Thursday, September 27, 2012



Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



9/27/2012 06:45:00 PM Desi YuLiana


Saat pagi.. 
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.

Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.

Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.




 ***

"Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu." - Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
 
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada. 
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah. 
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak. 
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya. 



Wednesday, September 19, 2012

Senin (17 September 2012) lalu termasuk hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari itu, dengan segala perang di pikiran melawan keinginan dan kenyataan, dengan berat hati saya langkahkan kaki menuju gedung FKIP Unsyiah, tepatnya ke ruang sekretariat SM3T. Tujuan saya hari itu hanya satu: mengundurkan diri aka mencabut nama saya dari mereka--para pejuang pendidikan--yang dinyatakan lulus menjadi guru kontrak SM3T.

Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 
Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tujuannya dan intinya satu: penyamarataan pendidikan!
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar 
Sebagai seseorang yang telah dan pernah mendapatkan pendidikan yang layak, Sarjana Pendidikan mana yang tidak tergerak hatinya untuk bisa ikut ambil bagian dari program SM3T ini? Apalagi didukung dengan adanya janji beasiswa penuh PPG setelah setahun pengabdian. Ini kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Maka itu, saya mau! Sangat mau! 

Setelah beberapa kali membaca dan mencari info sebanyak-banyaknya terkait penerimaan peserta SM3T dan meyakinkan diri bahwa niat di hati sejalan dengan tujuan dari program ini, langkah selanjutnya yang saya rasa agak berat adalah menyampaikan niat ini kepada orang tua. Perkiraan saya benar, Ayah tidak mengizinkan. Alasannya karena ayah tahu betul bahwa saya tidak akan sanggup hidup di daerah terpencil dan jauh dari orang tua. #JLEB! Padahal.. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya kan? Bukankah selama masih aktif di kegiatan PRAMUKA di SMA dulu saya 'lolos' dan baik-baik saja saat ikut kegiatan perkemahan, penjelajahan, dan sebagainya? Saat SMA juga, saya pernah ikut kegiatan PKM organisasi PII di desa terpencil selama satu minggu, dan semuanya baik-baik saja. PRAMUKA atau kegiatan organisasi itu memang berbeda dengan SM3T ini, tapi begitulah saya meyakinkan ayah bahwa setidaknya saya yakin saya bisa, dan saya sanggup untuk keluar dari zona aman ini. Dan izin itu tetap tidak saya dapatkan.

*galau tingkat nggak bisa makan ayam goreng selama tujuh bulan* #eh

Satu bulan sejak gagal mendaftar menjadi salah satu peserta SM3T, bantuan Allah datang secara tiba-tiba. Bunda, dengan begitu semangatnya mengabarkan dan memperlihatkan salah satu berita di koran Serambi yang berjudul 'FKIP Unsyiah kembali membuka pendaftaran peserta SM3T tahap II'. Entah kenapa, Bunda yang saat saya meminta izin sebulan lalu itu hanya diam saja kali ini kelihatan begitu bersemangat menyarankan saya untuk ikut serta. Ayah? Secara tiba-tiba menanyakan keterangan lebih lanjut tentang SM3T (setelah membaca berita itu) terkait daerah tujuan penempatan--yang saat itu masih tertera di Aceh--dan akhirnya menganggukkan kepalanya--mengizinkan saya mendaftar--saat saya meminta izinnya kembali. Alhamdulillah. Ini salah satu keajaiban.

Singkat cerita, akhirnya nama saya resmi terdaftar sebagai salah satu calon peserta program SM3T. Ujian online secara serentak se-Indonesia dilaksanakan dan Alhamdulillah, saya termasuk dari 46% peserta dari Aceh yang lulus. Satu jalan sudah terbuka dan terasa semakin dekat dengan perjuangan itu. Namun, berhubung saat itu saya sudah mulai aktif kuliah di pasca sarjana, ada sedikit rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Bagaimana saya akan menjalaninya? Bisakah nantinya saya mengabdi di daerah 3T sambil kuliah? Maka itu, saya sangat berharap mendapat 'tugas' di daerah Aceh yang terjangkau untuk bisa pulang pergi ke Banda Aceh setiap minggunya. 

