4 Desember 1999, itu hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah Minang. Kota ini cukup unik. Hampir setiap gedung/bangunan-bangunan pentingnya beratap khas dengan ujung runcingnya, ciri khas Rumah Minang-Sumatera Barat. Dan sepertinya, aku punya ikatan dan ketertarikan yang cukup kuat akan kota serta setiap kenangan bersama para sahabat di kota ini. Hal itu terbukti malam ini, air mata tumpah saat mengenang kepergian--selamanya--seorang sahabat dan mendadak merindukan para sahabat lainnya di sana, khususnya sahabat seperjuangan di MIN Gunung Pangilun tamatan 2001.
Ah, sekolah itu. Tak terhitung betapa banyaknya yang bisa dikenang dan tak terlupa di sana. Kejadian dan pengalaman menyenangkan, ataupun sebaliknya. Semuanya ada. Guru-guru, kawan-kawan, adik-adik angkatan, bangunan sekolah yang sederhana, senam pagi, praktek shalat jenazah setiap jumat pagi (dengan baju seragam berwarna hijau), kantin sekolah, kegiatan pesantren kilat, rebana, lomba bidang studi (Aku, Winda, Yudi dan Alm. Renchi), lomba masak di kelas, acara perpisahan, sampai banjir yang terkadang melanda, aku masih mengingatnya. Ah, aku rindu! Sangat rindu!
Masih terbayang betapa hebohnya teman-teman di kelas VA saat kedatangan seorang siswa baru tak berkerudung* (*di sekolah itu siswa perempuan kelas V-VI sudah diwajibkan berseragam panjang lengkap dengan jilbabnya) dari Aceh--yang sedang konflik hingga terjadi perang. Sambutan hangat dan bersahabat aku dapatkan dari sekitar 25 orang siswa di kelas tersebut, hingga tak perlu waktu lama untukku merasa nyaman di sana karenanya.
Aku senang! Sangat senang!
Inilah kawan-kawan baruku, di kota yang masih asing bagi aku dan tentu saja keluargaku--saat itu.
Baru satu hari sekolah, keesokan harinya liburan panjang bulan Ramadhan. Sejenis aneh rasanya, tapi tak apa. Aku menikmati masa-masa liburan untuk mempersiapkan diri belajar di sekolah dengan lingkungan baru, serta yang paling penting: Seragam merah putih panjang dan jilbabnya.
Satu bulan berlalu. Liburan selesai dan itu artinya tiba waktuku untuk kembali ke sekolah. Dan kau tahu, kawan? Hari itu kelas VA kembali kedatangan seorang siswa baru dari Aceh. Kalau aku datang dari Lhokseumawe, kawan baruku itu dari Takengon. Namanya Putri. Dan dialah yang akhirnya ku rasa jadi sahabat terdekatku di antara sahabat-sahabat dekat lainnya.
Tapi pastinya, mereka semua istimewa.
Selepas menamatkan MIN, kami memang tidak semuanya melanjutkan di sekolah yang sama, yaitu MTsN Model Gunung Pangilun. Namun, dari beberapa yang melanjutkan ke sana, hampir semuanya berkumpul di kelas yang sama; I-6. Dan di MTsN inilah aku rasakan persahabatan kami semakin erat. Hari-hari ku jalani dengan ceria, penuh tawa dan canda. Aku bahagia! Sangat bahagia! Aku semakin bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik seperti mereka.
Sampai akhirnya perpisahan itu tiba.
Ayahku kembali ditugaskan di kota Lhokseumawe. Dan itu artinya aku akan segera meninggalkan mereka dan kota Padang lengkap dengan semua pengalaman yang akan tercatat sebagai sebuah kenangan.
Ah, aku benci perpisahan!
Walaupun ku tahu, setiap pertemuan itu pastilah berujung pada perpisahan dan ini merupakan perpisahan sekolah ketiga yang aku alami selama 5 tahun terakhir (Meulaboh, Lhokseumawe, dan Padang).
12 April 2002. Aku pulang.
Namun persahabatan, silaturahmi dan komunikasi kami masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku masih sering dikabarkan jika ada kegiatan (reuni dan sebagainya) dan keadaan mereka di sana, baik itu sahabat di MIN maupun MTsN.
Dan secara tak terduga, hari minggu lalu sebuah pesan singkat berisi kabar duka ku terima dari mereka. Seorang sahabat akhirnya pergi duluan ke hadapan-Nya. Dialah Renchi, siswa kelas B yang ku kenal saat mengikuti lomba bidang studi bersama dua orang sahabat lainnya. Walaupun, tak begitu dekat, tapi aku cukup ingat karena namanya yang unik dan berbeda dari yang lainnya.
Para sahabat mengabarkan mereka berkunjung ke rumah duka, dan aku cukup merasakan bagaimana sedihnya keadaan di sana. Ah, aku ingin ke sana..
(Selamat jalan Renchi, semoga setiap amalan setia menemanimu di alam sana. Kami yang masih bertahan di sini akan selalu merindukanmu ~ )
*Karena berita inilah, aku kembali teringat Padang. Serentetan kenangan di sekolah sederhana itu diputar ulang. Dan aku ingin segera terbang, berharap bisa menapakkan kaki untuk yang kedua kali di tanah Minang, lantas mencoba mengunjungi lagi tempat-tempat terkenang agar semua terasa berulang.
Aku rindu! Sangat rindu!
Ah, Padang! Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mereka, semua yang pernah hadir dan masih melekat erat dalam pikiran. *semoga*
Published with Blogger-droid v2.0.2