Sunday, December 18, 2011

Baiklah, sepertinya kata yang tepat untuk memulai kicauan kali ini adalah:

"Akhirnya, pergi juga ke Aceh Book Fair 2011!" (penting lho!).

Aceh Book Fair 2011, acara ini bisa dibilang pameran dan obral buku besar-besaran yang diadakan di halaman kantor Pustaka Wilayah Banda Aceh, dari tanggal 12 Desember 2011 sampai 18 Desember 2011 (hari ini). Awalnya, saat menuju kampus dan melewati gedung pustaka wilayah senin tanggal 12 lalu, saya tidak tahu bahwa acara yang sedang diadakan di halaman pustaka itu merupakan pameran buku. Saya tahu dan langsung mendadak galau tingkat belum sidang skripsi di malam harinya, saat seorang kawan memasang status 'kalap beli buku di pameran' di akun twitter miliknya. Di sanalah saya bertanya apa sedang ada pameran di Banda Aceh, kalau ada dimana? Dan kawan saya itu dengan sangat antusias menginformasikan tentang Aceh Book Fair 2011 itu.

Well, saya galau. Dan galau yang saya rasakan saat itu adalah galau yang sangat tidak elit dan tidak berkelas (lah, emang ada gitu galau yang elit dan berkelas?). Kenapa? Karena ini bulan Desember! *lho?*

Ah, kawan! Seandainya boleh curhat, saya hendak bercerita betapa banyaknya pengeluaran di bulan ini, baik itu terkait skripsi, sidang dan pengeluaran tak terduga dan tak terencana lainnya. Singkat kata, saya sedang bokek! Tidak ada dana untuk membeli buku bulan ini, sekalipun itu buku diskonan. Alamaaaak..

Hari-hari berlalu dengan galau dan keinginan yang masih menggebu-gebu, bagaimana tidak? Perjalanan ke kampus selalu melewati gedung--tempat para jendela dunia dengan harga bersahabat sedang dipamerkan dengan indahnya--itu. Seorang kawan penggemar buku pun berulang kali mengajak berkunjung ke sana dan berulang kali pula saya tolak. Takut. Lebih baik galau karena tidak bisa ke sana daripada galau karena menemukan buku bagus tapi tidak bisa membelinya *nah lho*.

Dan sayangnya, rasa penasaran itu tidak bisa lagi terbendung saat secara tidak sengaja saya menemukan dan membaca blog seorang blogger Aceh yang isinya menceritakan pengalaman dia berkunjung ke Aceh Book Fair 2011 itu lengkap dengan foto-fotonya. Banyak buku bagus dan diskon! Aiiiiih..

Aku ingin. Aku harus ke sana!

Dan hari ini obsesi itu terwujud, ada waktu (karena agenda rihlah FLP Aceh dibatalkan) dan saya menemukan sedikit dana yang cukup pas-pasan di dalam dompet *entah darimana datangnya*.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.

Stand pertama yang kami kunjungi adalah stand di sebelah kanan gedung pustaka, dan di situlah ternyata gudangnya buku yang didiskon besar-besaran. Bayangkan, novel-novel bagus setebal lebih dari 300 halaman dijual hanya dengan harga 20.000 rupiah! Bayangkan kawan, bayangkan! (berlebihan). Ada juga buku-buku mungil yang diobral dengan harga 10.000 rupiah.

Ah, berasa surga dunia, saat berada diantara kumpulan buku-buku itu. Tapi sayang, saya harus benar-benar memilah dan memilih buku-buku bagus, berguna, dan yang memang sedang dicari plus dibutuhkan, karena keterbatasan dana (bulan Desember masih ada 12 hari lagi kan? Mau jajan apa saya jika semua anggaran habis dibelanja buku diskonan?). Dan pilihan jatuh di buku Deception Point yang harganya luar biasa, kurang dari setengah harga aslinya! Syukurlah, akhirnya bisa punya bukunya Dan Brown juga *haha, kasian!*.