Hidup ini pilihan. Kadang kita dipilih, kadang kita memilih. Terkadang kita dihadapkan pada dua hal, dua hal yang benar-benar kita inginkan, tapi tentu saja kita tidak bisa memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan, kita harus memilih salah satunya saja. Dari situ saya mulai terpikir bahwa nantinya akan ada satu yang saya korbankan. SM3T atau kuliah S2 ini. Walaupun rasanya berat dan seperti tidak mungkin meninggalkan kuliah yang baru saja akan dimulai, seluruh berkas/dokumen kelengkapan seleksi wawancara tetap saya persiapkan. Lumayan banyak. Butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semua berkasnya. Yang paling menggelisahkan dan membuat diri curiga adalah adanya surat pernyataan bersedia di tempatkan di seluruh daerah NKRI yang harus ditanda-tangani oleh orang tua plus dibubuhkan materai, nah lho? *khawatir tingkat mahasiswa mau sidang akhir*. Tapi.. masih tetap berharap, Aceh termasuk daerah 'pelemparan' kami nantinya.

Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae? 

Saya mulai linglung, ragu. Di sudut hati yang paling dalam (eaaaa) saya memilih maju, dan berharap ayah akan tetap mengizinkan walaupun nantinya saya harus mengabdi di luar Aceh. Yang saya khawatirkan saat itu hanya bagaimana nasib kuliah S2 saya? Bagaimana? Tidak ada jawaban! Yang ada hanya bisikan untuk terus maju dan tidak menyatakan mundur saat pewawancara menanyai kami satu-persatu. Saya benar-benar ingin ikut program SM3T ini. Saya benar-benar ingin keluar dari zona aman dan bisa ikut berjuang mengajar plus mengabdi di daerah-daerah tertinggal itu. Sekalipun itu harus keluar Aceh. Ya! Bukankah itu tantangan yang sebenarnya? Bukankah itu arti dari keluar dari zona aman yang sebenarnya? Maka saya semakin yakin untuk maju, lantas memilih Kepulauan Natuna sebagai pilihan pertama dan Kepulauan Anambas sebagai pilihan kedua. Toh, semua anak-anak di luar Aceh sana juga berhak mendapatkan pendidikan!

sumber: https://indonesiamengajar.org/
sumber: https://indonesiamengajar.org/

Selesai wawancara, sebab bertemu dengan teman-teman yang mengeluhkan daerah penempatan yang tidak ada Acehnya itu, penggalauan itu muncul lagi. Ah, betapa tidak konsistennya hati saya. Jika mereka mengeluhkan dan ragu maju karena daerah penempatan, saya ragu karena kuliah S2, izin orang tua sama sekali tidak terpikirkan saat itu. Hanya ada dua pilihan untuk masa depan saya: SM3T atau lanjut S2? SM3T atau S2? SM3T atau S2? Masya Allah.. Galau-segalau-galaunya.

Sampai akhirnya, titik terang itu muncul. Ayah jelas menyatakan keberatannya atas daerah penempatan yang di luar Aceh itu, dan itu juga berkaitan dengan sudah mulai masuknya perkuliahan S2 saya yang sayang jika harus ditinggalkan. Singkat cerita, keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat mengabdi dan merasakan pengalaman baru itu akhirnya harus saya kubur dalam-dalam. Bukankah izin dan ridha orang tua adalah yang utama? Baiklah. Saya memilih berhenti dan mengundurkan diri. Mungkin memang belum waktunya saya melewati jalan itu. Allah Maha Tahu, Allah tahu jalan terbaik untuk hamba-Nya, dan saya yakin Allah merencanakan jalan lain, perjuangan lain yang tidak kalah baiknya untuk saya, Insha Allah. Harus ikhlas.Ya, harus ikhlas!
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Oleh karena itu, dengan segala rasa iri dan cemburu tak menentu pada para calon pejuang SM3T yang telah dinyatakan lulus, saya ucapkan, selamat berjuang teman-teman. Kalian adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang punya kesempatan menyalakan lilin dan menyebarkan sinarnya pada pendidikan di Indonesia. Ingat, tidak semua orang beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Jangan pernah sia-siakan, oke! Mengajar, mendidik, dan mengabdilah di daerah tugas kalian masing-masing dengan sebaik-baiknya. Merdeka! Mabruk! Semangaaaaaatttt!!!

Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.

9/19/2012 10:26:00 PM Desi YuLiana
Senin (17 September 2012) lalu termasuk hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari itu, dengan segala perang di pikiran melawan keinginan dan kenyataan, dengan berat hati saya langkahkan kaki menuju gedung FKIP Unsyiah, tepatnya ke ruang sekretariat SM3T. Tujuan saya hari itu hanya satu: mengundurkan diri aka mencabut nama saya dari mereka--para pejuang pendidikan--yang dinyatakan lulus menjadi guru kontrak SM3T.

Well, SM3T. Mungkin masih banyak yang asing dengan singkatan itu, termasuk saya sendiri. Mulai tahu tentang SM3T ini di bulan Juni lalu, saat masih panas-panasnya membicarakan 'pekerjaan' dengan teman-teman sebaya yang senasib tak sepenanggungan (baca: pengangguran). SM3T ini lebih kurang sama dengan kegiatan 'Indonesia Mengajar' yang sepertinya sudah jauh lebih terkenal dan lebih terdengar gaungnya di seantero Indonesia. Bedanya, SM3T ini program resmi dan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 
Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tujuannya dan intinya satu: penyamarataan pendidikan!
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar 
Sebagai seseorang yang telah dan pernah mendapatkan pendidikan yang layak, Sarjana Pendidikan mana yang tidak tergerak hatinya untuk bisa ikut ambil bagian dari program SM3T ini? Apalagi didukung dengan adanya janji beasiswa penuh PPG setelah setahun pengabdian. Ini kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Maka itu, saya mau! Sangat mau! 

Setelah beberapa kali membaca dan mencari info sebanyak-banyaknya terkait penerimaan peserta SM3T dan meyakinkan diri bahwa niat di hati sejalan dengan tujuan dari program ini, langkah selanjutnya yang saya rasa agak berat adalah menyampaikan niat ini kepada orang tua. Perkiraan saya benar, Ayah tidak mengizinkan. Alasannya karena ayah tahu betul bahwa saya tidak akan sanggup hidup di daerah terpencil dan jauh dari orang tua. #JLEB! Padahal.. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya kan? Bukankah selama masih aktif di kegiatan PRAMUKA di SMA dulu saya 'lolos' dan baik-baik saja saat ikut kegiatan perkemahan, penjelajahan, dan sebagainya? Saat SMA juga, saya pernah ikut kegiatan PKM organisasi PII di desa terpencil selama satu minggu, dan semuanya baik-baik saja. PRAMUKA atau kegiatan organisasi itu memang berbeda dengan SM3T ini, tapi begitulah saya meyakinkan ayah bahwa setidaknya saya yakin saya bisa, dan saya sanggup untuk keluar dari zona aman ini. Dan izin itu tetap tidak saya dapatkan.

*galau tingkat nggak bisa makan ayam goreng selama tujuh bulan* #eh

Satu bulan sejak gagal mendaftar menjadi salah satu peserta SM3T, bantuan Allah datang secara tiba-tiba. Bunda, dengan begitu semangatnya mengabarkan dan memperlihatkan salah satu berita di koran Serambi yang berjudul 'FKIP Unsyiah kembali membuka pendaftaran peserta SM3T tahap II'. Entah kenapa, Bunda yang saat saya meminta izin sebulan lalu itu hanya diam saja kali ini kelihatan begitu bersemangat menyarankan saya untuk ikut serta. Ayah? Secara tiba-tiba menanyakan keterangan lebih lanjut tentang SM3T (setelah membaca berita itu) terkait daerah tujuan penempatan--yang saat itu masih tertera di Aceh--dan akhirnya menganggukkan kepalanya--mengizinkan saya mendaftar--saat saya meminta izinnya kembali. Alhamdulillah. Ini salah satu keajaiban.

