terutama saat sedang belanja di toko buku online langganan saya. Cover yang unik! Itu kesan pertama saya saat melihat covernya, karena dari dulu saya memang suka gambar-gambar kartun klasik dan simple seperti itu. Dari sebuah cover, saya bisa judge bahwa novel ini pasti punya cerita yang bagus. Beberapa kali saya mengklik ‘add to cart’ tapi beberapa kali juga akhirnya saya mendelete nya saat mau checkout buku belanjaan. Aneh kan ya. Satu sisi tertarik. Sisi lainnya bilang nanti saja. –“

Well, singkat cerita, saat tiba di perantauan, entah kenapa mulai banyak muncul postingan teman-teman tentang buku ini. Kesan positif banyak terumbar. Ceritanya ringan, gampang diikuti, haru, dan sarat pesan yang bermakna. Alhasil saya semakin penasaran dan menyesali keputusan tidak membawa pulang novel ringan itu. Sekarang saya di sini, bagaimana caranya saya bisa punya buku itu? Rasa penasaran membahana, mengganggu pikiran beberapa lama. Sampai pernah terpikir minta dikirimkan dari Indonesia. Hadeuuuuh.. Rempong cyiiiin.

Di tengah kegalauan yang tiada berakhir itu.. (ini berlebihan), saat sedang berada di dalam songthew atau labi-labi ala Thailand menuju ke Central Plaza di pusat kota Chiang Rai, saya yang sedang memangku Faris yang tertidur mengintip aktivitas suami di tablet kami. Ternyata beliau sedang baca buku. Suatu hal yang jarang dilakukannya dulu. Alhamdulillah, senang rasanya lihat suami mulai suka baca buku lagi (jadi curhat). Tiba-tiba beliau memperlihatkan buku yang dibelinya di play store itu. Sedikit menceritakan isinya. Dan tiba-tiba lagi saya teringat akan kegalauan pada sebuah buku. Maka hanya dengan sekali bilang;

“Bang, Eci pengen baca buku Sabtu Bersama Bapak, katanya bagus ceritanya, penasaran.”
( … )
Menanti respon. Berharap tingkat kecepatan maksimal songthew.
( … )
Melirik ke sebelah, yang bersangkutan masih buka-buka play store.
( … )
Harapan sirna.

Tiba-tiba.

“Apa tadi judulnya?”
Horeeeee!!! \(^^)/
“Sabtu Bersama Bapak bang.”
Yang bersangkutan mengklik kolom search dan menuliskan judul yang diminta sang istri.
“Yang ini?” menunjukkan sebuah cover buku.
“Iya..” deg degan. Dibeliin gak yaaa..
“Mau baca kan?”
“Iya!” semangat tingkat Faris dapat ngeng-ngeng baru.
“Oke.”
Alhamdulillah..

Begitulah cerita singkat--tapi jadi panjang saat saya ceritakan di sini—bagaimana akhirnya saya bisa ikut bersama dalam alur cerita sederhana itu. Antara senang dan sedih. Senang karena akhirnya punya bukunya. Sedih karena gak punya buku ‘real’, tapi hanya punya e-booknya. Ini seperti apa yang selalu suami nasihatkan. Sabar dan syukur. Sabar karena gak punya buku real nya. Syukur karena ya punya bukunya walaupun gak dalam bentuk nyata. #apasihini –“

Baiklah.. sebenarnya postingan ini niatnya ingin mereview sedikit tentang buku Sabtu Bersama Bapak dan merangkum sedikit beberapa pesan dan nasihat yang mengena bagi diri saya sendiri. Tapi kenapa jadi kepanjangan curhatnya ya? Hehehe. Maafkan saya saudara-saudara.

***

Sabtu Bersama Bapak.

Ini cerita tentang seorang bapak, tentang seorang ibu, tentang anak-anak, tentang suami dan istri, dan tentang kehidupan.

Ini cerita tentang bagaimana seorang bapak membesarkan anak-anaknya dengan baik sekalipun raganya tidak bersama mereka.

Ini cerita tentang seorang suami yang meninggalkan istrinya tidak dengan tangan kosong tapi penuh dengan persiapan agar sang istri bisa melanjutkan kehidupan dengan baik walaupun tanpa kehadirannya.

Ini cerita tentang seorang istri dan ibu yang tetap bertahan walaupun hidup tanpa seorang pasangan.

Ini cerita tentang anak-anak yang dibesarkan dengan jiwa-jiwa laksmana, dengan pesan-pesan berharga, hingga mereka tumbuh dan berkembang baik menjadi seorang manusia.

Ini cerita tentang kehidupan yang sederhana, ringan untuk dibaca, tapi meninggalkan kesan yang sangat mengena. Ini novel yang sangat direkomendasikan untuk dibaca, baik bagi anak-anak dan orang tua.

Sekian review dari saya.

***

Selanjutnya beberapa pesan dalam cerita yang tetap ingin saya ingat. Ingin saya praktekkan. Saya abadikan di sini agar suatu saat tiba-tiba saya membutuhkannya, saya bisa dengan mudah menemukannya.

Page 50:
Orang tua selalu ingin memberikan contoh kesuksesannya. Kebanyakan, malu untuk memberikan contoh kegagalan sendiri. Dan mereka terdiam membiarkan anak-anaknya terperangkap di kesalahan yang sama.

Page 51:
Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.

Page 60:
Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orang tua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orang tua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.

Page 80:
Meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.

Page 86:
Ada orang yang merugikan orang lain.
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka.
Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri.
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri.
Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya.
Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain.

Page 104:
Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia anak sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.

Page 106:
Menjadi panutan bukan tugas anak sulung—kepada adik-adiknya.
Menjadi panutan adalah tugas orang tua—untuk semua anak.

Page 119:
Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Nilai kita datang dari sini, dari hati. Harga dari diri kita datang dari akhlak kita.

Page 130:
Berapa kali kamu jatuh itu gak penting. Yang penting berapa kali kamu bangkit lagi.

Page 150:
Beberapa orang dapat mengubah dunia dengan mimpi mereka. Mereka mengkristalisasi mimpi itu dengan rencana. Rencana itu mereka eksekusi dengan kerja keras. Ketika mereka gagal, mereka coba cara lain. Sementara beberapa lainnya tidak pernah menuangkan mimpinya dalam bentuk rencana. Apalagi bekerja untuk mewujudkan rencana itu.

Page 217
Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

Find someone complimentary, not supplementary.” – Oprah Winfrey

Page 255:
Beberapa orang merasa berharga jika mereka bekerja di kantor. Beberapa orang merasa berharga jika mereka memastikan diri berada di rumah dan menjamin rumah tangga beres. Gak peduli mau kerja di kantor atau di rumah. Yang penting itu, suami dan istri menjadi pilar ekonomi untuk anak-anak. Yang penting itu, kalau salah satu dari pasangan pergi—yang ditinggalkan masih bisa mandiri. Yang penting itu, bagaimanapun kita bekerja, anak-anak tidak kekurangan perhatian orang tua. Yang penting itu, kemana pun, bagaimana pun orang cari nafkah, pasangannya ada di samping. Menambah yang kurang. Menjaga yang berharga.

***

By the way, yang terakhir itu salah satu yang bikin saya akhirnya semangat lagi walaupun hanya berdiam diri di rumah. Menjamin rumah tangga beres, Faris tumbuh dengan baik, dan tetap mencari tambahan penghasilan dengan bisnis online (walaupun bisnis online nya sekarang sedang sepi karena sempat vakum selama dua bulan lalu).


3 Komentar:

  1. Sudah lama pengen banget punya buku ini, punya dalam bentuk buku real. Untuk buku-buku bagus, aku ingin memilikinya secara nyata :D
    Pesan-pesannya bagus-baguuuus ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Bener. Pengen ngoleksi buku-buku yg bagus. kalau belum punya bentuk real nya rasanya ada yg kurang :(

      Kk udah baca?
      Pesan-pesannya sederhana kak.. tapi mengena banget kan..

      Delete
  2. bener" nyentuh kak.
    kirain td crita lucu.
    soal ny awal ny td lucu kak curhat ny.

    ReplyDelete