Friday, March 1, 2013



"Aku telah belajar dari Barfi, bahwa kebahagiaan ini bisa ditemukan dalam hal yang kecil. Bahkan semangkuk air cukup buat kapal untuk berlayar. Dan jika kau memang benar percaya.. bahkan burung dari kertas bisa terbang."

"Barfi tetap selalu bahagia. Dan untuk beberapa alasan yang aneh, tanpa sadar.. aku selalu membawa kesulitan dalam hidupnya. Tapi dia tidak pernah mengeluh, baik tentang aku, maupun tentang kesulitan." 

***



He is cute. He's shrewd. The girls love him. The cops hate him. He can't speak but is always talked about. His naughty antics will make you scream, but he will never listen. Cos he can't!

Orang tuanya menamainya Murphy. Tapi orang-orang memanggil dan lebih mengenalnya dengan nama Barfi. Selalu optimis, bersemangat, usil (dikenal sebagai seorang 'troublemaker') dan tidak pernah mengeluh, walaupun terlahir sebagai seseorang yang tidak sempurna; bisu dan tuli. Ya, dialah Barfi, tokoh utama kita hari ini; seorang pemuda tunarungu, nakal, dan paling terkenal di seantero kota Darjeeling, India.

Film Barfi! ini berlatar belakang kota Darjeeling dan Kolkata, India di tahun 1972, 1978, dan 2012. Saya cukup tertarik dengan film ini, selain karena setting suasana, para pemain, hikmah/pesan yang tersirat, dan ceritanya secara keseluruhan, juga karena film ini dikemas dan disajikan dengan alur maju-mundur yang penuh misteri. Cukup menarik pastinya.

Ya. Barfi! Film ini punya cerita yang tak biasa, dengan alur maju-mundur yang sedikit membingungkan, tapi berhasil menciptakan rasa penasaran dan menjaga misteri ceritanya hingga akhir hayat (#eh). Walaupun dikemas dengan penuh misteri, film ini tidak lupa akan tema Romantic-Comedy yang diusungkan. Setiap misteri yang ada, dikupas secara perlahan dengan cara yang romantis, lucu dan tidak terlalu membuat kening berkerut.

***

Cinta. Memang sulit untuk menyebutkan apa arti cinta yang sesungguhnya, karena setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Sebagian akan mengatakan cinta tidak harus memiliki, dan sebagaian lain akan berkata sebaliknya; cinta harus memiliki. 

Cinta. Sulit juga untuk menyebutkan kenapa kita bisa jatuh cinta pada seseorang. Karena wajahnya kah? Karena sikapnya kah? Karena kepintarannya kah? Sebagian mungkin ada yang bisa menjawab karena ia tampan/cantik. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena sikapnya yang baik, santun, dan sebagainya. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena ilmu dan kepintaran yang ia miliki. Dan sebagian lain mungkin akan terdiam saat bertemu dengan pertanyaan kenapa bisa jatuh cinta pada seseorang.

Nah, dari beberapa alasan yang ada, bisa kita lihat, rata-rata kita akan jatuh cinta pada seseorang karena sesuatu yang tampak darinya, dan kita bisa menerima seseorang itu karena adanya kelebihan-kelebihan yang dimiliknya. Lantas pertanyaannya, berapa banyak kita yang bisa mencintai seseorang dalam kekurangannya? 

“Ketika kita bisa menerima sebuah kondisi yang dalam keadaan normal tidak bisa kita terima, mungkin itulah yang disebut cinta.”

Barfi! Secara keseluruhan film ini menceritakan tentang seorang pemuda (Barfi!) yang terlibat cinta segitiga dengan 2 orang wanita, Shruti dan Jhilmil. Shruti, seorang gadis cantik dari Kolkata yang membuat Barfi jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedangkan Jhilmil, gadis penderita autis, teman masa kecil Barfi yang karena satu hal menjadi tanggung jawab Barfi.


"Three young people learn that love can neither be defined nor contained by society's norms of normal and abnormal."

Jika ditelaah jauh lebih dalam, jelas kisah cinta ini sangatlah biasa dan bukan hal yang baru. Namun, kenyataan bahwa sosok Barfi digambarkan sebagai seorang tunarungu, dan Jhilmil adalah penderita autis, membuat kisah cinta dalam film ini menjadi tak biasa. Rasanya sulit bagi kita membayangkan akan ada cerita romantis antara dua orang dengan kekurangannya masing-masing ini. Namun kenyataannya, Barfi dalam film ini memperlihatkan pada kita bahwa cinta dalam kekurangan pun memiliki sisi romantisnya tersendiri. Lagipula, bukankah di dunia ini memang ada pasangan dengan komposisi seperti itu? Dan kata siapa mereka tidak bahagia?




Shruti, cinta pertama Barfi dalam satu narasi menceritakan, betapa indahnya cinta sejati itu. Cinta yang ingin ia temui dalam hidupnya. Cinta, seperti cinta yang ada di antara Kakek-Nenek nya. Cinta tak bersyarat. Cinta sejati, untuk hidup dan mati bersama, dalam pelukan satu sama lain. Dan itulah cinta yang ada di antara Barfi dan Jhilmil.

"Jhilmil yang beruntung. Dia tak ada rencana untuk jatuh cinta. Dia tak memikirkan konsekuensinya. Dia tak berpikir bagaimana hidup akan berubah. Dia hanya mencintainya tanpa syarat. Dan itu semua ternyata indah pada akhirnya." 

*** 

Tetap bahagia walau tidak sempurna dan serba berkekurangan. Tetap optimis walau diri terlahir berbeda dari orang-orang kebanyakan. Tetap tulus mencintai walau dalam keheningan dan kondisi yang melelahkan. Tetaplah HIDUP, kawans! 