Singkat cerita, akhirnya nama saya resmi terdaftar sebagai salah satu calon peserta program SM3T. Ujian online secara serentak se-Indonesia dilaksanakan dan Alhamdulillah, saya termasuk dari 46% peserta dari Aceh yang lulus. Satu jalan sudah terbuka dan terasa semakin dekat dengan perjuangan itu. Namun, berhubung saat itu saya sudah mulai aktif kuliah di pasca sarjana, ada sedikit rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Bagaimana saya akan menjalaninya? Bisakah nantinya saya mengabdi di daerah 3T sambil kuliah? Maka itu, saya sangat berharap mendapat 'tugas' di daerah Aceh yang terjangkau untuk bisa pulang pergi ke Banda Aceh setiap minggunya. 

Hidup ini pilihan. Kadang kita dipilih, kadang kita memilih. Terkadang kita dihadapkan pada dua hal, dua hal yang benar-benar kita inginkan, tapi tentu saja kita tidak bisa memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan, kita harus memilih salah satunya saja. Dari situ saya mulai terpikir bahwa nantinya akan ada satu yang saya korbankan. SM3T atau kuliah S2 ini. Walaupun rasanya berat dan seperti tidak mungkin meninggalkan kuliah yang baru saja akan dimulai, seluruh berkas/dokumen kelengkapan seleksi wawancara tetap saya persiapkan. Lumayan banyak. Butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semua berkasnya. Yang paling menggelisahkan dan membuat diri curiga adalah adanya surat pernyataan bersedia di tempatkan di seluruh daerah NKRI yang harus ditanda-tangani oleh orang tua plus dibubuhkan materai, nah lho? *khawatir tingkat mahasiswa mau sidang akhir*. Tapi.. masih tetap berharap, Aceh termasuk daerah 'pelemparan' kami nantinya.

Walau sedikti ragu, saya kirimkan juga file scan-an berkas yang diminta ke-email panitia, maka dari situ saya tidak bisa mundur lagi. Apapun dan bagaimana pun itu saya harus yakin dan tetap ikut seleksi wawancara. Dan di sanalah semuanya terbongkar. Saat wawancara yang sepertinya lebih tepat di sebut FGD (diskusi kelompok) itu kami--para peserta--diberikan selembar kertas yang harus diisi dengan biodata dan di sana tertera 4 daerah tujuan penempatan yang harus kami pilih. Tidak ada Aceh saudara-saudara, tidak ada! Yang ada hanya Kepulauan Natuna dan Anambas - Riau, salah satu kabupaten di NTT dan Kalimantan Barat. Jleb! Bagaimana ini? Ottokae? 

Saya mulai linglung, ragu. Di sudut hati yang paling dalam (eaaaa) saya memilih maju, dan berharap ayah akan tetap mengizinkan walaupun nantinya saya harus mengabdi di luar Aceh. Yang saya khawatirkan saat itu hanya bagaimana nasib kuliah S2 saya? Bagaimana? Tidak ada jawaban! Yang ada hanya bisikan untuk terus maju dan tidak menyatakan mundur saat pewawancara menanyai kami satu-persatu. Saya benar-benar ingin ikut program SM3T ini. Saya benar-benar ingin keluar dari zona aman dan bisa ikut berjuang mengajar plus mengabdi di daerah-daerah tertinggal itu. Sekalipun itu harus keluar Aceh. Ya! Bukankah itu tantangan yang sebenarnya? Bukankah itu arti dari keluar dari zona aman yang sebenarnya? Maka saya semakin yakin untuk maju, lantas memilih Kepulauan Natuna sebagai pilihan pertama dan Kepulauan Anambas sebagai pilihan kedua. Toh, semua anak-anak di luar Aceh sana juga berhak mendapatkan pendidikan!

sumber: https://indonesiamengajar.org/
sumber: https://indonesiamengajar.org/

Selesai wawancara, sebab bertemu dengan teman-teman yang mengeluhkan daerah penempatan yang tidak ada Acehnya itu, penggalauan itu muncul lagi. Ah, betapa tidak konsistennya hati saya. Jika mereka mengeluhkan dan ragu maju karena daerah penempatan, saya ragu karena kuliah S2, izin orang tua sama sekali tidak terpikirkan saat itu. Hanya ada dua pilihan untuk masa depan saya: SM3T atau lanjut S2? SM3T atau S2? SM3T atau S2? Masya Allah.. Galau-segalau-galaunya.

