Bertambah lagi daftar hal-hal yang harus aku syukuri tahun ini. Kali ini, tentang pulang. Pulang ke tanah kelahiran yang sudah sangat ku rindukan #eaaaa. Dimanakah itu? Yah, kemana lagi kalau bukan Lhokseumawe. Kota kecil, sederhana yang sepertinya sedang mulai menampakkan perkembangannya (ah, semoga perkembangan itu ke arah kebaikan ya, bukan sebaliknya).
Kalau tidak salah hitung-menghitung, sudah setahun beberapa bulan aku tak pulang ke kota itu. Terakhir bersilaturahmi dengan saudara dan kawan-kawan di sana adalah saat Hari Raya Idul Fitri tahun 2010. Rindu? Iyalah! Jangan ditanya sudah berapa kali aku merayu-rayu Ayah untuk memberikan izin pulang ke sana, dan jangan diragukan lagi sudah beberapa kali pulalah permintaanku ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Dan jangan tanyakan alasannya, karena aku juga nggak tahu kenapa, kenapa Ayah sangat susah membiarkan aku pulang ke sana, padahal Lhokseumawe itu dekat dan di sana jelas; banyak saudara dan orang-orang yang ku kenal. So, apa yang harus Ayah khawatirkan?
Baiklah, setidaknya, segala kegalauan dan kerinduan pada Lhokseumawe telah terbayar minggu ini. Alhamdulillah, melalui pernikahan si kakak, akhirnya aku bisa pulang. Horee! Tidak bisa dipungkiri, tujuan pulangku ke sana bukan hanya untuk ikut serta mengantar dara baro, tapi juga bernostalgia dengan semuanya. Kapan lagi kan? Aih, bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali? *evil smile*.
Awalnya, ragu. Jelas ragunya. Apalagi saat mengetahui bahwa Ayah, Bunda, dan rombongan lain dari Banda Aceh akan pulang ke Banda di hari itu juga, setelah selesai acara. Aku? Aku gimana? Rasanya rugi luar biasa jika harus pulang di hari yang sama. Aku bimbang. Aku mumang. Aku mendadak garang #eh *berlebihan*. Tidak ingin membuang kesempatan, dengan perkataan yang super baik, sopan, dan ramah aku bertanya pada Ayah:
"Yah, dek boleh gak ikut pulang sekalian ma Ayah Bunda? Dek boleh main-main dulu di Lhok? Entar dek pulang sendiri, beberapa hariiiiiiii aja. Ya Yah ya? *wink-wink".
Singkat cerita, ada keajaiban yang terjadi. Akhirnya aku bisa menetap (hanya) beberapa hari di Lhokseumawe. Sebenarnya ingin lebih lama, tapi apa daya, ujian TOEFL ITP menantiku di Banda Aceh (kalau saja bukan ITP, sudah ku tinggalkan dia!). Aku pun harus segera pulang (lho? Belum cerita kok udah mau pulang?).
Berkunjung ke Lhokseumawe berarti ngumpul-ngumpul dengan kawan lama. Itu wajib hukumnya! Haha, sadis. Dan syukur, agenda itu bisa terlaksana. Walaupun yang hadir (karena memang ada di Lhokseumawe) hari itu hanya tiga dari sembilan anggota 'geng' lainnya. Ingin rasanya punya kesempatan berkumpul dengan semuanya. Ingin rasanya melihat dan bersama-bersama dengan ke-sembilan kawan-kawan terdekat (SMA) di waktu dan tempat yang sama pula. Aih, kapan? Tapi, tak mengapalah, bisa bertatap muka dengan yang tiga ini juga udah senang luar biasa, yang lain bisa ditemui di Banda. Gampang! *mulai ngawur kaya'nya*.
Well, cerita pulang ke sana beberapa hari yang lalu tidak luput dari yang namanya 'makan-makan'. Ah, gak perlu heran. Jangankan di sana, di Banda saja aku memang doyan makan. Jadi, saat di kota kelahiran pun sudah pasti aku harus banyak makan. Karena hidup itu untuk makan. *Merdeka!* #plak!.
Bersyukur ada keluarga tetangga yang sangat bisa diandalkan. Kedekatan dengan mereka rasanya bukan lagi kedekatan sebagai tetangga, namun sudah memasuki area "saudara". Bisa dibilang, aku jauh lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan keluarga saudara lainnya. Jangan tanya kenapa! Empat malam di sana, maka tiga malam aku habiskan dengan acara makan-makan bersama mereka (kenapa tidak empat malam? karena satu malam ku habiskan di rumah saudara. Oke!). Tidak tanggung-tanggung, mereka mau berjauh-jauh ke Batuphat demi semangkok 'empek-empek' kesukaan si anak tetangga dari Banda ini.
Lebih kurang empat hari aku di sana. Banyak tempat baru yang aku jelajahi, salah satunya Komplek Perumahan Exxon Mobil yang sekarang disulap menjadi kampus Universitas Malikussaleh. Unik! Komplek perumahan yang telah lama ditinggalkan penghuninya itu sekarang berubah suasana menjadi lahan belajar para mahasiswa. Rumah-rumah warga disulap menjadi ruang kuliah, perpustakaan, lab, dan sebagainya. Oke, ide yang bagus! Setidaknya komplek yang dibangun dengan dana yang tak murah itu tidak terbuang percuma.
Berikut beberapa foto kenangan yang sempat diabadikan selama di sana:
![]() |
| "Little Crazy Girls" Ini geng (masa kecil) paling terkenal di seantero Lr. H. Hasan - Uteun Bayi |
![]() |
| Urineun.. (Rock Band) Oeyo? Hahaha |
![]() |
| Dua orang di sini penyusup. Satu (paling depan) si anak tetangga, satu lagi (cowok, paling belakang) si adek ganteng yg muncul (kembali) dengan tiba-tiba |
![]() |
| The Girls ~ |
![]() |
| The Boys ~ |
*merupakan postingan seorang kawan di akun twitter miliknya. Ini jelas membangkitkan semangat fotografi dan menulisku saat membacanya. Dan mungkin cerita aneh di atas lah hasilnya. Tak apa, yang penting: "Tulislah, walau satu ayat! #eh*"Menarik dipandang, potret! Menarik dipikirkan, tulis!"







0 Komentar:
Post a Comment