#jleb. Sore ini saya sedikit tertohok setelah membaca sebuah cerpen yang katanya terinspirasi oleh kisah nyata dan diberi bumbu-bumbu tambahan melankonis oleh yang menuliskannya.
Apa isi ceritanya? Yah, mungkin kawan-kawan bisa membacanya sendiri nanti (akan saya sertakan link cerpennya setelah selesai berkicau di tulisan ini).
It's all about ngaji, prosedur dan jalur yang sesuai organisasi, nikah, eM-eR, orang tua, pilihan hati, istikharah serta Al-Quran dan Hadits.
Sebagian kawan kampus atau organisasi di Banda Aceh (atau para pembaca di sini) mungkin sudah sangat familiar dengan istilah 'ngaji'. Ya, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'Liqa' atau 'Halaqah'. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, di sini saya selaku penulis berperan sebagai seorang yang (cukup) mengerti, setidaknya memahami sedikit tentang 'ngaji' dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, karena dulunya pernah mengikuti, namun sekarang tidak aktif lagi akibat eM-eR yang mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.
Baiklah, apa itu 'ngaji'?
Ngaji, Liqa, Halaqah dan apapun itu sebutannya sebenarnya merupakan suatu kegiatan 'pembinaan' dari seorang pembina yang tidak sembarangan pada beberapa orang binaannya. Tidak jauh berbeda dengan pengajian yang waktu kecil dulu pernah kita ikuti, bedanya dalam 'level' materi yang diajarkan dan rutinitas yang ditetapkan. Kalau pengajian masa kecil kita diajarkan mengaji (membaca Al-Quran), di halaqah ini kita akan mendapatkan materi-materi baru tentang tauhid, iman, keislaman & sebagainya.
Oke, siapa pula itu eM-eR? eM-eR itu singkatan dari Murabby, dan beliau adalah guru atau pembina dalam suatu halaqah tersebut.
Nikah? Apa hubungannya dengan eM-eR itu?
Nah, bagian ini saya sebenarnya masih kurang paham. Saya hanya paham (atas cerita kawan-kawan) pada bagian eM-eR memberikan biodata 'calon', kemudian memfasilitasi ataupun membantu proses perkenalan syar'i--yang lebih dikenal dengan taaruf--dan jika kedua pihak setuju lantas eM-eR akan menyerahkan masalah tersebut pada pihak keluarga yang bersangkutan.
Dari penjelasan dan cerita kawan-kawan, yang saya tangkap adalah peran eM-eR pada sebuah pernikahan itu lebih sebagai fasilitator; membantu mencarikan calon yang baik, membantu meberikan pendapat dan solusi jika ada keragu-raguan, membantu proses 'persiapan' pernikahan hingga dilaksanakan pernikahannya tersebut.
Nah sekarang, apa itu orang tua, pilihan hati, istikharah, serta Al-Quran dan Hadits? Yang ini tidak perlu saya jelaskan bukan? Saya anggap (dan saya yakin) kalian semuanya mengerti. Lanjut ya?
Pernah suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kejadian--yang menurut saya--cukup tragis. Sebut saja namanya A, saya mengenal dia sejak lama, dan juga cukup tahu tentang keluarganya. Suatu ketika, saat usia si A melewati 22, orang tuanya mulai khawatir dan bertanya-tanya tentang pernikahnnya. Usianya sudah cukup matang, kuliah sudah selesai, apa lagi yang ditunggunya?
(Sebelumnya, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan keluarga si A pernah melamar si A untuk anak laki-lakinya, seorang Ustadz yang sudah cukup mapan. Namun ditolak dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal: si A tidak suka, karena pernah melihat Ustadz tersebut memakai celana jeans *oke*. Dan itu cukup mengecewakan kedua orang tuanya).
Beberapa kali orang tua si A mencoba membicarakan secara baik-baik dan memberikan beberapa pilihan (pemuda yang dikenal baik oleh orang tuanya) pada si A, namun yang didapatkan orang tuanya malah jawaban ketus:
"Ayah-Ibu nggak usah capek-capek mikirin calon untuk A, biar Murabby A aja yang nyari dan A lebih percaya pada Murabby untuk hal ini" (lebih kurang begitu jawabannya *maaf, lupa!*).
