Sunday, March 8, 2015

Saat masih di Indonesia, saya sering melihat buku ini terutama saat sedang belanja di toko buku online langganan saya. Cover yang unik! Itu kesan pertama saya saat melihat covernya, karena dari dulu saya memang suka gambar-gambar kartun klasik dan simple seperti itu. Dari sebuah cover, saya bisa judge bahwa novel ini pasti punya cerita yang bagus. Beberapa kali saya mengklik ‘add to cart’ tapi beberapa kali juga akhirnya saya mendelete nya saat mau checkout buku belanjaan. Aneh kan ya. Satu sisi tertarik. Sisi lainnya bilang nanti saja. –“

Well, singkat cerita, saat tiba di perantauan, entah kenapa mulai banyak muncul postingan teman-teman tentang buku ini. Kesan positif banyak terumbar. Ceritanya ringan, gampang diikuti, haru, dan sarat pesan yang bermakna. Alhasil saya semakin penasaran dan menyesali keputusan tidak membawa pulang novel ringan itu. Sekarang saya di sini, bagaimana caranya saya bisa punya buku itu? Rasa penasaran membahana, mengganggu pikiran beberapa lama. Sampai pernah terpikir minta dikirimkan dari Indonesia. Hadeuuuuh.. Rempong cyiiiin.

Di tengah kegalauan yang tiada berakhir itu.. (ini berlebihan), saat sedang berada di dalam songthew atau labi-labi ala Thailand menuju ke Central Plaza di pusat kota Chiang Rai, saya yang sedang memangku Faris yang tertidur mengintip aktivitas suami di tablet kami. Ternyata beliau sedang baca buku. Suatu hal yang jarang dilakukannya dulu. Alhamdulillah, senang rasanya lihat suami mulai suka baca buku lagi (jadi curhat). Tiba-tiba beliau memperlihatkan buku yang dibelinya di play store itu. Sedikit menceritakan isinya. Dan tiba-tiba lagi saya teringat akan kegalauan pada sebuah buku. Maka hanya dengan sekali bilang;

“Bang, Eci pengen baca buku Sabtu Bersama Bapak, katanya bagus ceritanya, penasaran.”
( … )
Menanti respon. Berharap tingkat kecepatan maksimal songthew.
( … )
Melirik ke sebelah, yang bersangkutan masih buka-buka play store.
( … )
Harapan sirna.

Tiba-tiba.

“Apa tadi judulnya?”
Horeeeee!!! \(^^)/
“Sabtu Bersama Bapak bang.”
Yang bersangkutan mengklik kolom search dan menuliskan judul yang diminta sang istri.
“Yang ini?” menunjukkan sebuah cover buku.
“Iya..” deg degan. Dibeliin gak yaaa..
“Mau baca kan?”
“Iya!” semangat tingkat Faris dapat ngeng-ngeng baru.
“Oke.”
Alhamdulillah..

Begitulah cerita singkat--tapi jadi panjang saat saya ceritakan di sini—bagaimana akhirnya saya bisa ikut bersama dalam alur cerita sederhana itu. Antara senang dan sedih. Senang karena akhirnya punya bukunya. Sedih karena gak punya buku ‘real’, tapi hanya punya e-booknya. Ini seperti apa yang selalu suami nasihatkan. Sabar dan syukur. Sabar karena gak punya buku real nya. Syukur karena ya punya bukunya walaupun gak dalam bentuk nyata. #apasihini –“

Baiklah.. sebenarnya postingan ini niatnya ingin mereview sedikit tentang buku Sabtu Bersama Bapak dan merangkum sedikit beberapa pesan dan nasihat yang mengena bagi diri saya sendiri. Tapi kenapa jadi kepanjangan curhatnya ya? Hehehe. Maafkan saya saudara-saudara.

***

Sabtu Bersama Bapak.

Ini cerita tentang seorang bapak, tentang seorang ibu, tentang anak-anak, tentang suami dan istri, dan tentang kehidupan.