Merasa sudah cukup puas hunting di stand murah itu, kami melanjutkan petualangan memburu buku ke stand sebelah kiri gedung pustaka. Di sana ada stand toko Gramedia (yang sayangnya harga di sana hampir sama dengan harga asli di tokonya), toko buku Aufa, dan sebagainya. Rasa lelah karena membawa ransel yang berisi laptop dan skripsi setebal gaban mulai menghampiri. Saya mulai tidak konsentrasi. Semangat dan rasa penasaran mencari buku pun sedikit demi sedikit memudar. Dan singkat cerita, di stand sebelah sini saya akhirnya membawa pulang bukunya seorang Motivator Indonesia, Pak Ippho Santosa. Kalap. Harga bukunya didiskon hingga setengah harga. Hard cover pula! Alhamdulillah :)

Dan.. Cerita pun berakhir tidak lama setelah saya membeli buku kedua. Cukup puaslah, walaupun hanya membeli dua buku dan tidak menemukan buku-buku yang sebenarnya dicari. Harga buku yang cukup bersahabat dengan isi dompet itu setidaknya bisa menambah senyuman untuk hari ini. Sekali lagi, Alhamdulillah. Semoga akan ada pameran-pameran buku lainnya, dan semoga saat diadakan pameran buku selanjutnya itu penghuni dompet sedang setia. Amin..

Minggu, 18 Desember 2011.

Kasur, saat lampu telah dipadamkan dan kekuatan mata tinggal 5 watt.

Arigatou Gozaimasu, Minna-san. Oyasumi! :D

Published with Blogger-droid v2.0.1
12/18/2011 07:57:00 AM Desi YuLiana

Baiklah, sepertinya kata yang tepat untuk memulai kicauan kali ini adalah:

"Akhirnya, pergi juga ke Aceh Book Fair 2011!" (penting lho!).

Aceh Book Fair 2011, acara ini bisa dibilang pameran dan obral buku besar-besaran yang diadakan di halaman kantor Pustaka Wilayah Banda Aceh, dari tanggal 12 Desember 2011 sampai 18 Desember 2011 (hari ini). Awalnya, saat menuju kampus dan melewati gedung pustaka wilayah senin tanggal 12 lalu, saya tidak tahu bahwa acara yang sedang diadakan di halaman pustaka itu merupakan pameran buku. Saya tahu dan langsung mendadak galau tingkat belum sidang skripsi di malam harinya, saat seorang kawan memasang status 'kalap beli buku di pameran' di akun twitter miliknya. Di sanalah saya bertanya apa sedang ada pameran di Banda Aceh, kalau ada dimana? Dan kawan saya itu dengan sangat antusias menginformasikan tentang Aceh Book Fair 2011 itu.

Well, saya galau. Dan galau yang saya rasakan saat itu adalah galau yang sangat tidak elit dan tidak berkelas (lah, emang ada gitu galau yang elit dan berkelas?). Kenapa? Karena ini bulan Desember! *lho?*

Ah, kawan! Seandainya boleh curhat, saya hendak bercerita betapa banyaknya pengeluaran di bulan ini, baik itu terkait skripsi, sidang dan pengeluaran tak terduga dan tak terencana lainnya. Singkat kata, saya sedang bokek! Tidak ada dana untuk membeli buku bulan ini, sekalipun itu buku diskonan. Alamaaaak..

Hari-hari berlalu dengan galau dan keinginan yang masih menggebu-gebu, bagaimana tidak? Perjalanan ke kampus selalu melewati gedung--tempat para jendela dunia dengan harga bersahabat sedang dipamerkan dengan indahnya--itu. Seorang kawan penggemar buku pun berulang kali mengajak berkunjung ke sana dan berulang kali pula saya tolak. Takut. Lebih baik galau karena tidak bisa ke sana daripada galau karena menemukan buku bagus tapi tidak bisa membelinya *nah lho*.

Dan sayangnya, rasa penasaran itu tidak bisa lagi terbendung saat secara tidak sengaja saya menemukan dan membaca blog seorang blogger Aceh yang isinya menceritakan pengalaman dia berkunjung ke Aceh Book Fair 2011 itu lengkap dengan foto-fotonya. Banyak buku bagus dan diskon! Aiiiiih..

Aku ingin. Aku harus ke sana!

Dan hari ini obsesi itu terwujud, ada waktu (karena agenda rihlah FLP Aceh dibatalkan) dan saya menemukan sedikit dana yang cukup pas-pasan di dalam dompet *entah darimana datangnya*.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.

Stand pertama yang kami kunjungi adalah stand di sebelah kanan gedung pustaka, dan di situlah ternyata gudangnya buku yang didiskon besar-besaran. Bayangkan, novel-novel bagus setebal lebih dari 300 halaman dijual hanya dengan harga 20.000 rupiah! Bayangkan kawan, bayangkan! (berlebihan). Ada juga buku-buku mungil yang diobral dengan harga 10.000 rupiah.

