Sunday, April 29, 2012

Menyadari hidup cukup bergantung dengan musik sebenarnya sedikit membuat gelisah juga. Bagaimana tidak? Sampai sekarang perkara mendengarkan musik ini masih menjadi hal yang diperdebatkan jika kita membicarakannya secara Islam. Ada yang bilang mendengar musik itu haram, ada yang bilang mubah, ada yang bilang boleh-boleh saja (tergantung niat dan tujuan dari musik itu). Jika ditanya saya pilih yang mana? Saya hanya bisa menjawab, saya memegang pendapat yang boleh.

Sebenarnya ragu. Ya, saya sedikit ragu. Beberapa persen di hati saya menyarankan tidak, sementara selebihnya tetap kekeuh mempersilahkan. Yah, apapun itu, bagaimana pun perdebatan itu, sampai sekarang saya masih tetap setia mendengarkan musik. Dan parahnya, saya memang sangat bergantung pada musik. Hidup terasa datar jika dalam sehari saya tidak bertemu dengan alunan-alunan nada dan irama yang menenangkan jiwa itu. Satu hal yang pasti, jika musik yang saya dengarkan itu sebatas lagu-lagu nasyid (baca: lagu-lagu keislaman)--yang notabene nya bisa menjadi satu sarana untuk intropeksi diri, semakin mencintai Sang Pencipta diri, dan hal-hal lain menuju kebaikan--sebenarnya tidak masalah. Tapi apa? Sayangnya sekarang ini saya lebih sering mendengarkan musik-musik Korea, Jepang, Barat, India, dan musik lain yang saya suka yang jauh dari hal-hal berbau keislaman. Ah, maafkan aku Tuhan! 

Saya selalu berharap ketergantungan terhadap musik stadium empat ini tidak membawa dampak buruk apapun bagi saya. Saya juga berharap, bagaimana pun beratnya, saya harus tetap hidup dalam keseimbangan. Misalnya: jika kita rutin membaca buku, koran, postingan-postingan di internet, artikel, dan sebagainya, maka kita juga harus rutin membaca Al-Quran, dan buku-buku pengetahuan agama. Sering mendengarkan musik, tentu harus dibarengi juga dengan sering mendengarkan Murottal Al-Quran dan sejenisnya. Seimbang! Semoga bisa ya. Harus bisa! Ting!

Baiklah, postingan ini tujuannya ingin berbagi daftar musik-musik instrumental kesukaan. Boleh? Boleh lah! Blog punya siapa? Yang nulis siapa? Masalah buat loe? #eh. Ampun pemirsa, hanya bercanda :D

Oke, semua udah pada tahu apa itu instrumental kan ya? Kalau belum, mari kita baca sedikit penjelasan yang saya kupies dari situs sejuta umat 'Wikipedia' berikut ini:

Instrumental, kontras dengan lagu, adalah suatu komposisi atau rekaman musik tanpa lirik atau musik vokal dalam bentuk apapun; semua musik dihasilkan melalui alat musik. Secara spesifik, istilah ini digunakan jika merujuk pada musik populer; beberapa genre musik menggunakan sedikit unsur suara manusia, seperti jazz, musik elektronika, dan sejumlah besar musik klasik Eropa (walaupun pada musik elektronika, suara dapat dicuplik seperti jenis-jenis bunyi lainnya). Pada musik komersial, beberapa lagu pada suatu album mungkin berupa instrumental yang merupakan salinan sama persis dari lagu lain pada album tersebut, tanpa adanya unsur vokal.

Paham? Kalau belum paham, silahkan layangkan pertanyaan anda ke alamat Mbah Gugel terdekat, jangan pada saya, karena saya bukan guru musik, apalagi guru anda! :P

Well, tentu ada perbedaan saat kita mendengarkan instrumental dan lagu-lagu biasa. Beda! Sangat beda! Hal ini dikhususkan untuk musik yang sebenarnya instrumental ya, bukan musik lagu yang dihilangkan suara vokalnya. Bedanya apa? Jika suatu lagu bisa kita tangkap arti, makna dan tujuannya melalu lirik lagu tersebut, maka pada instrumental kita bisa merasakan 'sesuatu' dari alunan nadanya tanpa perlu adanya bantuan lirik sedikit pun. Musik instrumental itu berbicara, dan dia berbicara langsung ke hati dan jiwa kita (eaaaa). Kalau nggak percaya, silahkan dengarkan sendiri. Dengarkan dan resapi iramanya jauh lebih dalam, jauh lebih dalam..

Nah, dari ribuan file instrumental yang tersebar di seantero dunia, yang saya daftarkan di bawah ini hanya beberapa dari sekian banyaknya instrumental yang 'masuk' dan 'setia bertahan' di hati saya. Apa sajakah itu? Cekidot!