Ini cerita tentang bagaimana seorang bapak membesarkan anak-anaknya dengan baik sekalipun raganya tidak bersama mereka.

Ini cerita tentang seorang suami yang meninggalkan istrinya tidak dengan tangan kosong tapi penuh dengan persiapan agar sang istri bisa melanjutkan kehidupan dengan baik walaupun tanpa kehadirannya.

Ini cerita tentang seorang istri dan ibu yang tetap bertahan walaupun hidup tanpa seorang pasangan.

Ini cerita tentang anak-anak yang dibesarkan dengan jiwa-jiwa laksmana, dengan pesan-pesan berharga, hingga mereka tumbuh dan berkembang baik menjadi seorang manusia.

Ini cerita tentang kehidupan yang sederhana, ringan untuk dibaca, tapi meninggalkan kesan yang sangat mengena. Ini novel yang sangat direkomendasikan untuk dibaca, baik bagi anak-anak dan orang tua.

Sekian review dari saya.

***

Selanjutnya beberapa pesan dalam cerita yang tetap ingin saya ingat. Ingin saya praktekkan. Saya abadikan di sini agar suatu saat tiba-tiba saya membutuhkannya, saya bisa dengan mudah menemukannya.

Page 50:
Orang tua selalu ingin memberikan contoh kesuksesannya. Kebanyakan, malu untuk memberikan contoh kegagalan sendiri. Dan mereka terdiam membiarkan anak-anaknya terperangkap di kesalahan yang sama.

Page 51:
Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.

Page 60:
Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orang tua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orang tua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.

Page 80:
Meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.

Page 86:
Ada orang yang merugikan orang lain.
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka.
Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri.
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri.
Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya.
Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain.

Page 104:
Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia anak sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.

Page 106:
Menjadi panutan bukan tugas anak sulung—kepada adik-adiknya.
Menjadi panutan adalah tugas orang tua—untuk semua anak.

Page 119:
Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Nilai kita datang dari sini, dari hati. Harga dari diri kita datang dari akhlak kita.

Page 130:
Berapa kali kamu jatuh itu gak penting. Yang penting berapa kali kamu bangkit lagi.

Page 150:
Beberapa orang dapat mengubah dunia dengan mimpi mereka. Mereka mengkristalisasi mimpi itu dengan rencana. Rencana itu mereka eksekusi dengan kerja keras. Ketika mereka gagal, mereka coba cara lain. Sementara beberapa lainnya tidak pernah menuangkan mimpinya dalam bentuk rencana. Apalagi bekerja untuk mewujudkan rencana itu.

Page 217
Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

Find someone complimentary, not supplementary.” – Oprah Winfrey

Page 255:
Beberapa orang merasa berharga jika mereka bekerja di kantor. Beberapa orang merasa berharga jika mereka memastikan diri berada di rumah dan menjamin rumah tangga beres. Gak peduli mau kerja di kantor atau di rumah. Yang penting itu, suami dan istri menjadi pilar ekonomi untuk anak-anak. Yang penting itu, kalau salah satu dari pasangan pergi—yang ditinggalkan masih bisa mandiri. Yang penting itu, bagaimanapun kita bekerja, anak-anak tidak kekurangan perhatian orang tua. Yang penting itu, kemana pun, bagaimana pun orang cari nafkah, pasangannya ada di samping. Menambah yang kurang. Menjaga yang berharga.

***

By the way, yang terakhir itu salah satu yang bikin saya akhirnya semangat lagi walaupun hanya berdiam diri di rumah. Menjamin rumah tangga beres, Faris tumbuh dengan baik, dan tetap mencari tambahan penghasilan dengan bisnis online (walaupun bisnis online nya sekarang sedang sepi karena sempat vakum selama dua bulan lalu).


