Thursday, April 12, 2012

Posted by Desi YuLiana on 4/12/2012 06:25:00 PM No comments

Panggilan pada penumpang bus k*rnia jurusan Lhokseumawe telah terdengar dari pengeras suara di seantero terminal. Beberapa remaja yang sedari tadi asyik bercerita tampak mulai berubah ekspresi wajahnya. Satu orang di antara mereka akan pergi. Pergi ke kota yang jauh dari tempat mereka saat ini. Pergi yang masih belum diketahui apa akan kembali lagi atau tidak ke sini. Pergi yang mengartikan mereka akan berpisah, tak berjumpa, entah hanya untuk beberapa masa atau selamanya.

Seorang remaja tinggi, kurus, berkacamata yang mengenakan jilbab biru dan baju berbahan jins kesayangannya tampak masih memegang erat tangan temannya. Wajahnya mendung. Ia tampak sangat berat meninggalkan semuanya. Awalnya ia hanya senyum biasa, mencoba menahan apa yang memaksa keluar dari matanya saat berbincang-bincang tadi. Namun, jabatan tangan dan pelukan hangat perpisahan dari teman-temannya akhirnya merobohkan pertahanannya. Hujan mulai turun di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah ke dalam bus yang akan membawanya jauh dari teman-temannya itu.

Tapi, the show must go on. Setiap pertemuan pasti ditutup dengan perpisahan. Selamat tinggal, teman!

Dari dalam bus, tak henti-hentinya ia melambaikan tangan pada teman-teman yang masih setia mengantar keberangkatannya. Bukan hanya ia, teman-temannya di luar bus sana pun juga bermandikan air mata. Wajah remaja-remaja itu basah. Karena di sinilah mereka harus berpisah.

Bus mulai melaju pelan dari parkiran terminal. Wajah teman-teman kesayangan pun sedikit demi sedikit mulai hilang ditelan jalan. Bus akhirnya meluncur ke jalan raya, bersiap menantang maut di jalan perbukitan kelok 99 dan di sepanjang jalan selama menempuh perjalanan 30 jam. Padang - Lhokseumawe.

Remaja berkacamata tadi tampak masih muram, butuh waktu hampir satu jam untuk meredakan hujan deras di wajahnya. Ibu di sampingnya hanya bisa menahan haru melihat beban yang anak bungsunya rasakan saat itu. Ah, sekali lagi. Selamat tinggal teman! Selamat tinggal Padang!

***

13 April 2002 - 13 April 2012.

Tepat 10 tahun remaja berkacamata tadi meninggalkan tanah Minang. Ah, sekalipun dianggap berlebihan, ia tetap kekeuh mengatakan Padang; kota dengan sentero kenangan.

Betapa ia masih mengingat bagaimana cerita-cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya; Komplek Anggaran Surau Gadang, di sekolah pertamanya di sana; MIN Gunung Pangilun, di sekolah terakhirnya: MTsN Model Gunung Pangilun Padang, di rumah teman-temannya; Siteba, Tunggul Hitam, dan sebagainya, di lokasi-lokasi wisata; Cagar Alam Malibo Anai, Lembah Anai, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Kelok 44, Danau Maninjau, Danau Singkarang, Pantai Painan, dan sebagainya.. Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang ia dapatkan selama hampir 3 tahun menetap di tanah dengan aliran materialisme itu.

Ia hanya tidak bisa lupa, karena di sana ia rasakan apa yang namanya kenyamanan. Baik itu di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan tempat ia meraih pendidikan. Kenyamanan yang sedikit berbeda dengan yang dirasakan di tanah kelahirannya. Itu bisa dibuktikan dengan bagaimana ia bisa lancar berbahasa Minang daripada bahasa daerah asalnya sendiri. Aneh memang, 3 tahun di tanah Minang vs seluruh tahun yang dihabiskan di tanah rencong.

Remaja berkacamata yang sekarang ini semakin dewasa namun masih berkacamata itu rindu kota Padang. Ia ingin pulang, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, mengunjungi kembali bangunan sekolah dan tempat-tempat kenangan lainnya, dan melanjutkan petualangan di sana. Itu targetnya tahun ini. Semoga!

Published with Blogger-droid v2.0.4
Categories: ,

0 Komentar:

Post a Comment