Deg. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mendengar pernyataan anaknya barusan? Saya—yang bukan siapa-siapa--saja sedikit ‘perih’ saat mendengarkankannya, apalagi orang tuanya? Anaknya ternyata lebih mengutamakan Murabby—yang baru dikenalnya 3-4 tahun terkahir--daripada orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya dari kecil hingga dewasa. Klasik.
Mencoba berprasangka baik, mungkin niat si A benar, untuk hal-hal demikian Murabby nya mungkin memang lebih mengerti daripada orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan 'tarbiyah' yang demikian. Tapi.. Aaaah, saya benar-benar geram mendengarnya.
Sejauh yang saya tahu, A memang terlalu patuh dan percaya pada Murabbinya dibandingkan pada orang tuanya. Dan lagi-lagi saya sangat tidak setuju akan hal itu.
Murabby ya Murabby. Beliau guru, pembina, dan bagi sebagian orang menjadi tempat pencarian solusi atas masalah-masalah hidupnya, tapi tentu saja, hal itu tidak menjadikannya segala-galanya. Tetap saja, tidak bisa menjadikannya yang utama.
Kita masih punya hati untuk memilih dan menetapkan pilihan terkait masa depan kita, kita masih punya 'istikharah' sebagai sarana bertanya pendapat-Nya akan keragu-raguan pada hati kita, kita masih punya orang tua yang lebih mengerti kita daripada siapapun di dunia (walaupun kadang tak ditunjukkannya), kita masih punya Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan untuk mencari jawaban atas tiap pertanyaan kita, dan yang paling pasti kita masih punya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita.
Cerpen berikut jika dibaca mungkin akan menimbulkan pemahaman dan citra yang berbeda bagi masing-masing pribadi kita. Mungkin nantinya akan ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju. Akan ada yang mendapat pesannya dalam bentuk A, dan ada juga yang mendapat pesannya dalam bentuk B. Ada yang menangkap begitu, dan pasti juga ada yang menangkap begini. Berbeda, itulah manusia.
Terkait cerita, saya hanya sedikit tidak setuju pada pendapat si tokoh akhwat yang seperti ‘memandang sebelah mata’ pada pernikahan dengan cara ‘swasta’. Ah, tidak ada yang salah dengan itu. Menikah tidak harus lewat Murabby, lagi-lagi kita masih punya beberapa hal penentu di atas, dan bukan Murabby yang berhak menentukannya.
Satu hal lagi; tidak semua yang ter-tarbiyah adalah orang baik-baik dan tidak semua yang tidak ter-tarbiyah adalah bukan orang baik-baik (murni pendapat pribadi).
Dan saya pribadi sangat tidak setuju pada apa yang dilakukan si Akhwat dan agak kesal dengan tokoh eM-eR dalam cerita tersebut. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para binaan dan Pembina lainnya. Semoga para Pembina bisa lebih ‘dewasa dan bijaksana’ dalam menyampaikan pendapat dan membantu binaannya, dan semoga para binaan tidak selalu terpaku pada apa yang dikatakan pembinanya. Semua kembali pada diri kita masing-masing.
Here We Go -->> 'Mana Ikhwan Untukku?'
Selamat membaca, selamat berspekulasi, selamat berpendapat dan berimajinasi.
Semoga bermanfaat kawan :)
Categories: Berpikir lebih dalam, Opini



uhm... kakak sedang binun nyari link-nya. Ini modem rada majnun! hehehe... salahin modem lagi! yyyup, belon bisa baca cerpennya. Tapi peristiwa semacam cerita Eci di atas udah beberapa terjadi. Y.Y dan kerap menyedihkan sekaligus mengecewakan. Kemana materi Birrul walidain yang pernah dimasukkan ke dalam materi 'ngaji'? Nggak sedikit yang begitu. Menganggap kedua orangtuanya tidak sefikrah, katanya, karena Murabby ikut tarbiyah, ortu tidak :(
ReplyDeleteCeritanya agak tragis ya. Memang terkadang MR menjadi begitu penting untuk mereka yg 'ngaji' tanpa melihat tujuan 'mengaji', salah satunya adalah juga untuk menjadi anak sholehah yg taat pada orangtua :)
ReplyDeleteIya kak.. Udah sering eci jumpain mereka yg terlalu menomorsatukan MR. Tragis aja rasanya. Apalagi kalau sampai kisah yg di cerpen itu beneran terjadi. Menyesal aja rasanya :|
ReplyDelete