Thursday, June 6, 2013

Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..


6/06/2013 08:40:00 AM Desi YuLiana
Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..


Monday, June 3, 2013

Beberapa minggu terakhir, ada seseorang yang mengatakan saya termasuk pribadi yang punya gaya hidup hedonis (JLEB!), dan pernyataan itu semakin sering saya dengar beberapa hari terakhir ini. Ah, hedonis? Saya dikatakan hedonis? Saya tidak tahu haruskah atau layakkah jika saya tersinggung atau sakit hati dengan pernyataan seseorang tersebut. 


Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Dan saya juga tiba pada halaman Yahoo Answer, kebetulan ada yang bertanya di sana apa itu hedonis, dan kesimpulan jawabannya:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Astaghfirullah.. mengerikan.

Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*

Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.

Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone). 

Alasan saya dan sahabat senang berkaraoke cukup banyak; karena memang senang nyanyi (walaupun suara dan kemampuan pas-pasan) namun tidak bisa bernyanyi di depan umum atau sekedar karaokean di rumah karena akan mengganggu tetangga dengan suara yang tak seberapa mana, karena karaokean juga terkadang menjadi satu alternatif saat down atau saat hidup terasa membosankan atau saat sedang 'mumang' dengan berbagai masalah yang ada dan sebagainya (mungkin alasan ini memang yang kurang baik, karena harusnya.. ah, kalian tahulah apa), dan karena karaokean juga menjadi satu cara untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama sahabat; melakukan hobi/hal yang sama-sama disenangi bersama-sama, bukankah itu menyenangkan? Atau salah? Tolong jelaskan pada saya..

Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?

Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe


Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu. 

Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.

Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.




Alasan seseorang berkata demikian itu simpel; karena keluarganya dulu tidak ada memakai dan menggunakan perlengkapan-perlengkapan demikian, dan anak-anaknya sampai sekarang sehat-sehat atau baik-baik saja. *masuk kulkas*. Bukankah kebutuhan manusia tiap zaman itu berbeda-beda? Jangankan tiap zaman, di zaman yang sama pun, kebutuhan manusia berbeda-beda; tergantung kondisi masing-masingnya bukan? Tolonglah jangan disamakan --"

Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam. 

Bukankah tiap keluarga itu berbeda? Kebiasaan, gaya hidup, perlengkapan, perabotan, bahkan cara mengasuh anak, berbeda-beda kan? Tugas kita sebagai individu yang merdeka ya menerima setiap perbedaan. Jika ada hal baik; ambil, amati, tiru, modifikasi. Jika ada hal yang tidak baik dari sana, jadikan itu pelajaran dan pengingat agar tidak melakukan hal yang sama. 

Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.

Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.

Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'


6/03/2013 07:59:00 AM Desi YuLiana
Beberapa minggu terakhir, ada seseorang yang mengatakan saya termasuk pribadi yang punya gaya hidup hedonis (JLEB!), dan pernyataan itu semakin sering saya dengar beberapa hari terakhir ini. Ah, hedonis? Saya dikatakan hedonis? Saya tidak tahu haruskah atau layakkah jika saya tersinggung atau sakit hati dengan pernyataan seseorang tersebut. 


Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Dan saya juga tiba pada halaman Yahoo Answer, kebetulan ada yang bertanya di sana apa itu hedonis, dan kesimpulan jawabannya:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Astaghfirullah.. mengerikan.

Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*

Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.

Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone). 

Alasan saya dan sahabat senang berkaraoke cukup banyak; karena memang senang nyanyi (walaupun suara dan kemampuan pas-pasan) namun tidak bisa bernyanyi di depan umum atau sekedar karaokean di rumah karena akan mengganggu tetangga dengan suara yang tak seberapa mana, karena karaokean juga terkadang menjadi satu alternatif saat down atau saat hidup terasa membosankan atau saat sedang 'mumang' dengan berbagai masalah yang ada dan sebagainya (mungkin alasan ini memang yang kurang baik, karena harusnya.. ah, kalian tahulah apa), dan karena karaokean juga menjadi satu cara untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama sahabat; melakukan hobi/hal yang sama-sama disenangi bersama-sama, bukankah itu menyenangkan? Atau salah? Tolong jelaskan pada saya..

Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?

Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe


Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu. 

Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.

Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.




Alasan seseorang berkata demikian itu simpel; karena keluarganya dulu tidak ada memakai dan menggunakan perlengkapan-perlengkapan demikian, dan anak-anaknya sampai sekarang sehat-sehat atau baik-baik saja. *masuk kulkas*. Bukankah kebutuhan manusia tiap zaman itu berbeda-beda? Jangankan tiap zaman, di zaman yang sama pun, kebutuhan manusia berbeda-beda; tergantung kondisi masing-masingnya bukan? Tolonglah jangan disamakan --"

Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam. 

Bukankah tiap keluarga itu berbeda? Kebiasaan, gaya hidup, perlengkapan, perabotan, bahkan cara mengasuh anak, berbeda-beda kan? Tugas kita sebagai individu yang merdeka ya menerima setiap perbedaan. Jika ada hal baik; ambil, amati, tiru, modifikasi. Jika ada hal yang tidak baik dari sana, jadikan itu pelajaran dan pengingat agar tidak melakukan hal yang sama. 

Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.

Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.

Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'