3/08/2015 01:14:00 AM Desi YuLiana
Saat masih di Indonesia, saya sering melihat buku ini terutama saat sedang belanja di toko buku online langganan saya. Cover yang unik! Itu kesan pertama saya saat melihat covernya, karena dari dulu saya memang suka gambar-gambar kartun klasik dan simple seperti itu. Dari sebuah cover, saya bisa judge bahwa novel ini pasti punya cerita yang bagus. Beberapa kali saya mengklik ‘add to cart’ tapi beberapa kali juga akhirnya saya mendelete nya saat mau checkout buku belanjaan. Aneh kan ya. Satu sisi tertarik. Sisi lainnya bilang nanti saja. –“

Well, singkat cerita, saat tiba di perantauan, entah kenapa mulai banyak muncul postingan teman-teman tentang buku ini. Kesan positif banyak terumbar. Ceritanya ringan, gampang diikuti, haru, dan sarat pesan yang bermakna. Alhasil saya semakin penasaran dan menyesali keputusan tidak membawa pulang novel ringan itu. Sekarang saya di sini, bagaimana caranya saya bisa punya buku itu? Rasa penasaran membahana, mengganggu pikiran beberapa lama. Sampai pernah terpikir minta dikirimkan dari Indonesia. Hadeuuuuh.. Rempong cyiiiin.

Di tengah kegalauan yang tiada berakhir itu.. (ini berlebihan), saat sedang berada di dalam songthew atau labi-labi ala Thailand menuju ke Central Plaza di pusat kota Chiang Rai, saya yang sedang memangku Faris yang tertidur mengintip aktivitas suami di tablet kami. Ternyata beliau sedang baca buku. Suatu hal yang jarang dilakukannya dulu. Alhamdulillah, senang rasanya lihat suami mulai suka baca buku lagi (jadi curhat). Tiba-tiba beliau memperlihatkan buku yang dibelinya di play store itu. Sedikit menceritakan isinya. Dan tiba-tiba lagi saya teringat akan kegalauan pada sebuah buku. Maka hanya dengan sekali bilang;

“Bang, Eci pengen baca buku Sabtu Bersama Bapak, katanya bagus ceritanya, penasaran.”
( … )
Menanti respon. Berharap tingkat kecepatan maksimal songthew.
( … )
Melirik ke sebelah, yang bersangkutan masih buka-buka play store.
( … )
Harapan sirna.

Tiba-tiba.

“Apa tadi judulnya?”
Horeeeee!!! \(^^)/
“Sabtu Bersama Bapak bang.”
Yang bersangkutan mengklik kolom search dan menuliskan judul yang diminta sang istri.
“Yang ini?” menunjukkan sebuah cover buku.
“Iya..” deg degan. Dibeliin gak yaaa..
“Mau baca kan?”
“Iya!” semangat tingkat Faris dapat ngeng-ngeng baru.
“Oke.”
Alhamdulillah..

Begitulah cerita singkat--tapi jadi panjang saat saya ceritakan di sini—bagaimana akhirnya saya bisa ikut bersama dalam alur cerita sederhana itu. Antara senang dan sedih. Senang karena akhirnya punya bukunya. Sedih karena gak punya buku ‘real’, tapi hanya punya e-booknya. Ini seperti apa yang selalu suami nasihatkan. Sabar dan syukur. Sabar karena gak punya buku real nya. Syukur karena ya punya bukunya walaupun gak dalam bentuk nyata. #apasihini –“

Baiklah.. sebenarnya postingan ini niatnya ingin mereview sedikit tentang buku Sabtu Bersama Bapak dan merangkum sedikit beberapa pesan dan nasihat yang mengena bagi diri saya sendiri. Tapi kenapa jadi kepanjangan curhatnya ya? Hehehe. Maafkan saya saudara-saudara.

***

Sabtu Bersama Bapak.

Ini cerita tentang seorang bapak, tentang seorang ibu, tentang anak-anak, tentang suami dan istri, dan tentang kehidupan.

Ini cerita tentang bagaimana seorang bapak membesarkan anak-anaknya dengan baik sekalipun raganya tidak bersama mereka.

Ini cerita tentang seorang suami yang meninggalkan istrinya tidak dengan tangan kosong tapi penuh dengan persiapan agar sang istri bisa melanjutkan kehidupan dengan baik walaupun tanpa kehadirannya.

Ini cerita tentang seorang istri dan ibu yang tetap bertahan walaupun hidup tanpa seorang pasangan.

Ini cerita tentang anak-anak yang dibesarkan dengan jiwa-jiwa laksmana, dengan pesan-pesan berharga, hingga mereka tumbuh dan berkembang baik menjadi seorang manusia.

Ini cerita tentang kehidupan yang sederhana, ringan untuk dibaca, tapi meninggalkan kesan yang sangat mengena. Ini novel yang sangat direkomendasikan untuk dibaca, baik bagi anak-anak dan orang tua.

Sekian review dari saya.

***

Selanjutnya beberapa pesan dalam cerita yang tetap ingin saya ingat. Ingin saya praktekkan. Saya abadikan di sini agar suatu saat tiba-tiba saya membutuhkannya, saya bisa dengan mudah menemukannya.

Page 50:
Orang tua selalu ingin memberikan contoh kesuksesannya. Kebanyakan, malu untuk memberikan contoh kegagalan sendiri. Dan mereka terdiam membiarkan anak-anaknya terperangkap di kesalahan yang sama.

Page 51:
Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.

Page 60:
Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orang tua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orang tua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.

Page 80:
Meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.

Page 86:
Ada orang yang merugikan orang lain.
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka.
Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri.
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri.
Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya.
Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain.

Page 104:
Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia anak sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.

Page 106:
Menjadi panutan bukan tugas anak sulung—kepada adik-adiknya.
Menjadi panutan adalah tugas orang tua—untuk semua anak.

Page 119:
Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Nilai kita datang dari sini, dari hati. Harga dari diri kita datang dari akhlak kita.

Page 130:
Berapa kali kamu jatuh itu gak penting. Yang penting berapa kali kamu bangkit lagi.

Page 150:
Beberapa orang dapat mengubah dunia dengan mimpi mereka. Mereka mengkristalisasi mimpi itu dengan rencana. Rencana itu mereka eksekusi dengan kerja keras. Ketika mereka gagal, mereka coba cara lain. Sementara beberapa lainnya tidak pernah menuangkan mimpinya dalam bentuk rencana. Apalagi bekerja untuk mewujudkan rencana itu.

Page 217
Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

Find someone complimentary, not supplementary.” – Oprah Winfrey

Page 255:
Beberapa orang merasa berharga jika mereka bekerja di kantor. Beberapa orang merasa berharga jika mereka memastikan diri berada di rumah dan menjamin rumah tangga beres. Gak peduli mau kerja di kantor atau di rumah. Yang penting itu, suami dan istri menjadi pilar ekonomi untuk anak-anak. Yang penting itu, kalau salah satu dari pasangan pergi—yang ditinggalkan masih bisa mandiri. Yang penting itu, bagaimanapun kita bekerja, anak-anak tidak kekurangan perhatian orang tua. Yang penting itu, kemana pun, bagaimana pun orang cari nafkah, pasangannya ada di samping. Menambah yang kurang. Menjaga yang berharga.

***

By the way, yang terakhir itu salah satu yang bikin saya akhirnya semangat lagi walaupun hanya berdiam diri di rumah. Menjamin rumah tangga beres, Faris tumbuh dengan baik, dan tetap mencari tambahan penghasilan dengan bisnis online (walaupun bisnis online nya sekarang sedang sepi karena sempat vakum selama dua bulan lalu).


Saturday, March 7, 2015

Enggak pernah kebayang dalam pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani profesi ini.

But.. here I am. Being a fulltime housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya (kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!

Setelah dijalani selama dua bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener! Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci piring aja gak bisa! Nah lho!

Saat kesabaran menghadapi Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:

“Ngapain kamu di sini, hanya di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”

“Pulang aja gih ke Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”

“Kawan-kawanmu di sana udah pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”

Lebih kurang demikianlah bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.

Ah, rasanya lemah sekali jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan. Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah. Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya berbeda.

Sedang berjuang untuk mereka
Dan sebenarnya jadi ibu rumah tangga itu keren lho. Ibu rumah tangga itu pemimpin atas rumahnya. Pemimpin atas anak-anaknya. Pemimpin atas kebutuhan suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga itu yang paling diperlukan dalam sebuah keluarga. Dan menjadi ibu rumah tangga yang professional itu sungguh gak mudah. Seorang istri harus punya pendidikan yang baik, sikap dan karakter yang baik, kesabaran, kedisiplinan, ketelitian, dan jiwa yang kuat untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Gak gampang! Serius!

Hanya berdiam di rumah sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah! Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi, menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi, menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa seluruh penghuni rumah pun bersih.

Seorang Ibu juga punya kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya, menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung halaman dulu.

Sekarang berbeda. Satu tahun yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan. 

This is my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!

*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu, dan kesabaranmu itu luar biasa! 

3/07/2015 01:14:00 AM Desi YuLiana
Enggak pernah kebayang dalam pikiran, sejak masih lajang, setelah menikah, bahkan setelah punya anak; akan menjadi Ibu Rumah Tangga. Tanpa berniat meng-underestimate profesi yang luar biasa ini, saya yang notabenenya suka jalan-jalan, kesana-kemari, ikut kegiatan ini kegiatan itu, secara singkatnya gak terlalu betah berdiam diri di rumah dan belum lihai memasak (oopss), mana terpikir suatu saat akhirnya akan menjalani profesi ini.

But.. here I am. Being a fulltime housewife in our small apartment (dormitory) in Chiang Rai, Thailand. Pertama kalinya jauh dari orang tua, pertama kalinya tinggal di luar negeri, dan pertama kalinya langsung menjadi ibu rumah tangga yang semua urusan di dalamnya (kerapian, kebersihan, keamanan Faris, makanan, dan sebagainya) itu menjadi tanggung jawab saya. What a thoughtful experience!

Setelah dijalani selama dua bulan, ternyata jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang lho. Susaaaaah bener! Apalagi ya bagi mereka yang pada dasarnya suka beraktivitas di luar rumah, yang punya impian super tinggi dan pengen ngelakuin banyak hal. Susahnya bukan di bagian ‘kerjaan’nya, tapi di bagian ‘perasaan’nya. Hehehe. Sesekali setan menang atas perasaan saya. Si setan ini seringnya gak senang lihat saya bisa sabar dan syukur atas apa yang saya jalani sekarang ini. Jatuh bangun mood ada beberapa hari sekali. Saat diri sedang semangat-semangatnya, tiba-tiba dikasih ujian dengan rewelnya Faris yang selalu butuh kawan main dan gak mau main sendirian kalau lagi hanya berdua dengan saya di kamar (beda nih kejadiannya kalau ada si Abi di kamar). Jangankan untuk doing things yang bisa meng-upgrade diri, nyelesaiin kerjaan rumah such as nyuci piring aja gak bisa! Nah lho!

Saat kesabaran menghadapi Faris sedang goyah, langsung deh si setan menghampiri dan membisikkan hal-hal yang selaluuuu berhasil bikin nambah galau:

“Ngapain kamu di sini, hanya di kamar sempit, ngurusin anak, ngurusin urusan rumah, sementara kawanmu di sana bisa ikut kegiatan ini itu yang bikin dirinya semakin baik.”

