“Kiban?” begitulah sapaan khasnya saat menyapa para mahasiswa bimbingan yang ditemuinya. Dialah Dosen Wali, yang sekarang merangkap menjadi Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsiku. Beliau merupakan pribadi yang baik, walaupun jika hanya dilihat dari penampakan luarnya, akan banyak orang yang tidak percaya bahwa beliau adalah orang yang baik. Ah, “Don’t Judge a Book by Its Cover”! Pepatah ini cocok jika disandingkan dengan perbincangan kita di atas barusan.
Sejak awal kuliah 2007 silam, beliau cukup ‘’welcome’’ saat ada mahasiswanya yang meminta bimbingan atau sekedar tanda tangan (KRS, KHS, dan sebagainya). Dengan senang hati dan (sedikit tampak) tulus, terkadang beliau cukup perhatian dengan bertanya pada mahasiswanya akan pengetahuan si mahasiswa terhadap mata kuliah yang akan diambilnya. Jika menurut beliau masih ada yang kurang, maka beliau akan dengan tegas menyarankan si mahasiswa untuk membatalkan/menunda dulu mata kuliah tersebut, sampai persyaratan yang harus dipenuhi mata kuliah itu selesai dipelajari.
Yah, begitulah. Terkadang sikap tegas, blak-blakan dan to the point yang khas dari beliau itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa men’judge’ beliau sebagai salah satu dosen kejam yang cukup ditakuti dan harus dihindari. Aku? Sedikit banyak terkadang juga merasakan hal yang sama. Di satu sisi beliau memang punya karakter yang sedikit menakutkan dan membingungkan para pembaca eh, para mahasiswa. Beliau termasuk pribadi yang sedikit plin-plan (berbeda-beda apa yang dikatakannya), agak pelupa (saking banyaknya mahasiswa yang dibimbingnya) dan juga mood-mood-an (apa ini maksudnya?), saat moodnya baik, beliau sangat baik, dan sebaliknya. Begitu juga jika marah, beliau benar-benar marah dan jika bercanda, beliau benar-benar bercanda sampai kadang tertawa terbahak-bahak.
Beliau pribadi yang baik. Kenapa? Dibalik segala ketegasan dan (mungkin) sisi negatif nya menurut orang-orang, beliau termasuk dari beberapa dosen di jurusan kami yang tidak ingin menunda shalat. Hal itu terbukti saat sedang membimbing mahasiswa, jika masuk waktu shalat, beliau akan dengan tegas mengatakan pada mahasiswa bahwa bimbingan akan dilanjutkan setelah beliau shalat. Nice!
Cukup banyak kebaikannya yang lain. Hanya saja, segala keunikan dan karakter yang tidak disukai banyak orang kadang lebih tampak dominan daripada kebaikan tulus yang ada pada diri beliau.
Memasuki semester akhir dan hal yang paling sakral bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi.
Niat plus target mengajukan judul skripsi sudah ada sejak Desember 2010 silam. Namun tertunda lantaran satu hal, yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Yah, semua sudah tahu, beliau merupakan salah satu dosen plus sekretaris jurusan yang cukup disiplin. Aturan-aturannya kuat dan sedikit menyusahkan mahasiswa (begitu kata dan keluhan para mahasiswa). Saat hendak mengajukan judul skripsi, aku langsung ditodong dengan pertanyaan: “Apa kamu sudah selesai PPL?” Deg. Terang saja belum, saat itu sedang liburan semester ganjil dan aku berencana mengambil PPL di semester depannya. Mendengar jawaban ‘belum’ beliau langsung memotong “Nah, kamu PPL dulu, saat di sekolah nanti coba kamu perhatikan dan pikirkan dengan seksama apa masalah murid-murid di sana. Setelah dapat, ceritak masalahnya, deskripsikan dan tunjukkan ke saya”.
Begitulah, hingga akhirnya judul skripsi aku ajukan 3 bulan kemudian. Judul pertama ditolak. Beliau malah memintaku menceritakan setiap kejadian selama aku mengajar di kelas yang berbeda dengan materi yang sama. Lagi. Cerita dan deskripsi. Walaupun cukup malas, mau tak mau harus kukerjakan juga tugas mengarang itu, tak jauh berbeda dengan tugas wajib PPL, refleksi harian dan case study. Ah, seperti menulis buku harian. Begitulah yang aku tanamkan dalam hati saat hendak menuliskannya.
Dua minggu kemudian, berbekal 6 lembar kertas yang berisi cerita pengalaman mengajar dan dua judul skripsi plus latar belakangnya, ku temui lagi beliau di meja kerjanya.
“Kiban?” begitulah aku disambutnya.
Tanpa basa-basi langsung kuserahkan saja kertas-kertas yang tak seberapa mana itu. Sekilas. Beliau melihat cerita mengajar itu hanya sekilas. Bergumam sedikit—dan aku tak sempat menangkap apa yang dikatakannya—lalu memilih-milih kertas lainnya. Perhatian beliau ternyata lebih tercurah pada salah satu judul skripsi yang aku ajukan. Tanpa babibu panjang kali lebar sama dengan luas, beliau langsung berkomentar tentang judul skripsi tersebut, dan tak lama setelah itu terciptalah satu judul skripsi yang komplit. Ting!
“Kamu bahas ini aja” katanya sambil melingkari judul skripsi yang barusan ditulisnya.
Aku diam. Judul yang diajukannya merupakan judul skripsi yang paling aku hindari. Penerapan model pembelajaran, yang artinya aku akan mengajar untuk penelitiannya.
“Itu judul skripsi saya pak?”
