Saat masih
di Indonesia, saya sering melihat buku ini terutama saat sedang belanja di toko
buku online langganan saya. Cover yang unik! Itu kesan pertama saya saat
melihat covernya, karena dari dulu saya memang suka gambar-gambar kartun klasik
dan simple seperti itu. Dari sebuah cover, saya bisa judge bahwa novel ini
pasti punya cerita yang bagus. Beberapa kali saya mengklik ‘add to cart’ tapi
beberapa kali juga akhirnya saya mendelete nya saat mau checkout buku
belanjaan. Aneh kan ya. Satu sisi tertarik. Sisi lainnya bilang nanti saja. –“
Well,
singkat cerita, saat tiba di perantauan, entah kenapa mulai banyak muncul postingan
teman-teman tentang buku ini. Kesan positif banyak terumbar. Ceritanya ringan,
gampang diikuti, haru, dan sarat pesan yang bermakna. Alhasil saya semakin
penasaran dan menyesali keputusan tidak membawa pulang novel ringan itu. Sekarang
saya di sini, bagaimana caranya saya bisa punya buku itu? Rasa penasaran
membahana, mengganggu pikiran beberapa lama. Sampai pernah terpikir minta
dikirimkan dari Indonesia. Hadeuuuuh.. Rempong cyiiiin.
Di tengah
kegalauan yang tiada berakhir itu.. (ini berlebihan), saat sedang berada di
dalam songthew atau labi-labi ala Thailand menuju ke Central Plaza di pusat
kota Chiang Rai, saya yang sedang memangku Faris yang tertidur mengintip
aktivitas suami di tablet kami. Ternyata beliau sedang baca buku. Suatu hal
yang jarang dilakukannya dulu. Alhamdulillah, senang rasanya lihat suami mulai
suka baca buku lagi (jadi curhat). Tiba-tiba beliau memperlihatkan buku yang
dibelinya di play store itu. Sedikit menceritakan isinya. Dan tiba-tiba lagi saya
teringat akan kegalauan pada sebuah buku. Maka hanya dengan sekali bilang;
“Bang, Eci
pengen baca buku Sabtu Bersama Bapak, katanya bagus ceritanya, penasaran.”
( … )
Menanti
respon. Berharap tingkat kecepatan maksimal songthew.
( … )
Melirik ke
sebelah, yang bersangkutan masih buka-buka play store.
( … )
Harapan
sirna.
Tiba-tiba.
“Apa tadi
judulnya?”
Horeeeee!!!
\(^^)/
“Sabtu
Bersama Bapak bang.”
Yang
bersangkutan mengklik kolom search dan menuliskan judul yang diminta sang
istri.
“Yang ini?”
menunjukkan sebuah cover buku.
“Iya..” deg
degan. Dibeliin gak yaaa..
“Mau baca
kan?”
“Iya!”
semangat tingkat Faris dapat ngeng-ngeng baru.
“Oke.”
Alhamdulillah..
Begitulah cerita
singkat--tapi jadi panjang saat saya ceritakan di sini—bagaimana akhirnya saya
bisa ikut bersama dalam alur cerita sederhana itu. Antara senang dan sedih. Senang
karena akhirnya punya bukunya. Sedih karena gak punya buku ‘real’, tapi hanya
punya e-booknya. Ini seperti apa yang selalu suami nasihatkan. Sabar dan
syukur. Sabar karena gak punya buku real nya. Syukur karena ya punya bukunya
walaupun gak dalam bentuk nyata. #apasihini –“
Baiklah..
sebenarnya postingan ini niatnya ingin mereview sedikit tentang buku Sabtu
Bersama Bapak dan merangkum sedikit beberapa pesan dan nasihat yang mengena
bagi diri saya sendiri. Tapi kenapa jadi kepanjangan curhatnya ya? Hehehe. Maafkan
saya saudara-saudara.
***
Sabtu
Bersama Bapak.
Ini cerita
tentang seorang bapak, tentang seorang ibu, tentang anak-anak, tentang suami
dan istri, dan tentang kehidupan.
Ini cerita
tentang bagaimana seorang bapak membesarkan anak-anaknya dengan baik sekalipun
raganya tidak bersama mereka.