  1. Ichi Ritoru no Namida - One Liter of Tears OST
  2. The Fire of Love - City Hunter OST
  3. Prelude - Taisetsu na Koto wa Subete Kimi ga Oshiete Kureta OST
  4. Heartbreak - Kal Ho Na Ho OST
  5. Dancing Jodi - Rab Ne Bana Di Jodi OST
  6. Rhythms of Mohabbatein - Mohabbatein OST
  7. Tears of Necklace - 49 Days OST
  8. Devil's Tears - 49 Days OST
  9. Destiny - Shining Inheritance OST
  10. Are We a Family - Shining Inheritance OST

Ke-sepuluh judul instrumental di atas itu yang paling setia saya dengarkan (sebenarnya masih banyak yang lainnya, namun, karena keterbatasan informasi dan tidak tersimpannya file di laptop pribadi, hanya beberapa itu saja yang bisa saya daftarkan *bow*). Saya rutin mendengarkan musik-musik 'penyayat jiwa' itu, baik di saat senang, semangat, ataupun sebaliknya. Karena semua musik instrumental itu punya kekuatan yang berbeda-beda, sesuaikan saja dengan suasana dan keadaan anda, dan lihatlah bagaimana sepotong musik itu mampu merubah perasaan anda *evil smile*.

Selamat berburu dan mendengarkan isntrumental!
*Saya sangat berterima kasih jika ada yang sudi memberitahukan, menginformasikan, bahkan mengkopipastekan musik-musik instrumental rekomendasi dari anda, hehehe*


4/29/2012 10:58:00 PM Desi YuLiana
Menyadari hidup cukup bergantung dengan musik sebenarnya sedikit membuat gelisah juga. Bagaimana tidak? Sampai sekarang perkara mendengarkan musik ini masih menjadi hal yang diperdebatkan jika kita membicarakannya secara Islam. Ada yang bilang mendengar musik itu haram, ada yang bilang mubah, ada yang bilang boleh-boleh saja (tergantung niat dan tujuan dari musik itu). Jika ditanya saya pilih yang mana? Saya hanya bisa menjawab, saya memegang pendapat yang boleh.

Sebenarnya ragu. Ya, saya sedikit ragu. Beberapa persen di hati saya menyarankan tidak, sementara selebihnya tetap kekeuh mempersilahkan. Yah, apapun itu, bagaimana pun perdebatan itu, sampai sekarang saya masih tetap setia mendengarkan musik. Dan parahnya, saya memang sangat bergantung pada musik. Hidup terasa datar jika dalam sehari saya tidak bertemu dengan alunan-alunan nada dan irama yang menenangkan jiwa itu. Satu hal yang pasti, jika musik yang saya dengarkan itu sebatas lagu-lagu nasyid (baca: lagu-lagu keislaman)--yang notabene nya bisa menjadi satu sarana untuk intropeksi diri, semakin mencintai Sang Pencipta diri, dan hal-hal lain menuju kebaikan--sebenarnya tidak masalah. Tapi apa? Sayangnya sekarang ini saya lebih sering mendengarkan musik-musik Korea, Jepang, Barat, India, dan musik lain yang saya suka yang jauh dari hal-hal berbau keislaman. Ah, maafkan aku Tuhan! 

Saya selalu berharap ketergantungan terhadap musik stadium empat ini tidak membawa dampak buruk apapun bagi saya. Saya juga berharap, bagaimana pun beratnya, saya harus tetap hidup dalam keseimbangan. Misalnya: jika kita rutin membaca buku, koran, postingan-postingan di internet, artikel, dan sebagainya, maka kita juga harus rutin membaca Al-Quran, dan buku-buku pengetahuan agama. Sering mendengarkan musik, tentu harus dibarengi juga dengan sering mendengarkan Murottal Al-Quran dan sejenisnya. Seimbang! Semoga bisa ya. Harus bisa! Ting!

Baiklah, postingan ini tujuannya ingin berbagi daftar musik-musik instrumental kesukaan. Boleh? Boleh lah! Blog punya siapa? Yang nulis siapa? Masalah buat loe? #eh. Ampun pemirsa, hanya bercanda :D

Oke, semua udah pada tahu apa itu instrumental kan ya? Kalau belum, mari kita baca sedikit penjelasan yang saya kupies dari situs sejuta umat 'Wikipedia' berikut ini:

Instrumental, kontras dengan lagu, adalah suatu komposisi atau rekaman musik tanpa lirik atau musik vokal dalam bentuk apapun; semua musik dihasilkan melalui alat musik. Secara spesifik, istilah ini digunakan jika merujuk pada musik populer; beberapa genre musik menggunakan sedikit unsur suara manusia, seperti jazz, musik elektronika, dan sejumlah besar musik klasik Eropa (walaupun pada musik elektronika, suara dapat dicuplik seperti jenis-jenis bunyi lainnya). Pada musik komersial, beberapa lagu pada suatu album mungkin berupa instrumental yang merupakan salinan sama persis dari lagu lain pada album tersebut, tanpa adanya unsur vokal.