Ah, berasa surga dunia, saat berada diantara kumpulan buku-buku itu. Tapi sayang, saya harus benar-benar memilah dan memilih buku-buku bagus, berguna, dan yang memang sedang dicari plus dibutuhkan, karena keterbatasan dana (bulan Desember masih ada 12 hari lagi kan? Mau jajan apa saya jika semua anggaran habis dibelanja buku diskonan?). Dan pilihan jatuh di buku Deception Point yang harganya luar biasa, kurang dari setengah harga aslinya! Syukurlah, akhirnya bisa punya bukunya Dan Brown juga *haha, kasian!*.

Merasa sudah cukup puas hunting di stand murah itu, kami melanjutkan petualangan memburu buku ke stand sebelah kiri gedung pustaka. Di sana ada stand toko Gramedia (yang sayangnya harga di sana hampir sama dengan harga asli di tokonya), toko buku Aufa, dan sebagainya. Rasa lelah karena membawa ransel yang berisi laptop dan skripsi setebal gaban mulai menghampiri. Saya mulai tidak konsentrasi. Semangat dan rasa penasaran mencari buku pun sedikit demi sedikit memudar. Dan singkat cerita, di stand sebelah sini saya akhirnya membawa pulang bukunya seorang Motivator Indonesia, Pak Ippho Santosa. Kalap. Harga bukunya didiskon hingga setengah harga. Hard cover pula! Alhamdulillah :)

Dan.. Cerita pun berakhir tidak lama setelah saya membeli buku kedua. Cukup puaslah, walaupun hanya membeli dua buku dan tidak menemukan buku-buku yang sebenarnya dicari. Harga buku yang cukup bersahabat dengan isi dompet itu setidaknya bisa menambah senyuman untuk hari ini. Sekali lagi, Alhamdulillah. Semoga akan ada pameran-pameran buku lainnya, dan semoga saat diadakan pameran buku selanjutnya itu penghuni dompet sedang setia. Amin..

Minggu, 18 Desember 2011.

Kasur, saat lampu telah dipadamkan dan kekuatan mata tinggal 5 watt.

Arigatou Gozaimasu, Minna-san. Oyasumi! :D

Published with Blogger-droid v2.0.1

Thursday, December 15, 2011

#jleb. Sore ini saya sedikit tertohok setelah membaca sebuah cerpen yang katanya terinspirasi oleh kisah nyata dan diberi bumbu-bumbu tambahan melankonis oleh yang menuliskannya.

Apa isi ceritanya? Yah, mungkin kawan-kawan bisa membacanya sendiri nanti (akan saya sertakan link cerpennya setelah selesai berkicau di tulisan ini). 

It's all about ngaji, prosedur dan jalur yang sesuai organisasi, nikah, eM-eR, orang tua, pilihan hati, istikharah serta Al-Quran dan Hadits.
 
Sebagian kawan kampus atau organisasi di Banda Aceh (atau para pembaca di sini) mungkin sudah sangat familiar dengan istilah 'ngaji'. Ya, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'Liqa' atau 'Halaqah'. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, di sini saya selaku penulis berperan sebagai seorang yang (cukup) mengerti, setidaknya memahami sedikit tentang 'ngaji' dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, karena dulunya pernah mengikuti, namun sekarang tidak aktif lagi akibat eM-eR yang mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.


Baiklah, apa itu 'ngaji'? 

Ngaji, Liqa, Halaqah dan apapun itu sebutannya sebenarnya merupakan suatu kegiatan 'pembinaan' dari seorang pembina yang tidak sembarangan pada beberapa orang binaannya. Tidak jauh berbeda dengan pengajian yang waktu kecil dulu pernah kita ikuti, bedanya dalam 'level' materi yang diajarkan dan rutinitas yang ditetapkan. Kalau pengajian masa kecil kita diajarkan mengaji (membaca Al-Quran), di halaqah ini kita akan mendapatkan materi-materi baru tentang tauhid, iman, keislaman & sebagainya.

Oke, siapa pula itu eM-eR? eM-eR itu singkatan dari Murabby, dan beliau adalah guru atau pembina dalam suatu halaqah tersebut.

Nikah? Apa hubungannya dengan eM-eR itu? 

