Friday, July 26, 2013

Berawal dari perbincangan dan postingan seorang teman di akun twitter miliknya yang membagikan gambar 'another cocktail in Tunisia' yaitu strawberry and banana flavour--cocktail yang cukup simpel menurut saya--niat untuk membuat dessert itu pun muncul dan menggebu-gebu (maklum, udah jadi istri rumah tangga sekarang, keinginan masak-memasak meningkat drastis :p).

Nah, berbekal info dan resep sederhana dari orang yang sama pula ekseskusi pembuatan cocktail strawberry dan pisang akan segera dilaksanakan. Awalnya masih bingung dan ragu, dimana saya bisa mendapatkan buah strawberry di Banda Aceh ini. Karena strawberry masih termasuk buah yang langka di sini, tidak di semua tempat dan jika pun ada, hanya pada waktu-waktu tertentu ada yang menjualnya (atau saya yang kurang informasi? Entahlah). 

Well, beberapa hari yang lalu pertanyaan saya terjawab, saat sedang membeli buah segar demi nutrisi si buah hati di toko buah yang tidak jauh dari tempat tinggal, saya melihat ada strawberry yang terpajang manis di kulkas di sana. Cocktail tunisia itu pun tiba-tiba merasuk pikiran. Namun masih ragu, apa orang rumah (Ayah dan Bunda-red) bakalan suka jika cocktail yang notabenenya bukan makanan khas Indonesia apalagi Aceh disajikan untuk berbuka? Jadi impian membuat cocktail pun tertahan lagi.

Sampai akhirnya siang tadi Bunda tiba-tiba bertanya, "Buat apa kita nanti sore dek?" Ting ! Lampu menyala. Langsung saja saya utarakan, "Buat cocktail yok nda, dek ada resep cocktail sederhana ala Tunisia", nyambi memperlihatkan foto cocktail yang dibagikan teman dari sana. Awalnya Bunda ragu karena tidak tahu dimana bisa mendapatkan strawberry, tapi setelah saya beritahukan bahwa di toko buah langganan kami ada, Alhamdulillah Bunda langsung setuju. 

Singkat cerita, misi untuk membuat cocktail hari ini sukses saudara-saudara. Sebenarnya biasa aja, wong banyak yang udah sering dan berpengalaman buat desert yang begituan di rumahnya. Tapi bagi saya ini pengalaman perdana lho, dan melihat senyuman di wajah Ayah, Bunda, dan Misua saat cocktail itu saya sajikan sebelum berbuka itu rasanya sesuatu sekali, hehehe. 

Bagi yang penasaran, sinih, cek langsung bahan dan cara membuatnya yang sangaaat sederhana (tapi maaf ya jika cara penyampaiannya kurang greget, harap maklum, baru kali ini berbagi resep masakan --").

Bahan:
- Strawberry
- Pisang
- Es krim vanilla
- Susu kental manis rasa coklat
*strawberry dan pisang secukupnya ya, sesuaikan dengan porsi yang ingin dibuat aja*

Cara membuat:
Blender strawberry dan pisang secara terpisah, saya sarankan tambahkan gula saat diblender supaya lebih manis. Tuangkan satu persatu jus tersebut ke dalam gelas, strawberry terlebih dahulu, baru tuangkan pisang di atasnya. Tambahkan es krim vanila (kebetulan yang saya buat hari ini pakai es krim strawberry + vanila, karena sesuatu dan lain hal, human error pokoknya XD) sesuai selera. Langkah terakhir; tambah dan kreasikan susu kental manis coklat di atasnya. 

Daaaaan.. tarraaaaa.. Strawberry Banana Mocktail kita pun jadiii °\(^▿^)/°°\(^▿^)/° 

Ini hasil kerja saya :)

*saya menyebutnya mocktail karena mocktail itu adalah cocktail tanpa alkohol. Penjelasan selanjutnya, sila tanyakan pada Prof. Gugel yang terhormat, hehehe* 

Selamat berksperimen ! 



7/26/2013 08:48:00 AM Desi YuLiana
Berawal dari perbincangan dan postingan seorang teman di akun twitter miliknya yang membagikan gambar 'another cocktail in Tunisia' yaitu strawberry and banana flavour--cocktail yang cukup simpel menurut saya--niat untuk membuat dessert itu pun muncul dan menggebu-gebu (maklum, udah jadi istri rumah tangga sekarang, keinginan masak-memasak meningkat drastis :p).

Nah, berbekal info dan resep sederhana dari orang yang sama pula ekseskusi pembuatan cocktail strawberry dan pisang akan segera dilaksanakan. Awalnya masih bingung dan ragu, dimana saya bisa mendapatkan buah strawberry di Banda Aceh ini. Karena strawberry masih termasuk buah yang langka di sini, tidak di semua tempat dan jika pun ada, hanya pada waktu-waktu tertentu ada yang menjualnya (atau saya yang kurang informasi? Entahlah). 

Well, beberapa hari yang lalu pertanyaan saya terjawab, saat sedang membeli buah segar demi nutrisi si buah hati di toko buah yang tidak jauh dari tempat tinggal, saya melihat ada strawberry yang terpajang manis di kulkas di sana. Cocktail tunisia itu pun tiba-tiba merasuk pikiran. Namun masih ragu, apa orang rumah (Ayah dan Bunda-red) bakalan suka jika cocktail yang notabenenya bukan makanan khas Indonesia apalagi Aceh disajikan untuk berbuka? Jadi impian membuat cocktail pun tertahan lagi.

Sampai akhirnya siang tadi Bunda tiba-tiba bertanya, "Buat apa kita nanti sore dek?" Ting ! Lampu menyala. Langsung saja saya utarakan, "Buat cocktail yok nda, dek ada resep cocktail sederhana ala Tunisia", nyambi memperlihatkan foto cocktail yang dibagikan teman dari sana. Awalnya Bunda ragu karena tidak tahu dimana bisa mendapatkan strawberry, tapi setelah saya beritahukan bahwa di toko buah langganan kami ada, Alhamdulillah Bunda langsung setuju. 