Ini cerita
tentang seorang suami yang meninggalkan istrinya tidak dengan tangan kosong
tapi penuh dengan persiapan agar sang istri bisa melanjutkan kehidupan dengan
baik walaupun tanpa kehadirannya.
Ini cerita
tentang seorang istri dan ibu yang tetap bertahan walaupun hidup tanpa seorang
pasangan.
Ini cerita
tentang anak-anak yang dibesarkan dengan jiwa-jiwa laksmana, dengan pesan-pesan
berharga, hingga mereka tumbuh dan berkembang baik menjadi seorang manusia.
Ini cerita
tentang kehidupan yang sederhana, ringan untuk dibaca, tapi meninggalkan kesan
yang sangat mengena. Ini novel yang sangat direkomendasikan untuk dibaca, baik
bagi anak-anak dan orang tua.
Sekian
review dari saya.
***
Selanjutnya
beberapa pesan dalam cerita yang tetap ingin saya ingat. Ingin saya praktekkan.
Saya abadikan di sini agar suatu saat tiba-tiba saya membutuhkannya, saya bisa
dengan mudah menemukannya.
Page 50:
Orang tua
selalu ingin memberikan contoh kesuksesannya. Kebanyakan, malu untuk memberikan
contoh kegagalan sendiri. Dan mereka terdiam membiarkan anak-anaknya
terperangkap di kesalahan yang sama.
Page 51:
Attitude
baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan
membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis bukan
segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan
kualitas kita yang lain.
Page 60:
Ketika orang
dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk
cari kerja lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada
pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah
minta dilahirkan oleh orang tua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orang tua
yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.
Page 80:
Meminta maaf
ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang
cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud
dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf
membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.
Page 86:
Ada orang
yang merugikan orang lain.
Ada orang
yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka.
Ada orang
yang hanya merugikan diri sendiri.
Ada orang
yang berguna untuk diri sendiri.
Ada orang
yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya.
Terakhir adalah
orang-orang yang berguna bagi orang lain.
Page 104:
Seorang anak,
tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia anak sulung. Nanti yang
sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan
cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang
sebaiknya semua manusia lakukan.
Page 106:
Menjadi panutan
bukan tugas anak sulung—kepada adik-adiknya.
Menjadi panutan
adalah tugas orang tua—untuk semua anak.
Page 119:
Harga diri
kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang
kita punya. Nilai kita datang dari sini, dari hati. Harga dari diri kita datang
dari akhlak kita.
Page 130:
Berapa kali
kamu jatuh itu gak penting. Yang penting berapa kali kamu bangkit lagi.
Page 150:
Beberapa orang
dapat mengubah dunia dengan mimpi mereka. Mereka mengkristalisasi mimpi itu
dengan rencana. Rencana itu mereka eksekusi dengan kerja keras. Ketika mereka
gagal, mereka coba cara lain. Sementara beberapa lainnya tidak pernah
menuangkan mimpinya dalam bentuk rencana. Apalagi bekerja untuk mewujudkan
rencana itu.
Page 217
Membangun sebuah
hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling
ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing
orang. Bukan tanggung jawab orang lain.
“Find someone complimentary, not
supplementary.” – Oprah Winfrey
Page 255:
Beberapa orang
merasa berharga jika mereka bekerja di kantor. Beberapa orang merasa berharga
jika mereka memastikan diri berada di rumah dan menjamin rumah tangga beres. Gak
peduli mau kerja di kantor atau di rumah. Yang penting itu, suami dan istri
menjadi pilar ekonomi untuk anak-anak. Yang penting itu, kalau salah satu dari
pasangan pergi—yang ditinggalkan masih bisa mandiri. Yang penting itu,
bagaimanapun kita bekerja, anak-anak tidak kekurangan perhatian orang tua. Yang
penting itu, kemana pun, bagaimana pun orang cari nafkah, pasangannya ada di
samping. Menambah yang kurang. Menjaga yang berharga.
***
By the way,
yang terakhir itu salah satu yang bikin saya akhirnya semangat lagi walaupun
hanya berdiam diri di rumah. Menjamin rumah tangga beres, Faris tumbuh dengan
baik, dan tetap mencari tambahan penghasilan dengan bisnis online (walaupun
bisnis online nya sekarang sedang sepi karena sempat vakum selama dua bulan
lalu).