Paham? Kalau belum paham, silahkan layangkan pertanyaan anda ke alamat Mbah Gugel terdekat, jangan pada saya, karena saya bukan guru musik, apalagi guru anda! :P

Well, tentu ada perbedaan saat kita mendengarkan instrumental dan lagu-lagu biasa. Beda! Sangat beda! Hal ini dikhususkan untuk musik yang sebenarnya instrumental ya, bukan musik lagu yang dihilangkan suara vokalnya. Bedanya apa? Jika suatu lagu bisa kita tangkap arti, makna dan tujuannya melalu lirik lagu tersebut, maka pada instrumental kita bisa merasakan 'sesuatu' dari alunan nadanya tanpa perlu adanya bantuan lirik sedikit pun. Musik instrumental itu berbicara, dan dia berbicara langsung ke hati dan jiwa kita (eaaaa). Kalau nggak percaya, silahkan dengarkan sendiri. Dengarkan dan resapi iramanya jauh lebih dalam, jauh lebih dalam..

Nah, dari ribuan file instrumental yang tersebar di seantero dunia, yang saya daftarkan di bawah ini hanya beberapa dari sekian banyaknya instrumental yang 'masuk' dan 'setia bertahan' di hati saya. Apa sajakah itu? Cekidot!

  1. Ichi Ritoru no Namida - One Liter of Tears OST
  2. The Fire of Love - City Hunter OST
  3. Prelude - Taisetsu na Koto wa Subete Kimi ga Oshiete Kureta OST
  4. Heartbreak - Kal Ho Na Ho OST
  5. Dancing Jodi - Rab Ne Bana Di Jodi OST
  6. Rhythms of Mohabbatein - Mohabbatein OST
  7. Tears of Necklace - 49 Days OST
  8. Devil's Tears - 49 Days OST
  9. Destiny - Shining Inheritance OST
  10. Are We a Family - Shining Inheritance OST

Ke-sepuluh judul instrumental di atas itu yang paling setia saya dengarkan (sebenarnya masih banyak yang lainnya, namun, karena keterbatasan informasi dan tidak tersimpannya file di laptop pribadi, hanya beberapa itu saja yang bisa saya daftarkan *bow*). Saya rutin mendengarkan musik-musik 'penyayat jiwa' itu, baik di saat senang, semangat, ataupun sebaliknya. Karena semua musik instrumental itu punya kekuatan yang berbeda-beda, sesuaikan saja dengan suasana dan keadaan anda, dan lihatlah bagaimana sepotong musik itu mampu merubah perasaan anda *evil smile*.

Selamat berburu dan mendengarkan isntrumental!
*Saya sangat berterima kasih jika ada yang sudi memberitahukan, menginformasikan, bahkan mengkopipastekan musik-musik instrumental rekomendasi dari anda, hehehe*


Sunday, April 22, 2012

Bertambah lagi daftar hal-hal yang harus aku syukuri tahun ini. Kali ini, tentang pulang. Pulang ke tanah kelahiran yang sudah sangat ku rindukan #eaaaa. Dimanakah itu? Yah, kemana lagi kalau bukan Lhokseumawe. Kota kecil, sederhana yang sepertinya sedang mulai menampakkan perkembangannya (ah, semoga perkembangan itu ke arah kebaikan ya, bukan sebaliknya).

Kalau tidak salah hitung-menghitung, sudah setahun beberapa bulan aku tak pulang ke kota itu. Terakhir bersilaturahmi dengan saudara dan kawan-kawan di sana adalah saat Hari Raya Idul Fitri tahun 2010. Rindu? Iyalah! Jangan ditanya sudah berapa kali aku merayu-rayu Ayah untuk memberikan izin pulang ke sana, dan jangan diragukan lagi sudah beberapa kali pulalah permintaanku ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Dan jangan tanyakan alasannya, karena aku juga nggak tahu kenapa, kenapa Ayah sangat susah membiarkan aku pulang ke sana, padahal Lhokseumawe itu dekat dan di sana jelas; banyak saudara dan orang-orang yang ku kenal. So, apa yang harus Ayah khawatirkan?

Baiklah, setidaknya, segala kegalauan dan kerinduan pada Lhokseumawe telah terbayar minggu ini. Alhamdulillah, melalui pernikahan si kakak, akhirnya aku bisa pulang. Horee! Tidak bisa dipungkiri, tujuan pulangku ke sana bukan hanya untuk ikut serta mengantar dara baro, tapi juga bernostalgia dengan semuanya. Kapan lagi kan? Aih, bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali? *evil smile*.

Awalnya, ragu. Jelas ragunya. Apalagi saat mengetahui bahwa Ayah, Bunda, dan rombongan lain dari Banda Aceh akan pulang ke Banda di hari itu juga, setelah selesai acara. Aku? Aku gimana? Rasanya rugi luar biasa jika harus pulang di hari yang sama. Aku bimbang. Aku mumang. Aku mendadak garang #eh *berlebihan*. Tidak ingin membuang kesempatan, dengan perkataan yang super baik, sopan, dan ramah aku bertanya pada Ayah: 
"Yah, dek boleh gak ikut pulang sekalian ma Ayah Bunda? Dek boleh main-main dulu di Lhok? Entar dek pulang sendiri, beberapa hariiiiiiii aja. Ya Yah ya? *wink-wink". 

Singkat cerita, ada keajaiban yang terjadi. Akhirnya aku bisa menetap (hanya) beberapa hari di Lhokseumawe. Sebenarnya ingin lebih lama, tapi apa daya, ujian TOEFL ITP menantiku di Banda Aceh (kalau saja bukan ITP, sudah ku tinggalkan dia!). Aku pun harus segera pulang (lho? Belum cerita kok udah mau pulang?). 