Singkat cerita, misi untuk membuat cocktail hari ini sukses saudara-saudara. Sebenarnya biasa aja, wong banyak yang udah sering dan berpengalaman buat desert yang begituan di rumahnya. Tapi bagi saya ini pengalaman perdana lho, dan melihat senyuman di wajah Ayah, Bunda, dan Misua saat cocktail itu saya sajikan sebelum berbuka itu rasanya sesuatu sekali, hehehe. 

Bagi yang penasaran, sinih, cek langsung bahan dan cara membuatnya yang sangaaat sederhana (tapi maaf ya jika cara penyampaiannya kurang greget, harap maklum, baru kali ini berbagi resep masakan --").

Bahan:
- Strawberry
- Pisang
- Es krim vanilla
- Susu kental manis rasa coklat
*strawberry dan pisang secukupnya ya, sesuaikan dengan porsi yang ingin dibuat aja*

Cara membuat:
Blender strawberry dan pisang secara terpisah, saya sarankan tambahkan gula saat diblender supaya lebih manis. Tuangkan satu persatu jus tersebut ke dalam gelas, strawberry terlebih dahulu, baru tuangkan pisang di atasnya. Tambahkan es krim vanila (kebetulan yang saya buat hari ini pakai es krim strawberry + vanila, karena sesuatu dan lain hal, human error pokoknya XD) sesuai selera. Langkah terakhir; tambah dan kreasikan susu kental manis coklat di atasnya. 

Daaaaan.. tarraaaaa.. Strawberry Banana Mocktail kita pun jadiii °\(^▿^)/°°\(^▿^)/° 

Ini hasil kerja saya :)

*saya menyebutnya mocktail karena mocktail itu adalah cocktail tanpa alkohol. Penjelasan selanjutnya, sila tanyakan pada Prof. Gugel yang terhormat, hehehe* 

Selamat berksperimen ! 



“Jangan monopoli kebenaran seolah hanya kalian yang benar!”
Tapi faktanya hanya yang liberal yang benar dan lainnya salah.

“Jangan anti perbedaan!”
Tapi faktanya kaum liberallah yang tak bisa menerima pendapat umat Islam.

“Jangan mengobral ayat suci!”
Itu kalau sudah dipojokkan dengan ayat-ayat kitab suci. Kalau tidak, justru kaum liberallah yang memotong-motong ayat sesuka hati dan menafsirkan sesuai nafsu.

“Kita harus menghargai demokrasi!”
Tapi giliran Islam berkuasa di Palestina, Turki dan Mesir kalian caci maki. Ada kudeta kalian tepuk tangan memuja-muji.

“Islam bukan agama kekerasan. Ormas yang menggunakan kekerasan seperti FPI harus dibubarkan!”
Tapi giliran Zionis menjajah Palestina kalian ridhai.
Saat Mursi, presiden hafidz Qur’an yang terpilih secara demokratis dikudeta kalian hepi-hep.
Saat Jenderal As-Sisi yang didukung oposisi mengerahkan militer membantai jamaah shalat subuh kalian berdiam diri seolah tak ada apa-apa terjadi.

***

By: Anugrah Roby Syahputra,  Syair Lapuk Kaum Liberal



7/26/2013 02:15:00 AM Desi YuLiana
“Jangan monopoli kebenaran seolah hanya kalian yang benar!”
Tapi faktanya hanya yang liberal yang benar dan lainnya salah.

“Jangan anti perbedaan!”
Tapi faktanya kaum liberallah yang tak bisa menerima pendapat umat Islam.

“Jangan mengobral ayat suci!”
Itu kalau sudah dipojokkan dengan ayat-ayat kitab suci. Kalau tidak, justru kaum liberallah yang memotong-motong ayat sesuka hati dan menafsirkan sesuai nafsu.

“Kita harus menghargai demokrasi!”
Tapi giliran Islam berkuasa di Palestina, Turki dan Mesir kalian caci maki. Ada kudeta kalian tepuk tangan memuja-muji.

“Islam bukan agama kekerasan. Ormas yang menggunakan kekerasan seperti FPI harus dibubarkan!”
Tapi giliran Zionis menjajah Palestina kalian ridhai.
Saat Mursi, presiden hafidz Qur’an yang terpilih secara demokratis dikudeta kalian hepi-hep.
Saat Jenderal As-Sisi yang didukung oposisi mengerahkan militer membantai jamaah shalat subuh kalian berdiam diri seolah tak ada apa-apa terjadi.

***

By: Anugrah Roby Syahputra,  Syair Lapuk Kaum Liberal



Thursday, July 18, 2013


Kata mereka aku tergesa.. tapi aku punya pendapat beda.
Ini urusan agama, aku tak peduli, masih terlalu muda ataukah sudah cukup usia.
Aku mantap melangkahkan jejak ke arah sana..

Kata mereka aku beruntung.. tapi aku rasa tak perlu lah aku mematung.
Ini bukan sekedar ayunan yang digantung. Bukan!
Lebih dari itu, tentang hidup yang likunya tak terhitung..

Kata mereka aku berubah.. yaah, aku adalah aku. 
Melakukan ini itu sebab ingin beribadah.
Bukan karena orang lain yang memaksa berjubah..

Kata mereka aku..

Aah, aku tak mau dan tak lagi peduli,
Dan memang seharusnya aku tak peduli.
Karena bukankah hati kita dominan terisi oleh apa yang orang lain pikirkan untuk kita, bukan apa yang Allah pikirkan untuk kita?



Pondok Panci (Pandi dan Eci), Jumat; 10 Ramadhan 1434 H
#PenaKamiTidakPuasa




7/18/2013 10:30:00 PM Desi YuLiana

Kata mereka aku tergesa.. tapi aku punya pendapat beda.
Ini urusan agama, aku tak peduli, masih terlalu muda ataukah sudah cukup usia.
Aku mantap melangkahkan jejak ke arah sana..

Kata mereka aku beruntung.. tapi aku rasa tak perlu lah aku mematung.
Ini bukan sekedar ayunan yang digantung. Bukan!
Lebih dari itu, tentang hidup yang likunya tak terhitung..