Sampai akhirnya, titik terang itu muncul. Ayah jelas menyatakan keberatannya atas daerah penempatan yang di luar Aceh itu, dan itu juga berkaitan dengan sudah mulai masuknya perkuliahan S2 saya yang sayang jika harus ditinggalkan. Singkat cerita, keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat mengabdi dan merasakan pengalaman baru itu akhirnya harus saya kubur dalam-dalam. Bukankah izin dan ridha orang tua adalah yang utama? Baiklah. Saya memilih berhenti dan mengundurkan diri. Mungkin memang belum waktunya saya melewati jalan itu. Allah Maha Tahu, Allah tahu jalan terbaik untuk hamba-Nya, dan saya yakin Allah merencanakan jalan lain, perjuangan lain yang tidak kalah baiknya untuk saya, Insha Allah. Harus ikhlas.Ya, harus ikhlas!
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.
Oleh karena itu, dengan segala rasa iri dan cemburu tak menentu pada para calon pejuang SM3T yang telah dinyatakan lulus, saya ucapkan, selamat berjuang teman-teman. Kalian adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang punya kesempatan menyalakan lilin dan menyebarkan sinarnya pada pendidikan di Indonesia. Ingat, tidak semua orang beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Jangan pernah sia-siakan, oke! Mengajar, mendidik, dan mengabdilah di daerah tugas kalian masing-masing dengan sebaik-baiknya. Merdeka! Mabruk! Semangaaaaaatttt!!!

Dengan belajar Anda akan mengajar, dengan mengajar Anda akan belajar.

Tuesday, September 11, 2012

Setelah berkutat selama 2 minggu menghadapi matrikulasi belajar Matematika full dari pagi sampai sore, Alhamdulillah akhirnya Bunda takluk juga dengan rayuan 'refreshing' ke laut hari Minggu lalu. Pilihan jatuh pada si eksotik pantai Lhoknga. Rindu yang luar biasa pada keindahan pantainya memanggil saya ke sana. Dan here we are.. Lhokngaaaaa!

Penampakan Lhoknga dari atas bukit Desa Mamplan
 
Anak Gahul Banda
 
Uri Omma :D

 ~ \(^^) /~

9/11/2012 08:48:00 PM Desi YuLiana
Setelah berkutat selama 2 minggu menghadapi matrikulasi belajar Matematika full dari pagi sampai sore, Alhamdulillah akhirnya Bunda takluk juga dengan rayuan 'refreshing' ke laut hari Minggu lalu. Pilihan jatuh pada si eksotik pantai Lhoknga. Rindu yang luar biasa pada keindahan pantainya memanggil saya ke sana. Dan here we are.. Lhokngaaaaa!

Penampakan Lhoknga dari atas bukit Desa Mamplan
 
Anak Gahul Banda
 
Uri Omma :D

 ~ \(^^) /~

Duhai mata..
Kau itu jendela utama aku menatap dunia.
Tetaplah bernyawa, hingga jantungku mengakhiri nadanya...

Duhai telinga..
Kau itu jalan utama aku menerima suara.
Tetaplah berirama, hingga paru-paruku tak lagi menampung udara...

Duhai mulut yang dibagi dua..
Kau itu pintu utama aku menyampaikan rasa.
Tetaplah terjaga, hingga otakku tak sanggup lagi mengatur raga...

Duhai jiwa..
Kau itu taman sementara manusia.
Tetaplah menghamba, hingga yang Kuasa mengajakmu pulang pada-Nya...

Duhai kita..
Siapkah jika harus meninggalkan dunia? ...


9/11/2012 07:42:00 PM Desi YuLiana
Duhai mata..
Kau itu jendela utama aku menatap dunia.
Tetaplah bernyawa, hingga jantungku mengakhiri nadanya...

Duhai telinga..
Kau itu jalan utama aku menerima suara.
Tetaplah berirama, hingga paru-paruku tak lagi menampung udara...

Duhai mulut yang dibagi dua..
Kau itu pintu utama aku menyampaikan rasa.
Tetaplah terjaga, hingga otakku tak sanggup lagi mengatur raga...

Duhai jiwa..
Kau itu taman sementara manusia.
Tetaplah menghamba, hingga yang Kuasa mengajakmu pulang pada-Nya...

Duhai kita..
Siapkah jika harus meninggalkan dunia? ...