Nah, bagian ini saya sebenarnya masih kurang paham. Saya hanya paham (atas cerita kawan-kawan) pada bagian eM-eR memberikan biodata 'calon', kemudian memfasilitasi ataupun membantu proses perkenalan syar'i--yang lebih dikenal dengan taaruf--dan jika kedua pihak setuju lantas eM-eR akan menyerahkan masalah tersebut pada pihak keluarga yang bersangkutan.

Dari penjelasan dan cerita kawan-kawan, yang saya tangkap adalah peran eM-eR pada sebuah pernikahan itu lebih sebagai fasilitator; membantu mencarikan calon yang baik, membantu meberikan pendapat dan solusi jika ada keragu-raguan, membantu proses 'persiapan' pernikahan hingga dilaksanakan pernikahannya tersebut.

Nah sekarang, apa itu orang tua, pilihan hati, istikharah, serta Al-Quran dan Hadits? Yang ini tidak perlu saya jelaskan bukan? Saya anggap (dan saya yakin) kalian semuanya mengerti. Lanjut ya? 

Pernah suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kejadian--yang menurut saya--cukup tragis. Sebut saja namanya A, saya mengenal dia sejak lama, dan juga cukup tahu tentang keluarganya. Suatu ketika, saat usia si A melewati 22, orang tuanya mulai khawatir dan bertanya-tanya tentang pernikahnnya. Usianya sudah cukup matang, kuliah sudah selesai, apa lagi yang ditunggunya? 

(Sebelumnya, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan keluarga si A pernah melamar si A untuk anak laki-lakinya, seorang Ustadz yang sudah cukup mapan. Namun ditolak dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal: si A tidak suka, karena pernah melihat Ustadz tersebut memakai celana jeans *oke*. Dan itu cukup mengecewakan kedua orang tuanya). 

Beberapa kali orang tua si A mencoba membicarakan secara baik-baik dan memberikan beberapa pilihan (pemuda yang dikenal baik oleh orang tuanya) pada si A, namun yang didapatkan orang tuanya malah jawaban ketus:

"Ayah-Ibu nggak usah capek-capek mikirin calon untuk A, biar Murabby A aja yang nyari dan A lebih percaya pada Murabby untuk hal ini" (lebih kurang begitu jawabannya *maaf, lupa!*).

Deg. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mendengar pernyataan anaknya barusan? Saya—yang bukan siapa-siapa--saja sedikit ‘perih’ saat mendengarkankannya, apalagi orang tuanya? Anaknya ternyata lebih mengutamakan Murabby—yang baru dikenalnya 3-4 tahun terkahir--daripada orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya dari kecil hingga dewasa. Klasik.

Mencoba berprasangka baik, mungkin niat si A benar, untuk hal-hal demikian Murabby nya mungkin memang lebih mengerti daripada orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan 'tarbiyah' yang demikian. Tapi.. Aaaah, saya benar-benar geram mendengarnya.

Sejauh yang saya tahu, A memang terlalu patuh dan percaya pada Murabbinya dibandingkan pada orang tuanya. Dan lagi-lagi saya sangat tidak setuju akan hal itu.

Murabby ya Murabby. Beliau guru, pembina, dan bagi sebagian orang menjadi tempat pencarian solusi atas masalah-masalah hidupnya, tapi tentu saja, hal itu tidak menjadikannya segala-galanya. Tetap saja, tidak bisa menjadikannya yang utama.

Kita masih punya hati untuk memilih dan menetapkan pilihan terkait masa depan kita, kita masih punya 'istikharah' sebagai sarana bertanya pendapat-Nya akan keragu-raguan pada hati kita, kita masih punya orang tua yang lebih mengerti kita daripada siapapun di dunia (walaupun kadang tak ditunjukkannya), kita masih punya Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan untuk mencari jawaban atas tiap pertanyaan kita, dan yang paling pasti kita masih punya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita. 

Cerpen berikut jika dibaca mungkin akan menimbulkan pemahaman dan citra yang berbeda bagi masing-masing pribadi kita. Mungkin nantinya akan ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju. Akan ada yang mendapat pesannya dalam bentuk A, dan ada juga yang mendapat pesannya dalam bentuk B. Ada yang menangkap begitu, dan pasti juga ada yang menangkap begini. Berbeda, itulah manusia. 