Kata mereka aku berubah.. yaah, aku adalah aku. 
Melakukan ini itu sebab ingin beribadah.
Bukan karena orang lain yang memaksa berjubah..

Kata mereka aku..

Aah, aku tak mau dan tak lagi peduli,
Dan memang seharusnya aku tak peduli.
Karena bukankah hati kita dominan terisi oleh apa yang orang lain pikirkan untuk kita, bukan apa yang Allah pikirkan untuk kita?



Pondok Panci (Pandi dan Eci), Jumat; 10 Ramadhan 1434 H
#PenaKamiTidakPuasa




Thursday, June 6, 2013

Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..


6/06/2013 08:40:00 AM Desi YuLiana
Sekitar seminggu yang lalu, saya menghampiri toko buku langganan; Pustaka Paramitha yang terletak di Kp. Mulia, Banda Aceh. Saya langganan di sana karena menurut saya, toko buku terlengkap di kota Banda Aceh sejauh ini yaa Pustaka Paramitha. Koleksi bukunya lengkap dan selalu sukses bikin hati kleper-kleper; pengen dibawa pulang semuanya (deu, berburu harta karun).

Dari hasil perburuan seminggu yang lalu itu, saya membawa pulang sebuah novel kecil, dengan cover yang imut dan lucu (chibi chibi chibi #eh), judulnya adalaaaaaaah.. 'Takoyaki Soulmate'. Pasti pada tahu kan kenapa buku itu yang berhasil menarik hati saya? Ya. Bener! Karena itu novel je-Jepang-an. Dan you know lah, saya memang koleksi buku-buku atau novel-novel bertema Jepang, tapi tentu tidak semuanya, harus diseleksi dulu kan ya? Toh, sekarang banyak buku je-Jepang-an yang inti ceritanya romantisme cinta picisan, malas bacanya beh! (Lho, kok jadi curhat?).


Takoyaki Soulmate ini bercerita tentang sosok Maya, yang bekerja paruh waktu di kafe Jepang; 'Kaguya's Corner'. Namanya kafe Jepang, ya pastilah makanan yang disediakan di sana makanan-makanan Jepang; takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, taiyaki, dan sebagainya. Nah, inti dari cerita hari ini adalah.. saya yang sedang kehilangan nafsu makan (sekalipun itu makanan favorit) akibat sedang menderita 'morning sickness' tri semester pertama ini mendadak kepikiran, kepikiran, dan kepikiran takoyaki >__< Saya mau takoyaki! Entah ini yang disebut ngidam, entah hanya keinginan perut yang sudah kangen sama bola-bola kecil itu. Pokoknya, saya mau takoyaki!

Alhasil. Mulailah segala rengekan pada misua; mau makanan Jepang, boleh makan di sana atau dibawa pulang. Tapi sayang, misua sedang ada kerjaan, dan nafsu makan si bola-bola itu harus tertunda sementara. Gak kehabisan akal, saya coba merayu si penggemar okonomiyaki: Risnasari dan mengajaknya pergi ke Hana Cafe (kantin Jepang sederhana yang letaknya di depan Lapangan Tugu Unsyiah). Tapi sayang, kawan yang satu itu pun di hari libur ini ada kerjaan mendadak *depresi*. 

Alhamdulillah.. sore ini Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu dengan takoyaki (lebay!). Misua yang sedang bekerja akhirnya luluh diajak makan makanan Jepang. Dan Hana Cafe, we are coming!

Hana Cafe, sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya tahu ada kafe makanan Jepang di kawasan Darussalam. Pemiliknya orang Jepang asli. Sudah dari beberapa bulan lalu pula saya ingin berkunjung ke sana, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu belum ada. 

Nah, tiba di Hana Cafe, saya dan misua disambut dengan suasana kafe/kantin sederhana yang dibuka di halaman rumah. Konsepnya manis, hanya dengan atap rumbia, kursi-kursi plastik sederhana (tersedia juga kursi lesehan), dan beberapa pohon-pohon kecil yang dijadikan teman menyantap makanan.

Menu yang disediakan pun sangat sederhana, dengan harga yang sangat terjangkau (5000 - 10000 rupiah). Menu khas Jepang yang disediakan di sana ada empat macam: Takoyaki, Okonomiyaki, Sushi, dan Kakigori (es serut super segar). Sedangkan menu pelengkapnya hanya pada varian minuman. Minuman-minuman khas Aceh dan Indonesia, misalnya teh manis, teh jeruk nipis, teh susu, milo, dan sebagainya juga disediakan di sana. Jadi gak usah takut jika gak ada makanan atau minuman yang pas di lidah. 

Mengajak misua, ada rasa khawatir juga sebenarnya. Bakalan suka gak ya dengan makanan Jepang yang bagi sebagian orang terasa aneh dan tidak cocok di lidah? Tapi Alhamdulillah, ternyata eh ternyata misua suka dan menilai enak untuk takoyaki dan okonomiyaki yang kami pesan tadi (legaaaa!).  Dan Alhamdulillah lagi, saya yang biasanya selalu tidak sanggup menghabiskan makanan ini tadi mendadak berubah! Seporsi takoyaki, plus sepotong okonomiyaki--yang saya comot dari punya misua--sanggup saya habiskan. Horeeee \(^^)/  Mungkin karena ada bantuan dari es serut Kakigori kali ya? Jadi mulut dan perut berkurang mualnya karena kesegaran dari si es serut tadi. 

Nah, ini foto takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori official Hana Cafe Banda Aceh yang saya ambil dari blogger Banda Aceh yang juga pernah ke sana, bukan hasil comot dari Prof. Gugel ya:

Takoyaki
Okonomiyak
Kakigori

Bagi yang ingin tahu apa itu takoyaki, onomiyaki, dan kakigori, tanya langsung sama Prof. Gugel ya! :p | Dan bagi yang ingin mencicipi makanan Jepang murah meriah dan aman di lidah, silahkan mampir ke Hana Cafe. Insha Allah, gak akan kecewa kok dengan rasa-rasa makanan yang disediakan di sana *promosi*. Buktinya ini, Ibu hamil yang menderita morning sickness kelas berat aja sanggup menghabiskannya, apalagi kalian yang sehat-walafiat kan? *elus-elus perut yang kekenyangan* #eh 

Baiklah.. Thanks to mbak Erlita (penulis Takoyaki Soulmate) yang karena novelnya, nafsu makan saya kembali ada, walaupun itu hanya nafsu makan si takoyaki dan okonomiyaki. Hehehe. Arigatou ne! Wassalam..