3/01/2013 06:21:00 AM Desi YuLiana


"Aku telah belajar dari Barfi, bahwa kebahagiaan ini bisa ditemukan dalam hal yang kecil. Bahkan semangkuk air cukup buat kapal untuk berlayar. Dan jika kau memang benar percaya.. bahkan burung dari kertas bisa terbang."

"Barfi tetap selalu bahagia. Dan untuk beberapa alasan yang aneh, tanpa sadar.. aku selalu membawa kesulitan dalam hidupnya. Tapi dia tidak pernah mengeluh, baik tentang aku, maupun tentang kesulitan." 

***



He is cute. He's shrewd. The girls love him. The cops hate him. He can't speak but is always talked about. His naughty antics will make you scream, but he will never listen. Cos he can't!

Orang tuanya menamainya Murphy. Tapi orang-orang memanggil dan lebih mengenalnya dengan nama Barfi. Selalu optimis, bersemangat, usil (dikenal sebagai seorang 'troublemaker') dan tidak pernah mengeluh, walaupun terlahir sebagai seseorang yang tidak sempurna; bisu dan tuli. Ya, dialah Barfi, tokoh utama kita hari ini; seorang pemuda tunarungu, nakal, dan paling terkenal di seantero kota Darjeeling, India.

Film Barfi! ini berlatar belakang kota Darjeeling dan Kolkata, India di tahun 1972, 1978, dan 2012. Saya cukup tertarik dengan film ini, selain karena setting suasana, para pemain, hikmah/pesan yang tersirat, dan ceritanya secara keseluruhan, juga karena film ini dikemas dan disajikan dengan alur maju-mundur yang penuh misteri. Cukup menarik pastinya.

Ya. Barfi! Film ini punya cerita yang tak biasa, dengan alur maju-mundur yang sedikit membingungkan, tapi berhasil menciptakan rasa penasaran dan menjaga misteri ceritanya hingga akhir hayat (#eh). Walaupun dikemas dengan penuh misteri, film ini tidak lupa akan tema Romantic-Comedy yang diusungkan. Setiap misteri yang ada, dikupas secara perlahan dengan cara yang romantis, lucu dan tidak terlalu membuat kening berkerut.

***

Cinta. Memang sulit untuk menyebutkan apa arti cinta yang sesungguhnya, karena setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Sebagian akan mengatakan cinta tidak harus memiliki, dan sebagaian lain akan berkata sebaliknya; cinta harus memiliki. 

Cinta. Sulit juga untuk menyebutkan kenapa kita bisa jatuh cinta pada seseorang. Karena wajahnya kah? Karena sikapnya kah? Karena kepintarannya kah? Sebagian mungkin ada yang bisa menjawab karena ia tampan/cantik. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena sikapnya yang baik, santun, dan sebagainya. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena ilmu dan kepintaran yang ia miliki. Dan sebagian lain mungkin akan terdiam saat bertemu dengan pertanyaan kenapa bisa jatuh cinta pada seseorang.

Nah, dari beberapa alasan yang ada, bisa kita lihat, rata-rata kita akan jatuh cinta pada seseorang karena sesuatu yang tampak darinya, dan kita bisa menerima seseorang itu karena adanya kelebihan-kelebihan yang dimiliknya. Lantas pertanyaannya, berapa banyak kita yang bisa mencintai seseorang dalam kekurangannya? 

“Ketika kita bisa menerima sebuah kondisi yang dalam keadaan normal tidak bisa kita terima, mungkin itulah yang disebut cinta.”

Barfi! Secara keseluruhan film ini menceritakan tentang seorang pemuda (Barfi!) yang terlibat cinta segitiga dengan 2 orang wanita, Shruti dan Jhilmil. Shruti, seorang gadis cantik dari Kolkata yang membuat Barfi jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedangkan Jhilmil, gadis penderita autis, teman masa kecil Barfi yang karena satu hal menjadi tanggung jawab Barfi.


"Three young people learn that love can neither be defined nor contained by society's norms of normal and abnormal."

Jika ditelaah jauh lebih dalam, jelas kisah cinta ini sangatlah biasa dan bukan hal yang baru. Namun, kenyataan bahwa sosok Barfi digambarkan sebagai seorang tunarungu, dan Jhilmil adalah penderita autis, membuat kisah cinta dalam film ini menjadi tak biasa. Rasanya sulit bagi kita membayangkan akan ada cerita romantis antara dua orang dengan kekurangannya masing-masing ini. Namun kenyataannya, Barfi dalam film ini memperlihatkan pada kita bahwa cinta dalam kekurangan pun memiliki sisi romantisnya tersendiri. Lagipula, bukankah di dunia ini memang ada pasangan dengan komposisi seperti itu? Dan kata siapa mereka tidak bahagia?




Shruti, cinta pertama Barfi dalam satu narasi menceritakan, betapa indahnya cinta sejati itu. Cinta yang ingin ia temui dalam hidupnya. Cinta, seperti cinta yang ada di antara Kakek-Nenek nya. Cinta tak bersyarat. Cinta sejati, untuk hidup dan mati bersama, dalam pelukan satu sama lain. Dan itulah cinta yang ada di antara Barfi dan Jhilmil.

"Jhilmil yang beruntung. Dia tak ada rencana untuk jatuh cinta. Dia tak memikirkan konsekuensinya. Dia tak berpikir bagaimana hidup akan berubah. Dia hanya mencintainya tanpa syarat. Dan itu semua ternyata indah pada akhirnya." 

*** 

Tetap bahagia walau tidak sempurna dan serba berkekurangan. Tetap optimis walau diri terlahir berbeda dari orang-orang kebanyakan. Tetap tulus mencintai walau dalam keheningan dan kondisi yang melelahkan. Tetaplah HIDUP, kawans! 