Terkait cerita, saya hanya sedikit tidak setuju pada pendapat si tokoh akhwat yang seperti ‘memandang sebelah mata’ pada pernikahan dengan cara ‘swasta’. Ah, tidak ada yang salah dengan itu. Menikah tidak harus lewat Murabby, lagi-lagi kita masih punya beberapa hal penentu di atas, dan bukan Murabby yang berhak menentukannya. 

Satu hal lagi; tidak semua yang ter-tarbiyah adalah orang baik-baik dan tidak semua yang tidak ter-tarbiyah adalah bukan orang baik-baik (murni pendapat pribadi). 

Dan saya pribadi sangat tidak setuju pada apa yang dilakukan si Akhwat dan agak kesal dengan tokoh eM-eR dalam cerita tersebut. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para binaan dan Pembina lainnya. Semoga para Pembina bisa lebih ‘dewasa dan bijaksana’ dalam menyampaikan pendapat dan membantu binaannya, dan semoga para binaan tidak selalu terpaku pada apa yang dikatakan pembinanya. Semua kembali pada diri kita masing-masing.


Here We Go -->> 'Mana Ikhwan Untukku?'

Selamat membaca, selamat berspekulasi, selamat berpendapat dan berimajinasi.
Semoga bermanfaat kawan :)

12/15/2011 05:20:00 AM Desi YuLiana
#jleb. Sore ini saya sedikit tertohok setelah membaca sebuah cerpen yang katanya terinspirasi oleh kisah nyata dan diberi bumbu-bumbu tambahan melankonis oleh yang menuliskannya.

Apa isi ceritanya? Yah, mungkin kawan-kawan bisa membacanya sendiri nanti (akan saya sertakan link cerpennya setelah selesai berkicau di tulisan ini). 

It's all about ngaji, prosedur dan jalur yang sesuai organisasi, nikah, eM-eR, orang tua, pilihan hati, istikharah serta Al-Quran dan Hadits.
 
Sebagian kawan kampus atau organisasi di Banda Aceh (atau para pembaca di sini) mungkin sudah sangat familiar dengan istilah 'ngaji'. Ya, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'Liqa' atau 'Halaqah'. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, di sini saya selaku penulis berperan sebagai seorang yang (cukup) mengerti, setidaknya memahami sedikit tentang 'ngaji' dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, karena dulunya pernah mengikuti, namun sekarang tidak aktif lagi akibat eM-eR yang mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.


Baiklah, apa itu 'ngaji'? 

Ngaji, Liqa, Halaqah dan apapun itu sebutannya sebenarnya merupakan suatu kegiatan 'pembinaan' dari seorang pembina yang tidak sembarangan pada beberapa orang binaannya. Tidak jauh berbeda dengan pengajian yang waktu kecil dulu pernah kita ikuti, bedanya dalam 'level' materi yang diajarkan dan rutinitas yang ditetapkan. Kalau pengajian masa kecil kita diajarkan mengaji (membaca Al-Quran), di halaqah ini kita akan mendapatkan materi-materi baru tentang tauhid, iman, keislaman & sebagainya.

Oke, siapa pula itu eM-eR? eM-eR itu singkatan dari Murabby, dan beliau adalah guru atau pembina dalam suatu halaqah tersebut.

Nikah? Apa hubungannya dengan eM-eR itu? 

Nah, bagian ini saya sebenarnya masih kurang paham. Saya hanya paham (atas cerita kawan-kawan) pada bagian eM-eR memberikan biodata 'calon', kemudian memfasilitasi ataupun membantu proses perkenalan syar'i--yang lebih dikenal dengan taaruf--dan jika kedua pihak setuju lantas eM-eR akan menyerahkan masalah tersebut pada pihak keluarga yang bersangkutan.

Dari penjelasan dan cerita kawan-kawan, yang saya tangkap adalah peran eM-eR pada sebuah pernikahan itu lebih sebagai fasilitator; membantu mencarikan calon yang baik, membantu meberikan pendapat dan solusi jika ada keragu-raguan, membantu proses 'persiapan' pernikahan hingga dilaksanakan pernikahannya tersebut.

Nah sekarang, apa itu orang tua, pilihan hati, istikharah, serta Al-Quran dan Hadits? Yang ini tidak perlu saya jelaskan bukan? Saya anggap (dan saya yakin) kalian semuanya mengerti. Lanjut ya? 