Monday, June 3, 2013

Beberapa minggu terakhir, ada seseorang yang mengatakan saya termasuk pribadi yang punya gaya hidup hedonis (JLEB!), dan pernyataan itu semakin sering saya dengar beberapa hari terakhir ini. Ah, hedonis? Saya dikatakan hedonis? Saya tidak tahu haruskah atau layakkah jika saya tersinggung atau sakit hati dengan pernyataan seseorang tersebut. 


Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Dan saya juga tiba pada halaman Yahoo Answer, kebetulan ada yang bertanya di sana apa itu hedonis, dan kesimpulan jawabannya:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Astaghfirullah.. mengerikan.

Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*

Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.

Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone). 

Alasan saya dan sahabat senang berkaraoke cukup banyak; karena memang senang nyanyi (walaupun suara dan kemampuan pas-pasan) namun tidak bisa bernyanyi di depan umum atau sekedar karaokean di rumah karena akan mengganggu tetangga dengan suara yang tak seberapa mana, karena karaokean juga terkadang menjadi satu alternatif saat down atau saat hidup terasa membosankan atau saat sedang 'mumang' dengan berbagai masalah yang ada dan sebagainya (mungkin alasan ini memang yang kurang baik, karena harusnya.. ah, kalian tahulah apa), dan karena karaokean juga menjadi satu cara untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama sahabat; melakukan hobi/hal yang sama-sama disenangi bersama-sama, bukankah itu menyenangkan? Atau salah? Tolong jelaskan pada saya..

Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?

Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe


Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu. 

Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.

Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.




Alasan seseorang berkata demikian itu simpel; karena keluarganya dulu tidak ada memakai dan menggunakan perlengkapan-perlengkapan demikian, dan anak-anaknya sampai sekarang sehat-sehat atau baik-baik saja. *masuk kulkas*. Bukankah kebutuhan manusia tiap zaman itu berbeda-beda? Jangankan tiap zaman, di zaman yang sama pun, kebutuhan manusia berbeda-beda; tergantung kondisi masing-masingnya bukan? Tolonglah jangan disamakan --"

Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam. 

Bukankah tiap keluarga itu berbeda? Kebiasaan, gaya hidup, perlengkapan, perabotan, bahkan cara mengasuh anak, berbeda-beda kan? Tugas kita sebagai individu yang merdeka ya menerima setiap perbedaan. Jika ada hal baik; ambil, amati, tiru, modifikasi. Jika ada hal yang tidak baik dari sana, jadikan itu pelajaran dan pengingat agar tidak melakukan hal yang sama. 

Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.

Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.

Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'


6/03/2013 07:59:00 AM Desi YuLiana
Beberapa minggu terakhir, ada seseorang yang mengatakan saya termasuk pribadi yang punya gaya hidup hedonis (JLEB!), dan pernyataan itu semakin sering saya dengar beberapa hari terakhir ini. Ah, hedonis? Saya dikatakan hedonis? Saya tidak tahu haruskah atau layakkah jika saya tersinggung atau sakit hati dengan pernyataan seseorang tersebut. 


Seperti yang kita tahu, hedonis itu kesannya negatif. Apa itu hedonis? Mari kita tanya pada Profesor sejuta umat di dunia: Google. Dari hasil pencarian dengan bantuan Prof. Google, saya diantarkan pada halaman wikipedia, di sana dijelaskan bahwa hedonis itu adalah:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Dan saya juga tiba pada halaman Yahoo Answer, kebetulan ada yang bertanya di sana apa itu hedonis, dan kesimpulan jawabannya:
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Astaghfirullah.. mengerikan.

Dan pertanyaannya sekarang, apa iya selama ini saya telah menganut paham hedonisme? Apa iya selama ini saya mengikuti gaya hidup kaum hedon itu? Jujur, saya tidak tahu. Bisa jadi iya, bisa jadi kadang-kadang iya, bisa jadi juga tidak. Walaupun setelah membaca makna hedonis dari beberapa jawaban di atas, saya punya kesimpulan bahwa; iya, terkadang saya juga termasuk pelaku hedonisme, Astaghfirullah. *Mari berubah!*

Jujur, awalnya saya sangat jarang mendengar kata hedonis ini, namun sejak seseorang itu menjudge saya hedonis, tidak berselang beberapa lama kemudian, kata itu jadi semakin sering saya dengar, terus-menerus; tentunya dari mulut orang yang sama. Dia.

Salah satu alasan saya dibilang hedonis adalah karena kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya akan 'karaokean'. Ya. Sejak mengenal f*nland, saya dan sahabat dekat lumayan sering bertandang ke sana; demi menumpahkan bakat yang terpendam dan tak bisa dipublikasikan; menyanyi. Dan setelahnya, TKP untuk berkaraoke mulai berpindah ke lantai dasar Hermes Mall; f*nzone (karena ruang yang lebih luas dan koin yang lebih sedikit, tentunya ini sedikit lebih hemat) dan yang terakhir sekarang adalah di Harm*ni Karaoke (di sini pemakaian ruangnya bukan berdasarkan koin, tapi hitungan jam, tentunya jadi lebih puas memilah dan memilih lagu, walaupun biayanya jadi sedikit lebih mahal dari yang harus dikeluarkan saat di f*nzone). 