Berkunjung ke Lhokseumawe berarti ngumpul-ngumpul dengan kawan lama. Itu wajib hukumnya! Haha, sadis. Dan syukur, agenda itu bisa terlaksana. Walaupun yang hadir (karena memang ada di Lhokseumawe) hari itu hanya tiga dari sembilan anggota 'geng' lainnya. Ingin rasanya punya kesempatan berkumpul dengan semuanya. Ingin rasanya melihat dan bersama-bersama dengan ke-sembilan kawan-kawan terdekat (SMA) di waktu dan tempat yang sama pula. Aih, kapan? Tapi, tak mengapalah, bisa bertatap muka dengan yang tiga ini juga udah senang luar biasa, yang lain bisa ditemui di Banda. Gampang! *mulai ngawur kaya'nya*. 

Well, cerita pulang ke sana beberapa hari yang lalu tidak luput dari yang namanya 'makan-makan'. Ah, gak perlu heran. Jangankan di sana, di Banda saja aku memang doyan makan. Jadi, saat di kota kelahiran pun sudah pasti aku harus banyak makan. Karena hidup itu untuk makan. *Merdeka!* #plak!. 

Bersyukur ada keluarga tetangga yang sangat bisa diandalkan. Kedekatan dengan mereka rasanya bukan lagi kedekatan sebagai tetangga, namun sudah memasuki area "saudara". Bisa dibilang, aku jauh lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan keluarga saudara lainnya. Jangan tanya kenapa! Empat malam di sana, maka tiga malam aku habiskan dengan acara makan-makan bersama mereka (kenapa tidak empat malam? karena satu malam ku habiskan di rumah saudara. Oke!). Tidak tanggung-tanggung, mereka mau berjauh-jauh ke Batuphat demi semangkok 'empek-empek' kesukaan si anak tetangga dari Banda ini.

Lebih kurang empat hari aku di sana. Banyak tempat baru yang aku jelajahi, salah satunya Komplek Perumahan Exxon Mobil yang sekarang disulap menjadi kampus Universitas Malikussaleh. Unik! Komplek perumahan yang telah lama ditinggalkan penghuninya itu sekarang berubah suasana menjadi lahan belajar para mahasiswa. Rumah-rumah warga disulap menjadi ruang kuliah, perpustakaan, lab, dan sebagainya. Oke, ide yang bagus! Setidaknya komplek yang dibangun dengan dana yang tak murah itu tidak terbuang percuma.

Berikut beberapa foto kenangan yang sempat diabadikan selama di sana: 
 
"Little Crazy Girls" Ini geng (masa kecil) paling terkenal di seantero Lr. H. Hasan - Uteun Bayi
Urineun.. (Rock Band) Oeyo? Hahaha
Dua orang di sini penyusup. Satu (paling depan) si anak tetangga, satu lagi (cowok, paling belakang) si adek ganteng yg muncul (kembali) dengan tiba-tiba
The Girls ~
The Boys ~
Demikianlah kisah yang tak seberapamana ini. Niatnya cukup banyak yang hendak ditulis dan diceritakan ke kawan-kawan semua. Tapi sepertinya inspirasi sedang tidak bersamaku malam ini. Entah kemana dia terbang. Semua yang hendak dituang pun begitu saja menghilang. Sayang. Daripada bertambah bimbang, lebih baik ku akhiri saja cerita aneh ini dengan pesan seseorang:

"Menarik dipandang, potret! Menarik dipikirkan, tulis!"

*merupakan postingan seorang kawan di akun twitter miliknya. Ini jelas membangkitkan semangat fotografi dan menulisku saat membacanya. Dan mungkin cerita aneh di atas lah hasilnya. Tak apa, yang penting: "Tulislah, walau satu ayat! #eh*

 Terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya. Salam Namaste!



4/22/2012 06:44:00 AM Desi YuLiana
Bertambah lagi daftar hal-hal yang harus aku syukuri tahun ini. Kali ini, tentang pulang. Pulang ke tanah kelahiran yang sudah sangat ku rindukan #eaaaa. Dimanakah itu? Yah, kemana lagi kalau bukan Lhokseumawe. Kota kecil, sederhana yang sepertinya sedang mulai menampakkan perkembangannya (ah, semoga perkembangan itu ke arah kebaikan ya, bukan sebaliknya).

Kalau tidak salah hitung-menghitung, sudah setahun beberapa bulan aku tak pulang ke kota itu. Terakhir bersilaturahmi dengan saudara dan kawan-kawan di sana adalah saat Hari Raya Idul Fitri tahun 2010. Rindu? Iyalah! Jangan ditanya sudah berapa kali aku merayu-rayu Ayah untuk memberikan izin pulang ke sana, dan jangan diragukan lagi sudah beberapa kali pulalah permintaanku ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Dan jangan tanyakan alasannya, karena aku juga nggak tahu kenapa, kenapa Ayah sangat susah membiarkan aku pulang ke sana, padahal Lhokseumawe itu dekat dan di sana jelas; banyak saudara dan orang-orang yang ku kenal. So, apa yang harus Ayah khawatirkan?