Pernah suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kejadian--yang menurut saya--cukup tragis. Sebut saja namanya A, saya mengenal dia sejak lama, dan juga cukup tahu tentang keluarganya. Suatu ketika, saat usia si A melewati 22, orang tuanya mulai khawatir dan bertanya-tanya tentang pernikahnnya. Usianya sudah cukup matang, kuliah sudah selesai, apa lagi yang ditunggunya? 

(Sebelumnya, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan keluarga si A pernah melamar si A untuk anak laki-lakinya, seorang Ustadz yang sudah cukup mapan. Namun ditolak dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal: si A tidak suka, karena pernah melihat Ustadz tersebut memakai celana jeans *oke*. Dan itu cukup mengecewakan kedua orang tuanya). 

Beberapa kali orang tua si A mencoba membicarakan secara baik-baik dan memberikan beberapa pilihan (pemuda yang dikenal baik oleh orang tuanya) pada si A, namun yang didapatkan orang tuanya malah jawaban ketus:

"Ayah-Ibu nggak usah capek-capek mikirin calon untuk A, biar Murabby A aja yang nyari dan A lebih percaya pada Murabby untuk hal ini" (lebih kurang begitu jawabannya *maaf, lupa!*).

Deg. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mendengar pernyataan anaknya barusan? Saya—yang bukan siapa-siapa--saja sedikit ‘perih’ saat mendengarkankannya, apalagi orang tuanya? Anaknya ternyata lebih mengutamakan Murabby—yang baru dikenalnya 3-4 tahun terkahir--daripada orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya dari kecil hingga dewasa. Klasik.

Mencoba berprasangka baik, mungkin niat si A benar, untuk hal-hal demikian Murabby nya mungkin memang lebih mengerti daripada orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan 'tarbiyah' yang demikian. Tapi.. Aaaah, saya benar-benar geram mendengarnya.

Sejauh yang saya tahu, A memang terlalu patuh dan percaya pada Murabbinya dibandingkan pada orang tuanya. Dan lagi-lagi saya sangat tidak setuju akan hal itu.

Murabby ya Murabby. Beliau guru, pembina, dan bagi sebagian orang menjadi tempat pencarian solusi atas masalah-masalah hidupnya, tapi tentu saja, hal itu tidak menjadikannya segala-galanya. Tetap saja, tidak bisa menjadikannya yang utama.

Kita masih punya hati untuk memilih dan menetapkan pilihan terkait masa depan kita, kita masih punya 'istikharah' sebagai sarana bertanya pendapat-Nya akan keragu-raguan pada hati kita, kita masih punya orang tua yang lebih mengerti kita daripada siapapun di dunia (walaupun kadang tak ditunjukkannya), kita masih punya Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan untuk mencari jawaban atas tiap pertanyaan kita, dan yang paling pasti kita masih punya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita. 

Cerpen berikut jika dibaca mungkin akan menimbulkan pemahaman dan citra yang berbeda bagi masing-masing pribadi kita. Mungkin nantinya akan ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju. Akan ada yang mendapat pesannya dalam bentuk A, dan ada juga yang mendapat pesannya dalam bentuk B. Ada yang menangkap begitu, dan pasti juga ada yang menangkap begini. Berbeda, itulah manusia. 

Terkait cerita, saya hanya sedikit tidak setuju pada pendapat si tokoh akhwat yang seperti ‘memandang sebelah mata’ pada pernikahan dengan cara ‘swasta’. Ah, tidak ada yang salah dengan itu. Menikah tidak harus lewat Murabby, lagi-lagi kita masih punya beberapa hal penentu di atas, dan bukan Murabby yang berhak menentukannya. 

Satu hal lagi; tidak semua yang ter-tarbiyah adalah orang baik-baik dan tidak semua yang tidak ter-tarbiyah adalah bukan orang baik-baik (murni pendapat pribadi). 

Dan saya pribadi sangat tidak setuju pada apa yang dilakukan si Akhwat dan agak kesal dengan tokoh eM-eR dalam cerita tersebut. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para binaan dan Pembina lainnya. Semoga para Pembina bisa lebih ‘dewasa dan bijaksana’ dalam menyampaikan pendapat dan membantu binaannya, dan semoga para binaan tidak selalu terpaku pada apa yang dikatakan pembinanya. Semua kembali pada diri kita masing-masing.


Here We Go -->> 'Mana Ikhwan Untukku?'