Alasan saya dan sahabat senang berkaraoke cukup banyak; karena memang senang nyanyi (walaupun suara dan kemampuan pas-pasan) namun tidak bisa bernyanyi di depan umum atau sekedar karaokean di rumah karena akan mengganggu tetangga dengan suara yang tak seberapa mana, karena karaokean juga terkadang menjadi satu alternatif saat down atau saat hidup terasa membosankan atau saat sedang 'mumang' dengan berbagai masalah yang ada dan sebagainya (mungkin alasan ini memang yang kurang baik, karena harusnya.. ah, kalian tahulah apa), dan karena karaokean juga menjadi satu cara untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama sahabat; melakukan hobi/hal yang sama-sama disenangi bersama-sama, bukankah itu menyenangkan? Atau salah? Tolong jelaskan pada saya..

Sampai sekarang saya masih ragu, apa iya kebiasaan dan hobi karaokean saya itu termasuk gaya hidup hedonis?

Seseorang itu juga pernah mengatakan kebiasaan karaokean itu tidak bagus karena karaoke memang terkesan negatif di telinganya. Oke. Ini saya paham, kalau di luar Banda Aceh, tempat-tempat karaoke memang terkadang disalahgunakan, atau bagaimana bagaimana, tidak baiklah pokoknya. Tapi, menurut saya tempat karaoke yang ada di Banda Aceh tidaklah se'jahat' seperti yang di luar sana. Teman-teman yang di Banda pasti tahu bagaimana kondisi tempat karaoke itu; box kecil (berkaca/tidak tertutup sempurna) yang hanya memuat maksimal 5 orang. Sesimpel dan sesederhana itu. Tempat karaoke di sini mah bisa dibilang tempat karaoke abal-abal; KW4 gitu? Hehe


Lupakan karaoke! Kembali ke topik; hedonis dan seseorang itu. 

Seseorang itu juga bahkan pernah mengomentari gaya hidup keluarga saya; mulai dari Ayah, Bunda, sampai yang terakhir yang saya dengar hari ini tentang kakak saya. Ya. Keluarga saya juga pernah dikatakannya bergaya hedonis, karena 'gaya' hidup keluarga saya berbeda dengan gaya hidup keluarganya yang sangat sederhana dan tradisional.

Sebagai contoh yang paling menohok dan tidak dapat saya terima dengan akal sehat, hari ini dia menjudge kakak saya hedonis, karena; kakak saya membeli tas kecil khusus untuk menyimpan botol susu ASI untuk anaknya; cooler bag. Dan karena itu dia mengatakan kakak saya hedonis. Padahal cooler bag itu jelas ada manfaatnya. JELAS! Kakak saya baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki (usia 2 bulan) dan berprofesi sebagai dokter yang saat ini masih harus menjalani masa internship di luar kota. Dalam kondisi anak akan dititipkan pada orang lain, cooler bag dan semacamnya tentu sangat diperlukan; jelas, untuk menyimpan ASI yang dibutuhkan si anak saat kakak saya bertugas di rumah sakit. Salahkah? *heran*.




Alasan seseorang berkata demikian itu simpel; karena keluarganya dulu tidak ada memakai dan menggunakan perlengkapan-perlengkapan demikian, dan anak-anaknya sampai sekarang sehat-sehat atau baik-baik saja. *masuk kulkas*. Bukankah kebutuhan manusia tiap zaman itu berbeda-beda? Jangankan tiap zaman, di zaman yang sama pun, kebutuhan manusia berbeda-beda; tergantung kondisi masing-masingnya bukan? Tolonglah jangan disamakan --"

Jujur. Saat dia mengomentari saya hedonis, mungkin saya masih bisa menerima. Terserahlah dia mau komentar apa. Tapi, saat kakak atau keluarga saya juga ikut dikomentari sedemikian rupa, saya tersinggung lho saudara-saudara, apalagi hanya karena hal simpel macam membeli cooler bag demikian. Apa yang salah sebenarnya? Toh saya gak pernah mengomentari keluarganya macam-macam. 

Bukankah tiap keluarga itu berbeda? Kebiasaan, gaya hidup, perlengkapan, perabotan, bahkan cara mengasuh anak, berbeda-beda kan? Tugas kita sebagai individu yang merdeka ya menerima setiap perbedaan. Jika ada hal baik; ambil, amati, tiru, modifikasi. Jika ada hal yang tidak baik dari sana, jadikan itu pelajaran dan pengingat agar tidak melakukan hal yang sama. 

Yaah, saya gak tahu ini semua apa maksudnya. Tapi, jika memang niat seseorang itu baik, demi mengingatkan saudaranya, saya harap dia bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik, bukan sekedar komentar dan menjudge sembarangan. Ada banyak cara menyampaikan, ada banyak cara berkomentar, ada banyak cara mengingatkan atau menasihati. Pilihlah yang paling bijak dari yang kita tahu. Sekian.

Demikian curhatan (yang sebenarnya entah membahas hedonis atau sekedar mencurahkan kekecewaan pada seseorang) ini saya ketik (awalnya) di layar touchscreen hingga jempol pegal-pegal dan saya edit (akhirnya) di papan keyboard laptop (dengan emosi yang sedikit berkurang sebab musik di telinga dan sedang HUJAN!), semoga dapat dimaklumi dan bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama.

Ingat: 'Mulutmu harimaumu!'


Friday, March 1, 2013



"Aku telah belajar dari Barfi, bahwa kebahagiaan ini bisa ditemukan dalam hal yang kecil. Bahkan semangkuk air cukup buat kapal untuk berlayar. Dan jika kau memang benar percaya.. bahkan burung dari kertas bisa terbang."

"Barfi tetap selalu bahagia. Dan untuk beberapa alasan yang aneh, tanpa sadar.. aku selalu membawa kesulitan dalam hidupnya. Tapi dia tidak pernah mengeluh, baik tentang aku, maupun tentang kesulitan." 

***



He is cute. He's shrewd. The girls love him. The cops hate him. He can't speak but is always talked about. His naughty antics will make you scream, but he will never listen. Cos he can't!

Orang tuanya menamainya Murphy. Tapi orang-orang memanggil dan lebih mengenalnya dengan nama Barfi. Selalu optimis, bersemangat, usil (dikenal sebagai seorang 'troublemaker') dan tidak pernah mengeluh, walaupun terlahir sebagai seseorang yang tidak sempurna; bisu dan tuli. Ya, dialah Barfi, tokoh utama kita hari ini; seorang pemuda tunarungu, nakal, dan paling terkenal di seantero kota Darjeeling, India.