Baiklah, setidaknya, segala kegalauan dan kerinduan pada Lhokseumawe telah terbayar minggu ini. Alhamdulillah, melalui pernikahan si kakak, akhirnya aku bisa pulang. Horee! Tidak bisa dipungkiri, tujuan pulangku ke sana bukan hanya untuk ikut serta mengantar dara baro, tapi juga bernostalgia dengan semuanya. Kapan lagi kan? Aih, bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali? *evil smile*.

Awalnya, ragu. Jelas ragunya. Apalagi saat mengetahui bahwa Ayah, Bunda, dan rombongan lain dari Banda Aceh akan pulang ke Banda di hari itu juga, setelah selesai acara. Aku? Aku gimana? Rasanya rugi luar biasa jika harus pulang di hari yang sama. Aku bimbang. Aku mumang. Aku mendadak garang #eh *berlebihan*. Tidak ingin membuang kesempatan, dengan perkataan yang super baik, sopan, dan ramah aku bertanya pada Ayah: 
"Yah, dek boleh gak ikut pulang sekalian ma Ayah Bunda? Dek boleh main-main dulu di Lhok? Entar dek pulang sendiri, beberapa hariiiiiiii aja. Ya Yah ya? *wink-wink". 

Singkat cerita, ada keajaiban yang terjadi. Akhirnya aku bisa menetap (hanya) beberapa hari di Lhokseumawe. Sebenarnya ingin lebih lama, tapi apa daya, ujian TOEFL ITP menantiku di Banda Aceh (kalau saja bukan ITP, sudah ku tinggalkan dia!). Aku pun harus segera pulang (lho? Belum cerita kok udah mau pulang?). 

Berkunjung ke Lhokseumawe berarti ngumpul-ngumpul dengan kawan lama. Itu wajib hukumnya! Haha, sadis. Dan syukur, agenda itu bisa terlaksana. Walaupun yang hadir (karena memang ada di Lhokseumawe) hari itu hanya tiga dari sembilan anggota 'geng' lainnya. Ingin rasanya punya kesempatan berkumpul dengan semuanya. Ingin rasanya melihat dan bersama-bersama dengan ke-sembilan kawan-kawan terdekat (SMA) di waktu dan tempat yang sama pula. Aih, kapan? Tapi, tak mengapalah, bisa bertatap muka dengan yang tiga ini juga udah senang luar biasa, yang lain bisa ditemui di Banda. Gampang! *mulai ngawur kaya'nya*. 

Well, cerita pulang ke sana beberapa hari yang lalu tidak luput dari yang namanya 'makan-makan'. Ah, gak perlu heran. Jangankan di sana, di Banda saja aku memang doyan makan. Jadi, saat di kota kelahiran pun sudah pasti aku harus banyak makan. Karena hidup itu untuk makan. *Merdeka!* #plak!. 

Bersyukur ada keluarga tetangga yang sangat bisa diandalkan. Kedekatan dengan mereka rasanya bukan lagi kedekatan sebagai tetangga, namun sudah memasuki area "saudara". Bisa dibilang, aku jauh lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan keluarga saudara lainnya. Jangan tanya kenapa! Empat malam di sana, maka tiga malam aku habiskan dengan acara makan-makan bersama mereka (kenapa tidak empat malam? karena satu malam ku habiskan di rumah saudara. Oke!). Tidak tanggung-tanggung, mereka mau berjauh-jauh ke Batuphat demi semangkok 'empek-empek' kesukaan si anak tetangga dari Banda ini.

Lebih kurang empat hari aku di sana. Banyak tempat baru yang aku jelajahi, salah satunya Komplek Perumahan Exxon Mobil yang sekarang disulap menjadi kampus Universitas Malikussaleh. Unik! Komplek perumahan yang telah lama ditinggalkan penghuninya itu sekarang berubah suasana menjadi lahan belajar para mahasiswa. Rumah-rumah warga disulap menjadi ruang kuliah, perpustakaan, lab, dan sebagainya. Oke, ide yang bagus! Setidaknya komplek yang dibangun dengan dana yang tak murah itu tidak terbuang percuma.

Berikut beberapa foto kenangan yang sempat diabadikan selama di sana: 
 
"Little Crazy Girls" Ini geng (masa kecil) paling terkenal di seantero Lr. H. Hasan - Uteun Bayi
Urineun.. (Rock Band) Oeyo? Hahaha
Dua orang di sini penyusup. Satu (paling depan) si anak tetangga, satu lagi (cowok, paling belakang) si adek ganteng yg muncul (kembali) dengan tiba-tiba
The Girls ~
The Boys ~
Demikianlah kisah yang tak seberapamana ini. Niatnya cukup banyak yang hendak ditulis dan diceritakan ke kawan-kawan semua. Tapi sepertinya inspirasi sedang tidak bersamaku malam ini. Entah kemana dia terbang. Semua yang hendak dituang pun begitu saja menghilang. Sayang. Daripada bertambah bimbang, lebih baik ku akhiri saja cerita aneh ini dengan pesan seseorang:

"Menarik dipandang, potret! Menarik dipikirkan, tulis!"