“Pulang aja gih ke Indonesia. You better there. Kamu di sana ada keluarga, ada teman-teman. Di sini hanya sendiri. Gak punya kawan, gak punya kegiatan gak punya masa depan.”

“Kawan-kawanmu di sana udah pada mau wisuda lho, kamu di sini hanya masak-nyuci-bersih-bersih dan ngurusin anak. Otakmu makin dumpul kalau hanya jadi pengurus rumah tangga!”

Lebih kurang demikianlah bisikan-bisikan kuat yang saya rasakan selama di sini. Beberapa kali saya kalah dan meminta pulang ke Indonesia pada suami. Beberapa kali saat lagi capek atau kehilangan ide memasak apa, dan lantas jadi kangen masakan bunda, saya juga minta pulang ke Indonesia. Beberapa kali juga saat tenggelam dalam suasana belajar mahasiswa di kampus Mae Fah Luang, saya teringat the beloved tesis dan minta pulang ke Indonesia. And then i realize, what a patient hubby, he is. Hehehe.

Ah, rasanya lemah sekali jiwa ini. Sebentar-sebentar tenggelam dalam bisikan setan. Terpengaruh lantas jatuh. Padahal kan harusnya tidak begitu. Allah ada di satu sisi, menguatkan. Sementara setan ada di sisi lain, menjatuhkan. Harusnya saya memilih Allah. Percaya pada janji-Nya. Toh ini keputusan saya sendiri. Toh hidup ini sebenar-benarnya roda yang berputar. Kalau dulu suami yang berjuang ekstra saat saya sedang S2, sekarang ya giliran saya. Walaupun bentuk perjuangannya berbeda.

Sedang berjuang untuk mereka
Dan sebenarnya jadi ibu rumah tangga itu keren lho. Ibu rumah tangga itu pemimpin atas rumahnya. Pemimpin atas anak-anaknya. Pemimpin atas kebutuhan suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga itu yang paling diperlukan dalam sebuah keluarga. Dan menjadi ibu rumah tangga yang professional itu sungguh gak mudah. Seorang istri harus punya pendidikan yang baik, sikap dan karakter yang baik, kesabaran, kedisiplinan, ketelitian, dan jiwa yang kuat untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Gak gampang! Serius!

Hanya berdiam di rumah sementara rekan seusianya sudah meniti karir entah kemana-kemana itu gak mudah! Bisikan-bisikan yang menjatuhkan sangat banyak. Padahal kalau ditelaah lagi, menghibahkan seluruh waktu untuk keluarga adalah hal paling mulia yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Menjamin suami dan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, menjamin segala kebutuhan suami dan anak-anak terpenuhi, menjamin bahwa suami dan anak-anak hidup di dalam rumah yang bersih hingga jiwa seluruh penghuni rumah pun bersih.

Seorang Ibu juga punya kewajiban penuh atas pendidikan anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan menjadi ibu rumah tangga, sekarang saya sedang diberikan kesempatan untuk mendidik Faris sebaik-baiknya, selalu ada di sampingnya, menjadi tidak hanya orang tua, tapi teman baginya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan dengan penuh saat masih sibuk menjadi mahasiswi tingkat akhir di kampung halaman dulu.

Sekarang berbeda. Satu tahun yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Sekarang saya adalah mahasiswi akhir yang sedang non-aktif di perkuliahan dan istri yang aktif dalam urusan pernikahan. 

This is my time. Ini waktu saya meng-upgrade diri yang sebenar-benarnya. Ini waktu untuk jiwa saya lebih berkembang. Ini waktu saya ditempah, dilatih, ditraining untuk tidak hanya menjadi istri atau ibu yang baik saja, tapi juga untuk menjadi diri saya yang baik seutuhnya, yang nantinya tidak hanya berguna bagi keluarga saya saya, tapi juga masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun terasa beratnya, saya harus menikmatinya!

*Big thanks to hubby. Nasihatmu, sokonganmu, dan kesabaranmu itu luar biasa!