Film Barfi! ini berlatar belakang kota Darjeeling dan Kolkata, India di tahun 1972, 1978, dan 2012. Saya cukup tertarik dengan film ini, selain karena setting suasana, para pemain, hikmah/pesan yang tersirat, dan ceritanya secara keseluruhan, juga karena film ini dikemas dan disajikan dengan alur maju-mundur yang penuh misteri. Cukup menarik pastinya.

Ya. Barfi! Film ini punya cerita yang tak biasa, dengan alur maju-mundur yang sedikit membingungkan, tapi berhasil menciptakan rasa penasaran dan menjaga misteri ceritanya hingga akhir hayat (#eh). Walaupun dikemas dengan penuh misteri, film ini tidak lupa akan tema Romantic-Comedy yang diusungkan. Setiap misteri yang ada, dikupas secara perlahan dengan cara yang romantis, lucu dan tidak terlalu membuat kening berkerut.

***

Cinta. Memang sulit untuk menyebutkan apa arti cinta yang sesungguhnya, karena setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Sebagian akan mengatakan cinta tidak harus memiliki, dan sebagaian lain akan berkata sebaliknya; cinta harus memiliki. 

Cinta. Sulit juga untuk menyebutkan kenapa kita bisa jatuh cinta pada seseorang. Karena wajahnya kah? Karena sikapnya kah? Karena kepintarannya kah? Sebagian mungkin ada yang bisa menjawab karena ia tampan/cantik. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena sikapnya yang baik, santun, dan sebagainya. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena ilmu dan kepintaran yang ia miliki. Dan sebagian lain mungkin akan terdiam saat bertemu dengan pertanyaan kenapa bisa jatuh cinta pada seseorang.

Nah, dari beberapa alasan yang ada, bisa kita lihat, rata-rata kita akan jatuh cinta pada seseorang karena sesuatu yang tampak darinya, dan kita bisa menerima seseorang itu karena adanya kelebihan-kelebihan yang dimiliknya. Lantas pertanyaannya, berapa banyak kita yang bisa mencintai seseorang dalam kekurangannya? 

“Ketika kita bisa menerima sebuah kondisi yang dalam keadaan normal tidak bisa kita terima, mungkin itulah yang disebut cinta.”

Barfi! Secara keseluruhan film ini menceritakan tentang seorang pemuda (Barfi!) yang terlibat cinta segitiga dengan 2 orang wanita, Shruti dan Jhilmil. Shruti, seorang gadis cantik dari Kolkata yang membuat Barfi jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedangkan Jhilmil, gadis penderita autis, teman masa kecil Barfi yang karena satu hal menjadi tanggung jawab Barfi.


"Three young people learn that love can neither be defined nor contained by society's norms of normal and abnormal."

Jika ditelaah jauh lebih dalam, jelas kisah cinta ini sangatlah biasa dan bukan hal yang baru. Namun, kenyataan bahwa sosok Barfi digambarkan sebagai seorang tunarungu, dan Jhilmil adalah penderita autis, membuat kisah cinta dalam film ini menjadi tak biasa. Rasanya sulit bagi kita membayangkan akan ada cerita romantis antara dua orang dengan kekurangannya masing-masing ini. Namun kenyataannya, Barfi dalam film ini memperlihatkan pada kita bahwa cinta dalam kekurangan pun memiliki sisi romantisnya tersendiri. Lagipula, bukankah di dunia ini memang ada pasangan dengan komposisi seperti itu? Dan kata siapa mereka tidak bahagia?




Shruti, cinta pertama Barfi dalam satu narasi menceritakan, betapa indahnya cinta sejati itu. Cinta yang ingin ia temui dalam hidupnya. Cinta, seperti cinta yang ada di antara Kakek-Nenek nya. Cinta tak bersyarat. Cinta sejati, untuk hidup dan mati bersama, dalam pelukan satu sama lain. Dan itulah cinta yang ada di antara Barfi dan Jhilmil.

"Jhilmil yang beruntung. Dia tak ada rencana untuk jatuh cinta. Dia tak memikirkan konsekuensinya. Dia tak berpikir bagaimana hidup akan berubah. Dia hanya mencintainya tanpa syarat. Dan itu semua ternyata indah pada akhirnya." 

*** 

Tetap bahagia walau tidak sempurna dan serba berkekurangan. Tetap optimis walau diri terlahir berbeda dari orang-orang kebanyakan. Tetap tulus mencintai walau dalam keheningan dan kondisi yang melelahkan. Tetaplah HIDUP, kawans! 


3/01/2013 06:21:00 AM Desi YuLiana


"Aku telah belajar dari Barfi, bahwa kebahagiaan ini bisa ditemukan dalam hal yang kecil. Bahkan semangkuk air cukup buat kapal untuk berlayar. Dan jika kau memang benar percaya.. bahkan burung dari kertas bisa terbang."

"Barfi tetap selalu bahagia. Dan untuk beberapa alasan yang aneh, tanpa sadar.. aku selalu membawa kesulitan dalam hidupnya. Tapi dia tidak pernah mengeluh, baik tentang aku, maupun tentang kesulitan." 

***



He is cute. He's shrewd. The girls love him. The cops hate him. He can't speak but is always talked about. His naughty antics will make you scream, but he will never listen. Cos he can't!

Orang tuanya menamainya Murphy. Tapi orang-orang memanggil dan lebih mengenalnya dengan nama Barfi. Selalu optimis, bersemangat, usil (dikenal sebagai seorang 'troublemaker') dan tidak pernah mengeluh, walaupun terlahir sebagai seseorang yang tidak sempurna; bisu dan tuli. Ya, dialah Barfi, tokoh utama kita hari ini; seorang pemuda tunarungu, nakal, dan paling terkenal di seantero kota Darjeeling, India.