Eh, sempat-sempatnya pula aku bertanya demikian. Untung saja saat itu mood beliau sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, bisa berabe anak muda.
Akhirnya, dengan setengah senang (karena akhirnya punya judul skripsi) dan setengah sedih (karena tidak tertarik pada judulnya) aku keluar dari ruangan beliau dan ‘mengadu’ pada teman-teman. Ucapan selamat, dukungan dan wajah riang pun ku dapat dari mereka. Hmm, sedikit membantu semangat.
Singkat cerita, proposal skripsi ku selesai hampir dua bulan kemudian. Dan hanya dua kali bimbingan (baca: sekedar coret-coretan) sebelum akhirnya aku disarankannya untuk segera mendaftar seminar proposal. Selesai seminar, bimbingan instrument penelitian pun ku dapatkan hanya sebanyak dua kali. Beliau tampak seperti mempercepat pembuatan tugas akhirku itu. Dan perlakuan beliau terhadapku dan seorang teman—yang dosen walinya juga beliau—sedikit berbeda dibandingkan dengan perlakuannya pada mahasiswa bimbingannya yang lain. Hal itu membuat beberapa orang teman yang ada sangkut pautnya dengan beliau membicarakan kami berdua. Mereka jelas cemburu dan merasa bapak tidak adil atas perlakuan ‘anak kandung’ yang beliau berikan pada kami. Pembicaraan-pembicaraan mereka itu sedikit banyak menguras emosi, pikiran dan hati.
Well, lupakan cemoohan teman! The show must go on (cieeeee). Penelitian aku laksanakan dua bulan setelah seminar, revisi proposal dan bimbingan instrument. Sedangkan skripsi yang hanya BAB I – BAB V aku berikan pada beliau sebulan kemudian setelah penelitian. Malas! Malas! Dan malas! Tentu saja, akibat malas itu, target wisuda bulan November 2011 pun terlewati dengan indahnya.
Galau tingkat mahasiswa yang belum sarjana.
Lebih kurang tiga hari skripsi selesai diperiksa dan penuh dengan coretan hampir di setiap paragrafnya. Lagi-lagi malas melanda. Revisi skripsi terbengkalai dan aku seringnya lalai dengan segala hiburan yang ada di laptopku ini.
Sampai akhirnya, hari itu tiba. Saat Ayah menanyakan perihal skripsi dan akhirnya berkata “Alamat kelewatan wisuda bulan Februari Dedek ni”. Deg. Galau. Takut. Khawatir dan akhirnya aku sadar, skirpsi harus segera direvisi. Waktunya tak lama lagi saudara-saudara!
Dan akhirnya, hari ini kuserahkan juga skripsi yang telah direvisi perdana itu. Lega.
Selesai meletakkan skripsi di meja dosen pembimbing (sesuai pesan beliau sebelumnya), dan sudah beranjak dari kampus, aku dikejutkan dengan sms yang telah lama masuk di hape tapi baru terbaca, yang bunyinya “Tolong jumpai bapak di prodi, sekarang!” .
Panik tingkat lantai dua FKIP Gedung Baru.
Saat itu aku baru saja login di sebuah warnet yang Alhamdulillah tak begitu jauh dari kampus. Dengan segala kepanikan yang melanda (karena sms penting itu baru ku baca) aku langsung menuju kampus (dengan tidak melupakan ritual logout dan restart komputer). Tiba di sana, ternyata seminar proposal teman sudah dimulai, dan beliau salah satu dosen yang terlibat di dalamnya. Terpaksa menunggu. Perasaan nggak karuan, panik, takut dan penasaran atas apa yang akan disampaikan oleh beliau nantinya. Apa ada yang salah dengan revisi skripsiku itu? Apa ini, apa itu dan sebagainya.
Tidak begitu lama, seminar selesai, aku memberanikan diri masuk ke ruangan dan menemui beliau. Di situlah semua hal itu lagi-lagi terjadi kawan. Hah???
“Nah Desi, coba nanti kamu ceritakan setiap urutan mengajar kamu, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran sampai semua kegiatan yang kamu laksanakan di kelas, sesuai dengan RPP yang kamu buat. Coba dideskripsikan detailnya”.
Hee? “Hmm, nanti itu di skripsinya dibuat di bagian mana pak?”
“Oh, lepas aja. Kamu buat di kertas terpisah. Jabarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kamu laksanakan di kelas. Per-RPP dan model pembelajarannya. Jadi nanti kamu buat deskripsi RPP 1, RPP 2 dan RPP 3 untuk tiap model pembelajaran. Ingat-ingat lagi suasana penelitian kamu kemarin itu. Deskripsikan”.
“Oh, iya pak”(melemaslisasi).
“Ini saya kasih waktu 2 minggu, malam ini dikerjakan terus. Udah, itu saja yang mau saya sampaikan”.
Baiklah. Aku keluar ruangan dengan wajah bingung dan sedikit geli. Teman-teman yang penasaran pada bertanya ada apa.
“Eci disuruh mengarang lagi waak! Bapak minta deskripsi kegiatan selama mengajar kemarin itu!”
Tawa teman-teman tumpah! Asli. Sejauh ini belum pernah ada kejadian mahasiswa bimbingan beliau yang diminta mengarang demikian. Hanya aku. Dan itu sudah terjadi sejak awal pengajuan skripsi beberapa bulan silam. Teman-teman masih saja tertawa, dan aku bingung harus bagaimana.
Hahahahahahahahaha…
(Hmm, jangan-jangan beliau tahu kalau aku anggota FLP Aceh. Eh? Trus???).
Ruangan kesayangan.
22 November 2011, 7:08 PM
Published with Blogger-droid v2.0.1