Saat pengalaman tak bisa dijadikan pelajaran.
Dan kau kembali melakukan kesalahan berulang.
Dengan cukup gampang.
Lantas gamang karenanya.
Perhatiannya memudar.
Dan kau pun merasakan padamnya ceria mata yang kau doa selalu berpijar.
Kau kelewatan.
Aku berlebihan dalam berprasangka.
Yang benar ku rasa salah dan yang salah ku rasa benar.
Imbasnya sederetan luapan itu pun menumbuhkan penyesalan.
Sebab perpisahan.
Iya dan tidak.
Harapanku iya.
Bahkan kenyataan tidak pernah melukiskan iya.
Ia suka berlawanan dari apa yang dikatakan harapan.
Dan harapan itu hilang dimakan rautan wajah yang berbeda dari biasanya.
Kemana?
Mana candaan yang mematikan itu?
Dimana aku memadamkannya?
Kau terus saja tanyakan tapi tak kunjung ada jawaban.
Hilang.
Maaf.
Memang ini sudah berlebihan.
Aku berdoa itu (bukan) aku.
Namun sayang dianya ambigu, itu jelas (bukan) aku.
Diam?
Biarlah ia muram.
Hanya janganlah mendendam.
Sesungguhnya yang suram pun benar, pulangnya kadang melalui malam tak cukup dalam..
Pulanglah, karena ada jalan yang dijaga oleh (bukan) jiwa yang suram..
Published with Blogger-droid v2.0.2


0 Komentar:
Post a Comment