Friday, February 1, 2013

...

Aku heran kepada orang yang mengenal maut, namun ia masih sempat tertawa.

Aku heran kepada orang yang tahu bahwa dunia itu akan binasa, tetapi ia masih mencintainya.

Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa semua sudah ditakdirkan, tetapi ia masih menyesali sesuatu yang lepas darinya.

Aku heran kepada orang yang meyakini adanya hisab, namun ia masih mengumpulkan kekayaan.

Aku heran kepada orang yang mengetahui adanya neraka, namun ia masih berbuat dosa.

Aku heran kepada orang yang mengetahui Dzat Allah, tetapi ia masih menyebut-nyebut selain-Nya.

Aku heran kepada orang yang sudah mengetahui adanya surga, tetapi dia masih mencari kesenangan duniawi.

Aku heran kepada orang yang percaya bahwa syetan itu musuhnya, tetapi ia masih mengikutinya.


...

Dikutip dari Kitab Ta'lim Fadhail A'mal--Fadhilah Dzikir, Hadits ke-15
2/01/2013 12:58:00 AM Desi YuLiana
...

Aku heran kepada orang yang mengenal maut, namun ia masih sempat tertawa.

Aku heran kepada orang yang tahu bahwa dunia itu akan binasa, tetapi ia masih mencintainya.

Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa semua sudah ditakdirkan, tetapi ia masih menyesali sesuatu yang lepas darinya.

Aku heran kepada orang yang meyakini adanya hisab, namun ia masih mengumpulkan kekayaan.

Aku heran kepada orang yang mengetahui adanya neraka, namun ia masih berbuat dosa.

Aku heran kepada orang yang mengetahui Dzat Allah, tetapi ia masih menyebut-nyebut selain-Nya.

Aku heran kepada orang yang sudah mengetahui adanya surga, tetapi dia masih mencari kesenangan duniawi.

Aku heran kepada orang yang percaya bahwa syetan itu musuhnya, tetapi ia masih mengikutinya.


...

Dikutip dari Kitab Ta'lim Fadhail A'mal--Fadhilah Dzikir, Hadits ke-15

Wednesday, January 16, 2013

...
Lega, senang, bahagia, haru, syukur yang tak berhingga, sedikit khawatir, dan beragam macam perasaan lainnya bercampur menjadi satu. Lega, karena akhirnya target utama di tahun 2012 lalu tercapai dan jawaban atas doaku selama ini diperlihatkannya. Ya. Akhirnyaaaa.. AKU MENYEMPURNAKAN SETENGAH AGAMA! \(^^)/ *teriak pake toa*

Rasanya masih gak percaya. Aku udah nikah? Aku udah jadi seorang Istri? Aku udah punya Suami? Aaaaa.. Alhamdulillah. Allah telah mempertemukanku dengan Imamku, Pangeranku, pemilik tulang rusuk yang ada dalam diriku #eaaa (berlebihan ya? GPP lah ya, namanya juga masih pengantin baru :p).

Masih sangat teringat bagaimana pertemuan pertama dan proses perkenalan (taaruf) yang aku dan suami jalani 3 bulan yang lalu. Ya, dari awal jumpa sampai menikah kami hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 bulan. Tidak lama kan? Setidaknya ini membuktikan bahwa nikah itu tidak harus diawali dengan perkenalan via pacaran yang bertahun-tahun dulu. 

Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi salah satu dari sekian banyaknya mereka yang menikah tanpa pacaran, mereka yang menikah dengan orang yang masih asing; yang baru dikenal dan belum banyak tahu tentang si calon luar dalamnya, mereka yang menikah tanpa ada rasa cinta sebelumnya. Serius lho saudara-saudara, tidak harus cinta dulu baru nikah, tapi nikah dulu, baru cinta!

Dan.. berhubung postingan kali ini sebagai ajang pamer acara nikah sekaligus buat kampanye nikah muda, maka yang paling penting yang harus aku sampaikan pada para bujangers sekalian adalah.. Jangan takut menikah, yakinlah, Allah akan memudahkan rezeki mereka yang berani menikah di usia muda. Cemungudh!

Well, ini dia beberapa 'pengabadian' acara sakral dan momen terindah dalam hidupku yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh; Minggu, 23 Desember 2012 lalu..

 

Calon Linto dan Dara baroe.


DagDigDug~~
Penyerahan mahar dari suami ke istri, plus salam (sentuhan) perdana :)
hihihi~~
Doa.
Foto keluarga gak boleh lupa :D

Dan.. inilah kami, yang sekarang sedang bersama-sama berjuang membangun sebuah keluarga. Semoga berkah, semoga bahagia, semoga terus bersama hingga akhir hayat. Amin Ya Rabbal Alamin..


 


Terima kasih semuanya; untuk doa, restu, kehadiran, dan sebagainya. Segera nyusul ya! #eh :)
Salam kami,
Desi Yuliana, S.Pd & Irfandi Djailani, S.Pd.I

1/16/2013 09:26:00 PM Desi YuLiana
...
Lega, senang, bahagia, haru, syukur yang tak berhingga, sedikit khawatir, dan beragam macam perasaan lainnya bercampur menjadi satu. Lega, karena akhirnya target utama di tahun 2012 lalu tercapai dan jawaban atas doaku selama ini diperlihatkannya. Ya. Akhirnyaaaa.. AKU MENYEMPURNAKAN SETENGAH AGAMA! \(^^)/ *teriak pake toa*

Rasanya masih gak percaya. Aku udah nikah? Aku udah jadi seorang Istri? Aku udah punya Suami? Aaaaa.. Alhamdulillah. Allah telah mempertemukanku dengan Imamku, Pangeranku, pemilik tulang rusuk yang ada dalam diriku #eaaa (berlebihan ya? GPP lah ya, namanya juga masih pengantin baru :p).

Masih sangat teringat bagaimana pertemuan pertama dan proses perkenalan (taaruf) yang aku dan suami jalani 3 bulan yang lalu. Ya, dari awal jumpa sampai menikah kami hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 bulan. Tidak lama kan? Setidaknya ini membuktikan bahwa nikah itu tidak harus diawali dengan perkenalan via pacaran yang bertahun-tahun dulu. 

Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi salah satu dari sekian banyaknya mereka yang menikah tanpa pacaran, mereka yang menikah dengan orang yang masih asing; yang baru dikenal dan belum banyak tahu tentang si calon luar dalamnya, mereka yang menikah tanpa ada rasa cinta sebelumnya. Serius lho saudara-saudara, tidak harus cinta dulu baru nikah, tapi nikah dulu, baru cinta!

Dan.. berhubung postingan kali ini sebagai ajang pamer acara nikah sekaligus buat kampanye nikah muda, maka yang paling penting yang harus aku sampaikan pada para bujangers sekalian adalah.. Jangan takut menikah, yakinlah, Allah akan memudahkan rezeki mereka yang berani menikah di usia muda. Cemungudh!

Well, ini dia beberapa 'pengabadian' acara sakral dan momen terindah dalam hidupku yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh; Minggu, 23 Desember 2012 lalu..

 

Calon Linto dan Dara baroe.


DagDigDug~~
Penyerahan mahar dari suami ke istri, plus salam (sentuhan) perdana :)
hihihi~~
Doa.
Foto keluarga gak boleh lupa :D

Dan.. inilah kami, yang sekarang sedang bersama-sama berjuang membangun sebuah keluarga. Semoga berkah, semoga bahagia, semoga terus bersama hingga akhir hayat. Amin Ya Rabbal Alamin..


 


Terima kasih semuanya; untuk doa, restu, kehadiran, dan sebagainya. Segera nyusul ya! #eh :)
Salam kami,
Desi Yuliana, S.Pd & Irfandi Djailani, S.Pd.I

Tuesday, December 4, 2012

Pagi ini, mendadak teringat satu lagu. Lagu yang beberapa tahun lalu sempat menimbulkan tanda-tanya, bisakah aku bertemu dengan angka yang ada pada judul lagu itu? Dan, Alhamdulillah. 3 hari lalu--2 Desember 2012--pertanyaan itu terjawab saudara-saudara. Lagu apakah itu?

Ah, hanya sebuah lagu biasa; sederhana, yang dinyanyikan oleh penyanyi yang biasa pula. Tapi, liriknya membawa pesan yang cukup men-#jleb!-kan bagi kita yang masih dianugrahi ke-waras-an dan kesadaran akan kurangnya amal ibadah kita di dunia.

***

Ebith Beat A - 24 Tahun

24 tahun………… Yaa Rabbana
Hamba di dunia….. Yaa Rabbana
Hamba banyak dosa… Yaa Rabbana
Hamba mohon ampun

Melupakan satu kewajiban kita di dunia 
yang telah tertuliskan dalam agama 
dalam keluarga
banyak tergiur oleh fantasi dunia
rajin mencapai cita
ada yang jadi artis yang jadi pejabat
tapi kenapa kita suka lupa
terhadap kewajiban kita semua
yang jadi artis banyak yang tidak hafal hadist
yang jadi pejabat banyak yang ninggalain sholat
ga jadi malu tetap begitu
padahal itu semua hanyalah tipu muslihat 
biar kita dilaknat
banyak ninggalin sholat, puasa apalagi dzikir cuma sekelebat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada kita semua 
makhluknya didunia
berusaha mencukupi kebutuhan menafkahi keluarga 
dari zaman Nabi Adam mencari Siti Hawa
dan Rasulullah bergerak dibidang niaga 
namun sebenarnya kita jangan lupa terhadap kewajiban kita semua
jangan lupa sholat
jangan lupa zakat
jangan lupa dzikir
sekarang mari kita evaluasi diri
apa kekurangan kita di dunia
kita perbaiki
buat bekal nanti di alam kekal


***



Well, ternyata diriku sudah tua saudara-saudara. Nggak terasa, 24 tahun udah ada di dunia. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkanku menapakkan kaki di buminya. Semoga, di usia yang semakin beranjak dewasa ini (#eaaaa) kehidupan: ibadah, ilmu, jasmani, rohani, dan hal-hal lainnya semakin membaik dari yang sebelumnya, bukan sebaliknya. Jangan sampai kesempatan mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang kekal di sana nanti ini malah aku pergunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya, naudzubillah. Semoga tidak lalai. Semoga tidak terbuai pada dunia. Semoga semakin cinta pada Al-Aqsha dan Palestina. Ah, doakan akuh saudara-saudara! Akuh akan berjuang! Ganbatte!

Teruntuk semua anggota keluarga, saudara, sahabat, dan teman-teman, terima kasih untuk kado, durian dan kuenya (#eh), terima kasih untuk doanya, terima kasih untuk masih setia berdiri di sampingku, terima kasih untuk tiap perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.


Arigatou gozaimasu, Minna-san ^^




12/04/2012 08:23:00 PM Desi YuLiana
Pagi ini, mendadak teringat satu lagu. Lagu yang beberapa tahun lalu sempat menimbulkan tanda-tanya, bisakah aku bertemu dengan angka yang ada pada judul lagu itu? Dan, Alhamdulillah. 3 hari lalu--2 Desember 2012--pertanyaan itu terjawab saudara-saudara. Lagu apakah itu?