Selamat membaca, selamat berspekulasi, selamat berpendapat dan berimajinasi.
Semoga bermanfaat kawan :)

Wednesday, December 14, 2011

(Sebuah pancingan, agar tercipta benar sebuah tulisan)
Jika orange itu Bajaj, maka sinar itu Bintang..
Jika kecil itu Bajaj, maka besar itu Bintang..
Jika sempit itu Bajaj, maka luas itu Bintang..
Jika apapun itu Bajaj, maka yang lebih dari Bajaj itulah Bintang..
Bajaj, pada dasarnya kau hanya sebuah benda (mati namun bergerak) sederhana yang sering dilecehkan dan disepelekan orang-orang. Kata orang kau itu kotor & biang kerusakan udara di kota besar sana. Tapi aku, dalam empat tahun terakhir selalu menentang mereka-mereka. Aku mengagumi, makhluk kecil, sempit dan kadang lusuh namun bersuara nyaring itu. Entah kenapa, aku hanya kagum. Dia dihina, dikucilkan, dijelek-jelekkan, tapi tidaklah itu membuatnya harus meringkuk ke sudut ruangan hampa, dia tetap saja melaju dengan gagah dan percaya dirinya.

Bajaj, bermula dari perkenalan yang memang seharusnya, aku tahu bahwa kau memang ada. Tidak lama. Tidak lama aku sadar bahwa kau itu ada, dan kau memang ada.
Aku harus bilang apa? Semuanya terjadi begitu saja. Lewat mata dan kerja sama.
Sayangnya tidak lama. Tidak lama juga aku sadar bahwa kita telah tiada. Kau melaju ke jalanmu di arah sana, dan aku pun berbalik ke jalanku di sebelah sini. Lantas kita—kau dan aku—pun mulai menjauh teratur satu persatu. Tapi aku rindu.. Cukup rindu pada bunyi semangatmu yang kadang melengking hingga ke langit senja sana. Ah, di situlah aku berharap, kau tetap akan jadi Bajajku, walaupun Bintang yang kau hampiri jauh lebih indah dari dirimu yang tak sebenarnya..
*sebuah prolog, semoga berhasil menjadi satu tulisan utuh*



12/14/2011 05:29:00 AM Desi YuLiana
(Sebuah pancingan, agar tercipta benar sebuah tulisan)
Jika orange itu Bajaj, maka sinar itu Bintang..
Jika kecil itu Bajaj, maka besar itu Bintang..
Jika sempit itu Bajaj, maka luas itu Bintang..
Jika apapun itu Bajaj, maka yang lebih dari Bajaj itulah Bintang..
Bajaj, pada dasarnya kau hanya sebuah benda (mati namun bergerak) sederhana yang sering dilecehkan dan disepelekan orang-orang. Kata orang kau itu kotor & biang kerusakan udara di kota besar sana. Tapi aku, dalam empat tahun terakhir selalu menentang mereka-mereka. Aku mengagumi, makhluk kecil, sempit dan kadang lusuh namun bersuara nyaring itu. Entah kenapa, aku hanya kagum. Dia dihina, dikucilkan, dijelek-jelekkan, tapi tidaklah itu membuatnya harus meringkuk ke sudut ruangan hampa, dia tetap saja melaju dengan gagah dan percaya dirinya.

Bajaj, bermula dari perkenalan yang memang seharusnya, aku tahu bahwa kau memang ada. Tidak lama. Tidak lama aku sadar bahwa kau itu ada, dan kau memang ada.
Aku harus bilang apa? Semuanya terjadi begitu saja. Lewat mata dan kerja sama.
Sayangnya tidak lama. Tidak lama juga aku sadar bahwa kita telah tiada. Kau melaju ke jalanmu di arah sana, dan aku pun berbalik ke jalanku di sebelah sini. Lantas kita—kau dan aku—pun mulai menjauh teratur satu persatu. Tapi aku rindu.. Cukup rindu pada bunyi semangatmu yang kadang melengking hingga ke langit senja sana. Ah, di situlah aku berharap, kau tetap akan jadi Bajajku, walaupun Bintang yang kau hampiri jauh lebih indah dari dirimu yang tak sebenarnya..
*sebuah prolog, semoga berhasil menjadi satu tulisan utuh*



Saturday, December 10, 2011

Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah.
Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar.
Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih & menyakitkan.

*Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin*
12/10/2011 10:05:00 PM Desi YuLiana
Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah.
Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar.
Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih & menyakitkan.

*Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin*