Enggak pernah kebayang dalam
pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan
menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar
biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan
ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan
belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani
profesi ini.
But.. here I am. Being a fulltime
housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama
kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan
pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya
(kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi
tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!
Setelah dijalani selama dua
bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener!
Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang
punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di
bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan
menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa
sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada
beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih
ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main
sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing
things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci
piring aja gak bisa! Nah lho!
Saat kesabaran menghadapi
Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal
yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:
“Ngapain kamu di sini, hanya
di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di
sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”
“Pulang aja gih ke
Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di
sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”
“Kawan-kawanmu di sana udah
pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin
anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”
Lebih kurang demikianlah
bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah
dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan
ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang
ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa
di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke
Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.
Ah, rasanya lemah sekali
jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas
jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan.
Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah.
Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini
sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat
saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya
berbeda.
![]() |
| Sedang berjuang untuk mereka |
Hanya berdiam di rumah
sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah!
Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi,
menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa
dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan
makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi,
menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa
seluruh penghuni rumah pun bersih.
Seorang Ibu juga punya
kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi
anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan
kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya,
menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya
lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung
halaman dulu.
Sekarang berbeda. Satu tahun
yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang
sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan.
This is
my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk
jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk
tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri
saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya
saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!
*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu,
dan kesabaranmu itu luar biasa! ❤



Waaah, sangat menginspirasi kak.
ReplyDeleteHarus banyak2 belajar lagi juza kayaknya, huhuhuhu.
Alhamdulillah :)
DeleteIya Juzaaaa.. harus kuat kita. harus banyak persiapan, banyak ilmu, kuat iman, kalau gak.. setan bisa selalu menang :(