Ah, hanya sebuah lagu biasa; sederhana, yang dinyanyikan oleh penyanyi yang biasa pula. Tapi, liriknya membawa pesan yang cukup men-#jleb!-kan bagi kita yang masih dianugrahi ke-waras-an dan kesadaran akan kurangnya amal ibadah kita di dunia.

***

Ebith Beat A - 24 Tahun

24 tahun………… Yaa Rabbana
Hamba di dunia….. Yaa Rabbana
Hamba banyak dosa… Yaa Rabbana
Hamba mohon ampun

Melupakan satu kewajiban kita di dunia 
yang telah tertuliskan dalam agama 
dalam keluarga
banyak tergiur oleh fantasi dunia
rajin mencapai cita
ada yang jadi artis yang jadi pejabat
tapi kenapa kita suka lupa
terhadap kewajiban kita semua
yang jadi artis banyak yang tidak hafal hadist
yang jadi pejabat banyak yang ninggalain sholat
ga jadi malu tetap begitu
padahal itu semua hanyalah tipu muslihat 
biar kita dilaknat
banyak ninggalin sholat, puasa apalagi dzikir cuma sekelebat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada kita semua 
makhluknya didunia
berusaha mencukupi kebutuhan menafkahi keluarga 
dari zaman Nabi Adam mencari Siti Hawa
dan Rasulullah bergerak dibidang niaga 
namun sebenarnya kita jangan lupa terhadap kewajiban kita semua
jangan lupa sholat
jangan lupa zakat
jangan lupa dzikir
sekarang mari kita evaluasi diri
apa kekurangan kita di dunia
kita perbaiki
buat bekal nanti di alam kekal


***



Well, ternyata diriku sudah tua saudara-saudara. Nggak terasa, 24 tahun udah ada di dunia. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkanku menapakkan kaki di buminya. Semoga, di usia yang semakin beranjak dewasa ini (#eaaaa) kehidupan: ibadah, ilmu, jasmani, rohani, dan hal-hal lainnya semakin membaik dari yang sebelumnya, bukan sebaliknya. Jangan sampai kesempatan mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang kekal di sana nanti ini malah aku pergunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya, naudzubillah. Semoga tidak lalai. Semoga tidak terbuai pada dunia. Semoga semakin cinta pada Al-Aqsha dan Palestina. Ah, doakan akuh saudara-saudara! Akuh akan berjuang! Ganbatte!

Teruntuk semua anggota keluarga, saudara, sahabat, dan teman-teman, terima kasih untuk kado, durian dan kuenya (#eh), terima kasih untuk doanya, terima kasih untuk masih setia berdiri di sampingku, terima kasih untuk tiap perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.


Arigatou gozaimasu, Minna-san ^^




Saturday, November 17, 2012

Oleh: Taufik Ismail



Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu,
serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku,
meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan,
lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria,
serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua,
serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam,
di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu
cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit
serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka,
penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta,
jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi
‘Allahu Akbar!’
dan
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara,
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila,
mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:
doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap
pejuang yang menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa bi-Llah!’ 

Palestina,
bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.



***

Published with Blogger-droid v2.0.6
11/17/2012 03:36:00 PM Desi YuLiana
Oleh: Taufik Ismail



Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu,
serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku,
meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan,
lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria,
serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua,
serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam,
di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu
cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit
serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka,
penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta,
jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi
‘Allahu Akbar!’
dan
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara,
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila,
mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:
doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap
pejuang yang menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa bi-Llah!’ 

Palestina,
bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.



***

Published with Blogger-droid v2.0.6

Thursday, September 27, 2012



Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



9/27/2012 06:45:00 PM Desi YuLiana


Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



Wednesday, September 19, 2012

Senin (17 September 2012) lalu termasuk hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari itu, dengan segala perang di pikiran melawan keinginan dan kenyataan, dengan berat hati saya langkahkan kaki menuju gedung FKIP Unsyiah, tepatnya ke ruang sekretariat SM3T. Tujuan saya hari itu hanya satu: mengundurkan diri aka mencabut nama saya dari mereka--para pejuang pendidikan--yang dinyatakan lulus menjadi guru kontrak SM3T.

Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 
Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tujuannya dan intinya satu: penyamarataan pendidikan!
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar 
Sebagai seseorang yang telah dan pernah mendapatkan pendidikan yang layak, Sarjana Pendidikan mana yang tidak tergerak hatinya untuk bisa ikut ambil bagian dari program SM3T ini? Apalagi didukung dengan adanya janji beasiswa penuh PPG setelah setahun pengabdian. Ini kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Maka itu, saya mau! Sangat mau! 

Setelah beberapa kali membaca dan mencari info sebanyak-banyaknya terkait penerimaan peserta SM3T dan meyakinkan diri bahwa niat di hati sejalan dengan tujuan dari program ini, langkah selanjutnya yang saya rasa agak berat adalah menyampaikan niat ini kepada orang tua. Perkiraan saya benar, Ayah tidak mengizinkan. Alasannya karena ayah tahu betul bahwa saya tidak akan sanggup hidup di daerah terpencil dan jauh dari orang tua. #JLEB! Padahal.. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya kan? Bukankah selama masih aktif di kegiatan PRAMUKA di SMA dulu saya 'lolos' dan baik-baik saja saat ikut kegiatan perkemahan, penjelajahan, dan sebagainya? Saat SMA juga, saya pernah ikut kegiatan PKM organisasi PII di desa terpencil selama satu minggu, dan semuanya baik-baik saja. PRAMUKA atau kegiatan organisasi itu memang berbeda dengan SM3T ini, tapi begitulah saya meyakinkan ayah bahwa setidaknya saya yakin saya bisa, dan saya sanggup untuk keluar dari zona aman ini. Dan izin itu tetap tidak saya dapatkan.