Film Barfi! ini berlatar belakang kota Darjeeling dan Kolkata, India di tahun 1972, 1978, dan 2012. Saya cukup tertarik dengan film ini, selain karena setting suasana, para pemain, hikmah/pesan yang tersirat, dan ceritanya secara keseluruhan, juga karena film ini dikemas dan disajikan dengan alur maju-mundur yang penuh misteri. Cukup menarik pastinya.

Ya. Barfi! Film ini punya cerita yang tak biasa, dengan alur maju-mundur yang sedikit membingungkan, tapi berhasil menciptakan rasa penasaran dan menjaga misteri ceritanya hingga akhir hayat (#eh). Walaupun dikemas dengan penuh misteri, film ini tidak lupa akan tema Romantic-Comedy yang diusungkan. Setiap misteri yang ada, dikupas secara perlahan dengan cara yang romantis, lucu dan tidak terlalu membuat kening berkerut.

***

Cinta. Memang sulit untuk menyebutkan apa arti cinta yang sesungguhnya, karena setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Sebagian akan mengatakan cinta tidak harus memiliki, dan sebagaian lain akan berkata sebaliknya; cinta harus memiliki. 

Cinta. Sulit juga untuk menyebutkan kenapa kita bisa jatuh cinta pada seseorang. Karena wajahnya kah? Karena sikapnya kah? Karena kepintarannya kah? Sebagian mungkin ada yang bisa menjawab karena ia tampan/cantik. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena sikapnya yang baik, santun, dan sebagainya. Sebagian lagi mungkin bisa menjawab karena ilmu dan kepintaran yang ia miliki. Dan sebagian lain mungkin akan terdiam saat bertemu dengan pertanyaan kenapa bisa jatuh cinta pada seseorang.

Nah, dari beberapa alasan yang ada, bisa kita lihat, rata-rata kita akan jatuh cinta pada seseorang karena sesuatu yang tampak darinya, dan kita bisa menerima seseorang itu karena adanya kelebihan-kelebihan yang dimiliknya. Lantas pertanyaannya, berapa banyak kita yang bisa mencintai seseorang dalam kekurangannya? 

“Ketika kita bisa menerima sebuah kondisi yang dalam keadaan normal tidak bisa kita terima, mungkin itulah yang disebut cinta.”

Barfi! Secara keseluruhan film ini menceritakan tentang seorang pemuda (Barfi!) yang terlibat cinta segitiga dengan 2 orang wanita, Shruti dan Jhilmil. Shruti, seorang gadis cantik dari Kolkata yang membuat Barfi jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedangkan Jhilmil, gadis penderita autis, teman masa kecil Barfi yang karena satu hal menjadi tanggung jawab Barfi.


"Three young people learn that love can neither be defined nor contained by society's norms of normal and abnormal."

Jika ditelaah jauh lebih dalam, jelas kisah cinta ini sangatlah biasa dan bukan hal yang baru. Namun, kenyataan bahwa sosok Barfi digambarkan sebagai seorang tunarungu, dan Jhilmil adalah penderita autis, membuat kisah cinta dalam film ini menjadi tak biasa. Rasanya sulit bagi kita membayangkan akan ada cerita romantis antara dua orang dengan kekurangannya masing-masing ini. Namun kenyataannya, Barfi dalam film ini memperlihatkan pada kita bahwa cinta dalam kekurangan pun memiliki sisi romantisnya tersendiri. Lagipula, bukankah di dunia ini memang ada pasangan dengan komposisi seperti itu? Dan kata siapa mereka tidak bahagia?




Shruti, cinta pertama Barfi dalam satu narasi menceritakan, betapa indahnya cinta sejati itu. Cinta yang ingin ia temui dalam hidupnya. Cinta, seperti cinta yang ada di antara Kakek-Nenek nya. Cinta tak bersyarat. Cinta sejati, untuk hidup dan mati bersama, dalam pelukan satu sama lain. Dan itulah cinta yang ada di antara Barfi dan Jhilmil.

"Jhilmil yang beruntung. Dia tak ada rencana untuk jatuh cinta. Dia tak memikirkan konsekuensinya. Dia tak berpikir bagaimana hidup akan berubah. Dia hanya mencintainya tanpa syarat. Dan itu semua ternyata indah pada akhirnya." 

*** 

Tetap bahagia walau tidak sempurna dan serba berkekurangan. Tetap optimis walau diri terlahir berbeda dari orang-orang kebanyakan. Tetap tulus mencintai walau dalam keheningan dan kondisi yang melelahkan. Tetaplah HIDUP, kawans! 


Friday, February 1, 2013

...

Aku heran kepada orang yang mengenal maut, namun ia masih sempat tertawa.

Aku heran kepada orang yang tahu bahwa dunia itu akan binasa, tetapi ia masih mencintainya.

Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa semua sudah ditakdirkan, tetapi ia masih menyesali sesuatu yang lepas darinya.

Aku heran kepada orang yang meyakini adanya hisab, namun ia masih mengumpulkan kekayaan.

Aku heran kepada orang yang mengetahui adanya neraka, namun ia masih berbuat dosa.

Aku heran kepada orang yang mengetahui Dzat Allah, tetapi ia masih menyebut-nyebut selain-Nya.

Aku heran kepada orang yang sudah mengetahui adanya surga, tetapi dia masih mencari kesenangan duniawi.

Aku heran kepada orang yang percaya bahwa syetan itu musuhnya, tetapi ia masih mengikutinya.


...

Dikutip dari Kitab Ta'lim Fadhail A'mal--Fadhilah Dzikir, Hadits ke-15
2/01/2013 12:58:00 AM Desi YuLiana
...

Aku heran kepada orang yang mengenal maut, namun ia masih sempat tertawa.

Aku heran kepada orang yang tahu bahwa dunia itu akan binasa, tetapi ia masih mencintainya.

Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa semua sudah ditakdirkan, tetapi ia masih menyesali sesuatu yang lepas darinya.

Aku heran kepada orang yang meyakini adanya hisab, namun ia masih mengumpulkan kekayaan.

Aku heran kepada orang yang mengetahui adanya neraka, namun ia masih berbuat dosa.

Aku heran kepada orang yang mengetahui Dzat Allah, tetapi ia masih menyebut-nyebut selain-Nya.