*merupakan postingan seorang kawan di akun twitter miliknya. Ini jelas membangkitkan semangat fotografi dan menulisku saat membacanya. Dan mungkin cerita aneh di atas lah hasilnya. Tak apa, yang penting: "Tulislah, walau satu ayat! #eh*

 Terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya. Salam Namaste!



Thursday, April 19, 2012

Aku tertipu..
Ada tanda tanya yang dalam sebelumnya.
Bagaimana?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tertipu?

Dirinya yang menggalau ku anggap sebagai petunjuk semua.
Aku terima.
Tapi ternyata tertipu dia.

Jera?
Jelas. Sangatlah iya.

Setelah lama, ini kali pertama dibuka.
Karena tipuannya, pintu itu harus ditutup semula.
Dan kunci manis dikembalikan lagi pada tempatnya.

Apa masih ada tanda tanya?
Saat aku temukan fakta antara dia dan dirinya?

Mungkin sedikit bodoh aku merasa.
Sedikit mudah aku dipikirnya.
Dan sedikit acuan untuk jawaban tanda tanyanya.

Tapi begitu.
Aku memang tertipu.
Saat dia membatu.
Di sela dirinya yang mengharu.
Dan segala tanya itu membisu.

Jera! 

*Untuk seorang kawan, akhirnya kau temukan jawabannya! Karena fakta itu ada dan tidak selamanya indah* :)
"Truth is like the sun. You can shut it out for a time, but it ain't goin' away." - Elvis Presley

Published with Blogger-droid v2.0.4

4/19/2012 09:54:00 PM Desi YuLiana
Aku tertipu..
Ada tanda tanya yang dalam sebelumnya.
Bagaimana?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tertipu?

Dirinya yang menggalau ku anggap sebagai petunjuk semua.
Aku terima.
Tapi ternyata tertipu dia.

Jera?
Jelas. Sangatlah iya.

Setelah lama, ini kali pertama dibuka.
Karena tipuannya, pintu itu harus ditutup semula.
Dan kunci manis dikembalikan lagi pada tempatnya.

Apa masih ada tanda tanya?
Saat aku temukan fakta antara dia dan dirinya?

Mungkin sedikit bodoh aku merasa.
Sedikit mudah aku dipikirnya.
Dan sedikit acuan untuk jawaban tanda tanyanya.

Tapi begitu.
Aku memang tertipu.
Saat dia membatu.
Di sela dirinya yang mengharu.
Dan segala tanya itu membisu.

Jera! 

*Untuk seorang kawan, akhirnya kau temukan jawabannya! Karena fakta itu ada dan tidak selamanya indah* :)
"Truth is like the sun. You can shut it out for a time, but it ain't goin' away." - Elvis Presley

Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, April 12, 2012

Panggilan pada penumpang bus k*rnia jurusan Lhokseumawe telah terdengar dari pengeras suara di seantero terminal. Beberapa remaja yang sedari tadi asyik bercerita tampak mulai berubah ekspresi wajahnya. Satu orang di antara mereka akan pergi. Pergi ke kota yang jauh dari tempat mereka saat ini. Pergi yang masih belum diketahui apa akan kembali lagi atau tidak ke sini. Pergi yang mengartikan mereka akan berpisah, tak berjumpa, entah hanya untuk beberapa masa atau selamanya.

Seorang remaja tinggi, kurus, berkacamata yang mengenakan jilbab biru dan baju berbahan jins kesayangannya tampak masih memegang erat tangan temannya. Wajahnya mendung. Ia tampak sangat berat meninggalkan semuanya. Awalnya ia hanya senyum biasa, mencoba menahan apa yang memaksa keluar dari matanya saat berbincang-bincang tadi. Namun, jabatan tangan dan pelukan hangat perpisahan dari teman-temannya akhirnya merobohkan pertahanannya. Hujan mulai turun di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah ke dalam bus yang akan membawanya jauh dari teman-temannya itu.

Tapi, the show must go on. Setiap pertemuan pasti ditutup dengan perpisahan. Selamat tinggal, teman!

Dari dalam bus, tak henti-hentinya ia melambaikan tangan pada teman-teman yang masih setia mengantar keberangkatannya. Bukan hanya ia, teman-temannya di luar bus sana pun juga bermandikan air mata. Wajah remaja-remaja itu basah. Karena di sinilah mereka harus berpisah.

Bus mulai melaju pelan dari parkiran terminal. Wajah teman-teman kesayangan pun sedikit demi sedikit mulai hilang ditelan jalan. Bus akhirnya meluncur ke jalan raya, bersiap menantang maut di jalan perbukitan kelok 99 dan di sepanjang jalan selama menempuh perjalanan 30 jam. Padang - Lhokseumawe.

Remaja berkacamata tadi tampak masih muram, butuh waktu hampir satu jam untuk meredakan hujan deras di wajahnya. Ibu di sampingnya hanya bisa menahan haru melihat beban yang anak bungsunya rasakan saat itu. Ah, sekali lagi. Selamat tinggal teman! Selamat tinggal Padang!

***

13 April 2002 - 13 April 2012.

Tepat 10 tahun remaja berkacamata tadi meninggalkan tanah Minang. Ah, sekalipun dianggap berlebihan, ia tetap kekeuh mengatakan Padang; kota dengan sentero kenangan.

Betapa ia masih mengingat bagaimana cerita-cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya; Komplek Anggaran Surau Gadang, di sekolah pertamanya di sana; MIN Gunung Pangilun, di sekolah terakhirnya: MTsN Model Gunung Pangilun Padang, di rumah teman-temannya; Siteba, Tunggul Hitam, dan sebagainya, di lokasi-lokasi wisata; Cagar Alam Malibo Anai, Lembah Anai, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Kelok 44, Danau Maninjau, Danau Singkarang, Pantai Painan, dan sebagainya.. Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang ia dapatkan selama hampir 3 tahun menetap di tanah dengan aliran materialisme itu.

Ia hanya tidak bisa lupa, karena di sana ia rasakan apa yang namanya kenyamanan. Baik itu di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan tempat ia meraih pendidikan. Kenyamanan yang sedikit berbeda dengan yang dirasakan di tanah kelahirannya. Itu bisa dibuktikan dengan bagaimana ia bisa lancar berbahasa Minang daripada bahasa daerah asalnya sendiri. Aneh memang, 3 tahun di tanah Minang vs seluruh tahun yang dihabiskan di tanah rencong.

Remaja berkacamata yang sekarang ini semakin dewasa namun masih berkacamata itu rindu kota Padang. Ia ingin pulang, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, mengunjungi kembali bangunan sekolah dan tempat-tempat kenangan lainnya, dan melanjutkan petualangan di sana. Itu targetnya tahun ini. Semoga!

Published with Blogger-droid v2.0.4
4/12/2012 06:25:00 PM Desi YuLiana

Panggilan pada penumpang bus k*rnia jurusan Lhokseumawe telah terdengar dari pengeras suara di seantero terminal. Beberapa remaja yang sedari tadi asyik bercerita tampak mulai berubah ekspresi wajahnya. Satu orang di antara mereka akan pergi. Pergi ke kota yang jauh dari tempat mereka saat ini. Pergi yang masih belum diketahui apa akan kembali lagi atau tidak ke sini. Pergi yang mengartikan mereka akan berpisah, tak berjumpa, entah hanya untuk beberapa masa atau selamanya.

Seorang remaja tinggi, kurus, berkacamata yang mengenakan jilbab biru dan baju berbahan jins kesayangannya tampak masih memegang erat tangan temannya. Wajahnya mendung. Ia tampak sangat berat meninggalkan semuanya. Awalnya ia hanya senyum biasa, mencoba menahan apa yang memaksa keluar dari matanya saat berbincang-bincang tadi. Namun, jabatan tangan dan pelukan hangat perpisahan dari teman-temannya akhirnya merobohkan pertahanannya. Hujan mulai turun di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah ke dalam bus yang akan membawanya jauh dari teman-temannya itu.

Tapi, the show must go on. Setiap pertemuan pasti ditutup dengan perpisahan. Selamat tinggal, teman!

Dari dalam bus, tak henti-hentinya ia melambaikan tangan pada teman-teman yang masih setia mengantar keberangkatannya. Bukan hanya ia, teman-temannya di luar bus sana pun juga bermandikan air mata. Wajah remaja-remaja itu basah. Karena di sinilah mereka harus berpisah.

Bus mulai melaju pelan dari parkiran terminal. Wajah teman-teman kesayangan pun sedikit demi sedikit mulai hilang ditelan jalan. Bus akhirnya meluncur ke jalan raya, bersiap menantang maut di jalan perbukitan kelok 99 dan di sepanjang jalan selama menempuh perjalanan 30 jam. Padang - Lhokseumawe.

Remaja berkacamata tadi tampak masih muram, butuh waktu hampir satu jam untuk meredakan hujan deras di wajahnya. Ibu di sampingnya hanya bisa menahan haru melihat beban yang anak bungsunya rasakan saat itu. Ah, sekali lagi. Selamat tinggal teman! Selamat tinggal Padang!

***

13 April 2002 - 13 April 2012.

Tepat 10 tahun remaja berkacamata tadi meninggalkan tanah Minang. Ah, sekalipun dianggap berlebihan, ia tetap kekeuh mengatakan Padang; kota dengan sentero kenangan.

Betapa ia masih mengingat bagaimana cerita-cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya; Komplek Anggaran Surau Gadang, di sekolah pertamanya di sana; MIN Gunung Pangilun, di sekolah terakhirnya: MTsN Model Gunung Pangilun Padang, di rumah teman-temannya; Siteba, Tunggul Hitam, dan sebagainya, di lokasi-lokasi wisata; Cagar Alam Malibo Anai, Lembah Anai, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Kelok 44, Danau Maninjau, Danau Singkarang, Pantai Painan, dan sebagainya.. Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang ia dapatkan selama hampir 3 tahun menetap di tanah dengan aliran materialisme itu.

Ia hanya tidak bisa lupa, karena di sana ia rasakan apa yang namanya kenyamanan. Baik itu di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan tempat ia meraih pendidikan. Kenyamanan yang sedikit berbeda dengan yang dirasakan di tanah kelahirannya. Itu bisa dibuktikan dengan bagaimana ia bisa lancar berbahasa Minang daripada bahasa daerah asalnya sendiri. Aneh memang, 3 tahun di tanah Minang vs seluruh tahun yang dihabiskan di tanah rencong.

Remaja berkacamata yang sekarang ini semakin dewasa namun masih berkacamata itu rindu kota Padang. Ia ingin pulang, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, mengunjungi kembali bangunan sekolah dan tempat-tempat kenangan lainnya, dan melanjutkan petualangan di sana. Itu targetnya tahun ini. Semoga!

Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, April 9, 2012

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Tangan kanannya menggenggam manja sebuah agenda berwarna sama.
Sementara di sebelah lainnya ada pena yang tak berbeda warna.
Sama..
Gadis cilik itu senada..

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik tersenyum riang dengan mimpinya.
Ia sendiri, tapi tak ada kegelisahan di matanya.
Ia sendiri, tapi nyata menunjukkan semangatnya.
Ia sendiri, berjuang, meraih mimpi demi sebuah cita.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik yang sama tapi wajahnya berbeda.
Ada seorang penjaga di sampingnya.
Walaupun kedua sahabatnya; agenda dan pena masih ada di genggamannya.
Auranya pudar, ada beban berat yang pasti sedang dipikulnya.
Aku bertanya, hanya bisa bertanya, ada apa, ada apa dengan si gadis cilik yang ceria?

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik berlinangan air mata.
Wajahnya basah mendamba mimpi yang telah tiada.
Sang penjaga rupanya, ia yang merampas mimpi itu darinya.
Si gadis cilik tampak masih berusaha, meyakinkan sang penjaga, meminta sebait izin untuk meraih cita.
Tapi apa, sang penjaga tetap memaksa.
Hanya ada satu jalan bagi si gadis cilik, mematuhi aturan dan menjalankan perintah sang penjaga.
Karena menurutnya itu yang terbaik bagi gadis ciliknya.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik.
Masih setia bersama gaun, agenda dan pena merah mudanya.
Wajahnya sedikit tertawa, tapi hampa.
Ia masih berharap mimpinya.
Ia masih meminta pada sang penguasa, yang tahtanya jauh di atas sang penjaga.
Matanya bicara, ia butuh bantuan mereka, yang mengerti dirinya dan bernasib sama.
Ia ingin dimudahkan segalanya dan dinyalakan kembali citanya.
Ia pun menguat agar tak putus asa.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Ia mengangkat tangannya, berdoa.
Semoga.
Semoga sang penjaga luluh hatinya.
Karena ia yakin, harapan itu selalu ada..

Published with Blogger-droid v2.0.4
4/09/2012 05:47:00 AM Desi YuLiana
Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Tangan kanannya menggenggam manja sebuah agenda berwarna sama.
Sementara di sebelah lainnya ada pena yang tak berbeda warna.
Sama..
Gadis cilik itu senada..

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik tersenyum riang dengan mimpinya.
Ia sendiri, tapi tak ada kegelisahan di matanya.
Ia sendiri, tapi nyata menunjukkan semangatnya.
Ia sendiri, berjuang, meraih mimpi demi sebuah cita.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik yang sama tapi wajahnya berbeda.
Ada seorang penjaga di sampingnya.
Walaupun kedua sahabatnya; agenda dan pena masih ada di genggamannya.
Auranya pudar, ada beban berat yang pasti sedang dipikulnya.
Aku bertanya, hanya bisa bertanya, ada apa, ada apa dengan si gadis cilik yang ceria?

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik berlinangan air mata.
Wajahnya basah mendamba mimpi yang telah tiada.
Sang penjaga rupanya, ia yang merampas mimpi itu darinya.
Si gadis cilik tampak masih berusaha, meyakinkan sang penjaga, meminta sebait izin untuk meraih cita.
Tapi apa, sang penjaga tetap memaksa.
Hanya ada satu jalan bagi si gadis cilik, mematuhi aturan dan menjalankan perintah sang penjaga.
Karena menurutnya itu yang terbaik bagi gadis ciliknya.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik.
Masih setia bersama gaun, agenda dan pena merah mudanya.
Wajahnya sedikit tertawa, tapi hampa.
Ia masih berharap mimpinya.
Ia masih meminta pada sang penguasa, yang tahtanya jauh di atas sang penjaga.
Matanya bicara, ia butuh bantuan mereka, yang mengerti dirinya dan bernasib sama.
Ia ingin dimudahkan segalanya dan dinyalakan kembali citanya.
Ia pun menguat agar tak putus asa.

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik bergaun merah muda.
Ia mengangkat tangannya, berdoa.
Semoga.
Semoga sang penjaga luluh hatinya.
Karena ia yakin, harapan itu selalu ada..

Published with Blogger-droid v2.0.4