*galau tingkat nggak bisa makan ayam goreng selama tujuh bulan* #eh

Satu bulan sejak gagal mendaftar menjadi salah satu peserta SM3T, bantuan Allah datang secara tiba-tiba. Bunda, dengan begitu semangatnya mengabarkan dan memperlihatkan salah satu berita di koran Serambi yang berjudul 'FKIP Unsyiah kembali membuka pendaftaran peserta SM3T tahap II'. Entah kenapa, Bunda yang saat saya meminta izin sebulan lalu itu hanya diam saja kali ini kelihatan begitu bersemangat menyarankan saya untuk ikut serta. Ayah? Secara tiba-tiba menanyakan keterangan lebih lanjut tentang SM3T (setelah membaca berita itu) terkait daerah tujuan penempatan--yang saat itu masih tertera di Aceh--dan akhirnya menganggukkan kepalanya--mengizinkan saya mendaftar--saat saya meminta izinnya kembali. Alhamdulillah. Ini salah satu keajaiban.

Singkat cerita, akhirnya nama saya resmi terdaftar sebagai salah satu calon peserta program SM3T. Ujian online secara serentak se-Indonesia dilaksanakan dan Alhamdulillah, saya termasuk dari 46% peserta dari Aceh yang lulus. Satu jalan sudah terbuka dan terasa semakin dekat dengan perjuangan itu. Namun, berhubung saat itu saya sudah mulai aktif kuliah di pasca sarjana, ada sedikit rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Bagaimana saya akan menjalaninya? Bisakah nantinya saya mengabdi di daerah 3T sambil kuliah? Maka itu, saya sangat berharap mendapat 'tugas' di daerah Aceh yang terjangkau untuk bisa pulang pergi ke Banda Aceh setiap minggunya. 

Hidup ini pilihan. Kadang kita dipilih, kadang kita memilih. Terkadang kita dihadapkan pada dua hal, dua hal yang benar-benar kita inginkan, tapi tentu saja kita tidak bisa memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan, kita harus memilih salah satunya saja. Dari situ saya mulai terpikir bahwa nantinya akan ada satu yang saya korbankan. SM3T atau kuliah S2 ini. Walaupun rasanya berat dan seperti tidak mungkin meninggalkan kuliah yang baru saja akan dimulai, seluruh berkas/dokumen kelengkapan seleksi wawancara tetap saya persiapkan. Lumayan banyak. Butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semua berkasnya. Yang paling menggelisahkan dan membuat diri curiga adalah adanya surat pernyataan bersedia di tempatkan di seluruh daerah NKRI yang harus ditanda-tangani oleh orang tua plus dibubuhkan materai, nah lho? *khawatir tingkat mahasiswa mau sidang akhir*. Tapi.. masih tetap berharap, Aceh termasuk daerah 'pelemparan' kami nantinya.

Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae? 

Saya mulai linglung, ragu. Di sudut hati yang paling dalam (eaaaa) saya memilih maju, dan berharap ayah akan tetap mengizinkan walaupun nantinya saya harus mengabdi di luar Aceh. Yang saya khawatirkan saat itu hanya bagaimana nasib kuliah S2 saya? Bagaimana? Tidak ada jawaban! Yang ada hanya bisikan untuk terus maju dan tidak menyatakan mundur saat pewawancara menanyai kami satu-persatu. Saya benar-benar ingin ikut program SM3T ini. Saya benar-benar ingin keluar dari zona aman dan bisa ikut berjuang mengajar plus mengabdi di daerah-daerah tertinggal itu. Sekalipun itu harus keluar Aceh. Ya! Bukankah itu tantangan yang sebenarnya? Bukankah itu arti dari keluar dari zona aman yang sebenarnya? Maka saya semakin yakin untuk maju, lantas memilih Kepulauan Natuna sebagai pilihan pertama dan Kepulauan Anambas sebagai pilihan kedua. Toh, semua anak-anak di luar Aceh sana juga berhak mendapatkan pendidikan!

sumber: https://indonesiamengajar.org/
sumber: https://indonesiamengajar.org/

Selesai wawancara, sebab bertemu dengan teman-teman yang mengeluhkan daerah penempatan yang tidak ada Acehnya itu, penggalauan itu muncul lagi. Ah, betapa tidak konsistennya hati saya. Jika mereka mengeluhkan dan ragu maju karena daerah penempatan, saya ragu karena kuliah S2, izin orang tua sama sekali tidak terpikirkan saat itu. Hanya ada dua pilihan untuk masa depan saya: SM3T atau lanjut S2? SM3T atau S2? SM3T atau S2? Masya Allah.. Galau-segalau-galaunya.

Sampai akhirnya, titik terang itu muncul. Ayah jelas menyatakan keberatannya atas daerah penempatan yang di luar Aceh itu, dan itu juga berkaitan dengan sudah mulai masuknya perkuliahan S2 saya yang sayang jika harus ditinggalkan. Singkat cerita, keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat mengabdi dan merasakan pengalaman baru itu akhirnya harus saya kubur dalam-dalam. Bukankah izin dan ridha orang tua adalah yang utama? Baiklah. Saya memilih berhenti dan mengundurkan diri. Mungkin memang belum waktunya saya melewati jalan itu. Allah Maha Tahu, Allah tahu jalan terbaik untuk hamba-Nya, dan saya yakin Allah merencanakan jalan lain, perjuangan lain yang tidak kalah baiknya untuk saya, Insha Allah. Harus ikhlas.Ya, harus ikhlas!
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Oleh karena itu, dengan segala rasa iri dan cemburu tak menentu pada para calon pejuang SM3T yang telah dinyatakan lulus, saya ucapkan, selamat berjuang teman-teman. Kalian adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang punya kesempatan menyalakan lilin dan menyebarkan sinarnya pada pendidikan di Indonesia. Ingat, tidak semua orang beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Jangan pernah sia-siakan, oke! Mengajar, mendidik, dan mengabdilah di daerah tugas kalian masing-masing dengan sebaik-baiknya. Merdeka! Mabruk! Semangaaaaaatttt!!!

Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.

9/19/2012 10:26:00 PM Desi YuLiana
Senin (17 September 2012) lalu termasuk hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari itu, dengan segala perang di pikiran melawan keinginan dan kenyataan, dengan berat hati saya langkahkan kaki menuju gedung FKIP Unsyiah, tepatnya ke ruang sekretariat SM3T. Tujuan saya hari itu hanya satu: mengundurkan diri aka mencabut nama saya dari mereka--para pejuang pendidikan--yang dinyatakan lulus menjadi guru kontrak SM3T.

Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 
Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tujuannya dan intinya satu: penyamarataan pendidikan!
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar 
Sebagai seseorang yang telah dan pernah mendapatkan pendidikan yang layak, Sarjana Pendidikan mana yang tidak tergerak hatinya untuk bisa ikut ambil bagian dari program SM3T ini? Apalagi didukung dengan adanya janji beasiswa penuh PPG setelah setahun pengabdian. Ini kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Maka itu, saya mau! Sangat mau! 

Setelah beberapa kali membaca dan mencari info sebanyak-banyaknya terkait penerimaan peserta SM3T dan meyakinkan diri bahwa niat di hati sejalan dengan tujuan dari program ini, langkah selanjutnya yang saya rasa agak berat adalah menyampaikan niat ini kepada orang tua. Perkiraan saya benar, Ayah tidak mengizinkan. Alasannya karena ayah tahu betul bahwa saya tidak akan sanggup hidup di daerah terpencil dan jauh dari orang tua. #JLEB! Padahal.. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya kan? Bukankah selama masih aktif di kegiatan PRAMUKA di SMA dulu saya 'lolos' dan baik-baik saja saat ikut kegiatan perkemahan, penjelajahan, dan sebagainya? Saat SMA juga, saya pernah ikut kegiatan PKM organisasi PII di desa terpencil selama satu minggu, dan semuanya baik-baik saja. PRAMUKA atau kegiatan organisasi itu memang berbeda dengan SM3T ini, tapi begitulah saya meyakinkan ayah bahwa setidaknya saya yakin saya bisa, dan saya sanggup untuk keluar dari zona aman ini. Dan izin itu tetap tidak saya dapatkan.

*galau tingkat nggak bisa makan ayam goreng selama tujuh bulan* #eh

Satu bulan sejak gagal mendaftar menjadi salah satu peserta SM3T, bantuan Allah datang secara tiba-tiba. Bunda, dengan begitu semangatnya mengabarkan dan memperlihatkan salah satu berita di koran Serambi yang berjudul 'FKIP Unsyiah kembali membuka pendaftaran peserta SM3T tahap II'. Entah kenapa, Bunda yang saat saya meminta izin sebulan lalu itu hanya diam saja kali ini kelihatan begitu bersemangat menyarankan saya untuk ikut serta. Ayah? Secara tiba-tiba menanyakan keterangan lebih lanjut tentang SM3T (setelah membaca berita itu) terkait daerah tujuan penempatan--yang saat itu masih tertera di Aceh--dan akhirnya menganggukkan kepalanya--mengizinkan saya mendaftar--saat saya meminta izinnya kembali. Alhamdulillah. Ini salah satu keajaiban.

Singkat cerita, akhirnya nama saya resmi terdaftar sebagai salah satu calon peserta program SM3T. Ujian online secara serentak se-Indonesia dilaksanakan dan Alhamdulillah, saya termasuk dari 46% peserta dari Aceh yang lulus. Satu jalan sudah terbuka dan terasa semakin dekat dengan perjuangan itu. Namun, berhubung saat itu saya sudah mulai aktif kuliah di pasca sarjana, ada sedikit rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Bagaimana saya akan menjalaninya? Bisakah nantinya saya mengabdi di daerah 3T sambil kuliah? Maka itu, saya sangat berharap mendapat 'tugas' di daerah Aceh yang terjangkau untuk bisa pulang pergi ke Banda Aceh setiap minggunya. 

Hidup ini pilihan. Kadang kita dipilih, kadang kita memilih. Terkadang kita dihadapkan pada dua hal, dua hal yang benar-benar kita inginkan, tapi tentu saja kita tidak bisa memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan, kita harus memilih salah satunya saja. Dari situ saya mulai terpikir bahwa nantinya akan ada satu yang saya korbankan. SM3T atau kuliah S2 ini. Walaupun rasanya berat dan seperti tidak mungkin meninggalkan kuliah yang baru saja akan dimulai, seluruh berkas/dokumen kelengkapan seleksi wawancara tetap saya persiapkan. Lumayan banyak. Butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semua berkasnya. Yang paling menggelisahkan dan membuat diri curiga adalah adanya surat pernyataan bersedia di tempatkan di seluruh daerah NKRI yang harus ditanda-tangani oleh orang tua plus dibubuhkan materai, nah lho? *khawatir tingkat mahasiswa mau sidang akhir*. Tapi.. masih tetap berharap, Aceh termasuk daerah 'pelemparan' kami nantinya.

Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae? 

Saya mulai linglung, ragu. Di sudut hati yang paling dalam (eaaaa) saya memilih maju, dan berharap ayah akan tetap mengizinkan walaupun nantinya saya harus mengabdi di luar Aceh. Yang saya khawatirkan saat itu hanya bagaimana nasib kuliah S2 saya? Bagaimana? Tidak ada jawaban! Yang ada hanya bisikan untuk terus maju dan tidak menyatakan mundur saat pewawancara menanyai kami satu-persatu. Saya benar-benar ingin ikut program SM3T ini. Saya benar-benar ingin keluar dari zona aman dan bisa ikut berjuang mengajar plus mengabdi di daerah-daerah tertinggal itu. Sekalipun itu harus keluar Aceh. Ya! Bukankah itu tantangan yang sebenarnya? Bukankah itu arti dari keluar dari zona aman yang sebenarnya? Maka saya semakin yakin untuk maju, lantas memilih Kepulauan Natuna sebagai pilihan pertama dan Kepulauan Anambas sebagai pilihan kedua. Toh, semua anak-anak di luar Aceh sana juga berhak mendapatkan pendidikan!

sumber: https://indonesiamengajar.org/
sumber: https://indonesiamengajar.org/

Selesai wawancara, sebab bertemu dengan teman-teman yang mengeluhkan daerah penempatan yang tidak ada Acehnya itu, penggalauan itu muncul lagi. Ah, betapa tidak konsistennya hati saya. Jika mereka mengeluhkan dan ragu maju karena daerah penempatan, saya ragu karena kuliah S2, izin orang tua sama sekali tidak terpikirkan saat itu. Hanya ada dua pilihan untuk masa depan saya: SM3T atau lanjut S2? SM3T atau S2? SM3T atau S2? Masya Allah.. Galau-segalau-galaunya.

Sampai akhirnya, titik terang itu muncul. Ayah jelas menyatakan keberatannya atas daerah penempatan yang di luar Aceh itu, dan itu juga berkaitan dengan sudah mulai masuknya perkuliahan S2 saya yang sayang jika harus ditinggalkan. Singkat cerita, keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat mengabdi dan merasakan pengalaman baru itu akhirnya harus saya kubur dalam-dalam. Bukankah izin dan ridha orang tua adalah yang utama? Baiklah. Saya memilih berhenti dan mengundurkan diri. Mungkin memang belum waktunya saya melewati jalan itu. Allah Maha Tahu, Allah tahu jalan terbaik untuk hamba-Nya, dan saya yakin Allah merencanakan jalan lain, perjuangan lain yang tidak kalah baiknya untuk saya, Insha Allah. Harus ikhlas.Ya, harus ikhlas!
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Oleh karena itu, dengan segala rasa iri dan cemburu tak menentu pada para calon pejuang SM3T yang telah dinyatakan lulus, saya ucapkan, selamat berjuang teman-teman. Kalian adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang punya kesempatan menyalakan lilin dan menyebarkan sinarnya pada pendidikan di Indonesia. Ingat, tidak semua orang beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Jangan pernah sia-siakan, oke! Mengajar, mendidik, dan mengabdilah di daerah tugas kalian masing-masing dengan sebaik-baiknya. Merdeka! Mabruk! Semangaaaaaatttt!!!

Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.

Tuesday, September 11, 2012

Setelah berkutat selama 2 minggu menghadapi matrikulasi belajar Matematika full dari pagi sampai sore, Alhamdulillah akhirnya Bunda takluk juga dengan rayuan 'refreshing' ke laut hari Minggu lalu. Pilihan jatuh pada si eksotik pantai Lhoknga. Rindu yang luar biasa pada keindahan pantainya memanggil saya ke sana. Dan here we are.. Lhokngaaaaa!

Penampakan Lhoknga dari atas bukit Desa Mamplan
 
Anak Gahul Banda
 
Uri Omma :D

 ~ \(^^) /~

9/11/2012 08:48:00 PM Desi YuLiana
Setelah berkutat selama 2 minggu menghadapi matrikulasi belajar Matematika full dari pagi sampai sore, Alhamdulillah akhirnya Bunda takluk juga dengan rayuan 'refreshing' ke laut hari Minggu lalu. Pilihan jatuh pada si eksotik pantai Lhoknga. Rindu yang luar biasa pada keindahan pantainya memanggil saya ke sana. Dan here we are.. Lhokngaaaaa!

Penampakan Lhoknga dari atas bukit Desa Mamplan
 
Anak Gahul Banda
 
Uri Omma :D

 ~ \(^^) /~

Duhai mata..
Kau itu jendela utama aku menatap dunia.
Tetaplah bernyawa, hingga jantungku mengakhiri nadanya...

Duhai telinga..
Kau itu jalan utama aku menerima suara.
Tetaplah berirama, hingga paru-paruku tak lagi menampung udara...

Duhai mulut yang dibagi dua..
Kau itu pintu utama aku menyampaikan rasa.
Tetaplah terjaga, hingga otakku tak sanggup lagi mengatur raga...

Duhai jiwa..
Kau itu taman sementara manusia.
Tetaplah menghamba, hingga yang Kuasa mengajakmu pulang pada-Nya...

Duhai kita..
Siapkah jika harus meninggalkan dunia? ...


9/11/2012 07:42:00 PM Desi YuLiana
Duhai mata..
Kau itu jendela utama aku menatap dunia.
Tetaplah bernyawa, hingga jantungku mengakhiri nadanya...

Duhai telinga..
Kau itu jalan utama aku menerima suara.
Tetaplah berirama, hingga paru-paruku tak lagi menampung udara...

Duhai mulut yang dibagi dua..
Kau itu pintu utama aku menyampaikan rasa.
Tetaplah terjaga, hingga otakku tak sanggup lagi mengatur raga...

Duhai jiwa..
Kau itu taman sementara manusia.
Tetaplah menghamba, hingga yang Kuasa mengajakmu pulang pada-Nya...

Duhai kita..
Siapkah jika harus meninggalkan dunia? ...