Aku heran kepada orang yang sudah mengetahui adanya surga, tetapi dia masih mencari kesenangan duniawi.

Aku heran kepada orang yang percaya bahwa syetan itu musuhnya, tetapi ia masih mengikutinya.


...

Dikutip dari Kitab Ta'lim Fadhail A'mal--Fadhilah Dzikir, Hadits ke-15

Wednesday, January 16, 2013

...
Lega, senang, bahagia, haru, syukur yang tak berhingga, sedikit khawatir, dan beragam macam perasaan lainnya bercampur menjadi satu. Lega, karena akhirnya target utama di tahun 2012 lalu tercapai dan jawaban atas doaku selama ini diperlihatkannya. Ya. Akhirnyaaaa.. AKU MENYEMPURNAKAN SETENGAH AGAMA! \(^^)/ *teriak pake toa*

Rasanya masih gak percaya. Aku udah nikah? Aku udah jadi seorang Istri? Aku udah punya Suami? Aaaaa.. Alhamdulillah. Allah telah mempertemukanku dengan Imamku, Pangeranku, pemilik tulang rusuk yang ada dalam diriku #eaaa (berlebihan ya? GPP lah ya, namanya juga masih pengantin baru :p).

Masih sangat teringat bagaimana pertemuan pertama dan proses perkenalan (taaruf) yang aku dan suami jalani 3 bulan yang lalu. Ya, dari awal jumpa sampai menikah kami hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 bulan. Tidak lama kan? Setidaknya ini membuktikan bahwa nikah itu tidak harus diawali dengan perkenalan via pacaran yang bertahun-tahun dulu. 

Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi salah satu dari sekian banyaknya mereka yang menikah tanpa pacaran, mereka yang menikah dengan orang yang masih asing; yang baru dikenal dan belum banyak tahu tentang si calon luar dalamnya, mereka yang menikah tanpa ada rasa cinta sebelumnya. Serius lho saudara-saudara, tidak harus cinta dulu baru nikah, tapi nikah dulu, baru cinta!

Dan.. berhubung postingan kali ini sebagai ajang pamer acara nikah sekaligus buat kampanye nikah muda, maka yang paling penting yang harus aku sampaikan pada para bujangers sekalian adalah.. Jangan takut menikah, yakinlah, Allah akan memudahkan rezeki mereka yang berani menikah di usia muda. Cemungudh!

Well, ini dia beberapa 'pengabadian' acara sakral dan momen terindah dalam hidupku yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh; Minggu, 23 Desember 2012 lalu..

 

Calon Linto dan Dara baroe.


DagDigDug~~
Penyerahan mahar dari suami ke istri, plus salam (sentuhan) perdana :)
hihihi~~
Doa.
Foto keluarga gak boleh lupa :D

Dan.. inilah kami, yang sekarang sedang bersama-sama berjuang membangun sebuah keluarga. Semoga berkah, semoga bahagia, semoga terus bersama hingga akhir hayat. Amin Ya Rabbal Alamin..


 


Terima kasih semuanya; untuk doa, restu, kehadiran, dan sebagainya. Segera nyusul ya! #eh :)
Salam kami,
Desi Yuliana, S.Pd & Irfandi Djailani, S.Pd.I

1/16/2013 09:26:00 PM Desi YuLiana
...
Lega, senang, bahagia, haru, syukur yang tak berhingga, sedikit khawatir, dan beragam macam perasaan lainnya bercampur menjadi satu. Lega, karena akhirnya target utama di tahun 2012 lalu tercapai dan jawaban atas doaku selama ini diperlihatkannya. Ya. Akhirnyaaaa.. AKU MENYEMPURNAKAN SETENGAH AGAMA! \(^^)/ *teriak pake toa*

Rasanya masih gak percaya. Aku udah nikah? Aku udah jadi seorang Istri? Aku udah punya Suami? Aaaaa.. Alhamdulillah. Allah telah mempertemukanku dengan Imamku, Pangeranku, pemilik tulang rusuk yang ada dalam diriku #eaaa (berlebihan ya? GPP lah ya, namanya juga masih pengantin baru :p).

Masih sangat teringat bagaimana pertemuan pertama dan proses perkenalan (taaruf) yang aku dan suami jalani 3 bulan yang lalu. Ya, dari awal jumpa sampai menikah kami hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 bulan. Tidak lama kan? Setidaknya ini membuktikan bahwa nikah itu tidak harus diawali dengan perkenalan via pacaran yang bertahun-tahun dulu. 

Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi salah satu dari sekian banyaknya mereka yang menikah tanpa pacaran, mereka yang menikah dengan orang yang masih asing; yang baru dikenal dan belum banyak tahu tentang si calon luar dalamnya, mereka yang menikah tanpa ada rasa cinta sebelumnya. Serius lho saudara-saudara, tidak harus cinta dulu baru nikah, tapi nikah dulu, baru cinta!

Dan.. berhubung postingan kali ini sebagai ajang pamer acara nikah sekaligus buat kampanye nikah muda, maka yang paling penting yang harus aku sampaikan pada para bujangers sekalian adalah.. Jangan takut menikah, yakinlah, Allah akan memudahkan rezeki mereka yang berani menikah di usia muda. Cemungudh!

Well, ini dia beberapa 'pengabadian' acara sakral dan momen terindah dalam hidupku yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh; Minggu, 23 Desember 2012 lalu..

 

Calon Linto dan Dara baroe.


DagDigDug~~
Penyerahan mahar dari suami ke istri, plus salam (sentuhan) perdana :)
hihihi~~
Doa.
Foto keluarga gak boleh lupa :D

Dan.. inilah kami, yang sekarang sedang bersama-sama berjuang membangun sebuah keluarga. Semoga berkah, semoga bahagia, semoga terus bersama hingga akhir hayat. Amin Ya Rabbal Alamin..


 


Terima kasih semuanya; untuk doa, restu, kehadiran, dan sebagainya. Segera nyusul ya! #eh :)
Salam kami,
Desi Yuliana, S.Pd & Irfandi Djailani, S.Pd.I